Berbagi Cinta: Mistress (Wanita Simpanan)

Berbagi Cinta: Mistress (Wanita Simpanan)
M59 : JALAN MENUJU ENDING


__ADS_3

M59 🥀 : JALAN MENUJU ENDING



“Jadi pada akhirnya Anda memilih untuk menyerah?”


“Hm.”


“Jika boleh tahu, apa alasan yang mendasari keputusan Anda?”


Pria yang baru saja mendudukkan diri setelah mengambil dua gelas berisi kopi Americano dan Espresso itu tampak tertarik dengan alasan yang mendasari keputusan cukup ‘ekstrim’ yang dilakukan oleh lawan bicaranya. Lawan bicaranya sendiri hari ini mengenakan setelan formal, kemeja baby blue, jas, dasi dan celana berwarna dark blue itu tidak langsung menjawab. Pria rupawan tanpa ekspresi itu baru saja membubuhkan tanda tangan pada sebuah berkas yang notabene berat untuk dia bubuhi tanda tangan.


“Apa menurut kamu keputusan ini sudah benar, Dam?”


Si empunya nama yang baru saja menyodorkan segelas Americano untuk lawan bicaranya tampak kebingungan untuk menjawab. “Ini adalah keputusan yang sudah Anda ambil. Apa pun resikonya, Anda pasti sudah mempertimbangkan dengan baik.”


“Justru itu, saya sebenarnya tidak ….rela berpisah dengannya.”


‘Kelihatannya memang begitu,’ batin pria yang berprofesi sebagai sekretaris tersebut. “Lantas, kenapa Anda melakukannya? Setahu saya, Anda adalah orang yang tidak mudah goyah. Sekarang, kenapa Anda tiba-tiba berubah?”


“Tidak ada yang berubah,” jawab pria bermarga DAX tersebut. Sebelah tangannya bergerak, meraih cangkir berisi Americano pesanannya.


Selain segelas caffeine, sang sekretaris juga memesankan 2 roti ikan isi selai kacang merah yang lumer di mulut ketika di gigit. Dia yakin sekali jika sang atasan belum sarapan saat mendatangi kediamannya pukul enam pagi. Damian tentu terkejut saat mendapati sang atasan. Dia baru saja hendak sarapan bersama sang istri, namun urung terlaksana karena sang atasan sudah datang menjemputnya. Sedangkan mengganjal untuk perutnya sendiri, Damian memilih memesan Kasutera atau castella, yaitu salah satu namban-gashi atau kudapan yang dibawa ke Jepang oleh orang-orang Spanyol dan Portugis selama abad ke-16. Kue bolu yang terbuat dari tepung terigu, gula dan telur itu memang cukup banyak diminati oleh berbagai kalangan.


“Apa Anda melakukan semua ini karena terpaksa?” tebaknya. “Saya tahu jika Anda tidak mungkin melepaskan nona Ev begitu saja,” karena Anda begitu terobsesi kepadanya—lanjut Damian di dalam hati.


‘Apalagi jika Anda mengetahui kebenaran yang selama ini nona Ev sembunyikan. Anda pasti akan menggunakan 1001 cara untuk tetap mengikat nona Ev,’ gumam Damian, miris.


“Kamu baru saja mengatakan sesuatu?”


“Tidak, tuan. Mungkin Anda salah dengar,” ralat Damian cepat.


Darren yang duduk di hadapannya tanpa ekspresi tampak tak menghiraukan gerak-gerik Damian yang tampak kikuk. Pria itu memilih kembali menyesap Americano miliknya.


“Asal kamu tahu, Dam. Keputusan ini saya ambil dengan matang, sekali pun saya harus merelakan perasaan saya sendiri. Mungkin ini adalah keputusan yang terbaik, agar Ev dan orang-orang di sekeliling kami tidak lagi tersakiti.”


“Anda yakin ini keputusan yang terbaik?”


