Berbagi Cinta: Mistress (Wanita Simpanan)

Berbagi Cinta: Mistress (Wanita Simpanan)
M20 : PATNER BERUMAH TANGGA


__ADS_3

M20 🥀 : PATNER BERUMAH TANGGA


🥀🥀


Sebuah kampung yang bisa dikatakan masih belum sepenuhnya terjamah teknologi, kedatangan sebuah kendaraan mewah yang tampak dapat melibas berbagai medan jalan. Warga yang tengah beraktivitas dibuat penasaran dengan penghuni mobil mewah yang tiba-tiba nyasar ke kampung mereka. Ketika melewati pos ronda yang kebetulan dijaga oleh seorang hansip dan dua warga sipil yang tengah menyeruput kopi, mobil itu berhenti. Kacanya yang tidak dapat tembus oleh pandangan sedikit demi sedikit menurun. Memperlihatkan dua orang di dalamnya.


“Permisi, pak. Mau numpang bertanya.”


“I-ya, neng geulis pisan,” ujar si hansip, gelagapan menjawab pertanyaan wanita tercantik yang pernah dia lihat dalam hidupnya.


Kulit wanita itu putih bersih seperti susu, rambutnya hitam seperti arang, matanya jernih, bulu matanya lentik, hidungnya mancung, bibirnya sensual, dibingkai oleh garis rahang yang sempurna.


“Bapak tahu di mana rumah ini?”


Dari dalam mobil, sebuah handphone terjulur. Layarnya menampilkan gambar sebuah rumah dengan pekarangan luas.


“Itu mah rumah orang dermawan di sini.”


“Orang dermawan?”


“Iya, neng. Beliau teh banyak membantu membangun kampung ini.”


Ev yang tengah bertanya mengangguk paham. “Rumahnya di sebelah mana, ya, pak?”


“Neng lurus aja, nanti belok kiri. Di ujung jalan ada rumah tingkat dua yang halamannya luas dan banyak bunga-bunga. Nah, itu rumahnya.”


Ev kembali mengangguk, kemudian menggumamkan terima kasih. Pintu mobil kembali dinaikkan, sebelum kendaraan roda empat itu kembali melaju. Meninggalkan si bapak hansip dan dua teman ngopi-nya.


“Masya Alla, eta si eneng meuni geulis pisan jiga titisan batari (masya Alla, itu si eneng cantik sekali seperti titisan dewi).”


“Masya Allah, Enya (iya).”


“Kayak bukan manusia saking cantiknya,” sahut dua teman si bapak hansip, masih terpesona akan kecantikan wanita yang tiba-tiba nyasar ke kampung mereka.


Kedatangan wanita cantik yang memiliki visual seperti dewi dari langit, membuat berita itu dengan mudah menyebar. Mereka bertanya-tanya, siapakah wanita cantik yang datang dengan pria yang mengendarai mobil bagus tersebut. Terlebih lagi kendaraan yang wanita cantik itu tumpangi benar-benar berhenti di rumah pasangan suami istri yang kerap kali mereka sebut ‘orang paling dermawan’ bagi kampung mereka. Dugaan mereka wanita itu pasti memiliki hubungan dengan orang paling ‘dermawan’ di kampung mereka yang juga berasal dari ibu kota.


“Silahkan dinikmati minuman dan makanannya, mbak.”


Wanita cantik yang tengah duduk itu menoleh, kembali memusatkan perhatian pada sang lawan bicara. Sedari awal memasuki bangunan dua lantai ini, netra miliknya bergerilya. Memindai keseluruhan ruang yang dapat dijangkau.


“Terima kasih.” Ev menjawab sekenanya, sebagai bentuk sopan santun.


Di hadapannya terhidang berbagai jenis kudapan manis dan camilan asin, juga minuman yang Ev tebak terbuat dari campuran buah segar. Kendati demikian, semua itu tampak tak menggugah seleranya sama sekali.


“Di mana Darren?”


“Ah, mas Darren masih di atas. Tadi sudah Ella bangunkan.”


“Ella?” ulang Ev seraya menatap lawan bicaranya lekat.


“Nama aku Ella, mbak. Estrella.”

__ADS_1


Wanita muda berperawakan mungil itu berujar seraya mengulurkan tangan. Untuk sejenak Ev hanya menatap tangan yang terulur ke arahnya itu.


“Bintang,” gumam Ev kecil.


