
M9 🥀 : KEPUTUSAN EV
“Sampai kapan kamu akan tinggal diam, Ev? Sampai pria bajingan itu mengenalkan wanita simpanannya pada dunia?”
Pertanyaan terakhir yang terlontar dari Dean hingga saat ini berhasil menguasai isi kepala Ev. Jika ditanya sampai kapan Ev sanggup disakiti, Ev pun tidak tahu. Di satu sisi ia mulai mulai menghadapi semua ini. Namun, di sisi lain ia tidak mau jatuh terpuruk seorang diri.
Hanya karena ia dikhianati oleh Darren, apa Ev akan terus diam saja? Padahal mereka menikah karena agar saling mendapat keuntungan. Sedangkan saat ini posisi Ev berada di posisi yang dirugikan karena tindakan Darren sebagai partner-nya.
Terlepas dari semua itu, Ev juga tidak sanggup jika harus bertahan lebih lama lagi. Karena pada dasarnya Ev cuma wanita biasa yang perasa. Tanpa diminta, pun tanpa bisa dicegah, rasa untuk pria yang telah mempersuntingnya kian hari kian berkembang. Mulanya Ev tidak mau mendefinisikan perasaan yang timbul. Namun, semakin hari Ev semakin yakin jika perasaan itu terdefinisi sebagai benih-benir rasa bernama cinta.
Sudah cukup lama Ev bersabar dengan sikap Darren. Ev menyadari Darren berubah beberapa bulan belakang. Namun, Ev mengabaikannya pada saat itu. Semakin ke sini, sikap Darren semakin semena-mena. Kecurigaan Ev kian bertambah saat pria itu tidak datang kala ia membutuhkan keberadaanya. Sekalipun Ev berada di rumah sakit, Darren tetap egois karena lebih mengutamakan kepentingan dirinya sendiri. Kini bukti pengkhianatan Darren semakin kuat di tangan Ev.
“Ev, what’s wrong? Kamu kelihatan banyak melamun hari ini.”
Pertanyaan Dimi yang duduk di depan Ev, membuat si pemilik nama terhenyak sejenak. Namun, Ev pandai menguasai diri, sehingga ia dengan mudah mengontrol ekspresi.
“I fine, Dim.”
Dimi memincingkan matanya, mendengar jawaban Ev yang kurang meyakinkan. Dimi memilih tidak bertanya lebih lanjut, karena Ev sudah memalingkan wajahnya ke samping. Seolah-olah menikmati pemandangan sungai Themes di bawah sana. Saat ini Dimi dan Ev memang tengah berada di Millenium Wheel atau London Eye, saah satu ikon kota London. London Eye merupakan sebuah roda pengamatan terbesar di dunia yang memiliki tinggi 135 meter atau 443 kaki. Roda pengamatan tersebut berputar di atas sungai Themes.
“Ev.”
“Hmm.”
“Jika ada yang mengganggu pikiran you, ceritalah kepadaku. Jangan dipendam sendiri.”
Ev menoleh, menatap sang manager yang juga tengah menatapnya. Terlepas dari penyimpangan yang Dimi alami, Ev tetap menghormati dan menyayangi pria itu seperti saudara sendiri. Mengingat Dimi adalah sosok yang paling dekat dan terbuka padanya. Dimi pula sosok yang paling banyak menampung rahasia Ev. Tidak ada yang Ev rahasiakan dari Dimi, kecuali pernikahannya yang didasari oleh sebuah perjanjian. Dimi hanya mengetahui jika rumah tangga Ev dan Darren tidak seharmonis hubungan pasangan di luaran sana.
“Ini pasti ada hubungannya dengan suami you?” tebak Dimi tepat sasaran.
Ev terdiam sejenak. Tidak menjawab pertanyaan Dimi, tetapi diamnya Ev disimpulkan sebagai jawaban oleh Dimi.
“Berbuat apa lagi sekarang suami you? Apa dia kedapatan bermain api di belakang you?”
Ev mendongkrak, menatap lawan bicaranya lekat. Sekali lagi, tebakan Dimi tepat sasaran. Walaupun Ev yakin jika Dimi sebenarnya hanya asal menebak. Namun, patut Ev akui jika Dimi cukup jeli menilai situai juga membaca ekspresi.
“Dim, aku butuh bantuan.”
Dimi tersenyum tipis mendengarnya. “Akhirnya you butuh bantuan juga, Ev.”
Ev mengedipkan bahunya acuh. Namun, dalam situasi seperti ini, hanya Dimi yang dapat dimintai tolong.
