Berbagi Cinta: Mistress (Wanita Simpanan)

Berbagi Cinta: Mistress (Wanita Simpanan)
M51 : PERJUANGAN BELUM USAI


__ADS_3

NOTE : MASIH PART FLASHBACK, KARENA PART-PART FLASHBACK INI AKAN MENGUNGKAP BANYAK FAKTA & CERITA.


SELAMAT MEMBACA & JANGAN LUPA KOMENTAR + LIKE 😘


M51 🥀 : PERJUANGAN BELUM USAI


“Tidak ada yang tertinggal, Ev?”


“Tidak ada. Semua sudah aku bawa.”


Pria yang berprofesi sebagai manager itu mengangguk. Saat ini mereka tengah berada di bandara Internasional Soekarno Hatta. Pesawat yang akan mereka tumpangi akan segera lepas landas beberapa menit lagi. Oleh karena itu, pria itu mencoba memastikan semua barang bawaan mereka sudah lengkap.


“Ada yang sedang you tunggu, Ev?”


Wanita cantik yang mengenakan dress sebatas betis motif kotak-kotak berwarna coklat susu dilapisi dengan long blazer itu tampak menggeleng. Kepalanya tertutupi oleh topi berwarna senada dengan long blazer miliknya. Sebuah kacamata juga membingkai kedua kelopak matanya. Keberangkatan mereka memang tidak diantarkan oleh siapa pun. Sekali pun dia sudah izin untuk pergi berbulan-bulan lamanya, tidak ada yang memiliki waktu untuk mengantar. Semua orang memiliki jam terbang yang sibuk.


Ev—wanita cantik yang tengah berbadan dua itu menghela nafas pelan. Untuk apa dia menunggu, toh tidak akan ada yang datang. Termasuk suaminya yang siang tadi kepergok ‘kissing’ dengan sekretarisnya sendiri.


“Ayo kita berangkat, Dim.”


“You yakin? You kelihatan sedang menunggu someone?”


Ev menggeleng singkat seraya meraih slim bag LV miliknya. “Aku tidak menunggu siapa pun. Jadi lebih baik kita pergi—“


“Ev!”


Belum sempat Ev menyelesaikan kalimatnya, sebuah suara sudah terlebih dahulu memotong. Membuat wanita cantik itu menoleh seketika. Dari arah berlawanan, seorang pria yang mengenakan pakaian semi formal tampak berlari-larian sembari membawa sebuah buket bunga berukuran medium. Ketika pria itu sudah berdiri tepat di hadapannya, barulah Ev mengenali pria tersebut.


“Dean?”


“Aku pikir aku terlambat,” ujar pria rupawan tersebut seraya mengatur deru nafasnya.


“Kamu, sedang apa di sini?” lirih Ev. Bohong jika dia tidak terkejut akan kehadiran pria yang sempat menghilang dari hidupnya ini.


Dean Wijaya memang sempat menghilang bak ditelan bumi pasca mengetahui Ev dan Darren akan segera melangsungkan pernikahan. Hal itu dapat Ev maklumi, karena dari dulu Dean memang begitu getol mendekatinya. Hanya saja, Ev sudah terlanjur terikat dengan Darren Aryasatya Xander. Padahal, hubungan Dean dan Ev sejauh ini sudah bertahan begitu lama. Namun, semua mulai berubah semenjak Ev resmi menyandang nama Xander di belakang namanya.


“Aku ingin mengantar kepergian kamu.”


“Mengantar aku?”


“Hm. Sekali pun kamu tidak pernah memberitahu akan pergi jauh.”


Ev tertegun mendengarnya.


“Apa aku sudah tidak kamu anggap, Ev? seolah-olah hubungan kita selama ini sudah tidak berbekas di benakmu.”


Ev merasa bersalah mendengarnya. Dia memang tidak lagi berhubungan dengan Dean semenjak menikah. Apalagi semenjak dia sadar tengah berbadan dua, Ev lebih fokus menyusun rencana. Dia jadi tidak lagi memikirkan soal pria yang sudah sangat berarti dalam hidupnya ini.


