
NOTE : PART INI 3K LEBIH, DITULIS SEHARI-SEMALAM. READERS BACANYA BERAPA LAMA?
SEMOGA SUKA YA SAMA PART YANG AKU TULIS PENUH PERJUANGAN DAN BAWANG INI ☺️🧄
M81 🥀 : BENTUK SEBUAH KEIKHLASAN
“Aku mau tidur, Ev. Sekarang kamu bisa keluar,” ujar Darren dengan mata yang masih tertutup.
Mati-matian Ev tidak memberikan respon apapun. Dia dengan berusaha dengan baik mengontrol emosi dan air mata yang hendak menyeruak ke luar.
“Kalau begitu aku ke luar dulu. Kamu harus banyak istirahat supaya cepat sembuh,” balas Ev seraya beranjak. “Selamat tidur, Darren. Maaf tidak bisa menemani, Dan lebih membutuhkan aku.”
Setelah berkata demikian, hanya suara ketukan heels yang beradu dengan lantai yang terdengar kian menjauhi bed. Bahkan dengan kondisi mata tertutup sekali pun, Darren tahu jika si penghasil suara itu sudah dekat dengan pintu. Namun, Darren sempat kehilangan suara ketukan itu, yang berarti jika si pemilik heels tengah berdiam diri di suatu sudut.
“Darren.”
“….”
“Aku hanya ingin kamu tahu jika kita sama-sama bersalah selama ini. Tuhan telah menuliskan jalan bagi hidup kita semua, termasuk kesalahan dan kebenaran di dalamnya. Jadi, aku berharap kamu jangan menyalahkan diri sendiri. Karena kita sama-sama bersalah. Lewat peristiwa ini, kita seharusnya belajar agar tidak melakukan kesalahan yang sama di kemudian hari.”
Kalimat itu berakhir, bersamaan dengan suara derit pintu yang dibuka. Meyakinkan Darren jika Ev sudah pergi dari ruangan tersebut. Maka tanpa bisa ditahan lagi, tangis itu kembali berderai. Darren bahkan tak segan-segan menge—rang frustasi sebagai bentuk keputusasaan. Semuanya telah selesai. Namun, ada rasa sakit yang begitu tertinggal. Sesal yang masih terhampar. Hingga membuatnya merasa begitu tertampar.
Tanpa dia sadari, Ev masih tinggal di sana. Di depan pintu yang baru terbuka beberapa senti, namun tak sampai membuat orang-orang di luar sana sadar akan pintu yang terbuka tersebut. Mendengarkan tangis pilu yang menyayat hati dari pria berinisial DAX tersebut.
“Ev, bagaimana keadaan Darren?” tanya Diana saat Ev akhirnya memutuskan untuk keluar setelah memastikan kondisi Darren lebih baik. Lebih tepatnya pasca pria itu terlelap.
Sama seperti putranya, Darren juga akan jatuh tertidur pasca menangis. Like father, like son.
Bukannya menjawab, Ev yang masih berdiri di depan pintu tak kuasa lagi menahan air mata. Melihat itu, mereka yang ada di sana tentu terkejut bukan main. Ev dikenal sebagai sosok yang kuat, juga tangguh. Dia jarang memperlihatkan air matanya pada orang lain, bahkan hampir tidak pernah.
Kendati demikian, kali ini semuanya tidak dapat dicegah. Ev menitihkan air mata dalam diam. Dengan bibir terkunci rapat. Orang tua Ev sendiri bahkan dibuat bingung juga cemas melihat begitu rapuhnya putri mereka. Di antara mereka yang mampu memberikan Ev tempat untuk bersandar hanya Dean. Putra keluarga Wijaya itu dengan sigap membawa tubuh Ev dalam pelukan. Memeluknya erat, mengelus punggungnya sayang, seraya menjatuhi pucuk kepalanya dengan kehangatan.
Ev tidak butuh kata-kata penyemangat saat berada dalam kondisi seperti ini. Yang dia butuhkan hanyalah pengertian dan bahu untuk bersandar.
“Sudah lebih baik?” tanya Dean seraya menyodorkan satu botol air mineral berukuran sedang.
Wanita cantik yang wajahnya tampak sembab itu mengangguk seraya menerima air mineral tersebut. Dia kemudian meminum air itu lewat sedotan yang telah tersedia. Dua puluh menit telah berlalu, sekarang mereka berdua berada di ruangan yang menjadi tempat istirahat cucu kesayangan 3 keluarga. Siapa lagi jika bukan Dan? Anak laki-laki berusia 5 tahun itu masih terlelap nyenyak di atas bed yang dipesan secara khusus.
