Berbagi Cinta: Mistress (Wanita Simpanan)

Berbagi Cinta: Mistress (Wanita Simpanan)
M16 : YANG BERJUANG DAN DIPERJUANGKAN


__ADS_3

M16 🥀 : YANG BERJUANG DAN DIPERJUANGKAN


...🥀🥀...


Wanita cantik yang baru saja keluar dari sebuah mobil mewah itu buru-buru memasuki area lobby sebuah rumah sakit kenamaan di ibu kota. Seharusnya dia datang berkunjung ke tempat ini setengah jam yang lalu. Namun, karena pemotretan terakhir yang dia lakukan memakan durasi yang cukup panjang, maka ia harus terlambat menepati janji. Rok dari terusan berwarna xanadu yang ia gunakan sampai berkibar-kibar kala ia berjalan cepat. Suara ketukan heels bertumit tinggi dari Jimmy Choo terdengar nyaring.


Beberapa orang mulai dari dokter, suster, hingga para keluarga pasien yang kebetulan berpapasan dengannya, tampak terkesima. Saking buru-buru, dia sampai melupakan fakta jika saat ini kedatangannya menjadi pusat perhatian. Namun, ada yang lebih penting dari itu sekarang.


“Ev, akhirnya kamu datang. Mama baru saja ingin cancel jadwal konsultasi sama dokter Deesa.”


Sambutan hangat dari wanita paruh baya yang berdiri di depan ruangan spesialis Obstestric and gynecology (Obgyn) atau dokter kandungan.


“Tadi pemotretan terakhir Ev mengalami perpanjangan durasi, Ma. Makanya Ev terlambat. Sekali lagi, Ev minta maaf sudah membuat Mama menunggu.”


Wanita paruh baya itu—Diana Xander—tersenyum maklum seraya mengusap bahu sang menantu. “Tak apa, Ev. Sekarang yang penting kamu sudah datang. Pemeriksanya bisa langsung dilakukan.”


Ev, wanita cantik dalam balutan terusan berwarna xanadu berbahan lembut itu mengangguk seraya tersenyum tipis. Mana bisa dia menolak permintaan orang tua seperti Diana Xander. Dalam hidupnya, Ev selalu mendengarkan setiap perintah orang tua. Ia juga selalu mencoba memberikan apa yang orang tuanya inginkan, termasuk bersanding dengan Darren.


Hukum itu juga berlaku bagi kedua orang tua Darren, karena mereka juga amat menyayangi Ev seperti anaknya sendiri. Oleh karena itu, Ev rasa sungkan jika tidak dapat memenuhi keinginan mereka. Walaupun terkadang permintaan mereka membuat kepala Ev pening tujuh keliling. Kali ini Diana kembali membawa Ev melakukan pemeriksaan pra kehamilan ke dokter langganan wanita tersebut.


Tes program ini ‘katanya’ harus dilakukan terutama bagi calon ibu yang tak kunjung hamil setelah 1 tahun menikah. Menurut Grace Lau, MD, seorang dokter spesialis kandungan dari NYU Langone Medical Center, menjalani tes program kehamilan akan meningkatkan peluang untuk mendapatkan kehamilan yang aman dan bayi yang sehat. Oleh karena itu, Diana juga gencar memboyong Ev untuk pemeriksaan.


Semenjak tahun ke dua usia pernikahannya dengan Darren, Ev sudah sering menjalani pemeriksaan riwayat kesehatan, tes pemeriksaan kesehatan, tes Pap Smear dan pemeriksaan panggul, tes darah, tes urine, tes ultrasonografi (USG), tes histerosalpingografi (HSG), tes TORCH, hingga tes laboratorium. Ev melakukan semua tes itu ata dasar anjuran Diana, sedangkan putranya sendiri—Darren—selalu saja memiliki 1001 alasan hanya untuk melakukan uji analisis sp*rma.


Dimintai solusi saja, pria itu malah pergi begitu saja tanpa sepatah kata pun. Padahal Ev mempertanyakan apakah ia harus mempertahankan sesuatu yang tidak lagi bisa dipertahankan?


Ev menyayangi dan menghormati orang tua Darren seperti orang tuanya sendiri. Mereka bahkan lebih sering memperhatikan Ev ketimbang orang tua Ev sendiri. hal itu juga yang membuat Ev mempertimbangkan untuk mempertahankan pernikahannya. Hanya saja, hal itu tidak berlaku bagi Darren. Pria itu bahkan tak memikirkan perasaan kedua orang tuanya, pasca mengambil keputusan untuk memiliki wanita simpanan.


“Seperti sebelum-sebelumnya, analisa saya tidak pernah berubah. Tidak ada yang salah dengan Anda.”


Ev tersenyum kecut seraya mendudukkan dirinya di hadapan dokter cantik keturunan China tersebut.


“Sampai kapan pun Anda tidak akan hamil, jika rahim Anda saja bahkan tidak pernah dikunjungi sel sp*rma.”


Ev tertegun untuk sejenak. Ah, dia lupa jika bertambah satu orang lagi yang mengetahui ‘rahasia besar’ dibalik pernikahannya dengan Darren.


