
M7 🥀 : DARREN KEMBALI, EV PERGI
BIAR MAKIN LANCAR NGEHALU NYA, AKU KASIH VISUAL TOKOH MITRESS 🥰
Evelyn Angelista (Ev)
Darren Aryasatya Xander (Darren)
Estrella (Ella)
🥀🥀
Semilir angin pagi menyambut hari, membelai tubuh tegap pria rupawan yang baru saja keluar dari kamar mandi. Setelan rapih telah terpasang di tubuhnya. Celana bahan berwarna hitam, dipadukan dengan kemeja berwarna biru dongker tanpa dasi. Aroma campuran antara aquatik, woody dan aroma spicy tercium bersamaan dengan langkah yang ia ambil. Netra milik pria rupawan itu kemudian terkunci pada sosok yang masih terlelap dengan nyenyak di atas peraduan.
Seulas senyum terbit di ujung-ujung labiumnya kala memperhatikan wajah polos yang masih terlelep tanpa terganggu itu. Mungkin semalam ia terlalu berlebihan, sehingga wanitanya begitu kelelahan. Lihatlah, wanitanya tampak lelap sekali. Omong-omong soal semalam, ia kembali tersenyum tipis saat mengingat kepuasan yang ia ciptakan bersama wanitanya. Sungguh, tidak ada kenikmatan yang mampu memuaskan dahaganya kecuali bersama wanitanya.
Namun, kenikmatan semalam juga setimpal dengan bayaran yang harus ia ambil. karena setelah ini, jarak akan kembali terbentang antara ia dengan wanitanya. Maka semalam Darren benar-benar membuat wanitanya tidak berdaya. Darren kembali menyunggingkan senyum tipis seraya mendekati wanitanya yang masih terlelap. Melihat gurat-gurat letih di wajah ayu itu, ia tak tega mengusik tidurnya.
Oleh karena itu Darren memilih membiarkan wanitanya tidur lebih lama lagi. Sedangkan ia sudah harus pergi. Satu kecupan dalam ia berikan di kening wanitanya sebelum pergi meninggalkan kediaman tersebut. Ia juga sudah berpesan pada bi Mimin agar tidak membangunkan wanitanya. Biarlah wanitanya istirahat lebih lama lagi.
“Take your time my little wife. Aku harus pergi sekarang,” lirih Darren saat kendaraan yang membawanya pergi mulai menjauhi pekarangan rumah.
Tempat di mana ia melepas rindu pada wanitanya. Darren harus segera kembali ke ibu kota. Subuh tadi kebetulan ia menghidupkan telepon, setelah membiarkan benda itu mati seharian. Saat dihidupkan, ribuan notifikasi masuk. Mulai dari panggilan hingga pesan, berlomba-lomba memenuhi teleponnya. Dari sekian banyak notifikasi, Darren hanya membuka satu. Pesan siapa lagi kalau bukan dari Damian—sekretarisnya. Karena pesan dari Damian sebagian besar berhubungan dengan kantor yang bersifat krusial.
Kendati demikian, siapa sangka jika isi dari pesan-pesan yang dikirimkan Damian itu menyangkut wanita yang berstatus sebagai istrinya. Siapa lagi kalau bukan Evelyn? Darren sempat berpikir, membuat masalah apa lagi wanita itu? Padahal tahun ini wanita itu tampak tenang, dalam artian tak membuat skandal atau pemberitaan apapun. Biasanya Darren dihubungi bolak-balik jika ada masalah terkait istrinya. Namun, semua hipotesa itu terpatahkan pasca ia membaca pesan terakhir yang dikirimkan Damian.
Detik itu pula Darren memutuskan untuk pulang. Ia juga sudah menghubungi Damian, dan meminta keterangan lebih detail soal insiden yang menimpa sang istri. Semenjak teleponnya aktif, sudah ada puluhan miscall dari berbagai kontak yang menghubunginya. Urutan pertama diduduki oleh nomer sang ibu, kemudian manager istrinya, mertuanya, dan banyak lagi. Darren bahkan sempat ingin melemparkan teleponnya, saking banyaknya notifikasi yang masuk.
Setelah berkendara berjam-jam lamanya, Darren tiba di kediamannya saat matahari kian berada di tengah khatulistiwa. Kepulangannya disambut oleh para maid yang menunduk hormat di pintu utama. Hal pertama yang Darren tanyakan pada kepala maid adalah keberadaan sang istri—Evelyn—yang tidak ia temukan di manapun. Padahal dari informasi yang ia dapat, wanita itu sudah keluar dari rumah sakit. Beberapa artikel juga dimuat mengenai kondisi super model yang baru saja tertimpa musibah tersebut.
“Pagi tadi Nyonya pergi bersama tuan Dimi ke bandara. Nyonya hanya berpesan jika ia akan melakukan pengobatan di luar negeri.”
