
NOTE : HAPPY READING 🔥
JANGAN LUPA LIKE, VOTE, KOMENTAR, FOLLOW AUTHOR & SHARE ❤️
SEMANGAT BUAT YANG MASIH MENJALANKAN IBADAH PUASA ☺️
M73 🥀 : JALAN YANG MULAI TERURAI
“Ini kok perut Ella udah enggak buncit lagi, kenapa, ya?” monolog wanita muda dalam balutan piama rumah sakit berwarna merah jambu tersebut. Tatapannya tampak kosong, sekali pun tengah tertuju pada bagian perut.
“Kemarin kamu masih ada di perut bunda. Sekarang, kamu kemana, sayang?” monolognya lagi.
Seorang pria berpakaian serba hitam yang tengah duduk—hendak menikmati menu makan malamnya yang hanya berupa nasi kotak dari salah satu restoran terdekat, urung menyantap hidangan lezat berupa nasi putih hangat, dua potong empal sapi extra bawang goreng, sambal merah, dan tumis sayuran. Dia diminta berjaga menggantikan dua temannya yang izin makan di kantin sembari bergantian melaksanakan ibadah selaku umat beragama.
Sedari tadi dia malah terpaku memandangi wanita muda yang tampak meracau seorang diri, dengan keadaan tangan dan kaki terikat karena kerap kali memberontak. Wanita muda itu baru saja sadar setelah beberapa jam yang lalu dibius karena memberontak dengan brutal.
“Kamu mengingatkan saya pada adik saya,” lirih pri berperawakan tinggi dengan kulit berwarna kecoklatan tersebut. “Kalian memiliki nasib yang hampir serupa.”
Beberapa tahun yang lalu, dia sempat berada dalam situasi dan kondisi seperti ini. Bedanya, dulu yang terbaring di bed rumah sakit itu adalah adiknya—lebih tepatnya adalah kembarannya. Kembarannya juga meracau, dan memberontak secara brutal saat sadar bayi dalam perutnya sudah tidak ada. Bedanya, dulu kembarannya mengalami keguguran karena disengaja oleh ayah biologis si bayi. Beda dengan kondisi wanita muda yang saat ini dia jaga.
“Saya cuma bisa berharap, semoga kamu bisa kuat untuk bertahan dan tidak memilih untuk mengakhiri hidup karena tidak kuat bertahan.”
Tragedi mengenarkan itu dulu terjadi pada kembarannya yang depresi dan mengalami baby blues syndrome. Kembarannya kemudian memilih mengakhiri hidup dengan cara menyayat nadinya sendiri, karena tidak lagi mampu bertahan dari rasa kehilangan.
“Gar, ngapain lo di situ?”
Pria itu terhenyak, lantas menoleh. Matanya langsung menemukan sang rekan yang datang dengan dua cup coffe di masing-masing tangan. “Lo udah balik?”
“Hm. Barusan makan risotto doang, jadi cepet. Lo belum makan?” tanya sang rekan.
“Belum.”
Pria itu menyodorkan salah satu cup coffe di tangannya. “Bikin ulah lagi?”
“Siapa?”
“Itu, simpanan bos,” ujar pria yang baru datang itu, matanya melirik wanita di atas bed yang tidak terganggu sama sekali.
“Enggak. Barusan gue mau chek infuse. Bisa gawat kalau habis gak ketahuan kayak tadi,” kilah si lawan bicara.
“Gar, Gar. Pengertian banget lo sama mistress satu ini.” Sindir sang rekan. Seulas senyum tipis tersungging di bibir penuhnya.
“Dia itu tanggung jawab kita, bro. Kita dibayar puluhan juta buat apa, lupa?”
Rekan pria yang memiliki nama lengkap Elgara itu tertawa singkat. “Lo mah, gak bisa diajak bercanda, Gar.”
“Terserah,” kata Elgara singkat. “Lo udah selesaikan? Sekarang gue mau izin ke luar buat nyari angin.”
“Lah, kirain lo mau makan. Belum dimakan tuh.” Telunjuk sang rekan mengarah pada makanan yang teronggok di atas meja.
“Udah gak selera,” ujar Elgara datar. “Makan aja kalo mau. Kalau enggak, kasih ke office boy. Belum gue sentuh kok.” Setelah berkata demikian, pria berkulit kecoklatan itu menoleh ke arah bed sekali lagi. Sebelum benar-benar berbalik dan pergi.
“Kenapa tuh bocah? Aneh bener.” Gumam rekan Elgara saat pria itu sudah menghilang di ambang pintu. “Atau jangan-jangan dia tertarik sama mistress bos? Ah, masa iya? Kayak gak ada cewek bener buat dikawinin aja si Elgara. Badan, ok. Tampang, ok. Masa mau sama bekasan—“
“Ekhem!”
