
M53 : ODETH & ODIL
ODETH
ODIL
🥀🥀
Sekumpulan maid yang tengah beristirahat melepas penat selepas menyelesaikan tugas, tampak tengah menikmati sarapan sederhana sembari menonton siaran televisi pada layar tipis yang menempel di dinding ruangan istirahat khusus maid. Sebuah pertunjukan bertajuk ‘The Swan Lake’ atau Danau Angsa Putih karya F. Tschaikovski terpampang di sana. Segerombolan balerina cantik tampak mementaskan pertunjukan dengan apik, hingga tiba saat para pemeran utama antagonis dan protagonis muncul di tengah-tengah lantai dansa.
Kisah ‘The Swan Lake’ atau Danau Angsa Putih menceritakan tentang pangeran bernama Siegfried yang bertemu dengan putri Odeth yang dikutuk menjadi seekor angsa putih di sebuah danau. Sang pangeran yang terpesona akan kecantikan Odeth, berjanji akan membebaskan Odeth dari kutukan itu, dan mereka menarikan Par Dodou bersama-sama. Namun, si penyihir yang mengetahui hal itu berniat mengawinkan Pangeran dengan putrinya sendiri, si angsa hitam Odil. Pangeran yang awalnya tidak mengetahui hal itu, berdansa dengan Odil. Mereka menari dengan sangat indah.
Odeth pun berduka, karena mengira pangeran telah terpedaya. Ketika mengetahui jika dirinya ditipu, Pangeran merasa sangat kecewa. Tetapi dengan kekuatan cinta, sang Pangeran berhasil mengalahkan si penyihir dan putrinya—Odil. Pangeran juga berhasil membebaskan putri Odeth dari kutukan. (Dikutip dari : komik Mari-chan karya Kimiko Uehara)
“Biasanya kita nonton pertunjukkan balet sama nyonya. Kalau nyonya punya waktu luang,” celetuk salah seorang maid.
“Iya. Biasanya nyonya minta ditemenin nonton,” tambah yang lain.
“Sekarang nyonya gak ada di rumah ini. Rasanya….jadi ada yang hilang. Iya, gak, sih?” tanya yang lain.
“Iya!” jawab mereka kompak.
“Nyonya itu nganggap kita kayak bukan pelayan. Walaupun nyonya lebih deket sama Dini, tapi nyonya gak pilih kasih.”
“Iya, betul. Nyonya juga membebaskan kita.”
“Nyonya juga gak sungkan berhubungan baik dengan para maid.”
Para maid itu mengangguk dengan kompak. Mereka memang sangat kehilangan nyonya besar mereka. Bagaimana pun juga, nyonya besar mereka adalah orang yang sangat mereka segani. Ev di mata para maid adalah jelmaan batari yang sesungguhnya. Dia memiliki sifat yang baik, dan tidak muluk-muluk. Sebagai seorang nyonya, Ev juga tidak pernah membuat para maid-nya kesulitan. Ev juga memperlakukan para maid dengan manusiawi, tanpa membeda-bedakan mereka.
“Beda dengan wanita itu,” celetuk salah seorang maid.
“Wanita itu, maksudnya wanita simpanan tuan?” tanya yang lain.
“Iya, siapa lagi,” jawab salah seorang di antara mereka. “Wanita itu memang tidak membebani kita. Tapi, sikap sok polosnya itu bikin muak, iya, gak sih? Sekalipun dia berasal dari kampung, bukan berarti harus gitu juga.”
“Bener sih. Kadang gedek juga sama wanita itu. Polos banget, jatuhnya jadi dungu.”
Tanpa mereka ketahui, seorang wanita berdiri di dekat pintu ruangan istirahat tersebut. Dalam genggaman tangan wanita tersebut, ada sepiring cookies handmade yang masih hangat. Tubuhnya langsung kaku kala mendengar objek dari bahan pembicaraan tersebut adalah dirinya.
