Berbagi Cinta: Mistress (Wanita Simpanan)

Berbagi Cinta: Mistress (Wanita Simpanan)
EXTRA PART : PERIKSA KANDUNGAN


__ADS_3

EXTRA PART : PERIKSA KANDUNGAN


“Nyonya Evelyn Xander, silahkan masuk.”


Sepasang suami istri yang menjadi satu-satunya penunggu di depan poli kandungan itu kompak mengangkat kepala.


“Ayo sayang, sudah waktunya kamu chek up,” kata si suami seraya menggenggam tangan istrinya.


Sang istri kontan tersenyum congkak, tentu saja gilirannya chek up kandungan karena tempat ini sudah di-booking secara keseluruhan oleh suaminya. Alhasil para ibu hamil yang hendak berkonsultasi atau chek up harus dialihkan ke jam berikutnya.


“Silahkan duduk,” sapa si pemilik ruangan saan Ev dan Darren memasuki ruangan prakteknya. “Ada yang bisa saya bantu?” tanyanya formal, padahal biasanya jika mengobrol dengan Ev saja dia menggunakan bahasa ‘lo-gue’ yang non-formal.


Ev mengeluarkan sesuatu dari dalam tas yang dia bawa. “Aku udah telat datang bulan semenjak satu bulan yang lalu. Kemarin aku coba cek pakai tes pack dan semua hasilnya positif. Aku juga sempat periksa di KL, sekarang aku ke sini mau pemeriksaan lebih lanjut sekaligus minta kamu jadi dokter kandungan pribadi aku.”


“Wah, congrats!” seru Wanita yang berprofesi sebagai Obstestric and gynecology (Obgyn) atau dokter kandungan itu. “Awalnya aku kira kalian datang untuk konsultasi promil atau program kehamilan, sampai repot-repot booking satu poli. Ternyata eh ….ternyata….” Deesa tak kuasa menahan senyum, karena ikut merasa bahagia atas kehamilan Ev.


Ev tersenyum menanggapi ucapan sang sahabat. Begitu pula Darren. Pria rupawan yang hari ini tampil dengan outfit semi formal itu diam-diam sedang menenangkan detak jantungnya yang tidak beraturan. Dia masih agak tidak menyangka jika Tuhan begitu berbaik hati memberinya keturunan secepat ini.


“Ada beberapa pertanyaan yang harus kamu jawab sebelum kita melanjutkan pemeriksaan.”


Ev mengangguk paham. Saat periksa kehamilan untuk pertama kali, biasanya memang dokter mengajukan beberapa pertanyaan. Biasanya meliputi riwayat kesehatan ibu hamil dan keluarga, tekanan darah, tinggi badan, berat badan, tanggal terakhir siklus haid, pemeriksaan payudara, pemeriksaan leher rahim atau ser—viks, program Keluarga Berencana yang dijalani, obat-obtan yang sedang dikonsumsi, riwayat alergi obat, juga beberapa pertanyaan lain. Dari sesi tanya-jawab tersebut, Ev atau Darren—sebagai calon orang tua baru—juga diperbolehkan memberikan pertanyaan pada dokter terkait informasi yang ingin diketahui.


“Sekarang kita cek baby-nya dulu.”


Ev mengangguk meng-iyakan. Sedangkan Draren memilih diam membisu semenjak memasuki ruangan tersebut. Pada di dalam hati, pria itu sangat excited sekali. Hal pertama yang dilakukan Darren pasca Ev memberikan kado berupa hasil USG dan test pack dengan tanda positif adalah mencari dokter kandungan terbaik untuk menjadi dokter pribadi sang istri. Ev kemudian mengusulkan Deesa—sang sahabat—karena tahu jika sahabatnya itu juga memiliki kemampuan yang mumpuni. Jadi sekarang mereka di sini untuk melakukan pemeriksaan kandungan. Pemeriksaan ini bertujuan untuk mengetahui kondisi ibu dan kandungannya.


“Nah, ini rahim tempat baby kalian untuk tumbuh dan berkembang. Ketebalan rahim Ev juga bagus, jadi tidak ada yang perlu dikhawatirkan.” Deesa berujar seraya menunjuk gambar di layar monitor.