Ev telah mengambil keputusan pasca terjaga semalaman. Setiap kalimat yang diucapkan Dean lewat sambungan telepon kemarin malam, sedikit banyaknya telah membuka mata dan hati Ev. Jikalau memang pernikahannya tidak dapat dipertahankan lagi, maka Ev tidak mau berakhir sebagai pihak yang tersakiti tanpa bisa balik menyakiti. Ev harus menyiapkan amunisi agar dapat membalas balik. Setidaknya ia menyiapkan amunisi agar mampu membuat Darren Aryasatya Xander menyesal telah bermain-main dengannya.
“Aku butuh seseorang untuk suamiku.”
__ADS_1
“Someone?” ulang Dimi.
“Hmm. Seseorang yang cukup terlatih,” lanjut Ev.
Dimi tersenyum tipis seraya mengangguk. “Kebetulan aku punya kenalan keluarga Radityan. Mereka punya asset yang bisa bekerja untukmu, Ev.”
Ev menautkan kening mendengar nama Radityan disebut-sebut. Seingat Ev, ia pernah menjalin kerja sama dengan beberapa orang hebat dengan embel-embel nama Radityan di belakang namanya. Salah satunya adalah Lunar Radityan, salah seorang desainer kondang yang telah go international. Ev sempat beberapa kali mengenakan pakaian rancangan desainer tersebut.
Ev juga sempat meet up dengan istri CEO Radityan Crop’s saat ini di sebuah acara lelang yang diadakan di Los Angles. Saat itu Dimi memperkenalkannya dengan putri Crazy Rich Surabaya tersebut. Sejauh yang Ev tahu, keluarga Radityan memang terdiri dari orang-orang hebat yang terkenal akan loyalitas dan kerja kerasnya.
“Gimana, Ev. Kamu tertarik menggunakan jasanya?”
“Asalkan kerjanya rapih dan terpercaya.”
“Dia bekerja dengan sangat rapih, dan sudah pasti terpercaya,” ujar Dimi meyakinkan. “Kalau gitu biar aku kontak dia sepulang dari sini. Tapi, asset keluarga Radityan cukup mahal bayarannya.”
Ev tersenyum congkak. “Bayaran mahal biasanya setimpal dengan jasa yang diberikan.”
“Of course. Aku jamin kerjanya professional.”
Ev mengangguk sebagai jawaban. Pandangannya kemudian teralihkan pada aliran sungai Themes di bawah sana. Ini cuma langkah awal Ev untuk mengantisipasi. Ketika posisinya terhimpit suatu saat nanti, Ev telah siap dengan amunisi yang ia miliki.
Inilah keputusan yang Ev ambil pada akhirnya. Ia tidak akan tinggal diam saja jika terus menerus disakiti. Untuk saat ini, biarlah ia menunggu waktu yang tepat untuk melancarkan serangan balik. Terkecuali jika memang Darren pada akhirnya mampu membuat Ev berubah pikiran.
🥀🥀
Seorang pria yang mengenakan jas berwarna maroon tampak mencak-mencak seraya berkacak pinggang. Sedangkan lawan bicaranya tampak acuh tak acuh di seberang meja.
“Udah gue bilangin dari awal kalau Dean itu jangan lo anggap sepele,” ujarnya lagi sembari mendudukkan dirinya di samping sekretaris lawan bicaranya.
“Sekarang Dean udah resmi menjabat sebagai CFO. Lo masih anggap dia remeh?”
Darren, lawan bicara pria yang masih mencak-mencak itu mengalihkan tatapannya dari MacBook di tangan pada lawan bicaranya. Seharusnya Darren yang mencak-mencak, karena tahu-tahu sepulang dari perjalanan bisnis di luar kota, ia mendapati posisi CFO telah diisi oleh seseorang yang sejak dulu menjadi musuh bebuyutan. Namun, amarahnya terwakili oleh pria yang saat ini menjabat sebagai COO atau Chief Operations Officer.
CFO atau Chief Financial Officer sendiri dikenal sebagai Direktur Keuangan. Posisi ini mungkin jarang didengar, karena CFO bekerja di belakang layar. Berbeda dengan posisi COO yang mengurusi urusan teknis perusahaan, dan CEO yang menjadi wajah perusahaan sehingga lebih dikenal publik.
CFO sendiri bertanggung jawab terhadap segala hal di bidang keuangan. Meliputi perencanaan, keuangan, pencatatan, hingga administrasi perusahaan. Dalam beberapa sektor, CFO juga bertanggung jawab untuk analisis data. Namun, tugas utama CFO adalah melakukan perencanaan keuangan dan bertanggung jawab terhadap cash flow perusahaan. CFO biasanya memberi laporan kepada CEO dan dewan direksi. Seorang CFO biasanya menduduki posisi ketiga dalam struktur kepemimpinan, setelah CEO dan COO.
