Berbagi Cinta: Mistress (Wanita Simpanan)

Berbagi Cinta: Mistress (Wanita Simpanan)
M75 : SESAL SEJADI-JADINYA


__ADS_3

M75 🥀 : SESAL SEJADI-JADINYA


Satu porsi American breakfast tersaji di hadapan seorang pria yang sudah tampil rapih menggunakan pakaian formal. Hidangan breakfast yang terdiri dari bahan simple, namun kaya gizi seperti telur, kacang merah, sosis sapi, dan roti tawar itu menjadi pilihannya pagi ini. Satu porsi American breakfast itu berisi roti tawar yang dikreasikan menjadi menu French toast dengan cara merendam roti dengan campuran berisi telur yang dikocok, butter cair, susu putih cir, gula dan vanili cair. Roti kemudian dipanggang bersama sosis sapi hingga berwarna kecoklatan. Ditambah dengan telur mata sapi yang ditambahkan seasoning seperti garam dan lada hitam agar menambah rasa lezat, dan kacang merah yang direbus hingga empuk, kemudian ditumis dengan dressing tomat alias saus tomat.


Sedangkan untuk pendampingnya, dia memilih satu botol air putih alih-alih segelas caffeine. Sebagaimana kebiasaannya, menikmati caffeine di setiap kesempatan. Kali ini dia lebih memilih air putih, karena kemarin sudah terlalu banyak dia mengonsumsi caffeine hingga malamnya sukar tidur.


“Mas Darren….”


Pria yang tadinya fokus breakfast seraya menatap MacBook itu mengangkat pandangan. Menatap ke arah sumber suara. “Kamu sudah bangun?” tanyanya, tidak berniat beranjak sedikit pun dari posisinya.


Pagi ini dia tetap menetap di rumah sakit seraya menunggu wanita itu bangun. Sembari menunggu, dia juga mencoba menghubungi beberapa rekan kerjanya yang tersebar di berbagai Negara untuk meminta bantuan dan sokongan dana. Apalagi hari ini dia akan resmi ‘dibuang’ dari perusahaan milik keluarganya sendiri.


“Bagimana kondisimu saat ini? ada yang terasa sakit?” tanyanya datar, pandangannya kini kembali beralih pada layar MacBook.


“Ella ….enggak tahu gimana perasaan Ella saat ini,” lirih wanita berwajah pucat tersebut. “Anak kita ….udah enggak ada mas,” lanjutnya dengan suara bergetar. Sepersekian detik berikutnya isak tangis kembali terdengar.


Mudah tersinggung, mengalami perubahan suasana hati dengan dratis, putus asa dan menangis terus-menerus. Gejala-gejala tersebut merupakan beberapa contoh dari gejala Depresi postpartum.


“Jangan menangis.”


Wanita muda yang terisak itu mengangkat pandangan, menatap sang suami dengan pandangan buram. “Sakit mas. Sakit kehilangan dia yang sangat kita tunggu-tunggu kedatangannya. Rasanya, Ella ingin menyusul anak kita saja.”


Muncul pemikiran tentang kematian. Lagi-lagi Darren bisa melihat gejala Depresi postpartum. Pria bermarga Xander itu juga bisa melihat rasa sakit, dan kehilangan yang sangat kentara.


“Lupaka, kemudian ikhlaskan. Tuhan belum memberikan kepercayaan kepada kita untuk menjaga bayi itu,” katanya bijak.


“Susah mas. Kasih tahu Ella gimana caranya melupakan dia?” tanya wanita muda itu di sela-sela tangisnya. “Ella masih merasa dia ada di perut Ella.”


Helaan napas panjang terdengar dari arah pria yang baru saja menutup MacBook miliknya itu. “Aku akan melepaskanmu dari ikatan yang memang sudah salah dari awal. Supaya kamu bisa dengan mudah melupakan apa yang sudah terjadi.”


“Maksud mas Darren apa?” tanya wanita muda itu, lirih. Ditatapnya sang suami lekat.


“Nanti kamu juga tahu,” kata Darren seraya beranjak dari posisinya. Berjalan mendekat ke arah bed rumah sakit. “Sekarang tugas kamu adalah pulih dengan cepat. Mengerti?”


Ella mengangguk tanpa suara.


“Good girls.” Darren tersenyum kecil seraya menyentuh surai wanita tersebut. ‘Pulihlah dengan cepat supaya kita bisa mengakhiri ikatan terlarang ini,’ tambahnya di dalam hati.


