Berbagi Cinta: Mistress (Wanita Simpanan)

Berbagi Cinta: Mistress (Wanita Simpanan)
M10 : DARREN KENAPA?


__ADS_3

M10 🥀 : DARREN KENAPA?


“Ev, you sudah ready?”


Dimi menoleh ke samping, menatap si empunya nama yang pagi ini tampil menawan dalam balutan rok selutut berwarna mocca dari Dolce & Gabbana yang dipadukan dengan atasan kaos putih polos di balik mantel berwarna mocca pula. Untuk alas kaki, Ev memilih menggunakan sepasang wedges dari Jimmy Choo. Kepulangan Ev ke Jakarta telah dipercepat dari schedule awal, karena Ev mampu pulih dengan cepat dari cidera yang dialaminya.


Pesawat yang membawa mereka dari Inggris telah landing di bandara Soekarno Hatta lima belas menit yang lalu, pasca melakukan penerbangan udara berjam-jam lamanya. Kehadiran Ev di bandara Soekarno Hatta disambut oleh para peggemar yang telah menunggu di pintu kedatangan. Mereka menunggu sang idola sebagai bentuk sambutan juga support bagi Ev yang baru sembuh dari cidera.


“I’am ready,” jawab Ev seraya mengulas senyum.


Tidak mudah bersandiwara baik-baik saja, dengan keadaan hati yang sebenarnya tidak baik-baik saja. Namun, di hadapan para penggemar, Ev berusaha tampil sebaik mungkin. Sebagai idola ia selalu dituntut menampilkan aura posistif, agar tidak menimbulkan pertanyaan nantinya.


Didampingi oleh Dimi dan asisten pribadinya, Ev berjalan keluar dari pintu kedatangan. Sorak-sorai para penggemar terdengar, membuat Ev melepaskan senyum. Para penggemar yang datang jauh-jauh guna menyambut kepulangan Ev tentu membuat Ev terharu. Mereka berdiri dengan raut wajah dipenuhi keantusiasan, dengan tangan sibuk mengangkat poster Ev juga kertas berwarna-warni yang dihiasi berbagai kata-kata penyemangat.


Namun, ditengah langkahnya yang penuh taburan senyum, Ev tiba-tiba saja berhenti. Membuat Dimi mengernyit heran, sementara asisten pribadi Ev mencoba menyadarkan Ev dari keterkejutan. Pasalnya saat ini Ev berada di tengah kerumunan penggemar, dan pengawal yang disewa untuk mengawal Ev mulai kewalahan menghalau para penggemar. Kendati demikian, Ev masih belum sepenuhnya mendapatkan kesadaran pasca sepasang netranya menemukan siluet familiar yang tengah berjalan menghampiri.


Ev baru mendapatkan kesadarannya kembali pasca sosok yang baru saja menerobos kerumunan para penggemar itu mendekat, mendekap juga mengatakan seuntai kalimat seraya membawa tubuhnya bergerak menerobos kerumunan.


Ev rasa ia sempat berhalusinasi, karena tidak mungkin sosok itu mau capek-capek menjemputnya ke bandara. Itu bukan tipikalnya sekali jika melakukan hal tersebut. Namun, saat indra penciumannya menghirup aroma semerbak yang menonjolkan aroma cardamom, lavender, thyme ditutup dengan aroma amber, cendana dan musk. Ev berhasil mendapatkan keyakinan 100% jika sosok yang saat ini tertangkap oleh netra adalah suaminya.


Wewangian tersebut adalah wewangian yang biasa tercium saat suaminya berkeliaran di rumah. Calvin Klein Eternity Summer nama parfum yang biasa pria itu gunakan. Sakin mudahnya mengenali parfum pria itu, Ev bahkan hafal namanya di luar kepala.


“Darren?” panggil Ev kala ia berhasil mengumpulkan kesadaran. “Kenapa kamu ada di sini?”


