
NOTE: WAHAI READERS BUDIMAN YANG RAJIN NEROR OTOR BUAT UPDATE, JANGAN LUPA LIKE, VOTE & KOMENTAR NYA YA 😁
SELAMAT MEMBACA & SELAMAT MENGHUJAT 🙏
M39 🥀 : BEDA ANTARA ISTRI PERTAMA & KEDUA
🥀🥀
Tak tahu apa yang harus dikerjakan. Dilarang berkeliaran sembarangan. Bosan.
Tiga kata kunci itu agaknya mampu mewakili mood seorang wanita muda yang tengah berbadan dua tersebut. Siapa lagi jika bukan Estrella.
Wanita itu kini tengah menatap aquarium besar yang ada di ruang tengah dengan sendu. Sudah satu jam berlalu semenjak suaminya pergi begitu saja. Meninggalkannya sendirian di rumah ini. Tidak sepenuhnya sendiri sih, karena ada para maid yang sedari tadi berlalu-lalang. Mereka tampak sibuk mengerjakan tugasnya masing-masing. Ella tak ubahnya patung berbentuk manusia bagi mereka. Hanya dibiarkan seperti pajangan.
Toh, semua kebutuhan Ella telah dicukupi. Pakaian baru sudah disimpan di kamar yang ditinggal olehnya. Makanan juga sudah disiapkan. Setidaknya, bi Surti juga sudah diperintahkan untuk memenuhi semua kebutuhan wanita simpanan tuannya itu.
Ella bosan. Dis sudah berkeliling—melihat beberapa sudut bangunan megah ini bersama seorang maid yang bertugas sebagai tour guide. Ella juga sempat memasuki ruang seni, di mana sebagian besar trofi penghargaan yang didapatkan oleh Ev dan Darren disimpan. Ruangan itu juga diisi oleh lukisan-lukisan yang berasal dari seniman kenamaan. Ada pula satu sudut di ruangan tersebut yang diisi oleh lukisan-lukisan bernuansa flora. Setiap kanvas yang ditimpa warna dominan soft itu memiliki nama dan tanda tangan Evelyn Xander sebagai pelukisnya.
Ella juga tak pernah habis pikir, sebenarnya apa saja yang bisa wanita itu lakukan? Dari apa yang sempat didengarnya dari para maid—saat mereka membandingkan Ella dan Ev—nyonya rumah ini terdengar sangat multitalenta. Serba bisa.
Ev itu model papan atas, aktris kelas atas, pandai memasak, baking, memiliki suara emas, dan juga pandai melukis. Sebagai seorang istri dia juga memiliki paket yang dapat dikatakan lengkap. Memiliki tubuh yang semampai dan berisi di tempat-tempat seharusnya. Cantik, pandai mengatur waktu agar dapat mengimbangi antara kewajiban seorang istri dan kewajibannya sebagai publik figur. Ella meyakini semua itu.
Mungkin, hanya satu yang terbesit di kepala saat memikirkan kekurangan istri pertama suaminya itu. Tidak dapat memberikan keturunan.
Ella pikir, keturunan sangat penting bagi pria semacam suaminya. Wanita yang hampir mendekati kata sempurna saja, akan kalah dengan wanita yang bisa memberikan keturunan. Bukan kah, begitu?
Tanpa sadar, Ella tersenyum tipis sembari mengelus bagian terluar kain yang menutupi bagian perut. Dia adalah wanita yang dapat memberikan keturunan bagi suaminya. Itulah beda antara istri pertama dan kedua, menurut Ella.
“Kira-kira apa yang membuat wanita sepertimu tersenyum senang di saat ada wanita lain yang menderita karena kehadiranmu?”
Ella tercekat di tempat. Dengan gerakan kaku, dia memutar badan 90° ke arah datangnya suara tersebut. Matanya langsung bersirobak dengan mata coklat madu milik seorang wanita paruh baya yang mengenakan terusan berwarna Tan. Sebelah tangannya menenteng tas kulit dari brand Hermes.
“Saya tidak terlalu memperhatikan wanita simpanan putraku semalam. Jadi, begini rupanya?” ujar wanita paruh baya itu lagi, seraya melangkah. Mengikis jarak di antara mereka.
Merasa terintimidasi, Ella bergerak mundur dengan langkah tak teratur. “E-lla….”
“Jadi nama kamu Ella?”
Ella mengangguk takut. “Estrella…. Nama aku Estrella.”
Wanita paruh baya tersebut—Diana Xander—menatap lawan bicaranya tanpa ekspresi. Tatapannya tampak memindai lawan bicaranya dari atas sampai bawah. Kemudian kembali ke bagian tengah, di mana tangan wanita muda itu terkumpul. Tampak seperti tengah melindungi bagian tersebut. Kening Diana tampak berkerut melihatnya.
Sadar tengah diamati, Ella buru-buru membawa kedua tangannya ke samping tubuh. Dia tahu jika wanita di hadapannya adalah ibu dari suaminya. Yang menjadi pertanyaan adalah kenapa wanita itu datang ke sini pagi-pagi sekali. Padahal putranya sudah pergi. Selain itu, Ella juga tidak tahu apakah wanita ini sudah tahu atau belum jika sebentar lagi pewaris keluarga Xander akan lahir ke dunia. Lewat perantara rahim nya.
