Berbagi Cinta: Mistress (Wanita Simpanan)

Berbagi Cinta: Mistress (Wanita Simpanan)
PART EXTRA : BUKAN ISAPAN JEMPOL BELAKA


__ADS_3

PART EXTRA : BUKAN ISAPAN JEMPOL BELAKA



Sisa liburan di Maladewa jadi sangat berwarna setelah malam bersejarah itu. Ev dan Darren benar-benar menghabiskan waktu honeymoon mereka dengan baik. Mereka menggunakan sisa waktu yang ada untuk bersenang-senang bersama. Mereka juga memanfaatkan honeymoon ini untuk healing sejenak dari kepenatan dunia pekerjaan. Supaya ketika kembali ke tanah air, mereka berdua lebih fresh dan full battery. Siap kembali menyongsong daily activity mereka yang sama-sama super padat.


“Kenapa staff bawah jadi aneh selama aku tinggal satu bulan?”


Pertanyaan yang datang dari pria rupawan berinisial DAX itu tampak membuat sang asisten kebingungan. “Maksud tuan?”


“Staff di lantai bawah kelihatan aneh saat melihatku datang,” ujar pria rupawan yang hari ini menggunakan mengenakan jas warna dark blue, kemeja, vest, juga celana dengan warna senada tersebut. “Apa ada yang aneh dari penampilanku hari ini, Dam?”


Pria berkacamata yang berdiri di sampingnya terlihat menggelengkan kepala. “Tidak ada.”


“Lalu kenapa mereka memperhatikanku terus?” bingung Darren. Semenjak kedatangannya di hari pertamanya bekerja setelah cuti honeymoon, staff di lantai bawah langsung menjadikan dirinya objek pengamatan. Tidak ada satu pun staff yang tidak menatapnya. Tapi, kenapa mereka bersikaf demikian?


“Mungkin karena aura tuan yang berbeda hari ini.”


“Aura yang berbeda? Maksudnya?”


Pria yang berprofesi sebagai asisten itu kemudian berdeham kecil. Sadar jika dia baru saja keceplosan. “Tuan memancarkan aura yang sangat positif karena hari ini lebih banyak tersenyum.”


Rahang Darren nyaris jatuh mendengar itu. “Hanya karena itu?”


Damian kembali mengangguk sebagai jawaban. “Kalau saya boleh jujur, aura tuan sebelum dan sesudah pergi honeymoon memang sangat berbeda.”


Darren tampak manggut-manggut mendengarnya. Auranya berbeda, ya? Mungkin karena dia lebih happy belakangan ini. Jadi tubuhnya menghasilkan lebih banyak aura positif. Apalagi pagi ini dia mengawali harinya dengan keberadaan sang istri. Siapa lagi jika bukan Evelyn Xander. Dari awal membuka mata, wanita cantik itu dengan sigap menyiapkan kebutuhan sang suami. Sekali pun Ev sudah memiliki rutinitas sendiri, wanita cantik itu tetap mengutamkan tugasnya untuk melayani sang suami.


Jika mengingat hal itu, Darren jadi tidak bisa menahan senyum. Mungkin begini rasanya jatuh cinta. Ah, atau mungkin begini rasanya jadi pengantin baru yang sedang dimabuk cinta.


Bahkan jika boleh request, Darren ingin request tambah jatah cuti supaya bisa menghabiskan lebih banyak waktu bersama sang istri.


“Ah iya, Dam.”


“Ada apa, tuan?”


“Ada beberapa perubahan yang ingin aku lakukan.” Darren yang baru saja mendudukkan diri di kursi kebesarannya baru mengingat satu hal. Bola mata jelaga milik pria itu kemudian melirik ke sebuah dinding kaca yang menjadi pembatas antara ruangan CEO dengan area luar, lebih tepatnya area di mana sang sekretaris berada.


Seorang wanita berambut brunette dengan setelan pakaian formal yang tadi menyapa kedatangannya dengan ramah, bisa dia lihat tengah duduk di balik layar monitor. Dia adalah Elisè. Sekretarisnya yang memiliki darah Perancis. Partner staff with benefit nya di dunia mimpi yang sempat Darren singgahi.