Saat ini mereka sedang melakukan USG kehamilan untuk melihat tumbuh kembang janin melalui gambar yang ditampilkan oleh layar monitor.


“Dan ini baby kalian. Ukurannya sekitar 0,6 cm. Lebih kecil dari sebutir nasi.”


Ev dan Darren kompak menatap ke arah monitor yang memperlihatkan buah cinta mereka yang ternyata sudah berumur 5 minggu—dihitung dari tanggal terakhir siklus haid. Ukurannya memang baru sekitar 0,6 cm atau lebih kecil dari sebutir nasi. Namun, baik Ev maupun Darren sama-sama bisa merasakan kebahagian luar biasa saat melihat hasil dari keringat dan kerja keras mereka di usia muda telah membuahkan hasil.


“Darren, kamu lihat itu, ‘kan?” lirih Ev, terharu. Air mata tanpa sadar sudah merembes di sudut mata.


“Iya, sayang. Aku lihat. Our baby ada di sana. Di dalam perut kamu,” balas Darren seraya membawa punggung tangan Ev untuk dia cium.


Darren benar-benar tidak bisa menggambarkan perasaannya dengan kata-kata. Dia senang. Dia bahagia. Dia bersyukur. Dia terharu.


“Pada usia ini, seorang ibu hamil akan mulai mengalami gejala kehamilan, seperti mudah lelah, membesarnya payudara, hingga peningkatan hormon HCG yang menyebabkan seorang ibu hamil berhenti menstruasi,” tutur Deesa menjelaskan. Sahabat dekat Ev itu ikut merasakan kebahagiaan sahabat dan suaminya yang akan segera menjadi orang tua.


“Kondisi ibu dan janinnya sehat. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan,” kata Deesa saat mereka sudah selesai melakukan USG kehamilan dan serangkaian tes lain.


“Nanti setiap mau chek up jangan lupa bawa buku ini.” Deesa menyodorkan sebuah buku dengan sampul berwarna merah jambu. Buku yang biasanya diberikan saat pertama kali periksa kehamilan. “Ini namanya buku KIA atau buku kesehatan ibu dan anak. Buku ini sangat penting, karena mencakup informasi tentang awal kehamilan hinga anak berusia 6 tahun. Buku ini juga sebagai media komunikai antara tenaga kesehatan dengan ibu hamil, balita, dan keluarga. Buku KIA juga berfungsi sebagai catatan kesehatan ibu hamil dan balita.”


Ev mengangguk paham. Dia kemudian mengambil buku yang sudah diisi namanya di sampul buku tersebut.


“Ada yang mau ditanyakan lagi? Mungkin Anda, tuan Darren selaku calon ayah ingin bertanya?” tanya Deesa. Sebenarnya dia tidak terlalu suka apalagi akrab dengan suami Ev ini, namun karena sekarang Ev sedang berbadan dua karena ulahnya, Deesa harus berbaik hati. Lagi pula sang sahabat juga terlihat sangat bahagia semenjak dinikahi oleh putra Xander tersebut.

__ADS_1


“Hm, bagaimana dengan hubungan seksual? Apa itu berbahaya jika dilakukan dalam kondisi saat ini?”


Rahang Ev nyaris jatuh ke lantai saat pertanyaan pertama yang keluar dari mulut suaminya adalah pertanyaan tersebut. Sedangkan Deesa yang sudah biasa mendapati pertanyaan tersebut dari calon-calon ayah lain di luar sana, hanya bisa menyunggingkan senyum tipis. Sudah bukan rahasia umum lagi.


“Memangnya enggak ada pertanyaan yang lebih penting, ya?”


“Itu juga penting sayang. Aku butuh eduksi untuk dijadikan solusi,” jawab Darren enteng. Membuat sang istri mengerucutkan bibir layaknya anak kecil yang tengah sebal. Hal itu malah membuat Darren gemas.


“Saya sangat paham maksud dari pertanyaan Anda. Kehamilan sebenarnya bukan penghalan untuk berhubungan badan. Asalkan dengan catatan kondisi kandungan ibu sehat dan kuat. Sebenarnya ibu hamil juga tidak perlu takut berhubungan badan, karena banyak proteksi alami dalam tubuh ibu yang dapat membantu melindungi bayi, seperti cairan ketuban, otot-otot dalam rahim, dan lender tebal yang menutupi leher rahim.” Deesa tersenyum tipis seraya membuka buka KIA yang dia ambil dari dalam laci meja kerjanya.