“Saya ingin bicara dengan kamu,” ujar Diana buka suara.
Ujaran kalimat itu kemudian dijawab dengan sebuah anggukan. Tanpa kata, Ella mengekor di belakang wanita yang masih cantik di usia yang sudah tidak muda lagi. Keduanya kemudian duduk berhadap-hadapan di ruang tamu.
“Berapa lama kamu dan anak saya berhubungan?” tanya Diana to the point.
__ADS_1
“K-ita saling mengenal sejak mas Darren membangun desa kami. S-ekitar dua atau tiga tahun yang lalu.”
Diana mengangguk dalam diam. Tatapannya masih terkunci pada Ella. “Kemudian kalian menikah?”
Ella mengangguk, membenarkan.
“Dan kamu tidak mencari tahu latar belakang pria yang hendak kamu nikahi?”
Ella mengangkat pandangan. Merasa keberatan dengan tuduhan tersebut. Akan tetapi, itulah kebenarannya. Ella tidak pernah mencari tahu. Toh, kedua orang tuanya juga meyakini jika Darren adalah pria yang baik dan dapat bertanggung jawab. Mereka yakin jika Darren dapat menjadi suami yang dapat menyayangi, melindungi, mengajari, dan mengayomi. Jadi, Ella putuskan untuk percaya pada apa yang orang tuanya percayai.
“Jika saja kamu teliti dalam memilih suami, apa kekacauan kemarin malam akan terjadi?”
“….”
“Jangan naif, saya tahu kamu gadis baik-baik dari desa. Namun, setiap manusia dibekali dengan akal. Jika saja kamu mencari tahu, apa kamu akan tetap menikah dengan pria beristri?” tanya Diana tanpa emosi.
Kendati demikian, lawan bicaranya merasakan sebaliknya. Tingkat emosional nya mulai melonjak. Mengingat dia yang tengah berbadan dua, membuat kondisi emosional nya bak rollercoaster. Naik-turun. Mudah pula terbawa perasaan atau terpancing emosi.
“Apa kamu akan tetap menikah dengan putra saya, sekalipun dia sudah memiliki istri yang begitu sempurna?” ulang Diana.
Sebuah jawaban yang tidak pernah dia sangka akan dilontarkan, terdengar begitu saja dari mulut wanita muda di hadapannya.
“Ella akan tetap menikah dengan mas Darren, karena memang pernikahan kita sudah ditentukan oleh takdir.”
Diana tersenyum miring mendengarnya. “Takdir?” dia tampak menatap lawan bicaranya dengan tenang. “Apa kamu tidak sadar, jika kamu sendiri yang telah melibatkan diri pada takdir putra saya? Apa kamu tahu kenapa putra menikahi kamu?”
“K-arena kita saling menyayangi,” jawab Ella mantap.
“M-as Darren juga cinta Ella,” ungkap Ella lagi, penuh keyakinan.
“Kamu yakin putra saya mencintai kamu? Sejauh saya mengenal putra saya, Darren tidak pernah berpaling dari wanita yang dia cintai. Sedangkan kemarin, bukan saja berpaling, Darren bahkan mengabaikan kamu. Sedangkan saat melihat Ev pergi, kamu lihat betapa frustasi nya Darren?”
Ella terjebak dalam kalimat itu. Ya, dia ditampar oleh kebenaran dari kalimat tersebut. Cinta? Ella sendiri tak pernah mendengar suaminya mengatakan kata itu secara gamblang.
“Asal kamu tahu, Ev adalah gadis pertama yang mampu membuat putraku jatuh hati.”
“Anda pasti sedang berbohong.” Bantah Ella. Jelas sekali jika suaminya tidak mencintai istri pertamanya. Mereka tampak seperti dua kutub yang saling berlawanan. “Jelas-jelas mas Darren lari ke pelukan saya karena tidak mencintai mbak Ev.”
Namun, agaknya Ella melupakan fakta jika dua kutub yang saling berlawanan saja masih berhubungan, karena mereka sama-sama membutuhkan.
“Apa kamu bilang?” Diana Xander menautkan sebelah alisnya tinggi.
“Mbak Ev tidak dapat memberikan keturunan. Oleh karena itu mas Darren menikahi Ella.”
“Lancang sekali kamu berkata demikian!” Diana menatap lawan bicaranya lurus-lurus. Raut wajahnya masih tampak tenang, sekalipun nada bicaranya naik satu oktaf. “Ev kami sehat, dan tentunya sempurna sebagai seorang wanita.”
“Kalau begitu, kenapa mas Darren dan mbak Ev tidak memiliki keturunan? Padahal mereka sudah menikah lima tahun lamanya.” Sedangkan Ella yang baru dinikahi lima bulan, sudah hamil?’ lanjut Ella di dalam hati. Ingin sekali dia berkata demikian agar dapat membungkam lawan bicaranya. Namun, atas nama kesopanan, Ella memilih bungkam.
