Berbagi Cinta: Mistress (Wanita Simpanan)

Berbagi Cinta: Mistress (Wanita Simpanan)
M67 : PENCARI KEBENARAN & KEPASTIAN


__ADS_3

NOTE : HAPPY READING 🔥


KEMARIN LIBURAN UPDATE, JADI SEKARANG UPDATE AGAK PANJANG. SEMOGA SUKA 🥰


JANGAN LUPA SUMBANGAN BUNGA YA 💐


M67 🥀 : PENCARI KEBENARAN & KEPASTIAN


“Apa maksud dari ucapan Damian tadi?”


Pria yang tengah berjalan bolak-balik di depan kaca transparan yang menghadap ke langit lepas itu kembali bergumam. Pembicaraannya semalam dengan sang sekretaris tidak menyelesaikan rasa penasaran yang bersarang di kepala. Karena setelah melontarkan kalimat yang membuatnya shock berat, tidak ada penjelasan lagi. Sang sekretaris mengakhiri pembicaraan mereka setelah berkata, “hanya itu yang dapat saya sampaikan saat ini. Percaya atau tidak, itu pilihan Anda. Anda dapat mencari tahu sendiri detail informasinya.”


Setelah itu, sudah. Dia diusir secara tidak langsung karena sang sekretaris lebih memilih mengkhawatirkan istrinya yang tiba-tiba mengalami keram di bagian perut. Calon bapak satu itu langsung sigap menenangkan sang istri, kemudian menghubungi dokter kandungan istrinya.


Dalam kondisi seperti itu, dia tidak bisa bertanya lebih lanjut karena tahu posisi. Damian dan sang istri sudah menunggu kehadiran seorang anak selama 2 tahun lamanya, oleh karena itu Damian pasti menjadikan istri dan calon buah hatinya sebagai perioritas utama. Darren juga merasa bersalah karena selama ini terlalu banyak bergantung pada Damian. Hingga dia lupa akan fakta jika sang sekretaris juga punya kepentingan lain.


“Tuan.”


“Hm?”


Darren yang tadinya menghadap ke arah jendela, perlahan berbalik badan. Tatapannya langsung menemukan seorang pria muda yang selama ini bekerja sebagai asisten Damian. “Ada apa?”


“Orang-orang yang Anda minta sudah terkumpul. Mereka tinggal menunggu interupsi Anda,” ujar pria itu, memberitahu.


“Hm, bagus.” Darren berjalan mendekat seraya mengistirahatkan kedua tangannya di dalam saku celana. “Kirim 5 orang ke Paris. Datangi alamat yang saya kirim lewat surel, kemudian kumpulkan informasi sebanyak mungkin.”


“Baik, tuan.”


“Perintahkan dua hacker yang kamu rekrut untuk meretas alamat akun yang sudah saya kirim. Gali informasi sebanyak mungkin.”


“Baik, tuan.”


“Sisanya bagi menjadi dua unit. Unit pertama awasi orang-orang terdekat istri saya, terutama manager dan asistennya.”


“Maaf menyela, tuan.” Pria muda itu menyela dengan sopan. Membuat Darren menautkan kening untuk sesaat.


“Ada apa?”


“Istri Anda, maksudnya nyonya Ev?” kata pria muda itu hati-hati. Sudah bukan rahasia umum lagi jika sang atasan dan sang istri telah resmi bercerai. Kecuali, jika memang sang atasan sudah memiliki istri lain seperti yang dibicarakan banyak media. Namun, hingga saat ini belum ada tanggapan resmi dari pihak terkait.


“Hm, maksud saya Evelyn,” tutur Darren menjelaskan.


Pria muda itu mengangguk kikuk. “Lalu bagaimana dengan satu unit lagi, tuan?”


“Arahkan mereka untuk memantau Evelyn. Laporkan kepada saya setiap kegiatan yang dia lakukan.”


“Baik, tuan. Ada lagi?”


“Tambahkan satu personil.”


“Untuk apa jika saya boleh tau, tuan?”


“Arahkan dia untuk berjaga di kediaman saya. Awasi wanita muda yang tinggal di sana. Laporkan semua kegiatannya. Minggu depan dia juga akan pergi ke suatu tempat, personil itu yang akan menjadi driver pribadinya.”


“Baik, tuan. Perintah Anda akan segera saya laksanakan.”


“Hm.”