“Sekarang kamu lebih baik habiskan makananmu dan minum obat. Aku harus pergi keluar.”


“Mas mau pergi lagi?” Ella menatap sang suami dengan sorot mata sedih. Wanita muda itu tidak mau ditinggalkan seorang diri lagi.


“Hm. Nanti aka nada Dyana yang menemani kamu di sini selama aku pergi ke kantor—“


“Enggak!” jawab Ella cepat seraya menggelengkan kepala. “Ella gak mau ditemani mereka. Pelayan-pelayan di rumah mas jahat! Mereka bersekongkol untuk bunuh bayi kita hiks…. Ella gak mau ditemani mereka hiks ….hiks.”


“Pelakunya itu sudah ditahan. Tidak semua maid di mansion jahat. Mereka—“


“Mereka berpihak ke mbak Ev. Mereka benci Ella. Mereka ingin menyingkirkan Ella. Selama ini mereka selalu menjelek-jelekkan Ella. Memangnya Ella salah apa? Kenapa mereka jahat sama Ella?” cecar Ella.


Darren menghela napas gusar mendengarnya. “Mereka tidak membenci kamu. Jangan asal bicara,” karena aku yang telah membuat kamu menempati posisi yang membuat kamu dibenci—lanjut Darren dalam hati. “Mereka baik. Bukan sehari-dua hari mereka bekerja untukku dan Ev—“


“Pokoknya Ella gak mau ditemani sama pelayan!” seru wanita itu seraya terisak lagi.


“Ok. Kalau begitu kamu mau ditemani siapa?” tanya Darren, berbaik hati. Sekali pun jauh di lubuk hati yang paling dalam dia sudah muak.


“Ella sendiri saja,” jawab wanita itu murung.


“Baik,” jawab Darren santai.


Wanita itu mendongkrak dengan cepat. ‘Ih, mas gak peka!’ batinnya kecil. Padahal dia ingin ditemani sang suami. “Ella itu mau ditemani sama—“


Kalimat wanita itu terpotong begitu saja saat pintu berderit dan terbuka dari luar. “Maaf, menganggu waktu Anda dan nona. Kendaraan Anda sudah siap di area parkiran,” kata bodyguard yang wajahnya belakangan familiar di mata Darren.


“Hm, baik. Aku akan segera turun,” sahut Darren. “Aku pergi,” katanya kepada sang mistress, tanpa meiriknya.


Pria rupawan yang hari ini mengenakan kemeja berwarna hitam yang digulung hingga siku itu kemudian berlalu begitu saja. Sebelum pergi Darren meminta bodyguard tadi untuk menemani Ella. Sebagai bawahan, Elgara hanya bisa menuruti perintah tersebut. Padahal jam jaganya sudah selesai. Seharusnya yang berjaga saat ini adalah rekannya.

__ADS_1


“Makan nona. Lima belas menit lagi dokter akan datang memeriksa Anda,” interupsinya. Melirik nampan berisi bubur dan satu piring kecil berisi potongan buah segar. Di samping gelas berisi air putih juga ada beberapa butir obat.


“Ella gak mau makan,” jawab sang lawan bicara.


“Anda harus makan jika ingin cepat pulih.”


“Ella gak mau!” sahut wanita muda itu marah.


“Baik. Jika itu yang Anda inginkan, maka lakukan.” Elgara berkata dengan datar, kemudian kembali ke sofa. Di sendiri tadi membawa sarapan yang dia beli dengan cara menitip ke salah satu rekannya. Niat hati hendak bertukar shif setelah memberitahu sang atasan, kemudian pulang untuk menikmati sarapan yang damai di kos-kosan sempit miliknya. Sekarang dia malah kembali terjebak di sini.


Dengan tampang datar pria itu beranjak ke arah sofa. Membereskan sisa sarapan sang atasan di atas meja, kemudian mengumpulkannya dalam satu tempat agar mudah dibawa ke luar. Setelah membereskan meja, Elgara kemudian membuka kantong kresek hitam yang berisi nasi bungkus hangat dengan lauk berupa satu potong ayam goreng, tahu dan tempe goreng, sayur kacang panggang, kemudian sambal embe khas bali.


