Berbagi Cinta: Mistress (Wanita Simpanan)

Berbagi Cinta: Mistress (Wanita Simpanan)
EXTRA PART : BABY DAN


__ADS_3

EXTRA PART : BABY DAN



(Sebelum lahiran, Mère sempat photoshoot dulu sama baby bump-nya 😚)


🌼🌼


“Sayang, kamu yakin enggak mau operasi Caesar?” tanya Darren yang wajahnya sudah diliputi rasa cemas. Dengan telaten dia menyeka keringat yang bercucuran di pelipis sang istri.


Sudah berulang kali dia meyakinkan sang istri untuk melakukan operasi Caesar saja. Darren sudah tidak kuat melihat sang istri yang begitu kesakitan saat kontraksi datang, sedangkan pembukaan belum lengkap. Namun, Ev tetap ngotot ingin melahirkan secara normal. Ev memang melahirkan lebih cepat dari perkiraan dokter. Menurut HPL baby Dan baru akan lahir 2 minggu lagi. Siapa sangka jika calon cucu pertama di keluarga Xander itu lahir lebih cepat dari perkiraan.


“Sayang, kita operasi Caesar aja, ya? Caesar ERACS supaya perawatan kamu dioptimalkan sebelum, selama, dan sesudah operasi. Dengan metode ini proses recovery pasca persalinan juga lebih cepat.”


Darren memang mendapatkan beberapa opsi cepat yang dapat dilakukan sang istri untuk melahirkan buah cinta mereka. Salah satu opsi yang paling popular adalah operasi dengan metode Enhanced recovery after cesarean surgery atau ERACS. Metode operasi Caesar dengan pendekatan khusus untuk mengoptimalkan kesehatan ibu sebelum, selama, dan sesudah operasi. Tujuan prosedur ini agar mobilitas dan proses penyembuhan atau recovery pasca persalinan dapat dipercepat.


Ev menggelengkan kepala dengan gerakan lemah. Hampir dua jam mengalami kontraksi cukup menguras tenaga, sedangkan baby Dan belum mau lahir ke dunia. “Aku mau melahirkan baby Dan secara normal, mas.”


“Tapi aku khawatir dengan kondisi kamu, sayang.”


“Aku gak pa-pa kok.”


“Aku yang kenapa-kenapa, sayang,” balas Darren seraya menatap sang istri tepat di bola matanya.


Darren tahu Ev adalah wanita yang tangguh. Namun, di sini Darren yang tidak kuat melihat sang istri menge—rang kesakitan dalam beberapa menit sekali. Ev bebar-benar mempertaruhkan nyawanya sendiri guna melahirkan buah cinta mereka. Darren yang takut, cemas juga khwatir melihat betapa keras sang istri berjuang. Darren takut Ev kenapa-kenapa. Ketimbang harus kehilangan sang belahan jiwa, Darren lebih rela menggelontorkan banyak dana.


“Mas, sakit.”


“Makanya kamu harus mau operasi Caesar, ya?” bujuk Darren untuk ke sekian kali. Dia tak kuasa mendengar rintihan sang istri yang menyayat hati.


“Aku masih kuat kok menahannya.”


“Sayang. Jangan menyulitkan diri kamu sendiri. Aku benar-benar tidak kuat melihat kamu begini,” ujar Darren dengan suara lirih. Hatinya benar-benar sesak setiap kali rasa sakit datang dan menyerang sang istri. Darren takut. Dia takut kehilangan sang istri dalam perjuangan ini.


“Kita cek pembukaanya dulu, ya.”


Deesa yang bertugas sebagai dokter kandungan Ev berkata dengan suara tenang. Wanita itu sudah menggunakan APD lengkap, semenjak Ev masuk ke ruang bersalin.


“Pembukaanya sudah lengkap,” katanya kemudian. Membuat para tim medis lain yang ikut membantu persalinan Ev ikut siaga. “Tarik napas secara perlahan, lalu keluarkan, Ev. Lakukan secara beraturan.”


Ev mengangguk, kemudian melakukan interuksi tersebut. Rasa sakit yang menyerang kembali menjadi-jadi. Ev bisa merasakan desakan yang kian menguat di bagian bawah tubuhnya. Darren yang ada di samping Ev, tidak pernah berpaling barang sedikitpun. Sebisa mungkin dia memberikan dukungan pada sang istri agar dapat melewati masa-masa sulit ini. dengan suara yang bergetar Darren melantunkan doa dan penggalan ayat suci Al-Qur’an yang telah dia hapal agar sang istri merasa lebih tenang.


