Berbagi Cinta: Mistress (Wanita Simpanan)

Berbagi Cinta: Mistress (Wanita Simpanan)
M70 : GUGURNYA CALON PENERUS


__ADS_3

NOTE : MOHON DISIMAK BAIK-BAIK. JANGAN LUPA BACA BISMILLAH DULU.


LIKE, VOTE, KOMENTAR FOLLOW AUTHOR & SHARE ❤️


HAPPY READING 🔥


M70 🥀 : GUGURNYA CALON PENERUS


“Nona kelihatan capek sekali. Apa perlu saya panggilkan dokter?”


Maid muda yang datang membawa sebuah piring berisi cupcake yang tampak menggoda itu menawarkan sebuah saran bagi sang nona yang terlihat kelelahan.


“Tidak perlu,” jawab nona yang tengah hamil tua itu. “Di mana Dyana?” tanyanya kemudian. “Dan apa yang kamu bawa?”


“Dyana izin pergi ke luar untuk menjenguk orang tuanya, nona.” Maid yang bukan maid biasa yang melayani dirinya itu menjawab. “Sedangkan ini,” dia menunjuk cupcake bawaannya. “Cupcake unicorn buatan saya dan beberapa maid. Nona belum pernah mencobanya bukan?”



“Ella baru tahu ada kue cantik seperti itu. Hem, ngomong-ngomong apa itu unicorn?”


“Unicorn adalah mahluk mitologi yang dipercaya berbentuk seperti kuda, tetapi memiliki sebuah tanduk,” jawab si maid.


Ella mengangguk mendengar pemaparan itu. “Jadi ini untuk Ella?”


“Iya. Ini dibuat khusus untuk nona. Semoga nona suka cupcake nya.”


Wanita yang tengah hamil tua itu mengangguk seraya tersenyum manis. Tangan kanannya kemudian terulur, mengambil alih piring berisi 5 biji cupcake unicorn yang tampak menggemaskan—didominasi oleh warna-warna pastel. Dia kemudian berjalan menuju kursi santai yang menghadap ke area pekarangan samping yang ditumbuhi oleh berbagai jenis tanaman hias. Di sana dia mulai menikmati satu cupcake unicorn yang terasa begitu manis di mulutnya. Karena perpaduan cita rasa manis itu, tanpa sadar dia dengan cepat menghabiskan 4 buah cupcake saat suara-suara gaduh menganggu indra pendengaran.


“Ada apa ini? Kenapa koper Ella dibawa-bawa?” tanyanya saat melihat beberapa maid turun dengan membawa koper miliknya.


“Ini perintah tuan Damian, nona.”


“Damian?” ulang Ella. “Punya hak apa dia? Sampai-sampai berani mengusir Ella. Ella ini istri tuannya. Bahkan saat ini Ella sedang mengandung calon penerusnya.”


Wanita muda itu segera melangkah dengan cepat. Mengambil alih koper-koper yang berisi barang-barang miliknya. “Jangan bawa barang-barang Ella. Memangnya Ella mau pergi ke mana?” ujarnya kesal.


“Anda harus segera meninggalkan kediaman ini,” potong sebuah suara yang cukup familiar di telinganya. Tidak lama kemudian Damian muncul diiringi oleh dua orang bodyguard.


“Kamu—“


“Saya mendapat mandat langsung dari tuan Darren untuk mengantarkan Anda pulang. Sebaiknya Anda bersikap kooperatif agar tidak menghambat pekerjaan saya.”


Ella menatap lawan bicaranya tidak suka. “Ella gak akan pergi. Kamu pikir kamu siapa? Mas Darren tidak mungkin mengusir Ella!”


“Bukan mengusir, melainkan mengembalikan Anda ke tempat yang seharusnya,” tutur Damian meluruskan. “Tempat Anda bukan di rumah ini, tetapi di kampung halaman Anda. Kehadiran Anda sudah terlalu banyak menimbulkan masalah. Lebih baik Anda kembali ke kampung, sebelum semuanya menjadi lebih rumit.”


Mendapati kalimat Damian yang seolah-olah menegaskan jika keberadaanya sangat tidak dibutuhkan dan diharapkan di sini, membuat Ella terpancing emosi. Raut wajah wanita itu sudah terlihat tidak bersahabat.


“Ella gak akan pergi karena Ella mau memperjuangkan hak anak Ella. Dia pantas diakui oleh keluarga ayahnya. Dia tidak boleh terlahir di pengasingan!”