“Safe flight. Semoga pekerjaan kamu cepat selesai, supaya kita dapat segera bertemu kembali,” ujar Dean seraya tersenyum. “Ini untuk kamu,” tambahnya.



“Bunga apa ini?” tanya Ev seraya menerima buket bunga tersebut.


“Bunga Gradiola.”


“Gradiola?”


Dean mengangguk.


“Bunganya cantik, aku suka. Terima kasih, ya, Dean.


Dean mengangguk seraya menatap Ev lekat. “Tapi, apa kamu tahu makna bunga ini, Ev?”


Ev menggeleng dengan polos.


“Bunga gradiola adalah salah satu bunga yang memiliki makna perpisahan yang mendalam. Terlebih jika perpisahan itu terjadi karena penghianatan.”


Ev tercekat mendengarnya. Ternyata, bunga cantik dengan warna-warni menarik yang saat ini ada dalam pelukannya memiliki makna yang mendalam.


Bunga Agus Gladiol atau Gradiola merupakan tanaman bunga hias berupa tanaman semusim berbentuk herba yang termasuk dalam family Iridaceae. Gladiola atau gradiola berasal dari bahasa latin “Gladius” yang berarti pedang kecil, seperti bentuk daun bunga tersebut. Bunga ini berasal dari Afrika selatan dan menyebar di Asia sejak 2000 tahun. Di Indonesia sendiri, ada 20 varietas bunga gladiol dari Belanda. Tiga varietas di antaranya memiliki penampilan yang paling indah.


Selain cantik, bunga ini ternyata memiliki makna yang cukup pelik. Sebagian orang bahkan merekomendasikan bunga ini untuk diberikan pada pada mereka yang sedang patah hati atau sakit hati akibat pengalaman pahit soal percintaan.


“Tapi, aku memberikan bunga ini sebagai bentuk perpisahan sementara. Karena aku yakin, kamu akan segera kembali. Begitu pula dengan hubungan kita yang sempat menemukan perpisahan, semoga segera menemukan jalan menuju kebersamaan.”

__ADS_1


Ev mengangguk lemah. Semenjak memiliki status baru, Ev tidak bisa leluasa berteman dengan dengan kaum Adam. Apalagi ini Dean Wijaya. Seseorang yang dianggap rival oleh sang suami. Padahal, Ev dan Dean sudah menghabiskan banyak waktu bersama. Namun, bagaimana lagi. Dengan kondisi yang saat ini tengah berbadan dua, Ev merasa semakin menghianati cinta tulus yang Dean miliki. Dean adalah pria baik. Terlalu baik bagi Ev yang sudah bukan gadis sempurna untuknya lagi.


Ev sendiri terkadang merasa insecure. Kenapa? Ada pria seperti Dean begitu mencintainya, tetapi Tuhan tidak menjodohkan mereka. Jika saja Dean yang berada di posisi Darren, Ev yakin kondisi nya tidak seperti ini. Namun, apalah daya jika Tuhan sudah berkata; ‘Kun fayakun’ maka akan terjadilah apa yang telah dikehendaki oleh-Nya.


Sebelum bertolak ke Paris, Perancis, Ev sempat memberikan Dean izin untuk memeluknya. Pelukan terakhir itu disaksikan oleh Dimi yang diam-diam mendoakan yang terbaik bagi kelangsungan hubungan sepasang insan tersebut. Sekali pun dia tahu jika tidak mudah membuat Ev berpisah dari Darren, apalagi ada ‘keturunan’ di antara mereka.


“Ev?”


“Ah, iya.”


“Jangan melamun, ini masih pagi,” ujar pria berkaos maroon yang baru saja menyajikan semangkuk granula yogurt di hadapan lawan bicaranya. Lengkap dengan segelas susu hangat, panekuk pisang dan roti pisang panggang dengan selai kacang untuk dirinya sendiri.


“Ayo makan. You sama little baby butuh breakfast.”