“Aku sudah membaca laporan satu bulan ke belakang yang kamu kirim semalam. Lewat laporan itu aku menemukan beberapa problem yang disebabkan oleh kurangnya loyalitas kerja staff.”


Damian mengangguk membenarkan. Semalam dia memang mengirim laporan yang diminta Darren. Laporan tersebut mencakup perputaran kerja yang terjadi satu bulan ke belakang, selama Darren absen. Lewat laporan tersebut Darren juga memikirkan sebuah gebrakan untuk meminimalisir terjadinya masalah internal, seperti yang terjadi saat dia tengah honeymoon di Maldives. Setelah diselidiki lebih lanjut, masalah itu muncul karena beberapa staff tidak bertanggung jawab yang telah melakukan korupsi waktu dan makan gajih buta, padahal kerja mereka tak seberapa.


Jadi sebagai pemimpin, Darren telah memikirkan keputusan yang terbaik untuk mengatasi masalah tersebut, sekaligus mengantisipasi agar masalah seperti itu tidak terjadi lagi di kemudian hari.


“Keluarkan orang-orang yang ada dalam daftar. Keluarkan mereka secara baik-baik, karena saat mereka bergabung dengan perusahaan ini, mereka juga bergabung dengan cara baik-baik. Jangan lupa berikan pesangon yang pantas untuk mereka.”


Damian mengangguk seraya mengambil alih berkas yang baru saja Darren sodorkan. Bohong jika Damian tidak terkejut terhadap titah tersebut. Damian terkejut karena tiba-tiba saja sang atasan meneluarkan staff dalam jumlah banyak. Damian kemudian menatap daftar orang-orang yang harus dikeluarkan dari perusahaan. Bola matanya hampir meloncat keluar saat membaca daftar tersebut.


“Kenapa?” tanya Darren kala melihat ekspresi sang asisten.


“Anda ….tidak salah?” Damian tampak tidak yakin sekarang. “Sebagian besar staff yang ada di dalam daftar ini, staff wanita?”


Darren mengangguk dengan tenang. “Ya, sepuluh persen di antara staff itu sudah memasuki usia paruh baya yang sudah mulai tidak produktif. Aku akui jasa-jasa mereka untuk perusahaan, selama mereka bekerja di sini. Namun seiring dengan berjalannya waktu, loyalitas kerja mereka mulai dipertanyakan. Dari rekapan laporan yang diberikan pihak HRD, sebagian besar dari mereka mulai sering absen karena berbagai alasan, mulai dari alasan kesehatan, keluarga, hingga masalah sepele.”


“….”


“Sepuluh persen lagi, staff wanita yang kerjanya lebih banyak bergosip ketimbang membuat laporan keuangan atau laporan penjualan. Aku tidak butuh staff seperti mereka. Ditambah lagi penampilan mereka tidak mencerminkan penampilan wanita kantoran.”


Damian yang masih memilih bungkam, dengan sabar mendengarkan. Dia agak terkejut dengan alasan sang atasan mengeluarkan para staff tersebut. Sejak kapan sang atasan jadi sangat perhatian terhadap para staff. Terutama staff wanita. Padahal selama ini Darren cuek-cuek saja jika tidak sengaja berpapasan dengan staff wanita yang menggunakan pakaian yang tidak memenuhi standar yang sudah ditetapkan.


“Sisanya staff pria yang kinerjanya masih dipertanyakan. Kerja mereka selama ini tidak seberapa, sedangkan gaji dan bonus setiap bulan tetap mengalir ke rekening mereka.” Darren tersenyum kecil setelah mengakhiri penjelasannya.


“Satu lagi, pindahkan Elisè ke bagian Data Analyst. Aku ingin kamu yang menggantikan posisi Elisè sebagai sekretaris. Lagi pula Elisè juga lebih cocok bekerja di bagian tersebut.”


Keterkejutan Damian semakin bertambah saat Darren tiba-tiba minta sekretarisnya diganti. Belum sempat menyuarakan keterkejutannya, Darren sudah kembali beruara.


