Berbagi Cinta: Mistress (Wanita Simpanan)

Berbagi Cinta: Mistress (Wanita Simpanan)
M66 : SEPERANGKAT KESERIUSAN


__ADS_3

NOTE : HAPPY READING đŸ”„


TANDAI TYPO 👋


M66 đŸ„€ : SEPERANGKAT KESERIUSAN


Teruntuk kalian yang pernah atau sedang menjalin hubungan jarak jauh atau long distance relationship (LDR), pernah tidak merasakan rindu yang teramat dalam? Apalagi jika sang kekasih tidak dapat dihubungi sama sekali. Pasti pernah terbesit pikiran ‘nekad’ untuk menyusulnya, sejauh apapun jarak yang membentang—jika memang rasa tak enak sudah bercengkol di dalam hati. Pemikiran itu juga sempat singgah di kepala pria rupawan yang tengah menyandarkan punggungnya di punggung sofa. Dia baru saja pulang kerja, setelah menyelesaikan serangkaian meeting penting yang melibatkan perdebatan alot di dalamnya.


Sembari mengistirahatkan tubuhnya yang letih, pria rupawan itu merogoh handphone dari dalam saku jas. Mengeluarkannya guna menghubungi satu kontak yang sudah dia hubungi ratusan kali dalam beberapa hari. Namun, hingga saat ini tidak ada satu pun panggilan yang terhubung. Dia pun beralih haluan—menghubungi via video call. Berharap akan ada keajaiban pada sisa harinya yang melelahkan ini.


And, surprise. Akhirnya! Panggilan terhubung.


Dengan wajah sumringah, pria rupawan itu menatap layar handphone miliknya. Menantikan resolusi gambar seorang wanita cantik yang dia rindukan. Namun, alih-alih wajah cantik sang pujaan hati yang tampak, yang muncul adalah wajah seorang bocah lelaki yang wajahnya hampir memenuhi sebagian besar space di layar monitor.


Untuk sejenak mereka hanya saling tatap. Pria itu—Dean—tampak meneliti wajah bocah lelaki yang memiliki rupa rupawan sekali pun masih berusia dini. Hanya dua kata yang meluncur dari mulutnya saat melihat bocah lelaki tersebut.


“Mirip sekali.”


Mulai dari rambut, alis, mata, hidung, bibir, bentuk wajah, hingga sorot mata. Mirip sekali dengan orang itu. Namun, Dean juga menemukan kemiripan lain pada wajah bocah lelaki itu. Fisik boleh saja mirip, tapi untuk sifat 
.Dean harap dia tidak menuruninya sedikit pun. Terlalu larut dalam lamunannya, dia sampai tidak mendengar panggilan pertama bocah lelaki di seberang.


“Hello. Mit wen spricht Dan (dengan siapa Dan bicara)?”


Tuh, kan, suaranya saja samar-samar terdengar mirip. Dean sudah tidak kaget lagi. Dia sebenarnya sudah tahu tentang bocah ini. Jauh sebelum hari ini tiba, Dean sudah mengetahui eksistensinya di dunia. Dia mengetahui eksistensi bocah lelaki itu semenjak masih berada di dalam kandungan. Jika saja dia tidak ‘nekad’ menyusul sang pujaan hati bertahun-tahun lalu secara diam-diam, dia mungkin tidak mengetahui jika sang pujaan hati pernah berbadan dua. Dari sana Dean tahu jika alasan Ev untuk menetap di Eropa tidak sepenuhnya karena pekerjaan—melainkan guna menutupi kehamilannya. Dean bahkan rela mengerahkan dan menggunakan semua network and money yang dia miliki untuk mencari tahu.


Bukan sehari-dua hari, atau sebulan-dua bulan Dean menyelidiki masalah Ev. Keseluruhan waktu yang dia habiskan untuk penyelidikan bahkan lebih dari 356 hari. Setelah berhasil menemukan titik terang, Dean mulai menyusun clue yang dia dapatkan satu-persatu. Dari sanalah dia tahu jika selama ini sang pujaan hati telah mengambil sebuah keputusan besar dan segala resiko yang harus dia tanggung ke depannya.


Jika ada yang bertanya bagaimana perasaan Dean saat pertama kali mengetahui keberadaan Dan? Maka dia akan menjawab dengan gamblang jika dia sempat kecewa berkepanjangan. Bayangkan saja, bagaimana kecewanya Dean saat mengetahui wanita yang dia perjuangkan mati-matian ternyata telah melahirkan sebuah keturunan dari pernikahan toxic-nya dengan sang rival. Dia merasa telah gagal dan tertinggal jauh di belakang. Dia sempat merasa tidak lagi memiliki kesempatan.