Wanita cantik berkaos hijau mint berukuran extra large yang menyamarkan baby bump-nya tampak mengangguk seraya tersenyum tipis. Diraihnya mangkuk berisi granula yogurt yang terbuat dari campuran granula, yogurt plain dan kismis, kemudian dicampur jadi satu. Untuk topping, ada potongan buah pisang, berry, strawberry, kiwi, potongan mangga, taburan irisan kacang almond, menghiasi permukaan atas granula yogurt tersebut.



Saat ini mereka berada di Interlaken yang masih masuk wilayah kanton (provinsi) Bern. Interlaken sendiri adalah kotamadya yang berada di antara 2 danau, yaitu danau Brienz dan danau Thun. Kota ini terletak di pegunungan Alpen, Swiss bagian tengah. Kota ini mendapatkan namanya menurut lokasi geografis di antara dua danau. Ev memilih tinggal di Interlaken karena tempat ini memiliki suasana yang tenang serta udara yang sejuk. Ev juga sempat tinggal di Zermatt—kota yang dijuluki kota paling indah di Negara ini.


Ev ditemani oleh Dini juga sempat tinggal di Paris, Prancis, selama satu bulan untuk mengontrol pembangunan sekolah fashion milik Ev, kemudian bertolak ke Swiss di bulan kedua. Tidak terasa, sekarang mereka sudah tinggal selama kurang lebih tiga bulan di Negara yang berbatasan langsung dengan Jerman, Perancis, Italia, Austria dan kerajaan kecil Lichtenstein. Ev senang tinggal di sini, karena selain bersama Dini, Deesa juga terkadang datang sebulan satu kali untuk mengunjungi Ev. Selain itu, Ev juga tidak kesepian di sini, karena ada sosok lain yang selalu bersedia menemaninya.


“Sudah breakfast, hm?”


Nah, kan, baru saja dibilang. Orang yang Ev maksud sudah hadir di depan matanya.


“Kamu baru bangun, El?”


Pemilik suara deep husky itu bergumam kecil seraya mengecup pipi gembul Ev. “Hm.”


“Habis ini kamu mau kemana? Kantor?”


“Hm, ke kamar.”


Jawaban dari pria rupawan yang tampak baru saja selesai mandi itu—terlihat dari rambut hitamnya yang masih basah, lengkap dengan aroma after safe yang menguar dari tubuhnya—mengundang kernyitan di kening Ev.


“Kamu enggak kerja?”


“Hari ini aku free. Jadi, aku bisa nemenin kamu tidur seharian.”


“Really?”


“Iya. You lihat aja di google,” serobot Dimi yang baru saja muncul dari balik badan Ev. “Ev, habis sarapan you harus yoga. Aku pergi ke Jenewa dulu, mungkin pulang besok. Ada client yang minta meet up di sana.”


Ev mengangguk paham. Dimi memang hendak pergi ke kota Jenewa karena urusan pekerjaan. Jadi, Ev tinggal di rumah bersama si pemilik suara deep husky dan maid berkewarganegaraan Indonesia yang Ev pekerjakan secara pribadi.


“My baby aktif sekali pagi ini, ya?” pria rupawan yang memiliki suara sexy itu berujar seraya menurunkan tangan besarnya ke permukaan perut Ev yang sudah tampak membuncit.


Ev baru saja menyelesaikan sesi yoga-nya, ditemani oleh pria bernama El tersebut. Saat ini mereka masih berada di balkon kamar yang menyuguhkan pemandangan asri dari hijaunya pegunungan, hingga cantiknya aliran danau yang begitu lua membentang. Tinggal di Interlaken sungguh impian Ev. Di sini sangat tenang, jauh dari gemerlap kota metropolitan dengan segala rutinitasnya. Lingkungannya juga dinilai cukup baik bagi tumbuh kembang buah hatinya kelak. Namun, kebersamaan dua insan itu terganggu oleh dering ringtone yang berasal dari handphone milik Ev.


“Halo, Din. Ada, apa?” tanya Ev to the point. Dini lah sumber panggilan telepon tersebut. Entah apa yang membuat wanita muda itu menelpon Ev, padahal kemarin mereka sempat videocall karena Ev rindu Emilio.


“Ini soal tuan, nyonya.”


“Kenapa dengan suami saya, Din?”


