
NOTE : PART 3K KATA, SEMOGA PUAS BACANYA 👍 JANGAN LUPA BERNAFAS & ISTIGHFAR.
M35 🥀 : HARI YANG DITUNGGU-TUNGGU
🥀🥀
Semilir angin tampak membelai dedauan yang masih basah oleh embun pagi. Seorang wanita muda terlihat tengah terpaku menatap tanaman hias dari jenis rerumputan yang dibiarkan merambat secara vertikal. Tubuh mungilnya tampak tenggelam dalam balutan sweaters rajut berwarna putih. Sebelah tangannya memegang cangkir berisi susu yang mulai dingin. Kantung mata yang menggelap, menghiasi bagian bawah mata. Menandakan jika wanita yang tengah hamil muda itu tidak tidur dengan baik belakangan ini. Tulang pipinya juga tampak tinggi, wajahnya semakin tirus. Tubuh kecilnya juga semakin kurus.
“Neng Ella.”
Merasa ada yang memanggil namanya, dia berbalik. Seulas senyum lemah tersungging kala melihat siapa yang muncul dari balik pintu.
“Mang Ujang sudah datang, bi?”
“Iya, neng,” jawab wanita paruh baya tersebut. “Tapi, neng. Apa neng Ella yakin mau pergi dengan kondisi seperti ini?” tanyanya risau.
“Iya, bi,” jawab si empunya nama, mantap. “Sampai kapan Ella harus nunggu mas Darren pulang? Sedangkan dia tidak menunjukkan tanda-tanda akan pulang dalam waktu dekat.”
Bi Mimin, wanita paruh baya yang bertugas menjaga nyonya mudanya yang tengah hamil muda itu hanya bisa menghela nafas lemah. Dia hanya khawatir jika sang nyonya pergi, sesuatu yang buruk bisa saja menimpanya di luar sana. Apalagi beberapa hari ke belakang nyonya mudanya itu sempat jatuh sakit. Bi Mimin juga sudah berusaha menghubungi tuannya, tetapi hasilnya nihil.
Bi Mimin tidak bisa menahan keinginan sang nyonya yang ingin pergi ke kota, demi menemui sang suami. Mungkin nyonya mudanya itu sudah terlampau rindu, karena ditinggal pergi begitu saja. Apalagi saat ini dia tengah hamil muda. Hanya itu yang bi Mimin yakini. Akan tetapi bi Mimin tak bisa menampik rasa cemasnya.
“Bibi bisa tolong siapkan bekal buat diperjalanan? Ella mau siap-siap dulu.”
“Iya, neng.”
Ella beralih, meninggalkan cangkir berisi susu ibu hamil yang belum dia tenggak sama sekali. Langkah pelannya membawa wanita muda itu menuju lantai atas. Tidak banyak barang yang harus dipersiapkan. Malah, yang harus dipersiapkan dengan matang adalah mental juga perasaannya. Apapun yang dia ambil kali ini, didasari oleh rasa ingin tahu yang sudah berkumpul menjadi satu.
Sudah seminggu lebih sang suami tak pulang, padahal dia berjanji akan pulang cepat pasca berhasil menyelesaikan urusannya dengan sang partner. Namun, hingga hari ini pria itu tak kunjung datang.
Membiarkan Ella semakin terpenjara dalam rasa penasaran. Ada banyak pertanyaan yang ingin dia lontarkan. Ada banyak hal pula yang ingin dia dengar. Ella tidak mau lebih lama lagi tersesat dalam belenggu pikiran sendiri yang berkelana kemana-mana. Satu-satunya sumber yang dapat menjawab semua itu adalah sang suami. Atau, wanita yang waktu itu memperkenalkan dirinya sebagai partner sang suami.
Oleh karena itu, wanita muda yang belum genap berusia 20 tahun itu memilih pergi. Mencari sang suami dengan segenap tekad bulat. Jikalau ada fakta besar yang selama ini tersembunyi, biarlah pria itu sendiri yang mengutarakan semuanya. Ella hanya ingin tahu.