Pria rupawan yang tengah mengoperasikan MacBook di tangannya itu menghela nafas gusar. Di hadapannya, supir pribadi sang istri tengah menjelaskan kemana sang istri pergi.
“Jadi dia sudah pergi pagi tadi?”
“Iya, Tuan. Saya sudah mencegah Nyonya Ev pergi dengan cara menawarkan pengobatan di Singapura. Tetapi, Nyonya menolak.”
__ADS_1
Darren mengurut pelipisnya untuk sejenak. “Ev pergi dengan siapa?”
“Saat saya mengantarnya, Nyonya hanya pergi bersama tuan Dimi dan asisten pribadinya,” ujar si supir memberi tahu. “Pagi tadi tuan Dean juga datang mencari Nyonya,” imbuhnya.
Darren mengernyitkan dahi mendengarnya. “Dean?”
“Iya, tuan. Tuan Dean pergi setelah menanyakan keberadaan Nyonya.”
Darren mengangguk paham, kemudian mempersilahkan supir pribadi istrinya pergi. Pria rupawan itu kemudian beranjak, berjalan mendekati sebuah aquarium besar yang berisi satu ikan kesayangan sang istri. Jenis ikan Arwana yang memiliki warna cantik nan eksotis itu tampak mencolok di dalam aquarium besar tersebut. Tidak ada hewan lain selain ikan yang diberi nama Emilio tersebut. Ikan kesayangan sang istri.
Di awal-awal menikah, Darren sempat kebingungan dengan kehadiran ikan tersebut. Evelyn menurutnya tipikal orang yang terlalu sibuk, hanya untuk mengurus seekor ikan. Namun, siapa sangka jika kecintaan istrinya pada Emilio sangat besar. Ikan itu bahkan memiliki maid pribadi yang akan menjaga, mengurus, dan memberinya makan saat si empunya tidak ada di rumah seperti saat ini. Di rumah ini, hanya Emilio lah yang menjadi teman Evelyn. Ikan itu akan selalu menjadi hal pertama yang Emily periksa saat menginjakkan kakinya.
Darren beralih pada laci dekat aquarium, tempat di mana Evelyn biasa menyimpan stok makanan Emilio. Ketika berhasil menemukan makanan hewan tersebut, Darren menaburkannya sedikit ke dalam aquarium. Menyaksikan Emilio menikmati makanannya tanpa suara. Akan tetapi, hewan bersisik itu tampak ogah-ogahan menikmati makanannya. Darren mengernyitkan kening melihatnya.
“Apa kau marah karena aku mengabaikan ibumu?” tanya Darren tanpa sadar.
Evelyn pernah berkata jika Emilio sudah seperti anaknya sendiri. Diana—ibu Darren—bahkan sempat menawarkan hewat peliharaan lain untuk Evelyn anggap sebagai hewan peliharaan kesayangan. Akan tetapi, wanita cantik itu menolak. Baginya Emilio sudah cukup.
“Ibumu pergi tanpa pamit. Apa dia sempat berpamitan kepadamu?” tanya Darren lagi.
Bohong jika ia tidak merasa bersalah. Mungkin kata ‘egois’ cocok untuk mendefinisikan sifatnya beberapa waktu ke belakang. Setelah mengetahui kondisi sang istri secara detail, Darren diserang rasa bersalah. Coba saja ia tidak egois, mungkin sekarang Evelyn masih ada di rumah ini. Wanita itu pasti pergi karena merasa kesal, entah kecewa.
“Darren?”
“Mama di si-“
Plak!
Darren menatap wanita yang melahirkarnya puluhan tahun lalu itu tanpa ekspresi. Sebelah tangannya terangkat, menyentuh pipinya yang baru saja ditampar.
“Mah, Darren—“
“Kemana saja kamu selama ini, Darren Aryasatya Xander?!” tanya Diana to the point. Melihat sang putra berdiri di hadapannya dengan keadaan sehat jasmani dan rohani, sekonyong-konyong tensi darahnya naik. “Apa kamu tahu istri kamu mengalami kecelakaan, sampai kakinya harus menggunakan gifs?”
“Darren tahu, Mah,” jawab si empunya nama datar.
Diana menatap putranya tajam. “Iya, tahu setelah hampir ½ dari orang-orang yang mengenal kamu mencari kamu kemana-mana.”
Darren menarik nafas dalam, kemudian menghelanya perlahan. Masih segar dalam ingatan ibunya marah karena Darren sempat membiarkan Evelyn menghadiri acara GALA seorang diri beberapa bulan belakangan. Sekarang, ibunya bahkan sanggup main tangan. Semarah itukah ibunya hanya karena ia telat mengetahui jika Evelyn masuk rumah sakit?
Ev memang sangat disayangi oleh Diana. Darren bahkan mulai beranggapan jika ibunya sekarang lebih menyanyangi menantunya, ketimbang darah daginganya sendiri. Kenapa demikian, semua itu karena Diana sejak dulu mendambakan Ev sebagai menantunya.
