
M50 🥀 : PERJUANGAN SEORANG EVELYN
“Lo ini bodoh atau gimana, sih? Masa lo gak tahu gunanya after morning-pil atau pengaman, Ev?!”
Wanita yang berprofesi sebagai Obstestric and gynecology atau Obgyn itu tampak mencak-mencak sembari berkacak pinggang. Di hadapannya, seorang wanita cantik tampak bungkam sembari menatap selembar foto monokrom hasil pemeriksaan ultra sonografi.
“Aku ….tidak menyangka dia akan hadir secepat ini, Dees. Padahal, aku sudah berusaha agar dia tidak hadir,” gumamnya lirih dengan suara bergetar.
“Maksud lo, apa? memangnya lo sama laki lo ngelakuin hubungan badan tanpa kesadaran? Kalau sadar, kalian pasti tahu resiko berhubungan badan tanpa pengaman, ‘kan?” ujar si pemilik nama, geram sendiri.
“Darren memang tidak sadar.”
“What the hell is that?!”
“Dia hangover.”
“Please, jelasin yang detail, Ev. Gue bingung, nih. Loading!”
Wanita cantik yang baru saja menyandang status sebagai calon ibu itu menghela nafas lemah. Kedua bagian bibirnya tampak terbuka tanpa minat, hendak menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi. Dia—Evelyn—sangat shok sebenarnya. Mendapati jika telah ada kehidupan lain yang tumbuh, tinggal dan berkembang di dalam tubuhnya. Dia pikir tidak akan ada kehidupan yang hadir, karena dia juga sudah mengusahakan yang terbaik agar benih suaminya tidak berhasil tumbuh dan berkembang. Namun, agaknya Tuhan telah berkata lain. Nyatanya, apa yang dia pikir tidak akan hadir, ternyata sudah hadir, dan tinggal tanpa permisi.
“Assh*le!” umpat Deesa setelah mendengar cerita sebenarnya versi lengkap. “Sumpah demi Tuhan, laki lo bener-bener jelmaan dajjal atau Don juan, sih? Gue gak habis pikir sama kelakuannya.”
Don juan adalah istilah yang hampir bisa disamakan dengan playboy. Perbedaanya, playboy adalah istilah untuk laki-laki yang gemar gonta-ganti pasangan, sedangkan Don juan istilah untuk seorang laki-laki yang handal dalam menaklukkan banyak wanita lalu melakukan hubungan s*ksual dengan para wanita tersebut.
“….”
“Terus sekarang gimana? Lo juga gak mau hamil benih Don juan itu, ‘kan? Lo mau gugurin atau pertahanin?” tanyanya retoris.
Ev mendongkrak, menatap lawan bicaranya lekat-lekat. “Aku….”
“Lo gak mungkin bunuh darah daging lo sendiri, ‘kan?” tebak Deesa cepat. “Gue udah tahu kalau hati lo itu lembut kayak kain sutra, Ev. Cuma, ya, laki lo yang bastard itu udah ngerusak lo. Ngerusak hidup lo. Reputasi lo. Karir lo.”
Deesa yang sudah emosi tingkat dewa kemudian memilih memijit pangkal hidungnya sejenak. Pusing tiba-tiba mendera kepala karena emosi yang meluap-luap. “Terus sekarang lo mau gimana, Ev? Dimi juga harus tau, ‘kan? Kasihan dia kalau lo gak kasih tahu. Gimana pun juga, Dimi yang ngehandle semua kerjaan lo selama ini.”
“Masalah Dimi biar aku yang urus,” jawab Ev singkat. Memikirkan manager-nya itu, Ev memang membutuhkan waktu. Untung saja, saat ini Dimi tengah menghandle pekerjaan yang sempat tertunda.
Deesa mengangguk paham. “Sekarang gimana? Lo mau pertahanin dia? Terus, laki lo sama keluarga besar lo, mau lo kasih tahu? Bukannya laki lo ngira dia tidur sama cewek lain. Dia bahkan berencana buat nyingkirin cewek itu, ‘kan?”
Ev mengangguk pelan.
“Haduh, pusing gue,” decak Deesa. “Lo juga, kenapa gak langsung minum after morning-pil waktu itu, seenggaknya lo udah ada niat untuk mencegah hal ini terjadi.”
