
M47 🥀 : MIMPI BURUK EV
Honeymoon adalah salah satu rangkaian yang terkadang dianggap ‘wajib’ dilakukan oleh pasangan yang baru melangsungkan pernikahan. Tujuan honeymoon sendiri adalah memberikan ruang bagi pasangan yang baru menikah untuk menikmati dan menghabiskan lebih banyak waktu bersama. Untuk alasan itu pula, perempuan cantik yang baru saja turun dari yacht boat itu, kini berada di Negara kepulauan yang memiliki sekitar 1.192 pulau tersebut.
Di mana lagi jika bukan Maldives atau Maladewa. Negara yang terdiri dari kumpulan atol (suatu pulau koral yang mengelilingi sebuah laguna) di Samudra Hindia. Maldives sendiri terletak di sebelah selatan-barat daya India, sekitar 700 km sebelah barat daya Sri Lanka. Maldives sendiri sering kali dijuluki sebagai pulau bulan madu dan pulau paling romantis di dunia, karena sering kali menjadi destinasi honeymoon paling popular.
Tak tanggung-tanggung, dia dan pria yang telah resmi menjadi suaminya akan menghabiskan waktu selama satu bulan lamanya untuk honeymoon di pulau yang sudah menjadi milik keluarga sang suami. Di pulau yang akan mereka tinggali, ada dua villa utama. Satu vila berada di daratan, sedangkan satu vila lain dibangun di atas air yang dilengkapi dengan kamar tidur di atas air dengan pancuran hujan indoor maupun outdoor. Masing-masing vila memiliki tiga kamar tidur, dengan satu master room, ruang tamu, kolam renang, dan Jacuzzi.
Fasilitas lain yang terdapat di private island ini adalah gym, lapangan golf, mini bar dan area jogging track. Selain itu, mereka juga bisa melakukan berbagai kegiatan yang mengasyikan seperti scuba diving, snorkeling, jet ski, ski air, dan beberapa jenis olah raga darat. Mereka juga tidak perlu khawatir kelaparan, karena ada koki handal yang siap menghidangkan makanan lezat kapanpun mereka ingin.
“Ayo masuk, kenapa diam saja di sana?”
Perempuan cantik yang mengenakan summer dress model two pieces dan sungless hitam yang membingkai kelopak matanya itu tampak tertegun. Di hadapannya, pria yang sudah menjadi suaminya semenjak sepekan yang lalu tampak berkali-kali lipat lebih tampan, fresh, manly dan perfect dalam waktu bersamaan. Tubuh atletis yang tingginya mencapai 180 cm lebih itu tampak terbungkus pakaian santai—celana pendek di atas lutut yang dipadukan dengan koas polos dari brand kenamaan—dia juga tidak lupa menggunakan sunglass hitam untuk melindungi kedua matanya.
Pria rupawan yang baru didapuk menjadi Chief Executive Officer atau CEO itu tampak berdiri di depan pintu yang baru saja dibuka. Di dalam ruangan sudah ada koper-koper mereka yang sudah diantarkan oleh petugas valet.
“Kita tidur satu kamar?”
“Hm. Kamar yang lain pasti sengaja dikunci.”
Perempuan cantik itu mengangguk, kemudian melangkah masuk. Pandangannya langsung disambut ruangan master room yang menyuguhkan keindahan hamparan laut dan hijaunya pemandangan dari kejauhan. Master room tersebut juga dilengkapi dengan ranjang king size, walk in closet, akses langsung ke private swimming fool, dan tentu saja dilengkapi dengan Jacuzzi.
“Dulu mama sama papa honeymoon di sini juga?” tanya perempuan cantik itu, memecahkan keheningan.
“Hm. Tapi, kamar yang sering mereka pakai ada di vila satu lagi.”
“Jadi keluarga kamu sering liburan di sini?”
“Tidak. Lebih sering ke pulau Dewata. Kamu pasti tahu sendiri alasannya.”
