
M34 🥀 : BERTINDAKLAH, EV.
Deru suara familiar yang cukup keras, terdengar saat sebuah helicopter berwarna hitam dengan logo D-WIJAYA terparkir di helipad halaman mansion. Ev baru saja keluar dari pintu utama mansion kala pintu benda itu terbuka. Seorang pria yang mengenakan pakaian semi formal berjalan keluar dengan bulan sabit yang tercipta di bibir. Satu buket bunga Lily putih tak lupa dia bawa pada salah satu tangan.
“I’am sorry. Ternyata jet pribadiku masih berada di bandara. Kemarin dipakai mama ke Bandung.”
Wanita cantik yang mengenakan salah satu koleksi terusan dari TheStoryOf dan dipadukan dengan heels Gianvito Rossi ‘105’ praline suede itu tersenyum sembari mengangguk. Dean memang tidak membawa jet pribadi seperti yang dia janjikan. Mengingat jika burung besi itu masih berada di bandara. Jadi, dia membawa helicopter pribadi miliknya.
“Ah, aku hampir lupa memberikan ini.”
Ev tersenyum lebar seraya menerima buket bunga yang tersodor ke arahnya. “Bunganya segar sekali.”
“Bunganya masih fresh. Baru diambil dari florist.”
“Terima kasih,” ujar Ev seraya menghirup aroma bunga-bunga segar tersebut.
Pria rupawan itu mengangguk seraya tersenyum.“You are welcome.” Pandangan Dean kemudian beralih pada balkon di lantai dua, di mana sepasang mata jelaga tengah mengamati dalam diam.
“Apa kamu sudah siapa? Kalau iya, kita berangkat sekarang.”
“Aku sudah siap.”
“Ok. Kita berangkat sekarang,” ujar Dean seraya menjulurkan satu tangannya.
Ev dengan senang hati menerima uluran tangan itu. Membiarkan jemari besar milik pria itu menggenggam miliknya, menyalurkan kehangatan. Menuntunnya pada benda besi yang akan segera membawa mereka pergi.
Ev diperlakukan bak seorang ratu. Dean benar-benar melakukan hal itu. Di dalam helicopter pribadi yang harga jual nya berkisar US$ 1,5 juta. Atau hampir setara dengan harga mobil bermerek Lamborghini, kenyamanan Ev benar-benar Dean utamakan. Helicopter pribadi milik Dean ini adalah jenis Bell 505. Biaya operasional helicopter ini per jamnya bisa mencapai US$ 1.500 atau 20,2 juta. Biaya tersebut belum termasuk pilot.
Selain helicopter, keluarga Dean juga memiliki sebuah private jet untuk menunjang mobilitas mereka. Sebenarnya, Ev juga memiliki private jet. Pemberian sang suami. Namun, Ev lebih memilih untuk membiarkan jet tersebut digunakan oleh anggota keluarga Xander yang lebih membutuhkan. Mengingat mereka sering berpergian, karena jam terbang yang sangat tinggi. Toh, Darren memberikan private jet tersebut sebagai pemanis sandiwara mereka kala merayakan anniversary ke-2.
Ketika helicopter itu sudah mengudara, jauh meninggalkan area helipad, sepasang mata tajam tak jemu-jemu menatap kepergian benda yang membawa serta nyonya rumah tersebut. Tangannya kemudian dengan cepat bergerak, menghubungkan panggilan telepon pada sebuah nomer yang berada di deretan paling atas pada kontak panggilan keluar. Saat tersambung, dengan segera dia mengutarakan niatnya menghubungi seseorang di seberang.
“Lacak keberadaan istriku. Kemudian kirim orang untuk mengikutinya.”
“….”
“Jangan sampai kehilangan jejak.”
Setelah berkata demikian, Darren memutuskan sambungan telepon tersebut secara sepihak. Pandangan pria rupawan itu kini beralih, menatap dinding bercat putih bersih yang dihiasi oleh beberapa foto berbingkai. Salah satu foto berbingkai itu berukuran besar, mencetak sebuah gambar sepasang pengantin. Di ujung gambar tersebut tergores tulisan berupa tanggal, bulan dan tahun diambilnya gambar tersebut. Tanggal yang selalu mereka peringati sebagai hari jadi pernikahan pada setiap tahunnya. Tanggal yang sama sebenarnya sudah jatuh pada minggu-minggu ke belakang. Namun, perayaan guna memperingati hari jadi mereka yang ke-5 baru akan terlaksana pekan depan. Itu pun akan dilaksanakan secara kekeluargaan.
Sebenarnya Darren agak menaruh curiga. Karena anniversary yang akan terselenggara pekan depan cukup berselimut misteri. Seperti ada yang disembunyikan di balik tameng anniversary. Namun, sejauh pikirannya berkelana kesana-kemari, Darren belum menemukan jalan yang pasti. Belum lagi saat ini kedekatan yang terjalin antara sang istri dan rivalnya semakin menyulut emosi. Masalah ini tidak boleh dibiarkan lebih lama lagi.