Pria berkulit kecoklatan itu tampak bergumam sebentar, melapalkan do'a sebelum menyantap sarapannya menggunakan tangan. Dia tampak begitu menikmati menu makanan yang tidak seberapa ini, sampai-sampai membuat Ella yang masih duduk di atas bed rumah sakit menitihkan air mata. Dia jadi ingat bi Mimin yang selalu memasak menu sederhana, namun rasanya juara. Ella rindu wanita tua itu. Rindu rasa masakannya. Rindu pelukan hangatnya.


“Kenapa Anda menangis?” tanya Elgara, menyadari jika wanita yang dijaganya kembali menangis.


“Ella hanya rindu seseorang.” Jawaban sang lawan bicara terdengar ambigu. Membuat Elgara menautkan kening.


“Ella ….ingin pulang. Di sini Ella tidak punya siapa-siapa. Ella sudah kehilangan bayi Ella. Ella ….tidak punya kekuatan lagi.” Kalimat wanita muda itu terdengar sangat pedih lewat suaranya yang parau.


Elgara tahu dia kesepian. Dia seorang diri, sebatang kara. Elgara iba. Namun, dia juga tahu sedikit-banyaknya kesalahan yang diperbuat oleh wanita itu hingga berakhir di tempat ini. Dia mistress seorang Xander. Pemuas napsu seorang Darren Aryasatya Xander yang sudah memiliki istri cantik jelita dengan segala kesempurnaanya. Rekan-rekannya selalu membiacarkan wanita itu demikian. Wanita polos dari desa yang punya bakat menjadi wanita penggoda hanya karena tampang polosnya.


Dunia terlalu kejam bagi wanita muda seperti dia. Namun, salah langkah sedikit saja, titel polos yang melekat pada wanita muda itu akan hilang karena godaan dunia yang kejam ini. Harta, tahta, dan cinta. Ketiganya bisa membuat si polos lupa. Elgara tahu perumpamaan itu dengan baik karena dulu sang kembaran juga dibuat lupa dan buka oleh perihal yang sama.


Harta, tahta, dan cinta. Bermodal iming-iming tiga hal tersebut, kembarannya juga rela jadi simpanan seorang Crazy Rich dari kalangan old money yang sudah memiliki istri dan 2 orang putri. Elgifani—kembarannya—juga jadi tamak karena tiga godaan dunia tersebut. Sampai-sampai hilang titel polosnya sebagai gadis yang besar di desa.


🥀🥀


“Kita mau kemana Mère?” anak lelaki berwajah rupawa yang tampil dengan setelah formal jahitan neneknya sendiri itu bertanya kepada sang ibu yang sedang sibuk menulis sesuatu di note ipad miliknya.


“Kenapa Om tidak jemput kita? Dan mau main sama Om,” rengek anak lelaki itu. Mencoba menarik perhatian sang ibu.


“Om Dean sedang ada pekerjaan sayang. Jadi hari ini Dan belum bisa main sama Om.”


“Kenapa begitu? Kemarin om janji mau main sama Dan di taman bermain.”


Anak lelaki itu mengangguk, tanda jika dia paham. “Sekarang kita mau kemana Mère? Kenapa Dan harus pakai pakaian resmi?”



Ev tersenyum mendengar kalimat yang terlontar dari bibir mungil sang putra. Begitu pula dengan Dimi yang hari ini menjadi driver pribadi mereka.


“Hari ini Dan temani Mère bekerja. Mau, ‘kan?”


“Mau. Dan mau menemani Mère bekerja,” jawab si kecil cepat. “Tapi, habis pulang dari menemani Mère bekerja, Dan mau main sama om.”


“Kok gitu? Kalau om masih kerja gimana?”


Si kecil mengedipkan bahunya dengan wajah polos. “Dan enggak mau tau, Dan mau main sama Om Dean nanti,” katanya final.


Membungkam sang ibu yang hendak menjawab. Membuat Dimi tertawa renyah dibalik kursi kemudi.


“Your son sudah lengket begitu sama Dean, Ev. Benar-benar magic itu pesona jomblo pisabilillah.”


“Dia bukan jomblo lagi, Dim,” bela Ev tanpa sadar. Membuat Dimi menatap Ev lewat kaca sepion dengan kening mengernyit.


“Maksudku ….bukan begitu,” ralat Ev, gelagapan.


Dimi malah kian dibuat tertawa ngakak melihatnya. “See, you tidak pandai berbohong.”


Ev memilih tidak menjawab. Pertanyaan itu menjebak. Membuat Ev gelagapan sendiri. Sedangkan si kecil Dan juga tampak ikut menanti jawaban sang ibu, terlihat dari ekspresi menggemaskannya saat menatap sang ibu lamat-lamat. Padahal Ev yakin putranya itu tidak mengerti apa yang ibu dan manager ibunya bicarakan.


