
NOTE : KALAU RAME, DOUBLE UPDATE DEH ✌️
JANGAN LUPA LIKE & KOMENTAR ❤️
M45 🥀 : TAK MAU KALAH APALAGI MENGALAH
Perceraian bukanlah perkara mudah apalagi simple. Ada proses panjang sampai pada ketuk palu. Maka tak ayal jika proses perceraian maksimal akan memakan waktu 6 bulan lamanya. Dalam proses tersebut, pihak penggugat maupun tergugat harus hadir. Setidaknya satu kali. Jika salah satu dari keduanya sama sekali tidak hadir, maka gugatan yang dilayangkan dapat digugurkan oleh Hakim.
Pada sidang pertama yang jatuh pada hari ini, Ev hadir ditemani oleh sang kakak, Dimi lawyer dan tentu saja Dean. Ev tampak cantik menggunakan blus warna putih yang dipadukan dengan rok pendek dark-brown berbahan kulit sembari memegang dua tas dalam satu, Twist PM and Twisty. Tas berwarna rose rounge ini dibanderol dengan harga sekitar 4150 USD atau sekitar 56 juta rupiah dan untuk Twist PM and Twist Wallet sekitar 685 USD yang harganya sekitar 9 juta rupiah. Kedua tas ini dapat digunakan berlapis maupun terpisah, dilengkapi dengan tali yang dapat diperpanjang atau diperpendek. Sedangkan kaki jenjangnya dilapisi oleh Stiletto Jimmy choo bridal Romy Pointed Pumps With Tiara 36.5 $1, 295 berwarna putih.
Awalnya Elina Atmarendra, Diana Xander dan Dessy Wijawa ingin ikut serta menemani Ev. Namun, rencana itu ditolak Ev dengan halus. Ev sudah tahu jika para awak media pasti sudah menunggu kedatangannya. Dia tidak mau para wanita yang disayanginya itu ikut jadi sasaran para awak media nantinya. Karena tidak dapat menemani sang putri secara langsung, Aston Wiliam Atmarendra—daddy Ev—memilih mengikutsertakan empat bodyguard untuk menjaga keamanan sang putri.
Benar saja apa yang Aston Wiliam Atmarendra perkirakan, para awak media yang sudah menunggu Ev di pengadilan Agama, langsung mengerumuni Ev kala baru menginjakkan kakinya. Berbagai pertanyaan diiringi blitz terdengar ricuh di indra pendengaran. Dengan pengawalan yang ketat, Ev akhirnya bisa menerobos lautan awak media.
Tak sampai dua puluh menit berselang, kedatangan mobil Range Rover milik salah satu pengusaha yang terkenal seantero nusantara, membuat para awak media kembali bersiaga. Orang yang mereka tunggu-tunggu datang juga. Berharap jika kali ini mereka bisa mendapatkan secuil informasi dari pihak Darren Aryasatya Xander yang tampak datang hanya bersama sekretarisnya, dan lawyer. Lagi-lagi, para awak media hanya bisa menelan rasa kecewa karena pihak Darren juga memilih bungkam dan bergegas masuk ke dalam gedung.
Pria yang tampak rupawan seperti biasa itu, hadir dalam outfit formal bernuansa monokrom. Raut wajah datar dan dingin suami super model itu juga tak luput dari jepretan kamera para awak media. Berbanding terbalik dengan pihak sang istri yang tampak luar biasa cantik dalam outfit semi formal. Namun, raut wajah super model itu masih dapat dikatakan ramah.
Hingga saat ini, penyebab kandasnya bahtera rumah tangga yang telah dibina selama lima tahun itu masih menjadi misteri. Beberapa unknown sumber mengatakan jika ada dugaan ‘orang ketiga’ yang menjadi penyebab kandasnya pernikahan mereka. Opini lain juga menyebutkan bahwa mereka menikah karena sudah tidak cocok, hingga menuding Evelyn Angelista tidak dapat memberikan keturunan untuk Darren Aryasatya Xander.
Kehadiran pasangan bertitel ‘couple goals’ di pengadilan agama pagi itu, tentu membawa kehebohan tersendiri. Beberapa staf perempuan yang tidak dapat membendung rasa penasaran mereka, sesekali tampak berbisik-bisik sembari mencuri-curi pandang.