“Tuan barusan telepon saya, nyonya. Tuan meminta alamat tempat tinggal nyonya di Paris. Sepertinya tuan hendak menemui nyonya.”


“A-pa, Din?”


“Maaf nyonya, saya telat memberitahu. Sebenarnya, sejak dua hari yang lalu tuan pergi ke Paris untuk perjalanan bisnis.”


Mendengar informasi tersebut, Ev tentu terkejut bukan main. Selama ini Darren tahunya Ev tinggal di Paris, bukan Interlaken. Sekarang pria itu tiba-tiba saja datang ke Paris dan mencari tahu tempat tinggal Ev, Dia pasti tidak menemukan Ev di alamat lamanya.


“Ada apa, schatz (sayang)?” tanya pemilik suara deep husky tersebut seraya menyentuh lengan Ev.


“Darren.”


“Your husband, why?”


“Dia ada di Paris, mencari aku,” ujar Ev risau. “Aku harus segera pergi ke sana, El,” tambah Ev setelah sambungan telepon dengan Dimi terputus.


“Calm down, schatz (sayang). Aku akan mencari tiket penerbangan tercepat ke Paris.”


Ev mengangguk. Namun, tidak dapat dipungkiri jika Ev merasa sangat khawatir saat ini. Dia takut Darren curiga. Jangan sampai Darren tahu jika selama ini Ev tidak tinggal di Paris, melainkan di Interlaken. Bisa-bisa dia juga tahu jika Ev tengah berbadan dua nanti. Untung saja El sapat menepati janjinya. Pria rupawan itu berhasil mendapatkan tiket penerbangan tercepat ke Paris. Dia bahkan ikut mengantarkan Ev ke Paris, karena tidak mau Ev berpergian seorang diri. Kurang lebih 1 jam 15 menit mereka melakukan penerbangan nonstop.

__ADS_1


Dilanjut dengan perjalanan darat menggunakan taxi guna menjangkau unit apartemen milik Ev. Dalam hati, Ev berdoa agar dia tidak datang terlambat. Ev harap Darren tidak datang mendahului dirinya. Wanita cantik yang malam ini tampil polos tanpa pulasan make up itu berjalan tergesa-gesa saat turun dari taxi, mengabaikan suara El memanggil-manggil. Mantel hangat motif kotak-kotak berwarna purple yang dia gunakan, sekilas berhasil menyamarkan baby bump-nya. Sebuah beanie berwarna gray juga melindungi bagian atas kepala hingga telinga dari terpaan udara dingin.



Kendati sudah berusaha melakukan yang terbaik agar tidak berkesan baru tiba dari tempat yang jauh, semua usahanya terasa sia-sia saat langkahnya baru saja memasuki area lobby. Tepat dalam radius sepuluh meter dari tempatnya berpijak, seorang pria berpakaian formal didampingi oleh seorang wanita berambut brunette yang mengenakan pakaian formal berdiri menyambut kehadirannya. Mereka tampak cocok, sama-sama terlihat sempurna dalam balutan pakaian formal.


“Kamu baru kembali dari suatu tempat?” pria berpakaian formal itu berjalan, maju, mengikis jarak yang ada di antara mereka.


“Emh. Aku barusan pergi mencari makanan street food,” jawab Ev, bohong. “Kenapa kamu tiba-tiba datang tanpa memberi kabar?”


“Aku sedang dalam perjalanan bisnis. Aku mampir selagi ada kesempatan.”


Ev mengangguk paham. Untuk sejenak, pandangan Ev beralih pada wanita di samping sang suami yang tampak tengah menatapnya juga.


“Kamu terlihat pucat. Apa kamu sakit?” Tanya Darren tiba-tiba, mengalihkan perhatian Ev. Pria itu dapat menangkap perbedaan dari tubuh sang istri. Atau mungkin itu hanya efek sudah lama tidak berjumpa, jadi Darren sekilas berpikir jika Ev tampak semakin berisi. Sekali pun porsi tubuh istrinya itu tersamarkan oleh pakaian yang dia gunakan.


“Aku sehat dan baik-baik saja.” Ev menjawab seraya tersenyum tipis.


