
EXTRA PART : PADA AKHIRNYA CINTA BERKATA
(Perè udah siap gendong baby Dan 🤩)
🌼🌼
“Aw.”
Rintihan kecil yang lolos di sela-sela aktivitas yang menggairahkan bagi dua anak Adam itu kontan menarik seluruh perhatian.
“Ada apa sayang?” tanya si pria dengan raut wajah risau.
“Dan barusan nendang,” jawab sang istri seraya tersenyum malu.
“Dan nendang nya kencang banget, ya? Sampai-sampai kamu terkejut?”
“Iya. Aku barusan kaget.”
“Mungkin Dan gak mau aku jenguk malam ini,” ujar si suami lesu. “Soalnya Dan nendang-nendang terus.” Setelah berkata demikian, pria rupawan itu bergulung ke samping. Lantas menarik tubuh sang istri yang sudah half naked ke dalam pelukan. Deru napas nya juga masih bertalu-talu.
Sedangkan sang istri hanya bisa tersenyum malu dengan rona merah mulai menyebar di wajah. “Maaf ya, mas.”
“Kenapa harus minta maaf hm?”
“Karena aku gagal kasih mas kepuasaan,” jawab sang istri dengan suara lirih.
Pria rupawan itu menggeleng seraya mengelus punggung sang istri yang tidak terhalang apapun. “It’s okay sayang. Lagipula kita bisa melakukannya kapanpun. Termasuk besok pagi,” bisik nya dengan suara parau. “Lebih baik sekarang kamu tidur. Kayaknya Dan juga udah ngantuk, mau bobo. Makanya Dan gak suka bundanya dimonopoli.”
“Masa?”
“Hm. Aku yakin, karena gak biasanya Dan nendang-nendang gitu pas mau dijenguk ayahnya.” Pria rupawan itu tersenyum kecil seraya menyentuh dagu sang istri. Membawa wajah wanitanya agar mendongkrak. “Tidur ya, kamu pasti lelah seharian ini.”
“Hm.”
“Good night. Semoga istriku yang cantik ini mimpi indah,” kata sang pria bermarga Xander itu seraya mencuri satu kecupan di bibir yang tidak bosan dia cumbu.
“Good night juga buat ayahnya Dan.” Ev membalas dengan senyum manis yang terpatri di bibir.
Tidak butuh waktu lama untuk membuat wanita hamil itu terlelap bermodalkan legan dan dada bidang sang usami sebagai bantalan dan sandaran. Wajah damai wanita itu saat terlelap terlihat sangat cantik di mata Darren Aryasatya Xander. Cantik, cantik sekali malahan. Saking cantiknya sampai-sampai membuat Darren segila ini jatuh hati padanya.
Insiden gagal menjenguk si kecil Dan seperti tadi bukan yang pertama kali terjadi, jadi Darren bisa legowo-legowo saja jika hasratnya tidak dapat disalurkan dengan baik. Sekalipun ujung-ujungnya dia harus berakhir di kamar mandi. But, it’s okay karena sebagai seorang ayah yang siaga, Darren tahu betul kapan dia bisa atau tidak bisa melakukan hubungan badan dengan sang istri. Saat ini usia kandungan Ev sudah memasuki ke-6 bulan, jalan ke-7 bulan. Maka tak heran jika si kecil Dan sudah aktif menendang-nendang.
Sejauh ini, kehamilan pertama Ev dalam kondisi sehat dan kuat. Ucapan selamat juga tidak henti-hentinya berdatangan semenjak Darren dan Ev kompak melakukan jumpa pers. Para rekan-rekan Darren maupun Ev, fans, hingga kenalan mereka yang berada di belahan bumi lain satu per satu mengucapkan selamat atas kehamilan Ev. Tak sedikit dari mereka yang juga mengirim berbagai pernak-pernik bayi sebagai hadiah. Rencananya, dua minggu lagi akan digelar acara tujuh bulanan.
