
M6 🥀 : DIMANA DARREN?
“Sudah, Mom. Em sudah kenyang.”
“Tapi kamu baru makan sedikit, Ev. Ayo makan yang banyak supaya kamu cepat sembuh.”
“No, Mom. Ini sudah cukup,” tolak wanita cantik dalam balutan piama rumah sakit tersebut.
Elina Atmarendra menatap sang putri gusar. Wanita paruh baya dalam balutan dress berwarna toska itu sudah berulang kali membujuk sang putri agar menghabiskan makanannya, tetapi tetap tidak berhasil. Padahal Elina sudah menyusuh koki memasak menu-menu yang lezat dan kaya akan asupan gizi yang baik dan dapat mempercepat penyembuhan cidera yang putrinya alami.
Elina Atmarendra dan Aston Wiliam Atmarendra—orang tua Evelyn—langsung bertolak dari Singapura menuju Jakarta kala mendapatkan kabar jika Evelyn masuk rumah sakit dari Diana Xander. Sejak kemarin Diana memang heboh sendiri saat mendapati informasi jika menantu kesayangannya masuk rumah sakit. Diana bahkan rela menginap di rumah sakit agar dapat menemani sang menantu. Sekarang mantan putri Indonesia itu tengah pamit ke luar untuk membeli sarapan.
“Apa Darren masih belum bisa dihubungi, Ev?”
“Belum, Mom. Mungkin Darren tidak menghidupkan telepon, oleh karena itu sulit dihubungi,” dalih Evelyn.
“Memangnya Darren ada pekerjaan di mana, Ev? Kenapa sulit sekali dihubungi. Apa sekretarisnya juga tidak bisa dihubungi?” tanya Elina retoris.
Dari pertama kali ia tiba di sini, wanita itu tidak melihat batang hidung menantunya barang sedikitpun. Apa bagus jika menantunya tetap gila kerja, sedangkan di sini putrinya tak berdaya?
“Em, kamu sudah selesai sarapan?” suara lembut nan keibuan itu muncul dari ambang pintu, bersamaan dengan munculnya Diana Xander.
Evelyn tersenyum kecil menyambut kedatangan mertuanya itu. “Sudah, Ma.”
“Iya, sudah. Tetapi tidak sampai separuhnya,” timpal Elina seraya menunjukkan sisa bubur Evelyn yang masih banyak.
Diana Xander menghela nafas kecil melihatnya. “Tidak apa-apa, jeng. Yang penting Ev tetap mau makan.”
“Iya. Em sejak kecil memang susah makan kalau sakit. Banyak sekali alasannya.”
“Iya, ya. Waktu Ev sakit, Darren bahkan rela telat berangkat ke sekolah karena harus memastikan Ev menghabiskan makanannya terlebih dahulu.”
Kedua wanita paruh baya itu kemudian saling melontarkan tawa. Diana dan Elina memang sudah mengenal sejak lama, jauh sebelum mereka sama-sama membina rumah tangga. Dulu Diana bertemu dengan Elina di salah satu ajang kecantikan Nasional. Elina yang kebetulan berkiprah sebagai desainer kondang berkesempatan menjadi penanggung jawab kostum para finalis untuk sebuah festival. Semenjak itu mereka berteman akrab, hingga dipertemukan dengan pria yang menjadi suami mereka masing-masing. Diana dan Elina tetap menjalin tali pertemanan.
Apalagi mereka dinikahi oleh pria yang ternyata sama-sama saling mengenal. Aston Wiliam Atmarendra—ayah Evelyn—dan Dazen Xander—ayah Darren—kebetulan teman lama yang kemudian merangkap menjadi rekan bisnis. Sekarang hubungan mereka dipererat dengan pernikahan Evelyn dan Darren.
“Ev mau makan puffy pancake? Tadi Mama tidak sengaja bertemu salah satu kenalan di kantin. Kebetulan dia baru saja membuka caffe, Mama mendapatkan gift special sebagai salah satu pelanggan pertama.”
Ev tersenyum tipis seraya mengangguk. Puffy pancake yang mertuanya maksud tampak menggugah selera. Pancake yang tampak soft dengan topping ice cream vanilla, strawberry, cherry, blueberry dan siraman sirup maple itu kini berpindah tangan. Diana tersenyum senang saat melihat Ev mau memakan salah satu makanan yang ia bawa. Menantunya itu memang cukup membatasi asupan makanan sejak masuk rumah sakit. Hal itu tentu mebuat Diana maupun Ella risau, karena takut membuat kondisi Ev kian buruk.
“Sayang, apa Darren sudah bisa dihubungi?” tanya Diana hati-hati.
Untuk sejenak Ev menghentikan kunyahannya. Netra cantiknya menatap mertua dan ibunya secara bergantian. Jujur, Ev sudah muak ditanya-tanya soal keberadaan Darren.
“Belum, Ma. Darren masih sulit dihubungi,” jawabnya jujur.