“Lebih dekat, fleksibel, dan hemat waktu,” jawab perempuan cantik itu. Dia tahu betul jika keluarga suaminya tidak suka membuang-buang waktu. Mengingat waktu adalah uang bagi mereka. Ya, keluarga Xander memang memiliki jadwal terbang yang tinggi. Oleh karena itu, tidak mudah bagi mereka mengosongkan jadwal hanya untuk berlibur.
Namun, di keluarga Xander sendiri selalu ada kebiasaan untuk mewajibkan para pengantin baru berlibur lama. Tak tanggung-tanggung, untuk sekali honeymoon saja, mereka akan merancangnya dengan baik. Mulai dari budget, destinasi honeymoon, akomodasi, hingga waktu yang telah tetapkan sejak jauh-jauh hari.
Kini, dia—Evelyn Angelista Atmarendra—yang baru saja sepekan diperistri oleh putra sulung keluarga Xander bernama Darren Aryasatya Xander, merasakan kewajiban tersebut. Mereka benar-benar akan melakukan honeymoon dan dibebastugaskan dari profesi mereka. Diana Xander bahkan berpesan pada semua pegawai yang bertugas di pulau private tersebut untuk mengawasi pengantin baru tersebut. Mereka dilarang meninggalkan pulau jika belum genap satu bulan. Handphone juga disita, agar mereka bisa benar-benar menghabiskan waktu bersama tanpa gangguan dari pihak luar. Mereka hanya boleh menerima telepon jika memang bersifat sangat urgent. Itupun harus seizin Diana.
Di hari pertama mereka tiba, mereka disuguhkan dengan kondisi pulau yang memang sudah dipersiapkan dengan matang agar cocok dengan nuansa romantic honeymoon. Saat malam datang, menutup hari, Ev dan Darren dijamu oleh berbagai menu makanan seafood. Mereka berduan melakukan romantic dinner di dekat pantai sembari menikmati semburat jingga yang perlahan hilang di ufuk cakrawala.
Mulai dari menu western seperti grilled prawn garlic butter, fish and chips, moules marinieres, salmon with creamy garlic souce, hingga menu makanan otentik khas Maldives seperti fuhunu mas atau jenis makanan laut yang terbuat dari ikan yang dipanggang dan dibumbui berbagai rempah, garudhiya atau sup tuna yang dimasak dengan bumbu sederhana, mas huni atau hidangan berupa ikan tuna suwir yang dicampur kelapa parut, lemon dan bawang. Ada juga hidangan pastry goreng bernama keemiya, yaitu lumpia goreng khas Maldives yang berisi ikan tuna suwir, kol, telur dan bumbu penyedap.
Awalnya, baik Ev dan Darren sama-sama menikmati honeymoon mereka. Mereka juga cepat beradabtasi dengan status baru. Oleh karena itu, mereka tidak terlalu canggung kala harus terkurung di dalam satu ruangan, bahkan tidur dalam satu ranjang. Mereka biasa melakukan berbagai aktivitas bersama—mengingat mata-mata Diana juga ada di mana-mana—mulai dari aktivitas pagi berupa olahraga bersama, kemudian beranjak siang mereka akan berjalan bersama di sepanjang bibir pantai. Sesekali mereka juga melakukan deeptalk kala hendak memejamkan mata di malam hari.
Untuk ukuran pasangan with benefit, Ev dan Darren pada awalnya dapat dikatan saling memunuhi kebutuhan masing-masing. Mereka juga enjoy menjalani hari-hari dengan status baru sebagai sepasang suami-istri. Namun, semua itu tidak bertahan lama.