Rencana itu tentu didukung penuh oleh orang tua dan keluarga Ev maupun Darren. Para ibu juga sangat mewanti-wanti kondisi Ev yang tengah mengandung. Mereka bahkan setuju untuk membuat jadwal menginap, agar dapat menjaga Ev dan bayinya. Jadi Darren tak perlu khawatir saat dia harus pergi meninggalkan sang istri untuk melakukan perjalanan bisnis. Namun, sebisa mungkin Darren membatasi jam kerjanya saat sang istri semakin mendekati HPL. Di awal-awal kehamilan, Darren juga sempat cuti berulang kali karena dia mengalami sindrom couvade. Sindrom yang membuat Darren merasakan gejala-gejala yang biasa dialami oleh ibu hamil. Misalnya morning sickness yang ditandai dengan gejala mual hingga muntah-muntah di pagi hari.
Kata orang, jika suami mengalami sindrom cauvade, itu berarti dia sangat mencintai pasangannya. Sindrom cauvade sendiri adalah bentuk empati seorang pria yang ekstrim pada kehamilan dan itu biasa terjadi di seluruh dunia. Darren juga sempat melakukan konsultasi pada dokter, sampai membaca-baca beberapa artikel dan healtpedia.
“Kok tumben kerjanya mau ditungguin?”
Wanita cantik yang tampak anggun dengan dress motif flora berukuran kecil yang dibuat khusus untuk ibu hamil itu bertanya. Dia diculik sang suami saat hendak mengunjungi florist milik sahabatnya yang bernama Dewita.
“Enggak tahu. Mau saja,” jawab sang suami dengan enteng.
Pria itu memang tidak mau jauh dari barang semenit saja. Oleh karena itu hari ini dia memboyong sang istri pula ke kantor untuk menemaninya bekerja.
“Nanti kamu mau meeting, kan? Terus aku ditinggal?”
__ADS_1
“Kamu mau ikut meeting?”
Sang istri kontan menggeleng. “Meeting dengan topik yang tidak aku mengerti sama sekali kedengarannya bukan ide yang bagus.”
Darren tersenyum tipis mendengarnya. “Kalau begitu tunggu di sini. Meeting-nya juga sebentar. Selama kamu menunggu, kamu bebas meminta apapun pada Dimas—asisten Damian. Kamu juga bisa belanja online kalau mau. Kebetulan ada produk-produk keluaran terbaru dari brand-brand global.”
“Sepertinya opsi terakhir cukup menggiurkan,” jawab sang istri seraya menengadahkan telapak tangan kanannya di depan sang suami.
Pria rupawan dengan setelan formal itu tersenyum lebar. Dia kemudian merogoh saku celana, lantas mengeluarkan dompet kulit miliknya untuk diserahkan kepada sang istri. “Belanja sesuka kamu jika itu dapat membunuh rasa bosan selama aku pergi meeting.”
“Kamu yakin?”
“Hm. Anything for you,” balas sang suami seraya mengelus perut buncit sang istri.
Mau dia dibuat bangkrut juga tidak masalah, karena itu ulah sang istri. Asalkan sang istri tidak pernah pergi dan meninggalkannya. Itu sudah cukup bagi Darren Aryasatya Xander. Lagipula dia tahu jika wanita yang menjadi istrinya bukanlah gold digger. Sebagian besar barang branded yang istrinya miliki juga hasil endors dan hadiah dari keluarga atau orang-orang terdekat. Ev hanya akan membeli sesuatu jika benda tersebut sangat dibutuhkan, bukan semata-mata karena ingin mengoleksi atau sebagai ajang pamer.
Karena tidak mau membuat sang istri menunggu terlalu lama, Darren menyelesaikan pekerjaannya dengan cepat dan efisien. Tidak sampai satu jam, pria rupawan itu sudah keluar dari ruang meeting dan sudah berniat kembali ke ruangannya. Namun, di tengah jalan di bertemu seorang pemuda berkulit kecoklatan yang berdiri tegap dengan setelan formal—kemeja hitam yang lengannya dilipat hingga siku, dipadukan dengan celana kain berwarna senada.
“Tuan, apa kabar?” sapa pria muda tersebut.
“Hm, kabarku baik,” jawab Darren. “Bagaimana pekerjaanmu di desa? Apa ada kendala?”