“Jangan gitu, guys. Gimana pun juga dia istri tuan,” lerai sebuah suara yang cukup familiar di telinga. “Dia juga lagi hamil, ‘kan? Kemungkinan besar anak dalam kandungannya bakal jadi penerus tuan Darren.”
“Bisa jadi enggak. Anak itu, kan, gimana pun juga hasil dari hubungan gelap. Kalian tahu sendiri, kan, kalau nyonya besar tidak mengakui anak itu sebagai cucunya.”
“Nyonya besar maunya cucu dari nyonya Ev.”
“Iya. Wanita sempurna, yang pasti bakal jadi ibu yang sempurna buat anaknya kelak.”
“Suatu saat nanti tuan juga pasti sadar kalau selama ini dia telah menyakiti wanita yang salah.”
Pembicaraan para maid itu tidak terdengar lagi, karena wanita muda yang tengah berbadan dua itu memilih memutar badan. Berjalan menjauh dari ruangan tersebut, seraya membawa sebongkah hati yang tersakiti.
Tiba di dapur, wanita yang mengenakan dress motif flora yang jatuh di atas betis itu langsung menuju ke arah tong sampah. Cookies handmade yang tampak tersusun cantik di atas piring—yang tadinya ingin diberikan untuk para maid—dia tuangkan begitu saja ke dalam tong sampah. Seulas senyum tipis tersungging di bibir, kala cookies yang dia buat dengan penuh cinta itu berakhir di tong sampah, bukan di lambung para maid.
“Kue buatan Ella terlalu berharga buat dimakan sama para penghianat yang sukanya bicarain orang di belakang,” lirihnya.
Setelah membuang cookies yang awalnya untuk para maid—sebagai tanda pendekatan diri—Ella beranjak menuju meja makan. Di sana, ada beberapa toples bening dengan berbagai ukuran, mulai dari ukuran toples 120gram, 150gram, hingga 320gram tersusun dengan rapih. Berbagai jenis kue kering seperti cookies coklat, nastar, lidah kucing pelangi, dan kastangel mengisi toples-toples tersebut.
Seharian ini dia memang banyak menghabiskan waktu untuk membuat kue kering, bermodalkan buku resep yang tersimpan di dekat lemari pendingin. Ella memang suka memasak, juga membuat kue. Waktu di desa, dia juga sering membuat kue-kue tradisional, baik yang basah maupun kering. Kata orang-orang yang memakan kue buatannya, rasanya juara. Jadi, berbekal kepiawaian itu, Ella mencoba menerapkannya di sini untuk membunuh rasa bosan. Hasilnya juga lumayan, tidak banyak yang gagal.
Setelah di-packing dengan rapih, dipercantik dengan hiasan pita berwarna-warni, Ella memasukkan kue-kue tersebut ke dalam paper bag. Rencananya, hari ini dia akan mengunjungi kediaman mertuanya untuk bersilaturahmi seraya membawa buah tangan kue buatannya. Ella tentu pergi bermodal nekad dan tanpa izin sang suami. Pria rupawan itu sudah pergi ke kantor sejak pagi-pagi buta.
Sekalipun tahu jika keputusannya ini akan membuat sang suami murka, Ella tetap tak gentar untuk mewujudkan keinginan itu. Jika bukan dirinya yang mendekatkan diri, siapa lagi? Bagaimana pun juga dia menantu keluarga Xander. Mau tidak mau, suka tidak suka, hal itu sudah tidak dapat dipungkiri lagi. Jadi, setelah berganti pakaian dengan dress ibu hamil terbaik yang dia temukan di lemari bajunya, Ella bergegas pergi bersama supir pribadi. Awalnya supir pribadi yang dulu bekerja untuk Ev sempat menolak mengantarkan, tetapi Ella berdalih telah mendapatkan izin Darren untuk pergi ke luar rumah.
