
M80 🥀 : ‘Perè sayang, Dan’
Secara kasar, manusia bisa digolongkan menjadi dua. Golongan pendendam, dan golongan yang tidak bisa menjadi pendendam. Sedangkan Ev sendiri masuk ke dalam golongan yang ke dua. Dia tidak bisa jadi pendendam, sekali pun telah disakiti sedemikian rupa. Ev hanya akan mengingatnya, dan membalas kesakitan yang dia dapatkan dengan cara lain. Ev malah lebih sering memaafkan dan membiarkan, sekali pun dia mampu membalas. Karena dia yakin, Tuhan yang akan memberinya maaf. Sebagaimana tertuang dalam hadist yang diriwayatkan oleh H.R Ath-Thabrani, yang berbunyi: “Barang siapa memaafkan saat dia mampu membalas, maka Allah memberinya maaf pada hari kesulitan.”
Namun, apa yang sudah tertuang dalam lauhmahpuz—tempat mencatat semua amal baik dan amal buruk manusia—tentu akan dipertanggung jawabkan. Begitu pula dengan pertanggung jawaban seorang suami yang seharusnya bisa menjadi nahkoda yang baik dan bertanggung jawab bagi bahtera yang dia pimpin.
“Saat ini pasien belum bisa dijenguk,” ujar dokter yang baru saja keluar dari pintu sebuah ruangan ICU tersebut.
Pernyataan itu kontan membuat orang-orang yang sudah berkumpul sejak tadi terkejut. Bukan hanya Ev, Ella, Dean, juga Dan saja yang sekarang ada di sana, ada pula pasangan suami istri Xander, orang tua Ev, bahkan Damian dan sang istri. Mereka datang pasca mengetahui kabar soal Darren Aryasatya Xander yang telah siuman. Sebuah keajaiban yang telah mereka nantikan sejak 59 hari lamanya.
“Bagaimana kondisi putra saya, dok?” Tanya Diana Xander sembari mendekati pria berkacamata tersebut.
“Sejauh ini kondisi pasien sudah bisa dikatakan stabil.”
Ibarat air segar yang dapat menghempas dahaga di tenggorokan, informasi tersebut ternyata berhasil melegakan mereka semua. Setidaknya apa yang sempat mereka pikirkan tidak terjadi. Darren baik-baik saja. Kondisinya juga sudah bisa dikatakan stabil. Hanya saja dia masih belum bisa dijenguk.
“Namun,” sambung dokter tersebut. Dengan sekejap berhasil menarik perhatian mereka semua yang tengah menunggu. “Setelah dilakukan pemeriksaan lebih lajut, pasien ternyata mengalami dislokasi tulang leher dan spinal cord injury.”
“Maksud dokter?” tanya Ev yang sedari tadi memilih diam dan mendengarkan.
“Dislokasi tulang leher yang dialami oleh pasien mengakibatkan kelumpuhan pada bagian bawah tubuh pasien.”
“A—pa?!” kaget Diaman Xander. Wanita paruh baya itu shock berat mendengar kondisi putranya yang baru saja dikatakan oleh dokter. “Putra saya mengalami kelumpuhan, dok?”
Dokter dengan name tag Dr. M. Malik itu tampak terdiam sejenak. Seakan-akan berat menyampaikan informasi yang dia miliki. Tapi, mau bagaimana lagi? Informasi yang dia miliki tentu harus dibagi. Terutama dengan keluarga korban sendiri.
“Pasien mengalami kelumpuhan dari bagian pinggul ke bawah. Untuk saat ini kelumpuhan yang dialami oleh pasien belum bisa dipastikan bersifat permanen atau sementara.”
“Tapi, dok, tadi kata Anda kondisi mas Darren sudah dapat dikatakan stabil?” Ella yang sedari tadi berdiri di samping Ev ikut buka suara. Air mata sudah menggenang di kelopak matanya.
