
NOTE : DOUBLE UPDATE SEPERTI PERMINTAAN READERS YA!
JADI, JANGAN LUPA RAMAIKAN DENGAN HUJATAN ⚠️
2000K LEBIH, SEMOGA KENYANG 😂
M36 🥀 : PERPISAHAN YANG SESUNGGUHNYA
🥀🥀
“Ini rumahnya, mang?”
“Iya, neng. Dulu saya mengantar tuan sampai sini.”
Wanita muda yang duduk di kursi penumpang mobil mini bus berwarna silver itu mengangguk. Matanya tak lepas dari bangunan megah yang munjulang tinggi di hadapannya. Di balik pagar beton yang begitu kokoh berdiri.
“Sepertinya sedang ada acara, neng. Soalnya banyak tamu.”
“Iya, mang.”
Setelah melakukan perjalanan berjam-jam lamanya, akhirnya dia sampai di kota. Lebih tepatnya di alamat terakhir sang suami berada. Dulu, mang Ujang—sopir yang biasa mengendarai truk multifungsi keluar-masuk desa—sempat mengantarkan sang suami, saat pria itu datang seorang diri. Alhasil Ella meminta bantuan mang Ujang yang notabene saru-satunya orang yang pernah menjadi supir sang suami.
“Sekarang neng mau gimana? Gerbang masuknya aja dijaga ketat begitu,” tunjuk mang Ujang.
Dua orang pria berbadan tegap yang mengenakan seragam serba hitam tampak menjaga gerbang. Memeriksa setiap kendaraan yang hendak melewati portal masuk tersebut. Agaknya penjagaan memang sedang diperketat. Kendaraan yang tidak memiliki izin, tidak akan diizinkan masuk.
“Saya harus masuk, bagaimanapun caranya. Saya harus bertemu suami saya, mang,” ujar Ella berambisi. Sebelah tangannya mengelus bagian perut—di mana sang pujaan hati tengah tumbuh dan berkembang.
Sejak dalam perjalanan, jabang bayi dalam kandungannya itu seperti memberikan firasat. Pasalnya, Ella dapat merasakan rasa tak nyaman yang seiring berjalannya waktu berubah jadi rasa sakit. Perjalanan dari kampung ke kota memang memakan waktu yang cukup panjang. Belum lagi berbagai medan jalan yang harus mereka lewati tak selamanya mulus. Sebagai wanita yang tengah hamil muda, Ella tahu jika dia telah bertindak ceroboh. Seharusnya sebelum melakukan perjalanan ini, dia berkonsultasi terlebih dahulu, agar keselamatan calon bayinya terjamin.
“Kalau begitu, begini saja, neng. Saya yang mengalihkan perhatian dua penjaga itu, sedangkan neng Ella masuk secara diam-diam,” usul mang Ujang.
Pria itu tak kuasa menahan iba, melihat seberapa besar perjuangan kembang desanya itu untuk menemui sang suami.
“Mang Ujang yakin? Memangnya mang Ujang gak bakal kenapa-kenapa?”
“Insyallah, neng. Mamang yakin.”
Ella tersenyum tipis sembari mengangguk. Dia bersyukur, karena hingga detik-detik seperti ini, ada saja orang yang berbaik hati menolongnya.
Rencana mengelabui dua penjaga itu pun dimulai. Mang Ujang berpura-pura menanyakan alamat, sedangkan Ella menggunakan kesempatan itu untuk menyelinap masuk. Ketika berhasil melewati gerbang, wanita muda itu dibuat terpesona dengan kediaman yang berdiri megah di hadapannya. Seperitnya benar kata mang Ujang, ada pesta yang tengah di gelar.
Terlihat dari pakaian orang-orang yang keluar dari mobil yang terparkir di depan pintu utama. Ada seorang pria yang sigap menerima kunci mobil, berdiri di depan pintu utama. Atau valet parking bahasa kerennya. Ella mencoba menyelinap masuk, menggunakan kesempatan kala ada tamu yang datang. Namun, usahanya gagal pasca menginjakkan kaki di kediaman megah tersebut. Saat matanya baru menangkap kemegahan pesta yang tengah berlangsung, dua orang penjaga menyadari kehadirannya.
“Siapa, kau?”
“S-aya Ella. S-alah satu tamu,” dalihnya.
“Namanya tidak ada dalam daftar tamu,” ujar salah seorang penjaga tersebut. “Gelagatnya juga mencurigakan. Belum lagi, penampilannya…”
Ella menunduk, menatap penampilannya sendiri. Sebuah dress rumahan bermotif bunga yang jatuh di atas lutut, dipadukan dengan outher rajut. Sedangkan untuk bawahan, dia hanya mengenakan sepatu selop berwarna senada dengan atasannya. Apa ada yang salah dengan penampilannya?