Namun, Dean tidak pernah berpikir untuk mundur. Dia memang butuh waktu cukup lama untuk menerima kenyataan yang ada. Namun, kondisi Ev tak semerta-merta membuat Dean mundur. Dia malah makin bertekad untuk memisahkan Ev dari sumber penderitaannya. Apalagi sekarang Ev memiliki kartu AS yang sangat dia jaga. Kartu As bernama Palacidio Daniel Adhitama X itu dapat memiliki 2 fungsi. Pertama, sebagai kekuatan. Kedua, sebagai kelemahan.


Dean tahu sebesar apa Ev menyayangi Dan. Hal itu bisa saja dijadikan sebagai kelemahan oleh beberapa pihak jika keberadaan Dan diketahui. Di sisi lain, Dan dapat menjadi kekuatan bagi Ev untuk melawan balik. Baik melawan sang suami, maupun orang-orang yang selama ini telah sewenang-wenang kepadanya.


“Mein name is Dean,” jawab Dean dengan bahasa Jerman yang cukup fasih.


“Dean? Wer ist meine Mùre (Dean? Siapanya ibuku)?” tanya bocah lelaki di seberang dengan tampang polosnya.


Dean menanggapinya dengan seulas senyum ramah. “Freunde (teman). Ist deine mutter da (apa ibu kamu ada)?”


Bocah yang memanggil dirinya sendiri dengan nama ‘Dan’ yang tampak mengenakan piyama tidur itu mengangguk. “Ja. Meine mutter ist im badezimmer (ya. Ibuku sedang di kamar mandi).”


Obrolan itu tidak berlangsung lama. Setelah berakhir, hembusan nafas berat terdengar dari lubang hidung pria rupawan itu. Sebenarnya dia tidak menyangka akan bertatap muka dengan bocah itu hari ini, padahal tujuan awalnya adalah melihat wajah sang pujaan hati. Namun, setidaknya Dean tahu jika sang pujaan hati baik-baik saja di luar sana. Apalagi sekarang dia bersama orang-orang yang sangat dia sayangi.


Dean tahu jika Ev akan bisa mengobati lukanya di sana. Oleh karena itu dia melepaskan kepergian Ev dengan lapang dada. Dean ingin Ev memiliki waktu untuk self healing tanpa diganggu oleh siapa pun, termasuk dirinya. Lalu Dean juga tengah menunggu. Menunggu kapan Ev akan jujur padanya soal Dan. Soal buah hatinya dengan Darren yang selama ini dia tutupi dengan sangat rapih.


“Anak mama kenapa? Kok lihatin handphone sampai segitunya. Sampai senyum-senyum sendiri,” kata seorang wanita paruh baya yang datang dengan seorang maid yang membawa nampan.


“Udah enggak galau lagi? Ev udah bisa dihubungi?”


Dean menggeleng sebagai jawaban. “Belum, mam. Ev masih belum bisa menerima panggilan.”

__ADS_1


Ibu dari pria rupawan itu tersenyum tipis seraya mengambil posisi duduk di samping sang putra. “Ya sudah. Sekarang anak mama minum ini dulu, biar hatinya tenang.”


“Apa itu? Teh?”


“Iya. Ini teh merah cheonil untuk menenangkan hati,” jawab Dessy Wijaya. “Cobain deh, supaya kamu bisa lebih tenang. Mama tahu kamu belakangan sering gelisah karena Ev belum ada kabar.”


Dean mengangguk, kemudian meraih cangkir keramik berwarna putih dengan gurat keemasan sebagai pemanisnya. Mungkin benar kata ibunya, dia butuh teh ini untuk menenangkan hati.


“Hm, mam.”


“Iya. Ada apa, sayang?”


Dean tersenyum kikuk seraya mengacak rambutnya yang bergaya modern mullet—gaya rambut natural karena dia belum sempat bercukur. “Mama, kalau dikasih cucu begini suka enggak?” tanyanya tiba-tiba. Sampai-sampai membuat sang ibu kebingungan.


“Kamu 
.hamilin Ev?” celetuk sang ibu.


“Astagfirullah, mam. Dean gak seber*ngsek itu, ya!”


“Kok tiba-tiba bahas cucu? Mama, kan, jadi negatif thinking.” Sahut Dessy Wijaya, membela diri.


Dean berdeham kecil guna membasahi tenggorokannya. “Maksudnya yang kayak gini,” ujar Dean seraya menunjukkan sebuah foto yang tersimpan di galerinya. Dalam diam pria itu menantikan reaksi sang ibu.


“Ini anak siapa? Cakep banget! Mama minta buat jadi cucu, boleh enggak?”


Dean tersenyum lega mendengarnya. “Boleh.”


“Memangnya dia anak siapa, D? mama kok kayak sedikit menangkap kemiripan seseorang di wajah anak itu.”


