
NOTE : PART INI PENDEK. BIAR TAMBAH PENASARAN AJA 😁
JANGAN LUPA KOMENTAR & VOTE ✌️
M43 🥀 : SEBUAH KEBENARAN
FLASHBACK
Selesai memeriksa hasil kerja keras sang sekretaris, Darren kembali fokus pada MacBook yang menyala di hadapannya. Sedangkan sang sekretaris sendiri sudah pamit untuk kembali ke kantor. Ada banyak pekerjaan yang harus Damian kerjakan, selagi Darren tidak dapat bekerja di kantor. Sepeninggalan Damian, hanya ada keheningan yang menyelimuti. Darren fokus pada pekerjaanya, sedangkan seorang wanita yang terbaring di atas bed rumah sakit tampak menahan tangisnya mati-matian.
Kendati demikian, Darren tak semudah itu dibohongi. Lama kelamaan pria itu sadar jika ada yang tidak beres dengan wanitanya. Maka dengan segera, pria rupawan itu menekan tanda close untuk menutup pekerjaanya. Kemudian, dia mematikan MacBook miliknya. Dengan langkah pelan, pria itu mendekati bed rumah sakit. Benar saja dugaanya. Saat berdiri di dekat bed itu, dia bisa melihat dengan jelas jika punggung mungil yang membelakangi dirinya itu bergetar. Menandakan jika ada isak tangis yang disembunyikan. Seketika itu pula dia dilanda oleh rasa bersalah.
Dia tahu betul jika tekanan batin yang wanitanya rasakan adalah karena statusnya sebagai istri kedua.
Ini memang sepenuhnya salahnya. Jika saja dia tidak melibatkan wanita polos seperti Ella, mungkin Ella tidak akan menderita seperti saat ini. Apalagi saat ini kondisinya tengah berbadan dua.
“Ella,” panggilnya pelan. “Ada apa, hm?”
“Ella gak papa, mas,” jawab si empunya nama, samar juga parau.
“Kamu berbohong. Ella yang aku kenal tidak pernah berbohong.”
Wanita muda itu masih tidak bergeming.
“Kamu kenapa menangis? Ada yang sakit, hm?”
“Enggak ada, mas. Ella baik-baik saja,” bantah si empunya nama.
“Jangan bohong, Ella. Aku tahu kamu tidak pandai berbohong.”
Wanita itu tak lagi menjawab. Dia tahu jika percuma saja berdalih, toh pria yang berstatus sebagai suaminya itu sudah terlalu hafal seluk-beluk tentangnya. Pria itu tahu jika seorang Estrella tidak pandai berbohong, dan tidak pandai menyembunyikan tangis. Kedua hal itu adalah cerminan dari diri seorang gadis desa yang senantiasa jujur dalam kesehariannya.
“Coba lihat sini, aku mau lihat wajah istriku.”
Mendengar suara pria yang dicintainya mengalun dengan indah, rasa sesak di dadanya kian merajalela. Ella malah semakin terisak. Kali ini dia bahkan tak lagi mau membendung air matanya.
“Tumpahkan semuanya. Menangis bukan berarti kamu lemah, Ella.”
__ADS_1
Suara itu kembali datang, bak irama yang menenangkan. Ella mengangguk dalam diam. Tak berselang lama, ada kehangatan yang datang. Merengkuh, memeluk, membungkus tubuh mungilnya yang bergetar. Dia tahu jika sumber kehangatan itu sama dengan sumber rasa sesaknya hari ini. Dia adalah segala sumber pancarona yang didapatkan seorang gadis bernama Estrella. Gadis polos yang tidak tahu apa-apa. Namun, dalam satu waktu dia harus bisa memahami banyak hal.
“Maaf membuatmu menangis. Aku tahu aku salah karena melibatkan kamu dalam kehidupanku yang penuh drama. Namun, satu hal yang harus kamu ketahui, Ella.”
“….”
“Aku tidak pernah menyesal bertemu dengan kamu.”
Tangis wanita muda itu perlahan menyurut. Dengan gerakan peralahan, dia berbalik badan. Menghadap ke arah sumber dari segala rasa yang ada. Datatapnya wajah rupawan itu lekat. Wajah yang dia inginkan terlukis pada wajah buah hati mereka kelak.
“Ella juga enggak pernah menyesali pertemukan kita. Ella sayang sama mas Darren. Sekalipun Ella belum tahu, sebenarnya mas Darren sayang sama Ella ….atau enggak.”
Pria rupawan itu tampak tak bergeming untuk sesaat. Melihat itu, Ella beranjak dari posisi berbaringnya. Diikuti oleh Darren. Wanita muda itu kemudian menyunggingkan senyum tipis yang menyembunyikan rasa miris. Sekedar ucapan sayang saja, sekarang suaminya ragu tuk berucap.
“Tapi, Ella tahu kalau masa Darren sebenarnya sayang sama mbak Ev. Gimana pun juga, Ella ini cuma….” Kalimat itu tak lagi rampung diucapkan, karena pria ruapawan di hadapannya sudah terlebih dahulu membungkam bibirnya.
Ella hanya diam, tak menolak maupun menjawab. Namun, seperkian detik berikutnya, satu kalimat terucap. Membuatnya mampu merasakan lagi hati yang berbunga-bunga.
“Aku sayang kamu, kamu harus tau itu.” Bisik keturunan Xander itu pelan, di antara cumbuan mereka.
