
M77 🥀 : SAMA-SAMA MENERIMA KARMA-NYA
Suara tangisan seorang bocah laki-laki yang sedari tadi tidak mau lepas dari pelukan sang ibu terdengar sangat menyayat hati. Bocah berusia 5 tahun itu menangis tiada henti sembari memanggil-manggil satu nama.
“Perè ….hiks ….hiks….”
“Sudah schatz (sayang). Perè pasti baik-baik saja. Kita percayakan semuanya pada Tuhan dan dokter yang sedang membantu Perè-nya Dan di dalam.”
Dengan lemah bocah laki-laki itu mengangguk. Sang ibu dengan sabar menepuk-nepuk punggung putranya pelan. Mencoba menenangkan sang buah hati. Sudah empat puluh menit berlalu, dan belum ada tanda-tanda dokter atau suster keluar dari pintu bercat hijau di depan sana. Mereka yang menunggu dibuat risau tak berujung.
“Mère, Perè-nya Dan akan baik-baik saja, kan?” pertanyaan yang sama kembali terlontar dari bibir yang sedari tadi mengeluarkan isakan tersebut.
Dengan sayang sang ibu membawa sang putra lebih erat ke dalam pelukan. Seraya berbisik, “berdo’a. Hanya itu yang bisa kita lakukan sekarang.” Dikecupnya pucuk kepala sang putra sayang. “Berdo’alah schatz (sayang). Supaya Tuhan memberikan keselamatan kepada Perè.”
Bocah lelaki itu mengangguk dengan gerakan lemah. Tak lama kemudian samar-samar terdengar do’a yang keluar dari bibir mungilnya. “Ya Allah, tolong Perè-nya Dan. Tolong selamatkan Perè. Dan sedih lihat Perè terluka. Perè-nya Dan harus sembuh supaya bisa peluk Dan. Dan mau dipeluk Perè. Dan mau main kejar-kejaran sama Perè. Dan juga mau ke sekolah diantar sama Perè, kayak teman-teman Dan. Jadi tolong selamatkan Perè-nya Dan. Jangan ambil Perè-nya Dan. Jangan. Dan enggak mau jauh dari Perè lagi.”
Do’a yang dilantunkan dengan tulus oleh bocah lelaki yang belum pernah dipeluk oleh ayah biologisnya itu kontan membuat orang lain yang ada di sekitarnya merasakan kesedihan. Mereka tidak sendiri di sana, ada pasangan suami-istri dari keluarga Xander. Siapa lagi jika bukan Dazen Xander dan Diana Xander yang tengah meratapi nasib naas yang menimpa putra semata wayangnya. Ada juga Deesy Wijaya, Dean Wijaya, dan Dimi—manager Ev.
Mereka semua berkumpul di sana pasca mendapat informasi jika Darren Aryasatya Xander mengalami kecelakaan hebat. Beberapa menit yang lalu pihak yang berwajib juga baru saja pergi setelah meminta klarifikasi. Dugaan sementara kecelakaan yang menimpa pengusaha muda itu karena dipicu oleh rem blong dan pelanggaran lalu lintas. Sebab mobil yang dikendarai oleh korban terekam CCTV menerobos traffic light yang tengah menyala ke warna merah. Sedangkan dari arah berlawanan datang sebuah kendaraan yang remnya blong. Kendaraan roda empat jenis mobil box double itu sudah berulang kali membunyikan klakson saat melintas. Namun, Darren tidak mengindahkan hal tersebut karena berkendara dengan kondisi tidak konsentrasi.
“Ev, biar aku yang menggendong Dan. Kamu pasti capek.”
Sebuah suara familiar yang berasal dari samping membuat wanita cantik yang menggunakan sleeveless A-line mini dress yang dibuat dari bahan wol dan sutra dari Louise Vuitton, dipadukan dengan outher berwarna hitam itu menoleh.