Dokter itu mengangguk. “Ya. Kondisi pasien memang sudah bisa dikatakan stabil, karena tidak sedikit pasien yang berada dalam kondisi ini langsung memberontak histeris karena tidak dapat menerima kenyataan yang ada. Terkadang kami bahkan membutuhkan obat bius untuk menenangkan pasien. Sedangkan pasien bernama Darren Aryasatya Xander ini tidak berperilaku demikian. Namun, kondisi ini malah tidak dapat dikatakan ‘baik’ pula. Takutnya, pasien tidak bisa menerima kenyataan yang ada, namun memilih untuk memendamnya sendiri.”
“Di sini lah peran penting keluarga dan orang-orang terdekat pasien untuk memberikan dukungan pada pasien.” Dokter itu menoleh, tampak memindai para manusia di hadapannya. “Tiga puluh menit lagi pasien baru bisa dijenguk.”
Ella tampak berbinar mendengarnya. Untuk yang terakhir kali, wanita muda itu ingin menjumpai sang mantan suami. Kendati demikian, sepersekian detik berikutnya harapan itu terhempas begitu saja dari rengkuhannya.
“Akan tetapi yang menjenguk tidak boleh lebih dari satu orang,” lanjut si dokter. “Terkecuali atas nama Evelyn Xander dan Dan Xander,” imbuhnya, membuat mereka tertegun untuk sesaat.
“Pasien secara khusus ingin dipertemukan dengan kedua pemilik nama tersebut.”
“Perè mau bertemu Dan?” tanya suara kecil yang berasal dari gendongan seorang pria tersebut. “Mère ayo kita bertemu Perè,” ajaknya seraya menggerakkan tangannya di udara guna menggapai sang ibu.
“Mère ayo bertemu Perè. Perè sudah bangun!” seru Dan antusias.
Sang ibu memalingkan wajah guna menatap sang putra. Dia kemudian tersenyum kecil seraya menatap putranya. “Dan mau bertemu Perè?” si pemilik nama mengangguk dengan antusias. “Kalau begitu Dan harus menunggu sebentar lagi. Ok, Schatz (sayang)?”
“Ok, Mère.”
Melihat interaksi ibu-anak tersebut, ada yang merasa semakin berkecil hati. Ya, dia adalah Ella. Wanita muda itu merasa tak lagi memiliki kesempatan untuk bertemu pria yang dia cintai, karena dia bukan lagi seseorang yang dianggap dekat dengannya. Saat baru pertama kali siuman saja, yang dicari oleh pria itu adalah mantan istri pertama dan putra kandungnya. Lantas, Ella mengharapkan apa lagi? Dia di sini hanya mantan istri yang dinikahi secara diam-diam.
“Kamu bisa menunggu sebentar lagi?”
Ella yang sempat terdiam karena melamun, kontan kembali mendapatkan kesadarannya kala merasakan sebuah kehangatan yang mampir di bahunya. Ternyata ada sebuah cardigan bahan wol dari rumah mode Celine seharga yang baru saja Ev sampirkan di sana. Harga cardigan itu sendiri mencapai $1,050 atau sekitar 14 juta rupiah.
“Aku akan masuk terlebih dahulu bersama putraku. Nanti jika kondisi Darren sudah lebih stabil dan memungkinkan, kamu akan mendapatkan kesempatan untuk bertemu dengan dia.”
Ella mengangguk tanpa suara. Entah terbuat dari apa hati wanita satu ini? sampai sejauh ini pun, dia masih tetap peduli.
“Masuklah Ev. Temui Darren dan pastikan kondisinya baik-baik saja,” ujar Diana Xander seraya meraih satu tangan Ev untuk dia genggam. “Tolong hibur Darren, Ev. Ini pasti berat untuknya,” lirih Diana Xander dengan mata berkaca-kaca.
Ev mengangguk seraya tersenyum hangat. “Pasti, ma.”
Setelah pembicaraan tersebut, Ev kemudian mengambil alih sang putra. Mereka menunggu untuk beberapa saat, sebelum akhirnya Ev membawa Dan seraya memantapkan hati guna memasuki ruangan di mana Darren berada.
Saat Ev berhasil melewati pintu yang membawanya masuk ke ruangan yang didominasi oleh warna putih dan dark gray tersebut, pria yang tadinya mengisi bed rumah sakit dalam keadaan tidak sadarkan diri, kini sudah siuman. Dia tampak berada dalam posisi setengah duduk dalam pembaringan. Beberapa alat kesehatan masih menempel di tubuhnya.