“Anda masih tidak mengerti, ya?” Damian menatap lawan bicaranya dengan mata menyipit. “Bayi dalam kandungan Anda tidak akan mendapatkan hak apa-apa.”


“A-pa? Kenapa kamu bisa bicara begitu?!” Ella tak rela mendengarnya.


“Karena secara hukum anak itu memang tidak memiliki hak apa-apa. Asal Anda tahu, baik hak, aset, atau pun pengakuan secara resmi hanya akan menjadi milik keturunan yang terlahir dari hasil pernikahan nyonya Evelyn dan tuan Darren.”


Ella tercekat mendengarnya. “Kenapa begitu? Itu egois namanya. Kalian bahkan tidak memikirkan perasaan anak ini.” Ella mengelus permukaan perut buncitnya frustasi. “Dia juga berhak mendapatkan pengakuan. Kenapa anak yang tidak pernah hadir di antara mbak Ev dan masa Darren yang mendapatkan semua itu? Kenapa bukan anak Ella? Calon penerus mereka bahkan tidak pernah hadir lewat rahim mbak Ev.”

__ADS_1


Damian menghela nafas berat. Menghadapi mistress sang atasan sungguh menguras stok kesabaran yang dia miliki. “Cepat tahan dia, dan bawa ke mobil,” perintahnya pada dua bodyguard yang berdiri di kanan-kiri nya. Dua bodyguard itu mengangguk. Mereka kemudian bergerak, mendekati Ella.


“Jangan berani-berani kalian memaksa Ella. Ella peringatkan sekali lagi, jangan berani-berani …..ahk!”


Dua bodyguard itu kontan menghentikan langkah. Belum sempat mereka menyentuhnya seujung kuku sekali pun, wanita itu sudah merintih kesakitan.


“Ahk, perut Ell…...”


“Jangan bersandiwara,” sinis Damian. “Saya tahu Anda adalah ratu drama. Sebaiknya Anda berhenti bersandiwara, dan ikut kami.”


“Ahhk …..sakitt …..Ella mohon, perut Ella sakit….” Rintihan wanita itu semakin menjadi-jadi. Kedua tangan kecilnya bergerak menyentuh area perut dengan gelisah.


“Anda ….tidak bersandiwara?” tanya Damian was-was. Melihat ekspresi kesakitan di wajah mistress tuannya itu tampak tidak dibuat-buat.


“Sa ….kit.”


Wanita muda itu semakin gencar meringis. Terus-menerus mengucapkan kata ‘sakit’ seraya menyentuh perutnya, gelisah. Entah apa yang terjadi, tiba-tiba saja perutnya terasa sakit seolah-olah ada yang tengah bergerak mendesak—ingin keluar dari dalam perutnya yang buncit. Kondisi wanita hamil itu semakin mengkhawatirkan saat cairan berwarna merah segar, kental, dan berbau amis, merembes hingga mengalir ke betis. Bahkan sampai mengotori lantai.


“Bayi Ella kenapa? Kenapa ….perut Ella sakit sekali, hiks. Tolong. Tolong bayi Ella….”


Damian yang menyadari kondisi mistress sang atasan tidak baik-baik saja, langsung meminta bodyguard tersebut untuk membawanya ke mobil. Mereka harus segera membawa wanita itu ke rumah sakit untuk mendapatkan penanganan medis. Dalam perjalanan menuju rumah sakit terdekat, Damian lekas menghubungi sang atasan. Bagaimana pun juga pria itu memiliki tanggung jawab terhadap mistress dan calon anaknya.


Tiba di rumah sakit Ella langsung dilarikan ke unit gawat darurat. Damian sendiri masih mencoba menghubungi Darren seraya memastikan kondisi ini aman—tidak sampai menimbulkan kecurigaan beberapa pihak terkait hingga media masa. Tidak sampai tiga puluh menit berlalu, Darren datang dengan tergesa-gesa.


“Di mana dia?” tanyanya dengan nafas memburu.


“Di dalam, tuan. Masih ditangani oleh tim medis.”


“Kenapa ini bisa terjadi? kamu tidak melakukan kekerasan kepadanya bukan?”


Darren menghembuskan nafas kasar. “Lupakan. Pikiranku sedang kacau,” ujarnya.