“Anak bukanlah satu-satunya tolak ukur kebahagiaan dalam sebuah pernikahan.” Dengan segenap kesadaran yang masih tersimpan, Diana kembali angkat suara. Lawan bicaranya ini, ibarat lindek-lindeuk japati.
Tahu maknanya? Tampak mudah didapatkan, akan tetapi sulit. Tampak mudah ditaklukkan, tapi kenyataanya mudah mengelak dan gesit.
__ADS_1
“Tidak sedikit publik figur yang memilih menganut paham childfree. Kamu tahu maksudnya?” Diana memberikan intonasi pada kalimatnya. “Childfree adalah paham yang menganggap bahwa anak bukanlah satu-satunya tolak ukur kebahagiaan dalam sebuah pernikahan. Sekalipun tidak memiliki anak, sepasang suami-istri masih tetap bisa bahagia.”
“Jika kamu berpikir bahwa pria seperti Darren tetaplah harus memiliki keturunan, tanpa menikahi kamu pun, Darren tetap bisa memiliki keturunan dengan Ev. Mereka bisa saja melakukan prosedur bayi tabung, atau prosedur lainnya.”
Ella membenarkan ucapan Diana yang satu itu. Suaminya itu kaya. Lebih kaya raya dari yang dia bayangkan. Masalah keturunan pasti dapat diselesaikan dengan berbagai prosedur, mulai dari bayi tabung, inseminasi buatan, dan sebagainya. Lagi-lagi Ella terjebak dalam pikirannya sendiri. Jadi, sebenarnya kenapa Darren menikahi dirinya?
“Kamu mau tahu apa bedanya Ev dan kamu?”
Diana Xander yang tengah mengangkat cangkir bermotif bunga anyelir—berisi teh krisan—yang tadi sempat disajikan oleh bi Surti, kembali beradu pandang dengan lawan bicaranya.
“Ev berharga, bagi kami, begitupun bagi Darren. Sedangkan kamu, bagi kami kamu hanyalah kesalahan putra kami. Sedangkan bagi Darren, kamu ….tak ubahnya tempat peristirahatan sementara. Tempat yang memang nyaman untuk beristirahat barang sejenak. Tempat di mana dia bisa melampiaskan rasa tidak puas dan kemuraman nya. Saking nyamannya, dia sampai-sampai terbuai oleh kenyamanan pembaringan yang tersedia di peristirahatan tersebut, dan melupakan fakta jika dia harus kembali pada rumah yang sesungguhnya. Yaitu rumah di mana Ev berada.”
Diana kemudian meletakkan cangkir berisi teh yang baru saja dia menikmati. “Sepertinya saya sudah terlalu banyak bicara. Keterlaluan jika kamu tidak mengerti maksud dari semua ucapan saya.”
Wanita itu kemudian berdiri, meraih serta tas kulit miliknya. “Kedatangan saya ke sini sebenarnya untuk mengambil gugatan cerai yang seharusnya Darren tanda tangani. Tapi, hingga saat ini anak itu masih belum mau menyerah. Dia masih kekeuh tidak mau bercerai.”
Cukup. Ella tak tahan lagi mendengar semua ucapan wanita yang telah berjasa besar dalam melahirkan pria yang dicintainya ini.
“Saya akan pergi.” Diana tersenyum tipis, anggun. Khas wanita bangsawan yang etika nya telah ditempa sejak dini. Sehingga saat hati tengah bergemuruh sekalipun, raut wajahnya masih tetap bisa singkron dengan perintah otak.
“Ah, satu lagi.”
Ella mendongkrak, menanti kalimat yang selanjutnya akan dilontarkan wanita tersebut.
“Rumah ini milik Ev. Termasuk semua benda di dalamnya. Kamu, sebagai tamu seharusnya tahu batasan. Kamu tidak berhak menggunakan barang-barang milik Ev, tanpa seizin pemiliknya. Dari situ, lagi-lagi saya melihat perbedaan di antara kalian.” Ada jeda sejenak. Sebelum wanita itu kembali menambahkan. “Ev tidak pernah menginginkan milik orang lain, apalagi mengambilnya tanpa izin."
Ella terhenyak kaget. Sekalipun Diana Xander telah pergi meninggalkan ruang tamu, rasa keterkejutannya masih tertinggal. Bagaimana bisa wanita itu sadar jika Ella menggunakan barang Ev? bagaimana, bisa? Padahal Darren saja tak sadar.
Pandangan wanita muda itu kemudian tertuju pada sebuah logam mulia yang melingkari jari manis kirinya. Benar, benda tanpa permata itu milik Ev. Benda dengan nama sang suami di dalamnya.
🥀🥀
TBC
Huh, dasar resek lu 🤬
Menurut kalian di sini siapa yang kelewatan??
A. Author
B. Ev
C. Diana Xander
D. Ella
Pilih yok!
Jangan lupa syarat wajibnya : like, vote, komentar, follow Author & share ❤️
Sukabumi 05/03/22
__ADS_1
10.00 WIB