Berbagi Cinta: Mistress (Wanita Simpanan)

Berbagi Cinta: Mistress (Wanita Simpanan)
M61 : GOOD BYE


__ADS_3

NOTE : NGEDI6NYA SETENGAH SADAR, JADI TANDAI JIKA ADA TYPO KEPENULISAN 🙏


JANGAN LUPA LIKE, VOTE, KOMENTAR, FOLLOW AUTHOR & SHARE ❤️


M61 🥀 : GOOD BYE



Perpisahan bukanlah akhir dari segalanya. Benarkah begitu?


Bagi Ev, terkadang perpisahan memang memiliki dua arti. Pertama, perpisahan dapat dia artikan sebagai akhir dari sebuah perjalanan maupun hubungan yang memang tidak dikehendaki oleh-Nya. Kedua, perpisahan dia artikan sebagai kesempatan. Sebuah kesempatan dari-Nya, agar mereka yang dipisahkan bisa bahagia dengan orang yang baru. Karena, perpisahan bukanlah akhir dari segalanya. Bisa jadi, perpisahan adalah sebuah jalan menuju lembaran yang baru.


“Ev, semua sudah di-packing dengan rapih You. tinggal check ulang?”


“Okay. Sebentar, aku mau ambil list yang aku tulis di sticky note.”


“Kalau gitu aku eat duluan, Ev. Sudah hungry,” ujar pria yang baru saja membuka beberapa paper bag. Dengan tidak sabaran dia mengeluarkan beberapa varian burger dari dalamnya. Mulai dari cheese burger, burger extra large dengan petty jumbo, chicken wings, kentang goreng original, dan kentang goreng berlumuran saus mayonaise. Cup-cup berisi cola dingin juga tidak lupa dia keluarkan.



“Kamu udah pesan makan, kok aku gak tau?” bingung si empunya ruangan yang baru saja kembali.


“Ini dari your future boyfriend.”


“Eh, siapa?” bingung wanita cantik yang hanya mengenakan pakaian rumahan—berupa kaos oversize yang dipadukan dengan bawahan short pants. Tidak lupa sebuah beanie berwarna senada dengan bajunya, membingkai kepala. Menambah kesan cute pada wanita yang siapa sangka sudah memiliki seorang buah hati tersebut.


“Dean, siapa lagi.”


Ev terkejut mendengarnya. “Tadi dia ke sini? Bukannya dia sedang dalam perjalanan bisnis, ya?”


“Dia katanya pulang lebih cepat, supaya bisa mengantar kepergian you, Ev.” Pria itu—Dimi—menjawab seraya menggigit sebuah burger yang telah berpindah ke tangannya. “Besok kita flight pagi, Ev. Jadi dia takut telat, oleh karena itu kepulangannya dipercepat.”


Ev mengangguk, tanda paham akan maksud ucapan sang manager. “Dim.” panggilnya kemudian.


“Hm, why?” gumam si pemilik nama di tengah-tengah kunyahan nya.


“Kamu beneran gak papa aku pergi besok?”


“Hm. Don’t worry, Ev. Pekerjaan you masih bisa aku handle. Mungkin para fans akan kecewa karena kepergian kamu yang tiba-tiba. Lambat-laun mereka pasti bakal mengerti. Lagi pula, keputusan kamu ini sudah benar menurutku.”


“Tapi, bagaimana dengan tawaran-tawaran yang sudah terlanjur masuk?”


“Ditolak dengan cara halus, dong. Gimana lagi, Ev. lagi pula you gak mungkin aku paksa buat terus kerja, ‘kan? You juga butuh healing.”


Mendengar itu, Ev tersenyum lebar dengan sorot mata penuh haru. “Terima kasih, Dim. Selama ini kamu selalu mendukung semua keputusanku.”


“Everythink foy U,” jawab Dimi seraya tersenyum tak kalah lebar. “Eh, iya, Ev. you gak ada planning buat kasih tau keluarga atau kerabat soal keberangkatan besok?”


“Mom sama Dad sudah tahu aku pergi besok. Dewita sama Deesa juga tahu. Dini ….dia, kan, ikut sama aku. Jadi, udah tahu juga.”


“Mertua you, gimana?”


“Hm, mama sama papa udah tau, kok,” jawab Ev jujur.

__ADS_1


“Mereka tau? Terus, reaksi mereka pas tau you mau go out gimana?” tanya Dimi penasaran.


Ev terdiam sejenak, tidak langsung menjawab. “Sedih, maybe. Mereka selalu anggap aku seperti putri sendiri. Jadi, wajar jika mereka terpukul mendengar kabar ini.”


“Ya, ya, ya. Bagaimana pun juga mereka adalah orang tua yang baik. You beruntung memiliki mereka, Ev.”


“Hm.”