Pria muda itu undur diri setelah menerima perintah. Pada akhirnya untuk mencari kebenaran di balik foto USG yang saat ini mendiami salah satu ruang di dalam dompet kulitnya, Darren memilih mengerahkan segenap koneksi yang dia miliknya. Dia akan bergerak di bawah radar agar pencarian ini tidak sampai terendus oleh pihak mana pun.


Jika perlu, dia akan membuka memori di ribuan bahkan jutaan hari yang telah berlalu agar dapat menggali kebenaran di balik foto USG tersebut. Kali ini Darren tidak main-main. Dia akan mencari tahu kebenarannya seorang diri. Sekali pun dia harus mengorbankan banyak waktu dan hartanya untuk mencari tahu. Karena jika tidak dicari tahu, bisa saja selama ini dia telah melewatkan sesuatu yang sangat besar.


🥀🥀


“Mère apa ini?”


Bocah lelaki berusia 5 tahun itu menunjuk sebuah mangkuk yang diisi oleh camilan yang berbahan dasar tahu dan sosis. Bentuknya yang sekilas seperti gurita membuatnya penasaran.


“Tahu gurita.”


“Tahu gurita?” ulang si kecil.

__ADS_1


“Iya. Tahu adalah makanan sehat yang terbuat dari kedelai dan kaya akan protein. Oleh karena itu tahu ini bagus untuk Dan konsumsi,” ujar sang ibu seraya mencuri satu kecupan di pipi kanan sang putra.


“Boleh Dan coba?”


“Tentu saja, Schatz (sayang).”


Dan mengangguk dengan antusias. Bocah rupawan itu kemudian mendudukkan dirinya di salah satu kursi makan, meraih garpu untuk mengambil salah satu tahu gurita yang menarik perhatiannya sejak tadi. Sebelum bocah itu melahap tahu guritanya, bibir mungil miliknya bergumam kecil melantunkan do’a mau makan.


“Gimana, Dan suka?”


Bocah lelaki yang baru saja mengunyah satu gigitan tahu gurita bagian kepala itu mengangguk seraya mengacungkan jempolnya.


Ev sebagai seorang ibu tersenyum senang melihat respon positif dari sang putra. Sejak pagi dia memang sudah sibuk berkutat di dapur untuk menyiapkan berbagai jenis menu makanan Asia, terutama Indonesia. Mengingat sang putra yang agak sulit makan nasi—sama seperti sang ayah yang tidak terbiasa makan nasi, Ev harus pandai-pandai mengatai hal tersebut. Bagaimana pun juga dia harus menjadi ibu yang cermat agar asupan gizi sang putra terpenuhi.


Oleh karena itu dia sejak kemarin sudah meluangkan waktu untuk belanja beberapa kebutuhan dapur, terutama bahan masakan, seperti sayur, hingga bumbu rempah khas Indonesia. Agak sulit mendapatkannya memang, harganya pun lumayan mahal jika dibandingkan dengan di Indonesia. Namun, tidak apa. yang terpenting Ev bisa memasak makanan rumahan yang sehat ala nusantara.


Selain tahu gurita, Ev juga memasak tempe dan tahu goreng, telur ceplok tumis, sup ayam, cap cay, tumis daging sapi dengan brokoli, rendang jamur, tidak ketinggalan pula Ev membuat sambal kesukaannya. Tidak melulu Ev yang sudah terlahir dengan sendok emas dalam genggamannya menikmati makanan yang super mewah. Ev tidak pernah pilih-pilih soal makanan. Dia malah suka menikmati makanan rumahan yang biasa dimasak oleh para maid di rumah orang tuanya.


Semasa remaja, Ev bahkan suka sekali jika dibuatkan sayur bening dengan sambal kemiri. Sekarang Ev juga ingin mengenalkan kecintaan itu pada putra sematawayangnya. Selain itu, hari ini akan ada tamu spesial yang akan ikut bergabung untuk sarapan bersama.


“Mère, ada tamu.”


Dan yang tadinya fokus menikmati cemilan tahu gurita, tiba-tiba memanggil sang ibu karena suara bel yang terdengar. Saat ini mereka memang hanya tinggal berdua, karena Ev memberikan paket liburan gratis untuk Dini dan orang tuanya selama 3 hari.


“Dan bisa bantu Mère bukakan pintu? Itu sepertinya tamu yang semalam Mère katakan.”


“Ja, Mère (Iya, Mère).”


Dan dengan cekatan menyimpan garpu di dekat mangkuk, kemudian bergegas turun dari kursi. Anak lelaki itu kemudian berlari menuju pintu utama, membuat sang ibu yang tengah menyiapkan makanan tersenyum tipis.


