Berbagi Cinta: Mistress (Wanita Simpanan)

Berbagi Cinta: Mistress (Wanita Simpanan)
M37 : LANCANG


__ADS_3

NOTE : KOMENTAR JULIT LAGI, YOK. ADA YANG LAGI ESMOSI SOALNYA 🤣


M37 🥀 : LANCANG


Serpihan kaca, keramik hingga porselen berharga jutaan rupiah tampak berserakan di mana-mana. Tidak ada satupun barang yang tersisa, sepanjang jalan yang telah dilewati si empunya rumah yang tampak sangat kacau tersebut. Kecuali jika si empunya sudah tidak sadarkan diri.


Rumah megah dua lantai yang beberapa jam lalu sangat ramai, dihiasi oleh gurat-gurat kagum dan banjiran senyum, kini berubah 180°. Suram, sunyi, berantakan dan dingin. Hal itu terasa membuat suasa di rumah itu semakin mencekam. Hal itu dirasakan secara nyata oleh seorang wanita yang sedari tadi hanya bisa terduduk di lantai seorang diri, dengan air mata mengenang di pelupuk mata. Mengatri untuk jatuh menjelajahi pipi.


“Non.”


Sebuah suara tampak terdengar, setelah keheningan mengudara begitu lama. Wanita muda yang sejatinya tengah berbadan dua itu menoleh. Menemukan seorang wanita paruh baya yang datang tergopoh-gopoh.


“B-ibi siapa?”


“Saya bi Surti. Kepala maid di rumah ini,” ujar wanita paruh baya tersebut. “Non sendiri, siapa?”


“Saya….” Kalimat wanita muda yang tampak kacau itu terpotong. Haruskah dia jujur akan statusnya? Atau, berbohong demi kebaikan diri sendiri?


“….istri mas Darren.”


Akan tetapi, jujur pada akhirnya yang dia pilih. Toh, tadi dia sudah diakui oleh sang suami. Dia ini istri Darren Aryasatya Xander. Walaupun statusnya istri ke-2, tak apa. Itu tetap sama saja dengan posisi istri pertama. Lagipula, suaminya akan segera bercerai dengan istri pertamanya, bukan?


“J-adi non ….istri tuan Darren?” kaget bi Surti.


Sebuah anggukan dia berikan.


“Astagfirullah,” wanita muda itu beristigfar kecil.


Dia memang sempat mendengar ada keributan yang terjadi. Namun, dia tak berani melihat dan mencari tahu lebih jauh, karena tugasnya di belakang harus mengawai para maid yang lain. Ternyata krasak-krusuk yang para maid bicarakan di belakang benar, tuan mereka memiliki wanita simpanan. Hal itu tentu ada sangkut pautnya dengan kekacauan yang terjadi.


“Nama aku Estrella. Bibi bisa panggil aku Ella.”


“Ah, iya, non.” Bi Surti tersenyum congkak. ‘Ini perempuan teh tidak tau diri, atau tidak punya harga diri?’ batinnya.


“Kalau Ella boleh tau, kamar mas Darren di mana, ya?”


“Di atas, non.”


“Di atas, ya?”


“I-ya. Kamar ke tiga dari samping kanan.”


Wanita muda itu mengangguk, kemudian beranjak. Selama terdiam di tengah ruangan tersebut seorang diri, dia telah memutuskan. Saat banyak pertanyaan yang bergerilya di kepala, hanya satu yang Ella akhirnya jawab sendiri. dia tidak bisa terus begini—meratapi nasib—sedangkan sang suami juga membutuhkan dirinya. Ah, dia yang lebih membutuhkan pria itu. Dia butuh ayah dari bayi yang tengah dikandungnya. Dia butuh penjelasan dari pria itu. Oleh karena itu, dia menunggu pria itu mereda. Emosinya.


Setelah mengetahui di mana kamar sang suami, dia kemudian menaiki udakan tangga yang akan membawanya menuju lantai atas. Kamar ke tiga dari samping kanan. Dia mengingat petunjuk dari bi Surti. Namun, belum juga mencapai ruangan yang dimaksud, langkahnya terhenti kala melewati sebuah ruangan yang pintunya tidak tertutup rapat. Entah kenapa pula, dia tergoda untuk memasuki ruangan tersebut.


Tanpa sadar, didorong oleh keinginan hati, wanita muda itu mendorong pintu agar semakin terbuka lebar. Membawa langkahnya masuk kian dalam. Ketika berhasil memasuki ruangan bernuansa feminim tersebut, dia didera rasa sesal akibat rasa iri yang kembali. dia tahu betul ruangan ini milik siapa. Milik istri pertama suaminya, siapa lagi.