Damian menghela nafas gusar. Tatapannya kemudian beralih sejenak pada pintu yang masih tertutup. “Nona Ella sempat menolak dibawa pergi dari rumah itu. Namun, kami belum melakukan tindakan apa pun saat dia merintih kesakitan hingga mengalami pendarahan. Jika Anda masih mencurigai saya telah melakukan pemaksaan atau kekerasan pada wanita Anda, silahkan periksa rekaman CCTV. Saya yakin di sana terekam jelas kronologi peristiwa yang terjadi beberapa waktu lalu.” .


“….”


“Saya akan pergi untuk mengurus beberapa hal. Anda bisa menghubungi saya jika membutuhkan sesuatu. Saya pamit.”


Damian memilih undur diri setelah menjelaskan kronologi yang terjadi secara singkat. Dia tentu merasa tersinggung karena dicurigai telah mencelakai mistress sang atasan. Padahal selama ini Damian selalu jujur dalam bekerja. Mungkin cuma beberapa kali dia diharuskan berbohong karena kondisi genting.


Sekarang di sana hanya ada Darren seorang. Menunggu dengan gelisah. Perasaanya tidak menentu. Kaget, khawatir, takut, marah, bercampur menjadi satu. Dia kaget mendapati kabar tiba-tiba dari Damian. Khawatir akan kondisi calon penerusnya, takut terjadi apa-apa padanya. Dan marah. Dia merasa marah saat membayangkan calon penerusnya saat ini tengah berada dalam bahaya.


Menit demi menit tidak terasa telah berlalu dengan begitu cepat. Darren sudah dibuat menunggu lama sekali. Namun, belum juga ada kabar dari para tim medis.


“Anda suami pasien?” Tanya seseorang yang baru saja muncul dari pintu yang barusan terbuka.


“Hm. Saya suaminya.”


“Mari bicara di ruangan saya,” ujar dokter tersebut.


Darren mengangguk, lantas mengikuti langkah dokter yang dia taksir usianya sebaya dengan sang ibu.


“Bagaimana kondisinya sekarang, dok?” tanya Darren kemudian, to the point.


“Buruk,” jawab dokter yang masih mengenakan seragam khusus bedah tersebut. “Dari sempel darah pasien yang diambil terdapat kandungan senyawa oleandrin yang menyebabkan toksisitas mematikan. Selain itu pasien juga sepertinya mengonsumsi makanan yang mengandung oksitosin, zat yang digunakan tubuh untuk merangsang kontraksi rahim. Karena kandungan zat tersebut pasien mengalami kontraksi hebat, padahal belum waktunya melahirkan.”


“Senyawa oleandrin yang terdapat dalam tubuh pasien cukup banyak, sehingga menimbulkan efek yang sangat mematikan. Dalam hitungan beberapa menit saja, nyawa pasien dapat melayang. Untung saja pasien cepat ditangani oleh dokter.”

__ADS_1


Darren terhenyak mendengarnya. Semematikan itu? Darren semakin dilingkup rasa takut. Terutama takut kehilangan calon penerusnya.


“Senyawa oleandrin biasanya terdapat pada bunga jepun atau Oleander. Salah satu bunga yang paling beracun di dunia. Bunga ini kerap kali digunakan sebagai jembatan untuk berbagai tindakan yang bertujuan untuk menghilangkan nyawa, seperti bunuh diri dan aborsi.”


“A-borsi?” suara Darren tercekat di tenggorokan.


Dokter mengangguk. “Dari beberapa penelitian, para ilmuan mengenalnya sebagai glikosida jantung, kelas senyawa organik dengan fitur umum yang menunjukkan efek kuat pada jaringan jantung. Karena kandungan ini pula, bayi dalam kandungan pasien mengalami kegagalan fungsi jantung.”


“A-pa?” Darren tak linglung mendengarnya. “Tapi bayi itu masih dapat diselamatkan, bukan?”


Dokter itu menghela nafas pelan. “Sayangnya tidak. Kami sudah berusaha semaksimal mungkin. Tapi, kandungan dua zat berbahaya yang cukup banyak itu berakibat sangat fatal pada si bayi.”


Mendengar kalimat tersebut, Darren rasa sebagian nyawanya telah menguap entah kemana. Bayi yang selama ini dia pertahankan sekali pun harus menentang seluruh dunia ternyata telah gugur. Bayi yang bahkan belum melihat indahnya dunia itu harus tewas dengan mengenaskan karena kegagalan fungsi ginjal.


