
SELAMAT MENJALANKAN IBADAH PUASA BAGI YANG MENJALANKAN 🙏
JANGAN LUPA LIKE VOTE, KOMENTAR & FOLLOW AUTHOR 🥰
HAPPY READING 🔥
M57 🥀 : KEBOHONGAN MACAM APA, INI?
“Secepat mungkin kami akan segera melakukan konfirmasi mengenai masalah perceraian yang tengah dihadapi oleh Evelyn. Teman-teman media dan masrayakat Indonesia tunggu saja konperensi pers yang akan segera digelar.”
Jemari lentik yang tengah menyapukan kapas kecantikan yang lembab oleh micellar water di area kelopak mata itu terangkat. Kelopak mata yang tadinya tertutup rapat, kini perlahan terbuka. Menilik siaran yang tampil di layar televisi yang menempel di salah satu dinding kamarnya. Selain dapat digunakan untuk membersihkan make up di wajah, miccelar water juga dapat menenangkan kulit ruam dan melembabkan kulit secara alami.
Layar televisi 48 inch itu tengah menampilkan hasil wawancara juru bicara D’EV entertainment bersama dengan manger-nya—Dimitri. Wanita cantik yang telah menyelesaikan aktivitas membersihkan make up itu kemudian beralih untuk mengambil remote. Mematikan siaran di layar tersebut, agar ruangan privadi miliknya tidak lagi diisi suara-suara bising dari benda elektronik tersebut.
Isu perceraian dirinya dengan sang suami…. Ah, atau lebih tepatnya pria yang sebentar lagi akan menyandang status ‘mantan’ suami. Kembali jadi perbincangan hangat, mengingat besok adalah jadwal sidang berikutnya, dengan agenda mediasi. Barusan dia juga telah menerima telepon dari lawyer terkait wacana esok hari. Beberapa akun media social miliknya juga jebol notifikasi, karena banyak pesan yang masuk. Rata-rata terkait rasa penasaran para fans terkait alasan perceraian rumah tangga ‘couple goals’ tersebut. Oleh karena itu, demi kebaikannya sendiri, sang manager—Dimi—mengusulkan untuk menontaktifkan akun media socialnya selama kurun waktu tertentu.
Baru saja hendak beranjak ke tempat tidur, suara ketukan dari balik pintu membuat wanita cantik yang malam ini mengenakan inner dress model deep flower itu berhenti sejenak.
“Siapa?” tanyanya.
“Bibi, non,” jawab suara di balik pintu.
“Ada apa, bi?”
“Maaf menganggu, non. Di bawah ada tamu.”
“Tamu?” bingung wanita bertubuh semampai itu kala membukakan pintu. “Siapa, bi?”
Malam-malam seperti ini, tidak mungkin orang tuanya menerima tamu. Terlebih lagi, saat ini daddy-nya sedang tidak ada di rumah. Semakin mustahil sang mommy memiliki tamu yang datang di malam hari.
“Itu, non….”
“Kenapa, bi?” Dia dapat melihat keraguan dari pelayan paruh baya yang sudah bekerja selama setengah windu di rumahnya itu.
“Itu, sebenarnya yang datang itu tuan muda….”
“Tuan muda?” ulang Ev, semakin bingung.
“Tuan muda ….Xander. Suaminya non Ev,” imbuh pelayan tersebut.
Ev menautkan kening bingung. Untuk apa pria itu datang ke rumahnya? Sudah bosan hidup kah? Lantas, kemana puluhan bodyguard yang telah daddy-nya pekerjakan?
Sebelum turun ke bawah untuk ‘mengusir’ pria itu, Ev meraih kimono yang menjadi outher dari inner dress yang digunakannya. Bisa gawat jika sang mommy mengetahui kedatangan menantunya itu. Bisa-bisa wanita itu langsung menghubungi sang suami agar mengirimkan anggota keamanan tambahan.