Untuk kali ini, Darren akui jika dia peduli. Dia menginginkan Ev, sang istri.
__ADS_1
Wanita yang sejak dulu memang sudah ditakdirkan untuk menjadi pendamping hidupnya.
🥀🥀
“Hai, aku datang.”
Sapaan hangat diberikan wanita cantik yang tengah mengulas senyum tipis tersebut. Satu buket bunga lily berwarna putih nan bersih, tak lupa dia berikan.
“Maaf baru bisa mengunjungi kamu lagi. Banyak yang terjadi belakangan ini.” Senyumnya menyurut, seiring dengan datangnya sendu di wajah cantik tersebut. “Aku datang untuk meminta izin. Aku ingin melepaskan ikatan yang mengikatku dengannya. Aku sudah tidak bisa bertahan lebih lama lagi. Maaf jika aku egois. Apa aku harus terus bertahan di sisi pria yang sama sekali tidak dapat menghargai kehadiranku? Dia bahkan memiliki wanita simpanan. Aku harap kamu mengerti keputusanku. Sekali lagi, maaf tidak bisa berada di sisinya lebih lama lagi. Hubungan kami terlalu toxic.”
Dean yang berdiri di samping Ev bisa dengan jelas merasakan kesulitan yang coba Ev bagi pada gundukan tanah berselimut rumput yang tumbuh subur dan terawat. Sebelah tangannya memegang payung hitam agar Ev terlindungi dari sinar matahari yang tengah terik-teriknya. Setelah sekian lama tak berkunjung ke tempat ini, pada akhirnya Ev memberanikan diri untuk kembali berkunjung.
Dean tahu betul betapa sulitnya Ev mendatangi tempat ini. Tempat di mana jasad seseorang yang sangat dia sayangi terkubur. Sekalipun sudah bertahun-tahun lamanya berlalu, Ev masih belum bisa melupakan hari kelam dimana dia harus merasakan kehilangan yang amat mendalam. Alasan kenapa Ev dapat bertahan hidup bersama Darren selama 5 tahun, sekalipun tanpa ada rasa di antara mereka.
Ya, dia adalah salah satu alasannya. Darchelle Xender. Seperti namanya yang berarti bersifat tenang, Darchelle juga demikian. Kloningan Darren Arysatya Xander versi perempuan itu adalah alasan kenapa Ev bertahan selama ini. Si cantik Darchelle adalah gadis yang bersifat tenang, tutur katanya lembut, murah senyum dan baik hati. Sejatinya, dialah putri yang sesungguhnya. Putri kesayangan marga Xander.
Apapun yang Darchelle inginkan, sekejap mata pasti akan segera dikabulkan. Di antara para penyayang Darchelle, Ev termasuk di dalamnya. Sejak kecil Elle—panggilan kecil untuk Darchelle—sudah menganggap Ev sebagai kakak sendiri, begitupun Ev yang sudah menganggapnya sebagai saudari sendiri. Darchelle pula lah yang awalnya mencetuskan perjodohan di antara Ev dan Darren. Hal itu kemudian dijadikan kenyataan oleh kakek Ev yang sejatinya memiliki hutang janji pada kakek Darren dan Darchelle.
Ev selama ini bertahan karena dia selalu teringat permintaan terakhir Darchelle. Ev dimeminta untuk selalu menemani Darren. Sekalipun Darchelle tahu jika kakaknya itu memang tidak menyukai Ev, tetapi Darchelle yakin jika Ev lah yang memang kakaknya butuhkan sebagai pendamping hidup, bukan wanita lain.
“Aku akan menjemput kebahagiaanku. Walaupun cara yang aku gunakan nanti terkesan egois. Hanya itu yang bisa aku lakukan. Semoga kamu mengerti, Darchelle.”
Setelah berkata demikian, Ev mengelus nisan bertuliskan nama Darchelle yang ditulis menggunakan tinta emas. Tanpa dapat di cegah, butiran kristal bening lolos dari kelopak matanya. Ev sudah mengambil keputusan yang mantap. Persiapan demi persiapan telah dilakukan. Semua tinggal menunggu eksekusi minggu depan.
Dibantu oleh Dean, Dimi, juga Deesa. Ev telah merencanakan keputusan paling besar yang berani dia ambil, dengan memikirkan berbagai konsekuensi yang nantinya akan muncul. Seiring dengan berjalannya rencana. Ev yakin keputusannya itu adalah keputusan yang terbaik, dan yang paling bisa ditolelir.
“Enggak. Ini sudah cukup.”
Dean mengangguk, seraya menyeka peluh di pelipis wanita di sampingnya telaten. Wanita cantik itu tampak berkeringat sehabis menikmati satu porsi ayam penyet legendaris langganan mereka jika main ke BSD.
