Berbagi Cinta: Mistress (Wanita Simpanan)

Berbagi Cinta: Mistress (Wanita Simpanan)
M72 : AYAH YANG BURUK


__ADS_3

MISTRESS UPDATE 🔥


JANGAN LUPA BACA NOTE DI AKHIR PART, LIKE, VOTE, KOMENTAR, FOLLOW AUTHOR & SHARE ❤️


HAPPY READING 🔥


M72 🥀 : AYAH YANG BURUK


“Sial.”


Dia tidak bisa memejamkan mata. Dia dihantui oleh wajah bocah kecil yang ditemui beberapa jam lalu. Wajah mungil yang menahan tangis dengan seulas senyum yang dipaksakan itu benar-benar tertinggal di kepala.


Karena tidak bisa beristirahat seperti tujuan awalnya, dia memilih untuk membersihkan diri. Saat ini dia berada di kamar lamanya. Di almari masih tersimpan beberapa setel baju lama yang dapat digunakan untuk ganti. Sebelum meninggalkan kediaman ini, dia memilih untuk membersihkan badan terlebih dahulu—agar lebih fresh.


Setelah mandi dan berganti pakaian, dia bergegas keluar dari kamarnya. Hari sudah beranjak malam. Matahari sudah meninggalkan bumi, digantikan oleh kegelapan malam. Sedari tadi dia hanya membuang-buang waktu di atas tempat tidur. Padahal dia sudah janji akan mengunjungi istri keduanya di rumah sakit. Sebelum mengurung diri di kamar lamanya, dia juga sempat melihat sang ibu menegur para pelayan dan penjaga. Mereka ditegur habis-habisan karena tidak menjaga bocah kecil tadi dengan baik—entah karena mereka membiarkan Darren masuk begitu saja.


Jika mengingat hal tersebut, Darren hanya bisa menghela nafas lemah. “Jadi mama dan papa benar-benar ingin menjauhkan anak itu dariku?” gumamnya. Bohong jika hati kecilnya tak tersentil. Namun, ada perasaan lain yang lebih menganggu batinnya. Rasa bersalah.


Sekali lagi Darren menguyar rambut hitamnya frustasi. Dengan langkah gontai dia kembali melangkah. Namun, langkah kakinya otomatis terhenti di depan sebuah pintu yang agak terbuka. Suara isakan samar-samar terdengar dari dalam. Ada pula suara seorang wanita yang terdengar memberikan kalimat penenang.


“Sudah ya, schatz (sayang). Dan mau, kan, pulang sama Mère? Kita bicara lagi sama Perè lain waktu.”


“Dan mau peluk Perè.” Sahut suara yang lain. Lirih, bahkan hampir terdengar seperti bisikan ringan.


“Ja, schatz (iya, sayang). Nanti Mère akan bicara sama Perè. Sekarang Dan ikut sama Mère dulu, ya? Om sudah nunggu Dan di bawah.”


“Om?” suara yang tadi terdengar seperti bisikan itu terdengar lebih antusias.


“Ja, schatz (iya, sayang). Om di bawah, di parkiran. Sedang menunggu Dan. Om juga mau mengajak Dan makan malam di luar. Dan mau, kan, pulang sekarang?”


“Ja (iya). Dan mau pulang sama Mère dan Om.”


“Ok, kalau begitu sekarang Mère bantu Dan mengemas barang-barang Dan.”


“Ja, Mère (ya, Mère).”


Darren mematung di ambang pintu. Obrolan itu sudah berakhir, namun isi kepalanya dibuat berpikir keras setelahnya. Mère? Bukan kah itu panggilan seorang anak pada ibunya dalam bahasa Perancis? Darren baru ingat. Sedangkan Perè? Berarti ayah.


Darren memang tidak menguasai bahasa Perancis, tetapi dua cukup mengetahui arti beberapa suku kata. Ingatannya juga jadi kembali pada ingatan saat tahun pertama dia dan Ev menikah. Dulu sang istri pernah tinggal di Negara Perancis selama beberapa bulan. Dia juga tahu Ev menguasai bahasa Perancis karena memang Ev banyak menghabiskan masa muda di Negara tersebut.


Akan tetapi yang membuat Darren kebingungan saat bicara dengan bocah kecil tadi, karena bocah itu menggunakan bahasa Jerman. Bahasa yang sama sekali tidak pernah Darren pelajari. Darren hanya menguasai bahasa Inggris, Mandarin, Jepang, Belanda, dan bahasa Arab. Karena bahasa-bahasa itu kerap digunakan sebagai sarana komunikasi dengan para investor terbesar bagi perusahaan yang dia pimpin.