Dengan langkah tergesa-gesa, Ev menuruni undakan tangga. Tamu yang dimaksud oleh pelayan tadi tampak berdiri tepat di depan pintu masuk. Ada dua bodyguard berseragam serba hitam menghadang jalan masuknya.
“Untuk apa kamu datang ke sini?” tanya Ev to the point seraya bersidakep dada.
“We need to talk, Ev.”
“About what?” Ev balik bertanya. “Tentang perceraian kita? Jika ya, maka tidak ada yang perlu kita bicarakan.”
“Ini bukan soal perceraian.”
Pria yang malam ini mengenakan kemeja hitam dengan corak khas dari Louis Vuitton jelas menahan amarah. Tapi, untuk alasan apa, Ev juga tidak tahu.
“And then?”
“Something about betrayal.” Pria berinisial DAX itu menjawab dengan nada serius.
“Jadi ini tentang penghianatan?” ulang Ev, menerjemahkan. “Tentang penghianatan kamu maksudnya?”
“Bukan, tapi sebaliknya.”
Ev menautkan kening mendengarnya. “Maksud kamu, aku berhianat?” kaki jenjang yang dialasi sandal bulu berwarna putih itu kian mendekat.
__ADS_1
Masih dengan dua bodyguard yang menghalau jalan lawan bicaranya, Ev menginterupsikan dua bodyguard itu untuk menjauh beberapa langkah. Membiarkan dia dan lawan bicaranya memiliki privasi untuk berbicara.
“Ya, kamu berhianat.” Keturunan Xander itu berujar dengan mantap seraya mengikis jarak di antara mereka.
“Berhianat yang kamu maksud ini bagaimana, Darren? Bukannya kamu tahu sendiri jika selama 5 tahun kita menikah, aku tidak pernah dekat dengan pria mana pun. Jadi, apa yang kamu maksud dengan aku berhianat?”
“Kamu telah membohongiku. Menipuku besar-besaran.”
Ev semakin menatap lawan bicaranya bingung.
“Kenapa kamu melakukan semua ini, Ev. Kenapa?” pria berujar dengan emosional seraya mencengkeram kedua bahu Ev.
“Sakit, Darren. Lepaskan.” Pinta Ev. Muncul rasa sakit dari area yang dicengkram pria tersebut
“Lebih sakit mana dengan aku yang kamu bohongi selama ini!”
“Aku membohongi kamu, kapan?” tanya Ev balik, mulai terpancing. “Apa pernah aku membohongi kamu selama ini? tidak. Yang ada, kamu yang kerap kali membohongi aku!”
“Bad liar. Kamu di sini pembohong yang sesungguhnya,” tekan Darren.
“Aku tidak tahu maksud kamu, Darren.”
Pria rupawan itu menghela nafas gusar. Sedetik kemudian, tawa kecut keluar dari mulutnya. Ev yang melihat ekpresi lawan bicaranya tampak seperti bunglon—berubah-ubah dengan cepat—semakin dibuat bingung.
“Apa kamu mabuk?” tanya Ev seraya menatap sinis. “Kamu minum? Bilang sama aku, kamu minum apa sebelum datang ke sini, wine? Whiskey? Vodka? Liquor? Atau tequilla?”
Bukannya menjawab, pria itu menggeleng tegas seraya tersenyum sinis. “Aku begini karena kamu.”
“Me?” bingung Ev.
“Ya, kamu.” Darren semakin mengencangkan cengkeraman seraya menatap Ev dalam-dalam. “You dive me crazy, ev.”
Ev hanya bisa mematung, karena sekarang tubuhnya di rengkuh begitu saja. Didekap dengan begitu erat oleh tubuh tegap yang sudah cukup lama tidak ditangkap sensor indra perasa dalam tubuhnya. Aroma dominan citrus dengan perpaduan aroma lain yang memunculkan wewangian yang kuat dan khas, kini menyeruak masuk ke dalam indra penciuman.