“Kendati demikian, ibu harus tahu kapan diperbolehkan berhubungan badan saat hamil, karena sper—ma mengandung senyawa prostaglandin yang menyebabkan kontraksi dan dapat memicu keguguran. Perihal apa saja yang dianjurkan dan tidak dianjurkan bagi ibu hamil juga sudah tertuang di dalam buku KIA secara lengkap. Kalian berdua bisa membacanya dikala waktu senggang.”


Darren mengangguk paham dengan senyum yang mengembang di bibir. Dia kira wanita hamil tidak dapat diajak yang iya-iya karena berbahaya. Ternyata boleh. Dengan catatan kondisi ibu dan kandungannya sehat dan kuat. Darren akan mengingat itu. selain pertanyaan satu itu, Darren juga melontarkan beberapa butir pertanyaan lagi seputar gejala morning sickness, apa yang baik dan tidak baik bagi ibu hamil, sampai kelas yoga dan olahraga yang dianjurkan bagi ibu hamil.


“Nanti aku suruh Damian untuk mendaftarkan kita ke kelas yoga khusu ibu hamil yang paling bagus.” Pria rupawan itu berujar seraya menjatuhkan kecupan kesekian di pucuk kepala sang istri.


“Iya.”


“Habis ini aku juga mau surur bi Surti buat bersihkan isi lemari pendingin, agar bisa diisi oleh bahan makanan yang baru.”


“Iya.”


“Kita juga harus memberitahu keluarga kita soal kabar bahagia ini secepatnya.”


Ev kembali menggumamkan kata ‘iya’ untuk kesekian kalinya. Entah kesurupan jin poli kandungan atau apa, setelah keluar dari ruang praktek Deesa, Darren jadi cerewet. Pokoknya hilang sudah image irit bicara yang selama ini melekat pada CEO muda tersebut.


Ev juga sempat sebal karena saat keluar dari poli kandungan, para ibu-ibu hamil yang sudah mengantre berebut minta tanda tangan dan foto pada sang suami. Katanya biar calon anak mereka ketularan tampan. Dan ajaibnya, sang suami mau memenuhi permintaan tersebut dengan dalih permintaan seorang ibu hamil itu sukar ditolak.


Ev menggeleng sebagai jawaban.


“Terus kenapa? Jangan begini, aku enggak biasa menghadapi kamu yang seperti ini.”


Ev mengalah. Baik Darren yang coolkas ataupun yang banyak bicara tetap lah sama. Pria yang dia cintai. Pria yang tidak dapat Ev musuhi lama-lama. “Dari kemarin kamu sudah mengurus segalanya, mas. Seharusnya kamu bisa bersantai sedikit, jangan terburu-buru. Lagi pula aku juga bisa mengurusi kebutuhanku sendiri.”


“Masalahnya sekarang kamu tidak sendiri sayang. Itu berarti kebutuhan kamu juga jadi bertambah. Aku sebagai seorang suami tentu harus memperhatikan itu.”


“Iya, sih. Tapi—“


“Wait,” potong Darren tiba-tiba.


“Kenapa?”


“Tadi kamu bilang apa sayang?”


“Yang mana?” bingung Ev. “Soal aku bisa mengurusi kebutuhanku sendiri?”


“Bukan, bukan yang itu.” Darren menggelengkan kepala. “Tadi kamu panggil aku apa hm?”


Ev tertegun untuk sejenak. Sadar maksud dari pertanyaan sang suami mengarah ke mana, Ev kontan bersemu merah. “Sudah seharusnya aku panggil kamu begitu. Kamu, kan, suami aku.”


“Panggil apa hm?”

__ADS_1


“Mas,” ucap Ev dengan suara kecil.


“Gak kedengeran sayang?” goda sang suami semakin gencar.


“Pendengaran kamu masih sehat ya, mas Darren. Jangan bikin aku bad mood,” rajuk Ev pada akhirnya.


Darren tertawa puas karena berhasil membuat sang istri merajuk. “Lihat, sekarang bunda kamu sedang merajuk.” Kata Darren seraya mengelus perut sang istri yang masih ramping. “Gengsi kayaknya panggil ayah dengan embel-embel ‘mas’. Padahal itu terdengar manis sekali di telinga ayah.”