Ev beralih, menatap pria yang baru saja berhasil membawanya keluar dari kerumunan para penggemar.


“Menjemput istriku, apa lagi?”


Jika wanita di luar sana mendengar kalimat tersebut dari suami yang dicintainya, pasti akan berkesan so sweeth. Lain hal dengan Ev. Ia malah mengernyit dalam kala mendegar kalimat yang tidak pernah terlontar dari mulut suaminya.


“Pakai seatbelt-nya, kita pulang.”


Ev menggeleng, membuat pria yang hari ini tampil dengan outfit bernuansa gray itu tampak menautkan kening.


“Aku bisa pulang bersama Dimi dan asistenku.”


“Aku tidak menerima penolakan,” ujar Darren seraya mengenakan seatbelt-nya sendiri.


Saat ini mereka memang sudah berada di dalam mobil Mercedes concept EQG hitam milik Darren. Saking terkejutnya Ev tadi, ia bahkan tidak sadar jika Dimi dan sekretarisnya tertinggal di belakang.


“Mereka pasti sudah pergi menggunakan kendaraan lain,” ujar Darren seraya menyalakan mesin kendaraanya. Untuk sejenak ia menoleh, menatap Ev yang juga tengah menatapnya.


“Kenapa tiba-tiba kamu bersikap begini, Darren?”


“Begini bagaimana, Ev?”


“Diktator, maybe?”


Darren menatap Ev tanpa ekspresi, sebelum ia melepas seat belt, kemudian mendekat ke arah Ev. Tatapannya maih terkunci pada wanita pemilik wajah cantik yang kerap kali dianggap unreal saking cantiknya.


“K-amu mau apa, Darren?” tanya Ev was-was.


Darren tidak menjawab, ia masih sibuk mengikis jarak tanpa suara. Ketika wajahnya berada tepat di hadapan Ev, untuk sejenak netra gelapnya memindai kesuluruhan wajah sang istri.


Ev yang diperhatikan seperti itu tentu kikuk. Selama ini Darren tidak pernah berperilaku aneh seperti saat ini.


“Seatbelt-nya, Ev.”


“W-hat?” gumam Ev lirih, setelahnya terdengar bunyi seatbelt yang telah terpasang dengan baik.


Saat Ev menoleh, Darren sekarang sudah kembali ke posisinya semula. Mengenakan seatbelt, kemudian melajukan kendaraan yang tengah mereka tumpangi. Ev menghela nafasnya berlahan, sebelum mengalihkan pandangan ke jendela di sampingnya. Sungguh, perilaku Darren barusan sangatlah ambigu dan telah berhasil membuat jantungnya memburu.


“Apa menurutmu aku diktator jika memintamu pulang bersama, setelah kau mengilang sebulan lamanya?”


Ev terhenyak, ia tidak menyangka jika Darren, suaminya, mampu berbicara panjang seperti itu. Berapa suku kata yang diucapkan pria itu dalam satu kalimat barusan, seharusnya Ev menghitungnya.

__ADS_1


“Apa menurutmu begitu?”


“Hmm, aku hanya tidak terbiasa diatur oleh kamu.”


“Mulai saat ini kamu harus terbiasa, Ev. Karena aku suamimu.”


Ev refleks menoleh. “Di sini tidak ada kamera, Darren. Berhentilah bersikap ambigu.”


“Aku hanya memintamu agar membiasakan diri, Ev.”


“Kamu tidak bisa mengatur aku, karena kamu cuma suami di atas kertas. Bukannya kamu selama ini menganggap aku begitu?” tanya Ev terus terang.


Di sampingnya, tanpa sepengetahuan Ev, Darren mengeratkan pegangannya pada kemudi kala mendengar ucapan Ev.


“Jangan berperilaku ambigu Darren, karena itu membuatku tidak nyaman.” Setelah berkata demikian, Ev berpaling ke samping. Menutup matanya, berniat untuk tidur selama perjalanan berlangsung. “Bangunkan aku saat kita tiba di rumah,” pesannya.