“Kebohongan apa yang aku lakukan, sehingga membuat kamu begini?” Ev bertanya seraya menyentuh surai gelap milik pria yang memeluknya. Tangan dan isi kepalanya sungguh tidak singkron. “Katakan kepadaku, apa alasan yang membuatmu begini?”
Hening cukup lama.
Pria itu tak lanta menjawab, sekali pun dia melepakan rengkuhan setelah beberapa menit berlalu. Ditatapnya wajah cantik yang tidak pernah berubah dari dulu hingga sekarang. Masih tetap cantik, sekali pun tanpa ada hiasan make up dan penunjang lainnya. Dia tetap cantik secara alami. Bak seorang batari yang kecantikannya tak manusiawi.
“Ada apa?” Ev inisiatif bertanya. Sukar menebak mimik muka Darren saat ini.
“Palacidio Daniel Adhitama X.”
Ev terhenyak. Dalam kesadaran yang terpaksa ditimpa sebuah kenyataan yang begitu tiba-tiba. Ev tidak menyangka jika akan secepat ini nama little angel-nya keluar dari mulut pria itu. Padahal Ev sudah mati-matian menjaga dan meminimalisir segala akses yang dapat membocorkan keberadaan litte angel-nya. Sekarang, kenapa bisa nama itu keluar dari mulut yang tidak seharusnya tahu?
“Kebohongan terbesar yang kamu miliki bernama Palacidio Daniel Adhitama X.”
Seulas seringai terbit di ujung-ujung labium pria tersebut. “Coba jelaskan kepadaku, siapa itu Palacidio Daniel Adhitama X. Takutnya informasi yang aku dapatkan kurang valid.”
“Dia…” suara Ev tampak bergetar. “My little angel,” lanjut Ev dengan suara dibuat setegas mungkin.
“Kamu menyembunyikan keberadaanya dariku selama ini?”
“Apa pentingnya kamu tahu soal Dan.”
“Apa pentingnya?” Darren mengulang dengan nada geram. “Dia darah dagingku, Ev. Kamu pikir aku tidak tahu!” Suara pria itu kian meninggi. “Palacidio Daniel Adhitama X. X di belakang namanya, sudah cukup menjelaskan semua.”
“X itu hanya nama tambahan, tidak lebih.” Ev membantah. Membuat pria itu kian menyeringai tipis bak iblis.
“X dibelakang namanya adalah inisial untuk Xander. Marga ayah biologisnya.”
Ev mengelengkan kepala dengan tegas. “Bukan. Itu bukan nama belakang Dan. Dia menyandang marga Atmarendra di belakang namanya.”
“Terus berkilah, Ev. Kamu pikir aku tidak tahu dia darah daging siapa?”
__ADS_1
Ev semakin dibuat gemetar. Namun, sebisa mungkin menutupi. “Dari mana kamu tahu soal Dan.”
“Itu tidak penting,” ujar Darren seraya menatap Ev lekat. “Pertanyaan yang harus kamu jawab di sini adalah, kenapa kamu berbohong. Kenapa kamu menyembunyikan keberadaanya? Aku bahkan sempat mengira dia pria baj*ngan yang berani mengajakmu berkencan.”
Ev memilih bungkam. Masih shok dengan kenyataan yang ada.
“Apa ini caramu membalas semua perbuatanku, Ev? Kamu memanipulasi kejadian yang terjadi saat kita honeymoon. Kamu menyembunyikan keturunanku, menjauhkan dia dariku, membuatnya tidak mengenal aku, apa semua itu adalah ajang balas dendam?!”
“Berpikirlah sesuka hatimu, Darren!” balas Ev murka.
“Jika kau tidak suka aku berpikiran demikian, MAKA JELASKANLAH EV!”
“Apa lagi yang harus aku jelaskan? Bukannya kamu sudah mengetahui semuanya?” tantang Ev.