“Kita pergi ke rumah nenek, ya, nak. Ini pertama kalinya kita berkunjung ke rumah nenek. Bunda gugup, apa kamu juga gugup?” gumam Ella seraya menyentuh permukaan perut yang mulai menonjol.
Usia kandungannya sudah memasuki minggu ke-9. Tidak terasa memang. Sudah dua minggu lebih juga dia tinggal di mansion yang dulunya ditinggali Evelyn. Seiring dengan berjalannya waktu, Ella semakin mudah beradaptasi dengan lingkungan baru. Dia juga sudah terbiasa dilayani sebagai ratu di kediamannya yang baru.
__ADS_1
“Ini rumahnya, pak?” tanya Ella, saat mobil yang dia tumpangi berhenti di sebuah gerbang yang menjulang tinggi. Gerbang tersebut dicat warna gold dan silver, sehingga menampilkan unsur yang mewah nan elegan.
“Iya, non.”
Ella mengangguk seraya tersenyum tipis. Mobil kembali melaju saat gerbang tersebut dibuka. Dari gerbang yang menjulang tersebut, kediaman utama keluarga Xander masih menjorok ke dalam. Sepanjang jalan menuju tempat tujuan, pandangan Ella dikelilingi oleh pemandangan jajaran pohon palm yang berdiri di sisi kanan dan kiri jalan. Memasuki area depan mansion, sebuah air mancur setinggi tiga kaki dikelilingi oleh patung Dewi-Dewi, tampak memanjakan mata. Berbagai jenis tanaman hias dari yang ukuran kecil hingga besar, tampak menghiasi sekeliling area depan mansion.
Ella diturunkan tepat di depan pintu utama. Saat menurunkan kakinya, Ella sempat diserang rasa ragu. Namun, wanita muda itu menepisnya jauh-jauh. Seraya membawa buah tangan buatannya sendiri, wanita muda itu melangkah dengan mantap. Sudah banyak tekad dan keberanian yang dia kumpulkan, hingga bisa sampai ke tempat ini. Sekarang, kenapa dia harus ragu? Padahal rumah sang mertua sudah ada di depan mata.
Seorang maid berpakaian khusus menyambut kedatangannya. Wanita muda itu memang sudah berulang kali menekan bel yang menggunakan metode fingerprint. Awalnya Ella sempat kebingungan mencari bel. Setelah menemukannya, dia juga kebingungan menggunakan benda tersebut, karena cara kerjanya tidak seperti bel konvensional.
“Maaf, nona mencari siapa, ya?” tanya maid itu ramah.
“Saya Ella. Saya ingin bertemu nyonya rumah ini.”
“Owalah, tamu nyonya Diana, toh?”
Ella mengangguk sebagai jawaban. “Apa ibu Diana ada?”
Maid itu mengangguk. “Nyonya kebetulan ada di rumah. Nona bisa masuk, biar saya antar ke nyonya.”
Ella tersenyum tipis seraya mengangguk. Wanita muda itu kemudian mengekori pelayan yang usianya mungkin kisaran 40 tahunan tersebut. Langkah pertama Ella memasuki ruangan tersebut, kakinya yang terbalut flatshoes disambut dengan lantai beralaskan marmer asli berwarna putih dengan gurat-gurat alami. Dua pilar besar juga Ella lewati kala memasuki ruang tamu yang tampak mewah dan megah. Satu set sofa berwarna gray yang tampak empuk dan nyaman untuk diduduki, menjadi interior dominan di rungan tersebut. Saat mendongkrak, pandangan Ella disambut dengan lampu Kristal gantung yang memancarkan kemilau cantik.