Nama Estrella berarti bintang. Ev bisa menangkap alasan kenapa nama itu diberikan pada wanita ini. Dia memiliki senyum manis yang menghiasi wajah oriental yang dimilikinya. Kontras dengan wajah mungil yang dapat membuatnya tampak menggemaskan kala tersenyum. Dia juga memiliki mata bening yang berbinar-binar, memancarkan aura polos nan lugu.


Ev bukannya mau membandingkan, tetapi Estrella ini bukanlah satu-satunya wanita termanis apalagi tercantik yang pernah Ev lihat. Darren bukanlah pria sembarangan. Semenjak kecil, pria itu sudah menjadi ajang sayembara para kaum Hawa. Mulai dari wanita yang memiliki visual biasa saja hingga luar biasa, semuanya berlomba-lomba mendekati Darren. Seorang model kawakan hingga putri konglomerat saja rela melemparkan dirinya pada Darren.


Pria itu dapat dengan mudah memilih wanita yang sesuai kriteria. Namun, bukan Darren namanya jika dapat ditebak. Ev juga tidak tahu apa yang membuat pria itu jatuh hati pada wanita muda ini. Apa mungkin karena kepolosannya?


Dari ekspresinya menyambut Ev, sepertinya Ella tidak mengetahui identitas Ev.


Siapa Ev bagi Darren, apa hubungan Ev dan Darren, wanita itu tidak tahu?


Pintar sekali Darren menyembunyikan identitas aslinya. Atau mungkin, wanita ini yang kelewat polos dan lugu, maka jatuhnya dungu?


“Evelyn Xander, senang bertemu denganmu.”


Pada akhirnya Ev menerima uluran tangan itu dengan suka rela, plus dengan seberkas senyum di bibir. Membuat Ella ikut mengembangkan senyum. Dia memperkenalkan diri sebagai Evelyn Xander, istri sah dari Darren Aryasatya Xander.


“Kalau boleh tahu, apa mbak ini kenalan dekat mas Darren?”


“Bisa dibilang begitu,” bahkan kita tinggal satu atap—lanjut Ev di dalam hati. “Dan kamu, siapanya Darren?”


“Ella?” wanita muda itu menunjuk dirinya sendiri. Ev mengangguk. Sedetik kemudian, sebuah jawaban menabuh genderang di dalam jantung Ev.


“Ella istrinya mas Darren.”


“Istri?”


Darren telah kelewat batas mengingkari perjanjian yang telah disepakati. Pria itu memiliki wanita simpanan, bahkan menikahinya. Sedangkan Ev, bernafas lega saja sukar. Setiap hari Ev dituntut agar segera melahirkan pewaris keturunan, sedangkan ranjang yang Darren hangatkan tiap malam adalah milik wanita lain.


“Iya, Ella istrinya mas Darren.” Ella kembali menatap lawan bicaranya seksama. “Apa mbak juga bekerjasama dengan mas Darren? Akhir-akhir ini mas Darren sering ke luar kota untuk dinas.”


Ev tersenyum kecut. “Tentu saja, kita partner.”


“Partner?”


‘Partner berumah tangga,’ lanjut Ev di dalam hati, miris. “Aku dan Darren bekerja sama untuk mendapatkan keinginan terbesar dalam hidup masing-masing.”


“Berarti mbak sering bertemu mas Darren, ya?”


“Bisa dibilang begitu,” jawab Ev sekenanya. Tentu mereka sering bertemu, mereka bahkan tinggal satu atap. Namun, itu dulu. Sebelum Darren sering kali pergi ke luar kota dengan alasan ‘pekerjaan penting’ yang ternyata menemui wanita yang dia simpan di tempat yang sukar dijangkau.


Ella kembali menerbitkan senyum tulus. Dia merasa senang mendapat kunjungan dari ‘kenalan’ suaminya. Karena selama menikah, tidak pernah ada satupun kenalan pria itu yang berkunjung ke rumah. Ella juga diam-diam memuji kecantikan Ev. Kulitnya terawat sehingga tampak berkilauan. Pakaian yang melekat di tubuhnya dari atas hingga bawah juga terlihat bagus dan mahal. Wajahnya cantik, memiliki visual yang hampir mendekati kata sempurna. Ella tidak pernah melihat wanita secantik ini sebelumnya. Dia saja yang sama-sama perempuan mengakui kecantikan Evelyn, apalagi para kaum Adam. Sungguh beruntung sekali pria yang menjadi suaminya mbak Ev, batin Ella di dalam hati.