Darren tidak merespon sedikitpun. Namun, Ev yakin jika pria itu mendengar ucapannya. Ketimbang meladeni perilaku Darren yang ambigu, dan membuat Ev merasa tidak nyaman, Ev memilih memejamkan mata. Walaupun tidak tahu akan bisa tertidur atau tidak.


🥀🥀


Ev tertidur selama perjalanan pulang. Wanita cantik itu baru membuka mata entah berapa jam setelahnya. Saat membuka mata, Ev sudah berada di kamarnya sendiri. saat melarikan pandangan ke arah jam yang menempel di dinding, jarum jam sudah menyentuh angka 10 pagi. Ev beranjak, membawa langkah kakinya menuruni udakan tangga. Rumah terasa sepi saat Ev tiba di lantai dasar.


Hanya ada beberapa maid yang tampak lalu lalang di. Ev kemudian memanggil salah satu dari maid tersebut. Sembari menengok anaknya—Emilio—yang tampak menggemaskan di dalam aquarium besar di ruang tengah, Ev mendengarkan laporan dari maid yang ia panggil.


“Suami saya pergi sejak kapan, Din?” tanya Ev yang tengah menabur pakan Emilio sedikit demi sedikit.


“Sekitar dua jam yang lalu, Nyonya. Setelah tuan memindahkan nyonya ke kamar.”


Suatu kebenaran yang mengejutkan kala mengetahui Darren mau repot-repot memindahkan Ev ke kamar, melewati udakan tangga. Padahal pria itu bisa saja membangunkannya. “Selama saya pergi, berapa kali suami saya pergi?”


“Dua kali, Nyonya. Tanggal sepuluh dan tanggal dua puluh lima. Saat tuan pergi tanggal sepuluh, tuan kembali pada tanggal dua belas. Sedangkan saat tuan pergi tanggal dua puluh lima, keesokan harinya tuan sudah kembali lagi,” ujar maid muda bernama Dini tersebut. Maid yang Ev tugaskan untuk menjaga juga merawat Emilio.


“Kapan pertama kali suami saya pulang, Din?”


Ev berbalik, menyimpan pakan Emilio, kemudian berjalan menuju sofa terdekat. “Ada lagi yang perlu kamu laporkan kepada saya, Dini?”


Maid muda itu mengangguk. “Di hari yang sama dengan kepergian nyonya, ibu tuan Darren datang. Beliau tampaknya memarahi tuan Darren, saya kurang mengetahui secara pasti.”


“Mama marah?” gumam Ev lirih. “Ada lagi?” tanya Ev.


“Selama berada di rumah, tuan melakukan rutinitasnya seperti biasa. Tuan juga rutin memberi Emilio makan tiga hari sekali. Terkadang saya juga melihat tuan mengajak Emilio berbicara.”


“Suami saya melakukan itu?” Ev tampak terkejut. Pasalnya, selama ini Darren tidak pernah peduli pada Emilio yang meninggali aquarium besar di ruang tengah.


Dini mengangguk, membenarkan. “Tuan juga sempat berpesan agar nyonya memberi Emilio teman supaya tidak kesepian.”


Tidak dapat dipercaya, pikir Ev. “Ada lagi, Din?”


“Ah, iya, saat nyonya pergi, tuan Dean sempat datang mencari nyonya.”


Ev tidak terkejut lagi dengan berita satu ini, mengingat Dean memang bebal sekali orangnya. Dean pasti mencari Ev yang kala itu keluar dari rumah sakit tanpa sepengetahuan Dean. “Tidak ada lagi?”


“Tidak, nyonya.”


“Ya sudah, kamu boleh kembali ke belakang.”


“Baik, nyonya.”


Dini menunduk, kemudian pamit undur diri. Meninggalkan Ev yang mulai tenggelam kembali pada persoalan-persoalan yang muncul di kepalanya. Tidak mau larut terlalu lama pada persoalan-persoalan tersebut, Ev memilih beranjak.