“Sejauh ini pekerjaan saya tidak ada kendala sedikitpun. Awalnya saya agak takut membuat kesalahan, karena saya tidak punya pengalaman untuk pekerjaan yang saya geluti saat ini.”
“Tapi kamu bisa melakukan pekerjaan itu dengan baik bukan?”
“Iya. Berkat bimbingan bang Dimas dan tuan Damian.”
“Baguslah kalau begitu,” kata Darren seraya tersenyum kecil.
“Saya juga ingin menyampaikan sesuatu, tuan.”
Pria berkulit kecoklatan yang akan tampak semakin macho saat terkena sinar matahari itu tampak menggaruk tengkuk dengan kikuk. “Saya akan melamar seorang gadis dari desa itu.”
Darren tampak terpekur untuk beberapa waktu. “Maksudmu?”
“Siapa sangka berkat pekerjaan yang tuan berikan kepada saya di desa tersebut, saya juga menemukan jodoh saya di sana. Saya jatuh cinta pada seorang gadis desa yang pembawaannya begitu sederhana, namun selalu berhasil membuat saya terpesona.”
“Namanya Estrella?”
“B—agaimana tuan bisa tahu nama calon tunangan saya?” kaget Elgara.
Darren tersenyum misterius seraya merogoh sesuatu dari saku jas di bagian dalam. “Saya tahu dari Damian,” katanya berdalih. “Gunakan kartu ini untuk membeli kebutuhan pertunangan kalian. Beri wanita yang kamu cintai perhiasan dan pakaian yang terbaik. Saya ikut senang mendengar kabar bahagia ini.”
Elgara tersenyum seraya menggelengkan kepala. “Anda tidak perlu repot-repot, tuan. Lagi pula tabungan saya selama bekerja untuk Anda sudah lebih dari cukup. Saya cuma berharap Anda dan nyonya Ev bisa hadir di hari pertunangan kami.”
Darren manggut-manggut paham. “Kami akan datang jika si junior belum lahir. Kalau sudah lahir, akan sulit bepergian untuk beberapa waktu.”
Elgara tersenyum mahfum. Tanpa sepengetahuan pemuda itu, Darren di dalam hati merasa begitu bersyukur. Ternyata takdir Tuhan berjalan di luar batas pemikirannya. Padahal baru beberapa bulan Elgara mengenal Estrella. Namun, pemuda itu sudah mantap untuk mengajukan lamaran. Patut Darren acungi jempol memang keberanian salah satu mantan bodyguard nya itu. Latar belakang dan kepribadian Elgara juga sudah tidak perlu Darren ragukan lagi, karena Darren sudah mengantongi semua informasi tentang Elgara.
Pemuda yang lahir dan besar di kota Pasundan itu memiliki tabiat yang baik, tidak mudah menyerah, dapat bertanggung jawab, memiliki pemikiran dewasa, sayang keluarga, dan mudah dicintai. Hidupnya juga tidak neko-neko. Untuk penampilan secara fisik, Elgara juga termasuk golongan pemuda berparas rupawan. Tubuhnya tinggi, tegap dan kuat, hasil latihan fisik yang rutin dijalani. Warna kulitnya agak kecoklatan, khas pria pribumi. Rambutnya hitam bak arang. Alis dan bulu matanya juga tumbuh dengan apik, lebat, juga lentik, sehingga membuat para kaum Hawa mengiri. Ditambah sepasang mata coklat gelap yang menyorot teduh, hidung mancung, bibir sensual, dibingkai oleh rahang yang tegas dan kokoh.
Overall, Elgara itu pemuda yang cukup kompleks. Jika Estrella akhirnya menikah dengan Elgara, setidaknya gadis desa itu tidak akan terkontaminasi oleh kekejaman dunia. Darren yakin jika Elgara bisa memberikan kehidupan yang layak bagi Estrella.
“Kenapa datang-datang langsung minta peluk?” tanya Ev saat pelukan di antara mereka mengurai.
Saat tiba-tiba sang suami datang, dia sedang melihat-lihat katalog make up keluaran terbaru dari brand Dior. Pria itu datang-datang minta dipeluk, seperti orang yang baru terpisah jauh lantas bertemu kembali setelah sekian lama.