“Ev.”


Semua indra perasa dalam tubuhnya secara otomatis berfungsi dengan baik saat pintu terbuka dengan lebar dari dalam. Memunculkan sosok cantik yang sudah lebih dari tiga bulan tidak dia jumpai.


“Darren?”


Wanita cantik yang mengenakan dress berwarna lilac itu juga tampak terkejut mendapati sang mantan suami. Namun, sepersekian detik berikutnya Ev menerobos celah yang masih tersisa agar dapat keluar dari ruangan tersebut.


“Tunggu, Ev. We need to talk,” cegah Darren. Dengan gerakan cepat dia dapat meraih lengan Ev.


“Apa yang mau kamu tahu?” tanya Ev to the point.


“Dia.” Darren menunjuk anak kecil yang berdiri di samping Ev menggunakan dagu. “Kenapa kamu kenal anak itu?”


“Memangnya kenapa jika aku mengenal dia?” alih-alih menjawab, Ev malah balik melontarkan pertanyaan.


“Jawab saja, Ev. Apa susahnya?” kata Darren frustasi.


“Dia putraku.”


Darren terpekur mendengarnya.

__ADS_1


“Kamu puas setelah mendengar jawaban itu?” Ev balik bertanya. Sorot mata wanita cantik itu tampak dingin dan datar. “Apa lagi yang kamu tunggu? Sekarang lepaskan tanganku!”


“Bagaimana bisa….” Lirih Darren, kebingungan. “Bagaimana bisa kamu memiliki putra tanpa sepengetahuanku?”


“Tentu saja bisa,” jawab Ev mantap. “Hanya itu yang bisa aku berikan sebagai jawaban. Sekarang biarkan aku dan Dan pergi.”


Darren masih tidak membiarkan Ev pergi. Dia malah terpaku pada kata ‘Dan’ yang ditujukan pada anak kecil dengan rupa kloningannya itu.


“Dan? Dia Dan yang kerap kamu hubungi dan jumpai?” monolog Darren. Beberapa waktu yang lalu saat dia meminta Damian untuk menyelidiki Ev, nama ‘Dan’ kerap kali muncul dalam hasil penyelidikan.


Sedetik kemudian Darren mengeluarkan dompet kulit miliknya dengan tangan yang terbebas dari apapun. Mengeluarkan selembar foto yang telah lama tersimpan di sana. Bahkan foto USG putranya—Danadyaksa Xander—saja tidak ada di sana.


“Jadi foto USG ini benar punya kamu?” tanyanya. Pandangannya kini terkunci pada wajah cantik di hadapannya yang tampak terkejut. “Siapa ayahnya?” tanyanya lagi, menuntut jawaban. “Siapa ayahnya, Ev. Aku tanya, siapa ayah anak itu!”


“Memang apa yang akan kamu lakukan jika mengetahui siapa ayah Dan?”


“….”


“Apa yang akan kamu lakukan Darren?” tuntut Ev. “Aku sudah capek kamu interogasi. Yang pasti sekarang kamu sudah tahu jika Dan adalah anakku. Sekarang biarkan aku pergi agar dapat menjauhkan putraku dari pria seperti kamu,” timpal Ev dengan emosi yang masih terpelihara dengan baik. Ev tidak mau memperlihatkan pertikaian di hadapan sang putra. Jadi, sebisa mungkin dia memelihara emosinya.


“Mère.” Panggil si kecil seraya menarik-narik genggaman tangannya dan sang ibu.


Ev menoleh. “Dan turun ke bawah lebih dulu ya, temui Om.”


Si kecil Dan mengangguk dengan patuh.


“Mère masih ada urusan sebentar.”


“Ja, Mère (ya, Mère).”


“Kalau begitu sekarang Dan pergi,” kata Ev diakhiri dengan senyuman tipis. Dilepaskannya tautan tangan di antara mereka.


“Ev.”


Pria yang masih berdiri di ujung tangga itu mengangguk. Pria itu menyusul karena Ev dan Dan tak kunjung datang. “C’mon, little angel. Kita tunggu di bawah.”


Si kecil Dan dengan antusias berlari menuju pria rupawan itu. Berlari menuju dekapan pria yang selalu menerima keberadaanya dengan tangan terbuka. “Selesaikan urusan kalian dengan cepat. Kita menunggu di bawah,” kata pria rupawan bermarga Wijaya itu sebelum berlalu bersama Dan dalam gendongan.