Pria itu langsung menoleh ke arah pintu. Di sana, objek dari pembicaraannya tengah berdiri seraya menyenderkan punggung ke kusen pintu. Membuatnya tersenyum kikuk seketika. “Gak jadi nyari angin, Gar?”
“Tuan datang. Kita dipanggil buat nyambut kedatangannya. Di bawah ada banyak wartawan,” ujar si empunya nama, datar.
“Owh, ya udah, ayok pergi.” Rekan Elgara menjawab seolah-olah tidak terjadi apa-apa barusan. Kemudian dia melenggang pergi begitu saja.
Pria bernama Elgara itu juga hanya bisa mendegus sebelum menutup pintu rungan mistress tuannya itu rapat-rapat.
🥀🥀
__ADS_1
“Kamu punya anak laki-laki berusia 5 tahun yang selama tidak kamu ketahui keberadaanya. Namanya Palacidio Daniel Adhitama Xander. Golongan darahnya sama seperti kamu, AB. Selera makannya sama seperti kamu, tidak terlalu suka makan nasi di pagi hari, tidak terlalu suka manis, dan tidak terlalu suka pedas. Dan suka membaca buku, juga menonton televisi. Channel yang selalu dia tonton adalah channel yang menayangkan berita soal ayahnya. Karena dari channel itu Dan selalu bisa melihat sang ayah, lantas berkata dengan lantang dan bangga jika orang itu adalah ayahnya.”
“Dan ….putra kita lahir di usia 28 minggu. Tidak berbeda jauh dengan putra kalian. Dan juga sempat berada di ambang kematian. Tapi, saat Dan sudah tumbuh dan berkembang dengan baik, kamu malam memberinya luka yang baru. Kamu telah menghapus ekspetasi tinggi Dan soal kamu. Soal ayah yang sangat dia rindukan. Yang akan memberinya pelukan hangat saat pertama kali bertemu, bukannya tatapan penuh kebencian dan tindak kekerasan.”
“Darren Aryasatya Xander.”
“Kamu adalah ayah yang buruk.”
“ARRGH!”
Pri bermarga Xander itu memukul stir mobilnya keras sebagai ajang pelampiasan. Sebuah fakta besar yang teryata disembunyikan mantan istrinya telah membuat isi kepalanya berpusat sepenuhnya pada informasi tersebut.
Dia memiliki putra. Berusia lima tahun. Seorang putra yang tampan, sehat, dan pintar. Bahkan hampir menuruni 80-90% keakurasian fisik maupun karakter dengan dirinya. Namun, kenapa dia bisa dibutakan oleh amarah saat pertama kali bertemu sang putra? Sampai-sampai dia bertindak ceroboh. Alhasil, sekarang dia berhasil menorehkan rekor baru sebagai ayah dengan kesan terburuk di pertemuan pertama dengan putranya.
“Palacidio Daniel Adhitama Xander, my son.”
Bibir kissable milik pria rupawan itu tampak bergetar kala mengumandangkan nama sang putra. Nama yang sempat dia kira pria bajing*n yang telah berani mengencani istrinya. Nama yang sempat ingin dia lenyapkan dari dunia, ternyata adalah nama darah dagingnya.
Darren menyesal. Sungguh, jika Tuhan bisa dia jumpai saat ini juga, Darren akan bersujud di hadapannya untuk memohon ampunan. Dia menyesal telah menjadi serakah, dan menyesal telah bermain api di belakang sang istri. Dia telah gagal menjadi seorang suami, juga gagal menjadi seorang ayah bagi anak-anaknya.
Darren sudah berusaha membujuk mantan istrinya agar memberikan satu kesempatan, agar dia dapat bertemu sang putra baik-baik. Namun, hasilnya nihil. Wanita cantik yang pernah menyandang nama Xander selama 5 tahun itu tetap kukuh pada pendiriannya. Di depan matanya sendiri, tanpa dapat dicegah, mantan istrinya membawa pergi sang putra. Xander muda itu bahkan tidak menatap sang ayah sekali pun sebelum pergi, dan memilih menyembunyikan wajahnya di dada bidang milik pria lain.
Sungguh sakit melihat darah dagingnya sendiri lebih memilih pria lain. Memilih berlindung pada pria lain, alih-alih ayahnya sendiri. Sakit. Darren merasakan rasa sakit dan sesak, seolah-olah jantungnya sudah tidak berfungsi dengan baik.
“Ada apa?!” tanyanya datar saat menerima panggilan dari nomer yang sedari tadi menghubunginya. Saat ini Darren memang berada di depan gerbang mansion keluarga Atmarendra yang tertutup rapat. Dia tentu tidak mendapatkan izin untuk berkunjung, mengingat betap banyak luka yang dia torehkan pada princess kesayangan keluarga tersebut.
