Berbagi Cinta: Mistress (Wanita Simpanan)

Berbagi Cinta: Mistress (Wanita Simpanan)
M54 : D-EV-DEV-D-EV


__ADS_3

NOTE : PART INI KHUSUSON BAGI TIM UWUABLE DEAN-EV. FULL PART LOH, WALAUPUN PENDEK. YANG PENTING DOUBLE UPDATE, KAN 😁


JANGAN LUPA, KOMENTAR & VOTE ✌️


M54 🥀 : D-EV-DEV-D-EV


“Gimana rasanya?”


Pria rupawan yang tengah mengunyah tart lembut dengan citarasa legit yang pas dimulut itu masih terdiam. Mencoba meresapi rasa nikmat yang tengah memanjakan lidah.


“Seperti di Osaka,” jawabnya gamblang.


“Jawab yang benar, Dean!” ketus lawan bicaranya, sebal.


Pria rupawan yang mengenakan pakaian casual itu tersenyum lebar setelah menelan semua rasa lezat yang tercipta di dalam mulutnya. “Sungguh, rasanya seperti cheese tart yang pernah kita makan di Osaka.”


“Kamu terlalu melebihkan.”


“Tapi rasanya memang sama.” Pria rupawan itu kekeuh dengan jawabannya. Sekali lagi, dia menyuapkan potongan kecil cheese tart ke dalam mulut.



Berbicara soal cheese tart, maka negeri sakura memang Negara penghasil cheese tart terbaik di dunia. Berbeda dengan cheese cake, cheese tart dibuat dari adonan tart yang diisi dengan isian keju yang lezat. Di Osaka, ada sebuah toko bakery yang mungkin menjadi pelopor cheese tart di dunia. Nama toko bakery tersebut adalah Pablo. Maka tidak heran jika Pablo selalu dipadati pengunjung. Bahkan karena respon masyarakan yang tinggi, membuat Pablo membuka cabangnya di beberapa Negara Asia, seperti Indonesia dan Singapura.


“Kamu buat banyak, Ev? kalau masih ada, aku mau bawa ke kantor.”


“Masih ada satu. Mau aku pindahkan ke tupperware?” tawar wanita cantik yang baru saja memindahkan potongan egg tart dan cheese cake ke atas piring.


Dengan antusias, pria rupawan itu mengangguk. Dia sendiri sudah menghabiskan hampir ¼ bagian cheese tart yang disuguhkan di hadapannya. Sekarang, dia minta dibekali oleh makanan yang sama. Padahal biasanya dia tidak terlalu suka manis. Akan tetapi, Ev sendiri memang membuat cheese tart nya tidak terlalu manis, agar tetap bisa dinikmati oleh pria tersebut.


“Hari ini sebenarnya aku buat banyak tart, cake sama cookies. Tapi, sebagian besar sudah aku kasih ke mama Diana. Sebagian lagi aku kasih ke Dimi, Deesa, Dewita, sama tante Dessy. Aku pikir kamu enggak suka makan cheese tart, makanya aku sisain sedikit. Kalau cheese cake, masih ada satu yang ukuran medium.”


“Aku suka apapun yang kamu buat, Ev.”


“Really?”


“Yeah, I’am sure. Karena kamu paling tahu selera aku.”


Wanita cantik yang mengenakan dress rumahan sederhana berwarna salem itu tersenyum lebar mendengarnya. “Memangnya apa yang sulit dari menghafal selera kamu, Dean?”


“Sulit, Ev. Terkadang bibi di rumah masih suka salah kalau aku minta buat kopi. Kadang kemanisan, kadang kepahitan. Beda kalau kamu yang buat.”


Si empunya nama tertawa mendengarnya. “Bibi aja yang gak tahu trik-nya. Aku, kan, cuma buatin kamu kopi instan, jadi takarannya udah pas.”


“Seriously, Ev? selama ini kamu kasih aku kopi instant?” kaget lawan bicaranya.


“Tapi, bohong,” ralat Ev seraya tersenyum. “Aku tahu tante Dessy selalu selektif dalam memilih makanan untuk putranya. Makanya, kamu juga kadang parno kalau dikasih makanan isntan. Mana mungkin aku berani kasih kamu makanan instan.”