Suara sang putra yang tadi menangis tersedu-sedu kini tidak terdengar lagi. Ternyata bocah laki-laki itu tertidur. Mungkin karena kelelahan menangis. Sebelum datang ke rumah sakit, anak itu juga excited sekali saat berada di D’EV menemani ibunya bekerja. Padahal awalnya Dan malu-malu. Namun, seiring berjalannya waktu anak itu mulai beradaptasi dengan lingkungan kerja sang ibu.
“Tidak apa-apa, D. Aku bisa menanganinya,” tolak Ev halus.
Pria rupawan dalam rengkuhan setelan formal itu mengangguk seraya tersenyum tipis. Interaksi tersebut tak luput dari pantauan sepasang suami-istri bermarga Xander. Di satu sisi mereka bersyukur karena hubungan Ev dan Dean semakin membaik. Terlebih lagi Dean juga kelihatan sangat menyayangi Dean. Sebelum terlelap dalam pelukan sang ibu, cucu mereka juga sempat ditenangkan oleh pria itu. Dari sanalah mereka melihat betapa sabarnya putra keluarga Wijaya itu menangani cucu mereka. Di sisi lain mereka juga merasakan kesedihan untuk putra mereka yang bisa dikatakan bodoh juga malang.
Bodoh karena telah menelantarkan putra biologisnya sendiri, dan malang karena posisinya di hati sang putra tersaingi oleh pria lain. Semua itu kembali kepada sikap sang putra yang selalu over thinking, emosional, plin-plan, dan gegabah. Pasangan suami-istri itu jadi bertanya-tanya, bagaimana sakitnya jika sang putra melihat kedekatan putra biologisnya dengan pria lain? Sang cucu bahkan terlihat sangat dekat dengan pria tersebut.
“Keluarga pasien bernama Darren Aryasatya Xander?”
Seorang pria yang mengenakan APD lengkap baru saja keluar dari pintu bercat hijau yang mereka tunggu-tunggu. Saat berkata demikian, mereka yang ada di sana dengan cepat mendekat.
“Kami orang tuanya,” jawab Dazen Xander.
“Bagaimana kondisi putra kami, dok?” tanya Diana, tidak kalah cepat.
Pria berkacamata itu menghela napas pelan sebelum menjawab, “kami hampir kehilangan pasien.”
Bak disambar petir di siang bolong, mereka yang ada di sana dibuat terkejut bukan main oleh pernyataan dokter.
__ADS_1
“Maksud Anda apa, dok?” Ev mendekat dengan cepat. Masih dengan kondisi Dan berada dalam gendongan, tidak membuat ibu satu anak itu kesulitan bergerak. Bohong jika pernyataan dokter barusan tidak membuatnya terkejut. “Tapi Darren baik-baik saja bukan? Darren bukan tipikal orang yang mudah menyerah, sesakit apapun luka yang dia dapatkan. Darren pasti berhasil menanganinya.”
Dokter berkacamata yang memiliki alis tebal itu tersenyum tipis mendengarnya. “Anda pasti istri pasien?” tebak si dokter.
Ev terhenyak mendengarnya. “Saya—“
“Iya. Sebelumnya dia istri pasien. Tapi sekarang sudah bukan.”
Kalimat Ev yang belum rampung menjawab pertanyaan dokter tersebut sudah terlebih dahulu dipotong oleh Dean. Bukannya merasa bersalah, Dean malah menganggap ini tindakan yang benar guna meluruskan masalah. Sekali pun tindakannya ini agak menohok hati orang tua mantan suami Ev.
Dokter bermata sipit itu mengangguk paham. “Kami sempat kehilangan kesempatan untuk menyelamatkan pasien karena pasien mengalami death brain.”
“Death brain?” ulang Diana Xander, tidak percaya. Dua kata itu berhasil memukul batinnya, karena dulu putri tercintanya juga sempat divonis mengalami death brain. Sebelum akhirnya menghembuskan napas terakhir karena otaknya tidak dapat kembali bekerja, hingga mengakibatkan komplikasi pada beberapa organ.
