Berbagi Cinta: Mistress (Wanita Simpanan)

Berbagi Cinta: Mistress (Wanita Simpanan)
M23 : INI KAH, PEMBALASANMU EV?


__ADS_3

M23 🥀 : INI KAH, PEMBALASANMU EV?



...(Ev bisa tersenyum lagi bersama Dean 🙂)...


...🥀🥀...


“Mas mau berangkat sekarang?”


“Hm.”


“Tapi di luar masih hujan lebat, mas.”


Ella, wanita yang berdiri di dekat sang suami itu mengalihkan pandangannya pada jendela. Di luar sana, hujan masih sangat deras disertai angin kencang, sedangkan suaminya bersikukuh akan segera pergi. Pria itu tampak tidak bisa tenang setelah wanita cantik yang kemarin menyambangi kediaman mereka pergi begitu saja. Kendati tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi, Ella cukup yakin jika ada sesuatu yang akan terancam di antara suami dan wanita yang mengaku partner suaminya. Mungkin kerja sama mereka terancam dibatalkan, karena kemarin mereka mengungkit-ungkit soal perjanjian.


“Jaga diri kalian baik-baik selama aku pergi.”


Darren yang baru saja mengepak pakaiannya, menyempatkan diri sejenak untuk menghampiri sang istri. Menyentuh wajah wanitanya sayang, kemudian beralih pada area perut. Sebenarnya Darren juga tidak tega untuk meninggalkan sang istri yang tengah berbadan dua. Apalagi dalam kondisi saat ini, wanitanya mudah mengalami keguguran.


Dengan berat hati, Darren harus pergi meninggalkan sang istri. Menerobos hujan juga angin kencang yang tiba-tiba menerpa bumi. Seolah-olah semesta ikut murka atas apa yang telah menimpa salah satu umat-Nya. Di perjalanan menuju ibu kota, Darren sempat beberapa kali menghubungi nomer sang istri. Namun, hasilnya nihil. Kemudian Darren beralih menghubungi sang sekretaris. Pada panggilan pertama, dia gagal menghubungi karena nomer sang sekretaris sibuk.


“Damn, pick up the phonel! (sial*n, angkat teleponnya!)” umpat Darren murka.


Bagaimana Darren tak murka, jika saja sekretarisnya bekerja dengan baik, tidak akan begini kejadiannya. Padahal, sebelum pergi dia sudah sempat berpesan untuk mengawasi sang istri. Jika saja Damian becus mengawasinya, tidak akan ada insiden kecolongan seperti saat ini. Jika sudah begini, siapa juga yang repot?


Bohong jika Darren bisa berpikir logis pasca kedatangan istri sahnya secara tiba-tiba. Dia belum siap, setidaknya sampai dia siap, seharusnya rahasia ini tetap tertutup rapat.


Tiba di Jakarta setelah mengemudi kilat plus menerobos hujan lebat, Darren buru-buru mencari sang istri kala tiba di mansion.


“Ev, di mana kau?” panggilnya cukup keras. Namun, dia tak menemukan si empunya nama di manapun.


“Nyonya tidak ada di rumah, tuan,” ujar Bibi yang datang tergopoh-gopoh dari arah dapur. Wanita paruh baya itu tampak terkejut melihat sang Tuan pulang dengan keadaan murka. Wajah pria rupawan itu tampak datar, namun menakutkan dalam waktu bersamaan.


“Panggil maid yang biasa melayani istri saya.”


“B-aik, tuan.”


Setelah berkata demikian, si bibi pamit undur diri. Meninggalkan Darren yang memilih singgah ke ruang tengah terlebih dahulu. Sembari menunggu, pria itu menatap anak kesayangan sang istri yang tampak menatapnya balik dari dalam aquarium. Ikan yang sudah tinggal di sana sepenjang usia pernikahannya dengan Ev itu tampak tak suka melihat kepulangan Darren.


“Ada apa? Apa kau tahu ibumu marah lagi?”


Darren beranjak, mendekat ke arah aquarium. Menatap si ikan gempal bernama Emilio, anak kesayangan istrinya, Evelyn.

__ADS_1


“Dia sempat pulang ke rumah ini bukan? Apa dugaanku salah?” tanya Darren lagi seraya menyentuh kaca pembatas antara dia dan Emilio.


“Apa ibumu terlihat sedih saat kembali?”


Emilio, si ikan arwana kesayangan Ev melengos begitu saja kala Darren bertanya untuk ketiga kalinya. Membuat pria itu tersenyum masam melihatnya.


“Lihat, sifat ibu dan anak sama saja.” Gumamnya tanpa sadar. Sama-sama cuek dan suka menghindari pembicaraan.


“Tuan memanggil saya?”


Darren refleks berbalik, “iya.”


“Apa ada yang bisa saya bantu?”


“Di mana istriku?”


“Nyonya?” maid muda yang biasa melayani istrinya itu—Dini—tampak berpikir sejenak. “Saya tidak tahu di mana nyonya Ev berada. Kemarin nyonya pulang sebentar, kemudian pergi lagi setelah berganti pakaian.”