“Yeah, begitulah anak tunggal kaya raya diperlakukan.”

__ADS_1


Mendengar kalimat yang baru saja dilontarkan oleh seorang Dean Wijaya dengan gamblang, Ev tentu dibuat tertawa kecil mendengarnya. Seumur-umur, Ev baru tahu jika sekelas Dean Wijaya bisa juga sombong.


“Makanya aku yakin kamu bakal jadi pasangan yang klop buat aku. Soalnya kamu paling tahu soal aku, selain mama tentunya.”


Ev menanggapi gurauan tersebut dengan senyum yang terpatri di bibir. “Nah, cheese tart-nya sudah aku pindahkan. Kamu bisa menikmatinya nanti,” ujar Ev, mengalihkan pembicaraan.


Dean mengangguk seraya tersenyum masam. Paham jika topik pembicaraan yang dia ambil lagi-lagi merusak suasana sang pujaan hati. Mungkin Ev masih butuh waktu untuk mempertimbangkan perasaannya.


“Ev, apa kamu tidak pernah berpikir untuk membuka bakery?” mengesampingkan rasa kecewa yang sempat mendera, Dean memilih membicarakan topik yang lain. Kelihatannya berhasil, karena sepersekian detik berikutnya wanita cantik itu menjawab dengan lugas.


“Pernah, tapi aku masih ragu buat terjun ke dunia bakery.”


“Kenapa harus ragu? Kamu punya skill di bidang itu, Ev. apa karena kamu belum punya lokasi strategis untuk membuka bakery?”


“Bukan begitu, Dean. Tapi….”


“Kalau masalah tempat, biar aku yang urus, Ev. Kamu tinggal sebut mau buka bakery di mana? Butuh karyawan berapa? Mau fasilitas apa? Kamu sebut saja. Aku bisa langsung proses kebutuhan kamu sekarang juga.”


Ev menghela nafas mendengar kalimat panjang kali lebar yang baru saja diucapkan oleh Dean. Pria rupawan itu terkadang memang selalu over aksi jika menyangkut sesuatu yang Ev suakai atau sedang Ev inginkan.


“Aku belum punya keyakinan untuk berkiprah di sana, Dean. Karena itu juga, aku belum mau memulainya. Takutnya, aku tidak konsisten. Sekarang, aku mau fokus dengan proses perceraian.”


Dean mengangguk sebagai jawaban. “Ok. Nanti, kalau kamu mau buka bakery atau buka galeri seni, kamu bisa bilang sama aku. Aku akan mengusahakan yang terbaik untuk kamu.”


Ev mengangguk seraya tersenyum. “Kamu selalu mengusahakan yang terbaik untukku, Dean. Terima kasih.”


“Kamu selalu mewujudkan keinginanku, sekalipun bersifat mustahil. Contohnya D’EV. Anak SMA mana yang kepikiran buat agensi model raksasa hanya karena keinginan seorang gadis naif.”


“Anak SMA Wijaya yang sukanya memenuhi keinginan gadis naif yang sangat dia sayangi.”


Ev terdiam mendengarnya. Tatapan wanita cantik itu masih terpaku pada lawan bicaranya. “Kenapa aku disayangi sebesar ini, Dean?”


“Karena itu kamu, Ev.”


“Kenapa dengan aku?” tanya Ev, menuntut penjelasan. Sekarang, rotasi etensinya hanya berpusat pada pemilik netra sejernih madu tersebut.


“Karena itu kamu, Evelyn. Seorang gadis naif yang berani mengorbankan masa lajangnya, demi meraih kebebasan. Alih-alih mendapatkan kebebasan dan kebahagiaan, gadis itu pada akhirnya malah terjebak dalam perkara bernama bahtera rumah tangga.”


Dean bergerak, mengesampingkan alat makan yang sedari tadi dia pegang. Saat kedua tangannya bebas dari apapun, dia kemudian meraih salah satu telapak tangan Ev. “Perasaan yang aku miliki tulus untuk kamu. Jika tingkatan tertinggi dalam mencintai adalah ikhlas, aku pun ikhlas jika kamu pada akhirnya menjadi milik orang lain. Namun, dengan catatan kamu bahagia, Ev. Bahagia, bukan cuma bersandiwara.”


