Berbagi Cinta: Mistress (Wanita Simpanan)

Berbagi Cinta: Mistress (Wanita Simpanan)
M58 : KETIKA KETURUNAN XANDER BERJANJI


__ADS_3

HAPPY READING 🔥


M58 🥀 : KETIKA KETURUNAN XANDER BERJANJI


“Tolong bungkus kukis mentega dengan topping almond itu untuk saya.”


Pria berkemeja hitam dengan corak khas dari Louis Vuitton yang berdiri di depan etalase kaca yang memajang berbagai jenis makanan manis. Setelah memilih dan memilah selama lima menit lamanya, pria itu akhirnya menemukan satu jenis panganan manis yang cocok untuk dibawa sebagai buah tangan. Seingatnya, dulu seseorang yang akan dia kunjungi sangat menyukai kukis mentega dengan topping almond dari toko ini. Ketika hendak berpergian jauh—jika memiliki waktu—dia akan berkunjung ke toko ini untuk membeli kukis mentega sebagai bekal diperjalanan.


“Ada lagi yang ingin anda beli, tuan?” Tanya waiters toko tersebut, ramah.


“Sudah, itu saja.” Pria itu menjawab singkat seraya mengeluarkan black card dari dalam dompet.


Selesai dengan urusan pembayaran, pria rupawan itu segera angkat kaki dari toko dengan aroma manis tersebut. Seulas senyum terbit kala melirik paper bag bawaannya. Dia tahu jika sekarang sudah terlalu malam untuk bertamu. Namun, bagaimana lagi. Urusannya tidak bisa ditunda lagi. Apalagi besok ada jadwal persidangan dengan agenda mediasi. Dengan kecepatan sedang, pria bermarga Xander itu mengendarai kendaraan roda empatnya menuju sebuah komplek perumahan elit. Dia berkendara hingga masuk ke klaster C, tempat di mana rumah yang dia tuju berada.


Sadar jika kedatangannya bukanlah ide yang bagus, terlihat dari para pria berbadan tegap dengan seragam hitam yang kian merapat—menghadang kendaraannya saat hendak melewati gerbang masuk—tidak membuatnya gentar sama sekali.


“Beri saya waktu 40 menit untuk bertamu secara baik-baik. Jika saya belum keluar lebih dari waktu itu, kalian bisa menyeret saya.”


Dia berujar dengan enteng pada salah seorang pria berkepala plontos yang mendekat. Tanpa turun—bermodal kaca mobil yang direndahkan—dia nyatanya berhasil mendapatkan izin. Itu pun setelah pria berkepala plontos tadi berbincang dengan salah seorang rekannya.


Memasuki area rumah tiga lantai yang tampak megah dengan nuansa mewah dengan ikon patung abstrak yang artistik itu, dia memarkirkan kendaraannya tepat di depan pintu utama. Tulisan A T M A R E N D R A berwarna hitam menyambut pandangannya, kala menatap bangunan megah di hadapannya. Tak kalah megah dari mansion utama milik keluarganya.


Di depan pintu, dua orang bodyguard berjaga dengan siaga. Mereka tampak siap-sedia saat dia berjalan semakin dekat pada pintu yang mereka jaga.


“Tolong beritahu nona muda kalian, jika ada tamu yang menunggu.”


Dua bodyguard itu saling berpandangan untuk sejenak. Sepersekian detik berikutnya, salah satu dari mereka memberikan interuksi lewat alat komunikasi bernama HT. Dia dibuat menunggu untuk beberapa waktu, tanpa diizinkan untuk masuk terlebih dahulu.


Setelah lima menit berlalu, pintu itu dibuka oleh seseorang dari dalam. Membuat pandangannya sekarang bisa menembus masuk lewat celah yang ada. Namun, bukan orang yang cari muncul setelahnya. Melainkan seorang wanita paruh baya dengan raut gelisah terpatri di wajah.


“Tolong,” ujarnya agak terbata-bata.


“Ada apa?” tanya salah seorang bodyguard tersebut.


“Nona Evelyn….”


“Ada apa dengan Ev?” potong pria keturunan Xander itu.


“Nona Ev jatuh pingsan.”


“Apa?” kagetnya. “Dia ada di mana sekarang?”


Wanita paruh baya itu menunjuk lantai dua, “di depan kamarnya, tuan. Tadi nona hendak turun ke bawah, tetapi keburu jatuh pingsan.”


Tanpa ba bi bu lagi, Darren bergegas menerobos penjagaan. Bahkan paper bag berisi kukis mentega yang dibelinya, dibuang begitu saja. Perasaan cemas begitu kentara menggerogoti jiwa dan raga. Maka dengan segenap kemampuan yang dimiliki, pria itu berlari menaiki undakan tangga. Kelewat hafal dengan letak kamar yang dimaksud, membuatnya tidak ragu dalam mengambil langkah.