“Nona Ella sudah siuman, tuan. Dia kembali meracau tidak jelas, bahkan sempat mengamuk. Dokter kemudian memutuskan untuk mengikat kaki dan tangannya.”
Darren menghela nafas kasar seraya memijit pelipis.
“Dokter yang menangani nona Ella menunggu kedatangan Anda. Ada yang harus segera di bahas mengenai kondisi nona Ella.”
“Hm. Siapkan saja keamanan di lobby rumah sakit, aku datang 15 menit lagi.”
Setelah berkata demikian, pria itu mematikan sambungan telepon sebelah pihak. Dia kemudian menghidupkan mesin mobil, dan dengan berat hati memutar kendaraannya. Menjauh, meninggalkan kediaman sang mantan istri.
Bahkan identitas Ella juga tengah menjadi buah bibir di berbagai laman media sosial. Para warga net semakin dibuat penasaran dengan sosok misterius yang kini jadi tranding topik akibat tagar #mistressxander yang bertebaran di mana-mana. Tidak sedikit pula fans Ev yang menghujat sosok Ella habis-habisan karena telah menjadi pelakor dalam hubungan idola mereka.
“Jadi begini, istri Anda mengalami depresi postpartum atau PPD.”
“Maksudnya, dok?”
“Depresi postpartum atau PPD berbeda dengan baby blues syndrome yang merupakan gangguan suasana hati atau gangguan psikologis pasca melahirkan. Sedangkan depresi postpartum disebabkan oleh stress berlebihan. Kedua gangguan ini memang sering dianggap sama. Meskipun kedua gangguan ini merupakan gangguan yang sama-sama menyerang psikis, namun keduanya memiliki perbedaan.”
Dokter wanita itu menjeda sejenak, guna menatap sang lawan bicara yang tampak serius mendengarkan.
“Baby blues syndrome umumnya ditandai dengan gejala perubahan suasana hati dan emosi yang cukup dratis. Sehingga ibu sering menangis tanpa sebab, lebih sensitif, mudah lelah, atau sebagainya. Sedangkan depresi postpartum memiliki gejala seperti kehilangan nafsu makan, atau sebaliknya. Meningkatnya nafsu makan secara berlebihan. awalnya kami mengira istri Anda mengalami baby bues, namun setelah dikaji secara mendalam ternyata bukan.”
“....”
“Berbeda dengan baby blues yang hanya muncul pada minggu-minggu pertama melahirkan, hingga minggu kedua, PPD dapat bertahan dari bulan pertama hingga satu tahun lamanya.”
Darren menarik napas dalam, kemudian menghelanya perlahan. Bertambah lagi beban pikirannya. Kondisi sang mistress tidak bisa dikatakan baik-baik saja. Setelah melakukan prosedur operasi Enhanced recovery after cesarean surgery atau ERACS, yaitu metode operasi Caesar dengan pendekatan khusus perawatan untuk mengoptimalkan kesehatan ibu sebelum, selama dan setelah operasi. Tujuan Darren menyetujui prosedur ini agar mobilitas dan prosese penyembuhan atau recovery pasca persalinan dapat dipercepat. Dengan demikian, proses perceraian juga tidak akan ditunda terlalu lama.
Kendati demikian, sekarang Darren malah mendapatkan informasi lain yang tak kalah mengejutkan.
“Jika pasien terus memberontak dan mengamuk, hal itu dikhawatirkan dapat membuat bekas jahitan kembali terbuka.” Tambah sang dokter. “Oleh karena itu, sebisa mungkin pasien didampingi oleh suami atau keluarganya selama kurun waktu tertentu agar mendapatkan dukungan moril atau pun dukungan secara emosional.”
“Hm.” Respon Darren singkat.
Wanita muda itu sebatang kara di sini. Hanya dia yang wanita itu miliki. Jadi, mau tidak mau Darren harus menuruti perkataan dokter bukan?
“Saya tahu tidaklah mudah mengikhlaskan kepergian seorang anak yang bahkan belum sempat lahir ke dunia. Namun, jika bukan Anda yang memberikan dukungan terbesar bagi istri Anda, siapa lagi?”
Dokter itu tersenyum tipis. Di tahu siapa yang menjadi pasiennya, dan tahu siapa pria yang saat ini tengah diajak bicara empat mata. Namanya Darren Aryasatya Xander. Putra keluarga Xander yang belakangan jadi tranding topik di berbagai laman pencarian. Seorang pengusaha muda yang terkena skandal karena terungkap memiliki ‘mistress’ di belakang istri pertamanya. Dokter itu tahu karena cukup up to date mengikuti beberapa perkembangan informasi digital. Namun, bukan ranahnya untuk ikut campur. Di sini dia adalah dokter, dan sudah menjadi sebuah kewajiban bagi seorang dokter untuk merahasiakan identitas pasiennya. Sekali pun banyak media di luar sana yang berani membayar berapa pun untuk mendapatkan informasi soal mistress Darren Aryasatya Xander yang kini menjadi pasiennya.