“Dasar anak itu. Apa dia belum tahu jika istrinya masuk rumah sakit?” gerutu Diana sebal.
“Darren memang kelihatan sangat sibuk belakangan ini, ya? Saya juga sempat membaca artikel tentang proyek Darren di Kalimantan. Apa sekarang Darren ada di sana, jeng?” tanya Ibu Ev.
__ADS_1
“Saya juga kurang tahu. Belakangan Darren jarang sekali mengunjungi rumah. Anak itu semakin menyibukkan diri dengan pekerjaan,” jawab Diana sekenanya.
Diana sebenarnya merasa tidak enak kepada menantu dan besannya. Mengingat putranya itu sangat sulit sekali dihubungi, padahal istrinya tengah dirawat di rumah sakit. Darren seolah-olah melalaikan tugasnya sebagai seorang suami karena terlalu sibuk bekerja.
“Permisi,” sapaan hangat yang datang dari ambang pintu, mengurai ketegangan yang sempat tercipta di ruangan tersebut.
Seorang pria rupawan yang mengenakan setelan formal bernuansa hitam tampak memasuki ruangan. Sebelah tangannya tampak menenteng sebuah paper bag berukuran medium, bertuliskan brand sebuah toko pastry kenamaan. Lengkap dengan parsel buah organik yang juga ia tenteng. Senyum ramah terpatri di bibir tebalnya yang berwarna merah alami. Mencerminkan jika bibir itu steril dan tak pernah menyentuh batang nikotin.
Netra coklatnya tampak berkilauan di balik kacamata yang bertengger apik di hidung mancungnya. Pria rupawan itu overall memiliki positif vibes yang luar biasa. Kehadirannya disambut dengan hangat oleh Diana dan Elina.
“Selamat pagi, Tante Diana dan Tante Elina.”
“Pagi, Damian.” Kedua wanita paruh baya itu menjawab hampir bersamaan. Membuat pria itu kian menebar senyum.
“Selamat pagi juga Nyonya Darren Xander. Saya turut berduka atas apa yang terjadi,” ujarnya, beralih pada Ev yang baru saja menyelesaikan kegiatannya menikmati puffy pancake.
Ev tersenyum ramah seraya mengangguk. Ia mengenal pria tersebut sebagai sekretaris sang suami. Damian namanya. Orang-orang terdekat biasa memanggilnya dengan sebutan Mian. Salah satu pekerja Darren yang paling professional menurut Ev. Damian sudah menghabiskan hampir separuh waktunya di dekat Darren. Selain sebagai sekretaris Darren, Damian juga sahabat terdekat Darren.
“Nah, mumpung Damian ada di sini, boleh Tante tanya sesuatu?” tanya Diana tiba-tiba.
Damian mengangguk sebagai tanda memperbolehkan. Barang bawaan pria itu kini sudah berpindah tangan kepada Elina. “Tentu saja boleh, Tante.”
“Damian ini, kan, sekretarisnya Darren. Pasti tahu di mana Darren sekarang berada?”
Damian tersenyum tipis seraya menyentuh frame kacamatanya. “Tentu, Tante. Kebetulan schedule Darren saya yang pegang.”
“Jadi, di mana Darren? Bisa Damian hubungi Darren agar lekas pulang?” tanya Diana to the point.
Damian mengangguk seraya tersenyum tipis. “Darren sedang meninjau proyek di salah satu desa tertinggal. Masih di pulau Jawa, jadi Tante tenang saja. Saya akan berusaha semaksimal mungkin untuk menghubungi Darren.”
Mendapati jawaban seperti itu, Daiana dan Elina saling bertatapan dengan sorot lega. Setidaknya, kabar yang dibawa oleh Damian bagaikan angin segar bagi mereka. Darren masih ada di Indonesia, di pulau yang sama.
“Damian?” panggil Ev kala eksistensi di ruangan tersebut kian berkurang, karena Diana dan Elina baru saja pamit pergi ke luar. Menyisakan Ev dan Damian di sana.
“Ada apa, Ev? Kamu membutuhkan sesuatu?”
“Di mana Darren?” tanya Ev to the point.
“Sudah aku katakan tadi, Darren sedang meninjau proyek di salah satu desa tertinggal. Masih di pulau Jawa—“
“Lebih spesifiknya di mana?”
Damian menatap Ev tanpa suara untuk sejenak. Kehadirannya pagi ini untuk menjenguk istri atasannya itu pasti akan berbuntut panjang. Damian sudah memprediksi hal tersebut sebelum datang ke tempat ini. Oleh karena itu ia telah mengantisipasi sejak awal. Karena ia sudah menebak akan diberondong pertanyaan seputar Darren yang hilang bak ditelan bumi.
“Jika memang kamu tidak tahu di mana Darren berada, jangan pernah membuang waktumu untuk memberi orang lain harapan.”
“Apa maksudmu, Ev?”