“Apa dia sudah pulang?” tanya Ev selepas seperempat air dalam botol.
“Dia siapa?” kening Dean bertaut saking bingungnya.
“Maksud aku Ella. Estrella.”
“Wanita simpanan Darren?”
Ev mengangguk singkat. “Sekarang bukan lagi.”
“Maksud kamu?”
“Mereka sudah bercerai.”
“What?! Bagaimana bisa?” Dean tampak terkejut mendengar informasi tersebut.
“Entahlah,” jawab Ev sembari meraih selembar tisu untuk menyeka sisa air mata di wajahnya. “Bisa kamu panggilkan dia untukku, D? aku mau bicara.”
“Kamu yakin?”
“Ya. Ada yang ingin aku bicarakan dengan dia.”
Dean mengangguk sebagai jawaban. Tanpa menunggu lama, pria itu bergegas pergi ke luar untuk memanggil mantan mistress putra semata wayang keluarga Xander tersebut.
“Mbak Ev mencari Ella?”
Ev tersenyum tipis saat melihat kehadiran wanita muda tersebut. “Aku punya informasi soal tempat peristirahatan terakhir anak kamu.”
“B—enarkah?”
Ev mengangguk. “Anak kamu disemayamkan di kompleks pemakaman milik keluarga Xander. Lokasinya tidak terlalu jauh dari mansion utama keluarga Xander. Jaraknya sekitar 500 meter dari wing mansion bagian barat daya.”
Ella yang mendengar informasi tersebut tak kuasa menahan tangis haru. Bibirnya juga menyunggingkan senyum tulus. “Terima kasih atas informasinya, mbak Ev. Ella tidak tahu harus berterima kasih dengan cara apa lagi.”
Ev menggelengkan kepala mendengarnya. “Hanya ini yang bisa aku lakukan. Maaf tidak dapat mempertemukan kamu dengan Darren, dia….”
“Ella paham, mbak,” potong Ella sembari tersenyum. “Gak papa kok. Yang terpenting Ella sekarang tahu di mana tempat anak Ella disemayamkan.”
“Danadyaksa Xander.”
Ella menautkan kening mendengar Ev tiba-tiba menyebutkan sebuah nama yang terdengar asing.
__ADS_1
“Darren memberi putra kalian nama Danadyaksa Xander yang berarti putra Xander penjaga kemakmuran. Darren tidak pernah membenci darah daging kalian, buktinya dia memberikan tempat peristirahatan terakhir yang layak dan memberinya nama yang indah.”
Tangis Ella semakin menjadi-jadi. Wanita muda itu tidak menyangka jika Darren tetap peduli pada darah daging mereka. Pria itu bahkan memberinya nama yang indah, menyematkan nama Xander di belakangnya, dan memberikan tempat peristirahatan yang layak. Karena sejatinya darah daging mereka tidak memiliki kesalahan apa-apa. Hanya saja karena perbuatan orang tuanya yang melanggar banyak peraturan, mengakibatkan banyak hati terluka dan murka, sehingga darah daging mereka ikut merasakan akibatnya.
“Pergilah, datangi tempat peristirahatan putra kamu. Aku akan menyuruh supir untuk mengantar kamu ke sana.”
Ella mengangguk dengan cepat. “Terima kasih banyak, mbak Ev.”
“Sama-sama,” jawab Ev seraya tersenyum lembut. “Mulai sekarang dan kedepannya, kamu harus hidup dengan baik Ella. Temukanlah pria yang dapat membuat kamu bahagia, dan dapat menerima kamu apa adanya.”
Ella mendongkrak, menatap lawan bicaranya kelak. “Mbak Ev juga. Hiduplah dengan bahagia bersama pria yang menjadikan mbak Ev ratu satu-satunya. Semoga tidak ada lagi perusak kebahagiaan mbak Ev di kemudian hari.”
Ev mengangguk sebagai jawaban. Dia sudah memilih untuk memaafkan. Derajat paling tinggi bagi seorang umat dalam agama islam adalah seseorang yang mampu memaafkan dengan ikhlas. Yang mampu memaafkan padahal dia sendiri mampu membalas. Sebagaimana tertuang dalam ayat-ayat suci yang telah diturunkan, juga hadist yang telah diriwayatkan. Ali Bin Abi Thalib saja pernah berkata, ‘memaafkan adalah kemenangan terbaik’.
