Berbagi Cinta: Mistress (Wanita Simpanan)

Berbagi Cinta: Mistress (Wanita Simpanan)
EXTRA PART : SALING MELENGKAPI


__ADS_3

EXTRA PART : SALING MELENGKAPI



“Mas Dean dari tadi kenapa melihat ke belakang terus?”


Pria rupawan yang hari ini menggunakan kemeja berwarna abu tua itu kembali menatap sang lawan bicara seraya tersenyum kecil. “Tidak ada apa-apa.”


Wanita berdarah campuran Yogyakarta dan Bali itu tersenyum mahfum. “Dayu tahu kok apa yang membuat mas Dean selalu menoleh kebelakang.”


“….”


“Waktu kita makan di Kokas, lebih tepatnya di Warung Leko, mas Dean juga terus menoleh ke belakang.”


“Ah, itu, kamu sepertinya salah melihat, Yu,” sangkal putra Wijaya tersebut.


“Dayu enggak salah lihat kok, mas. Waktu kita makan di sana, Dayu lihat kok. Dia juga ada di sana, kan?”


“Dia siapa?” tanya Dean dengan ragu.


“Mbak Evelyn,” ujar Dayu dengan suara tenang. Dia dan pria di hadapannya memang sudah cukup lama saling mengenal, namun belum lama memutuskan untuk melakukan pendekatan untuk membawa hubungan mereka ke ranah yang lebih serius. Dayu tentu tahu siapa Evelyn bagi pria dihadapannya. Model papan atas yang memilik wajah cantik jelita itu ibarat poros kehidupan seorang Dean Wijaya.


“Mbak Evelyn ada di sana bersama suaminya.”


“Kamu lihat?”


Dean Wijaya tidak dapat lagi berkutik. Dia memang pura-pura tidak mengetahui keberadaan Ev dan Darren saat tidak sengaja berjumpa di tempat yang sama. Entah kenapa pula, dari sekian banyak resto dan caffe yang ada di Kokas, mereka bisa sama-sama makan di tempat tersebut. Di Warung Leko yang menjual menu favorit berupa iga penyet sebagai menu paling best seller. Tempat makan itu juga menjual menu lain seperti sup iga, iga goreng tepung, iga bakar, ayam penyet, dan sebagainya.


Dean otomatis mengajak Dayu yang malam itu menjadi teman makan malamnya ke tempat tersebut, karena tiba-tiba ingin makan ayam penyet. Ayam penyet selalu mengingatkan Dean pada Ev. Jika ada yang bertanya kenapa? Karena jika memiliki kesempatan untuk berkunjung ke BSD, Tanggerang, mereka akan selalu menyempatkan waktu untuk makan ayam penyet bu Kris. Momen sekecil itu bahkan masih sangat membekas dalam ingatan Dean yang dua tahun belakangan mencoba move on dan mengikhlaskan Ev bersama pria lain.


Sekarang dia tanpa sengaja telah membuat wanita yang menjadi pasangannya merasa terganggu, karena masa lalu yang belum bisa dia lupakan seutuhnya.


“Maaf.”


“Kenapa mas Dean minta maaf?” tanya Dayu. “Mas tidak perlu merasa bersalah. Dayu tahu tidak mudah untuk mas melupakan mbak Evelyn. Apalagi setelah apa yang mas lewati bersama mbak Evelyn.”


Dean hanya bisa menatap lawan bicaranya dengan perasan campur aduk. Dayu Sekar Arum nama wanita cantik, manis, dengan tutur kata yang senantiasa lembut yang kini duduk di hadapannya. Putri seorang rekan kerja yang dipilihkan orang tuanya agar Dean dapat melupakan Evelyn.


“Sejauh ini apapun yang menyangkut mbak Ev selalu bisa membuat mas berbalik badan tanpa pikir panjang. Oleh karena itu, Dayu semakin yakin bahwa hubungan kita tidak akan bisa berkembang jika mas masih terbelenggu masa lalu.”