“Kamu juga boleh menunjuk satu orang staff untuk menjadi asisten mu. Cari yang kompeten, cekatan, disiplin, dan dapat dipercaya.”


“Baik tuan.” Pada akhirnya Damian sebagai bawahan hanya bisa meng-iyakan.


“Utamakan berjenis kelamin pria, Dam,” tambah Darren. Mewanti-wanti.


Damian kembali mengangguk sebagai jawaban. Fiks, ada yang berubah dari sang atasan. Mungkin pola pikir atau sudut pandangnya, Damian juga tidak tahu pasti. Namun, dia yakin bahwa Darren melakukan semua ini pasti bukan tanpa sebab.


Tanpa sepengetahuan Damian, Darren melakukan ini sebagai bentuk revormasi. Sebisa mungkin dia menciptakan lingkungan kerja yang kondusif, dan menjauhkan calon-calon potensial yang bisa saja membuat kejadian semacam staff with benefit terjadi. Masalah penyaringan karyawan memang sudah sejak lama jadi PR untuk Darren. Karena dia tahu betul di antara ribuan karyawan di perusahaan yang dia kelola, ada banyak oknum tidak bertanggung jawab yang tugasnya hanya leha-leha juga makan gaji buta.

__ADS_1


Untuk kedepannya, Darren ingin membawa perusahaan yang dia kelola menjadi semakin berkembang. Darren juga sudah menyiapkan beberapa tabungan dan asuransi lewat lawyer pribadi nya atas nama Palacidio Daniel Adhitama Xander. Calon buah hatinya Ev kelak. Dia menyiapkan semua itu sebagai bentuk investasi masa depan. Bahkan Darren juga sudah memutuskan untuk menanam saham di beberapa intansi pendidikan untuk asset buah hatinya kelak.


“Dasar manusia-manusia serakah itu,” keluah Darren yang baru saja kembali ke ruangannya.


Jarum jam sudah menunjukkan pukul satu siang, sedangkan dia baru saja menghadiri rapat ke sekian yang harus dia hadiri hari ini. Ditambah lagi ada beberapa selentingan yang terdengar di telinga, bahwa ada beberapa staff yang merasa keberatan karena tiba-tiba dikeluarkan. Darren jadi muak sendiri, karena mereka tidak sadar diri. Dikeluarkan begitu saja? Padahal mereka saja yang tidak sadar kesalahan sendiri.


Alhasil karena harus membereskan masalah tersebut, Darren jadi badmood sendiri. Perutnya juga sudah mulai keroncongan, minta diisi. Maka dengan semangat yang masih tersisa beberapa persen, pria rupawan itu mengeluarkan handphone dari saku jas. Hendak menghubungi Damian agar memesankan makana dari tempat makan langganannya. Inginnya sih Darren makan masakan yang dimasak oleh tangan sang istri, tapi dia sadar diri jika Ev pasti sibuk juga di hari pertamanya kembali bekerja. Jadi dia tidak mau berharap lebih. Namun, belum juga sempat merealisasikan ide tersebut, tiba-tiba ada satu panggilan masuk. Ada nama sang istri tertera di layar.


Dengan semangat 45, keturunan Xander itu segera menggeser icon hijau. “Halo, sayang?” sapanya girang. Alih-alih mendapatkan balasan, Darren malah mendapatkan keheningan untuk beberapa detik.


“Sayang? Hallo? Kamu bisa dengar suara aku?” tanyanya lagi beruntun. Keningnya bertaut karena tak lantas mendapat balasan. “Ev?”


“Iya. Aku dengar kamu suara kamu Darren.”


Senyum kontan tercipta di bibir keturunan Xander tersebut saat mendengar suara sang istri tercinta yang mengalun pelan. “Ada apa hm? Tumben kamu telpon aku duluan?”


Tumben memang, karena biasanya Darren yang menghubungi sang istri terlebih dahulu.


“Kamu ada di kantor?”


“Iya. Aku baru saja selesai rapat. Kenapa hm?”


“Aku ada di lobby.”


“Hm?” alis Darren bertaut mendengar kalimat tersebut.