Apapun yang tersaji di hadapannya nanti, itu adalah sebuah kenyataan. Baik atau buruk. Sakit atau tidak, biarlah Ella menanggungnya belakangan.
🥀🥀
Kemilau berlian sebesar biji kelengkeng yang tersemat di antara jari tengah dan jari kelingking itu selalu berhasil membuat siapa pun terpukau saat melihatnya. Berlian terbaik yang dipesan secara pribadi, dibuat dengan desain sendiri itu tentu memiliki harga fantatis, karena hanya ada segelintir orang yang memilikinya di dunia. Ev patutnya bangga menjadi bagian dari segelintir orang tersebut. Namun, hal itu tampaknya tak berlaku.
“Din, tolong ambilkan cincin yang ada di dalam box biru. Aku tidak mau memakai yang ini, terlalu mencolok.”
Dini, maid yang dimaksud oleh Ev hanya bisa mengangguk seraya mengambil box perhiasan yang Ev maksud. Box dengan logo SWAROVSKI yang tercetak jelas dengan tinta silver itu kemudian diberikan pada Ev. Ev dengan segera membuka box perhiasan tersebut, mengeluarkan sebuah cincin dengan model yang lebih sederhana. Berhiaskan permata berbentuk oval berukuran kecil.
“Tolong simpan cincin ini, Din.”
“Baik, nyonya.”
Ev menatap pantulan dirinya yang terpampang jelas di cermin. Malam ini wanita itu tampil cantik dan menawan dengan balutan backless dress berwarna broken white yang mempertontonkan hampir seluruh bagian punggung mulusnya. Dibantu oleh Dini dan dua maid lain—yang biasa membantu Ev bersiap jika hendak pergi dengan penampilan on fire—Ev kini bisa tersenyum puas melihat penampilannya. Rambutnya juga sudah dibentuk sedemikian rupa, sehingga tergelung dengan indah.
Rambut, checklist. Make up, checklist. Dress, checklist. Perhiasan penunjang, seperti anting-anting, kalung, cincin hingga gelang, checklist. Sepatu? Ev tiba-tiba mengalihkan pandangan ke arah lantai. Menatap sepasang kaki yang masih terbalut sandal rumahan berwarna putih dari Gucci.
“Dini, tolong ambil sepatu saya.”
Mendengar sang nyonya memerintah, Dini langsung mengangguk patuh. “Malam ini nyonya mau memakai sepatu yang mana?” tanya Dini, seraya membuka connecting door yang menghubungkan ruangan tempat mereka berada dengan ruangan tempat koleksi-koleksi sepatu Ev disimpan.
“Sepatu kaca saya yang biasa, Din.”
“Baik, nyonya.”
Dini yang kelewat hafal dengan berbagai barang yang biasa Ev pakai. Tentu tahu sepatu kaca mana yang dimaksud oleh wanita cantik tersebut. Pasalnya Ev tidak hanya memiliki satu pasang sepatu kaca seperti milik Cinderella. Wanita itu memiliki lebih dari 5 pasang. Di antara sepatu-sepatu kaca yang harganya membuat jantungan itu, hanya satu yang paling Ev sering gunakan. Sepatu kaca tersebut merupakan pemberian Dean Wijaya, pada saat Ev merayakan ulang tahun beberapa tahun silam.
“Nyonya terlihat sangat cantik. Ah, bukan. Maksud saya terlihat sangat menawan malam ini,” puji Dini.
Ev yang mendapati pujian tersebut membalasnya dengan senyuman. Wanita itu tampak tengah bersolek di depan cermin. Dua maid lain yang tadi membantu, sudah Ev persilahkan kembali ke dapur. Kini tinggal dia dan Dini yang ada di sana.
“Ini juga berkat bantuan kamu dan teman-temanmu, Din.” Ev berbalik, menatap Dini. “Bersiap-siaplah. Setelah acara ini selesai, kamu harus ikut saya, Din.”
“Maksud nyonya?” bingung Dini.
“Kamu bertugas untuk membawa Emilio pergi dari rumah ini.”
