Berbagi Cinta: Mistress (Wanita Simpanan)

Berbagi Cinta: Mistress (Wanita Simpanan)
M15 : DITOLAK?


__ADS_3

M15 🥀 : DITOLAK?


Ev bukanlah tipikal wanita yang ceroboh dalam bertindak. Ia selalu mempertimbangkan semua keputusan dengan matang. Apalagi jika keputusan itu menyangkut sesuatu yang sangat urgent.


Mungkin salah satunya adalah soal memiliki keturunan. Bukan ranah Ev untuk mengharapkan keturunan dari pernikahannya dengan Darren. Mengingat jika mereka menikah karena adanya benefit yang saling menguntungkan. Lagipula, memiliki keturunan di usia ini belum Ev pikirkan sebelumnya. Masih banyak yang harus ia cari, mungkin salah satunya adalah pasangan yang dapat menerima dan mencintainya dengan tulus.


Dalam surat perjanjian yang disetujui oleh mereka berdua, masalah hubungan seksual juga tidak dicantumkan. Hal itu berarti jika hubungan seksual dapat menjadi point yang bisa dipertimbangkan di kemudian hari. Namun, Ev cukup mengerti kondisi. Lihat sendiri bagaimana Darren anti pati terhadap Ev lima tahun belakangan ini. Baru kemarin pria itu berani melanggar batasannya sendiri.


Ev juga bisa melanggar batasan jika kondisinya sudah terhimpit oleh berbagai tuntutan yang datang dari segala penjuru. Soal keturunan misalnya. Telinga Ev sudah terasa panas karena selalu ditanya kapan akan ‘isi’ oleh keluarga juga kerabatnya saat menghadiri acara keluarga besar. Padahal bukan urusan mereka kapan perut Ev terisi oleh sebuah kehidupan. Hanya saja, terkadang netizen suka menjadi maha benar. Ada saja yang dikait-kaitkan jika apa yang mereka pertanyakan tak kunjung mendapat jawaban.


“Darren, I want a baby.”


Ev mengulang, mungkin pria rupawan itu tidak mendengarnya. Entah pura-pura tidak mendengar.


“Darren, kamu dengar aku?”


“Hm,” jawab si empunya nama sebagai respon. “Apa kamu yakin dengan keinginanmu ini, Ev?”


“Kamu mempertanyakan keyakinan ku? Coba kamu bertukar peran menjadi diriku sehari saja, Darren.”


“Maksudmu?”


“Kamu pikir aku mengambil keputusan ini karena apa?” Ev bertanya seraya bersidakep dada. “Ini semua karena tuntutan keluarga kita, Darren.”


Darren tidak menjawab, tetapi netra gelapnya menatap Ev lurus.


“Jika bukan itu solusi untuk masalah ini, maka ada jalan keluar lain yang lebih instan dan juga praktis. Kita akan sama-sama terbebas dari tuntun apapun setelahnya.”


Darren menautkan kening mendengarnya. “Apa maksud dari ucapan mu, Ev? Jangan berbelit-belit!”


“Mari akhiri pernikahan ini, Darren Aryasatya Xander,” ujar Ev enteng.


Darren masih tidak menunjukkan respon apapun dari raut wajahnya. Namun, tanpa Ev sadari, kepalan tangan pria itu tercipta kian erat di kanan dan kiri tubuhnya.


“Kamu sudah tidak membutuhkan aku lagi, bukan?” tanya Ev gencar, tak gentar.


Manapun pilihan Darren pada akhirnya, Ev akan menerima. Akan tetapi, ia juga sudah menyiapkan planning untuk melancarkan balasan, jika Darren memilih salah satu opsi tersebut. Ingat, cara Ev membalas agar unik dan anti mainstream.


“Kita bicarakan ini lagi nanti. Aku harus pergi,” pungkas Darren seraya menarik kopernya. Namun di mata Ev, pria itu seolah-olah menghindar dari pertanyaan.