Jika Ev saja secantik ini, suaminya setampan apa? Lantas, bagaimana jika mereka telah memiliki anak, pasti wajahnya tampan dan cantik-cantik.


Memikirkan hal itu, membuat Ella tersenyum sumringah seraya mengelus perut datarnya dari luar. Dia tengah hamil. Kata orang, gen suami adalah gen yang paling dominan menurun kepada seorang anak. Ella harap, apa yang orang-orang itu katakan benar adanya. Ella sudah berkhayal, jika anaknya lelaki pasti akan sangat tampan seperti ayahnya. Jika perempuan, pasti akan sangat cantik. Kloningan sang ayah versi perempuan.


Mendapati lawan bicaranya melamun seraya tersenyum dengan tangan terus membelai perut, membuat Ev memutuskan untuk bertanya. Menyadarkan Ella jika masih ada Ev di sana.

__ADS_1


“Ada apa dengan perutmu? Kenapa kamu selalu mengelusnya?” tanya Ev. Netra nya tak lepas dari wajah sang lawan bicara yang kentara terlihat lebih berwarna.


“Mungkin karena bawaan bayi.”


“B-ayi?” ulang Ev terbata. “Kamu hamil?”


Ella mengangguk antusias. Tangannya yang bermusim di atas perut kembali bergerak mengelus. “Jadi, di sini ada bayinya mas Darren sama Ella. Sebentar lagi kami akan menjadi orang tua.”


Hamil.


Bayinya Darren.


Dua inti kalimat itu terngiang-ngiang di kepala Ev. membuat kinerja jantungnya yang bertalu-talu, kini dibarengi dengan rasa sesak yang menghimpit rongga dada.


Darren akan segera menjadi ayah. Wanita ini mengandung bayi suaminya. Pria yang waktu itu pergi begitu saja tanpa memberikan jawaban kala Ev meminta solusi soal keturunan, ternyata telah memilih wanita lain untuk menampung benihnya. Wanita muda yang polos, lugu dan naif. Tipe Darren sekali. Tipe wanita yang mudah diperdaya, dan mudah dikendalikan.


“Sudah berapa lama usia kehamilan mu?” tanya Ev, senormal mungkin. Dia berusaha keras mengendalikan emosinya yang meluap-luap.


“Tiga minggu, mbak,” jawab Ella gamblang.


Ev terdiam pasca mendengar jawaban itu. Beberapa detik kemudian, dia kembali melontarkan pertanyaan.


“Sudah berapa lama kalian menikah?”


Ella menatap Ev sejenak, sebelum tersenyum tipis dan menjawab. “Lima bulan, mbak. Mas Darren nikahin Ella tidak lama setelah lamarannya diterima. Acara pernikahan kami dilangsungkan secara sederhana, hanya dihadiri oleh keluarga dan warga. Tapi, kami sangat bahagia sekali karena dapat menikah setelah—“


“Cukup!” sela Ev seraya beranjak dari duduknya.


“Ada apa, mbak? Mbak sudah mau pergi?”


Ev tak menjawab. Dia meraih tas selempang miliknya, kemudian berbalik badan. Baru saja satu langkah hendak dia ayunkan, sebulan suara yang amat familiar di gendang telinga terdengar memanggil nama wanita lain dengan penuh perasaan.


“Ella, kenapa ini belum diminum?”


Ev kontan berbalik, menghadap ke arah sumber suara itu berasal. Dan benar saja, pemilik suara familiar itu ada di undakan tangga terakhir, membawa segelas susu ditangannya. Tak butuh waktu lama, netra mereka saling bertemu, menyapu, menyapa dengan Bahasa tubuh yang hanya mereka yang tahu.


Ev tersenyum getir seraya menatap pria itu. Pria yang tampak terkejut bukan main kala menemukan keberadaan Ev.


“Hello my husband, ah her husband (hello suamiku, ah suaminya dia).”


...🥀🥀...


...TBC...


...YOK RAMAIKAN 🔥🔥...


...VOTE, LIKE, KOMENTARRR, FOLLOW AUTHOR, & SHARE....


...MAU NEXT? TUNJUKKAN ANTUSIASME READERS....


...JANGAN LUPA MAMPIR JUGA KE CLBK YANG SEKARANG GANTI MENJADI TARGET RASA SANG CASSANOVA...

__ADS_1



...TANGGERANG 06 Jan 2021...


__ADS_2