Berbagi Cinta: Mistress (Wanita Simpanan)

Berbagi Cinta: Mistress (Wanita Simpanan)
EXTRA PART : TAKDIR YANG LEBIH BAIK


__ADS_3

EXTRA PART : TAKDIR YANG LEBIH BAIK


“Yakin masih di jalan, Dam? Gue udah nunggu berjam-jam loh?”


Pria rupawan dengan ciri khas tindik di telinga itu kembali berkoar-koar pasca menghabiskan kentang stacks yang dia pesan tiga puluh menit yang lalu. Dia juga sudah menghabiskan dua gelas jus pesanannya.


“Saat saya menghubungi beliau, katanya memang sedang diperjalanan menuju ke sini.”


“Halah, bullshit!” sewot pria bernama Dewangga yang sudah dibuat menunggu berjam-jam lamanya.


Damian yang menjadi lawan bicaranya hanya bisa menghela napas. Lagi pula begitu informasi yang dia dapatkan.


“Kalian menunggu lama?”


Finally, suara dari orang yang mereka tunggu pada akhirnya terdengar juga. Membuat keduanya kompak menoleh.


“Lo ngaret amat!” protes Dewangga. “Terus ada apa sama gaya berpakaian lo hari ini?” lanjutnya dengan mata menyipit.


Pria rupawan yang baru saja bergabung itu tersenyum tipis. Di antara yang lain, hanya dia yang hadir dengan pakaian non-formal. Kaus polos berwarna hitam berlengan pendek, dipadukan dengan celana olahraga panjang, sepatu olahraga, juga topi hitam dan kacamata hitam yang ikut menunjang penampilannya. Para pengunjung berjenis kelamin perempuan bahkan dibuat terpana saat dia memasuki kawasan tersebut.


“Gak sempat ganti baju, habis nganterin istri langsung ke sini.”


Namun, ekspetasi para pengunjung berjenis kelamin perempuan itu tidak dapat bertahan lama karena langsung dipatahkan oleh perkataan tersebut.


“Memangnya lo dari mana? Kita dari tadi nungguin lo di sini!”


Pria rupawan bermarga Xander itu tersenyum tipis. “Menghadiri kelas senam khusu ibu hamil.”


Dewangga kontan menganga mendengarnya. “Terus lo ngapain di sana kalau itu kelas khusus ibu hamil? Mantengin istri lo?!”


“No,” jawab Darren seraya menggeleng. “Aku ikutan kelas itu.”


“HAH?!” Dewangga shok mendengarnya. “Gila, udah bucin kuadrat lo? Sampai-sampai mau aja disuruh ikutan senam bumil. Kalau gue sih kagak mau”


Sedangkan Damian hanya bisa menahan tawa melihat ekspresi shok Dewangga. Dia sudah tahu mengenai kegiatan sang atasan yang satu ini. Karena Damian sendiri yang bertugas mencari tempat hingga instruktur untuk agenda mingguan yang rutin dilakukan istri atasannya itu.


“Menemani istri menghadiri senam hamil itu memiliki banyak manfaat, di antaranya memahami cara mengatur napas yang baik saat melahirkan, supaya aku sebagai suami bisa mengingatkan dan memotivasi Ev dengan benar saat melewati proses persalinan nanti. Selain itu, bermanfaat untuk melatih diri untuk lebih siap, juga dapat membangun hubungan yang lebih hangat antara suami-istri.”


Dewangga melongo mendengar penjelasan itu. “Gitu ya?”


Darren mengangguk dengan mantap. “Masih banyak lagi manfaat yang dapat diperoleh. Intinya, kegiatan ini jangan kalian lewatkan saat sudah memiliki istri dan calon anak kelak,” pesan Darren.