“Aku gak sempat minum karena pil itu ternyata ditukar.”
“I see, mertua lo memang udah gak sabar banget pengen lo bunting,” decak Deesa.
“Tapi, Dees, kenapa aku enggak merasakan apa-apa selama ini? aku pikir, dia tidak akan hadir,” lirih Ev seraya menyentuh bagian perutnya.
Deesa menghela nafas pelan. Kemudian dia balik menatap sang sahabat. “Gini, ya, bestie. Kehamilan terjadi apabila sel telur berhasil dibuahi oleh sel sp*rma. Setelah pembuahan berhasil, maka terjadilah proses implantasi. Nah, secara umum, pembuahan mungkin terjadi paling cepet tiga menit setelah lo sama si Darren berhubungan, atau seenggaknya lima hari setelah berhubungan. Terus, implantasi terjadi dari lima sampe sepuluh hari setelah pembuahan. Atau, lima sampe lima belas hari setelah kalian berhubungan.”
Deesa menjeda untuk sejenak. Lalu kembali menjelaskan. “Sementara itu, gejala kehamilan bisa dirasakan seminggu setelah berhubungan badan. Akan tetapi, beberapa perempuan memang enggak merasakan gejala yang sama, bahkan enggak merasakan gejala kehamilan sama sekali kayak kasus lo.”
Ev memang tidak merasakan gejala apa-apa, kecuali mengalami pendarahan berupa bercak-bercak yang dia kira tamu bulanannya. Oleh karena itu, Ev cukup terkejut, bingung, juga shok saat mendapati dirinya hamil. Jujur, dia belum siap menjadi seorang ibu. Apalagi usia pernikahannya juga baru seumur jagung. Baik dia maupun sang suami masih memiliki ego besar terhadap ambisi masing-masing. kehamilan ini tentu sedikit-banyak akan menghambat jalan Ev meraih apa yang dia mimpikan. Seperti perkataan Deesa barusan.
Namun, adanya Deesa di sisi Ev saat ini, membantu Ev untuk mengurangi pikiran negatif yang muncul di dalam benak. Bohong jika Ev tidak stress memikirkan kondisinya saat ini. lama kelamaan, baby bump-nya akan terlihat. Bagaimana cara Ev menutupi hal tersebut?
“Dees, aku mau minta bantuan kamu.”
“Bantuan apa, Ev? apa lo berpikir buat abor—“
“No!” jawab Ev cepat seraya memeluk perutnya sendiri. “Dia milikku. Darah dagingku. Aku tidak mungkin melakukan hal sekeji itu.”
“And then, lo mau minta bantuan apa, bestie?”
“Bantu aku untuk menutupi kehamilanku. Pekan depan kita pulang ke Jakarta. Aku akan menetap di Jakarta dua sampai tiga bulan, kemudian terbang lagi ke Paris untuk mengurus sekolah Fashion milikku. Aku juga akan memilih tempat tinggal sementara di Bern atau Interlaken.”
__ADS_1
“Bern atau Interlaken? Lo berencana tinggal di Swiss?”
“Aku mau melahirkan di sana.”
“Why?” bingung Deesa.
“Karena ada seseorang yang bisa menjamin keselamatanku di sana,” jawab Ev mantap.
Bern dan Interlaken adalah dua dari deretan kota terbaik yang ada di Swiss. Ev memiliki rencana sendiri dengan memilih tinggal di salah satu kota tersebut.
Sisa satu minggu di Paris, Ev lebih banyak memikirkan cara yang akan dia ambil selanjutnya. Perlahan-lahan Ev juga memberitahu Dimi soal kondisinya. Bagaimana pun juga, Dimi berhak tahu soal kondisi Ev yang notabene adalah tanggung jawabnya. Dimi tentu ikut dibuat pusing tujuh keliling. Karena kondisi Ev yang tengah berbadan dua, jadwal kerja yang Ev terima lebih disortir. Bagiamana pun juga, Ev tidak boleh terlalu letih bekerja, banyak pikiran, apalagi stress karena pekerjaan. Hal itu akan berpengaruh pada kandungannya.