Dengan cara ‘memaafkan’ hidup bisa menjadi lebih leluasa, tentram, nyaman, dan aman, karena tidak ada lagi yang mengganjal di hati.
🥀🥀
“Oh my lord, you look so gorgeous.”
Pujaan itu diberikan seorang desainer kondang yang sudah melebarkan sayapnya di dunia internasional. Di datang secara langsung ke Indonesia untuk membuat beberapa potong gaun eksklusif bagi pelanggan eksklusif nya pula.
“You sure?”
“Yeah, I’am sure,” jawab wanita berdarah Jepang yang sudah melebarkan namanya sejak usia muda sebagai desainer wedding dress tersebut.
Di hadapannya, seorang wanita cantik tampak berdiri dengan sheated wedding dress berlengan pendek dengan payet-payet yang ukurannya memeluk erat tubuh dari bagian bahu sampai paha. Menunjukkan lekuk tubuh yang sempurna, karena tidak ada kekurangan pada tubuh indahnya. Selain sheated wedding dress, dia juga sudah mencoba ball gown bertabur Kristal Swarovski dan backless dress dengan model slit tinggi yang sama-sama indah, mewah dan berkesan sexy.
“You benar-benar look so gorgeous Ev,” sahut suara lain yang sedari tadi berdiri dengan tampang melongo ke arah wanita cantik dalam balutan wedding dress tersebut.
“Ready to meet your future husband?”
“Hm?” wanita cantik itu tampak gugup untuk menjawab.
“Halah, gak usah gugup gitu kali, Ev. Lupa sebelum ke sini sempat kissing sampai lupa schedule?” sindir sang manager, jenaka.
“Dimi, please. Tadi tidak ada adegan seperti itu,” bantah si pemilik nama.
Dimi memutar bola matanya malas seraya membuka connecting door yang menghubungkan ruangan ganti ini dengan ruangan satunya lagi. Tanpa menghabiskan banyak usaha untuk memanggil si mempelai pria, ternyata pria itu sudah berdiri di depan connecting door dengan suite berwarna hitam yang tampak pas di tubuhnya. Tatapan pria rupawan dengan potongan rambut model middle part atau gaya rambut belah tengah itu, langsung tertuju pada calon istrinya yang tampak cantik dalam balutan sheated wedding dress. Untuk sepersekian detik, tatapan mereka terkunci pada satu sama lain.
“Why? Ini gaun kesekian yang Ev coba. C’mon, kasih pendapat?” pinta Dimi.
“What?!” pekik Dimi tak terima. Membuat dua orang wanita di belakangnya tersenyum kecil melihat responnya. “Good? No bad? Itu doang pendapat you?”
Pria rupawan itu mengangguk mantap. “Soalnya tidak ada pakaian yang terlihat jelek saat calon istriku yang memakainya,” balasnya bangga. “Jadi sudah jelas, ‘kan? Wedding dress mana pun akan cocok di tubuhnya. Sekarang, aku harus membawa calon istriku pulang karena keberadaannya sangat dibutuhkan di sana.”
“What the hell is….”
“Dimi, jangan berkata kasar. Lupa jika Moana sedang mengandung?”
“Ah, aku ralat, Ev.” Pria dengan gaya rambut under cut itu berdeham kecil seraya menatap sengit ke arah sang mempelai pria. Dia lupa jika ada wanita yang tengah mengandung benihnya. “You boleh bawa Ev, asalkan hati-hati. Awa saja kalau dia lecet sedikit saja.”
Pria bermarga Wijaya itu tersenyum lebar seraya mengangguk. “Aku akan mengingatnya.”
“You juga, Ev. Hati-hati. Soalnya mendekati hari H suka ada aja godaannya.”
Si pemilik nama mengangguk mahfum. “Aku mengerti.”
Setelah terkurung di tempat itu berjam-jam lamanya, Ev dan Dean akhirnya bisa kembali ke kediaman Atmarendra karena sedari tadi Dean sudah diteror oleh ratusan telepon dan misscall. Para ibu yang tengah mempersiapkan pernak-pernik pernikahan mereka, membutuhkan Ev untuk memilih beberapa jenis keperluan. Selain itu si kecil Dan juga sudah menunggu sang ibu yang sejak pagi harus pergi ke sana ke mari.
“Capek, ya?” Pria yang sedang mengemudi itu melirik sang kekasih sejenak.
“Hm. Sedikit,” jawab Ev. “Ternyata melelahkan juga memilih semuanya sendiri.”
“Jadi mau menyerah?”