“Hm. Sepertinya.” Darren menjawab dengan suara tanpa emosi. “Ini yang terbaik untuk Ev. Juga untuk keluarga kami.”


“Apa tidak ada alasan lain, tuan?”


“Tidak,” jawab Darren singkat seraya memusatkan perhatian pada samping kiri, di mana dua ekor burung tampak hinggap di balik jendela besar yang membatasi area dalam dan luar caffe.


Damian tentu dibuat semakin kebingungan oleh keputusan tiba-tiba sang atasan. Pria yang duduk di seberangnya itu tampak tidak seperti biasa. Dia bisa melihat ada guratan lelah di matanya. Sesal, sedih, juga gamang. Entah apa yang sebenarnya telah membuat pria itu berani melepas wanita yang selama ini sukar dia lepaskan.


“Apa boleh saya bertanya sesuatu, tuan?”


Si empunya nama mendongkrak, menatap Damian lurus. “Ya, tentu saja.”


“Namun pertanyaan saya ini di luar ranah pekerjaan.”


Darren mengangguk sebagai persetujuan.

__ADS_1


“Bagaimana perasaan tuan saat ini?” tanya Damian, tidak menyia-nyiakan kesempatan. Bukan waktu sebentar yang dia habiskan untuk mengenal seorang Darren Aryasatya Xander. Hari ini, seolah-olah waktu yang telah dia lalui hilang begitu saja, karena dia tak lagi mengenali jati diri putra Xander tersebut.


“Aku tidak tahu,” jawab Darren gamang. Pria itu bahkan telah mengubah sapaan kata ganti formal dari ‘saya’ menjadi ‘kamu’. “Aku rasa ini akibatnya. Akibat karena telah menyalahi aturan ikatan suci pernikahan.”


“Maksud Anda?”


“Aku yang menyeret Ev kedalam pernikahan ini. Menjanjikan sebuah kebebasan dan kebahagiaan kepadanya. Namun, pada akhirnya aku menjadi orang yang telah merenggut dua hal itu darinya.”


“Jadi, Anda sekarang merasa bersalah?”


“Sejak dulu,” lirih Darren. “Sejak dulu aku dihantui rasa bersalah. Sejak aku melakukan kesalahan fatal karena meniduri wanita lain di tempat tidur kami. Padahal, awalnya hubungan kami baik-baik saja. Setelah itu Ev menjaga jarak. Aku tahu itu karena aku. Ya, aku terlalu berengs*k waktu itu. Dia bahkan memilih tinggal di luar negeri berbulan-bulan lamanya untuk menyibukkan diri.”


Damian tidak tahu harus menjawab apa. Sulit memang berada di posisinya saat ini. di satu sisi, dia sudah berjanji. Namun, di sisi lain dia merasa tidak bisa tenang jika terus menerus diam seperti ini. Menanggung sebuah beban dari kebenaran yang selama ini tersembunyi.


“Tapi, tuan, bukannya Anda sendiri yang telah mendorong nyonya Ev untuk menjauh?”


“Hm. Karena aku mau dia membenciku.” Helaan nafas terdengar dari pria rupawan tersebut. “Kamu tentu tahu sendiri alasanku melakukan semua itu.”


Setelah berkata demikian, Darren kembali menyesap kopinya. Membiarkan keheningan mengambil alih atmosfir di antara mereka.


“Jikalau ada ‘perantara’ di antara Anda dan nyonya, apakah Anda tetap akan melepaskannya?” tanya Damian tiba-tiba.


“Perantara?” ulang Darren dengan alis bertaut. “Maksudmu?”


“Anak, misalnya.”


Untuk sejenak, pria yang mengenakan jas dark blue itu terdiam. Tak lama kemudian, seberkas senyum tersungging di bibirnya. “Itu adalah hal mustahil dalam pernikahan kami.”


“Kenapa begitu, tuan?”


Tautan tercipta di kening Damian. “Sekali pun?”