“Hah?! Maksud kamu gimana, D?”


“Mama pasti nanti bakal tahu,” ucap Dean, sok misterius. Dia sudah kembali mengembalikan handphone miliknya ke dalam saku. Seulas senyum masih bertahan di bibir.


“Jangan bilang kalau kamu udah nyerah dapetin Ev, dan sekarang sedang jatuh hati sama single mom?” tebak sang ibu.


Dean tertawa mendengarnya. “Jawaban mama itu ada benarnya, ada salahnya juga.”


“Maksud kamu?”


Dean tidak menjawab, melainkan memilih melanjutkan acara menyesap teh merah cheonil miliknya dengan santai. Dengan suara pelan dia berguman. “Sebentar lagi, dia akan menjadi cucu kesayangan mama. Dean janji.”


đŸ„€đŸ„€


“Tanggal di foto USG itu diambil dua bulan setelah kami resmi menikah. Apa artinya itu? Apa berarti dia sudah berselingkuh jauh sebelum kami resmi menikah? Atau jangan-jangan, dia menikah denganku untuk menutupi aib ini?” cerocos pria yang datang dengan hanya mengenakan setelah piyama yang dilapisi oleh long blazer yang cukup tebal.


“Kamu harus segera menyelidiki—“


“Hoam
.”


Suara orang yang menguap itu berhasil memotong ucapan pria bermarga Xander tersebut.

__ADS_1


“Yaaaang!”


“I’am here, Itaa. Tidak perlu teriak-teriak, ini bukan hutan.”


Wanita yang baru saja muncul dari ambang pintu sebuah ruangan itu berjalan mendekat seraya menghentak-hentakan kaki. Bibir kemerahannya mengerucut sebal—karena dia terbangun tanpa sang suami di sisinya.


“Ngapain bos laknat ini ada di rumah kita? Di rumahnya—maksud aku di rumah Ev, gak ada jam apa? sampai-sampai dia berani datengin rumah kita jam segini?!” cecar bumil tersebut.


“Itaa, jangan begitu. Lebih baik kamu kembali tidur, nanti aku menyusul,” ujar sang suami, melerai.


“Lama ah. Aku jadi gak bisa tidur karena gak ada kamu.”


“Aku segera menyusul. Kamu masuk saja dulu.”


Bumil itu berdecak sebal. Sebelum beranjak pergi dengan langkah yang dihentak-hentakkan, dia sempat melirik atasan sang suami lewat ekor matanya. Istri mana yang tidak sebal jika waktu istirahat saja, suaminya harus diganggu oleh atasannya. Mulai dari puluhan misscall, telepon, bahkan spam pesan singkat. Sekarang, atasan suaminya bahkan datang secara langsung untuk apa lagi selain membahas masalah pekerjaan.


“Istrimu sebaiknya diberitahu soal tata karma,” tegur sang atasan.”


“Dia istri saya, tuan. Tanggung jawab saya. Apa pun yang dia lakukan, saya yang akan bertanggung jawab jika perbuatannya merugikan orang lain. Apa ucapan istri saya barusan merugikan Anda?”


Tamu tak diundang itu berdeham. “Lebih baik kita bahas masalah foto USG yang aku temukan di kamar Ev—“


“Apa tidak bisa ditunda sampai besok, tuan?”


“Tidak!” jawab Darren enteng.


“Berarti Anda benar-benar tidak manusiawi.”


“A-pa?” kaget Darren.


“Karena setiap manusia butuh istirahat yang cukup agar esok bangun dengan kondisi tubuh fit dan bugar. Jika Anda menuntut saya untuk tetap bekerja hingga dini hari, bukan kah itu tidak manusiawi?”


“
.”


“Sekarang saya bukan saja sekretaris Anda, tuan. Melainkan seorang suami sang calon ayah. Istri dan calon buah cinta kami adalah perioritas utama saya jika berada di luar jam kerja.”


“Aku paham,” respon Darren. “Tapi aku tidak bisa beristirahat dengan tenang sebelum mengungkap fakta dibalik foto USG yang aku temukan ini. kepalaku rasanya ingin pecah hanya karena menerka-nerka banyak hal soal—“


“Bagaimana jika itu darah daging Anda?”


“—kehamilan—Apa?!” Darren membelalakkan mata mendengar ucapan sang sekretaris.


“Bagaimana jika foto USG itu milik buah hati Anda? Anda akan berbuat apa?”


đŸ„€đŸ„€


TBC


SEMOGA SUKA đŸ„°

__ADS_1


JANGAN LUPA LIKE, VOTE, KOMENTAR, FOLLOW AUTHOR & SHARE ❀


Sukabumi 13/04/22


__ADS_2