Kala baru genap dua langkah memasuki ruangan, seruan sang putra berhasil membuat pria berwajah pucat itu menoleh.
“Perè!”
“Come here, my little son,” jawab pria itu dengan suara serak yang jelas sekali akan terasa sakit jika dipaksakan untuk berbicara. Seulas senyum juga tersungging di bibir kering dan pucat nya.
Panggilan tersebut tentu membuat si kecil Dan semakin aktif dalam tuntunan sang ibu. Ketika berhasil tiba di dekat bed, keheningan adalah hal pertama yang menjadi penengah di antara mereka. Baik Dan maupun sang ayah hanya saling tatap tanpa melibatkan suara. Seolah-olah ayah dan anak itu tengah berkomunikasi lewat kalbu. Sedangkan Ev hanya menjadi penonton di antara mereka.
Tak lama kemudian, tangan pucat yang kini hanya terbungkus kulit, sedikit daging dan tulang, terulur menyentuh keseluruhan wajah kecil Dan dengan gerakan perlahan. Seolah-olah tengah merekam keseluruhan wajah kecil tersebut.
“My son.”
Itu adalah kalimat pertama yang Darren ucapkan setelah terdiam cukup lama. Tatapan pria itu kian redup, juga remang karena diselimuti air mata.
“Dia mirip sekali denganku, Ev. Kenapa dia tidak mirip kamu?” tanyanya kemudian. “Kamu pasti benci wajahku yang diturunkan begitu apik di wajah putra kita.”
Ev memalingkan wajah untuk sejenak. Sungguh dia tidak terbiasa melihat mantan suaminya dalam kondisi seperti ini.
“Maafkan ayah, nak,” ucap Darren dengan suara yang kian mengecil. “Maafkan ayah yang telah berbuat jahat terhadap kamu. Ayah tidak pernah sengaja ingin melukai kamu.”
Dengan menggunakan bahasa inggris untuk berkomunikasi, Darren mencoba mengutarakan permintaan maafnya pada sang putra. Sedangkan sang putra sendiri masih menatapnya lekat-lekat tanpa bersuara sedikitpun.
__ADS_1
“Kenapa Dan diam saja hm? Dan masih marah sama ayah?” tanya Darren dengan sura yang menyayat hati. Namun, jawaban sang putra berikutnya malah kian membuat hatinya tersayat.
“Dan rindu Perè.”
“Dan rindu ayah?”
Si kecil Dan mengangguk dengan cepat. “Kata Mère, Perè sibuk bekerja untuk mencari uang. Jadi Perè enggak punya waktu untuk mengunjungi Dan. Mère juga sibuk, tapi Mère tetap punya waktu buat Dan.”
Lagi, lagi, dan lagi Darren tersentil oleh ucapan polos sang putra. Jadi selama ini Ev rutin mengunjungi sang putra disela-sela kesibukannya di dunia show blitz? Beda dengan dirinya yang punya banyak waktu luang, namun dihabiskan dengan wanita lain. Jikalau Darren tahu dia memiliki keturunan dari Ev, dia juga tidak akan lepas tanggung jawab seperti ini.
“Katanya Dan mau dipeluk ayah?” alih-alih menjelaskan masalah rumit itu pada si kecil, Darren memilih mengalihkan topik pembicaraan.
“Dan mau dipeluk Perè,” jawab Dan sambil mengangguk.
“Kalau begitu naik lah ke sini, biar ayah peluk Dan.”
Ev terhenyak mendengarnya. “Darren, kondisi kamu—“
“Aku tahu, Ev,” potong Darren. “Aku tidak apa-apa. Kakiku mati rasa, jadi tidak masalah.”
Ev menggelengkan kepala tegas. “Tidak. Dan bisa saja membuat kamu semakin kesakitan.”
