Berbagi Cinta: Mistress (Wanita Simpanan)

Berbagi Cinta: Mistress (Wanita Simpanan)
M46 : EV PANTAS MENDAPAT YANG TERBAIK


__ADS_3

NOTE : SELAMAT MALAM JUM'AT & NISFU SYABAN 🙏


JANGAN LUPA BACA YASIN & BANYAKIN DOA 🤲


M46 🥀 : EV PANTAS MENDAPAT YANG TERBAIK


“Kok tiba-tiba media heboh sama berita perceraian kamu, sih. Gimana ceritanya, Ev!”


Wanita cantik berwajah oriental khas gadis Asia itu langsung menyerbu seorang wanita cantik yang baru saja datang. Ev yang menjadi objek dari pertanyaan itu hanya tersenyum tipis. Dia tampak cantik menggunakan sleeveless A-line mini dress tanpa lengan yang dibuat dari bahan wol dan sutra dari Louise Vuitton. Dress seharga 3700 USD atau sekitar 52 juta rupiah itu memadukan atasan bergaya tank top dan rok makro-Monogram yang sedikit melebar. Ev juga membawa tas Twist MM dari Louise Vuitton warna hitam yang dilengkapi dengan tali bahu sebagai tamban. Harga tas Ev sendiri sekitar 4450 USD atau sekitar 63 juta rupiah. Untuk alas kaki, dia memilih menggunakan slingback shoes. Sepatu ini cocok dipadukan dengan rok A-line untuk menonjolkan kesan feminim.



“Kenapa juga aku baru tahu, sekarang? Aku ngerasa gak guna banget jadi temen kamu! suami aku juga, ya, aku tanya malah diem aja. Dia pasti udah tahu masalah ini.” Cerocosan wanita bernama Dewita itu semakin menjadi-jadi. Membuat seorang wanita di sampingnya memutar bola mata malas.


“Please deh. Jangan meledak-ledak gitu juga kali. Gak kasihan sama kecebong suami lo?” sindirnya.


Dewita memutar bola mata sebal sembari mengelus blouse bagian perutnya. Dia memang sempat lupa jika benih suaminya sekarang tengah berkembang di sana.


“Maksud kamu apa, Dees?” bingung Ev yang baru saja mendudukkan diri.


“Finally, after two year. Dia berhasil dibuntingin sama lakinya,” sahut wanita yang berprofesi sebagai spesialis Obstestric and gynecology (Obgyn) atau dokter kandungan itu santai.


“Really?” Ev menatap Dewita dengan binar di matanya.


Dewita mengangguk sebagai jawaban. Wajah cantiknya tampak dihiasi semburat kebahagiaan. Ev tahu betul jika Dewita sudah menunggu kehadiran seorang anak sejak lama. Hanya saja, baru di tahun kedua Tuhan memberikannya karunia tersebut. Sebagai seorang teman, Ev tentu ikut bahagia untuknya.


“Berapa usianya, Dew?” tanya Ev seraya tersenyum.


“Sekarang baru lima jalan enam minggu.”


“Aku ikut senang dengan kehamilan kamu. Semoga kalian selalu diberi kesehatan dan keselamatan hingga persalinan.”


“Amin. Thanks ya, Ev.”


Ev mengangguk sebagai jawaban. Dua hari telah berlalu pasca sidang pertama di pengadilan agama. Berita tentang perceraian Ev dan Darren masih hangat diperbincangkan. Mulai dari saluran televisi nasional, swasta, hingga beberapa laman lambe turah di berbagai media sosial juga ikut meramaikan pemberitaan. Hingga saat ini, baik pihak Ev maupun Darren, masih memilih bungkam. Rencananya, pihak agensi yang menaungi Ev akan melakukan konferensi pers jika keadaan sudah lebih kondusif.


Karena pemberitaan yang ramai di mana-mana itu, Dewita dan Deesa juga jadi mengetahui soal keretakan rumah tangga teman mereka. Keduanya langsung memberondong Ev lewat telepon hingga spam pesan lewat berbagai aplikasi pesan singkat hingga media sosial Ev. Mereka terkejut bukan main karena mengetahui berita besar tersebut dari media, bukan dari pihak yang bersangkutan. You knowlah, beberapa sumber terkadang menyampaikan informasi disertai bumbu-bumbu penyedap. Jadi, baik Dewita maupun Deesa memilih menanyakan ke sumber yang terkait.