“Dengan siapa dia pulang dan pergi?”


“Tuan Dimi,” jawab Dini jujur.


“Apa Ev mengatakan akan pergi ke mana?”


Dini menggeleng. “Tidak, tuan.”


“Tapi, pagi ini nyonya meminta beberapa setel pakaian untuk dikirimkan ke apartemennya.”


Mendengar itu, Darren langsung menatap lawan bicaranya lekat. “Apartemen?”


Dimi mengangguk. “Nyonya punya apartemen di dekat GI.”


“Sejak kapan?”


“Mungkin sekitar tiga atau dua tahun yang lalu. Nyonya mendapatkan apartemen itu sebagai hadiah dari tuan Dean.”


“****!” Darren tanpa sadar mengumpat. Kenapa dia baru tahu jika sang istri punya apartemen pribadi?


Kemana saja dia selama ini? Apa Damian—sekretarisnya—juga tidak mengetahui informasi sepenting ini?


Ev memiliki apartemen pribadi, selain apartemen yang diberikan kepadanya sebagai hadiah pernikahan lima tahun silam. Setahu Darren, Ev memang memiliki banyak properti, tetapi sebagian besar ada di luar negeri. Di dalam negeri masih dapat dihitung jari. Sebagian besar malah sudah Ev jual, karena tidak digunakan. Sedangkan soal apartemen satu ini, Darren baru tahu.


Jadi, selama ini Ev memiliki apartemen lain dari Dean. Apa wanita itu sering berkunjung ke apartemen itu? Apa apartemen itu sengaja diberikan pada Ev agar Dean bisa leluasa mengajak Ev bertemu? Memikirkan itu, Darren mengeram lirih. Dia merasa dibohongi.

__ADS_1


Maka dengan segera, Darren meninggalkan rumah. Tancap gas menuju apartemen sang istri, melalui alamat yang diberikan oleh Dini. Tidak bisa dibiarkan. Darren tidak akan diam saja setelah mengetahui hal ini. Lagi pula, ada banyak hal yang perlu dia bicarakan bersama Ev. terutama soal pernikahan mereka.


“Ev, open the door!”


Ketika tiba di lokasi yang dimaksud, Darren dengan ekspresi flat andalannya, tetapi dengan suara penuh intimidasi menggedor pintu unit apartemen yang dimaksud Dini.


“Buka pintunya, Ev. aku tahu kau ada di dalam,” ujar Darren naik pitam.


Untung saja kondisi lorong di mana unit apartemen itu berada cukup sepi. Jadi, Darren bisa berbuat sesuka hati tanpa harus menjaga image. Untuk masalah CCTV yang ada di beberapa sudut ruangan, dia bisa menyuruh anak buahnya untuk mengurusnya.


“Ev, buka pintunya atau….”


Cklak!


Pintu besi yang sedari tadi tertutup tiba-tiba terbuka. Ketika terbuka, sebuah siluet yang berdiri di ambang pintu berhasil membuat Darren murka.


“Damn, apa yang kau lakukan di sini?” ujarnya seraya melayangkan satu pukulan pada pria yang hanya mengenakan celana jeans tanpa atasan tersebut.


“Wah, tidak kusangka akan mendapat sambutan seperti ini dari tuan Darren Aryasatya Xander.”


“Berhenti bicara omong kosong, sial*n.” Darren yang sudah memasuki unit apartemen tersebut menatap lawan bicaranya tajam. “Apa saja yang telah kau lakukan dengan istriku di tempat ini?!”


“Aku… dan istrimu?” Dean—pria yang baru saja kena pukul itu terkekeh kecil seraya mengusap sudut bibirnya yang pecah. “Kau pikir saja sendiri, apa yang pria dan wanita dewasa lakukan saat tinggal satu atap.”


Darren mengepalkan tangannya kuat. Pikirannya bercabang ke mana-mana. Dia menolak yakin akan ucapan Dean, namun sepersekian detik berikutnya sumber dari pembicaraan mereka muncul dari balik pintu yang dia yakini sebuah kamar. Hanya mengenakan atasan T-shirt hitam berukuran besar, hingga menutupi setengah paha. Wajahnya tampak bersih dari sapuan make up, kentara sekali jika dia baru bangun tidur.


“Darren….”


Si empunya nama tersenyum miring, kala wanita itu—istrinya—menyadari kehadirannya.


“Jadi ini kah pembalasan mu, Ev?” tanyanya seraya berjalan mendekat.


“Maksud kamu?”


Ev yang masih berdiri di tempatnya semula menautkan kening kala Darren berucap demikian.


“Kau tidur dengannya, Ev?” tanya Darren to the point. Matanya menatap Ev lekat. Seolah-olah wanita itu hewan buruan yang tidak boleh lepas.


“Kau tidur dengan bajing*n ini saat masih berstatus istriku, Evelyn Xander?!”


...🥀🥀...


...TBC...

__ADS_1


...Next?? jangan lupa like, vote, spam komentarrrr, follow Author & share....


...Tanggerang 13/01/22...


__ADS_2