
M30 🥀 : KAMU ISTRIKU, MAKA MENURUTLAH!
Lantunan musik piano solo klasik karya Ludwig van Beethoven yang berjudul Fur Elise yang ditulis sekitar tahun 1810, menyapa gendang telinga Darren saat memasuki ruangan dimana acara anniversary D’EV berlangsung. Fur Elise atau dalam Bahasa Jerman artinya ‘kepada Elise’ adalah karya musik klasik yang menceritakan tentang kisah cinta dan penggambaran cinta sejati sang komposer terhadap kekasihnya yang bernama Elise.
Dengan langkah lebar Darren memasuki ruangan tersebut. Hanya segelintir orang yang menyadari kehadirannya, pasalnya sebagian besar perhatian tersedot ke area dance floor. Tepat di mana seorang pria memainkan jemarinya di atas tuts-tuts piano dengan lihai. Didampingi dengan seorang wanita cantik yang begitu familiar.
Darren mengatupkan rahang melihat pemandangan itu. Seharusnya mereka tidak begitu! Tidak duduk berdua sembari melempar senyum pada masing-masing. Tidak mengumbar kemesraan di depan umum, mengingat status si wanita adalah istri pria lain.
“Darren, kamu datang?”
Merasa dipanggil, si empunya nama menoleh. Menemukan sosok familiar yang datang mendekat.
“Ev bilang kamu tidak bisa datang.” Diana Xander—ibu pria rupawan tersebut—menatap putranya dengan raut terkejut. Pasalnya, menurut informasi dari sang menantu, putranya tidak bisa datang karena suatu alasan.
“Maksudnya tidak bisa datang bersamaku.” Darren tersenyum tipis, sekptis. Mengoreksi ucapan sang ibu.
“Itu pasti karena kamu terlalu sibuk, sehingga tidak bisa menemani Ev.” cerocos Diana seraya membenarkan letak dasi yang dikenakan sang putra. “Lihat, Ev cantik sekali malam ini. Dia seperti seorang malaikat. Kamu beruntung sekali memiliki istri seperti Ev.”
Darren tersenyum tipis. “Mama masih bisa memujinya?”
“Loh, kok kamu bilang gitu? Tapi, jujur. Ev memang cantik sekali malam ini.”
“Iya, cantik,” ujar Darren menggantung kalimatnya.
“Akhirnya Ev mau datang ke acara anniversary D’EV. Semua orang sangat menanti kehadirannya. Lihat, sekarang Dean juga sedang menampilkan keahliannya. Khusus untuk Ev.”
“Mama senang dengan itu?” Darren bertanya seraya menatap sang ibu.
“Oh, ayolah, son. Siapa yang tidak senang melihat mereka. Semua orang di sini senang melihat persahabatan Darren dan Ev.”
“Persahabatan? Tch.” Dean berdecih pelan. “Tidak ada yang namanya persahabatan di antara seorang pria dan wanita dewasa.”
Diana menatap sang putra dengan lais terangkat. “Kamu kenapa, sih? Semua orang juga sudah tahu hubungan Darren dan Ev.”
“Dan dunia juga tahu jika wanita yang tengah bermesraan dengan pria lain itu adalah istriku,” ujar Darren mengkoreksi.
“Iya, Ev istri kamu. Tapi, kalau kamu terlalu sibuk dengan yang lain. Apa salahnya jika Ev mencari pengalihan.”
Deg!
“Maksud mama?” tanya Darren hati-hati. Apa ibunya itu sudah tahu?
“Maksud mama, kamu jangan terlalu sibuk dengan yang lain, seperti pekerjaan. Kalau kamu tidak sibuk mengurusi pekerjaan, Ev pasti hadir bersama kamu.” Diana menatap sang putra lekat, sedetik kemudian kembali angkat bicara. “Dean sahabat Ev. Mama sudah tahu itu sejak lama, bahkan sejak kamu belum memiliki ikatan apapun dengan Ev. Jadi jangan berlebihan. Mama juga tahu kamu tidak bisa datang karena lebih memilih meeting bersama client.”
Darren tak berkutik. Dia memang enggan datang pada awalnya.
__ADS_1
“Sekalipun menantu kesayangan mama bisa berbuat hal menjijikan dengan sahabatnya itu?” tanyanya tiba-tiba.
Diana menatap putranya tak percaya. Di akhir lantunan suara piano yang dimainkan oleh Dean di area dance floor, wanita itu dapat mendengar dengan jelas ucapan sang putra.
