Berbagi Cinta: Mistress (Wanita Simpanan)

Berbagi Cinta: Mistress (Wanita Simpanan)
M40 : DAN SIAPA??


__ADS_3

M40 🥀 : DAN SIAPA??


🥀🥀


Seorang wanita cantik yang tengah berdiri sembari menatap pemandangan di luar jendela, tampak terlonjak kala sebuah pertanyaan meluncur begitu saja dari sambungan telepon di seberang.


“Tu rentres à la masion avec perè cette fois (apa kali ini mère pulang bersama ayah)?”


Ada jeda cukup lama untuk jawaban dari pertanyaan tersebut.


“Mère ne peut pas prometre. Cependant, it ya quelque chose que je veux vous prèsenter (Mère tidak bisa janji. Tapi, ada yang mau mère kenalkan).” Wanita yang baru saja berkata demikian tampak menarik nafas dalam setelahnya. Mungkin ini sudah waktunya.


“Maintenant, Dan doit ètudier dur, Ok (sekarang, Dan belajar yang giat, Ok)?”


“Ok, mère.”


Wanita itu—Evelyn—tersenyum tipis mendengarnya. “Mère cher Dan (mère sayang Dan.”


“Dan aussi cher mère (Dan juga sayang mère).”


Setelah menghabiskan waktu 10 menit untuk mengobrol, si pemilik nama ‘Dan’ itu pamit untuk menikmati Bircher muesli yang disiapkan untuk sarapannya. Bircher muesli adalah menu sarapan favorit ala masyarakat Swizterland. Makanan tersebut adalah kombinasi antara serpihan gandum, berbagai macam buah, kacang-kacangan, perasan lemon dan susu. Rasanya lezat dan tentu saja sehat.



Ev yang masih menyangga handphone di telinga—berharap jika suara yang selalu terdengar indah di telinganya itu kembali terdengar, tiba-tiba saja dia malah dikejutkan oleh sebuah suara deep husky yang terdengar dari seberang.


“Miss me, hm?”


“El!” Ev yang terkejut kontan menyerukan nama pemilik suara deep husky yang berkesan ….sexy itu dengan cepat.


“Why? Kamu kaget atau malu mengakuinya, mère?” goda suara di seberang.


“Berhenti bercanda, El. Berapa sebenarnya usiamu sekarang?” sebal Ev. Wanita itu hafal betul jika si empunya di seberang sana pasti tengah tersenyum geli.


“I miss you,” ungkap suara di seberang. Mengabaikan ujaran sebal Ev. “Kapan ke sini?”


“Miss you too,” jawab Ev seraya mengembangkan senyum. “Mungkin tiga atau empat bulan lagi. Aku masih harus mengurus beberapa urusan di sini.”


“Percerian dengan si *******?”


“Jangan bicara kasar, El. Di sana ada Dan.” Peringati Ev.


“Dan sedang di ruang makan,” tutur suara di seberang. “Baguslah, Ev. Akhirnya kamu lepas dari si *******. Lega rasanya.”


Alih-alih merasa lega seperti seseorang di seberang, wajah Ev tiba-tiba muram. Hatinya didera rasa ketidakpercayaan. “Tapi, aku sempat merasa takut, El.”


“Takut kenapa, hm?”


“Takut tidak bisa memenangkan persidangan ini. Darren pasti tidak akan tinggal diam. Apalagi jika tahu soal Dan….”


“Ssstt, Ev,” potong suara di seberang cepat. “Kamu pasti bisa, percaya itu,” lanjutnya, suara yang kental akan logat british itu meyakinkan.


“Kamu punya peluang besar untuk menang.”


“….”


“Aku juga sudah menghubungi Ed, dia akan segera kembali ke tanah air setelah tugas negaranya selesai.”


“Hm.”


“Jangan takut, ok. Kehadiran Ed sudah cukup untuk memastikan kemenangan mu. Atau, aku perlu datang menemui kamu?” tawar suara di seberang, tiba-tiba.


“No. I can handle it.”


Mendengar kalimat Ev barusan, suara deep husky di seberang terdengar puas seraya melontarkan pujian. “Good mère. Aku tahu kamu pasti bisa menyelesaikannya.”