__ADS_1
“Dan apa boleh saya memberi saran sebagai orang tua, bukan sebagai seorang dokter?”
Darren terpaku pada kata ‘Dan’ yang mengingatkan dirinya pada sang putra.
“Boleh?” tanya dokter tersebut, memastikan.
“Ya,” jawab Darren cepat.
“Sebaiknya Anda segera menyelesaikan masalah yang tengah menjadi bahan pembicaraan berbagai kalangan di luar sana. Lewat klarifikasi mungkin. Karena jika istri Anda mengetahui informasi tersebut, hal itu dapat menambah beban pikirannya. Kehilangan seorang anak, dan dibicarakan satu Indonesia karena statusnya sebagai wanita simpanan, pasti sangat berat.”
Darren mengangguk asal. Entah untuk alasan meng-iyakan, atau alasan yang lain. Akan tetapi, dia berjanji akan mengurai masalah yang saat ini membelit dirinya satu per satu.
“Sedang apa dia?” tanya Darren sembari menatap jauh ke dalam ruangan di balik kaca tempatnya melarikan pandangan.
“Meracau tuan,” jawab salah seorang bodyguard.
“Hm.”
Darren merespon singkat. Langkah kakinya terasa terpaku di depan pintu. Dia belum memiliki cukup kekuatan untuk membuka pintu tersebut. Ada sebongkah rasa bersalah yang kian membuatnya berat melangkah.
“Tuan.”
Suara familiar itu kemudian berhasil membuatnya mengalihkan perhatian. “Ada apa, Dam?”
Pria berkacamata yang datang dengan napas tersenggal-senggal itu membuat sebelah alis Darren menaik. “Ada berita penting tuan.”
“Berita apa?”
“Rapat umum pemegang saham baru saja diselenggarakan.”
“Apa? Bagaimana bisa ada rapat umum dan aku tidak dilibatkan?” kaget Darren, merasa tidak dianggap lagi. Padahal dia masih menduduki posisi CEO.
“Rapat ini diadakan secara mendadak, tuan. Namun, dihadiri hampir seluruh pemegang saham,” imbuh Damian.
“Lalu kenapa kamu tidak memberitahuku, Damian!” murka Darren. Dilayangkan satu pukulan mentah ke arah perut sang sekretaris hingga pria itu muntah darah.
“Tuan ….uhuk …..uhuk ….” Lirih Damian, sadar jika dia akan kalan tanding jika menghadapi sang atasan. Namun, dia hanya menyampaikan informasi yang baru dia dapatkan. Apa salah?
“S-aya juga baru tahu rapat itu diselenggarakan secara tiba-tiba.” Damian coba menjelaskan. “Selain itu….”
“Apa, penghianat?” tanya Darren seraya menyeringai tipis.
“Penghianat….?” Monolog Damian.
Darren tak menggubris keterkejutan sang sekretaris. Dia malah kian mendekat, membawa aura mematikan bersamanya. “Sejak kapan kamu menghianatiku, Damian?”
“Saya ….tidak pernah menghianati Anda ….uhuk ….uhuk.”
“Begitu, kah? Lantas kenapa kamu tidak memberitahukan informasi yang lengkap soal Dan?! Karena kebodohanmu, hari ini aku telah menyakiti putraku sendiri!” ditendanganya tulang kering sebelah kiri sang sekretaris hingga si pemilik mengerang kesakitan.
Empat bodyguard—termasuk Elgara—yang berjaga di sana hanya bisa diam, tampa dapat melakukan apapun. Jika melerai, bisa saja mereka yang menggantikan posisi Damian.
“Anda menyakiti putra Anda karena kesalahan Anda sendiri,” jawab Damian seraya mencoba berdiri dengan sisa kekuatannya.
“Jika hari ini Anda kehilangan hak atas putra Anda, ataupun posisi CEO, semua itu murni karena kesalahan, kelalaian, ketidak konsistenan dan ketidak becusan Anda sebagai seorang ayah maupun seorang pengusaha.”
🥀🥀
TBC
GOOD JOB OR BAD JOB DAMIAN?
MENURUT READERS, PANTAS DAMIAN BERKATA BEGITU?
MASIH MAU NEXT? JANGAN LUPA RULES NYA ✌️
__ADS_1
Sukabumi 26/04/22