
NOTE : PART INI PENDEK, GAK PAPA, YA ✌️
JANGAN NAGIH DOUBLE UP, BISA? SOALNYA AUTHOR BELUM BISA MEMENUHI PERMINTAAN ITU.
HAPPY READING 🔥
JANGAN LUPA LIKE, VOTE, KOMENTAR, FOLLOW AUTHOR & SHARE ❤️
M63 🥀 : DIA TELAH PERGI
“Tidak tidak selama berhari-hari lamanya dapat menyebabkan masalah kesehatan yang serius, seperti penyakit jantung, diabetes, obesitas, kanker, hingga resiko terkena masalah kesehatan mental seperti gangguan suasana hati. Selain itu, mengonsumsi caffeine berlebihan juga tidak baik bagi kesehatan tubuh—terutama untuk lambung.”
Pria yang mengenakan setelan formal yang dilengkapi dengan snelli putih itu menuturkan. Dia baru saja memeriksa salah satu pasiennya yang sempat tidak sadarkan diri hampir 8 jam lamanya. Hal itu tentu membuat keluarga pasien khawatir. Namun, dokter tersebut menjelaskan bahwa hal itu terjadi karena tubuh si pasien yang down karena kelelahan. Apalagi pria itu tidak tidur sama sekali dalam beberapa hari, dan tidak mengisi perut dalam beberapa waktu.
“Untuk kedepannya, Anda harus lebih memperhatikan pola tidur dan pola makan. Kurangi konsumsi caffeine berlebihan, dan biasakan tidur tepat waktu. Jika Anda mengalami insomnia atau kesulitan tidur, jangan mengonsumsi obat tidur. Anda bisa melakukan beberapa tips yang sudah saya jelaskan.”
“Hm.”
Si pasien merespon dengan singkat. Belum genap 24 jam tinggal di ruangan bernuansa putih dengan bau khas obat-obatan tersebut, dia sudah tidak betah. Ingin rasanya segera pulang ke rumah. Hanya saja, entah siapa yang menyewa 2 bodyguard—yang saat ini menjaga pintu ruangannya.
“Kalau begitu saya undur diri. Lima menit lagi suster akan membawa makanan untuk Anda.”
Penderitaannya ditambah pula dengan makanan rumah sakit yang biasanya terasa tidak cocok dengan lidahnya. Dia semakin ingin pulang, ingin makan masakan Evelyn. Ah, itu sekarang hanya bisa menjadi mimpi.
“Anda harus makan, kemudian minum obat.”
“Hm.”
Dokter yang berusia kisaran 40 tahunan itu tersenyum ramah, sekali pun pasiennya tidak bisa diajak beramah-tamah.
“Mari dok, Ella antar,” ujar wanita hamil yang sedari tadi ikut menjadi pendengar.
“Terima kasih atas tawarannya. Anda bisa duduk dan menemani suami Anda saja. Saya bisa sendiri. Lagi pula, saya tidak mau merepotkan seorang ibu yang tengah hamil.” Tolak si dokter, masih dengan nada ramah. “Semoga suami Anda lekas membaik. Mari, saya permisi.”
Wanita muda yang mengenakan dress khusus ibu hamil berwarna mocca itu tersenyum tipis seraya mengangguk. Membiarkan dokter dengan rupa menawan mirip aktor Turki itu berlalu. Meninggalkan ruangan yang kini diisi oleh sepasang suami-istri.
“Tebar pesona hm?”
Ella menoleh, menatap sang suami. “Maksud mas?”
“Pura-pura tidak tahu?” nada kalimat pria yang mengenakan piyama rumah sakit berwarna biru muda itu tampak sinis. “Lagi pula, untuk apa kamu berlama-lama di sini? Lebih baik kamu tinggal di rumah.”
“Tapi, mas, ini tugas Ella. Merawat dan melayani suami adalah tugas seorang istri bukan? Sekarang mas sedang sakit, makanya Ella di sini untuk mas.”