Ev mengangguk, sekalipun dia tahu jika seseorang di seberang sana tak dapat melihat anggukan kepalanya barusan. Pembicaraannya dengan pemilik suara deep husky yang terkesan ….sexy itu tidak berlangsung lama, karena seorang maid datang menginterupsi. Katanya ada tamu yang menunggu Ev di ruang tamu. Awalnya Ev pikir itu Dean, akan tetapi, mengingat pria itu baru saja pamit pergi karena urusan mendadak, Ev menampik pemikiran tersebut.

__ADS_1


Baru saja Ev tiba di pijakan tangga terakhir, ‘tamu’ yang dimaksud oleh maid yang kebetulan baru bekerja itu, berhasil membuat langkah Ev terhenti.


“Ev.”


Sayang, sebelum Ev sempat memutar tubuh, pemilik manik jelaga itu sudah terlebih dahulu menemukan keberadaanya. Mau tak mau, Ev jadi harus bertatap muka dengan pria tersebut.


“Untuk apa kamu datang ke sini, Darren?” tanya Ev datar.


“We need to talk, Ev.”


“Apalagi yang perlu dibicarakan. Bukan kah semuanya sudah jelas?”


“Belum, Ev. Masih ada yang perlu kita bicarakan,” sanggah pria yang pagi ini tampak mengenakan kemeja berwarna hitam tersebut.


“Tidak ada yang perlu kita bicarakan, kecuali soal perceraian. Aku juga sudah menyerahkan urusan perceraian kepada lawyer. Sebaiknya kamu pergi dari sini sebelum—“


“Aku tidak akan menyetujui perceraian ini, Ev. Apa kamu tidak dengar?!”


Ev tersenyum tipis mendengarnya. Sedangkan Darren, pria itu serius dengan ucapannya.


“Kamu tidak setuju untuk bercerai, dan akan memilih untuk berpoligami. Begitu?”


Darren terbungkam.


“Asal kamu tahu, Darren. Aku tidak mau dimadu. Keputusan kamu untuk menikah lagi, sudah jadi kesalahan fatal yang tidak bisa aku maafkan.”


Pada dasarnya, wanita mana yang rela dimadu? Tidak ada. Mungkin ada segelintir wanita yang rela dimadu, atas berbagai alasan pribadi. Namun, hal itu tidak menutup kemungkinan jika mereka telah menyembunyikan luka yang teramat dalam di hati. Sekalipun berlindung dibalik kata ‘ikhlas’, belum tentu sepenuhnya perasaan mereka mencerminkan arti kata itu sendiri.


Ev adalah tipikal wanita yang antipologami. Kiblatnya sama seperti wanita-wanita yang enggan dipoligami karena urusan hati. Dulu Ev menyanggupi pernikahan dengan Darren, karena pria itu juga berjanji tidak akan melanggar perjanjian mereka. Saat ini, karena pria itu sudah berani melanggar, maka tidak ada alasan lagi bagi Ev untuk bertahan.


Sekelas Gusti Nurul yang merupakan putri keraton Mangkunegara yang dipuja lantaran memiliki kecantikan, kecerdasan, dan pemikiran yang modern saja, juga selalu berpegang teguh pada prinsip antipologami. Oleh karena itu, beliau berani menolak dengan halus para tokoh besar di tanah air yang terpikat pesonanya. Sebut saja Ir. Soekarno, Sultan Sjahrir, dan Sri Sultan Hamengkubuwono IX.


Selain itu, pernikahan Darren dan Ella dapat dianggap tidak sah jika Ev tidak ikhlas. Mengingat Ev adalah istri pertama Darren. Persetujuan istri pertama bersifat penting sebagai syarat bahwa perkawinan resmi di mata hukum. Secara hukum, diperlukan surat izin dan syarat lain ketika suami hendak melakukan poligami. Pengadilan agama dapat menganggap sebuah pernikahan batal, jika tidak mendapat restu atau rasa ikhlas dari istri pertama. Tanpa persetujuan istri pertama, pernikahan tersebut tidak sah dan cacat hukum. Hal ini tertuang dalam UU no. 1 tahun 1974.


“Jangan begini, Ev. kamu tahu sendiri jika perceraian bukanlah sesuatu yang Tuhan sukai.”