“Ev, sayang, bangun. Kamu kenapa, sayang?”


Untuk sejenak, jiwanya seperti lepa begitu saja dari raganya saat melihat si empunya nama itu berbaring tak berdaya di atas lantai marmer yang dingin. Di sampingnya, sang ibu tampak risau dan mencoba membangunkan sang putri.


“Mom.”


Wanita yang dipanggil itu mendongkrak. “Kamu?! untuk apa kamu ada di rumah saya malam-malam begini?” tanya wanita itu tidak bersahabat.


“Bisa Darren menjawab pertanyaan itu nanti? Sekarang biarkan Darren membawa Ev ke kamarnya.”


Menahan segala rasa kesal, benci, dan tak suka yang ada, wanita bermarga Atmarendra itu mengizinkan lewan anggukan kepala. Dengan sigap, Darren meraih tubuh yang terkapar tak berdaya itu. Membawanya masuk pada ruangan bernuansa putih dan peach yang menonjolkan kesan natural, netral dan kalem. Kemudian dia membaringkannya di atas ranjang dengan seprai warna peach bermotif bunga persik.


Setelah berhasil membaringkan wanita yang maih berstatus sebagai istrinya, dia merogoh kantong celana. Mengeluarkan handphone, kemudian menelpon nomer yang selalu menjadi emergency call andalannya.


“Cepat datang ke kediaman Atmarendra. Ada yang membutuhkan pertolongan Anda!”


Elina Atmarendra yang menonton semua dengan seksama, dapat menangkap raut kecemasan yang berlebihan di wajah menantunya itu. Pria itu bahkan tak mau melepaskan telapak tangan Ev, selagi menunggu seseorang yang dia telepon barusan.


“Untuk apa kamu datang ke sini?” tanyanya, dingin.

__ADS_1


“Darren kesini untuk bertemu Ev, mom.” Dia menjawab dengan jujur.


“Untuk apa lagi kamu menemui Ev?”


“We need to talk, mom.”


“Tidak ada yang perlu kalian bicarakan lagi,” tegas Elina Atmarendra. “Kalian sebentar lagi resmi bercerai. Tidak ada yang perlu diperbincangkan, selain urusan perceraian.”


“Mom—“


“Kamu bebas memiliki semua aset yang termasuk dalam harta gono gini. Jangan mempersulit jalan Ev untuk bercerai dari kamu, hanya karena harta atau sebagainya,” potong Elina.


Pria bermarga Xender itu menghela napas lemah. Bukan ini yang ingin dia dengar dari wanita yang masih berstatus sebagai ibu mertuanya itu. “Kedatangan Darren ke sini bukan untuk membahas itu, mom. Melainkan soal—“


“Permisi, nyonya.”


Kalimat pria rupawan itu terpotong oleh suara seorang wanita muda yang muncul bersama seorang pria bersenelli.


“Anda sudah datang?” sambut Darren. “Silahkan masuk, dan segeralah periksa kondisi istri saya.”


Pri yang sudah berusia setengah abad itu tersenyum ramah seraya memasuki ruangan. Beliau juga sempat menyapa Elina Atmarendra yang ada di ruangan yang sama. Dengan telaten, pria itu memeriksa kondisi Ev. Tiga manusia lain yang juga masih berada di ruangan tersebut, memilih menunggu dengan tenang. Membiarkan pria yang berprofesi sebagai dokter itu mengerjakan tugasnya.


“Bagaiman kondisi istri saya?” tanya Dean cepat.


Elina Atmarendra yang mendengar putrinya masih diklaim ‘istri’ oleh Darren, tampak tidak rela.


“Nona Ev jatuh pingsan karena kurang istirahat. Tekanan darahnya juga rendah. Sebaiknya pola tidur dan asupan makanan nona Ev lebih diperhatikan lagi.” Tutur dokter tersebut seraya menimpan stetoskop yang baru digunakannya—kembali ke tempat seharusnya. “Lebih baik untuk beberapa waktu, nona Ev jangan dulu melakukan pekerjaan berat. Saya sudah menuliskan resep untuk nona Ev. Obatnya bisa ditebus di apotik terdekat.”


“Baik, saya akan segera menebusnya,” jawab Darren saat menerima resep obat untuk Ev.


“Sebaiknya nona Ev juga membatasi konsumi obat tidur, karena itu tidak baik bagi kesehatannya.”


Bak dihantam godam tak kasat mata, baik Darren dan Elina sama-sama terkejut bukan main mendengarnya.


“Maksud anda apa, dok?” Elina segera bertanya. “Setahu saya, Ev hanya mengonsumi suplemen untuk menjaga imunitas tubuhnya.”