“T-api, nyonya…..”
“Dengar saya, Dini.” Ev meraih sebelah tangan maid yang paling dekat dengannya itu. “Saya ingin kamu segera membawa Emilio pergi, begitu keadaan di rumah ini tidak kondusif.”
“Kemana saya harus pergi membawa Emilio, nyonya?” tanya Dini pada akhirnya. Sekalipun dia tidak tahu kenapa tiba-tiba sang nyonya berkata demikian, Dini hanya bisa meng-iyakan. Toh, Dini yakin jika akan ada sesuatu yang terjadi.
“Apartemen saya. Kamu masih ingat password nya, bukan?” Dini mengangguk sebagai jawaban.
“Saya juga sudah mengurus paspor kamu. Saya menyimpannya di laci dekat TV.”
“Paspor? Tapi untuk apa, nyonya?” kebingungan Dini kian bertambah mendengar Ev membawa-bawa soal paspor.
“Kamu ingin bertemu ibu kamu, bukan?” Dini mengangguk mantap. “Oleh karena itu, begitu kondisi di sini tidak kondusif, bawa Emilio pergi ke apartemen. Tunggu saya di sana. Kita akan menemui ibu kamu bersama-sama. Kamu mengerti?”
“Iya, nyonya. Saya mengerti,” jawab Dini.
__ADS_1
Ev tersenyum tipis. Hari ini rumahnya memang kedatangan orang-orang dari pihak wedding organizer yang bertugas untuk melakukan dekorasi. Ev juga sengaja meminta tukang kolam untuk datang dan memindahkan Emilio ke aquarium yang lebih kecil. Sedangkan aquarium lama—tempat Emilio tinggal—kini diisi oleh beberapa jenis ikan hias air asin, mulai dari dua pasang ikan badut, seekor ikan pari manta, beberapa bintang laut, kuda laut, ikan-ikan hias berukuran small, dan sebagainya.
Aquarium itu tampak lebih berwarna dan hidup. Namun, bagi Ev tempat itu tak ubahnya aquarium biasa karena tidak ada si ikan primadona kesayangan Ev, siapa lagi kalau bukan Emilio.
Satu pekan sudah berlalu semenjak diskusi yang terjadi antara Ev dan Darren pagi itu di taman belakang. Hari yang ditunggu-tunggu telah tiba. Mansion tempat tinggal Darren dan Ev sudah dihias sedemikian rupa sejak terbit fajar. Alhasil, sekarang bangunan megah tersebut semakin megah dan indah. Lampu-lampu kristal menghiasi langit-langit, bunga-bunga segar menjadi objek hiasan yang paling dominan. Tidak ketinggalan, wedding cake lima tingkat bergaya fairy tale yang cantik tampak berada di jantung mansion. Tempat di mana acara inti akan berlangsung.
“Apa semua tamu yang saya undang sudah datang?” tanya Ev. tangannya bergerak menyibak tirai yang menutupi jendela. Mencoba melihat seberapa ramai kendaraan yang memadati area di bawah sana.
“Sembilan puluh persen tamu yang nyonya undang sudah datang.”
“Keluargaku?”
Dini mengangguk. Sebelah tangannya menyodorkan sebuah tablet yang tengah memutar rekaman CCTV di lantai dasar. “Keluarga nyonya sudah datang setengah jam yang lalu. Begitu juga dengan keluarga tuan Darren.”
“Bagaimana dengan Dean dan Dimi?”
“Tuan Dean sudah datang, dan saat ini sedang berbincang dengan ayah nyonya. Sedangkan tuan Dimi, saya belum—“
“Hello, every body!” sapa sebuah suara melengking yang cukup familiar, bersamaan dengan terbukanya pintu kamar Ev. “Oh my lord, Ev, you look gorgeus.”
Melihat lelaki yang malam ini mengenakan jas hitam dengan paduan warna gold di beberapa bagian itu, Ev tak kuasa menerbitkan senyum.