“Tentu saja tidak. Ini pernikahan impian yang aku inginkan. Jadi, aku akan menikmati setiap prosesnya. Mau susah ataupun senang, aku akan mempersiapkan pernikahan yang aku mimpikan dengan baik kali ini.”
Dean tersenyum seraya meraih salah satu punggung tangan Ev untuk dikecup. Lantas dia berkata, “yang penting kamu bahagia. Asalkan jangan sampai kamu down sebelum hari H.”
Wanita cantik itu menggeleng dengan yakin. Setelah melewati satu tahun yang terasa begitu panjang pasca Darren membuka mata, akhirnya Dean dan Ev berkesempatan mewujudkan planning mereka untuk melangsungkan pernikahan. Banyak yang telah terjadi satu tahun belakangan, misalnya soal kepindahan Darren ke Singapura untuk melakukan recovery secara intensif, kepulangan Ella ke kampung halamannya, insiden nikah dadakan Dimi—karena tidak sengaja melakukan one night stand dengan seorang asisten make up artist di sebuah acara lepas lajang seorang rekan. Sampai kepindahan domisili putra kecil Ev yang sekarang sudah sepenuhnya menetap, juga bersekolah di tanah air.
Dalam kurun waktu tersebut juga banyak yang harus ditata kembali dalam hidup Ev maupun Dean dan Darren. Apalagi bagi Ev dan Darren yang notabene harus beradaptasi dengan status dan kehidupan mereka after divorce. Sekaligus mereka juga tetap harus menjalin komunikasi dengan baik, karena ada perantara berupa keturunan di antara mereka. Karena tidak akan satu orang tua pun yang ingin buah hatinya mendapatkan ‘pincang’ kasih sayang. Selama orang tuanya masih lengkap, sehat secara jasmani dan rohani, divorce bukan halangan untuk menyalurkan sebuah kasih dan sayang.
Oleh karena itu Ev dan Darren menyetujui jadwal meet up untuk beberapa waktu dalam sepekan atau sebulan—baik Ev yang berkunjung ke Singapura bersama Dan, maupun Darren yang sesekali berkunjung ke Jakarta. Mereka sudah setuju. Yang paling utama adalah kebahagiaan Dan. Jangan sampai Dan merasakan pincang kasih sayang.
Sedikit demi sedikit Ev juga menjelaskan alasan kenapa Mère dan Perè-nya tidak dapat hidup bersama lagi. Sebelum itu, Ev juga sempat berkonsultasi dengan psikolog anak agar mengetahui tips dan trik yang baik dan benar untuk membicarakan soal hubungan orang tuanya pada si kecil. Hasilnya, sekarang Dan sedikit-banyak sudah mulai paham. Anak laki-laki itu kini jadi jarang bertanya ‘kenapa Perè-nya tidak tinggal bersama?’.
Bertepatan pada hari Jum’at di penghujung bulan Agustus, pernikahan Ev dan Dean diselenggarakan. Acara digelar di kediaman Atmarendra yang sudah dihias dengan sedemikian rupa. Rumah megah dan mewah itu disulap menjadi castil dalam buku-buku dongeng yang indah, mewah, dah berkilauan. Bunga-bunga segar dengan dominasi warna putih dan pastel menghiasi hampir seluruh sudut rumah.
__ADS_1
Kursi-kursi dan meja sudah tertata dengan rapih, siap menyambut kehadiran para tamu dan undangan dari kedua belah pihak. Beberapa foto yang dicetak berukuran medium juga tersebar di beberapa titik, menampilkan potret kedua mempelai yang sama-sama tengah dimabuk cinta. Tak ketinggalan, wedding cake bertema fairy tale yang begitu tinggi menjulang, menjadi salah satu ikonik yang mencuri perhatian para tamu undangan.
Anggota keluarga dan kerabat dari kedua belah pihak juga sudah mengisi tempat-tempat yang telah disediakan. Mereka tampil rapih dan serasi dengan pakaian seragam yang didominasi warna putih dan peach—hasil rancangan tangan si mempelai wanita. Untuk akad sendiri akan dilangsungkan pada jam 08.00 pagi dengan menggunakan pakaian adat bagi kedua mempelai.