Darren tidak dapat memutuskan perhatiannya melihat kedekatan yang terjalin di antara mereka—Dean Wijaya bersama Dan. Mereka tampak dekat, melebihi hubungan seorang kenalan biasa. Atau jangan-jangan …..mereka memiliki hubungan darah?


“Sekarang apa yang mau kamu tanyakan?” tanya Ev to the point dan kian dingin. “Tanyakan. Selagi aku berbaik hati.”


“Siapa ayahnya?” tanya Darren tak kalah dingin dan to the point.


“Kamu.”


“Apa?!” kaget Darren. Pria itu tampak membelalakkan mata, tidak percaya. “Are you kidding me (kamu sedang bercanda)?”


“See, untuk apa aku menjawab jika kamu tidak percaya?” Ev tersenyum sarkas. “Foto USG itu diambil saat Dan berusia sekitar 5 atau 6 minggu. Kamu bisa memastikan keaslian foto jika mau.”


“Bukan, bukan itu maksudku.” Darren menggelengkan kepalanya cepat. Ditatapnya ex-wife nya itu dengan tatapan yang tidak dapat diartikan. “Maksudku bagaimana bisa kamu hamil anakku? Padahal kita tidak pernah melakukan itu? Kamu saja menolak aku sentuh waktu itu Ev?” tanyanya retoris.


“Tanyakan itu pada dirimu sendiri, Darren.” Ev menunjuk Darren dengan jari telunjuknya. “Karena kejadian yang bahkan tidak dapat kamu ingat, Dan hadir di dunia ini.”


“….”


“Malam itu, bukan perempuan di bar yang kamu tiduri. Tapi, aku. Istri kamu.”


Deg!


Darren terpaku. Tubuhnya seketika membeku. Bibirnya terasa kelu. “What the h*ck are you talking about it (Apa yang kamu bicarakan)?”


“Kebenaran,” jawab Ev mantap. “Kamu punya anak laki-laki berusia 5 tahun yang selama tidak kamu ketahui keberadaanya. Namanya Palacidio Daniel Adhitama Xander. Golongan darahnya sama seperti kamu, AB. Selera makannya sama seperti kamu, tidak terlalu suka makan nasi di pagi hari, tidak terlalu suka manis, dan tidak terlalu suka pedas. Dan suka membaca buku, juga menonton televisi. Channel yang selalu dia tonton adalah channel yang menayangkan berita soal ayahnya. Karena lewat channel itu Dan bisa melihat sang ayah, lantas dia akan berkata dengan lantang dan bangga jika orang itu adalah ayahnya.”

__ADS_1


Alih-alih percaya, Darren malah tertawa miris. “Kamu sedang mengarang cerita, Ev?”


Si pemilik nama menyentak tangannya yang dipegang kuat, sehingga pegangan itu terlepas. Di tatapnya sang lawan bicara dengan serius. “Kamu pikir aku sedang bercanda Darren? Kamu memang ayah biologis Dan. Hanya itu kebenarannya. Jika kamu bertanya kenapa Dan bisa hadir? Karena kamu melakukan ‘itu’ saat kamu kehilangan kesadaran. Kenapa kamu tidak pernah mengetahui keberadaan Dan? Karen aku sengaja menyembunyikan Dan. Aku meminta perempuan bar itu untuk tutup mulut dan pergi sejauh mungkin agar kamu tidak menemukan dia.


Jika kamu pernah berpikir aku menjalin hubungan gelap di belakangmu, itu sungguh keterlaluan.” Ev tersenyum sarkas ke arah mantan suaminya. “Kamu pikir aku pernah punya waktu untuk semua itu? Tidak. Bahkan untuk menghabiskan waktu bersama Dan saja aku kesulitan. Berbeda dengan kamu yang memiliki banyak waktu untuk bermain-main dengan para wanita di luar sana.”


Darren kehabisan kata-kata. Semua kalimat yang Ev lontarkan terdengar seperti muntahan fakta. “Lalu kenapa kamu menyembunyikannya dariku, Ev?” tanya Darren gamang.


“Karena aku tahu kamu tidak akan menerimanya waktu itu. Kamu terlalu dibutakan oleh ego dan kekuasaan.”


“Tapi, Ev, aku ayahnya. Aku ….berhak mengetahui keberadaannya.”


“Sekarang kamu mengakui Dan sebagai anak kamu. Tapi, beberapa saat yang lalu kamu bahkan membuat Dan ketakutan. Kamu melukainya. Baik fisik maupun psikis.”


Skakmat. Darren bak ditusuk oleh kata-kata Ev. Dan merasakan sakit dan sesal yang teramat dahsyat. Ev benar, beberapa waktu yang lalu dia telah melukai anak itu. Dan—buah hatinya.


