Berbagi Cinta: Mistress (Wanita Simpanan)

Berbagi Cinta: Mistress (Wanita Simpanan)
M55 : MARAH


__ADS_3

M55 🥀 : MARAH



Pernah dengar istilah ucapan adalah do’a? istilah yang cukup popular itu tentu saja kerap kali terdengar di telinga. Istilah itu juga pernah didengar oleh keturunan Xander yang saat ini tengah mempertanyakan kebenaran istilah tersebut.


“Kali ini lo kecolongan posisi CFO karena Dean. Next time, jangan sampai lo kecolongan bini karena Dean juga.”


Kalimat itu, beberapa waktu kebelakang pernah digaungkan oleh rekan kerja sekaligus sahabatnya. Sekarang, pelaku yang sama tengah menceramahi keturunan Xander yang tengah menikmati segelas caffeine.


“Kan, lo bener kecolongan,” tawa mengejek terdengar dari bibir tipis milik pria yang tengah duduk seraya melipat kakinya tersebut. “Gue udah bilang dari kemarin, hati-hati. Sekarang, posisi lo juga gak aman, Darren. Proyek yang ada di desa tertinggal itu terbengkalai, karena pembangunannya tersendat. Padahal perusahaan udah ngeluarin banyak dana.”


“Proyek itu sedang dalam pengerjaan. Kamu tidak perlu khawatir. Fokus saja membuat para investor bertahan.”


“Ya, kali lo pikir itu mudah?” tanya pria yang memegang posisi sebagai Chief Operations Officer atau COO itu sarkastik. “Apalagi sekarang berita perceraian lo sama Ev lagi hangat-hangatnya diperbincangkan. Sedikit banyaknya, skandal ini mempengaruhi para investor. Mereka bisa aja tarik perjanjian kalau pihak kita gak lagi menguntungkan.”


Pria yang duduk sembari menikmati segelas caffeine itu diam, tidak membalas. Hasil rapat umum pemegang saham yang baru saja diselesaikan, ternyata membawa dampak yang cukup signifikan. Dalam rapat tersebut, dia juga harus kembali berhadapan dengan rivalnya yang menjabat sebagai CFO atau Chief Financial Officer.


“Btw, gue juga kaget sama penasaran sama berita perceraian lo,” ujar pria bernama Dewangga tersebut. “Kok tiba-tiba kalian memutuskan buat bercerai? Bukannya selama ini hubungan kalian adem ayem?”


“Hm.” Hanya itu yang dapat Darren jawab.


Hal itu tentu membuat lawan bicaranya memberangus sebal. “Kalau ternyata alasan lo cerai karena punya wanita simpanan, kayak berita yang tersebar di internet, gue gak habis pikir sama jalan pikiran lo.”


“Jaga bicaramu, Dewa. Tidak semua berita yang tersebar di internet itu benar,” sanggah Darren.


Dewangga tersenyum sinis seraya beranjak dari duduknya. “Makanya gue nanya sama lo, karena cuma lo sama Ev yang tahu kebenarannya.” Setelah berkata demikian, pria itu menyeringai tipis sembari mengistirahatkan tangannya ke dalam saku.


“Gue balik dulu, deh. Bentar lagi ada meeting sama tim marketing,” ujarnya. “Oh iya, Dam. Cewek gue ada titip something buat istri lo. Nanti ambil ya, di ruangan gue.”


Pria yang sedari tadi hanya menjadi pendengar itu mengangguk sebagai jawaban. Sepeninggalan Dewangga yang masih satu circle pertemanan dengan Darren dan Damian itu, suara deringan ringtone telepon milik Darren memecahkan keheningan. Pria yang baru saja menghadap layar MacBook itu tampak menautkan kening saat melihat kontak yang tertera di telepon.


“Halo, ada apa?” tanyanya, pada seseorang di seberang.


“Maaf menganggu waktu tuan, saya cuma ingin menyampaikan jika nona tidak ada di rumah,” ujar pemilik kontak Dyana tersebut.


“Apa? Pergi kemana, dia? Kenapa tidak ada yang menyadari kepergiannya?!” cecer Darren emosi.


Dyana adalah nama maid yang ditugaskan secara khusus untuk menjadi maid sang mistress. Maid muda itu yang akan mengurus semua kebutuhan wanita simpanannya yang tengah berbadan dua. Namun, sekarang dia malah mendapat kabar jika wanita simpanannya telah pergi entah kemana, tanpa sepengetahuan.


“M-aaf, tuan. Tadi, para maid sedang istirahat di ruang istirahat. Kami pikir nona masih sibuk membuat kue. Saat diperiksa, nona sudah tidak ada. Kami sudah mencari nona keseluruhan ruangan, tetapi tidak berhasil menemukannya.”


“F*ck!” umpat Darren murka.