Damian mengangguk enteng, sedangkan Dewangga tampak garuk-garuk kepala. Selama kabar bahagia tentang kehamilan buah cinta pertama Darren dan Ev, Damian dan Dewangga adalah saksi mata paling utama. Mereka yang paling tahu betul perubahan-perubahan sikap Darren Aryasatya Xander semenjak sang istri berbadan dua. Misalnya dalam urusan pekerjaan, Darren yang dulu selalu mengutamakan pekerjaan, kini menduakan nya semenjak menikah. Darren juga semaksimal mungkin menyelesaikan pekerjaannya sampai jam 18.00 agar dapat pulang lebih awal untuk dinner bersama sang istri. Jika memiliki waktu luang, Darren juga akan pulang ke rumah saat jam makan siang. Dia juga tidak pernah membawa pekerjaan ke rumah, karena bagi Darren jika sudah berada di rumah, maka waktunya adalah milik sang istri.


“Maaf atas keterlambatannya. Apa bisa kita mulai rapatnya?”


Nah, satu lagi yang berubah dari Darren semenjak menikah dengan Ev adalah tak sungkan meminta maaf jika dia melakukan kesalahan. Semua itu berkat nasihat sang istri yang selalu Darren tanamkan di dalam kepala.


“Sudahlah, tidak perlu diperpanjang,” kata Dewangga pada akhirnya. “Gue paham gimana excited nya lo mau jadi papa muda. Gue juga sebenarnya agar ….iri.”


“Iri?” Darren dan Damian sama-sama berkata dalam waktu bersamaan.


“Hm.” Dewangga menghela napas gusar. “Cewek gue belum bisa diajak serius karena mau lanjut sekolah fashion di Milan. But, gue rasa ini cuma akal-akalan dia aja buat ngehindar dari komitmen yang coba gue bangun. Cewek gue juga pernah nanya-nanya soal childfree. Dia minta pendapat gue soal pemahaman tersebut.”

__ADS_1


“Childfee itu bukannya pemahaman yang dianut orang-orang yang tidak ingin memiliki keturunan?”


Dewangga mengangguk. “Lo tau sendiri, kan, Dam, gimana cewek gue?”


Kini giliran Damian yang mengangguk.


“Gue sayang sama dia, tapi dianya yang gitu sama gue.” Lagi-lagi terdengar helaan nafas gusar.


Darren yang agak terkejut karena tiba-tiba Dewangga bercerita agak personal seperti itu hanya memilih diam. Lagi pula dia juga bukan pakar cinta. Di antara mereka Dewangga lah yang pakar cinta. Jika pakar cinta saja sudah seperti ini jatuhnya, bagaimana mereka bisa membantu memberikan solusi?


“Mengenai proyek pembangunan di desa tertinggal, bagaimana progres nya, Dam?”


“Saat ini proyek sudah mulai berjalan, tuan. Proses mediasi yang dilakukan berjalan dengan semestinya berkat Elgara.”


“Elgara?” Darren langsung tertarik.


“Iya, tuan. Elgara cukup cerdas meyakinkan mereka. Lagi pula benefit yang kita tawarkan pada juga sangat menguntungkan. Elgara dengan sabar meyakinkan mereka agar mau bekerjasama. Selain itu, Elgara juga sepertinya berhasil mendapatkan jodoh di sana.”


“Maksudnya?”


“Kedekatan Elgara dengan putri kepala desa sepertinya bukan isapan jempol belaka, tuan. Saya sendiri mendapatkan informasi yang valid jika Elgara sepertinya tertarik pada gadis itu. Kedekatan mereka terjalin semenjak Elgara mencalonkan diri sebagai tenaga pengajar tambahan untuk sekolah dasar yang ada di desa tersebut. Elgara memang kelihatannya sangat suka dengan anak-anak, nuraninya terketuk saat melihat anak-anak di sana kurang mendapatkan edukasi.”


Darren manggut-manggut mendengarnya. Itu malah bagus, batinnya. Sepertinya keputusan mengirimkan Elgara ke sana adalah keputusan yang benar. Darren sejatinya tidak berniat memanfaatkan pemuda itu, namun melihat keterikatan Elgara dan Estrella di mimpi waktu itu, membuat Darren yakin jika mereka bisa saja berjodoh jika bertemu pada waktu yang tepat.