“Aku ada di lobby perusahaan kamu. Aku telepon cuma untuk memastikan kamu ada di kantor atau tidak. Kalau begitu aku tutup dulu teleponnya. Sampai jumpa.”


Darren yang baru tersadar dari keterkejutannya, belum sempat membalas ucapan sang istri karena sambungan telepon itu sudah terputus begitu saja.


Darren memang terkejut saat mendengar sang istri ada di lobby. Seolah-olah Tuhan tahu keinginannya untuk bertemu wanita itu dan kini mengabulkan keinginannya.


Dengan perasaan senang luar biasa, Darren menunggu kedatangan sang istri dengan tidak sabaran. Dia bahkan bolak-balik berjalan di depan pintu agar tidak melewatkan kemunculan sang istri. Ingin menyusul, tapi sekarang wanita itu pasti sudah masuk lift. Tak berselang lama, penantian pria rupawan itu terbayar sudah saat daun pintu yang ditarik dari luar membuat pintu terbuka dan memperlihatkan siluet sang istri.


“Sayang!”


Dengan senyum yang mengembang lebar, Darren menyambut kehadiran sang istri. Satu kecupan singkat dia sematkan di kening wanita yang hari ini tampil mempesona dalam balutan dress berwarna dark blue. Darren kemudian membawa sang istri masuk, tidak lupa mengunci pintu agar tidak ada yang menganggu waktunya bersama sang istri.


“Kamu sudah makan siang?” tanya Ev dengan suara lembut miliknya.


Darren yang berjalan di sampingnya menggeleng. “Aku kelaparan dan baru saja hendak memesan makan siang saat kamu menelpon.”


Darren menggeleng sebagai jawaban.


“Soalnya aku bawa makan siang buat kamu,” beritahu sang istri.


“Kamu masak sendiri?”


Wanita cantik yang baru saja menyimpan barang bawaannya di meja itu mengangguk. “Hari ini aku cuma punya agenda untuk mengecek beberapa tawaran kerja sama. Jadi aku punya waktu luang untuk masak makan siang.”


Senyum Darren kian bertahan mendengarnya. Hari ini Tuhan benar-benar sangat baik kepadanya. Melihat Ev yang dengan cekatan mengeluarkan barang-barang bawaannya, Darren jadi semakin sadar betapa hebat wanita yang dia nikahi. Ev yang terlihat untouchable dari luar, ternyata bisa seperhatian ini. Darren benar-benar sangat beruntung.


Sebagai seorang istri, Ev benar-benar memperioritaskan sang suami di atas segalanya. Jika di dalam mimpi yang sempat Darren singgahi, Darren cenderung hasrat egoistik semata, sehingga menimbulkan berbagai petaka. Sedangkan di dunia nyata, sebisa mungkin Darren mengesampingkan bahkan meniadakan hasrat egoistik nya.


“Aku hari ini masak masakan Indonesia. Enggak apa-apa, ‘kan? Soalnya aku takut kamu bosan kalau makan makanan western terus.”


“Aku pemakan segala kok, Ev.”


Ev tak kuasa menahan senyum saat mendengar kalimat sang suami. “Masa? Sejak kapan?”


“Sejak istriku kamu.”


Ev tak lagi tersenyum sekarang, melainkan tertawa kecil. Tawa candu yang membuat Darren tergila-gila. Dia suka sekali saat Ev tersenyum, apalagi sampai tertawa. Rasanya begitu amazing saat melihat senyum atau tawa tersebut, karena hatinya jadi menghangat.


“Hari ini kamu masak apa Ev?” tanya Darren kemudian. Ada cukup banyak makanan yang dibawa sang istri, dan semuanya terlihat sangat menggoda.


“Aku cuma masak ayam rica-rica, cumi goreng tepung, mie goreng putih, sup pangsit ayam, sama tumis buncis dengan udang. Ayam rica-rica nya juga enggak terlalu pedas, jadi masih bisa kamu nikmati.”


“Semua kelihatan lezat, Ev.”


“Semoga kamu suka ya,” ucap Ev seraya tersenyum. Dengan telaten dia menyiapkan makan siang untuk sang suami.