“Saudara Dean Wijaya saya nikahkan dan kawinkan engkau dengan putri kandung saya, Evelyn Angelista Atmarendra dengan mas kawin surat Ar-rahman, 2 kitab Al-Qur’an, satu kitab Helyatul Aulia, berlian seberat 500 gram, emas seberat 500 gram, 12 set perhiasan, satu perusahaan D’EV entertainment atas nama Evelyn Angelista Atmarendra, 4 departemen store atas nama Evelyn Angelista Atmarendra di AS dan Perancis, dua hotel di Bandung, satu vila di Bali, satu rumah di Tanggerang, satu mall atas nama Evelyn Angelista Atmarendra di Yogyakarta, 2 unit mobil mini cooper, satu unit Porsche 911 Turbo S, satu unit jet pribadi, uang sebesar 400 juta dollar Amerika, dan seperangkat alat salat dibayar tunai.”
“Saya terima nikah dan kawinnya Evelyn Angelista Atmarendra binti Aston Wiliam Atmarendra dengan mas kawin tersebut dibayar tunai.”
“Bagaimana para saksi, sah?”
“SAH?!”
Lantunan hamdalah disusul dengan do’a serempak terdengar pasca prosesi ijab-kabul telah selesai dilaksanakan. Dengan satu kali tarikan napas, si mempelai pria langsung tancap gas.
Lega sudah hati sang mempelai pria yang sempat disambangi Pre-Marriage Syndrome alias kecemasan berlebihan yang dirasakan oleh pengantin jelang pernikahan. Kini dia tinggal menanti kehadiran wanita yang baru dia peristri.
Tak lama kemudian, suara tuts-tuts piano yang terdengar begitu merdu mengantarkan kedatangan mempelai wanita yang tampak cantik dalam balutan busana tradisional suku Sunda, lengkap dengan hiasan berupa siger di kepala. Alih-alih lega, hati Dean kembali diserang rasa gugup saat wanita yang baru diperistri olehnya kian mendekat. Rasanya seperti mimpi. Bahkan saat wanita itu sudah berdiri di hadapannya, Dean masih terpaku.
“Mas Dean?” panggil sang pembawa acara, baru berhasil membuat si pemilik nama tersadar.
“Ya?”
“Disematkan dulu cincinnya, itu istrinya sudah menunggu.”
Dean mengangguk kikuk. “Ah, iya.”
Hal tersebut kontan membuat para keluarga dan tamu yang hadir tersenyum dan tertawa kecil. Mereka memaklumi keterpakuan pengantin pria melihat wajah cantik wanita yang baru dia peristri. Prosesi tukar cincin pun dilakukan dengan lancar, dilanjut dengan proses kecup tangan yang dilakukan oleh sang istri kepada suaminya, sebagai bentuk sentuhan pertama. Dilanjutkan dengan sentuhan pertama suami di kening istri seraya memanjatkan do’a guna memperoleh kebaikan dan kebahagiaan dalam pernikahan mereka.
“Assalamualaikum, istri. Selamat datang, dan selamat menyandang nama Wijaya di belakang namamu,” bisik Dean kecil seraya tersenyum manis. Ditatapnya wajah sang istri yang tampak malu-malu. “You look so gorgeous, wife. Sampai-sampai aku lupa cara berkedip melihat kamu.”
Ev yang baru saja diperistri oleh pria tersebut hanya merespon lewat senyuman. Ini bukan kali pertama untuknya, namun semua terasa sempurna. Beda dengan pernikahan yang pertama.
Acara kemudian dilanjutkan dengan resepsi akan mengusung tema internasional. Kedua mempelai tampil dengan pakaian internasional berupa setelan suite mewah dan wedding dress. Pengantin wanita juga membawa sebuket bunga Lily of The Valley—bunga lili yang melambangkan kesederhanaan, kerendahan hati, kemurnian jiwa dan keindahan—bunga dengan harga fantastis yang digunakan pula pada pernikahan Kate Middleton dan aktris popular asal negeri Ginseng, Song Hye Kyo.
Acara resepsi pernikahan yang berlangsung selama dua hari itu akan dimeriahkan oleh penampilan sederet penyanyi kondang dan band kenamaan di tanah air. Para tamu undangan yang datang juga tidak kalah spesial, karena selain dihadiri saudara, kerabat, sahabat hingga teman dekat, rekan kerja Ev maupun Dean yang sebagian besar berasal dari golongan old money juga banyak yang datang. Selain itu, ada pula beberapa aktris, aktor, pejabat dan mentri kenalan kakak Ev yang ikut hadir dalam acara tersebut.
Pernikahan mereka juga dihadiri oleh dua mantan anggota FBI yang diundang jauh-jauh dari New York. Mereka datang bersama beberapa anggota keluarga Radityan yang kebetulan menjadi college Ev maupun Dean.