“Dayu, maaf. Aku….”


“Mas tidak perlu minta maaf,” kata Dayu lagi seraya tersenyum manis. “Dayu tahu resiko apa yang harus dihadapi jika menjalin hubungan dengan seseorang yang belum selesai dengan masa lalunya. Tidak sedikit orang yang berkata, jangan menjalin hubungan dengan seseorang yang belum selesai dengan masa lalunya. Namun, Dayu memilih mengesampingkan opini tersebut. Kenapa? Karena Dayu yakin jika mas Dean sebenarnya punya potensi untuk move on dari mbak Ev.


Lihat sekeliling mas, ada banyak yang bisa menjadi pusat dunia mas Dean, selain mbak Evelyn tentunya. Jika mas tidak bisa melupakan mbak Evelyn, jangan lupakan. Cukup ikhlaskan mbak Evelyn hidup bahagia dengan pria pilihannya. Karena Dayu tahu jika mbak Evelyn sudah punya tempat tersendiri di hati mas.” Mantan finalis putri Indonesia tahun 2019 itu menatap sang lawan bicara dengan lembut.


“Apa mas tahu, tingkat tertinggi dalam mencintai itu adalah ikhlas?”


“Ikhlas?”


“Iya. Tingkat tertinggi dalam mencintai menurut Ali Bin Abi Thalib itu adalah ikhlas. Ikhlas melihat seseorang yang mas cintai bahagia, sekali pun bukan bersama mas dia meraih kebahagiaan tersebut.”


Dean memilih bungkam dan kembali menjadi pendengar. Siang ini dia niatnya baik, mengajak Dayu makan siang bersama di sebuah tempat makan yang tidak jauh dari D’EV. Namun, siapa sangka dia malah melihat Evelyn bersama sang suami yang baru saja keluar dari tempat tersebut. Hal itu tentu membuat pikiran Dean lagi-lagi dipenuhi oleh wanita yang sudah menyandang nama Xander.


“Dayu.”


“Ya, mas?”


“Terima kasih,” ucap Dean tulus. Dia menatap sang lawan bicara tepat di kedua bola matanya. “Terima kasih karena sudah mau menerima aku apa adanya.”


“Bagi Dayu, mas Dean itu pria yang hebat. Pria yang mampu mencintai satu wanita dengan sepenuh hati. Oleh karena itu, Dayu berharap bisa mendapatkan kesempatan untuk menjadi wanita yang mas cintai sepenuh hati. Dayu akan berusaha menunggu mas semampu Dayu.”


“Kamu tidak perlu menunggu,” balas Dean seraya mengambil punggung tangan kanan Dayu untuk dia genggam. “Aku yang akan mendatangi kamu.”


Dayu tersenyum lebar sehingga memunculkan sepasang lesung pipi yang kian menambah kecantikan wanita tersebut. Bohong jika Dean tidak terpesona melihatnya.


“Aku akan mendatangi kamu dan mengambil kamu sebagai partner seumur hidup. Aku janji, Dayu. Aku akan menjadikan kamu satu-satunya, karena cuma kamu yang pantas memiliki gelar Wijaya di belakang nama kamu.”

__ADS_1


🌼🌼


“Baby stroller warna biru tipe Bassinet and Stroller Combo dijual seharga 109 juta rupiah.”


Pria dengan kemeja coklat tua itu mengangguk-angguk, tanda paham. “Next?”


“Sedangkan untuk stroller yang satunya lagi, dilihat dari website resmi Dior, harganya sekitar 5.900 Euro.”


“Sembilan puluh delapan juta?”


Pria berkacamata yang tengah membacakan katalog harga baby stroller dari brand kenamaan dunia itu mengangguk. “Ada juga yang seharga enam puluh satu juta, sampai seratus tiga puluh delapan juta.”


“Menurut lo bagusan yang mana?”