Darren lagi-lagi terbungkam. Ev dan pemikiran kritisnya tidak dapat Darren sanggah, karena dia sendiri datang ke sini tanpa perhitungan.


“Lebih baik kamu pulang, Darren. Kasihan istri kamu yang sedang mengandung,” usir Ev, to the point. “Bayi kalian tidak tahu apa-apa. Jangan sampai karena masalah yang kalian ditimbulkan, bayi yang tidak tahu apa-apa itu harus merasakan dampaknya.”


“Ev….”


“Lain kali, aku akan berpesan kepada maid agar tidak membukakan pintu untuk kamu. Aku sedang tidak ingin diganggu,” ujar Ev final, kemudian berbalik badan.


Namun, sebelum wanita cantik itu benar-benar menaiki pijakan tangga, dia sempat berkata, “kita akan bertemu kembali dalam waktu dekat, jika kamu lupa. Di persidangan. Jadi, kamu tidak perlu jauh-jauh mencari aku ke sini.”


Setelah berkata demikian, Ev menaiki pijakan tangga satu persatu. Wanita cantik itu mantap meninggalkan sang suami tanpa menoleh sedikitpun.


Sedangkan Darren yang masih berada di posisi yang sama, hanya bisa menguyar rambut hitamnya kasar. Gagal lagi. Sia-sia saja usahanya memasuki rumah keluarga Atmarendra yang dijaga sangat ketat, karena sang tuan putri yang hendak ditemui menolak mentah-mentah kehadirannya. Katakan saja Darren gegabah dengan datang ke sini. Namun, jalan pikirannya memang sudah tidak bisa singkron dengan keinginan hati.


Mendapati hasil yang kurang memuaskan dari pertemuannya dengan sang istri, Darren memilih membawa kemudi ke arah kantor. Entah sudah tersebar atau belum rumor soal perceraiannya dengan Ev. Namun, dia akan tetap pergi ke kantor untuk menyelesaikan beberapa hal. Terutama soal Ev dan juga Dean. Dengar-dengar, pria yang memegang jabatan sebagai CFO di perusahaanya itu, pagi tadi juga hadir di sana.


Kedatangan Darren yang tidak serapih biasanya, tentu menarik perhatian banyak orang kala dia tiba di kantor. Hal pertama yang Darren lakukan setibanya di sana adalah mencari sang sekretaris. Damian sendiri tengah berada di ruangannya, dengan segunung laporan yang harus dia seleksi sebelum diberikan pada sang atasan. Belum lagi tugas tambahan, menyelidiki istri dari atasannya.


Kedatangan Darren yang tiba-tiba, kemudian mencari dirinya, sudah diketahui betul apa maksudnya oleh Damian. Oleh karena itu, pria berkacamata itu leka mempersilahkan sang atasan untuk masuk. Menjamu dengan segelas kopi yang biasa atasannya minum, kemudian memberikan beberapa lembar kertas yang tersusun secara rapih dalam map bening berwarna biru.


“Dari hasil penyelidikan yang saya lakukan melalui tim IT ahli, tidak ada hal yang mencurigakan dari interaksi nyonya Ev.”


Darren yang tengah duduk sembari menyilang kan kedua kakinya—menumpukan satu kaki di atas kaki yang lain—hanya diam sembari mendengarkan. Dia juga tengah fokus memeriksa apa saja yang berhasil sekretarisnya temukan.


“Salinan pengeluaran dari rekening dan kartu-kartu milik nona Ev juga ada. Tidak ada yang mencurigakan dari pemasukan dan pengeluaran nyonya Ev. Nyonya malah lebih sering menggunakan uang pribadinya. Selama ini nyonya memiliki dua American Express Centurion (Black) card, J.P Morgan Reserve (Palladium) card, Dubai First Royale Mastercard, dan beberapa kartu ATM bank dalam negeri.”


“Hm.”


“Saya juga memiliki salinan rekaman CCTV dashboard mobil yang biasa digunakan nyonya. Semua salinannya ada di dalam flashdisk ini.” Damian menunjuk sebuah flashdisk yang ada di depan sang atasan.


“Kerjamu selalu bagus, Dam.” Puji Darren.

__ADS_1


Mendengar pujian itu, Damian kontan mengucapkan balasan. “Terima kasih, tuan.”