“Mama tahu betul sifat Ev, Darren. Mungkin melebihi kamu yang notabene adalah suaminya.” Tatapan wanita paruh baya itu tampak terluka. Darren agak terganggu melihat itu. Apakah dia kembali menggores hati sang ibu?
“Jangan pernah kamu berkata demikian. Ev adalah wanita terhormat. Dia selalu bisa menjaga kehormatannya, apalagi dia adalah seorang istri dari Darren Aryasatya Xander. Menantu yang sudah seperti putri mama sendiri. Mama tidak akan tinggal diam jika kamu menyakiti Ev.”
Setelah berkata demikian, Diana meninggalkan sang putra seorang diri. Darren menghela nafas berat. Sepertinya, kalimat yang dia lontarkan barusan cukup keterlaluan. Buktinya, sang ibu tersinggung. Bisa lihat sendiri bukan, bagaimana Diana membela Ev?
Darren jadi berandai-andai, bagaimana jika ibunya sampai tahu apa yang selama ini dia sembunyikan? Soal pernikahan with benefit dengan Ev, juga soal perselingkuhannya. Ditambah fakta jika sebentar lagi keturunan Xander akan hadir dari rahim wanita lain, bukan wanita yang ibunya harapkan.
Argh, Darren pening sendiri memikirkan semua itu.
Omong-omong, pertunjukkan telah selesai. Manik hitam miliknya langsung bergerilya mencari sang istri. Alasan kenapa Darren rela datang ke sini. Tak lama, Darren berhasil menemukan sosok cantik yang mengenakan dress berwarna silver tersebut. Benar kata ibunya, dia sangat cantik. Bak malaikat yang tengah plesiran ke bumi. Senyum senantiasa mewarnai bibir ranumnya. Hal yang mustahil terjadi jika wanita itu dekat dengannya.
Melihat Ev pamit pergi bersama Dean, Darren bergerak cepat. Tidak lagi. Dia tidak akan membiarkan mereka bersama lebih lama lagi.
Darren mengikuti Ev dan Dean yang keluar dari aula utama, menjelajahi lorong demi lorong, sebelum berhenti di area yang menjadi batas antara area indoor maupun outdoor. Mereka berdiri di sana, tampak bercakap-cakap. Sedangkan Darren memilih berdiri di balik dinding, mengamati, juga mengawasi. Takut-takut apa yang dicurigai olehnya selama ini benar. Ada something di antara mereka. Sehingga si brings*k Dean selalu menggertak dengan penuh percaya diri. Pria itu bermimpi terlalu tinggi dapat merebut istri Darren Aryasatya Xander.
Namun, hingga beberapa menit berlalu, tidak terjadi sesuatu yang mencurigakan. Mereka hanya mengobrol biasa, tanpa ada indikasi yang mencurigakan. Darren kembali mengikuti keduanya yang hendak kembali. akan tetapi, Ev berpisah dengan Dean di tengah jalan. Sebelum berpisah, Dean sempat menyentuh pucuk kepala Ev sayang. Darren yang melihat itu tentu mengakui rasa tak rela yang bercengkol di hati.
Ev ternyata menuju toilet, pasca berpisah dengan Darren. Merasa kondisi cukup aman, Darren keluar dari persembunyiannya. Memasuki toilet yang sama dengan Ev, kemudian memutar kunci agar pintu terkunci dari dalam.
“Kenapa, kamu terkejut melihatku?”
“Tentu saja!” Ev menjawab jujur. Toh, ini toilet perempuan. Siapa yang tidak terkejut mendapati seorang pria ada di dalamnya. Apalagi ini Darren Aryasatya yang terhormat loh.
“Sedang apa kamu di toilet perempuan, Darren?”
“Menjemput istriku.”
Ev tertawa sumbang mendengarnya. “Istrimu ada di kampung. Kalau aku, cuma istri—“
“Stop it, Evelyn Xander!”
“Wow, jadi sekarang kamu mengakui aku sebagai nyonya Xander?” tanya Ev mengejek.
“Ya. Dan sampai seterusnya akan begitu.”
Ev lagi-lagi tertawa sumbang, membuat Darren muak sendiri. “Tidak akan aka kata ‘seterusnya’ bagi kita, Darren. Tuhan itu maha adil. Jadi, aku yakin jika pasanganku yang sebenarnya akan segera hadir.”