Ketika jarum jam hampir menyentuh angka dua belas malam, jeritan terakhir terdengar nyaring dalam ruangan bersalin tersebut. Dilanjutkan dengan suara tangis mahluk mungil yang baru saja lahir ke dunia. Darren tak kuasa menahan haru saat mendengar suara nyaring sang buah hati untuk pertama kali.


“Sayang.”


Darren tak kuasa menahan air mata yang sejak tadi menggenang di pelupuk mata. Air bening itu jatuh bersamaan dengan diangkatnya tubuh mungil bayi berwarna merah oleh seorang suster.


“Mas,” panggil sang istri dengan suara kecil.


Dengan segera Darren menatap sang istri. Pria rupawan itu lantas menghujani wajah cantik sang istri dengan ciuman penuh kasih dan sayang. “Terima kasih, sayang. Terima kasih karena telah melahirkan baby Dan dengan penuh perjuangan. Kamu adalah wanita yang sangat hebat. I love you so much Evelyn Xander.”


Dengan gerakan lemah wanita cantik yang baru saja menjadi seorang ibu baru itu tersenyum kecil. Air mata tanpa bisa dicegah lolos dari sudut-sudut matanya. Dengan telaten Darren menyeka air mata tersebut dengan ciuman ringan. Tidak ada momen yang paling membahagiakan bagi Ev dan Darren selain kelahiran baby Dan setelah genap dua jam berjuang di ruang bersalin.


Kelahiran baby Dan yang sudah ditunggu-tunggu juga disambut bahagia oleh sanak-saudara yang sudah menunggu di luar ruangan. Diana Xander, Dazen Xander, Elina Atmarendra, Aston Wiliam Atmarendra, Wiliam Atmarendra, Dessy Wijaya, Darwis Wijaya, Damian, Dewita, Dewangga, bi Surti juga Dini ada di sana. Menunggu kelahiran baby Dan dengan hati berdebar.


“Darren, bagaimana kondisi Ev?” tanya Diana saat wajah sang putra muncul dari celah pintu yang baru saja terbuka.


Wajah tampan yang tampak kuyu itu langsung berbinar saat melihat sanak-saudara yang ada di sana. “Ev baik-baik saja,” katanya. Membuat hati mereka yang menunggu dengan perasaan tak menentu merasa lega. “Ev baru saja melahirkan putra kami dengan persalinan normal. Baby Dan lahir dengan kondisi sehat dan sempurna dengan berat 3,2 kilogram, dan panjang atau tinggi badan 52,0 centimeter.” Darren menambahkan dengan mata yang mulai berkaca-kaca.


“Darren barusan sempat gendong baby D,” adunya saat pandangannya bertemu dengan sang ibu.


“Selamat sayang. Sekarang kamu sudah menjadi seorang ayah,” kata Diana seraya memeluk sang putra erat. Dielusnya punggung putra sematawayangnya dengan lembut. “Putra mama sudah menjadi seorang ayah.”


“Darren ….masih tidak menyangka, ma. Baby Dan sangat kecil. Kulitnya merah dan terlihat sangat rapuh. Dia menangis saat pertama kali lahir ke dunia. Suaranya yang nyaring menggema di seluruh ruangan. Dia seolah-olah memberitahu dunia soal kehadirannya dengan suara kecil itu.”


Diana tersenyum lebar seraya menyentuh surai hitam milik sang putra. Air mata tak kuasa dia bending. Dia bahagia melihat sang putra bahagia. Sungguh, tak sia-sia perjuangannya selama ini, meyakinkan sang putra agar mau menerima perjodohan yang telah diatur dengan sedemikian rupa. “Sekarang Darren sudah menjadi seorang ayah. Darren harus jadi lebih dewasa dari sebelum-sebelumnya.”

__ADS_1


Darren mengangguk sebagai jawaban.


“Darren harus bisa membantu Ev menjaga dan mengurus bayi kalian.”


Lagi, Darren mengangguk sebagai jawaban. Tanpa diminta pun, dia akan membantu Ev menjaga, mengurus, dan membesarkan si kecil Dan. Buah cinta pertama mereka. Bukti dari berapa besar perjuangan cinta yang mereka miliki selama ini.


“Baby Dan kecil sekali. Saking kecilnya aku sampai takut menyakiti dia saat memberi ASI.”