Mengingat Ev dan Darren sendiri adalah tipikal manusia yang biasa menghabiskan hari-harinya bekerja di kantor atau di studio fhoto, menemukan titik jenuh kala terus menerus dihadapakan dengan kondisi yang membuat mereka tidak dapat melakukan aktivitas seperti biasa. Puncaknya terjadi pada minggu kedua, saat Darren mendapatkan telepon dari sekretarisnya. Pria itu baru tahu jika ada masalah internal di kantor, tetapi Diana tidak mengizinkan sekretaris Darren untuk menelpon.
Darren yang notabene tipikal pria workaholic, tentu tidak bisa diam saja saat mengetahui masalah tersebut. Namun, dia juga tidak dapat melakukan apa-apa karena terjebak di pulau ini. Ev juga tidak dapat membantu apa-apa.
Karena frustasi, malamnya Darren memilih mengahabiskan waktu di mini bar untuk minum minuman beralkohol. Dia marah juga kesal karena ibunya tidak member izin untuk pulang. Oleh karena itu, dia melampiaskan kemarahannya dengan cara minum minuman beralkohol. Berharap dengan demikian dia dapat meringankan sedikit beban di kepala.
“Sudah, Darren. Berhenti. Kamu terlalu banyak minum.”
Ev yang awalnya tidak menemukan sang suami saat terbangun di tengah malam, langsung mengambil mantel kemudian meninggalkan vila untuk mencarinya. Benar saja, saat mendatangi mini bar, dia menemukan sang suami di sana. Di temani dengan sebotol minuman beralkohol dan sloki yang masih terisi setengah alkohol. Ada seorang gadis berseragam pegawai juga yang tampak menemaninya.
“Sudah, jangan minum lagi, Darren. Mama tidak akan suka melihat kamu seperti ini,” ujar Ev seraya menarik sang suami. Menjauhkan pria tersebut dari minuman beralkohol yang sebenarnya pantang bari Darren.
“Satu gelas lagi, Ev. Baru aku akan kembali ke kamar.”
__ADS_1
Ev memutar bola mata malas mendengarnya. “No. Kamu sudah terlalu banyak minum.”
Setelah berkata demikian, Ev memerintahkan dua orang pria yang berkerja sebagai bartender dan staff mini bar untuk membantu membawa Darren kembali ke kamar. Entah berapa sloki alkohol yang diminum pria tersebut, sampai-sampai mabuk begini. Padahal Ev tahu jika Darren memiliki orientasi yang cukup tinggi terhadap minuman beralkohol. Karena sudah setengah sadar, Ev yang selanjutnya bertugas membuat pria rupawan lulusan Harvard itu tertelap dengan nyenyak.
Namun, karena bau alkohol yang cukup menyengat, membuat Ev memutuskan untuk menggantikan koas yang digunakan oleh sang suami dengan kaos yang baru. Mana bisa Ev tidur dengan baru alkohol yang sangat menyengat.
“Kamu mau apa?”
Ev yang baru saja menarik ujung kaos yang digunakan sang suami ke atas, kontan terbengong kala si empunya bertanya seraya membuka mata.
“Baju kamu bau alkohol. Aku mau menggantinya dengan yang baru.”
“Liar.”
“Aku tidak bohong, Darren. Aku cuma ingin menganti bajumu,” ujar Ev meluruskan.
Namun, alih-alih percaya dan membiarkan Ev melakukan tugasnya, pria rupawan itu malah menarik lengan Ev hingga membuat perempuan cantik itu terjerembab ke dada bidangnya.
“Apa-apaan kamu, Darren?!”
“Kamu berbohong. Bilang saja kamu ingin memanfaatkan kondisiku,” bisik pria setengah sadar tersebut.
“Aku hanya ingin membantu kamu,” tutur Ev. “Sekarang lepaskan aku!”
“Tidak. Kamu harus menemaniku malam ini.”
“What?” bingung Ev.
“Asal kamu tahu, aku sudah punya istri. Hm, dia wanita yang datang bersamaku.”
“Ya. Itu kamu, kan. Gadis di bar.”
“Ini aku, Ev. Istri kamu, Darren.”