Melewati ruang tamu, Ella disambut dengan koleksi foto-foto berbingkai raksasa yang terpajang di sepanjang dinding yang dia lewati. Sebagian besar foto-foto tersebut bergaya formal, di mana dalam setiap foto memuat para anggota keluarga Xander. Tepat di ujung barisan foto-foto berbingkai tersebut, sebuah foto yang mencetak gambar sepasang pengantin menarik perhatian Ella. Di dalam foto tersebut, sang suami tampak gagah dalam balutan setelan formal yang pasti mahal. Di sampingnya, seorang wanita tampak cantik menggunakan wedding dress yang tampak cantik berhiaskan berlian Swarovski dan tiara-tiara terbaik. Lengkap dengan wedding veil yang menjuntai hingga lantai.
“Apa nanti foto mama bisa terpajang di sini, nak?” gumamnya, seraya menyentuh perut buncitnya.
“Nona, mari lewat sini,” ujar si maid, memperingati Ella yang sempat tertinggal di belakang.
“Ah, iya.” Ella kembali melangkah, mengikuti maid tersebut.
Setelah melewati sisi penuh foto-foto berukuran raksasa itu, mereka melewati sebuah air mancur dalam ruangan yang keluar dari sebuah patung dewi. Barulah setelah melewati air mancur tersebut, mereka memasuki sebuah ruangan yang didominasi oleh warna putih dan ivory. Aroma manis nan legit juga menyambut kedatangan Ella yang baru memasuki ruangan tersebut. Alunan musik klasik juga menggema di sana, seperti irama intro sebuah pertunjukan tari.
“Ada siapa, Bi?”
Sebuah suara lembut menyapu indra pendengaran, membuat Ella mengalihkan pandangan. Mencari arah sumber suara tersebut.
“Ini, nya. Ada tamu untuk nyonya.”
“Tamu saya?” Wanita bermarga Xander yang tadinya tengah berkutat di balik kitchen set itu berbalik, mengalihkan etensi. “Siapa?”
Maid itu menunjuk Ella yang berdiri di sampingnya. Diana Xander menoleh, menatap objek yang dimaksud oleh si maid. Untuk sepersekian detik berikutnya, wanita paruh baya itu terdiam mendapati tamu tak diundang tersebut.
“Bibi bisa kembali ke belakang,” ujar Diana berikutnya.
“Baik, nyonya.”
Maid tersebut kemudian pamit undur diri, meninggalkan kedua wanita beda generasi tersebut. Sepeninggalan maid tersebut, keheningan mengambil alih. Menyelimuti atmosfir di antara mereka.
“Apa yang membawa wanita simpanan putraku ini datang ke sini?”
Kalimat yang menjadi sambutan bagi kedatangan Ella itu kedengaran tidak bersahabat. Diana Xander bahkan secara to the point bertanya, kenapa Ella datang ke rumah ini. Padahal tidak ada yang mengundang untuk datang.
“Ella….cuma mau kasih ini….” cicit Ella lirih.
“Apa yang mau kamu kasih ke saya?” tanya Diana. Tatapannya beralih pada paper bag yang dipegang erat oleh wanita simpanan putranya.
“Ella tadi kebetulan buat banyak kue. Jadi….Ella mau kasih buat ibu. Bagaimana pun juga, ibu adalah orang tua suami Ella.”
“Kue?” Diana mengulang, memastikan.
Ella mengangguk sumringah, seraya menunjukkan paper bag bawaannya. “Ella harap ibu suka sama kue buatan Ella,” tambahnya.
Wanita muda itu kemudian beranjak, mendekati ibu mertuanya. Dengan keberanian yang entah didapat dari mana, wanita muda itu menyodorkan barang bawaannya. Tanpa Ella duga, Diana menerima paper bag itu dengan sukarela. Bahkan dengan seulas senyum terpatri di ujung labium.
“Kenapa harus repot-repot?” Diana bertanya seraya menyimpan paper bag tersebut di atas meja.
“Ella enggak merasa repot kok. Ella memang kebetulan suka buat kue.” Wanita muda yang tengah hamil itu menjawab dengan perasaan gembira.
“Saya menghargai pemberian kamu. Tapi,” Diana menggantung kalimatnya. “Lihat di samping kamu. Di atas meja makan itu ada apa?”