“Jangan lihat Mère begitu Schatz (sayang),” ujar Ev seraya membawa sang putra ke dalam pelukan. Sekarang mungkin wajahnya sudah merah padam. Apalagi saat pandagannya beradu dengan sebuah benda berkilauan yang menghiasi jari manis tangan kirinya.


Dari balik kemudi, Dimi ikut menarik sudut bibirnya. Saat ini mereka tengah dalam perjalanan menuju D’EV. Ev akan menghadiri acar penyambutan di hari pertama nya sebagai CEO D’EV. Para petinggi di sana sudah mempersiapkan penyambutan dengan meriah. Sedangkan sang owner sendiri pagi ini harus berada di tempat berbeda untuk menyambut hari pertamanya sebagai CEO.


Rencananya hari ini Ev juga akan menggelar konperensi pers untuk memperkenalkan putra sematawayangnya. Wacana itu sudah Ev diskusikan bersama orang-orang terdekatnya, mulai dari orang tua, mertua, sang kekasih, manager, hingga para bestie-nya. Mereka seluruhnya mendukung keputusan Ev. Bahkan Dazen Xander juga sudah memperkenalkan cucunya lebih dulu dari Ev.

__ADS_1


Setibanya di gedung artistik dengan arsitektur unik itu, bentangan karpet merah menyambut Ev. Hari ini Ev tampil cantik dan elegan menggunakan sleeveless A-line mini dress yang dibuat dari bahan wol dan sutra dari brand Louise Vuitton. Dipadu padankan dengan outher berwarna hitam. Sedangkan untuk alas kaki, Ev memilih Slingback shoes berwarna senada dengan bajunya. Kehadiran Ev sudah disambut oleh seisi pekerja D’EV. Ada juga beberapa anggota trainee, model junior, dan beberapa rekan kerja Ev.


“Ayo Schatz (sayang),” ajak Ev.


Dia kemudian turun dari mobil sembari menggandeng sang putra. Kehadiran mereka tentu mengundang tanda tanya. Ev menanggapi semua itu dengan santai. Di damping oleh Dimi, dia terus berjalan hingga berdiri di hadapan mereka. Ternyata ada Dessy Wijawa juga di antara mereka. Wanita paruh baya itu tampak tersenyum lebar menyambut kedatangan Ev bersama Dan.


“Selamat datang, sayang,” sambut Dessy seraya menyodorkan buket bunga yang telah dia siapkan untuk Ev. Tidak lupa dia juga mengajak Ev cipika-cipiki, memperlihatkan betapa dekatnya hubungan dua wanita beda generasi tersebut.


“Terima kasih, tante.”


Deesy Wijaya mengangguk. Tatapannya kemudian beralih pada Dan yang berdiri di samping manager Ev. “Dan, sini sayang. Grandma mau peluk ”


Anak lelaki berwajah rupawan dengan perpaduan yang menggemaskan itu mengangguk. Dengan segera dia mendekat, meraih punggung tangan wanita paruh baya yang sudah dikenalnya itu untuk disalami.


“Ya ampun, cucu grandma pintar sekali. Gemas grandma lihatnya,” puji Deesy seraya membawa Dan dalam gendongan.


Semua orang di sana dibuat terkesima melihat interaksi tersebut. Mereka jadi semakin dibuat bertanya-tanya soal siapa anak kecil tersebut. Namun, tidak sedikit dari mereka yang dibuat jatuh cinta pada pandangan partama. Anak kecil dengan gaya rambut middle part atau model rambut belah tengah itu memang berhasil membuat sebagian besar kaum Hawa di sana terpesona. Tatapan polos dan raut menggemaskan, membuat mereka ingin sekali membungkusnya untuk dibawa pulang.


“Terima kasih atas sambutan yang kalian semua berikan untuk saya. Saya akan melakukan yang terbaik selagi menjabat sebagai CEO D’EV. Kedepannya saya berharap kita dapat bekerja sama dengan baik.”


Ev tersenyum hangat setelah mengucapkan kalimat sambutan tersebut. Hampir semua mata kini tertuju padanya. Namun, Ev sama sekali tidak gugup. Pembawaannya sangat tenang saat berbicara di depan banyak orang.