Pernikahan dua anak sultan dari golongan old money itu tentu langsung jadi perbincangan hangat di berbagai kalangan. Tidak sedikit pula stasiun televisi yang ikut menyiarkan pernikahan Ev dan Dean. Bahkan sampai suvenir pernikahan saja, jadi tranding di berbagai laman media sosial. Pasalnya Ev dan Darren menghadiahkan suvenir yang bukan kaleng-kaleng bagi para tamu yang hadir memenuhi undangan. Di antaranya jam tangan couple yang bertabur berlian hingga emas 24 karat, voucher hotel bintang lima, iPhone 5s yang berlapis emas, hingga kendaraan roda empat.
“Kamu bahagia, Ev?”
Mungkin pertanyaan demikian yang diulang-ulang terdengar sedikit alay, bagi Ev yang tidak biasa diperhatikan sedemikian rupa oleh suami pertamanya. Namun, kali ini dia malah fine-fine saja ditanyai demikian secara berulang kali oleh suami barunya. Pria itu benar-benar memperhatikan kenyamanannya.
“Aku bahagia, D. Sangat. Apa kamu tidak melihat rona bahagia itu di wajahku?”
“I see,” jawab pria rupawan itu seraya mengeratkan belitan tangannya di pinggang ramping sang istri. “Kamu terlihat jauh lebih mempesona saat menyandang nama Wijaya.”
“Jadi dulu aku tidak membuat kamu terpesona?”
“Bukan begitu konsepnya, sayang,” ralat Dean seraya bergerak ke samping, diikuti oleh Ev. “Beda saja rasanya kalau sudah halal.”
Ev tersenyum lebar mendengar perkataan sang suami. “Aku bahagia D. Terima kasih karena sudah membuat aku merasakan kebahagiaan sebesar ini.”
“Sama-sama, sayang. Everything for you,” balas Dean seraya mengakhiri tarian mereka dengan indah. Bahkan saking indahnya, para hadirin yang menyaksikan ikut terpesona dibuatnya.
Rona bahagia begitu terpancar di wajah keduanya. Tidak ada seorang pun yang menampik hal tersebut. Tidak terkecuali bagi seorang pria yang tengah duduk di atas kursi roda modern dengan tangan menyangga sebuah iPad iphone 6s yang tengah menampilkan acara pernikahan Ev dan Dean dari awal hingga akhir acara. Sudut-sudut bibirnya tertarik saat berhasil memperbesar resolusi gambar pengantin wanita yang tengah tersenyum lebar pada momen foto bersama. Ada putra mereka pula di antara mereka. Anak laki-laki itu tampak gagah dalam balutan pakaian yang seragam.
“Kamu terlihat sangat bahagia,” lirihnya. “Lebih bahagia ketimbang menjalani prosesi pernikahan denganku. Aku senang sekali melihatnya. Dengan begini aku dapat pergi dengan tenang, karena kamu dan putra kita telah berada di tangan yang tepat.”
Setelah berkata demikian, pria dengan piyama rumah sakit itu tersenyum lebar sembari menyimpan iPad tersebut di atas nakas. Senyum di bibirnya tak luntur sama sekali, sekali pun rasa sakit yang menggerogoti tulang belakangnya kian menyiksa. Dia tetap tersenyum saat matanya mulai meredup. Bayang-bayang wajah cantik yang berseri-seri dilingkupi oleh kebahagiaan milik sang mantan istri, juga wajah darah daging nya yang ikut menampilkan raut bahagia, begitu terkenang dalam ingatan hingga napas terakhir yang dia hembuskan.
Menutup ingatan terakhir yang dia miliki di dunia ini.
🥀🥀
TBC
TAMAT, TAPI ....... (isi sendiri 🤭)
GIMANA BUAT PART INI? MASIH KURANG??
ADA KABAR BAIK JUGA BUAT READERS SETIA RADITYAN SERIES. SETELAH LAPAK INI SELESAI, AKU BAKAL STAY DI LAPAK BUKAN DIJODOHKAN. CUNG YANG UDAH GAK SABAR?
BDJ KALI INI AKAN AKU REVISI DARI ALUR TERAKHIR. TIGA BAB AWAL JUGA SUDAH AKU REVISI MULAI DARI TANDA BACA, TYPO, DLL. JADI, BUAT READERS SEMUA JANGAN LUPA ADD BDJ, BUAT YANG BELUM ADD ❤️
Sukabumi 15/05/22
__ADS_1