“Jujur, saya kurang tahu untuk masalah yang satu ini. Tapi, yang pasti brand ini sangat popular di dunia. Kualitas barang yang ditawarkan juga dijamin memiliki mutu dengan kualitas tinggi.”


“Terus gue harus beli yang mana buat hadiah kelahiran anak pertama lo?” kini pria dengan kemeja coklat tua itu bertanya pada pria yang sejak tadi senyum-senyum sendiri seraya membaca sesuatu di layar handphone miliknya.


“Heh, lo ngapain senyum-senyum terus dari tadi? Ada main sama cewek lain lo?” Dewangga—pria dengan kemeja coklat tua itu menatap sang sahabat dengan mata memicing. “Kalau lo ada affair sama cewek lain di saat Ev hamil tua, brengs*k banget lo!”


“Punya mulut tolong dikondisikan!” sembur si pemilik nama Xander di belakang namanya itu. “Ini istriku. Look?!” Dia kemudian menunjukan room chat yang sedang dia baca. Ada nama ‘My Lovely Wife’ disertai ikon 🖤 berwarna merah menyala.


“Lagian, kalau mau kasih hadiah itu jangan tanya-tanya. Itu namanya bukan surprise!”


“Lah, gue sebagai calon uncle yang baik hati bertanya supaya enggak sesat di jalan. Coba kalau gue gak nanya, terus salah beli baby stroller. Nanti enggak kepake. Siapa yang rugi?”


“Kamu lah, bukan aku,” jawab pria berinisial DAX itu seraya fokus kembali pada handphone nya guna membalas pesan singkat yang dikirimkan sang istri. “Lagian kenapa kepikiran beli baby stroller sih? Kenapa tidak yang lain? Ev sudah dapat dua baby stroller dari rekan kerjanya,” ucapnya kemudian, selepas mengirimkan balasan untuk sang istri.


“Saran dari ayang,” jawab Dewangga jujur. “Kalau lo Dam, mau kasih apa buat anak pertama si banjing*n yang sayangnya selalu beruntung ini?”


Dengan santai Dewangga melirik Darren yang sudah memunculkan tanduk tak kasat mata di kepalanya.


“Em, kalau saya sudah ada.”


“Ada apaan?”


“Iya. Hadiahnya apaan?” tanya Dewangga penasaran.


“Rahasia.”


“Elah, main rahasia-rahasiaan lo.” Dewangga mencebikkan bibir sebal.


Damian tersenyum tipis seraya menggaruk pelipis. “Saya membelinya bersama Dewita, dan saya sudah janji untuk merahasiakan hadiah baby Dan.”


“Owh, pantesan lo tutup mulut. Lo, kan, susis alias suami takut istri,” cibir Dewangga. “Eh, belum sah jadi suami-istri juga,” ralatnya sembari tertawa puas.


“Anda juga demikian, kenapa malah jadi mencemooh saya?” kata Damian, membalikkan fakta.


Darren kontan tertawa melihat raut shock Dewangga karena serangan tiba-tiba yang dilayangkan Damian.


“Sial*n lo. Kalo ngomong suka bener, gak ada salahnya,” gerutu Dewangga sebal.


Darren benar-benar terhibur jika sudah melihat dua teman dekatnya itu membahas soal pasangan. Mereka ini memang tipe-tipe pria gahar dan sangar, tetapi masuk golongan susis alias suami-suami takut istri. Dewangga sudah jelas bucin akut pada kekasihnya. Sedangkan Damian, pria itu sudah memperlihatkan keseriusannya untuk meminang sahabat dekat Evelyn yang menurut Darren sangat bertolak belakang dengan sifat dan karakteristik Damian. Tapi apa boleh buat, jika Tuhan sudah berkehendak.


Darren juga tidak menyangkal perihal fakta jika wanita adalah pelengkap bagi seorang pria. Tanpa wanita, pria tak akan bisa apa-apa. Apalagi memiliki hidup yang sempurna. Begitu pula sebaliknya, tanpa pria wanita juga tak akan sempurna. Tuhan telah menciptakan manusia sepasang—pria dan wanita—dengan tujuan agar mereka saling mengisi dan melengkapi. Apa jadinya jika manusia tidak diciptakan berpasang-pasangan? Maka ada banyak kesepian yang tercipta.