Ev menjawab kecil, seraya mengalihkan pandangan ke sembarangan arah. Besok dia akan pergi, dan entah kapan akan kembali.


Jika kalian bertanya bagaimana perasaan Ev? Ev akan menjawab dengan gamblang jika dia baik-baik saja. Keputusan ini sudah dia ambil secara matang-matang. Kepergian ini adalah sebuah healing terbaik. Lagi pula ada little angel-nya yang tengah menunggu di sana. Dia akan pergi, dan akan mencoba belajar menerima kenyataan yang ada jika sekarang nama Xander tak lagi dia sandang. Dia akan belajar jika perpisahan ini adalah sebuah awal yang baru.


Ev telah lepas dari cengkraman sang Xander. Dan itu adalah pilihan Ev. dia ingin melepaskan diri dengan sendirinya, karena sudah tak sanggup bertahan. Biarlah Darren menikmati hidup bersama sang mistress dan calon buah hati mereka. Karena Ev percaya, rasa sakit yang mereka berikan padanya akan Tuhan balas dengan ganjaran yang setimpal.


Ev tinggal menunggu dan melihatnya bersama Dan. Akan ada masanya putra kesayangan Xander berlutut di kakinya hanya untuk meminta izin melihat darah dagingnya sendiri.


🥀🥀


“Anda yakin tidak ingin dibelikan sesuatu selain coffe, tuan?”


“Tidak perlu. Nanti jika lapar, saya akan meminta office boy untuk membelinya.”


Pria berkacamata yang masih berdiri di depan meja kerja sang atasan itu tampak tidak setuju. Dari kemarin atasannya itu belum memakan nasi sesuap pun. Yang diterima lambungnya hanya caffeine dan caffeine lagi. Apa atasannya itu berencana merusak sistem pencernaan lewat asam lambung yang dibuat naik? Pasalnya sejak pulang dari sidang, pria itu hanya menghabiskan waktunya untuk bekerja, kerja, kerja, dan kerja.


Jika ada waktu untuk rehat, pria itu akan meminta dibelikan Americano coffe. Sudah tidak terhitung berapa banyak takaran caffeine yang diminum olehnya.


“Kenapa masih di sini? Bukannya kamu izin untuk pulang?”


“Saya akan meminta office boy untuk membeli menu vegan lengkap dengan karbohidrat setelah ini. Kamu tenang saja.”


Seolah-olah mengerti kecemasan sang sekretaris, pria yang tampak tidak ‘baik-baik’ saja, sekali pun dari luar biasa saja—tiba-tiba berkata demikian.


“Biar saya yang langsung pesankan. Nanti Anda tinggal menikmatinya.” Tidak mau menyia-nyiakan kesempatan, pria yang berprofesi sebagai sekretaris itu langsung memesan makanan vegan yang dilengkapi dengan karbohidrat dan sumber serat yang cukup. Tak lupa dia juga menambahkan kudapan ringan yang disukai sang atasan.


“Sekarang pergilah. Bukannya sejak kemarin kamu tidak kembali?” usir sang atasan.


“Anda yakin, tuan?”


“Ada apa lagi?” tanya pria bermarga Xander tersebut.


“Tapi, tuan, Anda—“


“Pergilah, Dam. Aku dengar tadi istrimu datang ke sini mencari mu. Sedangkan kita sedang sibuk meeting di Tamrin.”


“Istri saya?”


“Ya. Sebaiknya kamu segera pergi. Istrimu sepertinya membutuhkanmu.”


Mau tidak mau, pria yang berkacamata itu mengangguk. Sejak kemarin dia memang tidak sempat pulang karena harus membantu sang atasan mengatasi salah satu proyek yang kena tipu tender. Selain itu, masalah juga muncul dari proyek pembangunan di desa tertinggal. Ada kabar yang menyebut bahwa para warga mulai curiga jika proyek pembangunan tersebut akan mengekploitasi sumber daya alam (SDA) dan sumber daya manusia (SDM) mereka secara habis-habisan.


Jadi sang atasan sedang dibuat sibuk oleh masalah-masalah tersebut, ditambah masalah pribadi. Berhubung kemarin adalah hari paling berat dalam hidup seorang Darren Aryasatya Xander. Pria itu harus tampil seperti biasa—datar, dingin, berkesan untouchable—di depan semua orang, kala dia harus menghadiri pengadilan agama untuk mendengarkan putusan terakhir hakim. Padahal, jauh di lubuk hati yang terdalam, ada hati yang teah pecah, juga hancur. Pun diliputi kekosongan karena kehilangan.