“Hm. Lagi pula aku juga tidak mampu memaksakan kehendak soal yang satu itu.” Darren menjawab dengan pandangan terarah ke luar jendela. Meneliti jalanan yang masih lenggang di depan sana. “Aku sebenarnya sangat ingin menyentuhnya. Merasakan setiap jengkal surga yang tercipta di tubuhnya. Aku ingin. Saking inginnya, terkadang aku bisa menggila karena kesulitan menahan gairah yang tidak tersalurkan.”


Damian mengangguk paham dalam diam.


“Aku ingin membuat dia merasakan surga dunia dibawah kuasaku. Aku ingin, tapi bukan sebatas having s*x yang hanya melibatkan hawa nafsu. Yang aku inginkan adalah making love yang melibatkan perasaan di dalamnya.” Pria mengalihkan pandangan kemudian. Membawa serta kilasan ingatan di mana dia pernah memaksa Ev untuk tidur bersama, hilang seketika.


“Kurasa itu adalah sesuatu yang mustahil terjadi di pernikahan kami,” ujarnya seraya menyunggingkan senyum kecut.


“Apa anda pernah mencintai nyonya Ev?” tanya Damian, semakin berani.


Tanpa kata, pria rupawan bermarga Xander itu tersenyum misterius, kemudian menandaskan Americano dalam cangkir. Sepersekian sekon kemudian, pria itu berdiri. Merapihkan jas yang dikenakannya, kemudian meraih kunci mobil dan smartphone miliknya yang tergeletak di atas meja.


“Jika tidak mencintainya, mungkin sudah sejak dulu aku melepaskannya.”


Damian mengerjapkan mata. Mendengar kalimat barusan, dia merasa tidak percaya.


“….”


“Hanya saja, rasa yang kumiliki tertutup oleh besarnya ego yang kumiliki.” Pungkas pria rupawan tersebut. “Aku akan pergi ke kantor terlebih dahulu. Kamu bisa menunggu Farhan di sini. Dia akan segera datang untuk mengambil berkas itu.”


Setelah berkata demikian, pria itu melenggang pergi begitu saja. Meninggalkan Damian yang masih terpekur di tempatnya duduk. Beberapa pengunjung yang sudah mulai berdatangan juga tampak berbisik-bisik saat melihat eksekutif muda yang belakangan jadi pembicaraan hangat di kalangan masyarakat itu keluar dari caffe.

__ADS_1


Tak berselang lama setelah Darren pergi, orang yang sebut bernama Farhan tiba di caffe tersebut. Farhan Maulana lebih tepatnya. Lawyer yang disewa untuk menangani kasus perceraian Darren dan Ev. Pria itu datang untuk mengambil berkas yang sudah Darren tandatangani, untuk kemudian diberikan pada Ev.


“Saya pikir tuan Darren masih ada di sini.”


“Memangnya ada apa? Apa Anda ada perlu dengan beliau?”


Lawyer yang masih tergolong muda itu tampak menarik sebuah map coklat dari tas kerja yang dibawanya. “Tuan Darren meminta dibuatkan berkas ini, dan menyuruh saya memberikannya hari ini.”


“Berkas apa?” tanya Damian, penasaran. Biasanya urusan membuat berkas-berkas tertentu, Darren akan menyuruh Damian yang mengurusnya.


“Berkas soal hak asuh anak yang nantinya akan lahir dari istri kedua tuan Darren.”


“Hak asuh?” Damian bergerak cepat, mengambil map berwarna coklat tersebut.


“Seperti yang Anda ketahui, istri kedua tuan Darren sedang mengandung. Beliau ingin hak asuh anak itu sepenuhnya jatuh ke tangannya.”


“Tunggu, apa maksud dari semua ini?” bingung Damian.