Saat ini hidup Darren pribadi terasa lengkap dengan kehadiran istri yang sangat dia cintai, beserta calon buah cinta mereka yang sebentar lagi akan hadir di muka bumi. Cinta memang bisa saja menipis dan rasa sayang bisa saja habis. Darren tahu betul soal arti dari kalimat tersebut. Hari ini dia bisa saja gembar-gembor sangat mencintai Evelyn Xander, namun esok siapa yang tahu? Tuhan maha membolak-balikkan hati.


Kendati demikian, sejauh ini Darren berusaha menanamkan di dalam hati jika cinta yang dia miliki hanya terpatri pada satu hati. Jangan lagi ada yang lain. Jika suatu saat nanti Darren mengalami fase mid life crisis pada rentan usia 30 sampai 40-an, salah satu dampak fase mid life crisis sendiri adalah puber kedua. Setiap orang punya cara sendiri guna menghadapi fase tersebut.


Darren berharap tidak bertindak bodoh saat menghadapi fase tersebut. Darren malah berharap tidak mengalami fase itu karena pada saat ini, di saat dia berada pada fase quarter life crisis yang terjadi pada rentan usia 20-an sampai 30-an, jatuh cinta pada Evelyn adalah anugrah terindah.


Jika suatu saat Darren menyia-nyiakan anugrah tersebut, gambaran dari mimpi yang dia dapati saat honeymoon di Maldives sudah lebih dari cukup menjadi pengingat. Pengingat betapa buruk balasan yang akan dia dapat saat menyia-nyiakan anugrah terindah pemberian sang maha Cinta.


Darren juga sudah mencoba melakukan konsultasi pada pihak yang lebih ahli soal hubungan pernikahan, supaya diberi tips-tips agar dapat memiliki pernikahan yang longlast. Pernikahan memang tidak pernah luput dari yang namanya masalah, karena masalah itu sendiri adalah bumbu yang bisa membawa rasa sedap atau tidak sedap. Dengan kata lain, bisa menguatkan pernikahan itu atau malah merusak pernikahan tersebut.


“Kamu belum tidur?”

__ADS_1


Wanita cantik yang tengah hamil tua itu menoleh, menemukan sang suami yang tampak tampan dan fresh dengan celana piyama panjang tanpa atasan. Dilihat dari rambut hitamnya yang masih lepek, pria itu pasti baru saja selesai mandi.


“Belum. Tadi sore baju-baju baby Dan datang dan belum sempat aku rapihkan semua.”


“Besok saja dilanjut. Sekarang kamu harus istirahat,” ujar Darren seraya memeluk pinggang sang istri posesif.


“Ini sebentar lagi selesai kok.”


“Besok masih bisa dilanjut sayang,” kata Darren lagi, tak mau dibantah. “Tidur, yuk. Kalian harus banyak beristirahat,” tambahnya seraya membawa dagu sang istri agar wajah wanita cantik itu mendongkrak. Tahu jika sang istri akan menyuarakan penolakan, dengan cepat pria berinisial DAX itu membungkam bibir sang istri dengan ciuman.


“Tidur, okay?” katanya setelah melepaskan bibir ranum yang semenit lalu dia sesap habis-habisan.


Wanita yang tetap terlihat cantik sekali pun bertambah berat badan semenjak berbadan dua itu tampak merajuk saat diboyong sang suami menuju kamar tidur mereka. Kamar baby Dan sendiri merupakan kamar tidur Darren yang telah dialih fungsikan, ditambah connecting door sebagai penghubung.


“Tidur. Kamu seharian ini capek karena pemotretan. Besok kita bereskan kebutuhan Dan bersama-sama.”