“Kau tampak memiliki iris seperti istriku,” bisik suara baritone berat tersebut.
“Karena ini aku, Darren!” kesal Ev seraya memberontak. “Sekarang lepaskan aku. Kamu mabuk.”
“Aku tidak akan melepakanmu, gadis nakal.” Pria rupawan itu menyeringai kecil. Detik selanjutnya, dia membalik posisi sehingga Ev terkesiap bukan main. Sekarang, posisi Ev ada dibawah kungkungan pria bermarga Xander tersebut.
“Aromamu juga mirip istriku,” bisik Darren seraya mendekatkan wajah. "Manis, lembut, dan feminim."
“Kamu bau alkohol. Menjauhlah dari atas tubuhku,” kesal Ev seraya meronta-ronta. Namun, posisinya tertahan oleh tangan kekar sang suami yang mencengkram kedua pergelangan tangannya.
“Aku butuh pelampiasan. Mungkin menghabiskan satu malam denganmu akan menyenangkan.”
“No!”
“Aku tidak bisa melakukannya bersama istriku, karena kami terikat perjanjian. Jadi aku akan melakukannya denganmu saja.”
“Jika kamu berani menyentuhku, aku berjanji tidak akan pernah memaafkan kamu,” ancam Ev tak main-main.
Bukannya takut, pria yang berada di ambang batas kesadaran itu malah menyeringai tipis. Sedetik kemudian, salah satu tangannya melepas cengkraman dan bergerak cepat. Meremas dada kanan Ev tanpa tedeng aling-aling. Membuat si empunya meleng*h penuh protes.
“Aahhhhh ….apa-apan kamu, Darren!”
“Menyentuhmu.”
__ADS_1
“Jauhkan tanganmu dari tubuhku.”
“Tidak akan, sebelum aku mendapatkan apa yang aku mau.”
Ev kembali dibuat mengerang frustasi kala remasan tanpa perasaan itu kembali datang. Sebelah tangannya yang bebas dari cengkraman juga tak tinggal diam. Namun, pria di atasnya juga tidak mau tinggal diam. Dia membawa tangan Ev untuk disatukan ke atas kepala, kemudian dia cengkeram dengan erat. Mengkin esok hari pergelangan tangan Ev akan dihiasi bekas kemerahan.
“Biarkan aku memakan kamu malam ini,” bisik pria itu seraya menatap lawan bicaranya lekat. Belum sempat Ev melayangkan protes, dia sudah terlebih dahulu membungkam bibir Ev dengan ciuman liar yang menggebu-gebu.
“Aahhh ….berhenti.”
Ev yang diperlakukan demikian tentu tidak mau tinggal diam. Dia berusaha, meronta-ronta hingga menggigit bibir lawannya. Namun, karena pada dasarnya pria rupawan itu sudah kehilangan akal karena alkohol juga emosi yang tidak stabil, membuatnya bertindak bak orang kesetanan. Setiap jengkal yang dilewati jemarinya, maka akan dia sentuh, kecup, juga tinggalkan jejak.
Ciumannya menggebu-gebu, begitu liar, nan menggelora. Bibir Ev yang ranum, dan sebelumnya tidak pernah diperlakukan demikian, dia l*mat habis. Membiarkan saliva mereka berbagi lewat tautan tersebut, bahkan dia tak sungkan mengajak lidah Ev berdansa dengan hebat di antara tautan liar tersebut.
Darren Aryasatya Xander malam itu menggila. Dia menyentuh, mencium, mencumbu sang istri habis-habisan. Erangan frustasi Ev sesekali terdengar memenuhi rungan yang dibanjiri sinar dari lampu. Dia tidak bisa melawan saat tubuhnya terus dijamah oleh pria yang berstatus sebagai suaminya itu. Tenaganya semakin terkuras karena digunakan untuk meronta-ronta. Namun, semua rontaan itu tak ada efeknya bagi sang suami yang memiliki performa bak seorang Dewa perang. Pria yang sudah half naked itu bahkan dengan mudah membuat sleepwear yang digunakan Ev terkoyak. Membuatnya semakin mudah menjamah apapun yang bisa dilihat dan raba.