Ruangan itu tampak luas, dua kali lebih luas dari kamarnya. Didominasi oleh warna netral dengan stiker dinding bermotif cantik di beberapa sudut ruangan, membuat ruangan tersebut tampak indah. Sebuah ranjang berukurang king size juga tersimpan di tengah-tengah ruangan, terbalut seprei dan bedcover berwarna putih dan emas. Beberapa kotak perhiasan tampak tergeletak di atas meja rias, bersisian dengan berbagai jenis produk perawatan wajah dari berbagai merk. Dia beralih, menatap sisi lain, di mana ada produk perawatan pria pula yang tertata dengan rapih. Seulas senyum miris tersungging di wajah polos tersebut.


Apa yang dia pikirkan? Mereka suami istri, pasti berbagi kamar tidur, meja rias, bahkan tempat tidur. Akan tetapi, kenapa hati kecilnya tak suka dengan kenyataan tersebut?

__ADS_1


Dia kemudian beralih, menatap dinding yang dihiasi foto-foto berbingkai. Dua objek tampak menjadi pengisi foto-foto tersebut. Ella mendegus. Ya, mendegus melihat sudut tersebut. Muak saja melihatnya.


Wanita muda itu kemudian beralih, melangkahkan kaki menuju sebuah pintu denagn daun pintu berwarna emas. Ruangan apakah itu? Ella penasaran. Ketika berhasil meraih daun pintu tersebut, wanita muda itu dibuat terpana dengan apa yang dilihatnya. Surga wanita.


Ella telah menemukan surga bagi wanita. Ruangan tersebut berisi pakaian indah-indah. Mulai dari jejeran daytime dress, evening dress, two-piece suit, sleepwears, hingga setelan formal. Jangan lupakan rak-rak sepatu yang terbuat dari kaca, diisi oleh berbagai jenis sepatu. Mulai dari heels, sneakers, flatshoes, boots, dan sebagainya. Namun, yang paling menarik perhatian Ella adalah jejeran koleksi sepatu yang mirip sepatu kaca milik Cinderella yang sering Ev baca ceritanya.


Ev terpukau. Tergoda. Ingin menyentuh sepatu kaca yang tampak berkilauan tersebut. Namun….. belum sempat menyentuh, sudah ada suara yang menggelegar. Menghentikan niatnya.


“Jangan berani-berani kamu menyentuh itu!”


“M-as Darren, Ella—“


“Siapa yang mengizinkan kamu masuk ke sini?!” tanya suara deep bass itu datar nan dingin.


“I-tu, tadi Ella—“


“Siapa yang mengizinkan kamu masuk, hah?!”


Wanita muda itu terkejut bukan main kala mendapatkan bentakan dari pria yang dia kenal tak pernah berkata kasar. Saking terkejutnya, dia sampai terhuyung ke belakang. Tak sengaja menabrak sebuah lemari kaca yang menyimpan koleksi tas tangan mahal milik si empunya ruangan.


“M-aaf, mas. Ella….”


“Keluar!”


“Mas, Ella gak sengaja….”


“Keluar dari sini, Estrella!” perintah Dean murka.


“Malam ini kamu tidur di sini,” ujar Darren seraya membuka pintu sebuah ruangan. Kamar tamu lebih tepatnya.


“Jika kamu membuthkan sesuatu, panggil saja bi Surti. Jangan mencariku.”


Ella terhenyak. Suaminya tidak mau diganggu?


“Tapi, mas Darren tidur di mana? Kenapa tidak tidur di sini sama Ella?” tanyanya lugu.


“Di ruang kerja,” jawab Darren singkat. Kemudian berbalik badan, hendak meninggalkan sang istri.


“Mas, tunggu. A-da yang mau Ella bicarakan.” Cegah Ella tiba-tiba.


“Besok. Malam ini pikiranku terlalu kacau. Jangan menambah masalah lagi, Ella.”


Deg!


Ella terbungkam. Bohong jika dia tak merasakan sesak karena kalimat yang dilontarkan pria yang dicintainya tersebut.


Tanpa merasa rasa bersalah sedikitpun, pria tersebut langsung melenggang pergi begitu saja. Membawa sebagaian hati yang msih sempat peduli. Jika bertahan lebih lama lagi, yang ada dia malah muak. Bisa-bisa wanita yang tengah hamil muda itu jadi objek pelampiasan.


Pria itu terus membawa langkah lunglainya menuju ruangan yang tadi sempat dia singgahi. Tiba di ruangan tersebut, dia kemudian menutup pintu rapat-rapat. Menekan kunci dalam-dalam, agar tak ada yang dapat menganggu. Setelah berhasil mengunci pintu, Darren beralih pada tempat tidur. Menjatuhkan dirinya begitu saja di atas permukaan empuk yang masih menyimpan aroma wanitanya.