“Cukup katakan tidak jika memang kamu tidak tahu. Jangan membuat mertua dan ibuku berharap Darren akan kembali. Kamu tentu tahu betul jika Darren saat ini sulit dihubungi.”
__ADS_1
Ev berkata demikian dengan raut wajah datar. Untuk sejenak, Damian dibuat menebak-nebak apa maksud dari ucapan super model cantik tersebut. Ev memang tipikal orang yang sulit ditebak, mengingat wanita itu juga pandai mengolah emosi. Sebenarnya Damian tahu di mana Darren berada. Mengingat ia adalah sekretaris pria tersebut. Mustahil bagi Damian tidak mengetahui schedule sang atasan.
Jika sewaktu-waktu Darren menghilang dan sulit dihubungi, maka Damian yang akan terkena imbasnya. Seperti saat ini, hanya ada satu cara untuk menghubungi Darren, yaitu menyusul pria itu secara langsung. Karena Damian tahu jika Darren tidak akan dapat dihubungi juga sudah pergi dengan dalih ‘urusan penting’. Pria itu tidak mau diganggu lebih tepatnya.
Damian tidak mau ikut campur urusan pribadi Darren dan Ev. Damian hanya bekerja untuk pria itu. Apapun yang masuk ke dalam ranah pekerjaan, Damian pasti akan menjaga kerahasiannya. Etos kerja dan loyalitas Damian memang tidak perlu diragukan lagi.
“Thai coffee original with topping cheese, spicy burger with cheese and onion ring, and two hotdog?”
“Oh, yes. Thank you,” ujar Dimi seraya menerima pesanannya, lantas memberikan beberapa lembar uang pada si pengantar pesanan. “You gak mau?” tanyanya, menawari pria berkacamata di sampingnya.
“Tidak, terima kasih.”
“Kembali kasih,” jawab Dimi seraya menggigit burger pesanannya. Pria itu kelaparan pasca menerima telepon berjam-jam lamanya dari beberapa client. Saat ia kembali ke ruangan Ev, masih ada Damian di sana. Sedangkan Ev tangah melakukan chek up rutin di pagi hari.
“Jadi you datang ke sini untuk menjenguk Ev?”
“Bisa dibilang seperti itu. Mengingat Ev adalah istri atasan saya.”
Dimi mengangguk paham seraya mengunyah. “I have a question,” ujar Dimi tiba-tiba. “Di mana Darren?”
Damian menghela nafas pelan, kemudian menoleh pada alawan bicaranya. “Darren sedang meninjau proyek di salah satu desa tertinggal. Masih di pulau Jawa—“
“Ya-ya, basi,” sela Dimi, membuat Damian seketika itu pula menghentikan kalimatnya. “Manusia workaholic itu benar-benar tidak punya hati. You lihat sendiri kondisi Ev? Apa pantas seorang suami membiarkan istrinya seperti itu? C’mon. Mereka menikah bukan baru sehari-dua hari.”
“….”
“Jika you bertemu manusia workaholic itu, pastikan dia memiliki rasa peduli. Bagaimana dia bisa bersikap sedingin itu pada Ev?” lanjut Dimi skeptis. “Ev itu wanita, punya perasaan. Seharusnya atasan you itu mengerti. Jika sudah tidak mau peduli sama Ev, ceraikan saja. Jangan membiarkan Ev hidup terlunta-lunta hanya karena statusnya sebagai istri Darren.”
Damian masih tidak menjawab. Pria itu tidak menyangka akan mendapatkan serangan bertubi-tubi dari pria yang suka berdandan tersebut.
“Eike bicara seperti ini bukan sebagai manager Ev, tetapi sebagai seseorang yang sudah menganggap Ev seperti saudari sendiri. Eike harap you mengerti. Sebagai orang yang paling dekat Darren, seharusnya you bisa menasihati Darren.”
Beberapa detik kemudian, Damian beranjak. Ia tersenyum tipis seraya menatap lawan biacaranya yang tengah asik menikmati burger. “Bukan ranah saya mencampuri urusan pribadi atasan saya. Begitu pula dengan Anda. Kita sama-sama tidak memiliki hak untuk ikut campur. Tetapi, saya akan berusaha semaksimal mungkin membuat Darren mengerti.”
Dimi menatap Damian kicep.
“Kalau begitu saya permisi. Mari.” Setelah berkata demikian, Damian pamit pergi. Meninggalkan Dimi yang masih melongo.
“Atasan sama bawahan sama saja. Tidak berperikemanusiaan,” gerutu Dimi seraya menatap punggung Damian yang semakin menjauh di antara lorong-lorong rumah sakit.
...🥀🥀...
...TBC...
...Masih menyimak? ramaikan kolom komentar dong!...
...jangan lupa like, vote, share, & follow Author. Terima kasih sudah membaca Mitress ❤️...
...Sukabumi 04/12/21...
__ADS_1