Selepas mengunjungi makan Darchelle yang masih berada di daerah Jakarta, mereka memang baru berangkat ke Tanggerang. Dan di sinilah mereka sekarang berada. Menikmati satu porsi ayam penyet Bu Kris yang legendaris. Sebenarnya restoran yang terkenal dengan sajian serba-penyet ini berawal dari Surabaya. Kemudian membuka cabang di Jakarta, tepatnya di daerah Pluit dan Fatmawati. Lantas membuka cabang lain di Tanggerang. Kendati demikian, Ev baru mengenal makanan ini saat sering diajak main Dean ke BSD bersama Deesa.
“Mau aku go-jeckin boba kesukaan kamu dari AEON?” tawar Dean, kala melihat yang kepedasan tak kunjung reda.
“Tidak perlu. Ini sudah cukup,” ujar Ev seraya menggerak-gerakan gelas berukuran besar yang berisi es teh manis. “Dimi bakal marah kalau tau aku beli boba kesukaan dia, tanpa sepengetahuan dia.”
Dean tersenyum mendengarnya. “Mana berani dia marahin kamu.”
“Dimi berani kok. buktinya aku sering kena marah.”
“Itu berarti Dimi peduli sama kamu, Ev. Marah terkadang bisa diartikan sebagai rasa sayang, rasa peduli, atau rasa cemburu.”
“Masa?”
“Iya,” jawab Dean lugas seraya menyentuh pelipis Ev. kali ini menggunakan tangannya sendiri, bukan lagi menggunakan tisu. “Setelah ini kita mampir ke rumah kakek, mau?”
__ADS_1
Ev mengangguk, namun sepersekon kemudian menggeleng. “Pekan depan Kakek akan datang ke Jakarta. Lebih baik menemuinya nanti saja. Ada banyak hal yang harus aku urus hari ini.”
“Termasuk menemui lawyer?”
Ev mengangguk kecil. Perhatiannya masih fokus pada gelas es teh di tangan. “Dimi sudah mengatur jadwal kami hari ini. Aku tinggal berangkat.”
“Mau aku temani?”
“Jika kamu tidak keberatan.”
“Tentu saja tidak,” jawab Dean santai. “Lagi pula aku juga ingin memastikan semuanya berjalan dengan rencana.”
Ev beralih, membawa tatapannya ke arah Dean. “Ini urusanku, Dean. Kenapa kamu yang bersemangat?”
Dean mengedipkan bahu acuh. “Mungkin karena ini masalah kamu, aku jadi ingin memastikan semuanya sesuai kehendakmu.”
Ev tertegun mendengarnya. Dean Wijaya benar-benar berhasil membuatnya terdiam untuk beberapa sekon. Sampai kesadaran kembali datang kala jemari hangat milik pria itu menggenggam tangannya.
“Bertindaklah, Ev. Aku akan selalu mendukung semua keputusanmu. Sekalipun nantinya kamu akan mengalami keterpurukan ataupun kehilangan, aku akan tetap berada di sisimu untuk membuat bahumu tetap tegap.”
“Dean….” Ev kehabisan kata-kata.
“Aku akan selalu ada untukmu, Ev. Menguatkan mu, menggenggam tanganmu seperti ini, memberimu kekuatan semampu yang aku bisa.”
Ev terdiam tanpa bisa mengeluarkan kata-kata. Tatapannya lurus mengarah ke wajah pria yang tengah menggenggam tangannya erat. Membagi kehangatan juga support sistem lewat semua ucapannya.
Dia Dean Wijaya yang sama. Sosok yang tulus mencintai Ev hingga detik ini. Dia bahkan tidak perlu lagi diragukan kesetiannya. Jiwa, raga, hingga harta, tak sungkan dia persembahkan demi Ev. oleh karena itu, dalam setiap malam-malam yang Ev lewati tanpa bisa memejamkan mata, dia berusaha meyakinkan diri. Mencoba berdamai dengan hati, agar mau menerima keberadaan pria setulus ini.
🥀🥀
TBC
Next? kangen Ella? Atau malah penasaran sama sosok Darchelle? jawab yok.
Maaf, lagi-lagi belum bisa update teratur 🥲
Aku juga banyak PR buat revisi naskah. Ada satu judul novelku juga yang harus segera masuk meja editor, untuk direvisi agar bisa segera terbit versi cetak. Belum lagi ada BCT & BDJ yang masih ngantri pengen cepet-cepet update.
Dan makasih banyak buat readers yang selalu support aku, tanpa memberondong aku dengan spam seputar kapan update. Soalnya kadang spam begitu buat kepikiran teroos 🥲
Aku usahakan update secepatnya mungkin. Aku juga bakal buat jadwal nantinya kalau sudah mulai aktif di sini maupun di sebelah.
Note : Jangan lupa..... follow Author, like, komentar & share ❤️
Sukabumi 23/02/22
__ADS_1
21.40 WIB