Dua minggu menghabiskan waktu di Paris, Ev kemudian bertolak ke Jakarta. Setelah tidak bertemu dengan pria yang telah membuatnya menjadi seorang ibu empat belas hari lamanya, Ev kembali bertemu dengannya. Kepulangan Ev tentu disambung gembira oleh keluarga besar, terutama Diana Xander. Wanita paruh baya itu gencar sekali mengorek informasi soal honeymoon Ev dan Darren selama di Maldives. Malamnya, Diana mengundang Ev untuk dinner di mansion Xander.
“Kamu udah ada tanda-tanda isi belum, Ev?” tanyanya kala itu, seraya mengusap bagian terluas dress bagian perut milik menantunya.
Mendapati pertanyaan demikian, Ev tersenyum kecil sebagai balasan. “Ev belum merasakan tanda-tanda apa pun, Ma.”
Wanita paruh baya itu mengangguk. Jawaban Ev tampak mengurangi sedikit raut antusias di wajahnya.
“Mungkin Ev dan Darren masih ingin berpacaran, ma. Jadi, mereka menunda punya momongan,” ujar suami Diana tiba-tiba. “Lagi pula mereka juga baru menikah. Pasti masih ingin kemana-mana berdua,” tambahnya.
Ev tersenyum seraya melirik sang suami yang tampak datar-datar saja di sampingnya. Pria yang malam ini mengenakan jas warna dark blue, kemeja, vest, juga celana dengan warna senada itu tampak tidak tertarik sama sekali dengan topik pembicaraan tersebut. Semenjak kepulangannya, Ev memang belum bertukar pembicaraan dengan Darren. Tembok yang tadinya terbentang tak terlalu tinggi, kini tampak semakin menjulang tinggi nan kokoh. Membuat Ev berpikir puluhan kali untuk mencoba melewati tembok tersebut.
Apalagi sekarang mereka tinggal dalam satu atap. Sekali pun tidak satu ruangan. Kecuali jika ada anggota keluarga yang tiba-tiba datang dan menginap, maka terpaksa Ev dan Darren tidur dalam satu ruangan.
“Maaf karena ibu harus menyembunyikan keberadaan kamu, sayang. Ini jalan terbaik untuk kita berdua,” lirih Ev saat berkaca pada cermin besar yang terpasang di walk in closet miliknya.
Perutnya masih rata, tetapi sudah ada kehidupan yang tumbuh dan berkembang di dalam sana. Bohong jika jantung Ev tidak berdebar-debar setiap kali harus melakukan skinship dengan Darren demi kepentingan sandiwara. Ev takut rencana yang telah dia susun berujung pada kesia-siaan. Bukan perkara mudah menyembunyikan keturunan Xander yang sudah dinanti-nantikan kelahirannya. Belum genap dua bulan menikah, Ev sudah berhasil memberikan Diana Xander dan Dazen Xander cucu yang sudah lama didambakan. Hanya saja, ayah dari cucu yang mereka dambakan saja tak pernah menginginkan kehadirannya.
Ev yakin jika kehadiran anak di tengah-tengah mereka, bisa saja dianggap sebagai ancaman oleh Darren. Melihat bagaimana perjuangan pria itu untuk mendapatkan posisi CEO demi memenuhi ambisinya selama ini. Darren tak segan-segan menyingkirkan kerikil yang mampu menghambat jalannya, tak terkecuali darah dagingnya sendiri. Jadi, keputusan untuk menyembunyikan kehamilan ini Ev rasa sudah benar.
Namun, sekali lagi Ev tekankan. Bukan perkara mudah menyembunyikan kehamilannya. Dia harus pandai menahan gejala yang timbul karena hormon, seiring dengan bertambahnya usia kandungan. Ev bahkan sempat kepergok muntah oleh Darren di pagi hari. Kala itu, Ev sudah risau setengah mati saat ditanyai.
Suara baritone berat itu mengalun tepat di belakang Ev yang tengah berjongkok di depan closet. Sapuan jemari besarnya dapat Ev rasakan, mengumpulkan helai demi helai rambut Ev yang berserakan. Mengumpulkannya menjadi satu, agar tidak terkena muntahan.
“Sebaiknya kamu keluar, ini menjijikan.”
“Aku tanya, kamu kenapa?” bukannya memilih menuruti, pria itu malah kukuh bertanya.