“Mama kecewa sama kamu, Darren.”
__ADS_1
Deg!
Darren merasa jantungnya diremat tak kasap mata. Dapat dihitung dengan jari berapa kali ia mengecewakan sang ibu. Mungkin beberapa kali, itupun sudah lama sekali. Kali ini, ia kembali menulai rasa kecewa di hati sang ibu.
“Mama kecewa sama sifat kamu yang lebih mementingkan pekerjaan. Apa kamu pernah peduli dengan perasaan Ev?” tanya Diana seraya menatap sang putra dengan sorot kecewa. “Jika kalian memiliki masalah internal, coba menghubungi ahlinya. Kalian bisa melakukan konseling untuk mencari jalan keluar. Mama mulai khawatir melihat hubungan kamu dan Ev yang semakin merenggang.”
Darren terhenyak mendengarnya. Apa ibunya tahu? Padahal ia dan Ev sudah berusaha semaksimal mungkin tampil seperti pasangan pada umumnya di halayak umum.
“Kamu pulang, tapi Ev pergi. Adakah di antara salah satu kalian yang sanggup mengalah? Mama tahu kamu sibuk, Darren. Tapi, cobalah mengalah. Ev selama ini selalu mengalah demi kamu. Tapi, kamu?”
Posisi Darren yang kembali dipertanyakan, membuat pria itu menatap sang ibu lekat. Ia bisa melihat jika sang ibu mulai mengendus sesuatu yang tidak beres di antara hubungannya dengan Evelyn. Itu tidak bisa dibiarkan!
Selama ini memang Ev yang lebih banyak berkorban dan mengalah. Wanita itu selalu berusaha menghadiri pertemuan keluarga, sekalipun ia sibuk dan akan mendapatkan berondongan pertanyaan jika hadir. Lain halnya dengan Darren yang lebih memilih mangkir dengan dalih pekerjaan.
“Darren akan berusaha lebih memahami Ev. Darren tahu Darren salah karena terlalu sibuk bekerja. Tapi, semua ini juga untuk Ev.”
“Untuk Ev? Ev tidak kekurangan materi sedikitpun. Ev sudah mandiri. Yang Ev butuhkan saat ini adalah perhatian dan kasih sayang dari suaminya.”
Darren mengangguk samar.
“Coba kamu kurangi jadwal kerja kamu. Sempatkan lebih banyak waktu untuk memperhatikan Ev.”
Diana berjalan mendekat ke arah putranya. Gemersik kain terbaik yang membalut tubuh mantan putri Indonesia itu terdengar cukup nyaring di telinga Darren. Sudah lama ia tidak berbicara dengan ibunya sendiri. Sekalinya memiliki kesempatan untuk bicara empat mata, ia malah mendapati kekeceawaan yang begitu besar.
Diana mengangkat tangan, menyentuh bekas tamparannya di wajah sang putra. “Cintai Ev, Darren. Mama tahu kalian belum saling mencintai.”
‘Mama tahu?’ Darren bertanya di dalam hati. Apa selama ini ibunya tahu jika ia dan Ev menikah didasari sebuah perjanjian?
“Kalian sudah bertahan selama ini. Jangan menghancurkan hubungan ini hanya karena kamu egois, Darren. Mama tidak mau kamu menyesal di kemudian hari. Di luaran sana banyak pria yang berlomba-lomba untuk memiliki istri seperti Ev. Dan kamu yang beruntung memiliki istri seperti Ev, jangan pernah menyia-nyiakannya.”
Bak ditampar untuk kedua kalinya oleh tangan tak kasap mata, Darren hanya bisa diam tanpa bereaksi. Akankah ia menyesal di kemudian hari seperti ucapan sang ibu? Entahlah. Untuk saat ini Darren hanya bisa menunggu dan membiarkan semua yang telah terjadi berlalu.
Ia menikahi Ev karena perjanjiannya dengan wanita itu. Jika ia mengingkari salah satu butir perjanjian mereka di kemudian hari, hal itu murni Darren lakukan karena ia merasa tidak lagi mendapatkan feedback. Akan tetapi, orang yang ingkar janji plus mengkhianati partner-nya pasti akan mendapatkan ganjaran double bukan? Akankah Darren juga mendapatkan ganjaran double?
“Mama tidak akan menginjakkan kaki di rumah ini lagi sebelum menantu Mama kembali,” tambah Diana. “Bawa istrimu kembali, Darren. Sebelum kamu menyesal.”
Darren mematung di tempatnya. Sebuah pertanyaan kemudian muncul di kepalanya, haruskan ia membawa Ev kembali? sedangkan wanita itu pergi karena menghindarinya.
...🥀🥀...
...Gimana? masih mau next? jangan lupa like, vote, komentar, share & follow Author....
...Sukabumi 05/12/21...
__ADS_1