Dengan perasaan gembira yang masih terpatri, lengkap dengan senyum secerah mentari, wanita itu menoleh ke kiri. Di atas meja makan yang dimaksud oleh Diana Xander, berbagai jenis pastry yang tidak pernah Ella lihat dan ketahui namanya berjejer dengan rapih. Mulai dari egg tart ala Hong Kong, cheese tart ala negeri Sakura, Macaron berbagai warna dan rasa, beberapa jenis cookies, hingga food hybrid seperti cronut atau croissant donut.
__ADS_1
“I-ni kue?” cicit Ella pelan.
Semua hidangan yang ada di atas meja jika dibandingkan dengan kue kering buatannya, tentu tidak akan ada apa-apanya. Berbagai jenis pastry hingga tart yang tersusun dengan rapih itu pasti berasal dari toko kue ternama, dan dibuat oleh koki yang ahli, batin Ella di dalam hati.
“Jika kamu berpikir semua ini buatan chief ternama, maka kamu salah.” Seolah-olah mengetahui isi kepala Ella, Diana tiba-tiba berujar demikian. “Semua itu buatan tangan menantu saya, Evelyn.”
Ella tercekat mendengarnya. “Buatan mbak Ev?”
Diana tersenyum tipis seraya bersidakep dada. “Patut saya apresiasi usaha dan kerja keras kamu. Tapi, alangkah lebih baik jika kamu mencari tahu terlebih dahulu selera seseorang yang hendak kamu beri sesuatu, terutama jika itu berbentuk makanan. Apa kamu tahu orang itu suka manis atau tidak? Memiliki alergi terhadap bahan-bahan tertentu atau tidak?”
Ella semakin terpaku di tempatnya berdiri.
“Sekali lagi, kamu seharusnya mencari tahu. Karena dengan itu, kamu akan tahu apa yang harus kamu lakukan agar tidak berujung sia-sia.”
“Itu….Ella….” wanita muda itu tampak serba salah. Ya, dia memang lagi-lagi melakukan hal ceroboh karena tidak memperhitungkan niatnya dengan benar.
“Suami saya, atau ayahnya Darren, tidak bisa menikmati sembarangan kue karena memiliki alergi terhadap produk allergen seperti kacang-kacangan. Selain itu, saya juga tidak bisa sembarangan menikmati makanan manis. Karena orang tua saya memiliki riwayat diabetes, 50 persen saya beresiko terkena diabetes. Oleh karena itu saya sangat memperhatikan pola makan, dan biasa menikmati makanan manis yang menggunakan gula less sugar.” Diana berujar dengan ketenangan seperti air yang tampak tenang, tetapi dapat menyimpan ancaman yang begitu besar.
“Sebelum mengetahui selera saya atau suami saya, apa kamu sudah mengetahui selera putra saya? Apa yang dia suka, dan tidak suka? Apa saja yang bisa dia makan, dan tidak bisa dia makan?”
Ella menunduk dalam mendengar pertanyaan itu. Sejauh ini, yang dia tahu, suaminya tidak pilih-pilih soal makanan. Pria itu selalu makan apa yang dia masak olehnya.
“Darren tidak biasa makan nasi di pagi hari. Apa kamu tahu itu?” tanya Diana tiba-tiba. Bak bom nuklir yang dijatuhkan begitu saja di atas kepala Ella.
“Itu, mas Darren biasa makan nasi kok, kalau….Ella masak nasi buat sarapan.” Ella menjawab sekenanya. Seingatnya, sang suami memang biasa makan nasi jika Ella menyiapkan nasi untuk sarapan di pagi hari.
“Itu berarti kamu telah membuat Darren menikmati apa yang sebenarnya tidak bisa dia nikmati.”
“Tapi, Ella….”