“Mas palingan bohong. Nanti mas suruh bibi atau Dini untu membenahi kamar baby Dan, kan?”


“Itu karena kamu tidak boleh terlalu capek,” sahut sang suami. “Lagi pula kamu seharusnya duduk dan istirahat saja. Biar yang lain yang—“


“Mas,” potong Ev seraya mengeratkan pegangan pada bisep sang suami.


“Ada apa sayang?”


Bukannya menjawab, Ev malah menunduk. Membuat Darren ikut melihat ke bawah. Lebih tepatnya ke kaki sang istri yang telah dialiri cairan berwarna bening.


“Mas, aku….”


“Baby Dan mau lahir sayang!” Darren panik bukan main melihat sang istri mulai mengeluarkan air ketuban.


“Mas, Tarik napas. Lalu buang secara perlahan,” interupsi sang istri yang langsung dilakukan oleh sang suami. “Kamu harus tenang, mas. Kalau kamu panik, siapa yang mau bawa aku ke rumah sakit dengan selamat?”


“Ah, iya!” Darren langsung paham ucapan sang istri. Pria rupawan yang tengah half naked itu lantas meraih sang istri dalam gendongan, ala bridal style. Ev yang tengah berusaha keras untuk tenang, sekali pun rasa sakit yang sore tadi sempat dia rasakan kian menjadi-jadi.


“Tarik napas, lalu buang secara perlahan. Ulangi secara perlahan-lahan, sayang,” interupsi sang suami, bergantian memberikan dukungan pada sang istri. Dengan langkah lebar, dia langsung membawa sang istri ke lantai bawah.


“Bi, mbak, pak, cepat siapkan mobil dan kebutuhan istri saya untuk dibawa ke rumah sakit. Istri saya mau melahirkan!” teriak Darren saat mereka sudah tiba di lantai bawah.


“Tidak perlu teriak-teriak, mas.” Ev tersenyum tipis melihat ketegangan di wajah sang suami. Diusapnya dada bidang sang suami yang tidak tertutup apa-apa. Tunggu, tidak tertutup apa-apa?!


“Mas?!”


“Iya, kenapa sayang?” tanya Darren saat langkahnya kian dekat dengan pintu utama.


“Baju kamu mana?!” tanya Ev dengan tatapan menghunus tajam pada sang suami. Pantas saja beberapa maid muda yang tadi muncul karena teriakan Darren, bukannya buru-buru menjalankan perintah, mereka malah melongok dengan mulut menganga lebar.


“Astagfirullah, aku lupa pakai baju sayang. Saking cemasnya—“


“Ambil baju kamu sekarang! Aurora kamu kemana-mana. Ini itu cuma boleh dilihat sama aku, mas.” Ev berkata seraya menunjuk-nunjuk pack-pack yang menghiasi tubuh bagian atas sang suami.


“Of course, sayang,” balas Darren seraya tersenyum kecil. “Bi Surti, tolong ambilkan baju saya. Cepat, jangan pakai lama. Bisa-bisa istri saya tidak jadi melahirkan karena tidak rela suaminya tidak pakai baju dan berakhir terbakar api cemburu.”


Ev melotot mendengar ucapan sang suami. Dengan kesal wanita yang tengah menahan rasa sakit akibat kontraksi yang datang dan pergi itu, mencubit dada bidang sang suami sampai meninggalkan warna merah di sana.


“Sakit, sayang,” ringis sang suami.


“Rasakan. Itu akibatnya karena kamu masih sanggup buat aku kesal saat sedang kontraksi begini.”


🌼🌼


COMING SOON, BABY DAN 🤩


YANG BUCIN MAH GITU, SUKA BIKIN IRI YE, HIKS 🥲


Jangan lupa jika suka, boom bunga sekebon 🌼🌻🏵️💮🌸🌷🌺🥀🌹💐🌹


Like, vote, komentar, follow Author & share ❤️

__ADS_1


Sukabumi 10/06/22


__ADS_2