“Dokter Deesa Tan kamu tentu tahu apa yang harus kamu lakukan.”


“Lagi?” dokter bermata sipit itu memicing.


“Hm. Hanya itu yang aku minta dari kamu, Dees.”


“It’s okay, Ev. Mengingat mengetahui rahasia besar mu dengan Darren bukanlah keinginanku, tapi kerahasiaan informasi pasien bagiku adalah sebuah tanggung jawab besar.”


“Terima kasih untuk pengertiannya, Dees.”


Dokter yang masih memiliki hubungan kekerabatan dengan keluarga Atmarendra itu mengangguk. “Udahan deh bicara versi formalitasnya, mertua lo ada di luar juga.”


Ev tersenyum tipis mendengarnya. Memang benar, saat ini Diana memang tengah berada di luar untuk mengangkat telepon dari sang suami.


“Apa lagi, mau tas Hermes?”

__ADS_1


“No. udah dibeliin sama Cece. Adek gue mau nonton konser One Ok Rock, tapi gak kebagian tiket VIP. Lo tau sendiri, kan, gimana maniaknya dia? Kemarin gue lihat Dimi post dua tiket, boleh gue bayar gak satu? Buat Adek gue.”


“Ok. Besok aku usahakan tiketnya ada ditangan adikmu.”


“Thanks banget, bestie. Lo memang yang paling baik sedunia.”


Ev tersenyum tipis seraya mengangguk.


“Tapi, sayang suami lo gak punya mata sama hati. Makanya gak pernah bisa lihat berlian kayak lo.”


Ev lagi-lagi hanya bisa tersenyum mendapati ucapan Deesa. Mereka memang tumbuh dalam circle pertemanan yang sama, termasuk Darren dan Dean di dalamnya.jadi tak heran jika Deesa juga sudah paham betul sikap Darren.


“Omong-omong, Dean malam ini ngajak dinner. Mau ikut, gak?”


“Dinner?”


“Iya. Private dinner gitu. Sama anak-anak yang lain. Ikut deh, Ev. Udah lama gak ketemu mereka, ‘kan?”


Ev tampak berpikir sejenak. Sudah lama juga ia tidak bertemu teman-temannya karena sibuk. Semenjak menikah dengan Darren, Ev memang cukup membatasi aktivitas pribadi yang tidak terlalu penting. Tidak ada salahnya jika dia datang ke acara tersebut. Hitung-hitung untuk reunian juga. Sekaligus hangout, melepas penat berumah tangga.


Namun, malam harinya Ev yang sudah janjian akan berangkat bersama Deesa, malah dikejutkan dengan kehadiran seorang.


“What are you doing, here? (Sedang apa kamu di sini)”


“I waiting for you, what else? (Menunggu kamu, apalagi)”


Ev menautkan kening mendengar jawaban lelaki dalam balutan suite mahal berwarna monokrom. Siapa lagi kalau bukan CEO ganteng bernama Dean Wijaya yang kini merangkap sebagai CFO. Semerbak parfum yang menonjolkan aroma kuat, tercium. Parfum ini cocok dipakai saat menemui orang terkasih. Di belakang pria itu terparkir dengan apik super cars keluaran terbaru yang dapat dihitung dengan jari keberadaannya di dunia.


“Aku akan pergi dengan Deesa. Kamu tidak perlu repot-repot menjemput.”


Ev menghela nafas pelan mendengarnya. Deesa, Deesa. Tahu saja jika Ev paling kesal jika dihubungkan dengan Dean, tetapi wanita itu malah sengaja membuat Dean datang.


“Kenapa? Apa aku harus izin suamimu terlebih dahulu?” tanya Dean seraya menunjuk pintu utama rumah Ev dengan dagu.


“Tidak perlu,” jawab Ev cepat seraya memutari body mobil.


Melihat itu senyum penuh kemenangan tercipta di bibir Dean. “Malam ini biarkan aku membuatnya bahagia, sudah lama dia menderita karena kau, Darren.” Gumam Dean, kemudian berjalan menuju pintu driver.


Malam ini ia akan membuat wanita cantik yang duduk di sampingnya bahagia. Walaupun sesaat.


🥀🥀


“Neng, makan dulu atuh. Dari pagi belum makan nasi, ‘kan?”


Wanita cantik yang tampak pucat itu menggeleng, seraya menatap sisa potongan daging buah berwarna kuning di atas piring.


“Dari tadi makan manga terus, nanti sakit perutnya.”


“Enggak, bi. Enak malahan, enggak enek,” jawab wanita berwajah mungil tersebut. Tangannya yang memegang sendok garpu kembali menusuk satu potongan manga, membawanya ke dalam mulut. Mengunyahnya perlahan, seolah-olah itu adalah makanan terenak di dunia.


Sedangkan bi Mimin hanya bisa menatap ngeri seraya mengelus dada. Sudah beberapa hari ke belakangan nyonya mudanya itu mogok makan karena beralasan mual, dan tak berselera. Wanita muda itu hanya mengisi perutnya dengan sesuatu yang terasa asam, sedikit manis. Mangga adalah salah satu buah yang kerap kali ia pinta kala perutnya keroncongan.