Jika dilihat-lihat, beberapa tamu yang tadi lewat juga tampak memperhatiakannya. Apa ada yang salah? Tapi, Ella pikir penampilannya tidak ada yang salah. Toh, semua yang dia pakai adalah barang-barang pemberian sang suami. Memang jika dibandingkan dengan yang lain, penampilannya yang paling sederhana.
Jika orang lain datang menggunakan dress mewah yang tampak anggun dengan berbagai model keluaran terbaru, beda dengannya yang hanya menggunakan dress rumahan biasa.
“Seret dia keluar. Kemungkinan dia penyusup,” titah penjaga tersebut, diangguki oleh rekannya.
“T-idak, Ella harus bertemu mas Darren.”
“Cepat keluar!”
__ADS_1
“Paksa jika dia tidak mau ke luar!”
Ella menggelengkan kepalanya tegas. Dia tidak mau keluar, karena barusan matanya tak sengaja menatap siluet sang suami. Ketika diperhatikan lagi, benar aja. Pria itu ada di sana, berdiri di samping wanita yang waktu itu mengaku sebagai partner bisnis. Mereka berdua berdiri di samping kue raksasa yang tampak begitu indah. Tapi, sedang apa mereka?
Ella mencoba memberontak. Dengan sekuat tenaga ia mencoba meloloskan diri dari dua penjaga tersebut. Untuk beberapa saat dia berhasil bertahan, hingga dapat menyaksikan apa yang tengah terjadi di depan sana. Namun, kala Ella memiliki kesempatan untuk memanggil nama sang suami dengan lantang, apa yang dia dapatkan begitu tak setimpal.
“Iya, ma. Dia wanita itu. Wanita simpanan Darren.”
Wanita simpanan?
Siapa?
Aku?
‘Dia’ yang dimaksud, ditunjukkan untukku?
Pertanyaan-pertanyaan itu terus menggema di kepala dan indra pendengarannya. Ella tak peduli, sekalipun dia sekarang menjadi pusat perhatian. Yang dia pedulikan hanya satu. Sebuah kebenaran atau kebohongan yang tersimpan di balik kalimat yang dilontarkan sang suami.
🥀🥀
Kacau.
Satu kata yang dapat mendeskripsikan kondisi mansion megah tersebut. Tiga keluarga besar tampak tengah bersitegang. Dua keluarga besar lebih tepatnya. Pasalnya, satu keluarga di antarnya tidak ada sangkut pautnya. Keluarga tersebut adalah keluarga Wijaya. Kendati demikian, mereka turut merasa prihatin. Marah, kecewa, juga iba atas apa yang terjadi pada wanita sesempurna Evelyn. Jika tahu begitu, Dessy Wijaya tak segan-segan merestui sang putra untuk merebut Evelyn dari cengkraman pria bajing*n macam Darren Aryasatya Xander. Putranya lebih baik ketimbang pria macam itu.
“Jadi, sekarang apa yang Ev inginkan. Papa ingin tahu?” Dazen Xander buka suara, seraya menatap sang menantu yang tak ternilai harganya.
“Divorce,” jawab Ev mantap.
Di sisi kanan dan kiri wanita cantik tersebut, ada Elina Atmarendra dan Diana Xander yang selalu siap menjadi support system baginya.
“Tidak akan ada perceraian di antara kita, Ev. Camkan itu!” kecam Darren.
“Diam, Darren!” sentak Dazen. “Papa meminta pendapat Ev, bukan pendapatmu. Sebaiknya kamu diam, dan tenangkan wanita simpananmu.”
Sedangkan wanita bertubuh mungil yang berdiri di samping Darren, tak kuasa menahan sesak yang kian menyiksa. Berada di antara kerumunan orang tak dikenal, tanpa ada satupun yang mau merengkuh dan memberinya kekuatan adalah sebuah bencana. Apalagi keberadaanya dianggap sebagai benalu.
“Pa, dia istri Darren.”
Hanya itu yang dapat terucap dari mulut pria yang dia harapkan akan menjadi sandaran. Hanya seuntai kalimat itu, tak lebih. Setelah pria itu menyebutnya ‘wanita simpanan’, sekarang dia mengklaim Ella sebagai istri?
“Dia memang istri kamu, Darren. Tapi bukan menantu keluarga Xander.”
BOOM!
Ella terguncang dengan ke-dasyatan makna dari kata-kata tersebut. Sebuah gelombang tinggi telah kembali memporak-porandakan perasaannya. Ketika dia memiliki setitik kekuatan untuk mendongkrak, menatap lurus ke arah depan. Tempat di mana wanita yang ternyata istri sah dari pria yang dia cintai berdiri, dilindungi oleh orang-orang yang sangat menyayanginya. Terbesit rasa iri.