“Masih banyak yang tidak kamu ketahui,” potong Diana. “Masih banyak juga yang harus kamu pelajari,” tambahnya. “Jika kamu berencana untuk menjadi istri Darren seterusnya, mengantikan posisi Ev, seperti Odil yang mencoba menggantikan posisi Odeth. Kamu seharusnya banyak belajar agar supaya banyak pengetahuan, agar posisi kamu yang rawan itu jadi aman. Kamu harus bisa melebihi Ev dalam berbagai aspek, karena menjadi istri seorang Darren Aryasatya Xander tidaklah mudah. Melahirkan penerus untuk Darren saja tidak cukup, karena Darren itu pria yang hampir memiliki segalanya. Mendapatkan penerus adalah perkara mudah baginya. Yang sulit adalah, membuat Darren bertekuk lutut pada satu wanita.”
Diana terdiam untuk sejenak, mencoba melihat ekspresi lawan bicaranya. “Kamu bukanlah Odil pertama dalam hidup putra saya yang ingin menggantikan posisi Odeth. Namun, tidak dapat saya pungkiri jika kamu adalah Odil yang cukup berhasil membuat putra saya terjerat dan terikat. Akan tetapi, saya yakin jika suatu saat nanti Darren akan sadar dari kesenangan sesaat nya bersama kamu.”
“Maksud ibu….apa?” lirih Ella, seraya membawa wajahnya mendongkrak. Menatap lawan bicaranya lekat.
“Jika diibaratkan, Ev adalah Odeth, kamu adalah Odil. Apa harus saya perjelas posisi kamu di ending cerita?” Diana tersenyum tipis seraya menanti jawaban lawan bicaranya. “Bukan kah kamu banyak menonton televisi untuk membunuh rasa bosan?”
Ella terhenyak mendengarnya. “Dari mana ibu….tau?”
Diana lagi-lagi tersenyum tenang. “Mata dan telinga saya banyak. Kamu pikir saya tidak tahu apa pekerjaan kamu selama dua minggu tinggal di rumah putri saya, Evelyn?”
“Ella tidak melakukan tindakan kriminal. Ella tinggal di sana, karena ada suami Ella.”
“Lantas kenapa tidak kamu bawa putra saya pergi dari rumah itu?” tanya Diana, menantang.
“Itu karena….”
“Karena....?” Diana menunggu jawaban.
“….”
“Karena dia tidak bisa pergi dari rumah yang menyimpan banyak kenangan bersama Evelyn.”
Benar. Apa yang dikatakan oleh Diana Xander itu memang seutuhnya benar. Darren memang tampak tidak memiliki niatan untuk pergi dari rumah tersebut. Sedangkan Ella sendiri, tidak mungkin bisa tinggal lebih lama lagi di sana. Situasi dan kondisinya semakin tidak memungkinkan.
“Asal kamu tahu, saya membiarkan putra saya melepaskan Evelyn, agar dia menemui hukuman atas apa yang telah dia perbuat. Jika suatu saat nanti putra saya mendapatkan hukuman yang setimpal, saya harap kamu tindak akan meninggalkannya. Bagaimana pun juga, perselingkuhan terjadi karena adanya timbal balik dari kedua belah pihak. Tidak adil jika masalah perselingkuhan di titik beratkan pada putra saya, karena kamu juga ikut ambil bagian. Kamu ini cantik, dan saya yakin kamu ini perempuan yang baik. Namun, jika saja kamu cerdas sedikit, kamu pasti tidak akan berakhir menjadi mistress.”
🥀🥀
TBC
MAK DIANA, KALAU UDAH BERSABDA BEUH..... NGENA!
ADA YANG SETUJU??
MAU LANJUT LAGI? SIAP MELIHAT KARMA?
OKE, JANGAN LUPA LIKE, VOTE, KOMENTAR, FOLLOW AUTHOR & SHARE ❤️
__ADS_1
Follow IG Karisma022 juga, di sana aku banyak share spoiler 😘
Sukabumi 29/03/22