“Aku tidak butuh pelayan. Damian sudah cukup untuk menunjang semua kebutuhanku,” jawab sang suami datar.
“Mas kenapa sih? Salah Ella apa? Kenapa mas jadi begini? Mas menjauhi Ella akhir-akhir ini,” beber wanita muda tersebut. “Ella pikir selama ini mas sayang sama Ella. Tapi, apa ini? Mas jadi berubah setelah resmi bercerai dengan mbak Ev.”
“Jangan menyebut namanya dengan embel-embel itu, seolah-olah kamu akrab dengan Ev.” Sergah Darren.
__ADS_1
“Tapi, mas. Mbak Ev memang baik sama—“
“Dia baik kepadamu, dan menunjukkan sikap sebaliknya kepadaku. Begitu?” potong Darren. “Jadi secara tidak langsung kamu juga ikut menghakimiku?”
“Bukan begitu maksudnya, mas.”
Darren tersenyum kecut. “Kita sama-sama bersalah dalam hubungan gelap ini. Kamu pikir cuma aku yang Ev benci? Tidak. Dia juga membenci kamu.”
Ella tersentak. Wanita itu menutup mulutnya, tak percaya jika sang suami tega berkata demikian. “Ella gak tahu apa-apa, mas. Sudah seharusnya mbak Ev memahami posisi Ella. Lagi pula, jika mbak Ev mencintai mas, kita masih bisa berbagi cinta, bukan?”
“Are you insane?” Darren tertawa getir. “Berbagi cinta? Yang ada dia semakin muak denganmu.”
Ella tidak lagi menjawab. Dia tidak tahu kenapa sang suami jadi begini. Pria itu jadi mudah sekali tersulut emosi. Apa mungkin karena pria itu belakangan tidak tidur dengan teratur? Seperti kata dokter.
Ella juga tidak tahu. Dia harus benar-benar ekstra sabar menghadapinya. Kendati demikian, yang namanya cinta, tetap akan sama seperti itu sekali pun menyakitkan. Ella akan tetap bertahan. Karena dia mencintai Darren. Ayah biologis dari bayi dalam kandungannya.
Tidak lama kemudian, suster datang—memasuki ruangan sembari membawa nampan berisi makanan untuk Darren. Ella dengan telaten mengambil alih nampan tersebut. Dengan penuh kelembutan dia mencoba melayani sang suami—membantu pria itu makan lewat tangannya sendiri. Namun, niat baik itu ditolak mentah-mentah oleh sang suami.
“Aku tidak lumpuh, anggota tubuhku masih berfungsi dengan baik.”
Ella berusaha sabar. Dengan tenang dia tersenyum dan beralih ke keranjang buah yang ada di atas nakas. Mengambil buah apel merah yang tampak segar untuk dikupas. Agar sang suami bisa menikmati buat segar setelah makan. kendati demikian, bukannya kulit apel yang dia kupas, dia malah mengupas kulit jarinya sendiri. Membuatnya meringis kesakitan kala luka itu mengeluarkan cairan kental berwarna merah.
“Kamu ini ada-ada saja!” sentak Darren murka. Dengan cepat dia membawa jemari sang istri yang terluka ke hadapannya. Menelitinya sejenak, sebelum sebelah tangannya menekan tombol gawat darurat dengan cepat.
“Sudah kubilang, setidaknya berhati-hatilah demi bayi dalam kandunganmu. Dasar ceroboh.”
“Maaf mas,” cicit Ella seraya menunduk dalam.
“Ada apa, tuan? Apa Anda membutuhkan sesuatu?”
Damian muncul di ambang pintu. Raut wajah pria itu tampak cemas, sekali pun ekspresi datar masih dominan menyelimuti.
“Jarinya luka. Panggil suster, cepat.”
Damian mengangguk. “Baik, tuan.”
Pria itu kemudian keluar sejenak, dan kembali bersama seorang suster. “Ada yang bisa saya bantu, tuan?”