Sekarang, di sini lah mereka berada. Di apartemen Ev yang ditinggali oleh Dini dan Emilio sejak Ev keluar dari mansion nya bersama Darren. Ev tentu tidak dapat dengan mudah pergi ke unit apartemennya sendiri. Dia bahkan harus melakukan penyamaran, karena paparazi masih suka membuntuti.


Dini sendiri dari tadi sudah melayani dua tamu nyonya mudanya itu dengan baik. Gadis muda itu juga telah menjalankan amanat Ev dengan baik. Terlihat dari bagaimana anak kesayangan Ev—Emilio—yang tampak senang berada di rumah barunya. Aquarium tempat tinggal Emilio sekarang memang tidak sebesar yang dulu. Namun, rumah ikan cantik itu kali ini lebih indah. Ada tambahan beberapa biota hidup di dalamnya. Dini sendiri yang telah menyiapkan aquarium itu.


“Ev, kenapa kamu gak pernah cerita kalau selama ini kalian ada masalah?” tanya Dewita, membuka pembicaraan.


Ev tersenyum kecil mendengarnya. Ada banyak orang yang peduli pada Ev. Akan tetapi, Ev bukan tipikal orang yang suka dikasihani apalagi membebani. Jika bisa dilakukan sendiri, kenapa harus merepotkan orang lain? Begitu sekiranya pikir Ev.


“Jadi pemberitaan itu bener, Ev? laki lo ada main sama cewek lain?” kini giliran Deesa yang berucap seraya memainkan jari telunjuk dan jari tengah.


“Kalau itu benar, suami kamu itu beneran bastard! Kurang Ev apa coba? Sampai-sampai berani main gila sama cewek lain. Aku juga lihat foto-foto suami kamu yang tersebar di internet. Kayaknya, ceweknya itu masih di bawah umur. Badannya kelihatan kecil, mungil. Jangan-jangan cewek itu gold digger?!” Dewita bergidik jijik.


Gold digger adalah julukan yang diberikan kepada pria atau wanita yang dituding memanfaatkan pemberian materi dari pasangannya untuk menikmati kemewahan dan mendapatkan kesenangan semata.

__ADS_1


“Pernah denger peribahasa ‘the grass is always greener in the other’ gak?”


Dewita mengangguk antusias. “Rumput tetangga selalu terlihat lebih hijau. Tapi, apa maksudnya?”


Deesa tersenyum tipis sembari menyeruput teh cammomile yang dibuat oleh Dini. Membiarkan Dewita menunggu dengan rasa penasaran. “Ev yang kita lihat always perfect, bukan berarti suaminya bisa lihat Ev begitu. Kalau dia sampai ada main sama cewek lain, ada kemungkinan kalau dia lihat sesuatu di wanita itu yang enggak Ev punya.”


Mendengar kalimat Deesa, Ev hanya terdiam. Menyadari suasana hati Ev yang agaknya tidak terlalu baik, Dewita langsung berdeham.


“Udah, deh. Gak usah bahas-bahas soal pemberitaan dari internet. Aku mau tahu dari sumbernya langsung,” ujarnya, to the point. “Cerita dong, Ev. Aku tahu kamu ini pandai menyimpan rahasia. Tapi, di sini kita teman, ‘kan?”


“Hm. Itu pun kalau masih dianggap temen,” sindir Deesa sembari nyengir kuda.


Ev menghela nafas kecil, kemudian menatap kedua teman sekaligus sahabatnya itu bergantian. “Okay. But, don’t interrupt while I’am talking (tapi, jangan menyela selagi aku bicara).”


Dewita dan Deesa kompak menganggukkan kepala. Kemudian Ev membagi sedikit kebenaran soal apa yang terjadi pada rumah tangganya. Dewita dan Deesa menjadi pendengar yang baik. Dewita bahkan sampai terpancing emosi kala Ev selesai bercerita. Mantan partner Ev di dunia modelling itu emosi karena sang suami yang sudah tahu berita ini lebih dahulu tidak jujur kepadanya. Padahal Damian tahu jika sang istri dan Ev menjalin hubungan yang erat. Deesa sendiri sempat dibuat kecewa, karena ternyata Dean juga tidak memberitahunya. Padahal selama ini Deesa jadi supporter paling depan untuk hubungan Ev dan Dean.