Darren dan Elina tentu semakin terkejut. Mereka tidak tahu jika selama ini Ev selalu mengonsumsi obat tidur secara teratur. Selain dokter keluarga, baik keluarga Xander dan Atmarendra juga selalu menyuplai obat-obatan atau suplemen dan sejenisnya, dari satu tempat yang sama. Namanya adalah apotik Keluarga. Apotik itu merupakan kerja sama antara dua keluarga tersebut dengan keluarga Wijaya yang bergerak di bidang kesehatan dan farmasi.


Sepeninggalan dokter yang telah membeberkan sebuah fakta mencengangkan itu, aura di kamar Ev semakin hening. Darren masih setia menemani sang istri, sembari mengenggam sebelah telapak tangan wanita cantik tersebut. Sedangkan Elina, baru saja mengantarkan dokter tadi.


“Apa yang kamu tunggu, sebaiknya kamu pulang sekarang.”


Darren menoleh, tatapannya langsung bersirobak dengan sang mertua yang baru saja masuk. “Atau saya perlu memanggil daddy-nya Ev untuk menyeret kamu keluar dari rumah ini?”


“Mom, izinkan Darren menemani Ev sebentar.”


“Menemani Ev?” Elina mengulang seraya bersidakep dada. “Apa kamu ingat saat Ev mengalami cidera di pergelangan kakinya dan harus menjalani perawatan intensif di rumah sakit, di mana kamu hari itu?”


Ingatan Darren dipaksa kembali ke memori yang jauh tersimpan cukup dalam di kepala. Dia ingat peristiwa naas yang dimaksud oleh sang mertua. Waktu itu Ev mengalami facture karena insiden kecelakaan di tempat kerja. Walaupun tidak sampai mengalami patah kaki, tetap saja cukup riskan bagi seorang model. Ev bahkan dilarang mengikuti catwalk hingga dua bulan lamanya. Untuk mempercepat kesembuhan, manager Ev—Dimitri—langsung membawa Ev berobat ke Negara ratu Elizabeth. Saat itu Darren sendiri tidak bisa dihubungi karena tengah menghabiskan waktu bersama sang mistress. Saat Darren berhasil dihubungi dan bergegas kembali, Ev sendiri sudah tidak ada di Negara ini.


“Waktu itu Darren berada di luar kota untuk urusan pekerjaan, mom.” Pada akhirnya, pria itu memilih berkelit lidah.


“Kamu pikir saya percaya? Setelah apa yang kamu lakukan di belakang Ev?” Elina tersenyum miring. “Dulu, sebelum saya tahu kamu berhianat dibelakang Ev, saya mungkin akan mempercayai semua ucapan kamu. Namun, sekarang tidak lagi. Ev yang selalu setia dan mempecayai kamu saja, kamu hianati. Apalagi saya?”


“Mom, Darren minta maaf untuk itu. Sungguh, Darren—“


“To the point saja. Apa yang sebenarnya membawa kamu ke sini?”


Dengan helaan nafas berat, pria itu menunduk. Menatap tautan jemarinya dan jemari milik Ev. “Darren mau minta maaf.” Suaranya terdengar sendu.


“Maaf?”


“Ev seperti ini karena Darren, mom. Darren tahu itu.”


“Bagus kalau kamu menyadari kesalahan kamu. Ev memang menderita karena penghianatan kamu.”

__ADS_1


Darren tidak menampik itu. Dengan gerakan pelan, dia mengaggukkan kepala sebagai persetujuan.


“Saya pikir kamu adalah pria yang bertanggung jawab. Pria yang paling cocok untuk menjadi pendamping hidup putri saya satu-satunya. Tapi, apa yang Ev dapatkan dari pernikahannya bersama kamu? Penghianatan! Apa kurangnya Ev untuk kamu? apa karena Ev belum juga memberikan kamu keturunan, lantas kamu memilih menjalin hubungan gelap dengan perempuan itu?”


Darren menggeleng tegas. “Bukan karena itu, mom. Justru sebaliknya.”


“….?”


“Ev terlalu sempurna untuk Darren yang tidak berguna.” Pria itu mendongkrak, menglaihkan tatapan pada pemilik wajah cantik di hadapannya. “Dia terlalu sempurna hingga sukar untuk digapai.”


“Kendati demikian, Ev hanya wanita biasa. Sesempurna apapun dia terlihat. Dia tetap wanita yang memiliki perasaan.” Elina bergerak, memasuki ruangan sang putri. “Apa yang kamu lakukan pada Ev telah berhasil membuat Ev kehilangan jati dirinya sendiri. Ev selalu setia dengan janji suci yang kalian ucapkan di hadapan Tuhan. Ev tidak pernah membiarkan hatinya terbuka sedikit pun untuk pria lain. Sekelas Dean yang sudah Ev kenal sejak lama saja, dijauhi begitu saja karena Ev menjunjung tinggi harkat dan martabat sebagai istri Darren Aryasatya Xander.”