Karena tidak memiliki schedule penting, Ev memilih menyibukkan diri di dapur. Mengingat sekarang kakinya sudah tidak di-gifs lagi, wanita cantik itu bebas berkeliaran kesana-kemari. Dibantu oleh beberapa maid, Ev mengisi waktu luangnya dengan hobby yang sering ia lakoni. Berkutat di dapur Ev yakini dapat mengusir berbagai keruwetan yang berseliweran di kepala. Untuk sejenak, Ev bisa melupakan masalah rumah tangganya, karena kesibukan meracik bumbu. Ev juga sempat membuat berbagai macam kudapan manis, mulai dari yang kering hingga basah.


Tanpa terasa, hari mulai gelap kala Ev menyajikan masakan terakhir. Dengan senyum yang mengembang di bibir, wanita cantik itu menyajikan menu terakhir yang juga menu utama di tengah-tengah meja makan. Para maid yang turut serta membantu Ev, tak henti-hentinya berdecak kagum atas kemampuan nyonya mereka. Selain memiliki paras rupawan, pintar, memiliki attitude & manner yang apik, Ev juga pandai memasak. Apa lagi yang kurang jika memiliki istri seperti Ev?


Mandiri, mampu menghasilkan uang sendiri, memiliki skill yang mumpuni, karier sedang di atas angin, juga rendah hati.

__ADS_1


Tanpa mereka ketahui, sedari lima belas menit yang lalau, interaksi tersebut tidak luput dari perhatian si tuan rumah. Pria rupawan itu tampak tertegun kala mendapati sang istri yang tampak tengah berbincang riang dengan para maid. Wanita itu tampak nyaman berkutat dengan pekerjaan dapur, sekalipun ia sebenarnya bisa saja ongkang-ongkang kaki. Karena Darren menjadikan Ev istri, bukan mencari sosok yang harus melayaninya dan mengurus rumah. Jikalau Ev tidak bisa memasak sekali pun, tidak masalah bagi Darren. Mengingat ada koki handal yang siap menjamu perutnya. Namun, Evelyn yang terlahir di keluarga Atmarendra bukan nona muda yang diunggulkan tanpa alasan.


Sebab Ev memang unggul dalam setiap aspek yang membuat wanita dinilai sempurna. Baik soft skill maupun hard skill, wanita itu patut diacungi jempol. Bukan saja modal rupa dan tittle nama keluarga, Ev memang berada di atas awan karena kemampuannya yang mumpuni. Terkadang, Darren memuji wanita yang menjadi istrinya. Benar kata ibunya, di luar sana banyak pria yang berlomba-lomba mencari pendamping hidup seperti Ev. Tetapi ia malah menjadikannya sebagai patner sesaat, bukan seumur hidup.


Akankan posisi patner seumur hidup Ev nantinya tergantikan oleh pria yang lebih baik darinya? Memikirkan kemungkinan itu, Darren terkadang tidak rela. Ev terlalu berharga jika bersanding dengan pria lain, kecuali dirinya. Darren mengakui jika Ev hanya cocok bersanding dengannya. Mungkin Darren terdengar egois, tetapi memang itu kenyataanya.


“Darren?”


Mendengar sapaan dari suara yang mengalun selembut sutra itu, Darren mengerjapkan mata. Entah sejak kapan ia melamun sembari menikmati pemandangan istri cantiknya yang tengah sibuk memasak.


“Kamu sudah pulang?”


“Hm.”


Ev mengangguk seraya melepaskan celemek yang melekat di tubuhnya. Kemudian menyerahkan benda itu pada salah seorang maid. “Kamu mau langsung makan malam atau mandi dulu?”


“Makan,” jawab Darren tanpa pikir panjang.


“Kalau begitu biar bibi yang menyiapkan, aku mau ke atas,” ujar Ev seraya melangkah meninggalkan tempat tersebut.