Dokter itu mengangguk. “Seperti arti katanya, death brain berarti kematian otak. Kondisi ini terjadi karena otak tidak lagi dapat melakukan fungsinya secara optimal atau dapat dikatakan mati. Death brain dapat terjadi karena suplai darah atau oksigen ke otak berhenti. Kerusakan otak secara permanen akan dimulai setelah 4 menit tidak mendapatkan suplai oksigen. Diikuti oleh kematian.” Penjelasan dokter tersebut lagi-lagi berhasil membuat mereka semua tercekat. “Namun, atas kehendak Tuhan, kami ternyata berhasil mengembalikan detak jantung pasien,” lanjutnya. Kalimatnya itu bak angin segar bagi mereka yang mendengarkan.
“Saat ini pasien masih belum sadarkan diri. Pasien baru bisa dijenguk setelah dipindahkan ke ICU.” Dokter itu tersenyum kecil sembari mengistirahatkan kedua tangannya di dalam saku.
“Akan tetapi masih ada yang harus diwaspadai. Pasalnya luka di kepala dan tubuh bagian bawah pasien cukup fatal. Kami masih menunggu pasien pulih untuk melakukan pemeriksaan lanjutan.”
“Apa yang harus kita waspadai lagi dok? Bukannya kondisi Darren sudah jauh lebih baik? Dia berhasil melewati masa kritis bukan?” tanya Ev retoris.
“Iya, pasien sudah melewati masa kritis. Namun, pasien bisa saja jatuh koma, mengalami dislokasi tulang leher dan menjadi lumpuh, atau mengalami spinal cord injury akibat trauma pasca kecelakaan.”
Ev yang mendengar kalimat itu tentu terkejut bukan main. Tubuhnya yang tersentak secara tiba-tiba hampir terhuyung ke belakang karena kehilangan kekuatan pada tubuhnya. Untung saja Dean yang berdiri tidak jauh dari wanita itu dengan sigap memeluk bahunya. Memberikan kekuatan eksternal lewat tindakan tersebut.
Koma, mengalami dislokasi tulang leher dan menjadi lumpuh ataupun spinal cord injury bukanlah kondisi yang bisa dikatakan biasa saja. Tidak jarang orang yang mengalami koma, tidak pernah bangun lagi hingga akhir hayatnya. Sedangkan spinal cord injury merupakan cidera tulang punggung akibat kerusakan pada sumsum tulang belakang. Penyakit ini tergolong ke dalam jenis penyakit trauma fisik yang sangat sehingga memiliki dampak permanen dan signifikan. Hingga saat ini spinal cord injury belum dapat disembuhkan.
“Ev, tenang. Darren pasti baik-baik saja,” lirih Dean menenangkan.
“Darren ….tidak mungkin jatuh koma, mengalami kelumpuhan, apalagi mengalami spinal cord injury, kan, D?” tanya Ev dengan suara tercekat.
“Darren pasti pasti baik-baik saja. Kamu tahu sendiri jika dia adalah pria yang tangguh.”
“Aku takut, D.”
“Takut? Apa yang harus kamu takuti, Ev? ada aku di sini, jangan takut. Darren pasti baik-baik saja, percaya padaku.”
“Aku…..” Ev tidak dapat meneruskan kalimatnya. Rasanya sulit menerima pernyataan dokter yang secara tidak langsung menjelaskan betapa buruk kondisi mantan suaminya.
“Saat ini kami tengah mengupayakan penanganan terbaik untuk pasien,” kata dokter itu lagi. “Selain itu berdo’a juga dapat membantu. Karena keajaiban adalah kuasa Tuhan.”
Setelah berkata demikian, dokter itu pamit undur diri. Meninggalkan keluarga pasien yang masih diliputi rasa tak menentu. Diana Xander bahkan sudah tidak sanggup berdiri karena tubuh wanita paruh baya itu lema seketika. Untung saja ada Dessy Wijaya—ibu Dean—yang memberikan dukungan moril kepadanya. Bagaimana pun juga Dessy Wijaya tahu jika kelemahan seorang ibu adalah buah hatinya. Jika ada sesuatu yang terjadi pada seorang anak, maka seorang ibu adalah pihak yang paling terluka.