“Menghindar eoh?”


Ev tersenyum tipis seraya berjalan mendekati Darren. Wanita cantik itu kemudian mengambil posisi berdiri tepat di hadapan Darren. Sebelah tangannya terangkat, lantas mendarat di bagian dada bidang milik sang suami. Merambat naik, meninggalkan jejak halus yang menggetarkan nurani.


“Apa ini cara kamu menghindari opsi yang aku beri, Darren?” tanya Ev, tetapi Darren tetap memilih bungkam. “Plan A or plan B, kamu harus tetap memilih.”

__ADS_1


Namun, detik berikutnya bukan jawaban yang Ev dapatkan, melainkan sebuah tepukan pelan di pucuk kepala. Setelah itu, Darren meraih kopernya, berbalik badan, kemudian meninggalkan Ev begitu saja sepatah kata.


“Ditolak?” gumam Ev pada keheningan ruangan.


Apa diamnya Darren bisa dianggap sebagai sebuah penolakan? Ev pikir akan mudah bagi Darren mengakhiri pernikahan ini, ketimbang memiliki keturunan dengan Ev. Pasalnya jika sebuah kehidupan hadir di tengah-tengah pernikahan mereka yang rapuh, akan sulit kedepannya. Apalagi Ev juga tahu jika Darren telah memiliki wanita simpanan di luar sana. Pria itu pasti lebih berharap keturunannya lahir dari wanita simpanan itu.


🥀🥀


“Anda sudah datang, tuan?”


Sapaan dari sang tangan kanan menjadi penyambut kala pria rupawan itu memasuki ruangan. Raut wajahnya tampak dingin, datar, juga tak tersentuh.


“Hm.”


“Ada yang bisa saya bantu, tuan?” tanya Damian—sekretaris sekaligus tangan kanan Darren—yang berdiri tidak jauh Darren.


“Hubungi lawyer.”


“Lawyer? Apa Anda memiliki masalah dengan sesuatu yang berhubungan dengan hukum? Jika benar, biar saya menghubungi lawyer kepercayaan kan—“


“Semua lawyer,” ralat Darren. “Hubungi semua lawyer yang biasa menangani urusan perceraian, dan jegal mereka agar tidak bekerja untuk istriku”


“Maksud Anda?”


Damian mengangguk paham. Ia tahu ke mana sekarang arah pembicaraan ini. Lagipula, atasannya itu datang-datang meminta untuk menghubungi lawyer. Dia agak salah kaprah tadi.


“Jadi, apa yang akan tuan lakukan?” tanya Damian formal.


“Awasi gerak-gerik istriku, jangan sampai ia berulah di bawah radar.”


“Baik, tuan. Ada lagi?”


“Hari ini aku akan pergi ke luar kota, kamu tahu apa yang harus kamu lakukan selama aku pergi?”


Damian mengangguk. Ia kelewat paham dengan maksud dari kepergian sang atasan ke ‘luar kota’. Memang bukan ranahnya mengurusi masalah pribadi sang atasan. Namun, terkadang ia ingin sekali menyuarakan asprirasinya sebagai sesama pria. Bagaimanapun juga tindakan sang tuan memiliki Mitress (wanita simpanan) di luar sana, sedangkan ia memiliki istri yang cantik, menarik, kaya raya, juga multitalenta di rumah, agaknya dapat dikatakan maruk alias serakah.


Pria itu juga telah melibatkan seorang gadis tak bersalah yang tidak tahu status dirinya yang sebenarnya. Gadis lugu itu hanya tahu jika suaminya adalah miliknya seorang.


“Dam.”


“Iya, tuan?”


“Awasi saja Ev, terutama dari Dean selama aku pergi.”


“Baik, tuan,” jawab Damian mantap.

__ADS_1


“Jika ada seseorang yang berani mengusik ketenangannya, langsung bereskan orang itu.”