Ella iri pada wanita cantik bak bidadari itu. Iri akan posisi dan statusnya di hati semua orang. Dia terlahir dengan wajah cantik jelita, sepaket dengan segala kelebihan yang dimiliki. Belum lagi latar belakang keluarga berada yang begitu mencintai. Kenapa, dia tidak bisa membagi sedikit kepunyaannya untuk Ella?
Sedikit saja. Misal, rasa sayang dari keluarga pria yang sangat Ella cintai. Ella juga ingin diterima. Ingin disayangi. Apalagi saat ini dia tengah mengandung calon penerus keluarga tersebut. Apakah bayi dalam rahimnya tak berarti apa-apa?
“Jika perceraian yang memang putriku inginkan, aku akan mengabulkannya.” Aston Wiliam Atmarendra buka suara. “Seperti yang kita ketahui, pengadilan agama akan dengan mudah memproses perceraian dengan perkara perselingkuhan. Jadi, tidak ada yang perlu dipermasalahkan. Sekarang, aku akan membawa putriku pulang.”
Dazen Xander menghela nafas kecil. “Aku pun tidak akan menghalangi keputusan Ev yang sudah seperti putriku sendiri, Aston. Jika perlu, Ev bisa menggunakan lawyer terbaik dari firma hukum milik keluarga Xander.”
“Tidak perlu. Keluarga Atmarendra yang akan sepenuhnya mengurus perceraian Ev,” sela Wiliam Atmarendra. “Jika berita perceraian ini sampai muncul ke media, pihak Ev tidak akan bicara macam-macam mengenai perselingkuhan putra kalian. Itu urusan kalian. Yang terpenting sekarang adalah, membuat putra kalian mau menceraikan Ev,” lanjutnya to the point.
“Ev adalah permata kami. Tak pantas dia disia-siakan oleh pria bajing*n seperti putra kalian,” pungkas Wiliam Atmarendra. Matanya yang tak sengaja menatap wanita simpanan Darren tampak memicing untuk sejenak.
Dazen Xander tak mampu berkata-kata, karena sepenuhnya ucapan sahabat ayahnya itu benar adanya. Entah dosa apa yang diperbuatnya pada masa lampau, sehingga Tuhan memberinya putra yang begitu bajing*n.
“Kenapa kalian memutuskan masalah hubunganku dan Ev tanpa melibatkan aku? Di sini aku dan Ev yang berhak mengurusi pernikahan kami. Bukan kalian!” murka Darren. Muak pada para orang tua yang terus ikut campur masalah hubungannya dengan Ev.
__ADS_1
Mana dia bisa terima jika mereka terus ikut campur, bahkan mengambil keputusan tanpa melibatkannya. Siapa juga yang setuju bercerai dengan Ev?!
“Tutup mulutmu, Darren!” bentak Dazen. “Sebaiknya kamu berpikir, tidak usah banyak bicara.”
Darren menyeringai tipis. “Sudah aku katakan, aku tidak akan menceraikan Ev. Sampai kapanpun, tidak akan.”
“Jangan gila, kamu Darren!” Diana berjalan mendekati sang putra. Jejak-jejak air mata masih tampak di wajah wanita paruh baya tersebut.
“Ma, Dean tidak mau kehilangan Ev,” lirih Darren parau. “Darren tidak mau, ma. Bukankah Ev adalah milik Darren sejak dia masih dalam kandungan sekali pun?”
Diana kembali terisak. “Ini semua karena ulah kamu, Darren.” Melihat raut wajah sang putra yang tampak frustasi, hati ibu mana yang tak iba. “Ini jalan yang terbaik untuk kalian. Ev berhak bahagia, Darren. Jika bukan bersama kamu, biarkan Ev menemukan kebahagiannya.”
“Tapi, Ma….”
“Mama sangat kecewa dengan sikap kamu, Darren. Mama kecewa karena kamu berani menduakan Ev yang selalu berusaha menjadi istri sempurna untuk kamu.”
Tatapan Darren melemah, melihat sang ibu menangis tersedu-sedu. Tampak jelas raut kecewa di wajahnya. Darren tahu, dia telah melukai Ev terlalu dalam. Hal itu sama saja dengan melukai sang ibu.
“Lepaskan Ev, sayang. Mama sayang Ev. Mama tidak mau melihat Ev menderita lebih lama lagi karena menjadi istri kamu.”
Hati Darren terasa diremat tangan tak kasat mata. Dia ditampar fakta jika sang ibu sangat menyayangi wanita yang menjadi istrinya itu. Dan kini, dia telah melihat betapa sakitnya sang ibu, kala tahu menantu yang sudah dianggap seperti putrinya sendiri menderita.
Di sisi lain, Ella juga merasakan sakit yang sama. Bagimana bisa seorang mertua bisa begitu menyayangi menantunya? Sebesar itukah posisi istri pertama suaminya di hati mereka?