“Hello. Dengan siapa di sana?” sapa Dan saat membuka pintu.


Seorang pria bertubuh tinggi dan tegap yang mengenakan long coat berwarna hitam tampak melambaikan tangan ke arahnya. Sebelah tangah sang lain memegang sebuah buket bunga segar.


“Hello, Dan.”


“Kamu?” kata Dan saat mendongkrak, menatap objek tinggi di hadapannya.


Pria itu merendahkan tubuh. Tersenyum kecil seraya menyentuh pucuk kepala anak itu. “Aku Dean, teman Mère-nya Dan. Ingat?”


Untuk sejenak pria rupawan itu termenung. Ada perasaan aneh yang timbul. Debaran hangat terasa nyata menyapa rongga dada hanya karena sentuhan tangan dari si kecil yang sangat berarti bagi sang kekasih hati. Tiba di pintu pembatas antara ruang tengah dan dapur, indra penglihatannya menyapu kehadiran objek cantik yang mengenakan pakaian casual dilapisi afron coklat.


“Selamat datang,” sapa si empunya rumah seraya tersenyum kecil.


Dean mengerjap beberapa kali. Sungguh, pemandangan seperti inilah yang ingin dia lihat setiap hari. Sepulang kerja yang membuat tubuh dan pikirannya letih, disambut anak dan istrinya dengan senyuman hangat.


“Silahkan duduk, dan kita bisa mulai sarapan. Dan sepertinya sudah lapar.”


Suara wanita cantik itu kembali terdengar. Menyadarkan keturunan Wijaya tersebut. “Ah, iya. Ini, aku membawanya untuk kamu.” Dean tersenyum kikuk seraya menyodorkan buket bunga di tangannya.


Diterima dengan baik oleh lawan bicaranya. “Terima kasih.”


“Hm, sama-sama.”


“Ayo Dan, ajak Om Dean duduk. Kita akan mulai sarapan,” tambah Ev, membuat sang putra mengangguk dan mengajak Dean untuk duduk. Dean mengikutinya tanpa suara. Dean dan Dan kemudian duduk berhadapan. Tanpa kata, Ev mulai menyajikan hasil kreasinya untuk dua kaum Adam beda generasi tersebut. Mereka menikmati sarapan dalam diam. Sesekali Ev membantu Dean atau Dan yang ingin menambah lauk. Meja makan yang berkapasitas delapan orang itu menjadi saksi bisu pertemuan perdana Dean dan Dan. Saksi bisu Ev membuka kejujuran pada orang yang dia anggap penting untuk diberitahu secara langsung.


“Dan suka makanannya?”


“Suka. Dan paling suka sayur dan jamur.”


Ev tersenyum sembari menyeka sisa-sisa noda di bibir sang putra. Anak itu memang terlihat sangat menyukai cap cay dan rendang jamur yang Ev masak. Walaupun ini kali pertama Dan menikmati makanan tersebut, lidahnya langsung cocok dengan masakan tersebut.


“Gimana makanannya, enak?” Ev beralih, bertanya pada pria dihadapannya.


“Sudah dijamin enak dan cocok dengan seleraku,” jawab Dean jujur seraya mengumbar senyum. Dia memang sudah cocok dengan rasa masakan Ev, karena dari zaman sekolah Ev kerap kali membuatkan Dean bento dengan menu yang beraneka ragam.


“Jadi Om ini temannya Mère?” tanya Dan polos, saat kedua orang dewasa di antaranya masih sibuk melempar pandangan.


“Ja Schatz (iya, sayang),” jawab sang ibu.


“Kita sudah pernah bicara lewat panggilan video, kan, waktu itu. Ingat tidak?”

__ADS_1


Dan mengangguk sebagai jawaban dari pertanyaan Dean. “Om ini datang jauh-jauh dari tempat tinggal Perè, kan? Om kenal Perè-nya Dan, tidak?”


Dean maupun Ev sama-sama terhenyak. Dean tentu terkejut mendengar pertanyaan anak kecil yang tampak menunjukan sorot penuh kerinduan itu. Sedangkan Ev, terkejut karena Dan tiba-tiba melontarkan kalimat demikian. Padahal, Ev saja belum menjelaskan apa-apa soal Dan.


“Dan.”


“Ja, Mère (iya, Mère)?”


“Dan ganti baju dulu, ya. Dan bisa sendiri, ‘kan? Tadi bajunya sudah Mère siapkan di atas tempat tidur. Jangan lupa sikat gigi dulu, okay? setelah itu Dan bisa bicara sama Om lagi.”