Karena masalah-masalah yang mulai datang bertubi-tubi itulah, hidup keturunan Xander itu semakin terombang-ambing dan tak terarah. Dia bahkan lebih suka tinggal di ruang kerja berhari-hari lamanya, ketimbang harus pulang ke mansion. Untuk urusan sang mistress, dia sudah memerintahkan beberapa maid terpercaya untuk menjadi mata-mata. Selama mistress itu sehat, tidak berulah, dan semua kebutuhannya terjamin, dia yakin keturunannya yang tengah menumpang tumbuh dan berkembang di rahimnya juga akan aman.

__ADS_1


“Tunggu apa lagi?” tanya pria berinisial DAX itu itu, menatap sang sekretaris dengan mata memicing. “Bukannya kamu ingin pulang?”


“Saya akan bergegas pergi, setelah makanan Anda datang.”


“Kamu…” pria yang berprofesi sebagai CEO itu tidak lagi mampu mendebat keputusan mutlak sang sekretaris. “Kenapa kamu sangat setia kepadaku, Dam? Bukankah aku ini termasuk manusia tamak yang tidak patut mendapatkan kesetiaan seperti yang kamu berikan?”


“Karena saya memiliki kewajiban untuk itu. Saya bekerja untuk Anda. Dari pekerjaan itu, Anda memberi saya uang yang tidak sedikit nominalnya. Kesetiaan yang saya berikan sudah termasuk bagian dari pekerjaan yang harus saya lakukan.” Jawaban sang sekretaris itu terdengar mutlak, tanpa keraguan.


“….”


“Anda tidak perlu khawatir, tuan. Saya akan terus mendampingi Anda, sampai Anda sendiri yang meminta saya untuk berhenti.” Tambah Damian mantap.


Semenjak menandatangani kontrak kerja di perusahaan ini, dia sudah mempersiapkan semuanya dengan baik. Damian memang tipikal orang yang teguh akan pendirian. Dia juga setia, ulet dalam bekerja, pekerja keras, disiplin, dan selalu bisa diandalkan.


“Sepertinya makanan yang saya pesan sudah datang,” ujar Damian, setelah keheningan sempat membius seluruh ruangan. Benar saja, pintu yang barusan diketuk dari luar kini mulai terbuka. Memperlihatkan seorang office boy yang membawa sebuah paper bag berukuran lumayan besar.


“Taruh saja di meja, saya akan segera memakannya.” Titah Darren, tanpa mengalihkan tatapan dari layar laptop. “Sekarang kamu bisa pergi, Dam.”


Damian akhirnya mengangguk. Mau tidak mau, sekarang dia harus pamit undur diri. Suatu kebohongan besar jika dia tidak merindukan sang istri yang tengah berbadan dua. Namun, di sisi lain dia juga masih ragu untuk beranjak.


“Saya pergi, tuan. Jangan lupa makan dan minum supplement yang sudah saya siapkan di meja.”


“Hm.”


“Saya akan kembali ke kantor sore nanti.”


“Hm.”


“Anda juga seharusnya pulang, walaupun sebentar.”


“Hm. Akan aku pikirkan,” jawab Darren singkat.


Damian hanya bisa menghela nafas mendengarnya. “Perpisahan bukanlah akhir dari segalanya. Saya harap tuan bisa belajar ikhlas, dan harus mulai mempersiapkan rancangan hidup baru untuk kedepannya.”


Setelah berkata demikian, Damian benar-benar pamit undur diri. Meninggalkan sang atasan yang sama sekali belum beranjak dari kursi kebesarannya.


“Perpisahan memang bukan akhir dari segalanya….” Lirih pria rupawan bermarga Xander tersebut. “Bukan akhir bagi dirinya, namun akhir bagiku. Karena kurasa, setelah ini hidup tidak akan terasa berharga tanpa hadirnya.”


Tak mau terus larut dalam penyesalan terhadap diri sendiri, pria itu memilih mengakhiri pekerjaan. Dia kemudian mematikan laptop, bersiap diri untuk menikmati makanan yang sudah dipesankan oleh sang sekretaris sebagai bentuk menghargai. Namun, baru saja beranjak dari tempat duduknya, kepala pria rupawan tersebut terasa ditimpa beban berat sehingga menimbulkan rasa sakit yang konstan. Ditambah kekacauan pada penglihatan yang tiba-tiba muncul, membuatnya mencengkeram erat tepian meja.


“Ahk,” rintihannya terdengar saat dia memegang kepalanya yang terasa kian berdenyut nyeri.


Baru saja hendak meraih handphone yang tergeletak di samping laptop untuk menghubungi seseorang, gelombang nyeri yang lebih dahsyat kembali datang menghadang. Membuatnya limbung ke lantai yang dingin, karena tubuhnya tidak mampu lagi menopang rasa sakit yang menghantam bagian kepala.


🥀🥀


TBC


KENAPA TUH?!


Sukabumi 08/04/22


23.02 WIB

__ADS_1


__ADS_2