__ADS_1


Selain menghindari nasi, wanita muda itu juga sangat menghindari air bekas cucian. Katanya bau sekali. Seiring dengan datangnya keanehan itu, dia tidak bisa tertidur tanpa menghirup aroma parfum sang suami yang tertinggal di benda-benda pribadi milik pria itu, mulai dari jam tangan, dasi, kemeja, dan sebagainya. Entah karena rindu menahun atau karena memang aneh saja, tetapi dia baru bisa tidur jika sudah menghirup aroma sang suami yang tertinggal.


“Udah ya, neng makan mangga nya. Bibi ngeri lihatnya,” ujar bi Mimin seraya melirik potongan manga yang tersisa beberapa.


“Ya udah,” ujar sang nyonya.


Senyum terbit di wajah bi Mimin, “kalau gitu sekarang neng makan nasi dulu. Biar bibi ambilin, mau sama apa lauknya?” tawarnya sumringah.


“Gak usah, bi. Ella kenyang. Mau jalan-jalan di taman belakang aja,” ujar sang nyonya seraya beranjak.


“Eh, tapi, neng—“


“Kalau boleh, Ella juga mau teh lemon hangat pakai madu.” Setelah berkata demikian, wanita muda itu berlalu, tak lupa menyunggingkan senyumnya sebelum berlalu.


Bi Mimin lagi-lagi hanya bisa menghela nafa lemah seraya mengangguk. Wanita paruh baya itu hanya khawatir akan kondisi kesehatan sang nyonya. Apalagi sudah berminggu-minggu sang tuan tidak pulang. Hal itu semakin membuat sang nyonya tak bergairah untuk menjalani hari-harinya.


“Mas Darren kapan pulang, ya?” gumam wanita mungil yang tengah berjalan-jalan di atas jalan setapak tanpa alas kaki itu.


Rindu yang membelenggu membuat gairah hidupnya membeku. Tak ada lagi yang dapat membuatnya bersemangat, jika bukan karena hadirnya pria itu. Pria yang hadirnya selalu ditunggu-tunggu. Setiap waktu, rasanya ingin selalu bertemu. Namun, apalah daya, karena semua itu masih butuh waktu.


“Mas Darren, cepat pulang. Ella rindu,” ujarnya lagi pada hembusan angin yang menerpa.


Ella tak tahu pada siapa dia harus mengadu. Ingin berkomunikasi pun sukar sekali. Hanya beberapa waktu pria itu dapat dihubungi, itupun tak lama. Tak sampai mengobati rasa rindu yang bertalu-talu.


🥀🥀


“Dari sini, perjalanan akan saya lanjutkan seorang diri.”


Pria paruh baya yang bekerja sebagai supir pribadi itu mengangguk dari balik kaca. Dia sudah terbiasa. Nanti, saat tuan nya kembali, baru dia akan kembali mengemudi. Untuk saat ini, perjalanan akan dilanjutkan sang tuan seorang diri.


“Pulanglah, beli makanan yang enak untuk anak istrimu.”


“Terima kasih banyak, tuan.”


Supir itu mengulum senyum lebar seraya menerima amplop coklat berisi bonus yang kerap kali tuannya beri. Perpisahan di titik ini, dapat membuatnya kembali ke kampung sejenak untuk menengok anak dan istri. Sedangkan sang tuan melanjutkan perjalanan, guna mendatangi ‘alasan’ yang sangat diperjuangkan pria itu. Dia bahkan rela bolak-balik dari kota ke desa demi menemuinya, sekalipun jarak membentang begitu jauh.


Darren, pria yang baru saja mengambil alih kemudian itu tersenyum tipis. Kendaraanya ia pacu cukup kencang, selagi masih menemukan jalan berlapis aspal. Bukan jalan dengan medan berlapis tanah dan lumpur yang nanti harus ia lalui. Seorang Semua itu taka da apa-apanya, demi seseorang yang sangat ia rindu. Seseorang dibalik ‘alasan’ kenapa dia diperjuangkan hingga saat ini.


“Ella.”


Kala satu nama itu terucap di bibir, bayangan wajah ayu itu seketika terlintas. Membuat Darren lupa akan beban yang selama ini ia pikul. Bersama wanita itu hidupnya terasa tenang, lepas, dan apa adanya. Oleh karena itu, ia rela berbohong juga mengorbankan kepercayaan banyak orang demi kebersamaan yang entah bersifat sesaat sampai kapan.


...🥀🥀...


...TBC...


...Udah, lengkap semua tokoh keluar? Lunas!...


...Masih mau lanjut kan? kalau mau up cepat, satu orang harus komentar 5 butir (ngelunjak amat 😂)...


...Jangan lupa mampir ke lapak CLBK or Cerita Lama Belum Kelar (Story Triple D)...

__ADS_1


...Note : Tandai Typo, pasti bertebaran 🙏...


...Jangan lupa like 👍 vote 💯 komentarrrr yang banyak 💌 share 📲 dan follow Author ❤️...


__ADS_2