Sang putra mengangguk patuh. “Okay, Mère.”


Sepeninggalan Dan, ruangan tersebut diselimuti keheningan. Baik Dean maupun Ev memilih bungkam. Ambigu dengan suasana di ruangan tersebut.


“Jadi apa yang ingin kamu sampaikan, sampai-sampai rela membuatku jauh-jauh menyusul ke sini.”


Dean angkat bicara. Mencoba menghilangkan keheningan di antara mereka. Pria itu memang langsung berangkat ke Swiss menggunakan jet pribadinya pasca Ev menelepon balik dan mengundangnya untuk datang. Sekarang dia sudah ada di sini, dihadapan Ev yang masih terdiam.


“Dan…..” Ev pun akhirnya buka suara. Tampak ada keraguan dalam suaranya.


“Iya, ada apa dengan Dan? Dia anak yang manis.”


“Dan itu sebenarnya,” kalimat Ev terjeda. Dengan perlahan, Ev memusatkan perhatian pada Dean seorang. “Putraku dan Darren.”


Ev sudah memikirkan hal ini dengan matang. Dia siap menerima konsekuensinya. Sekali pun dia sudah mencoba membuka hati agar pria di hadapannya ini mendapatkan tempat di sana, Ev tidak keberatan jika dia memilih mundur setelah mengetahui kenyataannya. Kenyataan jika Ev bukan wanita sempurna bagi Dean yang selalu menjadi sempurna untuknya.


“Aku sudah tahu, Ev.”


“Kamu….sudah tahu?” kaget Ev.


“Hm.”


“Lalu, apa pendapat kamu? apa kamu tidak merasa kecewa karena telah ditipu?”


Dean tersenyum mendengarnya. “Kecewa itu manusiawi, Ev. Tapi, untuk apa aku marah. Kehadiran Dan bukanlah sesuatu yang bisa ditolak, karena Tuhan sendiri yang telah turun tangan membuatnya hadir di rahim kamu. Dan bukan sebuah kesalahan. Bukan pula sebuah aib sehingga kamu harus menyembunyikannya. Dan adalah harta yang teramat berharga. Sehingga kamu, memilih menyembunyikan Dan untuk menjaganya.”


“Aku di sini untuk mendengar kejujuran itu secara langsung. Karena aku juga ingin memastikan seberapa penting posisi aku dalam hidup kamu,” tambah Dean.


“Maaf telah menyembunyikan kebenaran sebesar ini, Dean. Aku tidak punya pilihan lain selain menyembunyikan Dan,” kata Ev dengan suara bergetar.


Dean beranjak dari posisinya. Pria itu mendekat, kemudian berlutut di samping tempat Ev duduk. “Ini sudah pilihan yang benar, Ev. Kamu melakukan semua ini untuk melindungi Dan.”


“….”


“Namun, sampai kapan kamu mau menyembunyikan Dan? Dan punya hak untuk diketahui eksistensinya.”


“….”


“Jangan pernah merasa sendiri, Ev. Aku ada di sini untuk kamu dan Dan. Jangan takut,” ujar Dean seraya meraih salah satu telapak tangan Ev seraya melanjutkan, “dan tolong beri aku kejelasan. Aku butuh kepastian. Apakah kamu mau memberi aku kesempatan untuk mendapatkan kamu, atau kah kamu memilih menghempaskan aku lagi?”


“Aku….”


“Iya, kamu, Ev. Aku mau kamu, tentunya dengan Dan juga. Aku tidak pernah bermasalah dengan kehadiran Dan, karena aku tahu Dan adalah sebagian dari hidup kamu. Aku cuma mau kamu percaya kepadaku.”


Ev yang tadinya sempat mengalihkan tatapan ke sembarang arah, kini menatap Dean balik. Lekat. Seolah-olah dialah satu-satunya objek yang paling menarik di sana.


“Baiklah Dean, ayo kita mencobanya.”


“Mencoba untuk?” pancing Dean, memastikan.


“Membangun hubungan yang lebih serius ketimbang pertemanan,” ujar Ev seraya tersenyum kecil.


Dean membalasnya dengan senyuman pula. Ada bahagia yang tak terkira. Setelah penantian dan perjuangan yang begitu panjang, akhirnya dia mendapatkan sebuah jawaban. Jawaban yang tentunya tidak mengecewakan.



🥀🥀


TBC


Semoga suka & puass ❤️

__ADS_1


Jangan lupa like, vote, komentar, follow Author & share ❤️


Sukabumi 15/04/22


__ADS_2