“Selagi semua berkumpul di sini, saya juga ingin memberitahukan informasi yang sangat penting. Mungkin kalian masuk golongan orang-orang pertama yang mengetahui informasi ini, sebelum orang-orang di luar sana tentunya.” Ev menghela napasnya pelan. Dia kemudian melirik sang putra yang berdiri tepat di sampingnya. Dieratkan pula tautan tangan di antara mereka, sehingga Ev dapat mengenggam keseluruhan tangan mungil sang putra.


“Perkenalkan, dia Palacidio Daniel Adhitama Xander. Putra sematawayang saya.”


Dalam satu tarikan napas, kalimat yang mengandung fakta kompleks itu berhasil Ev lontarkan. Membuat mereka yang ada di sana terkejut bukan main setelahnya. Berbagai spekulasi kian bermunculan di kepala mereka. Dengan cepat Ev melanjutkan kalimatnya.


“Untuk informasi yang lebih lengkapnya, kalian bisa menonton siaran langsung di akun Instagram official milik saya. Satu jam lagi saya akan melakukan siaran langsung. Anggap saja siaran langsung itu konperensi pers resmi yang bertujuan untuk menjawab semua pertanyaan yang berkecamuk di kepala kalian, para fans juga masyarakat di luar sana.”


Ucapan itu adalah janji Ev untuk membuat klarifikasi. Ketika 60 menit berikutnya berlalu dengan cepat, Ev dibantu oleh Tim yang terdiri dari manager, asisten dan beberapa anggota yang berperan sebagai operator dan konten kreator mewujudkan rencana tersebut. Ev melakukan siaran langsung untuk memberikan klarifikasi. Dan juga ada di sampingnya, hanya saja anak ganteng itu memilih menyembunyikan wajahnya dalam pelukan sang ibu karena merasa malu.


Siaran langsung itu langsung diburu oleh banyak orang. Mulai dari ratusan, ribuan, hingga tembus jutaan penonton menyaksikan siaran langsung tersebut. Berbagai laman media online juga ikut merespon, mereka berlomba-lomba mengunggah berita mengejutkan yang datang dari super model tersebut. Dalam sekejap tagar #pewarisxander dan #palacidiodanieladhitamaxander menjadi tranding topik di berbagai sosial media Indonesia. Menggeser tagar #mistressxander yang belakangan jadi tranding.


“A-pa-apaan ini?!”


“Ada apa nona?” pria yang sedari tadi duduk di sofa itu dengan cepat beranjak. Mendekat ke arah bed rumah sakit. Memastikan kondisi istri tuannya yang tiba-tiba memekik di tengah keheningan.


“Anda baik-baik saja?”


“A-pa yang sedang ditayangkan di layar televisi itu?” telunjuk wanita muda dalam balutan pakaian rumah sakit itu, mengarah pada layar televisi yang menempel di dinding.


Elgara mengikuti arahan tersebut. Pemilik iris coklat itu tampak menyipitkan mata guna menfokuskan penglihatan.


“MENGEJUTKAN! TERNYATA DARREN ARYASATYA XANDER DAN EVELYN ANGELISTA MEMILIKI SEORANG PUTRA BERUSIA 5 TAHUN.”


Judul sebuah berita jeda yang tengah membahas informasi perihal seorang public figure itu sekarang terbaca dengan jelas oleh matanya.


Jadi ini yang membuat istri kedua tuannya tiba-tiba memekik kaget? Karena berita yang juga tengah mengguncang satu Indonesia.


“B-agaimana bisa mbak Ev dan masa Darren memiliki putra?” monolog wanita itu dengan suara bergetar.


“Nona—“


“BAGAIMANA BISA WANITA ITU MELAHIRKAN PUTRA SUAMI ELLA? INI PASTI TIPU MUSLIHAT?!”


🥀🥀


TBC


ISTIGHFAR DULU GAESS. GIMANA? TERKEDJOTT GAK TUH??


SEKEDAR INFORMASI JUGA GAES, MISTRESS TINGGAL BEBERAPA PART LAGI MENUJU ENDING. ADA YANG MAU KASIH MASUKKAN? KALAU SOAL ENDING, AKU SUDAH PUNYA KETETAPAN YA ☺️


OYAA, JANGAN LUPA JAGA KESEHATAN. BUAT YANG MUDIK JUGA, HATI-HATI DI JALAN.


LIKE, VOTE, KOMENTAR, FOLLOW AUTHOR & SHARE JUGA 💙💙

__ADS_1


Sukabumi 29/04/22


__ADS_2