Sedetik kemudian, pria itu langsung mematikan sambungan telepon, dan beralih pada aplikasi kontak. Dia langsung menghubungi kontak supir pribadi—bekas supir pribadi istri pertamanya—yang biasa standby di rumah.


“Halo.”


“Halo, tuan?” Suara familiar di seberang langsung menjawab, kendati suaranya terdengar ragu.


“Kamu tahu di mana istri saya berada?” tanya Darren to the point.


“Istri tuan? Maksudnya, nyonya Ev?” tanya suara di seberang, tampak kebingungan.


Darren memijit pelipisnya, pening tiba-tiba menyerang. Sedangkan di sampingnya, Damian yang mendengarkan percakapan sang atasan—karena Darren menggunakan fitur loadspeakers—hanya bisa tersenyum maklum.


“Ella. Di mana wanita itu? Apa dia bersamamu?”


“I-tu, tuan. Tadi nona meminta diantarkan ke rumah orang tua Anda. Nona bilang sudah mengantongi izin, jadi saya mengantarkannya ke sana.”


“Rumah orang tuaku?” Darren memastikan pendengaran. Pening di kepalanya kian bertambah setelahnya.


“Iya, tuan. Jadi, sekarang saya ada di rumah orang tua Anda.”


“Dia belum pulang?”


“Belum, tuan. Padahal nona sudah berkunjung sejak pagi.”


Darren menggeram lirih mendengarnya. “Kamu bisa kembali, biar saya yang membawanya pulang.”


“Baik, tuan.”


Panggilan tersebut kemudian diputus secara sepihak. Pria yang berada di kursi kebesarannya itu tampak memukul meja kerjanya frustasi. Membuat sang sekretaris yang masih berdiri di hadapannya hanya bisa menghela nafas melihatnya. Jika sudah begini, dia yakin sang atasan pasti akan mengacaukan schedule yang telah dia buat dengan susah payah.


“Dam.”


“Iya, tuan?”


“Cancel meeting dengan pihak PT. SETIA ABADI. Saya harus pergi ke rumah orang tua saya.”


Dengan patuh, Damian hanya bisa mengangguk seraya meng-iyakan.

__ADS_1


🥀🥀


Jikalau ada seseorang yang menyiratkan ketidaksukaan atas kehadiranmu secara langsung maupun tidak langsung, apa kamu akan terus bertahan di sana? Sebagian besar pasti berkata ‘TIDAK’ dengan kompak. Apalagi jika masih memiliki urat malu, dipermalukan sedemikian rupa dengan sangat berkelas, seharusnya tahu diri, bukan?


Namun, hal itu tidak berlaku bagi wanita muda yang saat ini memilih duduk dan menunggu. Alih-alih segera pergi dari rumah orang tua suaminya, wanita muda itu memilih tinggal. Sekali pun harga dirinya telah diinjak-injak oleh kalimat berisi fakta yang keluar dari mulut mertuanya beberapa saat yang lalu.


Dia, Estrella yang mungkin sudah tidak memiliki urat malu. Nyalinya tak menciut, sekali pun harus mendapatkan kesan kurang baik dari sang mertua. Dia memilih bertahan, karena yakin jika kegigihannya akan membuahkan hasil. Akan tetapi, hingga jarum jam menunjukkan pukul dua belas, sang mertua tak lagi memunculkan batang hidungnya. Wanita itu pergi setelah mengucapkan kalimat yang menyiratkan Ella untuk segera enyah, tetapi diartikan sebaliknya.


“Sedang apa kamu di rumah saya?”


Wanita muda yang tengah melamun itu terhenyak, lantas bangun dari posisinya yang semula duduk. Diliriknya pria paruh baya berpakaian formal yang tampak tengah menatapnya pula. Dia Dazen Xander—ayah Darren Aryasatya Xander—suaminya.


“A-yah mertua….” Cicitnya kecil, seraya bergerak. Hendak meraih tangan pria paruh baya tersebut untuk disalami.


“Tidak perlu repot-repot,” Dazen berujar, memotong gerakan Ella. Tersirat sekali jika pria paruh baya itu tidak mau disentuh oleh wanita simpanan putranya. “Saya bertanya, sedang apa kamu di rumah saya?”


“Ella….tadi mengantarkan kue buatan Ella.”


“Kue?” ulang Dazen.


“I-ya.”


“Seharusnya kamu tidak perlu repot-repot, karena Ev sudah lebih dari cukup memperhatikan saya dan istri saya.”


Bak dihantam godam tak kasat mata untuk kesekian kalinya, Ella hanya bisa tersenyum kecut. Lagi, lagi, dan lagi dia kembali dikalahkan oleh satu orang yang sama.


“Kamu lihat ini,” Dazen Xander kembali berucap seraya menunjukkan paper bag di tangannya.


Ella mengangguk sebagai jawaban.