“Apa yang bisa di lakukan untuk menyakiti aku, Ev? yang ada aku yang selalu memberinya kesakitan,” balas Darren. “Bawa dia ke sini, Ev. Bukan hanya Dan saja yang mau dipeluk. Ayahnya juga ingin memeluk Dan untuk yang pertama kali.”
Tahu jika dia tidak akan menang melawan Darren, Ev dengan berat hati membawa sang putra agar dapat lebih dekat dengan sang ayah. Dengan berbagai pertimbangan dan tetap memperhatikan keamanan Darren, Ev mendudukkan sang putra di bed yang sama dengan sang ayah. Anak lelaki itu tampak tersenyum lebar saat berhasil duduk di tempat yang sama dengan sang ayah. Dan juga tampak berhati-hati agar tidak menambah rasa sakit sang ayah, sesuai perintah sang ibu.
“Kemari lah Dan,” lirih Darren seraya membuka kedua tangannya lebar-lebar. “Peluk ayah.”
Tanpa pikir panjang, Dan tentu langsung menghambur ke pelukan sang ayah. Tubuh kecilnya terbenam dalam dada sang ayah.
“Maaf baru bisa memberikan kamu pelukan saat tubuh ayah sudah seperti ini. Sungguh, ayah tidak pernah ingin jadi yang terakhir tahu soal keberadaan kamu.”
Dieratkan lagi pelukan itu, tetapi dengan tetap memperhatikan kenyamanan sang putra. “Perè sayang Dan,” lirih Darren di pucak kepala sang putra, diakhiri dengan kecupan bertubi-tubi di area yang beraroma khas bayi itu.
Darren menitihkan air matanya saat berkata demikian. Dia benar-benar merasakan sesak yang kian menghilang saat berhasil memeluk tubuh darah dagingnya. Satu ketakutannya selama tertidur akhirnya bisa dia atasi. Darren sempat berpikir tidak pernah memiliki kesempatan untuk memeluk putranya, sama seperti almarhum putranya yang lain. Dua putranya ini bahkan tidak bisa dia gapai, sekali pun berada di alam bawah sadar.
Jika saja Tuhan masih berbaik hati guna memberinya kesempatan satu kali lagi, Darren tentu tidak akan menyia-nyiakannya. Dia akan membangun istana yang dipenuhi kebahagiaan untuk Ev dan putra mereka. Dalam istana tersebut Darren akan menjadikan Ev sebagai permaisuri, sementara sang putra akan dijadikan putra mahkota yang tidak akan pernah kekurangan kasih sayang.
“Dan tidur?”
Ev mengangguk singkat saat mengambil alih tubuh putra mereka. Setelah pelukan yang diwarnai dengan tangis mengharu-biru beberapa jam yang lalu, si kecil Dan jatuh tertidur dalam pelukan sang ayah. Sudah jadi kebiasaannya memang, tertidur setelah menangis.
“Kamu mau bawa dia kemana?” tanya Darren, seakan-akan masih belum puas menghabiskan waktunya bersama sang putra.
“Ke ruangan sebelah. Dan akan lebih nyaman tidur di sana,” balas Ev.
“Hm. Aku hanya akan memberikan Dan ke Dean. Biar Dean yang akan menjaga Dan.”
Darren mengangguk singkat. Ev kemudian beranjak, membawa Dan untuk diserahkan pada Dean. Setelah memberikan sang putra dan memastikan Dan tidur dengan nyenyak, Ev kembali menghampiri Darren.
“Bagaimana kondisi kamu sekarang?” tanya Ev dengan tatapan memindai keseluruhan wajah lawan bicaranya. Setelah 59 hari jatuh koma, penampilan Darren sungguh berubah 180° derajat. Rambutnya yang dulu berpotongan rapih, kini sudah memanjang hingga mencapai leher. Ev tahu betul jika rambut Darren tipikal rambut yang mudah panjang jika tidak cepat-cepat dipangkas.
“Seperti yang kamu lihat, Ev. Aku sekarang pria cacat,” jawab Darren gamblang.
“Jaga bicara kamu. Saat ini kondisi kamu masih belum dapat dipastikan—“
“Seluruh tubuh bagian bawahku mati rasa, Ev. Apa yang harus aku harapkan?” potong Darren seraya tersenyum miris. “Ini adalah balasan dari Tuhan atas kesakitan yang aku berikan untuk kamu dan putra kita.”