“Aku.”
“Apa?”
__ADS_1
“Pasanganmu yang dikirim Tuhan," ungkap Darren kelewat santai.
“Pptt.” Ev tertawa kecil. “Anda percaya diri sekali,” ujar Ev seraya membawa kedua telapak tangannya bermukim di dada bidang Darren yang masih terlapisi kain. “Tapi maaf, membuat kepercayaan dirimu tersinggung. Aku lebih percaya pada Tuhan soal pasanganku. Karena aku yakin, Tuhan itu maha adil. Apa kamu pikir Tuhan yang maha adil, akan terus menerus membuat umat-Nya tersiksa? Tidak. Kita tidak diciptakan berpasangan. Karena aku—“
Darren tidak mau mendengar apa-apa lagi. Maka jalan terakhir adalah membungkam bibir ranum itu keras-keras. Menelan kesiap yang hendak dilontarkan wanitanya dengan menggebu. Dibawanya pinggang kelewat ramping itu mendekat, sekalipun sepasang tangan mencoba memberi sekat di antara bagian atas tubuh mereka.
Darren tak habis akal. Dia itu pandai dalam segala hal. Tidak terkecuali jika urusan wanita. Ketika bibirnya sibuk membungkam dengan dalam, tubuhnya kian mengikis jarak yang tercipta di antara mereka. Dua menit kemudian, Darren memutus tautan bibir di antara mereka. Kali ini jajahannya pinda ke area leher.
Ev belum sempat berpikir jernih saat pria itu kembali menandai lehernya. Mengh*sap bagian terbuka tersebut, memastikan jika akan ada tanda yang tercipta. Padahal Ev sudah berupaya keras menutupi tanda yang dibuat pria itu kemarin malam. Sekarang, Darren kembali membuat tanda.
“Kenapa kamu melakukan ini kepadaku Darren?”
Si empunya nama terkesiap, mendengar suara yang biasa mengalun indah itu bergetar hebat.
“Ev, aku….”
“Kenapa harus aku? Apa aku pantas mendapat perlakuan menjijikan seperti ini?!”
“Ev, listen. I out of my control.”
Ev tersenyum miris. “Padahal kamu selalu bisa mengontrol diri lima tahun ke belakang. Tapi, kenapa sekarang begini? Bukannya kamu bisa melakukan semua ini dengan istri muda mu?!”
Darren tidak menjawab. Dia tahu perbuatannya salah. Namun, dia tak menyangka jika Ev akan bereaksi seperti ini. Apa tindakannya sudah sangat keterlaluan? Tapi, bukannya itu adil. Darren menampik rasa bersalahnya. Toh, Ev istrinya juga. Dia tentu punya hak untuk menyentuhnya.
“Kamu istriku, maka menurut lah.”
Kalimat yang kemudian meluncur begitu saja dari bibir Darren, membuat Ev kian murka. Awalnya dia ingin menampilkan karakter lemah, mungkin dengan cara itu Darren akan berhenti melakukan tindakan menjijikan pada tubuhnya. Tapi, semua terjadi di luar perkiraan Ev. Pria itu malah tak peduli, dan memilih melanjutkan kerjaannya yang tertunda. Menandai leher Ev. Dasar egois!
Dalam keputusasaan dan ketidakberdayaannya untuk melawan balik, Ev berdo’a di dalam hati. Semoga saja, satu nama yang dia panggil tiga kali dalam hati akan segera mengeluarkannya dari sini. Bak do’a mujarab yang langsung Tuhan dengar dan kabulkan, sepersekian detik kemudian terdengar suara dobrakan, disusul dengan terbukanya pintu di belakang tubuh mereka secara kasar dari luar. 2 orang berpakaian serba hitam tampak berdiri di depan pintu masuk, menjaga akses tersebut. Sedangkan pelaku utama yang baru saja membuka pintu dengan paksa, tampak marah. Terlihat dari wajahnya yang merah padam, mendapati Ev dan Darren ada di dalam ruangan sempit dalam posisi terlalu intim.
“SIAL*N, DARREN. APA YANG KAU LAKUKAN PADA EV!”
BUGH
BUGH
...🥀🥀...
...TBC...
...Next? Hujat mas ganteng dulu yok 🤣...
...Jangan lupa like, vote, komentar yang banyak, follow Author & share ❤️...
...Tanggerang 01/02/21...
__ADS_1