“Jarinya luka terkena pisau buah, obati dengan segera.” Satu kalimat, singkat, padat, dan jelas. Sedetik kemudian suster itu langsung menjalankan perintah.
“Anda sendiri baik-baik saja, tuan?” tanya Damian.
“Hm,” jawab Darren singkat. “Kamu ini kemana saja sejak pagi?” tanyanya lugas.
“Saya tadi pergi ke bandara, tuan,” jawab Damian jujur. Dia memang mendapat kabar jika sang atasan sudah siuman saat masih dia masih berada di bandara.
“Bandara? Ada urusan apa sehingga kamu harus repot-repot ke bandara?” tanya Darren to the point. Sebuah kernyitan tercipta di keningnya.
“Saya mengantar istri, tuan. Pagi tadi temannya terbang ke Eropa.”
__ADS_1
“Hm,” jawab Darren singkat. Tidak lagi berniat melanjutkan pembicaraan. Toh, dia juga tidak berminat ikut campur mengenai masalah istri Damian.
“Bagaimana dengan masalah proyek? Apa sudah bisa ditangani?” tanyanya kemudian.
Damian terdiam. Tak lantas menjawab.
“Kenapa? Apa ada masalah?”
“Begini tuan, pendanaan proyek tersebut dicabut. Jadi proyek terancam batal dilanjutkan.”
“Bagaimana bisa?!” bentak Darren murka.
Suster yang tengah melilit jemari Ella dengan kasa saja sampai dibuat terperanjat. Begitu pun dengan Ella.
“Terima kasih, sus. Kamu boleh pergi sekarang,” ujar Ella. Mempersilahkan suster itu pergi. Menyisakan mereka bertiga di ruangan tersebut.
“Perintah penghentian dana untuk proyek tersebut sudah ditandatangani langsung oleh CFO.”
“Bagaimana bisa dia melakukan semua ini tanpa sepengetahuanku?” geram Darren.
“Kita tidak bisa berbuat apa-apa, tuan. Karena proposal pemberhentian proyek itu sudah di-Acc oleh para dewan direksi.”
Darren kian murka mendengarnya. Bagaimana bisa proyek yang telah dia pertahankan mati-matian, kini diambang kegagalan. Selain itu, dia juga merasa dikhianati oleh bawahan sendiri. Bagaimana bisa CFO mengambil keputusan tanpa sepengetahuan CEO yang sudah tentu memiliki jabatan lebih tinggi darinya.
“Ada satu lagi yang ingin saya sampaikan, tuan.”
“Apa?” Tanya Darren datar.
“Pagi ini, sekitar pukul tujuh lewat tiga puluh lima menit pagi, nyonya Ev telah meninggalkan Negara ini.”
“APA?!” sentak Darren dengan suara menggelegar bak petir di siang bolong.
“Nyonya Ev telah meninggalkan tanah air. Negara tujuannya belum diketahui. Beliau pergi seorang diri.”
“BAGAIMANA BISA KAMU TIDAK MEMBERITAHU INFORMASI SEPENTING INI, DAM?!”
Darren dengan emosi segera beranjak dari bed, mencabut infuse dengan paksa, kemudian menghampiri sang sekretaris dengan murka.
“Mas!” jerit sang istri, shoked. Dengan cepat dia mencoba menghalau langkah sang suami yang terlihat hendak memangsa sang sekretaris.
“Hanya itu yang dapat saya sampaikan. Untuk informasi lebih lanjut, saya akan mengusahakan yang terbaik,” tambah Damian, professional. Tidak peduli jika sewaktu-waktu dia bisa saja menjadi samsak dadakan.
Darren menatap lawan bicaranya jengah. “Percuma, bodoh. Dia sudah terlanjur pergi!” bentak Darren emosi.
Dengan keras dia kemudian menyentak tangan Ella yang menahan lengannya. “Dia ….sudah terlanjur meninggalkanku dalam kehancuran ini,” lirihnya, miris.
🥀🥀
TBC
__ADS_1
Sukabumi 10/04/22