Pertemuan tiga bestie itu berlangsung hingga sehari penuh. Deesa yang kebetulan mengambil cuti, kompak dengan Dewita yang juga bolos mengunjungi barkery dan florist miliknya. Dewita bahkan mematikan handphone agar sang suami tidak dapat menelpon, saking kesalnya pada pria berkacamata tersebut.


Selesai bercerita, mereka juga sempat kalam memesan berbagai menu seafood di sebuah restoran China. Mulai dari menu udang kung pao dengan mete, seafood chow mein, steik ikan Szechuan, ikan singapura, dan beberapa menu berbahan dasar sayur hijau. Untuk kudapan, mereka setuju memesan bakpao yang terdiri dari rasa kacang hijau, coklat dan ayam. Mereka juga membeli pastel pisang bulan sabit dan float almond.


Namun, menjelang sore, Deesa harus pamit pulang karena ada telepon dari rumah sakit. Wanita itu dibutuhkan di sana. Jadi, mau tidak mau Deesa harus segera berangkat ke rumah sakit. Tidak lama kemudian, Dewita juga dijemput oleh sang suami. Pria berkacamata itu tampak frustasi karena harus dibuat pusing tujuh keliling menghadapi sang istri yang mendiaminya.


“Aku gak mau pulang, yang.” Penolakan ke sekian itu dilontarkan Dewita yang masih asik menikmati pop corn varian caramel yang disediakan oleh si empunya unit.


“Pulang, Itaa. Mami khawatir nyariin kamu.”


“Alah, bohong banget. Aku udah kirim pesan ke mami. Bilang aja kamu yang nyariin aku.”


“Ish, kamu kenapa sih belain suami aku. Dia tuh nyebelin tau gak, Ev. Tampang lempeng gini, hatinya hello kitty. Dia tuh nyariin aku, karena takut kena omel mami,” sebal Dewita.


Mendengar kalimat yang terlontar dari bibir sang istri, Damian hanya bisa menghela nafas sembari memijit pelipis. Istri cantiknya ini, jika sudah datang gambeknya tidak ada lawan. Damian juga bingung, kenapa dia bisa jatuh cinta pada wanita seperti istrinya ini. Rahasia Tuhan memang tidak ada yang tahu.


“Pulang, Itaa. Ini sudah sore.”


“Okay, kita pulang. Tapi, kamu harus kabulin satu permintaan aku.”


Damian menautkan kening mendengarnya. “Apa?”


“Kamu harus janji bakal pukul atasan kamu demi kamu.”


“A-pa?” kaget Damian.


“Pukul pas bagian rahang, kayak di film-film. Yang keras. Kamu udah janji, loh.” Dewita beranjak seraya tersenyum manis. “Harus ditepatin. Kamu, kan, orangnya gak pernah ingkar janji,” lanjut Dewita sembari mengelus perutnya. Senjata ampuh untuk mendapatkan persetujuan sang suami.


“Ok,” jawab Damian agak ragu. Akan tetapi, jika hal ini dapat membuat sang istri pulang, dia pasti ok-ok saja. Masalah memukul rahang tuannya, biar jadi urusan nanti. “Kalau gitu sekarang kita pulang.”


“Aye aye ayang.”


Sepeninggalan Dewita dan suaminya, Ev menghela nafas sembari menjatuhkan diri di atas sofa. Dini juga baru saja izin pergi ke minimarket di seberang apartemen untuk membeli beberapa kebutuhan dapur. Baru beberapa sekon duduk di atas sofa, bel kembali terdengar. Membuat Ev mau tak mau kembali beranjak untuk membuka pintu.


“Tumben, kamu belanjanya ….cepat.”

__ADS_1


Ev tampak terperangah kala mendapati sosok lain yang awalnya dia kira Dini yang datang. Tapi, jika dipikir-pikir, kenapa Dini harus memencet bel. Padahal gadis muda itu tahu password apartemen Ev.


“ Ngapain kamu di sini?” tanya Ev datar.


Sosok yang berdiri di hadapannya itu tampak tidak baik-baik saja. Kemana perginya sosok perfeksionis yang selalu memperlihatkan penampilan yang rapih, bersih dan maskulin? Yang ada, sekarang dia tampak acak-acakan, dan berantakan.