Darren terkekeh kecil seraya mengecup pucuk kepala sang istri. Para anggota keluarga yang lain satu per satu izin pulang, sedangkan sebagian yang lain memilih beristirahat di ruangan lain yang telah mereka pesan. Ev dan baby Dan memang baru bisa dijenguk setelah dipindahkan ke ruangan rawat inap, setengah jam setelah proses persalinan.


“Baby Dan lahir normal, sayang. Baby Dan lahir dengan berat 3,2 kilogram, dan panjang atau tinggi badan 52,0 centimeter. Untuk bayi laki-laki bisa dikatakan ideal ketika bobotnya berkisar antara 2,5 sampai 4,3 kilogram dengan panjang badan antara 45,6 sampai 53,4 centimeter. Jika berat bayi lebih dari itu, maka dikategorikan bayi lahir dengan berat badan lebih. Sebaliknya, menurut badan kesehatan dunia atau WHO, bayi yang lahir dengan berat kurang dari 2,4 kilogram, dikatakan sebagai bayi dengan berat badan rendah.”


“Begitu, ya?”


“Iya, sayang.” Darren tersenyum melihat pandangan sang istri yang tidak bisa jauh sedetik pun dari wajah mungil baby Dan yang sedang terlelap di box bayinya. Bayi laki-laki yang baru lahir itu memang tidak rewel, dan lebih banyak menghabiskan waktu dengan tidur.


“Baby Dan mirip aku, ya?”



Ev mengangguk. Putra pertamanya itu memang sangat mewarisi gen sang ayah. “Dia sepertinya cuma numpang di rahim aku,” ucap Ev sedih.


Darren tertawa kecil dengan kalimat yang baru saja dilontarkan sang istri. “Dia kloningan aku, tapi mix sama kamu. Kamu ibunya. Aku yakin baby Dan akan mewarisi sifat kuat dan mandiri seperti kamu.”


Ev menoleh, mengalihkan tatapan pada wajah tampan sang suami yang tampak dihiasi gurat-gurat kebahagiaan. Walaupun dia juga masih dapat melihat wajah lelah bersemayam di sana. “Aku juga mau berterima kasih sama kamu, mas.”


“Terima kasih?”


“Terima kasih karena sudah menjadi suami hebat yang selalu memberikan support untuk aku.” Tangan Ev yang masih tampak pucat bergerak meraih rahang tegas milik sang suami. “Ev beruntung punya suami kayak kamu, mas.”


“Aku yang jauh lebih beruntung memiliki istri seperti kamu,” balas Darren seraya mengecup telapak tangan sang istri. “Kamu adalah anugrah terindah yang Tuhan berikan kepadaku. Karena kamu, aku juga memiliki seorang putra yang sangat tampan dan menggemaskan.”


Ev tersenyum lebar mendengar kalimat manis yang suaminya ucapkan. Pria yang dulunya dingin, datar, dan irit bicara itu kini menjelma menjadi pria yang penuh cinta. Dia juga tidak sungkan memperlihatkan ekspresi sesuai dengan kondisi perasaannya. Ev sangat bahagia dengan perubahan besar yang telah terjadi pada suaminya itu.


“Sekarang kamu lebih baik tidur. Kamu harus banyak istirahat.” Darren menyentuh surai sang istri dengan lembut. Menatanya ke samping agar tidak menganggu jarak pandang.


“Aku akan istirahat seraya menjaga kamu dan baby Dan.”


Ev menggeleng sebagai jawaban. “Pokoknya kamu harus istirahat. Kamu juga butuh tidur, mas.”


“Iya. Aku akan tidur setelah kamu—“


“Naik sini,” ujar Ev seraya menepuk-nepuk bagian bed yang kosong. Darren kontan terdiam melihat itu. “Mas tidur di sini. Aku mau tidur sambil dipeluk.”


“Kamu yakin?”


“Mas enggak mau?”


Darren mengangguk, lantas menggeleng. Membuat sang istri kebingungan.


“Jadi?”


“Kamu yang minta, sayang. Aku bisa apa?” ucap Darren dengan senyum terpatri di bibir. Sejurus kemudian pria itu ikut berbaring di bed sang istri yang cukup besar menampung tubuh mereka. “Sekarang tidur. Kamu harus banyak istirahat, sebelum baby Dan bangun lagi dan minta ASI.”


Ev mengangguk seraya memejamkan mata. Berada di samping sang suami selalu berhasil membuatnya aman dan nyaman. Dia memang butuh tidur setelah melewati peristiwa yang tidak akan pernah dia lupakan seumur hidup.