Ev yang sadar akan itu lebih banyak memilih diam dan memainkan handphone saat diminta menunggu. Di sisi lain, Dimi dan kakak Ev tampak sesekali berdiskusi ringan dengan lawyer. Sedangkan Dean, memilih menemani Ev dengan jaga jarak aman tentunya. Dean juga masih punya akal sehat, sehingga dia tidak mau kedekatannya dengan Ev malah menimbulkan pro-kontra yang nantinya akan menyulitkan jalan Ev.
“Ev.”
Ketika baru saja berdiri dari posisi duduk, karena namanya dipanggil seorang staf pengadilan, Ev menoleh ke samping karena mendapati panggilan lain.
Matanya tampak memicing kala melihat si empunya suara yang baru saja memanggilnya mendekat. Baru saja hendak buka suara, sang kakak sudah ambil bagian lebih awal. Pria itu beringsut maju, membuat Ev tampak terlindungi punggung tegapnya.
“Long time no see, adik ipar.”
Mendapat sapaan demikian dengan nada yang tidak dapat dikatakan ramah, Darren Aryasatya Xander tentu paham betul jika pria yang sudah lama tidak dia jumpai itu, kini amat membencinya.
“Hm. Long time no see, Ed.”
Perbedaan umur yang tidak terlalu jauh, membuat Darren biasa memanggil kakak dari istri pertamanya itu dengan nama panggilan yang akrab untuknya. Tanpa embel-embel kakak, mas, atau panggilan yang mewakili rasa hormat pada yang lebih tua.
“Tidak aku sangka jika pertemuan kita setelah sekian lama berakhir di sini,” ujar pria yang akrab disapa Ed tersebut. Masyarakat nusantara mengenalnya sebagai salah satu menteri muda yang memiliki etos kerja dan loyalitas yang patut diacungi jempol. Kehadirannya menemani sang adik pada sidang hari ini, tentu ikut menjadi tanding topik yang hangat dibicarakan di berbagai media.
__ADS_1
“Aku pun tidak menyangka kita bertemu di sini, Ed. Seharusnya aku menjamu kepulangan mu dengan seporsi nasi hangat dan ayam kemangi masakan bi Surti.”
Mendengar candaan yang terlontar dari pria berekspresi datar seperti Darren, sontak membuat Ed tersenyum kecil. Mereka memang cukup akrab, tetapi itu dulu. Keakraban itu bahkan sampai membuat mereka mengetahui beberapa hal yang mereka sukai dan tidak. Bukan rahasia lagi jika Ed—kakak Ev—sangat menyukai makanan bernama ayam kemangi masakan bi Surti. Katanya tidak ada duanya. Setiap kali ada kesempatan mampir ke mansion yang ditinggali adik dan adik iparnya, Ed akan menyempatkan waktu untuk sekedar menikmati seporsi nasi dan ayam kemangi.
“Ah, itu tidak perlu. Untuk kedepannya, Ev yang akan membuatkan ayam kemangi jika aku ingin. Jadi, aku tidak perlu jauh-jauh berkunjung ke tempat mu.”
Kalimat yang dilontarkan dengan nada biasa saja itu, bagi Darren ibarat sebuah peringatan jika Ed tidak lagi berniat datang ke mansion yang saat ini Darren tinggali, karena adiknya juga sudah tidak tinggal di sana lagi.
“Terima kasih sudah datang pada persidangan hari ini.”
Darren tampak menautkan kening mendengar ucapan kakak iparnya itu. Hal itu juga berlaku bagi orang-orang yang ada di sekitarnya.
“Setidaknya, dengan begini kamu telah setuju untuk melepaskan princess kami. Sekalipun kamu tidak mengembalikan Ev dengan baik, seperti kamu mengambil Ev kala hendak dijadikan istri. Tidak apa, sebagai seorang kakak aku sudah sangat berterima kasih.”
Pria bernama lengkap Edward Atha Atmarendra itu tersenyum tipis seraya menggeser tubuhnya. Memberikan space pada sang adik untuk unjuk muka. “Aku harap kamu tidak akan memohon-mohon untuk kembali pada princess kami karena penyesalan yang datang belakangan.”