“Saya tahu ini berat untuk Anda dan istri. Namun, jika pun bukan karena kandungan oleandrin, kandungan oksitosin dalam dosis tinggi juga berbahaya bagi janin, karena dapat menyebabkan kontraksi secara paksa dan membuat janin mati di dalam rahim. Dugaan sementara, kandungan oksitosin yang terdapat dalam tubuh pasien berasal dari tumbuhan bernama rumput Fatimah. Mengenai dugaan ini, para dokter kami sedang memastikannya.”


Darren hanya bisa terdiam dengan kepala tertunduk. Dia masih mendengarkan penjelasan dokter secara rinci, namun pikirannya berkelana kesana kemari. Sungguh, kesialan datang bertubi-tubi. Tadi, beberapa jam sebelum datang ke sini dia mendapatkan kabar yang membuat otaknya bekerja dua kali lipat. Ditambah kenyataan jika posisinya sebagai CEO tengah berada di ujung tanduk, karena ada unknown member direksi yang telah memiliki sebagian besar saham miliknya, bahkan saham milik perusahaan. Sekarang di tambah lagi masalah ini.


Dokter itu juga kembali menjelaskan kondisi sang mistress yang sempat mengalami pendarahan hebat. Jika kandungan oksitosin yang terdapat dalam tubuh pasien berasal dari tumbuhan bernama rumput Fatimah, maka pendarahan itu terjadi karena rumput Fatimah direndam terlalu lama, sehingga tingkat oksitosin dalam air perendaman akan meningkat. Selain dapat mengancam keselamatan janin, kandungan oksitosin dalam rumput Fatimah juga dapat menyebabkan pendarahan hebat, rahim kurang darah, pecah rahim, hingga mengancam keselamatan si ibu.


Sebenarnya rumput Fatimah adalah salah satu herbal asli Indonesia, terutama untuk ibu hamil. Rumput Fatimah atau Labisia Pumila mengandung oksitosin, yang digunakan tubuh untuk merangsang kontraksi rahim, sehingga diyakini dapat mempercepat persalinan. Ramuan rumput Fatimah biasanya diformulasikan bersama rempah-rempah dan resep bervariasi. Namun, obat ini tidak memiliki posisi dan indikasi yang pasti. (sumber : kompas.com)


“Lakukan prosedur yang seharusnya dilakukan, dok.”


Pria yang baru saja menandatangani sebuah berkas persetujuan itu berujar dengan kilat gelap di matanya.


“Baik. Kami akan segera melakukan tindakan Caesar ERACS untuk mengeluarkan si janin, dan mengoptimalkan kesehatan si ibu selama dan setelah menjalani operasi.”


“Hm.”


“Dokter!”


Percakapan Darren dan dokter itu terjeda karena ketukan dari balik pintu, di susul suara gaduh seseorang.


“Ada apa dokter Mia?” tanya si pemilik ruangan, menyambut dokter yang lebih junior darinya.


“Kondisi pasien semakin memburuk. Rahimnya robek. Pasien juga kehilangan banyak darah.”


Dokter yang lebih senior itu langsung beranjak dari duduknya. “Bagaimana ini bisa terjadi? Bukannya tadi dokter Adni sudah menanganinya?” dengan cepat dia meninggalkan meja kerjanya.


Darren juga tak tinggal diam. Dia tentu terkejut. Bagaimana pun juga, wanita muda itu saat ini berstatus sebagi istrinya. Seseorang yang pernah berperan besar menyumbangkan kebahagiaan dan kesenangan dalan hidupnya, walaupun sesaat.


“Dokter,” panggil Darren dengan suara yang tersisa.


“Iya, pak. Ada yang Anda butuhkan lagi?”


“Selamatkan dia,” ucap Darren lugas. ‘Selamatkan dia agar dia memiliki kesempatan untuk merasakan penderitaan karena kehilangan. Dia harus tahu bagaimana rasanya kehilangan. Karena dia yang lagi-lagi membuatku merasakan kehilangan.’


🥀🥀


TBC


MACEM MANA READERS YANG BUDIMAN? SUKA TAK?


PR READERS SEKARANG ADALAH MENCARI DALANG DARI PENYEBAB KEGUGURAN SANG CALON PENERUS 🤔


Sukabumi 19/04/22

__ADS_1


__ADS_2