“Ini adalah makan siang yang dibuat khusus oleh putri saya, Evelyn.”


Ella membatu mendengarnya.


“Saya tidak pernah kekurangan makanan, karena putri saya sangat pengertian. Dia bahkan tahu pola makan saya, termasuk apa yang bisa saya makan dan tidak. Istri dan putri saya sudah sangat cukup untuk mengurusi urusan perut dan kesehatan saya, saya tidak butuh kamu. Kehadiran kamu di kota ini hanya dibutuhkan oleh putra saya, bukan begitu?”


Ella tampak terdiam kaku, tidak tahu harus menjawab apa.


“Lebih baik kamu mengurusi putra saya, agar tidak lagi mengemis-ngemis pada putri saya, Evelyn. Tak apa jika saya tidak akan memiliki cucu dari pernikahan Ev dan Darren. Mungkin Ev saja dapat memberikan saya cucu, sekali pun bukan bersama Darren. Namun, Darren? Saya tidak akan menerima cucu darinya, jika bukan bersama putri saya, Evelyn.”


Dazen Xander berujar dengan tenang, dengan raut flat khas miliknya. Dia rasa ucapannya sudah cukup dimengerti oleh wanita simpanan putranya.


“Kenapa?”


“Kenapa bayi yang lahir dari rahim Ella tidak dapat pengakuan dari kakek dan neneknya?” Tanya Ella sedih. Matanya mulai berkaca-kaca. “Dia tidak bersalah. Kenapa dia harus menanggung kenyataan pahit seperti ini?”


“Bayi itu memang tidak bersalah, tetapi lahir dari wanita yang salah.”


Skakmat. Ella kembali terdiam oleh satu kalimat menyakitkan.


“Karena kamu adalah penyebab hancurnya rumah tangga putri saya, Evelyn.” Dazen Xander menjawab dengan lugas. “Evelyn sudah seperti darah daging saya sendiri. Logikanya, orang tua mana yang akan menerima seseorang yang telah menyebabkan putrinya kehilangan kebahagiaan?”


“Tapi, posisi Ella di sini….”


“Ella!”


Belum sempat wanita muda itu menyelesaikan kalimatnya, sebuah suara sudah terlebih dahulu menginterupsi. Membuat mereka mengalihkan perhatian pada sumber suara tersebut.


“Sepertinya jemputan kamu sudah datang. Lekas lah pergi dari rumah saya,” ujar Dazen, datar. Namun, sarat akan pengusiran.


“Pa—“


“Bawa wanita mu pergi, Darren. Papa sedang tidak menerima tamu,” potong Dazen, sebelum berlalu menuju undakan tangga.


“Apa-apaan kamu?!”


Darren menarik perhatian pasca sang ayah menghilang di undakan tangga. Membuat wanita yang tengah hamil buah hatinya itu tampak terkejut dibuatnya.


“Mas, Ella kesini cuma mau silaturahmi.”


“Silaturahmi?” ulang Darren seraya menatap istrinya tajam. “Tapi waktu yang kamu pilih salah, Ella.”


“Apa nya yang salah, mas? Ella cuma mau memperbaiki hubungan dengan orang tua, mas.”


Darren menghela nafas gusar seraya menatap lawan bicaranya lekat. “Lebih baik kita sekarang pulang.”


“Kalau aku gak mau gimana?”


“Kamu melawan, Ella?” Darren menatap Ella sinis. “Lupa dengan peraturan yang aku buat?”


“Aku cuma mau kenal lebih dekat sama keluarga kamu. Apa itu salah, mas?”

__ADS_1


“Ya, salah.”


Ella terpaku mendengarnya.


“Salah karena kamu terlalu buru-buru ingin diakui oleh keluargaku!” lanjut Darren murka. “Apa kamu tidak melihat jika kehadiran kamu masih sulit diterima? Apa kamu tidak bisa menunggu terlebih dahulu, sampai keadaan lebih memungkinkan?” cecar Darren.


“Aku cuma….mau melakukan apa yang menurutku benar, mas.” Ella menjawab lirih, seraya terisak.


Darren menghela nafas kasar. “Sebaiknya kita pulang sekarang. Keberadaan kamu tidak diinginkan di sini.”


Kalimat itu tentu saja kian menambah kesedihan wanitanya, Darren tahu itu. Namun, jika dengan itu wanitanya mau menurut, bagaimana lagi. Semakin hari semakin sulit mengendalikan wanitanya. Darren menyadari hal tersebut. Entah karena bawaan bayi, sehingga wanita itu lebih berani. Atau karena memang sudah sifat aslinya. Entahlah, Darren pusing sendiri menghadapinya.


“Ayo kita pulang, dia pasti butuh istirahat,” bujuk Darren seraya memeluk bahu sang istri. Sebelah tangannya bergerak mengelus permukaan perut sang istri.