Setelah berkata demikian, Ed meraih telapak tangan sang adik. Mengenggamnya erat, seolah-olah memberi support lewat tautan tersebut. Ev membalas sang kakak dengan senyum kecil. Mereka kemudian berlalu, memasuki sebuah ruangan di mana persidangan akan segera dilangsungkan. Meninggalkan Darren yang masih mematung di tempat.
Melihat Darren yang tidak bergerak sedikitpun dari tempatnya berdiri, Damian maju mendekat. Menyentuh bahu sang atasan agar dapat mengembalikan kesadarannya. Damian tahu, tidak mudah bagi sang atasan untuk berdiri di tempat ini. Pria itu telah mempertimbangkan banyak hal, sehingga dia kemudian setuju untuk datang ke pengendalian.
“Tuan, kita harus segera masuk.”
Mendengar kalimat itu, dibarengi sentuhan di bahunya, Darren kembali mendapatkan kesadaran. Pria itu kemudian berdeham kecil seraya mengangguk. Damian tersenyum tipis, memaklumi sang atasan. Namun, baru saja dua langkah, pria itu kembali berhenti. Kemudian melontarkan sebuah kalimat yang mampu membuat isi kepala Damian berhenti bekerja.
Maksudnya? Damian bertanya-tanya di dalam hati.
Tidak mau kalah?
Memangnya apa yang mau atasannya perjuangkan?
Rujuk?
🥀🥀
Seorang wanita muda yang mengenakan apron pink tampak tersenyum lebar menatap meja makan. Puas akan hasil kreasinya sejak pagi-pagi buta. Ada berbagai jenis menu makanan terhidang di atas meja makan, mulai dari ayam saus kacang, gulai cumi, tumis kacang polong, yang di-mix dengan jagung manis dan wortel, daging sapi yang dimasak dengan brokoli, perkedel jagung, hingga sup merah yang masih mengepulkan uap hangat. Ada pula beberapa kudapan manis seperti pisang kukus gula merah dan roti pisang coklat.
Semua masakan itu dia siapkan sebagai jamuan bagi sang suami yang katanya akan pulang saat makan siang. Dia tentu sangat antusias, karena suaminya sudah dua hari tidak pulang. Pria itu beralasan ‘sibuk’ kerja sehingga tidak sempat pulang. Hanya beberapa kali ada orang kepercayaannya yang datang untuk mengambil pakaian ganti, dan menyampaikan pesan dari suaminya.
Pria itu selalu berpesan agar dia jangan telat makan, kurang tidur, dan jangan ceroboh.
Selama dua hari itu pula, dia merasa sangat kesepian di rumah megah ini. Ah, Estrella jadi rindu rumahnya di kampung. Rumah yang terbilang sangat kecil jika dibandingkan dengan rumah ini. Namun, rumah itu adalah sebaik-baiknya rumah. Di sana dia merasakan kenyamanan yang sesungguhnya. Tidak seperti di rumah ini. Bagaimanapun juga, tempat tinggal orang lain pasti rasanya beda. Apalagi dia di sini hanya menumpang. Tolong digaris bawahi itu.
__ADS_1
Lelah setelah unjuk kebolehan di dapur, Ella memilih untuk beristirahat sejenak. Sembari mengelus perut rampingnya, wanita itu berjalan ke arah sofa yang ada di depan televisi 48 inch yang menempel di dinding. Dia sudah belajar cara menghidupkan televisi yang tidak pernah ditemuinya di kampung itu, lewat bi Surti. Sembari memangku semangkuk buah-buahan organik yang sudah dikupas dan dipotong dadu oleh seorang maid—sehingga memudahkan saat dinikmati—Ella memilih menonton televisi sembari menunggu.
Beberapa kali wanita muda itu mengganti channel karena acara yang ditayangkan tidak dia sukai. Dia suka menonton acara masak-masak, atau sesuatu yang berhubungan dengan bercocok tanam. Alih-alih menemukan acara yang disukai, Ella malah kembali pada channel yang tengah menayangkan acara infotainment. Dari channel satu ke channel lainnya, isu yang tengah ramai dibahas sepertinya memiliki topik yang sama. Hanya saja, cara mereka mengambil judul untuk ditayangkan berbeda-beda. Misal, pemberitaan yang kali ini menarik perhatiannya memiliki judul yang cukup membuat kedua bola matanya terpaku.