“Enter wind (masuk angin),” jawab Ev asal. “Semalam aku melakukan pemotretan di luar ruangan hingga tengah malam,” tambahnya, dengan suara yang semakin kecil. Morningsickness di pagi hari ternyata cukup menguras tenaganya.
“Ceroboh.”
Ev yang sudah terlalu lemas, hanya bergumam tak jelas seraya menekan tombol flush. Tubuhnya sudah tidak kooperatif. Tungkainya terasa menjadi jeli seketika. Belum sempat Ev meminta berbicara, sapuan jemari besar itu mampir di bahu dan lutut. Tak lama kemudian, Ev bisa merasakan tubuhnya melayang di udara. Darren menggendong nya. Menggendong ala bridal style.
Pria itu dengan telaten membantu Ev berkumur-kumur di wastafel terlebih dahulu, sebelum membawanya kembali ke ranjang.
“Aku akan meminta bi Surti untuk membawakan bubur dan obat. Sebaiknya kamu hari ini tidak pergi bekerja.”
“Tidak. Aku harus pergi ke—“
“Ini perintah,” potong pria rupawan tersebut. Kemudian dia mengambil ancang-ancang untuk pergi dari ruangan tersebut, sebelum suara sang istri menghentikannya.
“Darren.”
“Ada apa?”
“Aku tidak mau makan bubur. Bisa suruh tolong suruh bibi buatkan bubur oat hangat dengan buah-buahan?”
“Hm. Ada lagi?”
“Ah, satu lagi, aku ingin susu hangat. Bibi tahu susu mana yang biasa aku minum.”
“Hm.”
__ADS_1
Setelah mendengar pesanan terakhir Ev, pria yang semalam tidur bersama dengan istrinya itu melenggang pergi. Tanpa dia sadari, seberkas senyum terbit di bibir sang istri. Tak berselang hingga sepuluh menit, pria itu sudah kembali lagi dengan sebuah nampan bersamanya.
“Cepat habiskan, dan minum minum obatnya. Lalu istirahatlah.” Kalimat perintah itu Ev tanggapi dengan senyum kecil.
Sekarang, nampan berisi segelas susu hangat yang Ev yakini susu ibu hamil yang dusnya sudah Ev tukar dengan dus susu diet rendah lemak. Ada pula mangkuk berukuran medium berisi bubur oat hangat dengan topping blueberry, madu, kacang almond, potongan pisang, dan sirup maple.
“Kenapa terasa ada yang kurang?” gumam Ev lirih kala melirik bubur oat pesanannya.
“Sengaja tidak aku tambahkan, karena kamu tidak suka kunyit.”
Mendengar suara baritone itu mengudara Ev kontan mendongkrak. Terkadang, bi Surti memang menambahkan kunyit. Sesuai dengan resep yang bi Surti pelajari dari internet, padahal Ev tidak suka kunyit. Oleh karena itu, Ev terkejut saat tidak menemukan kunyit di bubur oat miliknya. Seperti tidak terbiasa. Ternyata, yang buat bubur oat-nya adalah Darren.
“Terima kasih,” ujar Ev tulus seraya mulai menikmati bubur oat miliknya.
“Hm.”
Pagi itu, Ev bisa merasakan bubur oat buatan Darren. Makanan pertama yang dibuat ayah biologis dari bayi yang tengah dia kandung. Pertama dan terakhir kalinya, karena setelah itu hubungan mereka kembali seperti awal. Dingin, datar, dan asing sekali pun tinggal satu atap.
Siang itu, saat usia kehamilan Ev menginjak ke-15 jalan ke-16 minggu, Ev sudah bersiap untuk bertolak ke Paris kembali. Ev juga sudah memberitahu para orang tua, jika dia memiliki jadwal kerja di luar Negeri hingga beberapa bulan ke depan. Awalnya para orang tua menolak ide Ev untuk bekerja di luar Negeri tanpa didampingi sang suami. Namun, bukan Evelyn namanya jika tidak bisa meluluhkan hati mereka. Selesai dengan urusan para orang tua, Ev tinggal menemui sang suami.