Ella mengangguk lirih. “Tapi, sebelum pulang, Ella mau beli es kuwut.”


“Es kuwut?” bingung Darren.


“Itu, loh, es yang terbuat dari campuran buah melon, jeli, kelapa muda, biji selasih dan sirup rasa melon. Tadi Ella sempat lihat pedagang kaki lima jualan es kuwut di depan gerbang masuk perumahan ini.”


“Tidak usah beli makanan di pinggir jalan. Makanan yang dijual di sana belum tentu higienis, bahaya untuk bayinya.”


“Tapi, Ella mau beli es kuwut itu, mas,” rengek sang mistress, kekeuh.


Pria rupawan itu menghela nafas berat, kemudian meng-iyakan lewat sebuah anggukan kepala. Membuat sang mistress tersenyum senang setelahnya.



‘****. Semakin lama rubah kecil ini semakin banyak berulah,’ batin Darren seraya meninggalkan kediaman orang tuanya.


🥀🥀


“Kerja terosss, sampai sama istri!” kalimat sindiran yang berasal dari pintu yang baru terbuka itu, kontan membuat si empunya ruangan menggaruk pelipis.


“Kenapa tidak bilang mau datang, Itaa?” tanya, seraya beranjak untuk menyambut sang istri.


“Kenapa? Takut aku recokin kamu yang lagi pacaran sama kerjaan?” sinis wanita yang tengah berbadan dua itu, kala menghempaskan tubuhnya ke atas sofa. “Anak kamu mau makan spaghetti shrimp aglio olio,” tambahnya memberitahu sang suami.


“Ok, aku g*-food sekarang, ya. Kamu mau beli apa lagi? Cheese cake blueberry? Biar aku sekalian pesankan,” tawar sang suami, sigap membuka handphone.


“Siapa yang bilang mau dibeliin?”


“Terus, kamu maunya gimana, Itaa?” tanya Damian, seraya mendudukkan dirinya di samping sang istri.


“Buatin, istri lagi ngidam juga.” Wanita itu menjawab dengan ketus.


“Aku sedang kerja, Ta. Beli aja, ya. Di restoran seafood langganan kamu,” tawar sang suami.


“Aku maunya handmade, made in my lovely husband. Kamu, tuh, suami aku bukan, sih?”


Damian yang memiliki tampak datar itu, mengangguk dengan cepat. “Iya. Memangnya kapan aku cerain kamu?”


“Owh, jadi kamu berencana cerain aku?” tantang Dewita seraya mengelus bagian perutnya yang masih ramping. “It’s okay. Aku bisa kok cari daddy pengganti buat dia, yang lebih perfect dari kamu.”


“Tidak akan ada perceraian di antara kita, Ta.” Damian menjawab, yakin. “Ayo kita pergi, aku buatkan spaghetti shrimp aglio olio yang kalian mau.”


Dewita tersenyum lebar mendengarnya. Dengan “Let’s go, daddy.”


Damian mengangguk seraya meraih telapak tangan sang istri. Namun, baru saja hendak mengambil kunci mobil dan handphone, benda berlayar miliknya itu berdering. Sebuah nama tertera di atas sana, membuat Damian menginterupsi sang istri untuk menunggu sejenak.


“Halo, ada apa?” tanya Damian pelan, menggunakan bahasa inggris.


Untuk sejenak, pria rupawan yang mengenakan kacamata itu tampak membatu di tempatnya berdiri. Dalam kepercayaan yang tengah dipertanyakan, pria itu mencoba menajamkan pendengaran. Kendati hati dan pikirannya mulai berkelana kemana-mana.


“Bisa ulangi sekali lagi.”


“Saya baru mendapatkan informasi terbaru. Ternyata, Dan yang kerap kali berhubungan dengan miss Evelyn adalah seorang anak berusia kurang lebih empat tahun. Nama lengkapnya Palacidio Daniel Adhitama X. Saya sudah mengirimkan detail informasinya lewat surel. Anda sebaiknya lekas membuka surel.”



“Palacidio Daniel Adhitama X.” ulang Damian, sekali pun panggilan telepon sudah terputus sejak beberapa sekon yang lalu. “Apa X yang tertera di belakang nama itu adalah…. Xander??”


🥀🥀


TBC


BUAHANA.... MULAI BERULAH YA BUND, GAK TAU AJA KALAU UDAH BERTINGKAH 😂


KIRA-KIRA DAMIAN BAKAL CERITA GAK YA? BIAR DARREN TAHU GITU. PENISIRIN? CUS, KOMENTAR NEXT DI SINI. YANG BANYAK YA 😁


JANGAN LUPA LIKE, VOTE, KOMENTAR, FOLLOW AUTHOR & SHARE ❤️

__ADS_1


Follow IG Karisma022 juga ya ✌️


Sukabumi 01/04/22


__ADS_2