Setumpuk nasi putih yang masih hangat ditemani ayam rica-rica yang menggoda, cumi goreng tepung, mie goreng putih, dan tumis buncis dengan udang siap memanjakan lidah Darren. Dengan senang hati, pria rupawan itu mulai menyantap masakan sang istri.


“Kamu tidak makan?” tanya Darren sebelum menyantap makan siangnya.


“Aku sudah makan tadi pa—“

__ADS_1


“Pagi kamu cuma makan bubur oat dan segelas susu, Ev,” potong Darren cepat. Dia tahu betul profesi sang istri menuntut wanita itu untuk menjaga bentul tubuh idelanya. Namun, Darren pribadi tidak suka melihat sang istri harus membatasi makanan yang dia konsumsi secara ekstrime.


“Ayo makan bersama,” katanya kemudian seraya menyodorkan satu sendok berisi nasi beserta lauk-pauknya.


“Tapi—“


“Tidak ada tapi-tapian, Ev. Kamu tidak perlu khawatir soal berat badan kamu yang akan naik,” sela Darren cepat.


Sang istri memang memiliki agenda penting dua minggu lagi. Wanita cantik itu tampil di acara New York Fashion Week. Ev juga akan membawakan pakaian dari brand ternama untuk berlenggak-lenggok di atas catwalk. Jadi Ev sangat mewanti-wanti kondisi tubuhnya agar senantiasa fit, bugar dan tetap ideal. Namun, belakangan sang suami acak kali mengajak Ev makan, sekali pun sudah lewat tengah malam.


“Aku yakin berat badan kamu tidak akan bertambah, karena kamu rajin olahraga. Baik di pagi hari, maupun di malam hari,” tambah sang suami yang kontan menbuat Ev membelalakkan mata tak percaya.


Melihat respon sang istri, Darren hanya tertawa jenaka seraya mendekatkan sedok di tangannya ke depan bibir sang istri. “Ayo buka mulut, tanganku mulai keram, sayang.”


“I-ya,” jawab Ev pada akhirnya.


Darren tersenyum senang karena pada akhirnya Ev mau menerima suapan tersebut. Pria itu kemudian menyiapkan sesendok nasi beserta kawan-kawannya ke mulutnya sendiri, menggunakan sendok bekas sang istri. Tidak ada kata jijik bagi Darren yang notabene pecinta kebersihan. Toh, makan atau minum menggunakan peralatan yang sama bukanlah hal tabu bagi pasangan suami-istri seperti mereka. Mereka bahkan sudah terbiasa bertukar saliva semenjak pulang honeymoon.


Selain itu, makan dan minum bersama juga termasuk sunnah Rasulullah. Menyuapi istri juga termasuk sunnah Rasulullah. Rasulullah juga bernah bersabda jika satu suapan yang masuk ke mulut istri, itu sodakoh yang lebih besar nilainya ketimbang memberi ke anak yatim atau fakir miskin. Darren tahu semua itu lewat artikel-artikel terkait ajaran Rasulullah yang belakangan sering dia baca.


Darren bukan saja berencana merubah kisah rumah tangganya bersama Ev saja, melainkan dia juga ingin merubah kepribadiannya sendiri agar dapat menjadi suami dan ayah yang baik bagi anak-anaknya kelak. Darren menekankan dirinya sendiri agar dapat menjadi pria yang bisa mengontrol emosi, punya landasan agama yang kuat, konsisten dalam mengambil keputusan, dan berwawasan luas. Dia juga sekarang sealau mengutamakan planning sebagai patokan untuk apapun yang akan dia hadapai kedepannya.


Lagi pula Ev dan Darren juga sudah setuju untuk menundan memiliki momongan. Keputusan itu diambil agar mereka mempersiapkan diri terlebih dahulu, karena menjadi orang tua itu tidak mudah. Selama jadwal ‘tunda’ itu berlangsung, Ev dan Darren juga bisa saling mengenal lebih dekat satu sama lain.