Lagi, Damian menganggukkan kepala. Tanda jika dia akan menjalankan perintah sang atasan. Damian pikir hari ini atasannya itu terlalu banyak menyinggung soal istrinya. Padahal, biasanya pria itu tak peduli. Sedangkan hari ini, pria itu tampak meluangkan banyak kepeduliannya. Padahal ia akan segera pergi menemui istrinya yang lain. Namun, ia masih menyempatkan waktu untuk memberikan perintah agar mengawasi Nyonya Darren yang sesungguhnya. Sebenarnya apa yang telah terjadi?


“Awasi gerak-gerik Ev, dan jangan sampai ia terluka lagi selama aku pergi. Hal itu akan sangat merepotkan,” ujar Darren seraya menepuk bahu sang bawahan.


“Baik, tuan.”


Setelah berkata demikian, Darren beranjak pergi. Meninggalkan Damian yang maih berdiri di tempat dengan isi kepala yang tengah bergerilya.


Padahal, jika Ev sudah mengajukan cerai, Darren bisa dengan mudah menerimanya. Mengingat mereka menikah bukan karena cinta, ditambah lagi Darren telah memiliki ‘tambatan hati’ yang lain. Akan tetapi, satu yang jadi pertanyaan besar Damian. Apakah benar tambatan hati Darren adalah wanita itu?


Ataukah sang istri sah yang lebih unggul dalam berbagai aspek, tetapi Darren tidak pernah menyadarinya?


Siapakah yang sebenarnya, Damian juga belum tahu. Kita lihat saja nanti.


🥀🥀


“Sial*n?!”


“A-da apa, tuan? Apa ada yang tertinggal?” pria paruh baya yang berada di balik kemudia itu bertanya pada satu-satunya penumpang yang ia bawa.


“Tidak. Lanjutkan saja perjalanannya.”


“Baik, tuan.”


Darren, satu-satunya penumpang yang baru saja mengumpat itu menatap layar gaway dengan kesal. Ia baru saja menerima panggilan dari sang Ibu yang mengatakan wacananya untuk membawa Ev chek up ke dokter kandungan. Darren tahu Ev bisa meng-handle masalah seperti itu. Namun, perasaanya tiba-tiba tidak karuan mengingat pembicaraan mereka pagi tadi. Ev mengajukan opsi perceraian, berani sekali wanita itu!


Padahal, seharusnya opsi perceraian diajukan jika mereka sudah sama-sama mendapatkan feedback. Selama ini, Darren memang sudah mendapatkan jatahnya. Ia bisa duduk di kursi CEO dengan nyaman, profit perusahaan terus merangkak naik karena kontrak kerjasamanya dengan perusahaan Atmarendra, pun dengan tabungan sahamnya yang kian banyak. Tapi, belum banyak yang Darren bisa berikan untuk Ev.


Kebebasan seperti yang wanita itu inginkan, hanya dia dapatkan sesaat. Karena ditahun-tahun kesekian usia pernikahan mereka, Ev malah diberi tekanan tambahan berupa pertanyaan seputar keturunan. Satu hal yang cukup sensitif untuk dibahas. Namun, solusi untuk memiliki keturunan juga bukan jalan yang dapat menjadi pilihan.


Darren hanya tidak mau Ev menyesal jika ia mengandung di kemudian hari. Karena Darren tidak yakin jika ia akan memperhatikan Ev saat mengandung, kala hati dan pikirannya dikuasai oleh sosok lain. Dia takut jadi pria lebih bajing*an dari saat ini.


...🥀🥀...


...TBC...


...Gimana perasaan kalian setelah baca part ini? masih mau next?...


...Maaf lama update nya, soalnya Author sibuk di dunia nyata 🤗...


...Note : Tandai Typo, pasti bertebaran 🙏...


...Jangan lupa like 👍 vote 💯 komentarrrr yang banyak 💌 share 📲 dan follow Author ❤️...

__ADS_1


__ADS_2