“Dengarkan mama, Darren. Anggap saja semua ini sebagai konsekuensi terhadap semua kelakuan buruk yang kamu lakukan. Mama tahu, sejauh ini kamu maupun Ev kesulitan dalam menjalani pernikahan kalian. Jadi, lebih baik kalian berpisah. Perceraian adalah jalan yang terbaik.”
Setelah berkata demikian, Diana Xander mengelus rahang sang putra seraya memaksakan senyum agar terbit di wajahnya yang masih berderai air mata. Sepersekian detik kemudian, Diana berbalik, menatap Ev. “Pergilah, sayang. Besok mama akan pastikan Darren membubuhkan tanda tangannya di atas gugatan cerai yang kamu ajaukan.”
Semua orang tentu tercengang dengan ucapan Diana. Akan tetapi, semua juga tahu jika rasa sayang Diana bahkan jauh lebih besar, ketimbang rasa sayang yang diperlihatkan oleh ibu kandung Ev sendiri.
Ev yang telah mendapatkan kartu AS kesekian tentu didera rasa lega. Namun, tak dapat dipungkiri jika setitik rasa sedih kian merebak di sisi lain hati. Maka dari itu, Ev bergerak maju, setelah melepaskan genggaman sang ibu di tangannya. Mendekati Diana, berdiri tepat di hadapan wanita yang sedari dulu sangat menyanginya itu. Kasih sayangnya benar-benar tak terhingga.
“Maafkan Ev, ma. Ev egois. Karena ingin lepas dari Darren, Ev melakukan semua ini.”
“Tidak, sayang. Ev tidak egois. Ev hanya memperjuangkan hak Ev,” bantah Diana, seraya menyeka air mata sang menantu. “Kamu berhak bahagia, sayang. Dengan siapapun orangnya. Maaf karena selama ini mama terlalu memaksa kamu untuk bertahan.”
Setelah berkata demikian, Diana memeluk Ev erat. Ev sudah seperti putrinya sendiri. Dia tumbuh dan besar bersama Darchelle. Maka tak ayal jika saat Darchelle berpulang, Ev adalah pelipur lara bagi seorang ibu yang kehilangan putri seperti Diana. Ev adalah permata. Dia amat sempurna, luar maupun dalam. Sebagai seorang manusia, Ev memang layak dikatakan sempurna. Walaupun Diana tahu jika kesempurnaan hanya milik Tuhan. Sayangnya, sang putra tak bisa melihat Ev sebagaimana orang lain melihatnya. Darren terlalu buta akan rasa tak sukanya, kala masa muda dan kebebasannya harus direnggut karena dijodohkan dengan Ev.
“Pergilah sayang, raih kebahagianmu di luar sana,” ujar Diana kala pelukan mereka terurai.
Ev mengangguk seraya tersenyum tipis. Ev akan pergi. Dia sudah berjanji. Sekalipun mansion ini atas namanya, Ev tak mau ambil pusing. Mansion ini terlalu banyak menyimpan kenangan buruk. Jadi, terserah Darren akan melakukan apa pada mansion ini. Ev tidak peduli.
“Ayo, sayang, kita pergi.”
Ev mengangguk, kemudian menerima uluran tangan sang ibu. Tanpa menoleh, Ev melangkahkan kakinya. Pergi. Diiringi oleh ayah, Dimi, orang tua Dean, dan Dean yang senantiasa membantu mendorong kursi roda milik kakek Ev. Dean memang tidak banyak ikut campur, karena Ev sudah mewanti-wanti. Dia dilarang ikut campur, karena Ev takut Darren akan menuduh Dean yang tidak-tidak.
Sementara itu, Darren yang melihat Ev pergi tak bisa berbuat apa-apa selain mengepalkan kedua tanagnnya erat. Saat punggung mungil yang kemarin masih sempat dia peluk itu kian menjauh. Rasa sesal, kesal, marah, sedih, bercampur menjadi satu. Membuat rongga dadanya dihimpit rasa tak menentu. Inilah perpisahan yang sesungguhnya. Perpisahan yang tidak dapat dia cegah, karena kebodohannya sendiri.
“ARGH, EV, KEMBALILAH. KUMOHON!” Teriaknya frustasi, setelah meninju meja kaca yang tak jauh dari tempatnya berdiri.
“Kembalilah, Ev. Kumohon. Kamu milikku, tempatmu adalah di sisiku.”
🥀🥀
TBC
PUAS?? AUTHOR SIH BELOM. SOALNYA MASIH ADA LAGI GANJARAN BUAT TUKANG SELINGKUH KEK DARREN. JADI, NEXT??
JANGAN LUPA, FOLLOW AUTHOR, VOTE, LIKE, KOMENTAR & SHARE ❤️
Sukabumi 27/02/22
__ADS_1
20.28 WIB