“A-ku tidak bermaksud melukainya. I'am out of control.”


Ev menggelengkan kepala, tak percaya. “Kamu terlalu larut dalam kesedihan karena kehilangan calon pewaris dari wanita itu bukan? Sampai-sampai kamu gelap mata dan berperilaku kasar kepada Dan yang notabene darah daging kamu juga. Apa kamu memang sebodoh itu sampai-sampai tidak dapat mengenali putramu sendiri?”


Ev sudah lelah berdebat dengan Darren. Dia pikir kejeniusannya mantan suaminya itu memang sudah tergerus. Saat mendapatkan telepon dari mertuanya—Diana Xander—Ev yang baru tiba di Jakarta langsung on the way ke mansion Xander. Dia mendapatkan kabar jika Diana kecolongan menjaga Dan. Wanita paruh baya itu juga sudah berulang kali minta maaf atas kejadian tersebut. Kebetulan Dean yang menjemput Ev, jadi mereka bisa langsung tancap gas.


Mau tidak mau, Ev harus membeberkan kebenarannya sekarang. Karena kejadian itu telah membuat ekspetasi tinggi si kecil Dan soal sang Perè terhempas begitu saja. Anak itu sempat terguncang mentalnya karena diperlakukan kasar oleh sosok yang sangat ingin dia jumpai di dunia ini.


“Jika kamu butuh tes DNA, aku akan memastikan Dan siap kapan pun. Atau jika kamu ingin mengetahui lebih banyak informasi tentang Dan, nanti aku akan mengirimkan profil Dan lewat surel. Apa pun yang berkaitan dengan Dan, aku akan memberitahukannya kepada kamu. Namun, untuk saat ini jangan berharap untuk dapat bertemu dengan Dan.”


“Kenapa aku tidak boleh bertemu dengannya?!” sahut Darren tidak terima.


“Itu hukuman untuk kamu dariku. Maka terimalah hukuman itu, Darren.”


“Tidak, Ev. Aku ayahnya. Aku berhak bertemu dengannya.” Bantah Darren, tidak terima.


“Tidak lagi,” ujar Ev tegas. “Sampai waktu yang belum ditentukan, kamu dilarang bertemu dengan Dan.”


Darren menggeleng tegas. Mukanya merah padam, entah menahan amarah atau emosi. “Tidak ada yang boleh menghalangiku bertemu putraku.”


Ev tersenyum skeptis mendengar kalimat tersebut. “Coba saja jika kamu bisa. Tapi, aku sarankan kamu lebih baik memikirkan kondisi istrimu. Pasti berat rasanya kehilangan seorang putra, karena …aku juga sempat merasakannya.”


“A-pa maksudmu Ev?” tanya Darren, terbata-bata. “Putra kita .... kenapa??”


“Dan ….putra kita lahir di usia 28 minggu. Tidak berbeda jauh dengan putra kalian. Dan juga sempat berada di ambang kematian. Tapi, saat Dan sudah tumbuh dan berkembang dengan baik, kamu malam memberinya luka yang baru. Kamu telah menghapus ekspetasi tinggi Dan soal kamu. Soal ayah yang sangat dia rindukan. Yang akan memberinya pelukan hangat saat pertama kali bertemu, bukannya tatapan penuh kebencian dan tindak kekerasan.”


Darren lagi dan lagi dihantam beban tak kasat mata yang membuat rongga dadanya sesak. Seumur hidup dia tidak pernah menyesal hanya karena pernah menyakiti seseorang satu kali. Namun, kali ini dia begitu menyesal karena tindakannya menyakiti seseorang satu kali saja dapat merubah pandangan orang itu di kemudian hari.


“Darren Aryasatya Xander.”


Si pemilik nama mendongkrak, menatap wanita cantik yang barusan menyebutkan namanya dengan lengkap setelah sekian lama. Namun, sepersekian detik selanjutnya Darren kembali ditikam oleh kalimatnya.


“Kamu adalah ayah yang buruk.”


🥀🥀


TBC


NOTE : Hai, readers 👋


Maaf gak bisa update teratur seperti biasa. Soalnya Author mengalami kerusakan saraf pada jari telunjuk dan ibu jari sebelah kiri, jadi diminta untuk istirahat typing sejenak. Sampai saat ini Author juga masih cari obat yang cocok boat mengobati kerusakan saraf yang mengakibatkan tangan kebas.


Kalau Readers punya saran atau rekomendasi, bisa sharing ya ✌️


Spoiler 👇


__ADS_1


Sukabumi 24/04/22


__ADS_2