Hening cukup lama.


Sebelum Elina kembali mengambil alih pembicaraan. “Sekarang kamu tahu sendiri, bagaimana besarnya luka yang kamu goreskan untuk Ev. Dari luar memang tidak tampak. Namun, jauh di dalam lubuk hatinya, Ev pasti telah terluka parah sejak lama.” Elina menghela nafas kecil. Pandangannya kini tertuju pada wajah sang putri.


“Kamu sudah saya anggap seperti putra saya sendiri. Saya menyayangi kamu seperti saya menyayangi El dan Ed—saudara lelaki Ev. Akan tetapi, apa yang telah kamu lakukan pada Ev sangatlah fatal. Ev adalah sebagian hidup saya. Jika kamu menyakiti Ev, sacara tidak langsung kamu telah menyakiti saya.”


“Maaf, mom,” lirih Darren.


“Apa dengan kata ‘maaf’ semua dosa-dosa kamu akan terhapuskan, Darren?”


“….”


“Apa dengan kata ‘maaf’ hidup putri saya bisa kembali utuh?”


“….”


“Kamu tidak bisa menjawab, putra Xander?” Elina menatap menantunya itu datar. “Dengan kata ‘maaf’ saja, kamu tidak bisa membuat semuanya kembali seperti semula.”


“Darren tahu itu, mom.” Suara baritone itu kembali terdengar. Dia memang sudah mengira hal ini akan terjadi—luapan amarah Elina tentu hal yang sudah dapat diprediksi—bahkan dia berpikir jika Elina akan marah lebih dari ini. Misal, menamparnya bolak-balik, mencaci-maki, meludahi, atau sederet tindakan anarkis lain. Namun, nyatanya Elina tidak melakukan itu. Kontrol emosi wanita bermarga Atmarendra itu sama dengan ibunya—Diana Xander.


Mereka adalah tipikal wanita terhormat yang mematikan dengan gaya. Tanpa harus Tarik ulur urat, mereka bisa membuat lawan bicaranya mati kutu hanya dengan mengandalkan ketenangan dan ketepatan.


“Darren tahu hidup Ev terkekang saat kita bersama. Ev terluka karena Darren. Ev selalu berusaha menjadi istri dan menantu yang sempurna. Sebaliknya, Darren malah memilih menyibukkan diri sendiri. Darren tahu itu,” ujarnya lugas. “Oleh karena itu, Darren datang malam ini untuk meminta maaf secara tulus. Darren juga tidak akan menghalangi jalan Ev untuk mendapatkan kebebasan.”


Elina tertegun mendengarnya. Dia yakin tidak salah dengar. Kemana perginya Darren yang begitu ngotot ingin mempertahankan pernikahannya dengan Ev?


Sekarang, pria itu tampak pasrah. Menyerah. membuat pernyataan yang membuat gelisah.


“Di pengadilan besok, Darren tidak akan mengajukan banding untuk mediasi.”


“Kamu…. yakin?”


Pria itu mengangguk sekilas. “Darren setuju untuk bercerai dengan Ev.”


Elina tak sanggup menutupi keterkejutan di wajahnya. Ragu kian membelenggu. Wanita itu kini diserang rasa penasaran, bingung, haru, dan senang. Sekarang, jalan untuk putrinya meraih kebebasan dari pernikahan toxic itu terbuka semakin lebar.


“Darren tidak akan menuntut perkara apapun dari Ev. Aset yang tercantum atas nama Ev, meliputi rumah, vila, apartemen, departemen store, griya tawang, dan sebagainya akan tetap menjadi milik Ev. Besok Darren akan kirimkan lawyer beserta surat pernyataan mengenai keputusan ini.” pria bermarga Xander itu terdiam setelahnya.


Memberi Elina waktu untuk mencerna semua janji-janji yang diumbar barusan.


“Mommy tenang saja, kali ini Darren pasti akan menepati janji. Janji untuk melepaskan Ev dari pernikahan kami.”


🥀🥀


TBC


NOTE : KAGET? SEDIH? ATAU SETUJU?


YOK, JAWAB LEWAT KOLOM KOMENTAR. JANGAN LUPA KOREKSI TYPO. LIKE, VOTE, KOMENTAR, FOLLOW AUTHOR & SHARE JUGA ❤️


SELAMAT MENJALANKAN IBADAH PUASA RAMADHAN BAGI YANG MENJALANKAN 😉


Sukabumi 04/04/22

__ADS_1


22.57 WIB


__ADS_2