Darren yang tahu betul jika sang istri belum bisa bergerak dengan leluasa, dengan telaten membuat sang istri tidur dengan nyaman. Wanitanya harus tidur yang cukup, sebelum si kecil Dan bangun pada dini hari karena kelaparan atau buang air. Darren sudah menyiapkan diri. Karena di sini kehadirannya adalah untuk membantu wanitanya mengurus buah cinta mereka yang baru lahir.


Sebelum memejamkan mata guna menyusul sang istri yang sudah tertidur, Darren menyempatkan diri untuk mencium pucuk kepala sang istri seraya bergumam. Sebuah do’a dia lantunkan agar sang istri mendapatkan mimpi yang baik dalam tidur lelapnya.


“Allahumma inny as-aluka rukya shoolihatan shoodiqotan ghoira kaadzibatin naafiatan ghoiro dzloorrotin (Ya Allah, aku memohon kepada-Mu mimpi yang baik dan benar, (serta) tidak dusta, yang bermanfaat dan tidak bahaya).”


🌼🌼


Kelahiran baby Dan menjadi kabar gembira bagi keluarga, sanak-saudara, sahabat, teman dekat, fans, dan orang-orang yang mengenal Evelyn juga Darren. Ucapan selamat berbondong-bondong datang dari berbagai kalangan, semenjak berita resmi diturunkan oleh pihak management Evelyn. Darren dan Ev juga sempat membuat video singkat untuk mengklarifikasi berita bahagia tersebut. Lewat video itu mereka juga mengucapkan terima kasih banyak pada semua orang yang telah memberikan ucapan selamat, doa, dan hadiah untuk baby Dan.


Semenjak dilahirkan, wajah bayi tampan dengan nama lengkap Palacidio Daniel Adhitama Xander tidak pernah dipublikasi. Wajah tampannya dirahasiakan dari halayak umum. Hal itu merupakan kesepakatan yang telah ditetapkan oleh Ev dan Darren. Mereka baru akan merilis wajah tampan baby Dan jika bayi laki-laki itu sudah berumur 40 hari.

__ADS_1


“Itu apa, mas?”


Ev yang baru saja selesai memberi sang putra ASI, tampak tertarik dengan sesuatu yang dibawa sang suami.


“Ini? Berkas balik nama dari lawyer,” jawab Darren seraya menjatuhkan satu kecupan di pipi kemerahan milik sang putra.


“Jangan diganggu. Dan baru tidur, mas.”


Darren tersenyum lebar tanpa meng-iyakan ucapan sang istri. Pria rupawan itu malah semakin menjadi-jadi mencium wajah tampan sang putra.


“Mas!”


“Gemes, sayang.” Darren menjauhkan wajahnya saat si kecil Dan bergerak-gerak karena merasa terusik. “Dia kenyang makan ASI, makanya tidur lagi?”


Ev mengangguk seraya menaruh sang putra di box bayi miliknya. Sehari pasca melahirkan, Ev sudah langsung diperbolehkan pulang. Hal itu dikarenakan kondisi Ev dan baby Dan yang sama-sama sehat dan tidak perlu lebih lama lagi menginap di rumah sakit. Kepulangan Ev bersama baby Dan di mansion mereka tentu disambut dengan sangat bahagia oleh para pekerja. Mereka langsung dibuat jatuh cinta pada pandangan pertama saat melihat baby Dan yang sangat tampan dan menggemaskan.


“Kamu bawa berkas apa tadi, mas?”


“Berkas balik nama,” ujar Darren seraya menyodorkan berkas yang dia bawa. Sang istri menerimanya tanpa suara, kemudian membuka dan mengeluarkan isinya.


“Baby Dan resmi menjadi pemilik 45% saham di Xander Company. Walaupun begitu, baby Dan baru bisa mengklaim hak tersebut jika sudah genap berusia 18 tahun. Selain itu daddy juga baru saja memberikan 10% saham dan beberapa hektare tanah di Jakarta. Opa juga ikut memberikan 1000 lot saham di perusahaan milik Opa. Semua aset itu baru dibalik nama menjadi milik Palacidio Daniel Adhitama Xander.”