“Bagus kalau begitu,” kata Darren seraya melirik jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan kiri. “Kalau begitu sekarang aku harus pergi. Istriku sudah menyiapkan nasi uduk homemade di rumah,” lanjutnya.


Informasi tersebut tentu membuat Damian merasa sedikit iri. Dewangga sendiri sudah pamit sejak tadi karena ada urusan mendadak yang harus diselesaikan.


“Lihat, siang ini istriku memasak nasi uduk lengkap dengan sambal kacang, sambal kering tempe, telur balado, sambal goreng kentang, bihun goreng, kerupuk, ditambah irisan timun.”



“Sepertinya enak, tuan.”


“Tentu saja. Istriku selain cantik, dia juga pandai memasak,” ujar Darren, memuji istri cantiknya. “Kalau begitu aku pergi sekarang.”


Damian mengangguk kecil. Sebenarnya dia juga sudah lama tidak menikmati masakan istri atasannya itu. Ah, jadi rindu. Masakan Evelyn Xander memang candu. Rasanya makanan yang diolah oleh tangan Evelyn Xander memang selalu menjadi favorit nomer satu.


“Kapan-kapan istriku juga ingin mengundang kamu untuk makan di rumah.”


“Tuan serius?” Damian menatap sang atasan dengan mata berbinar.


Darren mengangguk. “Dia juga akan mengundang temannya. Namanya kalau tidak salah Dewita.”


“Dewita?” ulang Damian dengan suara kikuk.


Darren kontan tertawa melihat perubahan ekspresi di wajah sang sekretaris. “Tidak perlu gugup begitu, Dam. Lagipula aku sudah tahu kamu sedang menjalin hubungan dengan perempuan itu.” Tawa Darren berhenti, berganti dengan sebuah senyum tulus. “Kata Ev dia adalah perempuan yang baik dan tidak neko-neko, walaupun agak cerewet. Aku dan Ev setuju jika kalian akhirnya memilih untuk bersama.”


Setelah berkata demikian, Darren menepuk bahu sang sekretaris sebentar. Kemudian pria rupawan itu pamit pergi untuk kembali ke rumahnya.


🌼🌼


“Kita mau makan di mana sih?” kecupan demi kecupan pria itu jatuhkan pada perpotongan bahu dan tulang selangka sang istri yang tampak berkali-kali lipat lebih cantik semenjak berbadan dua. Sejak tadi dia memang usil, menganggu sang istri yang sedang bersiap-siap.

__ADS_1


“Di Kokas,” balas sang istri yang sedang sibuk memulas lipstik di bibir.


“Jangan pakai lipstik warna merah jika ingin ke luar rumah.” Tiba-tiba sang suami memperingati. Membuat gerakan wanita cantik itu terhenti.


“Why?”


“Intinya jangan. Gunakan jika aku ada di rumah saja.”


Wanita cantik itu tertawa kecil mendengar ucapan sang suami. Si tuan posesif ternyata sudah kembali. “Ya sudah, aku hapus lagi?”


Itu bukan pernyataan, melainkan pertanyaan yang harus dijawab oleh Darren Aryasatya Xander. Maka dengan semangat 45 pria rupawan yang sudah rapih dengan celana kain dan kemeja berwarna abu tua itu membawa wajah sang istri ke samping, alih-alih menjawabnya dengan kata-kata.


“Dengan senang hati aku akan membantu menghapusnya sayang,” katanya kemudian.


Tak sempat menyuarakan balasan atas ucapan sang suami, wanita yang tengah hamil muda itu tahu-tahu sudah mendapatkan serangan mendadak. Evelyn tahu suaminya really good kisser. Maka tak heran jika dalam kurun waktu beberapa detik hingga menit, sapuan perona merah di bibirnya sudah memudar, bahkan hampir tak bersisa.


“Maksud aku dihapus dengan cairan remover, bukan sama ciuman good kisser,” protes Ev sesaat sebelum kembali berurusan dengan perona bibir untuk menghiasi bibirnya. Kali ini warna pilihannya jatuh pada warna peach yang tidak terlalu terang, tetapi lebih berkesan fresh dan sweet.