“Ev.”


“Iya. Ada apa?” jawab Ev, belum sempat mempersiapkan sosok itu masuk ke unitnya. Ev ragu. “Kamu ini sebenarnya kenapa?”


Bukannya menjawab, sosok itu malah memilih melangkah. Mengikis jarak di antara mereka. Membuat Ev yang mulanya berdiri di ambang pintu, kontan mundur alon-alon.


“I miss you a lot,” ujar sosok itu gamblang, saat berhasil merengkuh tubuh Ev. tubuh wanita cantik itu tampak mematung di tempatnya.


“Bagaimana aku bisa hidup tanpa sosok yang sudah mengisi sebagian besar hidupku?” tanyanya tiba-tiba.


Bersamaan dengan itu, Ev kembali mendapatkan kewarasannya. Dia yang memeluk tubuhnya saat ini, tampak rapuh, tidak berdaya, juga berantakan. Ev merasa telah kehilangan sosok antagonis dan perfeksionis dalam dirinya.


“Sebenarnya ada apa dengan kamu, Darren?” tanya Ev lirih. Masih membiarkan tubuhnya dipeluk begitu erat. Sosok itu seolah-olah takut kehilangan Ev barang melonggarkan pelukan sebentar saja.


“Dia bukan kamu. Sampai kapan pun tidak akan seperti dirimu.” Ucapan itu terdengar seperti racauan bagi Ev. Ketika suara parau itu kembali terdengar, Ev yakin jika ada yang tidak beres dengan pria yang saat ini memeluknya. “Maaf telah menyakiti kamu selama ini. Aku belum sempat menyadari kesalahan yang diperbuat oleh egoku. Saat aku sadar, kamu sudah terlebih dahulu membuat perpisahan begitu nyata di antara kita.”


“Darren.”


“Aku harus bagaimana, Ev? Sebagian diriku menginginkan dirimu. Sangat ingin. Tapi, sebagian yang lain menuntut sebuah ingatan jika aku memiliki tanggung jawab terhadap wanita lain.”


“Maka penuhi tanggung jawab itu, Darren. Kamu harus bertanggung jawab atas apa yang telah kamu perbuat,” jawab Ev seraya melepaskan diri. “Jangan pedulikan sebagian keinginanmu untuk memiliki aku. Karena kamu hanya akan membuat kita sama-sama terluka jika terus memilih egois.”


Ev tersenyum tipis sembari membuat jarak kian membentang di antara mereka. Tidak ada ragu yang membelenggu. Setiap kalimat yang terlontar dari bibirnya bersifat spontan dan mantap.


“Kamu sebelumnya mungkin sempat menginginkan kebahagiaan dari pernikahan kita yang tidak didasari rasa cinta. Begitu pun dengan aku. Sekarang kamu mendapatkannya. Giliran aku untuk mendapatkan kebahagiaan. Dan semenjak aku tahu kamu kamu mencari kebahagian lewat kesenangan bersama wanita lain, aku yakin jika kamu tidak benar-benar ingin bersamaku. Maka dari itu, untuk kedepannya biarkan aku mencari kebahagiaan bersama pria selain kamu.”


“Ev, jangan begini,” lirih Darren frustasi.


“Keputusanku sudah bulat, Darren.” Ev menjawab dengan mantap.


Kendati demikian, sepersekon kemudian, sosok Adonis di hadapannya melemparkan sebuah kalimat yang kontan membuat Ev kian memperlihatkan aura tak bersahabat.


“Bagaimana jika aku berpisah dengan dia, dan memilih bersama kamu?”


“Kalau begitu, kamu bukan saja egois. Melainkan tidak berperikemanusiaan. Kamu tidak mau bertanggung jawab atas bayi tak berdosa yang tercipta karena kegilaan kalian. Kamu pikir aku mau bersama kamu setelah itu? Jawabannya tentu saja tidak.”


🥀🥀


TBC


Gimana nih si Darren? plin-plan gak tuh? baiknya diapain ya??


Yuk, tentukan nasib si Abang ganteng buat kedepannya. Komentar yang panjang ya 😚


Jangan lupa like, vote, komentar, follow Author & share ❤️

__ADS_1


Sukabumi 17/03/22


__ADS_2