Keduanya kemudian hanyut dalam buai perpaduan berbagai rasa yang bertemu dalam satu cumbu. Dari ciuman yang biasa saja, berlanjut pada ciuman penuh gelora yang menjadi ajang percampuran berbagai rasa. Untuk sejenak, mereka hanya ingin melupakan masalah yang ada. Ingin berbagi rasa, suka maupun duka yang kini tengah sama-sama mereka rasakan.
Sekarang, Darren merasakan sendiri akibat dari tindakan yang didasari oleh terbawa suasana tersebut. Dia telah kembali menyakiti hati wanita yang sangat dia cintai di dunia ini. Lagi, lagi, dan lagi.
Mungkin, kata ‘maaf’ saja tak akan sanggup menebus semua kesakitan juga kekecewaan yang telah dia berikan pada wanita itu.
Selain itu, sekarang dia hanya bisa meratapi nasib sembari menatap kedua tangannya yang berlumuran darah. Tatapannya kemudian beralih pada cermin di hadapannya yang sudah tidak berbentuk, dengan ceceran darah di beberapa bagian. Telinganya seolah-olah tuli, tak mau mendengar tangisan seorang wanita yang memanggil-manggil namanya. Memintanya untuk segera keluar, agar dapat memastikan keadaan. Namun, Darren berlagak tuli. Dia hanya ingin memcari pelampiasan atasan segala emosi yang menguasai.
Hari ini, dia telah menyakiti sang ibu. Pun telah melepaskan wanita yang menjadi pasangannya sejak muda. Wanita yang sejujurnya telah menjadi ratu di hatinya. Wanita yang begitu enggan dia lepaskan.
Darren telah kehilangan kedua wanita yang dia cintai. Demi seorang wanita yang entah berantah dia anggap apa. Cinta? Darren saja belum yakin telah mencintai Ella. Dia juga tidak bisa menyingkirkannya begitu saja, karena ada darah dagingnya bersemayam di rahim wanita tersebut.
🥀🥀
Seorang wanita paruh baya tampak tersenyum tipis sembari menghidangkan fondue di hadapan seorang anak lelaki ruapawan yang mengenakan seragam sekolah Kindergarten atau PAUD. Fondue adalah hidangan popular khas Swiss berupa keju leleh yang disajikan di dalam panci. Biasa fondue disantap dengan roti sebagai saus.
“Dan sedang apa?” tanya wanita paruh baya tersebut dengan bahasa Jerman yang cukup fasih.
__ADS_1
“Mengingatkan mère supaya cepat menepati janji,” jawab si empunya nama.
“Janji yang manakah itu?”
“Pulang bersama perè.”
“Mère dan perè pasti akan segera pulang dan menemui Dan. Dan percaya sama mère, ‘kan?”
“Iya, Dan percaya sama mère,” jawab si empunya nama antusias, diakhiri dengan senyum yang mengembang di bibir tipisnya. Membuat wanita yang berstatus sebagai nanny itu ikut tersenyum. Wanita itu kemudian beralih, mengerjakan tugasnya yang lain.
“Nanny!”
Tiba-tiba saja, si empunya nama ‘Dan’ itu memanggil wanita paruh baya itu dengan girang. Padahal wanita paruh baya itu tengah mempersiapkan bekal untuknya berupa sandwich keju jamur.
“Ada apa, Dan?” tanyanya penasaran.
“Perè! Itu Perè!” seru Dan antusias sembari menunjuk layan televisi 48 inch yang menempel di dinding.
Wanita paruh baya itu menyipitkan matanya yang terlindung frame kacamata khusus rabun jauh. Ketika penglihatannya sudah jelas, tidak buram apalagi kabur. Wanita itu dapat melihat siluet seorang pria yang mengenakan pakaian formal yang tampak mahal tengah berjabat tangan dengan seorang pria berpakaian formal pula. Namun, bedanya pria yang satunya lagi berwajah kaukasia. Sedangkan pria yang menjadi pusat perhatian Dan berwajah half Asia-Eropa. Sebuah judul tentang kerjasama global tertera di bagian bawah layar televisi.
Tubuh pria itu tampak tinggi, tegap, berisi dalam porsi ideal. Raut wajahnya datar, tetapi tidak mengurangi kadar ketampanan pria keturunan keluarga konglomerat yang tentu saja wanita paruh baya itu kenal dengan baik. Pria itu masih sama seperti yang terakhir kali dia ingat. Beruntung rasanya jika mengingat kesempatan yang dia dapatkan. Dia adalah pengasuh pria itu saat masih kecil. Sekarang darah daging pria itu, dia pula yang mengasuhnya. Sungguh sebuah keberuntungan bukan?
Sembari tersenyum, wanita paruh baya itu mengelus surai hitam jelaga milik Dan. “Iya, itu Perè-nya Dan.”
Dan mengangguk-angguk antusias sembari menonton pria yang dia panggil ‘Perè’ itu dengan lekat. Bola mata hitam itu tampak memuja sosok yang begitu dia rindukan. Sosok yang belum pernah bisa dia gapai sejak lahir ke dunia.
“Perè, Dan di sini. Dan rindu Perè. Dan mau peluk Perè.”
🥀🥀
TBC
Spoiler muka Dan 😋
Jangan lupa like, vote, komentar & follow Author
__ADS_1
Sukabumi 14/03/22