“Aku hanya membantu,” sahut sang suami tanpa dosa.


Pasangan suami istri itu tengah bersiap-siap karena hendak makan malam di luar. Ev sendiri yang tiba-tiba ingin makan di luar rumah. Ada makanan yang ingin Ev coba. Rencananya mereka akan makan di Kokas atau kota Kasablanka—pusat perbelanjaan yang terletak di Jl. Casablanca Raya Kav. 88, Menteng dalam, Tebet, Jakarta Selatan. Sebagai seorang suami yang siaga, Darren tentu langsung menyanggupi keinginan sang istri.


Mereka berdua berangkat setelah selesai bersiap-siap. Saat tiba di Kokas, tempat yang tidak pernah sepi pengunjung itu memang sangat rami. Apalagi saat weekend seperti saat ini. ada banyak pengunjung yang datang untuk sekedar berbelanja, berburu kuliner, dan sebagainya. Ada berbagai resto dan caffe yang jadi rekomendasi saat berkunjung ke Kokas. Namun, pilihan Ev jatuh pada Warung Leko yang terkenal dengan menu favoritnya, yaitu iga penyet. Olahan yang terbuat dari iga yang digoreng lalu dipenyet dengan sambal extra pedas itu tampak menggugah selera. Selain iga penyet, ada olahan lain yang bisa dipilih, seperti sup iga, iga goreng tepung, iga bakar, ayam penyet, dan sebagainya.


“Kenapa? Iga penyetnya terlalu pedas, ya?” tanya Darren risau saat sang istri berhenti makan di suapan pertamanya. “Aku sudah bilang, kan, jangan pesan yang pedas-pedas. Nanti kamu sama bayi kita sakit perut,” cerocosnya seraya menyentuh kedua sisi wajah sang istri.


“Sayang, kamu kenapa sih?”


“Dean.”


“Apa?” kaget Darren. “Aku gak salah dengar, kan? Kamu panggil aku dengan nama—“


“Maksud aku itu,” potong Ev seraya menyentuh rahang sang suami, menolehkan ke arah samping. “Itu Dean, kan?”


Darren menatap ke arah pintu masuk. Di sana ada seorang pria berkemeja biru muda yang baru saja datang bersama seorang wanita. Mereka tampak mengobrol singkat, sebelum berjalan menuju sebuah meja kosong.


“Kamu mau menghampiri mereka?” tanya Darren tiba-tiba. Sang istri memang sudah lama tidak berjumpa dengan keturunan Wijaya itu. Karena semenjak resmi menikah, keturunan Wijaya itu konsisten menjaga jarak.


Ev menggeleng seraya tersenyum kecil. “Itu pasti yang namanya Dayu. Tante Deesy sempat bilang ke aku kalau Dean lagi deket sama putri rekan kerjanya. Namanya Dayu Sekar Arum. Perempuan baik dari keluarga yang cukup terpandang.”


“Kamu yakin tidak mau menyapa?” Darren bertanya sekali lagi. Dia memang posesif, namun tidak selamanya Darren menutup mata soal masalalu sang istri. Lagipula Darren juga sudah berdamai dengan masalalu.


Ev kembali menggeleng seraya tersenyum kecil. “Enggak. Mereka sepertinya sedang kencan.”


“Kita juga sedang kencan bukan?” sahut Darren tak mau kalah.


“Iya, kencan bertiga,” tambah Ev seraya menyentuh permukaan perutnya yang sudah buncit.


Darren tersenyum lebar seraya menganggukkan kepala. “Lagipula ini mungkin salah satu cara Tuhan agar Dean dapat melanjutkan hidup, yaitu dengan cara dipertemukan Dean dengan calon pendamping hidup yang baru.”


🌼🌼


Jangan lupa sumbang bunga sekebon 🌼🌻🏵️💮🌸🌷🌺🥀🌹💐🌹🥀🌺🌷🌸💮🏵️🌻🌼

__ADS_1


Like, vote, komentar, follow Author & share ❤️


Sukabumi 07/06/22


__ADS_2