“Kangen.”
__ADS_1
“Lebay,” respon Ev seraya menepuk dada bidang sang suami. “Udah mau jadi ayah tapi masih aja childish. Gimana sih?”
“Gak apa-apa. Lagian cuma sama kamu doang,” sanggah sang suami.
Ev mengedipkan bahu seraya membenarkan letak dasi sang suami yang miring.
“Bosan enggak aku tinggal?” tanya Darren seraya menatap wajah cantik sang istri lamat-lamat.
“Enggak juga. Lagian kamu pergi cuma sebentar.”
“Aku menyelesaikan meeting dengan cepat karena takut kamu kelamaan menunggu.”
“Padahal aku santai-santai aja. Lagian aku barusan lagi asik scrool katalog make up sama baju.”
“Kamu mau beli atau sudah beli?”
Ev langsung menggeleng. “Lihat aja.”
“Kenapa enggak beli? Kemarin katanya kamu mau beli lingerie baru dari Victoria Secret.”
“Kata siapa?!” Ev menatap sang suami horor.
“Kata aku barusan.”
“Dih, ngada-ngada.” Ev membuang wajahnya kesamping. “Lagian, mana ada ibu hamil mau tujuh bulan pakai lingerie? Yang ada pakai daster gombrong.”
“Ada.”
“Siapa?”
“Kamu. Waktu itu kamu sempat pakai lingerie pas kita rayakan anniversary—“
“Kamu mulai ngaco, deh. Mana ada aku pakai begituan.”
Darren tersenyum lebar, puas melihat ekspresi sang istri yang sudah dia goda habis-habisan. Wajah cantik dengan pipi yang semakin cubby semenjak hamil itu tampak memerah, dengan bibir mengerucut sebal. Dicium dengan gemas pipi sang istri secara bergantian, kanan dan kiri. Kemudian dia berkata. “Iya, bercanda doang sayang. Jangan marah, ya. Soalnya kalau kamu marah, aku tambah gemes.”
“Secara normal, enggak ada orang yang marah terlihat menggemaskan.”
“Ada. Buktinya kamu kalau lagi marah malah tambah ngegemesin,” jawab Darren. Ditatapnya sang istri, langsung pada kedua bola matanya. “Berarti aku udah gak normal, karena bagi aku kamu itu kalau marah malah jadi menggemaskan. Apalagi kalau kamu senyum, mampu membuat aku ikut merasakan kebahagiaan yang kamu rasakan. Intinya, apa yang kamu ekspresinkan selalu berpengaruh besar terhadap aku. Apa mungkin itu karena aku sudah dikutuk untuk jatuh cinta sejadi-jadinya sama kamu? Makanya aku jadi begini?”
“Kamu berlebihan,” kata sang istri. “Mencintai itu sewajarnya saja, mas. Jangan sampai kecintaan kamu kepada aku melebihi kecintaan kamu terhadap Tuhan.”
Darren mengangguk paham. “Tuhan nomer satu dalam perihal apapun. Mama menempati urutan berikutnya. Dilanjutkan dengan kamu, kamu, dan kamu.”
Ev tertawa kecil mendengar ucapan sang suami. Tawa yang menular pula pada suaminya itu. “Segitunya kamu mencintai aku, mas?”
Darren mengangguk tanpa keraguan. Dia kemudian menjatuhkan satu kecupan di pucuk kepala sang istri seraya berkata.
“Sehat-sehat ya, sayang. Aku sangat mencintai kamu. Aku berharap Tuhan memberikan kita umur yang panjang supaya bisa melihat tumbuh kembang Dan sampai dia besar dan memiliki keluarga sendiri.”
Tidak ada yang lebih Darren inginkan di dunia ini, selain hidup dan menua bersama sang istri untuk melihat pertumbuhan calon buah cinta mereka kelak.
🌼🌼
BUCIN TEROOOS, SAMPAI MAMPOOS !!
Jangan lupa boom bunga sekebon 🌼🌻🏵️💮🌸🌷🌺🥀🌹💐🌹🥀🌺🥀🌹💐
Like, vote, komentar, follow Author & share ❤️
__ADS_1
Sukabumi 08/06/22