Darren yang baru kembali bekerja ke kantor, awalnya hanya mendaatkan intruksi dari sekretarisnya jika ada rapat umum antara dewan direksi. Siapa sangka jika dalam rapat tersebut ia mendapatkan kejutan besar. Kehadiran Dean di ruang rapat sudah menjadi tanda tanya besar bagi semua orang, tidak terkecuali Darren. Keterkejutan bertambah dua kali lipat pasca Dazen Xander—ayah Darren—mengumumkan jika Dean sekarang telah resmi mengisi posisi CFO.
Hal itu tentu sangat mengejutkan, mengingat Darren tidak diberitahu soal wacana perekrutan CFO baru. Terlebih lagi yang mengisi posisi sebagai CFO adalah Dean Wijaya. Musuh bebuyutan Darren sejak jaman dahulu. Padahal Darren tahu jika pria itu sudah memegang jabatan sebagai CEO sebuah agensi model ternama di kota ini. Entah bagaimana ceritanya, sampai-sampai pria itu bisa mengisi posisi CFO yang berada di bawah pimpinan Darren selaku CEO.
“Sekarang lo mau gimana? Gue udah pasrah kalau bokap lo yang ngasih mandat,” ujar pria yang diketahui bernama Dewangga tersebut. “Apa lo tahu siapa yang ngerekomendasiin Dean ke bokap lo?”
“Siapa?”
__ADS_1
Darren yang sedari tadi bungkam, pada akhirnya terpancing juga. Bohong jika ia juga tidak kesal mengenai posisi Dean saat ini.
“Bokapnya bini lo.”
Darren terdiam. Ayah Ev? Batinnya. Ia ingat betul sedekat apa hubungan Dean dengan keluarga sang istri. Mengingat jika pria itu juga tumbuh dan berkembang bersama sang istri. mendapati kenyataan itu, Daren tanpa sadar mengepalkan tangan. Kehadiran Dean dalam perusahaan yang dipimpin olehnya pasti menjadi awal sebuah petaka. Entah apa, tetapi Darren yakin jika pria itu tengah merencanakan sesuatu yang besar.
“Ah iya, satu lagi.” Dewangga yang baru saja hendak beranjak, kembali mendudukkan dirinya. “Lo tahu, kan, kalau Dean deket sama bini lo?”
Darren menautkan kening mendengarnya. Sama halnya dengan Damian yang duduk di samping Dewangga.
“Gue rasa kehadiran dia di sini ada sangkut pautnya sama bini lo.”
“Maksud Anda?” bukan, bukan Darren yang melontarkan pertanyaan. Melainkan Damian.
Dewangga menyeringai tipis sebelum menjawab, membuat Darren dan Damian keheranan. “Dean dari dulu udah ngejar-ngejar Ev. Bisa jadi kehadriannya di sini buat cari celah Darren, supaya dia bisa ngerusak rumah tangga Darren dan Ev.”
“Atas dasar apa Anda berpikir demikian?”
“Ata dasar triagle love di antara Dean-Ev-Darren yang sampai detik ini belum terselesaikan,” jawab Dewangga sekenanya. Pria itu kemudian beranjak seraya menatap Darren.
“Sebaiknya lo hati-hati, karena bisa jadi tebakan gue bener. Lo lebih tahu gimana gilanya Dean ngejar Ev bukan?”
Darren tak menjawab. Namun, di dalam hati ia meng-iyakan. Ia ingat betul betapa gigihnya Dean mengejar wanita yang saat ini berstatus sebagai istrinya. Sial, Darren mulai cemas.
“Jangan abai. Lo bisa aja kecolongan kali ini, karena lo lebih mentingin pekerjaan di luar kota yang gak jelas. Kedepannya gue harap lo gak kecolongan lagi karena mentingin sesuatu yang belum tentu berharga.”
Mendengar akhir kalimat Dewangga, refleks Darren menggebrak meja. Sebagian hatinya tak rela jika apa yang dia urus di luar kota beberapa waktu ke belakang dianggap tidak berharga.
Dewangga tersenyum pongah, sadar kalimatnya telah menyinggung Darren. “Sorry. Gue ralat, mungkin berharga buat lo, tetapi belum tentu berharga buat orang lain. Lo harusnya bisa ngutamain mana yang paling berharga, utamanya buat kepentingan orang banyak. Intinya, jangan egois.”
Setelah berkata demikian, Dewangga beranjak meninggalkan ruangan tersebut. Namun, sebelum benar-benar menghilang di ambang pintu, pria itu kembali berujar. Membuat emosi Darren kian berkumpul di ubun-ubun.
“Kali ini lo kecolongan posisi CFO karena Dean. Next time, jangan sampai lo kecolongan bini karena Dean juga.”
Tidak, tidak akan Darren biarkan!
🥀🥀
...TBC...
...Komentar nya buat part ini? kalau Author sih, ati-ati aja buat Mas Darren😚...
...Yuk, like 👍 Vote ⭐ komentarrrr💌 share 📲 dan follow Author ❤️...
...Sukabumi 09/12/21...
__ADS_1