“Aahhh ….Darren, berhenti. Berhenti ….kumohon,” pinta Ev risau, kala jemari milik pria itu sudah tiba pada area paling privat miliknya.
“Kenapa harus berhenti, hm?”
“Ini tidak benar,” jawab Ev dengan nafas tak beraturan. “Kamu mabuk. Kita juga punya ….perjanjian.”
“Perjanjian?” ulang pria tersebut, tanpa menghentikan jemarinya yang sudah menyentuh sesuatu di bawah sana. “Aku akan membawamu merasakan surga dunia. Kamu tidak mau?”
“Tidak, aku tidak mau. Kita bisa melakukannya jika kamu ….dalam keadaan sadar dan kita sama-sama menginginkannya.”
“I want to eat you,” bisik pria rupawan itu dengan suara kian berat. Jemarinya sudah bergerak menyentuh kain terakhir yang menutupi tubuh istrinya. “Now, my girls.”
Benar saja, setelahnya Ev dapat merasakan kain terakhir yang melekat ditubuhnya terkoyak begitu saja. Suhu dingin di ruangan tersebut kian nyata memeluknya. Ev tidak tahu lagi harus berbuat apa. Memberontak pun percuma. Darren terlalu sukar untuk ditumbangkan. Otak Ev buntu. Apalagi saat ciuman panas, liar dan penuh tuntutan kembali Darren berikan. Bersamaan dengan itu, Ev bisa merasakan ada yang mendesak masuk di bawah sana. Kontan, Ev menitihkan air mata bersamaan dengan rasa nyeri yang datang. Rongga dadanya dilingkupi rasa sesak.
Ev menyayangkan kesialan yang menimpanya hari ini.
Padahal mereka bisa saja melakukan hubungan seperti ini, selayaknya hubungan suami istri pada umumnya jika mereka sama-sama menginginkan. Hal itu juga tertuang dalam perjanjian mereka. Namun, Ev tidak mau melakukan hubungan suami istri tanpa persetujuan kedua belah pihak. Apalagi Darren melakukannya dalam keadaan tidak sadar. Pria itu berada di bawah pengaruh Alkohol. Ev merasa dilecehkan. Tubuhnya dijamah tanpa persetujuan. Dia dianggap orang lain oleh suaminya sendiri. Mahkota yang telah dia jaga dengan baik direnggut dengan paksa—oleh pria brengs*k yang sayangnya adalah suaminya sendiri.
Malam itu, Darren menghujam Ev berulang kali. Tanpa peduli jika itu adalah pengalaman pertama bagi sang istri. Hingga menjelang pagi, pria itu terus-menerus menggauli sang istri. Menumpahkan cairannya ke rahim wanitanya tiada henti. Hingga fajar hendak terbit kembali, pria itu baru berhenti. Menjatuhkan dirinya di samping sang istri yang puas digagahi.
Tanpa suara, tanpa air mata, perempuan cantik yang telah sepenuhnya menjadi wanita itu kemudian beranjak dengan sisa-sisa kekuatan yang ada, meninggalkan tempat yang menjadi saksi biru keberingasan sang suami dengan langkah terseok-seok.
Malam itu, dia diperlakukan tidak manusiawi.
Malam itu, dia menangis dan berteriak tiada henti. Hingga air mata dan suara itu tak sanggup keluar lagi.
Malam itu, adalah mimpi buruk Ev.
🥀🥀
TBC
Silahkan berspekulasi di kolom komentar 🙏
Nulis part ini bikin Tremor. Gimana menurut readers??
Jangan lupa like, vote, komentar, follow Author & share ❤️
Sukabumi 18/03/22
23.02 WIB
__ADS_1