“Ya. Aku tahu bahwa dia adalah anakku. DARAH DAGING SEORANG XANDER.”
Ev hanya bisa memejamkan mata mendengar pria yang tidak tahu apa-apa itu mengklaim little angel-nya. Seenaknya dia berkata demikian. Kemana saja dia selama lima tahun belakangan? Dia bahkan tidak ada di masa-masa tersulit yang Ev dan little angel-nya alami. Yang ada, pria itu menikmati posisi barunya di balik titel CEO dengan kehidupan yang kian bebas.
“Dia milikku, Ev. Sekalipun kita berpisah, akan aku pastikan dia tetap menjadi milikku,” lirih suara baritone itu, tetapi terdengar menakutkan di telinga Ev.
“Dia milikku, bukan milikmu, Darren.”
“Dan will be mine and mine only (Dan itu milikku, dan akan jadi milikku seorang),” jawab Darren lantang.
“Never mind (lupakan). Lupakan mimpi mu itu, Darren. Karena aku tidak akan pernah membiarkan kamu menyentuh, apalagi memiliki Dan. Dia adalah putraku. Milikku. Aku yang memiliki hak sepenuhnya atas Dan.”
“AKU AKAN MEREBUT DAN BAGAIMAN PUN CARANYA, EV. BAGAIMANA PUN CARANYA. CAMKAN ITU BAIK-BAIK!”
Suara baritone dengan nada yang amat tinggi itu menggema di kedua telinga Ev. Membuat wanita cantik itu terpaku untuk sepersekian detik. Kelopak matanya kemudian mengerjap, memastikan kembali pandangan setelah berkumpulnya kesadaran.
“Non Ev sudah bangun?”
Sebuah suara mengambil alih perhatian, membuat wanita itu mengalihkan pandangan ke samping. “Bi, saya…. Kenapa?”
Wanita paruh baya itu dengan cepat membantu Ev yang hendak beranjak—dari posisi berbaring menjadi posisi duduk bersandar pada headboard. “Non Ev tidak ingat? Tadi non pingsan.”
“Pingsan?” linglung Ev.
“Iya. Kata dokter yang memeriksa, nona kekurangan istirahat dan kekurangan darah.”
“Saya, pingsan?” ulang Ev.
Wanita paruh baya itu mengangguk, meng-iyakan. “Nona pingsan sejak jam sembilan. Nyonya dan saya bergantian menjaga nona. Nyonya baru saja kembali ke kamarnya untuk mengambil handphone. Tuan Daren juga baru saja pulang.”
Wanita cantik dengan wajah pucat itu tampak tidak percaya. “Jadi, barusan cuma mimpi?” gumamnya, masih mencoba meyakinkan diri dari kenyataan yang ada.
Pasalnya, bunga mimpi yang baru dia alami begitu mengerikan hingga membuat tubuhnya tantrum. Sugguh, Ev takut hal itu jadi kenyataan.
Dia takut keberadaan Dan diketahui. Ev lebih takut lagi jika Dan diambil oleh ayah bilogisnya sendiri.
“Tunggu dulu, tadi Darren ke sini?” tanya Ev tiba-tiba.
Wanita yang berprofesi sebagai pelayan itu menganggukkan kepala. “Iya. Tuan Darren juga yang membantu memindahkan nona ke tempat tidur, menelpon dokter dan kemudian ikut menjaga nona,” tutur si bibi. “Barusan tuan pulang karena ada telepon dari kantor. Kemungkinan penting. Padahal tuan Darren enggan pulang, sekalipun nyonya sudah mengusirnya.”
Ev terpekur mendengarnya. “Jadi, Darren benar-benar datang ke sini. Tapi, untuk apa dia datang malam-malam begini?”
🥀🥀
TBC
SIAPA YANG TERKECOH? CUNG 👋
MASIH MAU LANJUT?? YOK KOMENTAR NEXT DI SINI☝️
Sukabumi 03/04/22
__ADS_1