Pria bernama Farhan itu menautkan berdehem kecil, kemudian tangannya bergerak menunjuk map yang dipegang Damian. “Dengan berkas itu, pihak ke-2 atau istri kedua tuan Darren harus merelakan hak asuh anak yang dilahirkannya. Jika terjadi perpisahan di antara kedua belah pihak, pihaknya tidak akan mendapatkan hak asuh anak. Karena tuan Darren yang sepenuhnya akan memiliki hak tersebut.” Tutur lawyer tersebut, detail.


“Jadi, Darren berencana menceraikan wanita simpanannya….?” Gumam Damian.


🥀🥀


“Jadi ini alasan kamu datang kemarin malam?” lirih wanita yang tampak tengah membaca selembar kertas tersebut. “Akhirnya, kamu mau melepaskan aku, Darren.”


Beberapa saat yang lalu, dia kedatangan tamu. Seorang lawyer kondang. Yang lebih mengejutkan lagi, lawyer itu adalah lawyer yang menjadi kuasa hukum sang suami di sidang perceraian mereka. Lawyer itu datang untuk memberikan sebuah berkas yang membuat dia kebingungan sendiri saat menerimanya. Apalagi saat mengetahui isi dari berkas ber-map coklat tersebut.


“Pada akhirnya kamu memilih wanita polos itu, ya?” gumamnya, lirih. “Wanita polos, yang bisa kamu kendalikan. Wanita yang bisa memberikan kamu kepuasan lebih.” Imbuhnya.


“Terlebih lagi, sekarang dia sedang mengandung keturunan kamu. Kamu pasti akan lebih memilihnya.”


Ev—wanita cantik yang sudah bersiap untuk pergi ke pengadilan itu kemudian luruh, jatuh terduduk di sofa panjang yang terletak di depan ranjang.


Memang ini yang dia inginkan. Jalan menuju perpisahan, tanpa ada lagi embel-embel yang membuatnya harus terus bertahan di sisi pria tersebut. Pria itu bahkan sekarang memberikan jaminan tidak akan meminta apapun darinya. Hal itu malah membuktikan jika dia lebih memilih wanita itu—wanita simpanannya—ketimbang wanita yang telah dia nikahi selama lima tahun. Tapi, tak apa. Memang ini yang Ev inginkan. Setelah perceraian ini tiba pada tahap terakhir, hingga jatuh ketuk palu terakhir, Ev kemudian berencana untuk pergi dan tak akan kembali. Dia akan memulai hidupnya yang baru bersama Dan.


Soal keluarganya—keluarga Atmarendra dan keluarga Xander—Ev akan memberitahu soal Dan secara perlahan-lahan. Bagaimana pun juga, mereka berhak tahu soal eksistensi Dan.


“Aku harap keputusan ini tidak akan kamu sesali di kemudian hari, Darren. Aku juga berharap kamu bahagia setelah ini. Karena aku juga akan mencoba bahagia bersama Dan.” Ev terdiam setelah berkata demikian. Berkas yang sudah dibubuhi tanda tangan pria yang pernah merebut hatinya, pun pernah membuat hatinya hancur sehancur-hancur nya itu, kini terlipat di depan dada.


“Dengan ini, kamu tidak akan lagi memiliki kesempatan untuk merebut Dan. Tapi, kamu tenang saja. Pada waktu yang tepat, aku berjanji akan mempertemukan kalian. Aku akan membawa anak kita—Dan bertemu dengan perè yang sangat dia rindukan.”


🥀🥀


TBC


HUFT 😤😤 APAKAH INI SUDAH KEPUTUSAN YANG BENAR?


GIMANA, MASIH MAU LANJUT?? OMONG-OMONG, PART MISTRESS TINGGAL DIKIT LAGI, LOH. BENTAR LAGI ENDING.


JADI, YOK RAMAIKAN KOLOM KOMENTAR. JANGAN LUPA LIKE, VOTE, FOLLOW AUTHOR & SHARE ❤️


Follow IG Karisma022 juga, ya 👋

__ADS_1


Sukabumi 06/04/22


22.03 WIB


__ADS_2