‘DIDUGA ADA ORANG KETIGA, ALASAN KENAPA PASANGAN DARREN ARYASATYA XANDER DAN EVELYN ANGELISTA TIBA-TIBA BERCERAI.’
Ella kembali mengganti channel. Namun, lagi-lagi dia menemukan pemberitaan yang hampir sama.
‘DATANGI PENGADILAN AGAMA, DARREN DAN EVELYN SAMA-SAMA MEMILIH BUNGKAM SOAL ALASAN PERCERAIAN.’
‘LIMA TAHUN MENIKAH, PASANGAN COUPLE GOLAS INI TIBA-TIBA MEMILIH BERCERAI. BENARKAH ADA PIHAK KETIGA?’
‘TERTANGKAP BASAH KELUAR DARI SALAH SATU RUMAH SAKIT MENGGANDENG SEORANG WANITA. BENARKAN DARREN ARYASATYA XANDER BERSELINGKUH?’
Ella menghela nafas gusar seraya mematikan siaran televisi. Niat hati ingin mencari hiburan lewat menonton televisi, jadinya malah begini. Kendati demikian, dari siaran televisi itu dia jadi tahu jika suaminya hari ini tengah menghadiri persidangan. Pria itu tidak pernah berkata apa-apa, karena bukan ranah Ella untuk ikut campur masalah pribadinya.
Namun, karena ketidaktahuan itu, Ella merasa tidak berharga. Nilainya bagi sang suami mungkin tak ada apa-apanya, selain istri kedua. Pemuas napsu. Pelampiasan. Atau, hanya sebatas mesin pencetak anak.
Entahlah Ella tak tahu. Dan untuk saat ini, dia juga tidak mau mencari tahu.
Tatapan wanita muda itu kemudian beralih, menatap mangkuk berisi potongan buah melon premium, apel, pir, dan anggur hijau dalam satu tempat. Sebelah tangannya mengambil garpu yang ada di sana pula, digunakan untuk menusuk salah satu potongan buah agar mudah dia nikmati.
“Maaf, mbak Ev,” gumamnya lirih sembari menatap potongan buah yang berada di ujung garpu. “Ella di sini gak tahu apa-apa dan gak bisa berbuat apa-apa. Bukan ranah Ella menghentikan mas Darren untuk menceraikan mbak. Ella juga gak bisa pergi gitu aja dari hidup mas Darren, karena Ella terlanjur cinta. Jauh sebelum Ella tahu mas Darren punya mbak Ev, Ella udah jatuh cinta. Jadi, maaf kalau Ella egois karena ingin terus bersama pria yang Ella cintai. Ayah dari bayi yang sedang Ella kandung. Semoga dengan perpisahan ini, mbak Ev dapat lelaki yang lebih baik dari mas Darren.”
Hembusan nafas kembali terdengar kasar. Wanita muda itu urung melahap potongan buah di ujung sendok garpu. Dengan gerakan lemah, dia malah kembali meletakkan benda itu di atas mangkuk.
“Mas Darren buat Ella aja ya, mbak. Ikhlasin. Kalau mbak ikhlas, Ella yakin bakal hidup bahagia bersama mas Darren dan anak kami,” ujarnya lagi seraya menatap gambar seorang wanita cantik yang potretnya terpajang di beberapa bingkai foto yang tersusun rapih di atas meja.
“Ella juga izin, mau tinggal di rumah ini lebih lama lagi. Hm, kira-kira sampai Ella bisa memperbaiki hubungan sama keluarga mas Darren. Mereka kelihatan sayang banget sama mbak Ev. Ella yakin, mereka juga bakal sayang Ella kalau udah kenal. Kita lihat aja nanti, kira-kira posisi mbak Ev bakal terganti atau enggak.”
Seberkas senyum tipis kemudian muncul di bibir tipisnya. “Kalau Ella sih yakin bakal bisa gantiin posisi mbak Ev di hati mereka.”
🥀🥀
TBC
SEYAKIN ITU?? KITA LIHAT AJA NANTI!
JANGAN LUPA LIKE, VOTE, KOMENTAR, FOLLOW AUTHOR & SHARE ❤️
__ADS_1
Sukabumi 16/03/22
10.40 WIB