“Berhenti ngadu sama dia ya, mas. Lagian dia belum bisa dengar suara kamu.”


“Jangan panggil bayi kita dengan sebutan ‘dia’ dong sayang. Kesannya kayak gimana gitu.”


“Terus kita panggil dia apa?”


“Hm. Gimana kalau kita panggil dia dengan sebutan Dan?”


“Dan?”


Darren mengangguk dengan senyum lepas di bibir. “Dan itu kata konjungsi alias kata penghubung yang paling umum digunakan.”


“Apa hubungannya sama bayi kita?” bingung Ev.


“Dengarkan sampai selesai dulu,” lanjut Darren seraya mencuri satu kecupan di bibir ranum sang istri. “Dan itu kata penghubung yang menghubungkan dua kata berbeda agar menjadi satu kalimat yang kompleks. Nah, bayi kita juga begitu, kan? Menjadi perantara. Penghubung di antara cinta kita sehingga menjadi semakin kompleks.”


Darren menatap sang istri lekat. Wajah cantik itu tampak selalu berhasil membuat hatinya menghangat dalam setiap kesempatan. “Selain itu ada alasan lain kenapa aku mau bayi kita disebut Dan.”


Kening Ev mengernyit mendengar ucapan sang suami. “Alasan lain?”


“Hm,” gumam Darren seraya menjatuhkan satu kecupan di kening sang istri. “Asal kamu tahu, aku selalu ingin memberikan yang terbaik untuk kamu dan buah cinta kita. Jadi kamu tidak perlu khawatir. Aku akan memastikan jika kalian selalu mendapatkan yang terbaik dari segi apapun.”


Ev mengangguk. Dia tidak melihat kebohongan di wajah tampan sang suami. Pria itu bersungguh-sungguh dengan ucapannya, dan Ev percaya akan hal tersebut. Karena sejauh mereka mengarungi bahtera rumah tangga selama ini, Darren selalu memperlakukan Ev dengan sangat baik.


Pria rupawan itu juga bahkan tak segan mengelontorkan uang berapapun jumlahnya untuk menunjang kebutuhan dan mobilitas sang istri. Katakanlah Darren memang suami yang royal, yang membuat banyak wanita iri terhadap posisi Ev. Namun, Ev menganggap ini sebagai sebuah balasan. Balasan dari kesabarannya mendapatkan cinta seorang Darren Aryasatya Xander yang dulu sangat sulit digapai.


Tanpa mereka berdua sadari, sedari tadi ada sepasang bola mata yang menatap keduanya dengan tatapan sendu. Niat hati ingin chek up kesehatan seperti biasa pasca perjalanan bisnis yang cukup panjang dan melelahkan, dia malah dipertemukan dengan wanita yang sangat dia cintai bersama sang suami. Wanita yang juga telah membuat hatinya hati sejadi-jadinya.


Yang semakin membuatnya sesak adalah tatapan cinta dari sang suami. Dilihat dari segi manapun, mereka tidak terlihat seperti pasangan hasil perjodohan. Mereka terlihat sangat bahagia dan saling mencintai, seperti pasangan kekasih yang menikah dan berhasil membangun rumah tangga impian yang mereka inginkan.


Sembari menyentuh pusat sesak di dadanya, pria rupawan bermarga Wijaya itu berkata. ”Witing tresno jalaran soko kulino. Sepertinya itu adalah kalimat yang cocok untuk menggambarkan kondisi hubungan kalian saat ini.” Bibir pria rupawan itu tersenyum miris. ”Setidaknya aku bisa ikhlas melepaskan kamu karena kamu sekarang berada di tangan pria yang tepat. I'll be happy if you're happy too, Ev (aku akan senang jika ku bahagia, Ev).”


🌼🌼


Panel terakhir munculnya sad boy 🥲


Ada yang mau melamar jadi pasangan D Wijaya? yuk, drop CV kalian 😂


Jangan lupa spam bunga sekebon 🌼🌻🏵️💮🌸🌷🌺🥀🌹💐 like, vote, komentar follow Author & share ❤️


Sumber : Halodoc


Sukabumi 06/06/22

__ADS_1


__ADS_2