Ev tampak terkejut mendengarnya. Dia tentu tahu betul jika keturunan yang lahir dari hasil pernikahan mereka sudah dipastikan akan menjadi pewaris kekayaan dari keluarga Xander maupun Atmarendra. Ketika baru lahir, keturunan mereka sudah dipastikan mendapat saham sebesar 45%. Saham sebesar itu bahkan dapat menggeser posisi kepemilikan saham terbesar yang saat ini dipegang oleh Darren Aryasatya Xander—ayahnya. Belum lagi ditambah 10% saham dari sang kakek dari pihak ibu, dan 1000 lot saham di perusahaan milik kakek buyutnya. Tentu saja Ev terkejut mendengarnya.


“Baby Dan baru lahir sudah jadi billionaire (milyader),” komentar sang ibu.


“Itu belum seberapa, sayang.” Darren menarik sang istri agar lebih dekat dengannya. Indra penciumannya langsung bisa menghirup aroma harum khas tubuh sang istri yang sekarang bercampur dengan aroma bedak bayi.


“Belum semua aset aku balik nama, karena takut ada beberapa oknum yang malah berniat jahat sama baby Dan. Jadi untuk sementara waktu sebagian aset baby Dan dibalik nama menjadi nama kamu. it’s okay, kan?”


“Kenapa bukan nama kamu saja, mas?”


Darren tampak berpikir sejenak. Sebelum memutuskan untuk menjawab, pria itu tersenyum tipis. “Supaya aku tidak serakah.”


“Hm?”


“Supaya aku tidak serakah,” ulang Darren seraya mengecup pelipis sang istri. “Kalau aku jadi lebih kaya dengan aset-aset itu, takutnya aku jadi lupa diri. Banyak harta, punya tahta, dekat wanita, itu adalah sebuah godaan terbesar seorang pria.


Lagipula sesuatu yang berlebihan itu tidak baik bukan? Aku sudah cukup dengar harta, tahta, dan wanita yang aku miliki saat ini. Oleh karena itu, aku berupaya membalik nama aset baby Dan dari sekarang. Sebagian aset baby Dan juga aku gunakan untuk membeli beberapa properti yang dapat digunakan baby Dan di kemudian hari.”


Ev terpaku mendengar pengakuan sang suami. Ternyata sang suami telah memikirkan masalah ‘aset’ putra mereka dengan baik. Pria itu bahkan dengan jujur tidak mau terlalu banyak memiliki aset karena semua itu tentu butuh pertanggung jawaban.


“Jika suatu saat nanti baby Dan sudah dewasa dan sudah bisa mengambil alih tanggung jawab sebagai pemimpin perusahaan, ayo kita menghabiskan masa tua kita di sebuah rumah yang berada di pesisir pantai. Kamu mau, kan?” Darren menatap sang istri langsung pada kedua bola matanya. “Kita tinggal di sana. Menikmati sunrise, sunset dan laut lepas dari balik jendela rumah kita. Aku akan mencari ikan di laut, kemudian kamu yang akan memasaknya dengan penuh cinta untuk lauk makan kita berdua.”


Ev tertawa ringan seraya mengelus rahang tegap milik sang suami. “Kedengarannya menyenangkan.”


“Tentu saja!”


“Tapi, kamu lupa kalau kamu tidak bisa memancing? Lalu dengan cara apa kamu akan mencari ikan mas?”


“Menjala!” jawab Darren, tak kehabisan akal. “Aku bisa mendapatkan ikan dengan menjala—“


“Udah, beli di mall aja. Aku tahu kamu bukan tipikal orang yang suka melakukan kegiatan yang ribet.”


Darren menipiskan bibir mendengar jawaban sang istri. Secara tidak langsung, istrinya telah menghempaskan imajinasi yang telah dia rancang dengan apik.


“Aku akan tinggal di sini bersama kamu, sampai kita menua bersama. Di rumah ini. Tempat di mana kita akan melihat Dan mengucapkan kalimat pertamanya, belajar berjalan, belajar berlari, sampai Dan mulai masuk ke dunia pendidikan. Kita akan terus tinggal di sini, mas.”


Darren mengangguk dengan senyum mengembang. “Aku akan tinggal di mana pun, asalkan kamu juga Dan ada di sana. Karena rumahku untuk pulang adalah kamu. Istriku. Mère-nya Dan. My lovely wife, Evelyn Xander.”


🌼🌼


UDAH 90 BAGIAN AJA 😱 GAK KERASA!


MASIH MAU LANJUT? KAYAKNYA UDAH, YA ☺️


SOALNYA AKU UDAH MAU UPLOAD BDJ ✌️

__ADS_1


Sukabumi 11/06/22


__ADS_2