Sebenarnya Darren tidak keberatan jika mereka langsung memiliki momongan. Hanya saja dia lebih mengutamakan pendapat Ev, karean Ev lah yang akan mengandung. Ev punya hak lebih atas tubuhnya yang akan menjadi tempat tumbuh dan berkembangnya calon buah hati mereka. Selain itu, jadwal kerja Ev sudah padat untuk tahun ini hingga tahun depan. Darren tidak mau menambah beban Ev, karena berkaca pada mimpi yang dia alami.


Ev akan mengalami kesulitan jika hamil sekarang, di saat pekerjaanya di dunia showblitz menggunung. Belum lagi Ev baru ditari kerja sama untuk menjadi global brand ambassador sebuah merk pakaian dan perhiasan ternama. Jadi, keputusan menunda memiliki momongan rasanya sudah benar. Ev dan Darren juga sudah menyampaikan keputusan tersebut pada orang tua masing-masing.


“Darren, aku pulang, ya?”


Selepas makan siang bersama, Ev tinggal sebentar untuk menemani sang suami di waktu luangnya. Namun, saat hendak pulang, pria rupawan itu malah terus menempel pada Ev.


“Jangan. Kamu di sini saja.”


“Aku masih harus pergi ke D’EV jam tiga nanti. Ada agenda meeting dengan Dean—“


“Batalkan. Aku tidak mengijinkan kamu pergi,” potong Darren.


“Why?” kening Ev tampak bertaut mendengar kalimat sang suami.


“Karena aku mau kamu di sini lebih lama lagi.”


“Tapi aku harus bekerja. Jika tidak bekerja, aku akan dikeluarkan—“


“Itu malah bagus. Jika perlu kamu resign saja dari D’EV dan aku akan membuatkan kamu agensi sendiri.”


Mendengar kalimat sang suami yang dibumbui kecemburuan, Ev kontan tertawa kecil. “Apaan sih, kekanakan sekali. Lagi pula aku juga kerja secara professional di D’EV, Darren.”


“Kamu mungkin begitu. Bagaimana dengan CEO D’EV itu? bisa jadi dia masih memendam rasa kepadamu.”


“Yang terpenting aku di sini tidak memberi celah Dean untuk berharap lebih. Lagi pula aku juga hanya membuka hati untuk kamu,” balas Ev seraya menyentuh punggung tangan sang suami. “Kenapa kamu khawatir, di saat kamu tahu siapa yang hatiku pilih?”


“….”


“Aku bukan tipikal wanita yang mudah jatuh cinta, Darren. Seharusnya kamu tidak perlu khawatir saat mengetahui fakta tersebut.”


Darren menghela nafas perlahan seraya menatap wajah cantik sang istri. Pernah mendapatkan mimpi yang seolah-olah terjadi, membuat Darren jadi agak parno. Karena itu sipat pecemburunya yang sejak dulu dia pendam dengan apik, kini jadi kembali memberontak.


“Aku pergi, ya?” pinta Ev lagi.


“Hm.”


“Boleh?” tanya Ev memastikan. Ev pantang pergi jika sang suami tidak mengizinkan.


“Hm. Tapi kiss dulu, di sini,” ujar Darren seraya menyentuh bibir kissable miliknya.


Ev tertawa kecil sekali pun rona merah tidak dapat disamarkan di pipinya. Darren yang tiba-tiba manja begini sungguh membuatnya geli. “Ok. But, just only kiss. Jangan minta lebih,” sahut Ev menyanggupi.


Kini giliran Darren yang tertawa puas. Seraya menarik pinggang sang istri mendekat, pria rupawan itu kembali bersuara. “Tapi jika kamu yang minta lebih, rajang di ruang istirahat bisa kita coba sayang.”


🌼🌼


TBC


Nah, loh, yang bucin bikin yang lain pengen pindah ke Mars 🥵


Suka sama part ini? udah, ya. Sesuai janji. Aku bakal teruskan lapak mas Pilot di BUKAN DIJODOHKAN. Aku udah revisi kerangka, dan revisi beberapa bab. Dalam waktu dekat aku bakal update rutin. Kemungkinan bisa berbarengan dengan update BCT. Jadi stay tune terus ya ☺️

__ADS_1



Sukabumi 27/05/22


__ADS_2