“Kamu pikir selama ini aku tidak bahagia, Dean?” tanya Ev dengan suara kecil.


“Hanya kamu yang tahu jawabannya,” jawab Dean gamblang. “Namun, sebagai seorang lelaki yang telah mengamati kamu lebih dari seperempat abad, aku bisa memastikan jika kamu selama ini tidak pernah benar-benar bahagia.”


“Begitu kah?”


“Hm. Kamu mungkin bisa membohongi semua orang, termasuk dirimu sendiri. Tapi aku, apa kamu pernah bisa membohongi aku?”


‘Aku bisa, Dean. Dan buktinya, aku telah berhasil menyembunyikan sebuah kebohongan besar dari kamu,’ jawab Ev di dalam batin.

__ADS_1


“Kamu mungkin bisa berbohong, Ev. Tapi tidak dengan perasaan kamu.” Dean tersenyum tipis di akhir kalimatnya. Seraya mengeratkan genggaman, pria rupawan itu kembali berujar. “Untuk kedepannya, aku ingin jadi bagian dari kepercayaan yang bisa kamu percayai. Aku ingin jadi bagian dari keyakinan yang tidak perlu kamu ragukan lagi.”


“Dean.”


“Aku ingin kamu memberi aku kesempatan untuk itu, Ev.”


“Dean.”


“Beri aku kesempatan untuk mewujudkan semua itu. Aku….”


“D-EV-DEV-D-EV.”


“Apa?” ulang Dean linglung. Ev baru saja memotong kalimatnya dengan kalimat yang membuat pria rupawan itu spontan berhenti. “Kamu baru saja mengatakan apa, Ev?”


“D-ev-dev-d-ev.”


“Kamu ingat?” tatapan pria rupawan itu tampak dipenuhi binar keterkejutan.


“Tentu saja. Itu kode persahabatan kita. D-ev-dev-d-ev.” Ev menjawab dengan enteng.


Dean tak kuasa menahan senyum mendengarnya. “Aku pikir kamu sudah melupakannya.”


“Mana mungkin aku lupa, Dean. Kamu bahkan selalu mengingatkan aku soal kode persahabatan itu. Di lobby D’EV saja, ada lukisan abstrak yang memiliki kode D-ev-dev-d-ev di salah satu sudutnya.”


Dean tampak terkejut mendengarnya. “Kamu menyadarinya?”


Ev tersenyum manis seraya menganggukkan kepala. “Tentu saja. Kamu terlalu menonjolkan kode itu.”


Dean mengedipkan bahunya acuh, pura-pura tidak peduli. “Aku cuma mau mengingat kode itu saja. Tidak lebih.”


“Lebih juga tidak apa-apa, Dean. Kamu berhak,” ujar Ev tanpa di sangka-sangka. “Asal kamu tahu, kamu ini terlalu baik untuk aku, Dean. Tapi, aku juga bersyukur karena Tuhan telah berbaik hari memberiku seseorang seperti kamu.”


Setelah berkata demikian, diakhiri dengan seulas senyum manis yang tercipta dengan penuh ketulusan. Ev mengikis jarak di antara mereka, kemudian menjatuhkan satu kecupan singkat di pipi kanan pria bermarga Wijaya tersebut.


“Terima kasih untuk perhatian dan perjuangan yang kamu berikan selama ini. Aku harap perasaan kamu tidak pernah berubah, sekalipun nanti kamu tahu jika aku tidak sesempurna yang kamu lihat.”


🥀🥀


TBC


GIMANA READERS YANG BUDIMAN??


MASIH MAU LANJUT? PENDUKUNG KAPAN INI MANA SUARANYA??


JANGAN LUPA LIKE, VOTE, KOMENTAR, FOLLOW AUTHOR & SHARE ❤️


Follow IG Karisma022 juga ya!


Sukabumi 29/03/22

__ADS_1


__ADS_2