“….”
“Aku pantas mendapatkannya, Ev. Kamu tidak perlu merasa iba terhadap kondisiku.”
“….”
“Aku ….memang pantas menjadi seperti ini,” lirih Darren seraya menundukkan kepala. “Hanya satu yang membuatku takut karena kondisi ini. Perasaan takut soal Dan yang nantinya bisa saja merasa malu karena memiliki ayah seperti aku?” imbuhnya.
“Di saat anak-anak seusianya diberikan kasih sayang yang berlimpah dari ayah yang normal—“
“Berhenti bicara omong kosong, Darren! Aku di sini bukan untuk mendengarkan itu.” Ev yang kesal memilih beranjak dari tempat duduknya. “Dan akan tetap menerima kamu apa adanya. Asal kamu tahu, sebelum Dan bertemu kamu, Dan sempat berpikir kamu benci dia karena tidak pernah datang untuk menemuinya. Dia tidak pernah benci kamu, yang ada dia malah menyalahkan dirinya sendiri.”
“….”
“Oleh karena itu berhenti bicara omong kosong. Dan menyayangi kamu apa adanya, karena yang Dan tahu kamu adalah ayahnya. Ayah yang sangat dia cintai. Ayah yang begitu hebat di matanya.”
Darren semakin menundukkan kepalanya. Air mata sudah kembali berlinang di matanya. Sebenarnya Darren benci kondisi seperti ini. Namun, apalah daya. Kondisi saat ini benar-benar membuatnya rapuh dan cengeng.
“Ev.”
“Hm?”
“Aku minta maaf,” kata Darren dengan suara serak. “Aku minta maaf atas semua rasa sakit yang aku beri selama kita menikah.”
“….”
“Aku ….sebenarnya tidak pernah berniat seperti itu.”
Ev menghela napas berat seraya menatap lawan bicaranya lekat. “Look at me, Darren Aryasatya Xander!” perintahnya seraya membawa wajah sang mantan suami untuk mendongkrak. “Aku sudah memaafkan kamu,” katanya saat Darren juga sudah menatapnya.
__ADS_1
“Semua kesalahan kamu sudah aku maafkan,” namun belum bisa aku lupakan—lanjut Ev di dalam hati. Bibirnya terlalu kelu untuk berkata seperti itu.
Ustadz Handy Bonny dalam satu kesempatan juga pernah berkata bahwa; “Wanita itu punya yang namanya rahim, tempat berkumpulnya kasih dan sayang. Dia selalu bisa memaafkan. Tetapi, mohon maaf dia tidak bisa melupakan. Termaafkan, tetapi tidak terlupakan. Seperti kaca yang pecah dan disusun kembali. Masih bisa tersusun rapi, tetapi tidak pernah bisa menampilkan bayangan yang sama.”
Ev memang sudah memaafkan Darren maupun Ella. Namun, untuk melupakan kesalahan mereka tidaklah mudah. Setiap kali menatap sang putra saja, Ev selalu dibayangi oleh rasa sakit yang pernah Darren beri. Memaafkan mungkin membutuhkan waktu, sekali pun kurun waktunya tak menentu. Tetapi untuk melupakan, itu bukanlah sesuatu yang dapat dipastikan.
“Aku juga mau minta maaf, Darren.”
“Maaf untuk apa? Kamu tidak pernah punya salah, Ev.”
“Ada. Aku punya salah yang sama besar, yaitu menutupi kehadiran Dan di dunia ini.”
“….”
“Maaf karena telah membuat kamu tidak memiliki kesempatan untuk berjumpa dengan Dan sejak awal.”
Darren mengangguk seraya menarik sudut-sudut bibirnya guna membentuk senyuman. “Aku sudah memaafkan kamu. Sekali pun aku pernah merasa sangat kecewa karena aku jadi orang terakhir yang tahu soal keberadaannya.”
“Maaf.”