“Baguslah kalau begitu. Aku pikir kamu sakit, karena mama bilang kamu sempat terserang flu.”


“Aku baik-baik saja.” Termasuk bayi kita, dia baik-baik saja. Bahkan sekarang dia sedang menendang dengan aktif, mungkin karena tahu jika yang tengah berbicara adalah ayahnya—lanjut Ev di dalam hati.


“Jaga dirimu baik-baik, Ev. Aku tahu ini mimpi kamu. Tapi, jangan sampai kamu jatuh sakit karena terlalu lelah bekerja.”


Ev tertegun mendengarnya. Apa ini bagaian dari sandiwara? Tapi, bukan kah Darren memiliki ‘something’ dengan sekretarisnya? Jadi, kenapa harus bersandiwara.


“Okay, aku akan selalu ingat kata-kata kamu,” jawab Ev pada akhirnya. Seberkas senyum terbit di ujung-ujung bibirnya. Tanpa Ev duga, respon yang dia dapatkan berikutnya, mampu membuat kinerja jantungnya bekerja dua kali lipat.


Cup!


Satu kecupan baru saja diberikan Darren pada kening Ev. Membuat si empunya terkejut bukan main. Termasuk sekretaris pria itu sendiri.


“Kalau begitu sampai jumpa di rumah.” Pria rupawan itu berujar seraya menyentuh kedua bahu sang istri. “Aku harap kamu segera pulang,” imbuhnya.


Ev mengangguk tanpa suara. Perjuangannya untuk menjangkau tempat ini, nyatanya mendapatkan balasan yang cukup setimpal. Setidaknya, Ev bisa sedikit membasahi dahaga rindu yang tercipta di dalam dada. Entah karena hormon ibu hamil atau apa, hampir empat bulan lamanya tidak berjumpa, ternyata mampu menimbulkan rasa rindu di dada. Bagaimana pun juga, janin yang tumbuh dan berkembang dalam rahimnya juga merindukan figure seorang ayah.


“Senang bisa bertemu your husband?” sindir pemilik suara deep husky yang sedari tadi memilih memantau semuanya dari kejauhan.


Tidak sampai dua puluh menit Ev bertemu dan bercengkrama dengan Darren. Pria itu sudah pergi lagi, setelah menyampaikan maksud dan tujuan dari kedatangannya.


“Sepertinya your husband punya hubungan gelap dengan sekretarisnya,” celetuk El tiba-tiba.


“Maksud kamu?”


“Staff with benefit, maybe.”


“Sejelas itu kah?”


Pria rupawan itu tersenyum misterius. “Setelah keluar dari lobby, they are kissing in the car.”


“Apa?” linglung Ev.


“They are kissing. Kamu percaya?” El menatap lawan bicaranya lekat. Mencoba mencari tahu reaksi wanita cantik tersebut.


“Hm. Aku bahkan pernah melihatnya secara langsung,” ujarnya datar.


“Jadi, untuk apa si assh*le itu menemui kamu, schatz (sayang)?”


“Untuk apa lagi selain memenuhi desakan ibunya,” jawab Ev sekenanya. Mood ibu hamil itu sedang tidak baik-baik saja sekarang. Ev hanya ingin segera kembali ke Interlaken agar dapat tidur dengan nyenyak, dan melupakan rasa sesak yang muncul di dada. Pun dengan rasa sakit yang mulai menjalar ke area perut.


Beberapa menit yang lalu dia mungkin dibuat melayang hanya karena sebuah kecupan singkat. Namun, di sepersekian detik berikutnya dia dijatuhkan begitu saja oleh kenyataan yang ada. Ternyata, bibir yang sama juga telah membuat perasaan wanita lain lebih melayang.


🥀🥀


TBC


HUJAT..... HUJAT.... HUJAT.....


HUJAT DULU, BARU THE LAW OF KARMA BEKERJA!


NEXT??


JANGAN LUPA LIKE, VOTE, KOMENTAR, FOLLOW AUTHOR & SHARE ❤️


Sukabumi 25/03/22

__ADS_1


__ADS_2