“Ev.”


Namun, belum sempat keluar dari tempat tersebut, suara Darren kembali terdengar.


“Ya?”


“Ayo makan malam bersama.”


Ev terdiam sejenak kala mendapat ajaka tiba-tiba dari Darren. “Ok, tapi aku harus mandi sekarang,” jawab Ev pada akhirnya, sebelum melenggang pergi meninggalkan Darren.


“Aku akan menunggu.”


Sebelum Ev melagkah terlalu jauh, Darren menyempatkan diri untuk membertahu wanita itu jika ia akan menunggu. Sekali ini saja, Darren ingin menikmati masakan lezat buatan sang istri bersama si pembuat. Sekalipun respon wanita itu tampak lebih dingin semenjak kepulangannya.


Kendati demikian, setidaknya permintaan Darren untuk makan malam bersama disanggupi oleh Ev. Wanita cantik itu turun setelah 20 menit berlalu. Mereka makan malam dengan keheningan, seolah-olah rasa lezat yang dikecap oleh lidah menjadi satu-satunya pusat perhatian. Setelah makan malam, tidak ada lagi obrolan di antara Darren dan Ev. Mengingat Ev tampak enggan setiap kali Darren membuka percakapan.


Ev langsung naik ke lantai dua, masuk ke kamarnya. Sedangkan Darren memilih membawa langkah ke ruang kerjanya yang berada di lantai bawah.


“Ev?” bingung Darren, saat samar-samar netranya menangkap siluet Ev yang berjalan dalam kegelapan.


Jarum jam sudah menyentuh angka satu dini hari saat Darren keluar dari ruang kerjanya. Ia berjalan kea rah dapur karena hendak mengambil air minum, mengingat air minum di kamarnya habis. Di tengah perjalanan menuju dapur, Darren melihat sang istri tampak berjalan dalam kegelapan. Dengan langkah perlahan, Darren mengikuti Ev. Wanita itu berjalan agak sempoyongan, dengan langkah tak beraturan. Apa mungkin Ev mabuk? Tidak mungkin. Darren mengenyahkan pikiran tersebut, mengingat Ev tidak pernah menyentuh alkohol.


Kecurigaan Darren berubah menjadi kecemasaan saat Ev tampak menabrak ujung meja makan. Ajaibnya, wanita yang mengenakan kamisol sutra berwarna putih gading selutut itu tampak abai. Ia malah melanjutkan langkahnya. Sebelum Ev menabrak benda lain, Darren sudah mendahului langkahnya.


“Ev, kau tidak apa-apa?” tanya Darren risau.


Diliriknya lutut Ev tampak merah karena terkena ujung meja makan yang terbuat dari marmer terbaik. Namun, betapa terkejutnya Darren saat mendapati Ev yang berdiri di hadapannya tampak memejamkan mata. Wanita itu juga berjalan tanpa lasa kaki. Satu yang dapat Ev simpulkan, istrinya tidur sambil berjalan. Sleepwalking. Gangguan yang sempat Ev alami beberapa tahun belakangan.


“Ev,” panggil Darren seraya menguncang-guncang bahu Ev.


“Ev, bangun.”


Darren mulai risau kala Ev tak kunjung membuka mata. Seingatnya, Ev sudah lama tidak mengalami sleepwalking. Sekarang Ev kembali mengalami sleepwalking. Hal itu sudah tentu membuktikan jika wanita yang saat ini jatuh tak sadarkan diri dalam pelukan Darren itu tidak baik-baik saja.


“Ev, kau kenapa?!”


...🥀🥀...


...TBC...


...Shok gak tuh? baca part ini kayak nano-nano gak sih? yuk... komentarrrr yang banyak, besok aku up pagi 👍...


...Jangan lupa like 👍 vote 💯 komentarrrr 💌 share 📲 dan follow Author ❤️...


...Sukabumi 11/12/21...

__ADS_1


__ADS_2