“Lalu, ini apa?” tanya Darren kemudian.


Damian melirik apa yang dimaksud sang atasan. Mata yang terbingkai frame kacamata itu tampak fokus untuk beberapa sekon. “Ah, itu rekapan sambungan telepon nyonya Ev. anda bisa melihat aktivitas sambungan telepon yang nyonya Ev terima dari beberapa bulan ke belakang.”


Darren mengangguk-angguk, tanda bahwa dia paham. Namun, tak berselang lama, kembali dia bertanya. “Untuk apa Ev melakukan perjalanan ke Negara ini bolak-balik?”


Damian tercengang mendengarnya. “Ah, itu nyonya lakukan beberapa tahun ke belakang, karena ada urusan pekerjaan.”


“Dan ini, siapa? Kenapa namanya sering sekali muncul di panggilan masuk Ev?”


“Dan??” Damian tampak memicingkan mata. “Mungkin Dan ini client kerja nyonya. Saya sendiri sudah mengecek profil ‘Dan’ ini, tetapi tidak ditemukan. Kemungkinan, ‘Dan’ ini cuma kenalan nyonya.”


“Cuma?” ulang Darren. “Jangan samai karena kata ‘cuma’ itu, kamu melewatkan sebuah fakta besar.” Tekan Darren.


“Cari tahu soal ‘Dan’ ini. Apa dia pria atau wanita, tinggal di mana, dan jenis manusia yang seperti apa.”


“Baik, tuan.”


Darren menghela nafas gusar sembari menjatuhkan punggungnya pada sandaran sofa. “Atau jangan-jangan, Dan ini …..selingkuhan Ev?”


“Itu rasanya tidak masuk akal, tuan,” bantah Damian.


“Tidak masuk akal bagaimana? Coba kamu lihat, salinan aktivitas transfer yang Ev lakukan setiap bulan ditujukan pada suatu tempat. Beberapa saat kemudian, Ev juga akan menghubungi nomer si ‘Dan’ yang berawalan +41. Bukankah itu sebuah kejanggalan?!”


+41 merupakan kode telepon di Negara Switzerland. Darren tahu itu, karena dulu dia sempat menetap beberapa bulan di Negara tersebut. Ada yang janggal dari hasil penyelidikan Damian. Darren mengakui temuan tersebut.


“Cari tahu lebih detail lagi soal si ‘Dan’ ini. Kemudian—“


Kalimat pria yang tampak mulai tersulut emosi itu terpotong begitu saja, kala mendengar ringtone dari handphone sang sekretaris. Bukan miliknya sendiri. Karena milik Darren dalam mode silent.


“Angkat, suara telepon itu menganggu telingaku!” ujarnya, kesal.


Damian mengangguk, kemudian pamit undur diri untuk mengangkat telepon. Tidak sampai lima menit, pria itu sudah kembali ke hadapan Darren.


“Tuan.”


“Ada apa?”


“Istri anda saat ini sedang dilarikan ke rumah sakit.”


“APA?!” kaget Darren. “Istriku? Siapa? Ev? jangan-jangan Ev terluka saat….”


“Nona Ella, tuan,” sela Damian. “Nona Ella jatuh di kamar mandi, kemudian mengalami pendarahan. Saat ini nona Ella sedang dalam perjalanan menuju rumah sakit.”


“F*ck. Ada-ada saja.” Umpat Darren murka seraya beranjak dari sofa.


🥀🥀


TBC


Note : Hai, readers 👏


Maaf baru update lagi, soalnya aku down sejam Minggu. Aku sakit, dan sempat gak bisa ngapa-ngapain juga. Suara juga ilang. Padahal awalnya cuma radang tenggorokan biasanya. Sekarang Alhamdulillah udah lebih baik, jadi aku bisa update.


Jadi, gimana buat part ini?


Makin penasaran sama DAN? atau penasaran sama EL, ED..... atau sama Ella??


Yok, komentar yang ramaiii. Jangan lupa like, vote, komentar, follow Author & share ❤️


Follow IG Karisma022 juga supaya gak ketinggalan info ✌️


Sumber : google


Sukabumi 11/03/22

__ADS_1


12.21 WIB


__ADS_2