Sebenarnya bukan hanya permukaan empuk itu saja yang meninggalkan jejak berupa aroma si empunya ruangan. Namun, semua objek yang ada di ruangan tersebut. Semua menyimpan jejak-jejak peninggalan si empunya ruangan. Karena alasan itu pula dia memilih untuk mengistirahatkan diri di ruangan tersebut. Berharap jika dia bisa memejamkan mata barang sejenak, setelah apa yang terjadi malam ini. Semoga saja, saat terbangun esok hari, semua ini hanya mimpi.

__ADS_1


Ya, Darren harap kehilangan sang istri hanya mimpi. Tak terjadi di dunia nyata. Hanya itu yang dia inginkan.


“Ev, kuharap semua ini hanya mimpi. Kehilangan kamu, rasanya menyakitkan.”


🥀🥀


“Hai, feel better?”


Mendengar sebuah suara melantun dari ambang pintu, wanita cantik yang tengah duduk di atas ranjang itu menoleh.


“Hm, kurasa begitu,” jawabnya tidak yakin.


“Kenapa kamu ragu?” tanya pria yang berdiri seraya bersidakep dada tersebut. “Menyesal?”


“No,” jawab wanita cantik itu cepat. “Hanya saja, rasanya tidak seperti yang aku bayangkan.”


“Memangnya apa yang kamu bayangkan?” pria rupawan itu beringsek, masuk. Mengikis jarak yang ada.


“Hampir sebagian besar masa hidupku dihabiskan bersama dia. Jadi, begini rasanya terlepas darinya? Melegakan. Akan tetapi, aku juga butuh beradabtasi dengan rasa lega ini, bukan?”


“Hm.”


Wanita cantik itu mendongkrak, menyadari jika lawan bicaranya kini berada dalam radius yang amat dekat. Tiba-tiba saja rasa sesak yang dia simpan bertahun-tahun lamanya, saling mendorong. Membuat segumpal perasaan emosional yang menimbulkan gumpalan air di pelupuk mata. Saling mengantre, menunggu giliran jatuh membasahi pipi.


“Kenapa tiba-tiba menangis?” tanya pria rupawan tersebut. Siap menghapus lelehan kristal bening yang mengalir cukup deras. Siapa lagi jika bukan Dean Wijaya. Pria yang mendapatkan kesempatan khusus untuk menemui Ev, pasca wanita itu menolak menemui siapapun dengan dalih butuh waktu sendiri.


“Aku hanya…. Merasa lega. Ya, lega karena pada akhirnya aku bisa melepaskan diri darinya.”


Dean tak tinggal diam kala melihat wanita setangguh Ev menitihkan air mata. Dengan segera dia membawa wanita cantik itu ke dalam pelukannya.


“Menangislah, Ev. Aku ada di sini untukmu. Tumpahkan semua rasa sesak itu, jangan takut. Kamu sekarang sudah tidak perlu bersandiwara lagi.”


“Aku…. Senang Dean. Ini yang aku tunggu-tunggu. Tapi, rasanya aku….”


“Ssstt, Ev. Listen. Kamu yang paling tahu soal kebutuhan kamu. Jika kamu memutuskan untuk melakukan ini, berarti kamu telah melakukan yang terbaik untuk kamu sendiri. Untuk kebebasanmu.”


Ev mengangguk lirih dalam pelukan Dean. Dia bukan menyesali keputusannya. Namun, bisa terlepas dari hubungan toxic yang selama ini membelenggu, membuat Ev merasa lega tak terkira. Tangis yang sekarang hadir sebagai bentuk dari rasa emosional yang telah lama dia pendam. Ev rasa perbuatannya hari ini cukup setimpal dengan kesulitan yang selama ini dia dapatkan kala menyandang status sebagai istri Darren Aryasatya Xander. Ah, belum. Belum setimpal. Ev lupa jika pria itu belum mengetahui kartu AS terakhir yang Ev miliki.


Ev tidak akan mengeluarkannya sekarang. Dia akan menunggu ketuk palu persidangan dijatuhkan. Barulah Ev akan membuka kartu AS-nya. Pada saat waktu itu tiba, Ev akan memastikan jika Darren merasakan penyesalan seumur hidup.


🥀🥀


TBC


**Hohoho.... penasaran sama kartu AS Ev? Author juga. But, Author mau kasih ancang2, apapun yang Ev putuskan nantinya, tolong dihargai. Begitu juga dengan keputusan Author untuk menentukan alur cerita ini 🤗


Jangan lupa, like, vote, komentar, follow Author & share ❤️**


Sukabumi 28/02/22


23.03 WIB

__ADS_1


__ADS_2