Pria itu hari ini ada di kantor. Ev sengaja datang pada jam makan siang, agar tidak menganggu pekerjaan pria tersebut. Wanita yang tengah hamil muda itu tampak cantik dalam balutan dress motif flora dari brand kenamaan asal Paris. Aura ibu hamil yang positif tampak kian menambah kadar kecantikannya. Para staff yang sempat berpapasan dengan Ev juga tampak menunduk hormat, dibalas dengan anggukan dan senyuman sopan dari wanita cantik tersebut.
Sembari menenteng sebuah paper bag dengan logo restoran bintang lima, Ev memasuki lift yang akan membawanya ke lantai atas. Tiba di tempat tujuan, Ev langsung melangkah lurus, belok ke kiri di ujung lorong. Di sana, seharusnya dia menemukan seorang wanita muda blasteran Indo-Eropa yang berprofesi sebagai sekretaris. Namun, Ev tidak menemukannya. Mungkin sekretaris sang suami sedang lunch di kafetaria, pikirnya.
Akan tetapi, sosok blasteran yang memiliki ciri khas berupa rambut brunette itu Ev temukan di ruangan sang suami. Wanita itu tampak tengah membungkuk di depan meja kerja sang suami, kala Ev memasuki ruangan tanpa mereka sadari. Lagi pula pintu ruangan tersebut juga tidak tertutup rapat.
Ketika berjalan semakin dekat, Ev yang hari itu mengenakan flatshoes—sehingga tidak menimbulkan bunyi yang cukup nyaring—dapat melihat dengan jelas apa yang sebenarnya tengah dilakukan oleh dua orang di depannya.
They are kissing.
Entah siapa yang memulai. Tapi, Ev yang menemukan mereka tengah kissing hanya membatu di tempat. Hingga kehadirannya disadari oleh salah satu dari mereka.
“Nyonya Ev.”
Baru ketika ada yang menyebut namanya, Ev lantas bereaksi. “Ah, apa aku menganggu kalian?”
Wanita muda yang mengenakan setelan formal itu tampak gugup di tempatnya berdiri. Sedangkan di balik meja kerjanya, si empunya ruangan sudah berdiri dengan tegap. Menyambut kedatangan sang istri dengan tatapan yang menghunus tajam.
“Ada urusan apa kamu datang ke sini, Ev?”
Ev tersenyum miris mendengarnya. “Aku membawakan kamu makan siang,” ujar Ev santai sembari mengangkat paper bag di tangannya. “Aku juga ingin memberitahu kamu jika aku akan pergi ke luar Negeri.”
“Berapa lama?”
“Five or six months,” ujar Ev, kemudian menyimpan bawaannya di atas meja. Tanpa menunggu respon sang suami, Ev kembali berujar. “Kalau begitu aku pamit. See you next time, my husband.”
Setelah berkata demikian, Ev berbalik badan dan melangkah pergi. Dia masih sempat mendengar suara sekretaris sang suami yang memanggil dan memintanya untuk mendengarkan penjelasan. Namun, Ev abai. Dia juga tidak mendapati usaha sang suami untuk mengejar kepergiannya. Jadi, dapat Ev simpulkan bahwa Darren juga ikut berkontribusi dalam adegan ‘kissing’ tersebut. Kemungkinan besarnya, kedatangan Ev menganggu mereka.
“Keputusan ibu memang sudah benar. Setelah ini, kita akan hidup bersama di tempat yang jauh, baby.” Ev berguman lirih seraya menyentuh perutnya yang mulai berbentuk. Kehamilannya masih dapat disamarkan walaupun sudah memasuki usia ke-15 jalan ke-16 minggu. Tanpa Ev sadari, sebutir air mata berhasil lolos kala Ev berada di dalam lift seorang diri.
Semenjak hari itu, Ev semakin yakin untuk menjaga, merawat, dan membesarkan buah hatinya seorang diri. Ev tidak butuh ayah biologisnya. Ev akan membuat hidup malaikat kecilnya sempurna, sekali pun tanpa figure seorang ayah. Toh, ada orang lain yang selalu siap menjadi pengganti ayah biologisnya.
🥀🥀
TBC
JADI, MENURUT READERS KEPUTUSAN EV EGOIS ATAU SUDAH BENAR??
JANGAN LUPA LIKE, VOTE, KOMENTAR, FOLLOW AUTHOR & SHARE ❤️
Sukabumi 24/03/22
__ADS_1