__ADS_1
Di sisi lain, seorang pria berbadan tegap tengah berjaga di depan pintu bercat hijau dengan perasaan cemas. Seharusnya dia tidak berjaga di depan ruangan operasi tersebut, namun perintah secara tidak langsung turun, membuatnya tertahan di tempat ini. Di dalam sana wanita majikannya tengah menjalani operasi setelah sempat terkendala perizinan dari pihak wali pasien.
“Tuan, bagaimana kondisi tuan Darren?” tanyanya saat matanya menangkap siluet familiar mendekat.
“Buruk,” jawab pria berkacamata itu mendekat.
Elgara—pria berbadan tegap yang sedari tadi berjaga itu menghela napas berat. Dia memang ikut risau kala mendengar sang atasan mengalami kecelakaan hebat saat dalam perjalanan menuju ke sini.
“Darren masih belum siuman hingga saat ini. Untuk sementara waktu, perintah ditangguhkan.”
Pria yang sebenarnya masih dalam masa recovery itu berujar dengan raut datar. Dia memang sudah diminta resign dari posisinya sebagai sekretaris oleh sang istri. Namun, dia tidak dapat lepas tanggung jawab begitu saja. Oleh karena itu Darren tetap menjalankan tugasnya—menggantikan sang atasan yang saat ini sedang berjuang hidup mati.
“Wali pasien?”
Seorang suster yang baru saja keluar dari pintu yang Elgara jaga tiba-tiba bertanya demikian. Membuat Elgara menyambutnya dengan kening bertaut.
“Ya. Ada apa, sus?”
“Pasien mengalami pendarahan hebat saat melakukan operasi. Karena pendarahan itu pasien kehilangan banyak darah. Saat ini kami membutuhkan donor darah yang cocok dengan pasien, karena stok golongan darah pasien sedang kosong. Pihak rumah sakit juga sudah berkoordinasi dengan PMI terdekat. Namun, golongan darah pasien sedang kosong,” papar suster tersebut.
“Memangnya apa golongan darah pasien?” tanya Elgara.
“AB negatif. Golongan darah ini termasuk golongan darah yang langka.”
Elgara tercengang mendengarnya. Dia sendiri golongan darah O positif. Sedangkan AB negatif tidak dapat menerima transfusi darah dari golongan darah tersebut. “Baik. Saya akan berusaha mencari donor darah tersebut.”
Suster itu mengangguk, kemudian pamit undur diri. Meninggalkan Elgara dan Damian yang sedari tadi hanya diam dan mendengarkan.
“Saya harus pergi tuan. Saya harus mencari donor darah—“
“Mungkin ini karma dari-Nya,” gumam Damian tanpa sadar. Memotong kalimat Elgara. Dia baru saja mendudukkan dirinya di atas kursi tunggu.
“Maksud tuan?”
“Dia sudah terlalu banyak menginginkan sesuatu yang bukan miliknya.” Darren tersenyum tipis setelah berkata demikian. “Tuhan tidak pernah tidur. Tuhan tahu apa saja yang wanita bertampang polos itu lakukan semenjak datang ke kota ini. Ini mungkin balasan atas semua perbuatannya. Dia dan Darren akhirnya sama-sama mendapatkan karma-Nya.”
Damian kemudian melirik bodyguard sang atasan dengan tatapan intens. “Sejauh apapun kamu ingin terlibat untuk menyelamatkannya, dia tidak akan bisa menghindari karma dari-Nya.”
🥀🥀
TBC
GIMANA BUAT PART INI? MAU LANJUT? TERSISA BEBERAPA PART LAGI. KALAU MAU DOUBLE UP, RAMAIKAN KOLOM KOMENTAR ❤️
__ADS_1
JANGAN LUPA LIKE, VOTE, KOMENTAR, FOLLOW AUTHOR & SHARE ❤️
Sukabumi 09/05/22