“It’s okay. Aku tahu tidak mudah bagi kamu untuk mengambil semua keputusan itu,” katanya seraya tersenyum kecil. “Kamu sudah cukup menderita selama ini, Ev. Jadi, mau kah kamu….” Darren membawa kedua tangan Ev untuk dia genggam. Dia akan mencoba meminta satu kesempatan lagi. Sekali pun dia tahu kondisinya saat ini tidak sempurna lagi.
“Kenapa Darren?” Ev tampak menatapnya dengan kening bertaut.
“Mau kah kamu memberi aku….” Kalimat itu menggantung begitu saja di udara, saat jemarinya menemukan sesuatu yang melingkari jari manis lawan bicaranya.
Ev yang dibuat bingung karena Darren kembali tak bersuara, dia pun mengikuti arah pandangan pria tersebut. Sadar akan apa yang jadi pusat perhatian Darren, Ev langsung menarik kedua tangannya.
“Ev.”
“Aku sudah terikat dengan Dean,” kata Ev to the point. “Kami akan segera melangsungkan pernikahan,” imbuhnya.
Bak dihantam ghodam tak kasat mata, kepala Darren langsung berdenging hebat mendengarnya. “Kalian….”
Ev mengangguk mantap. “Ya. Kami sudah memutuskan untuk menikah tahun depan.”
“Tapi, bagaimana dengan Dan?” lirih Darren parau.
“Perlahan-lahan Dan pasti akan mengerti. Lagi pula Dan juga sudah dekat dengan Dan.”
“Lalu, bagaimana dengan aku, Ev?”
Ev langsung terdiam mendengarnya. Sedetik kemudian, seulas senyum tersungging di bibirnya. “Kamu juga tentu harus bahagia, Darren. Aku yakin ada wanita lain di luar sana yang mampu membuat kamu bahagia.”
“….”
“Atau kamu bisa memulainya lagi dari awal dengan Estrella.”
“Jangan sebut nama itu,” sahut Darren datar. Raut wajahnya langsung berubah seketika.
“Kenapa? Dia ada di depan. Dia mau bertemu kamu untuk yang ter—“
“Aku tidak mau,” potong Darren.
“Jangan egois Darren. Dia juga korban. Terlepas dari kesalahannya, aku juga tahu jika dia berada di posisi yang tidak mudah selama ini.”
Darren tersenyum tipis tanpa alasan mendengar ucapan Ev. “Sekarang aku tahu kenapa aku bisa jatuh cinta sedalam ini.”
“Apa?” bingung Ev. Tiba-tiba Darren berkata ambigu, membuatnya bingung.
“Inilah kamu, Evelyn Angelista. Malaikat berwujud manusia yang selalu berhasil membuatku jatuh cinta dengan segala kesederhanaan yang kamu miliki.”
“….”
“Terima kasih karena pernah singgah dalam hidupku, Ev.”
Ev tang sanggup lagi mendengarnya. “Darren?!”
“Aku mencintaimu. Dari dulu sampai sekarang.”
Wanita cantik itu mematung mendengar Darren berkata demikian.
“Jika kembali bersamaku bukanlah sebuah pilihan, maka berbahagialah dengan pria yang telah kamu pilih. Aku harap dia akan memberikan kebahagiaan yang berlimpah untuk kamu dan putra kita.”
Setelah berkata demikian, Darren tampak bergerak guna mengistirahatkan kepalanya. Lantas memejamkan mata seraya menarik kedua sudut bibir agar membentuk sebuah senyuman. Meninggalkan Ev yang masih terkunci pada apa yang baru saja diutarakan olehnya.
“Aku selalu mencintai kamu, dan aku tidak pernah sekali pun mencintainya. Hanya tubuhku yang pernah berkhianat, tetapi hatiku tidak akan pernah berkhianat.”
🥀🥀
TBC
"APA YANG TERHINDAR PADAMU HARI INI, ADALAH SEBUAH KENYATAAN."
KALAU RAME, PART TERAKHIR DI UPDATE MALAM 🌃
JANGAN LUPA LIKE, VOTE, KOMENTAR, FOLLOW AUTHOR & SHARE ❤️
__ADS_1
Sukabumi 14/05/22