“Bagaimana penampilanku malam ini?” tanya Ev lagi, seolah-olah tak mendengar pujaan Dimi. Ev kemudian berputar-putar dengan indah di hadapan pria gemulai tersebut.
“Cantik sekali, Ev. Aura you itu, seperti pengantin baru,” canda Dimi.
“Tuan Dimi bisa saja,” gumam Dini pelan. Lucu menurutnya, karena Dimi berbicara demikian dengan logat genit.
“Sekarang you lebih baik turun ke bawah with me. Suami you sudah menunggu.”
Ev mengangguk singkat. Kemudian dia berbalik ke arah cermin, seolah-olah hendak memastikan sesuatu. Bukan, Ev bukan memastikan make up nya atau penampilannya, melainkan mencoba memantapkan tekadnya.
“Ayo kita turun,” ujar Ev pada akhirnya. Menerima uluran tangan Dimi.
Keduanya kemudian turun ke lantai dasar bersama. Alunan musik klasik mengalun dengan indah saat Ev muncul di udakan tangga paling atas. Di ujung tangga, ada sang suami yang malam ini tampak tampan seperti biasa. Tubuh tegap pria tersebut dibalut setelan mahal berwarna hitam. Pandangan iris jelaganya tampak terpaku pada sang istri yang tengah menuruni udakan tangga. Begitu pula dengan perhatian seluruh tamu undangan, kini semua tertuju pada Ev seorang.
Tiba di udakan tangga terakhir, Darren berinisiatif mengulurkan tangan. Menunggu sang istri menerima uluran tangannya. Tak butuh waktu lama, Ev pun menerima uluran tangan tersebut setelah mengulas senyum tipis untuk Dimi. Ev dan Darren kemudian berjalan bersama menuju tengah-tengah ruangan. Untuk sejenak, Ev bisa melihat orang tuanya yang berdiri di depan wedding cake bersisian dengan orang tua Darren. Di sisi lain, ada kakek Ev yang duduk di kursi rodanya tengah menyunggingkan senyum. Ev juga dapat menangkap kehadiran Dean dari ekor matanya.
Pria itu tampak menawan dalam balutan setelan mahal bernuansa dark blue. Dean berdiri agak jauh dari tempat Ev dan Darren berdiri. Cukup jauh dari posisi kedua orang tuanya yang juga berdiri di dekat orang tua Ev. Selebihnya, Ev dapat melihat para tamu undangan yang terdiri dari keluarga, kerabat hingga sahabat dekat mengelilingi area dekat wedding cake.
“Ini dia yang kita tunggu-tunggu malam ini, nyonya Darren Aryasatya Xander yang baru saja menjelma menjadi angel.”
Ev yang mengenali suara pembawa acara tersebut, kontan menerbitkan senyum. Ev kebetulan kenal cukup dekat dengan pria yang menjadi MC tersebut. Dia juga kebetulan masih satu circle pertemanan dengan Dimi.
“Kamu terlihat sangat cantik.”
Pujian yang tiba-tiba terlontar dari bibir pria yang tak pernah Ev harapkan. Saat ini mereka tengah melakukan dansa bersama. Ruang diberikan khusus bagi mereka yang malam ini merayakan hari jadi pernikahan kelima. Orang-orang yang berada di sana begitu dibuat takjub dengan keserasian keduanya. Terkecuali bagi seorang pria yang tengah mengamati mereka dari sudut ruangan. Beberapa kali dia berdecak, kala melihat Ev dan Darren melakukan gerakan yang menurutnya terlalu intim. Sebagian hatinya tak rela.
“Apa aku memang terlihat cantik di matamu malam ini, Darren?” tanya Ev tiba-tiba.
“Hm. Tentu saja. Kamu selalu terlihat cantik,” jawab Dean hati-hati. Dia tahu Ev menyimpan jebakan lewat pertanyaannya.
Ev tersenyum misterius. Ketika ada kesempatan, wanita cantik itu mendekatkan wajahnya. Membuat orang-orang yang melihat berspekulasi jika pasangan itu hendak berciuman. Padahal, kenyataanya tidak.
“Kalau kamu baru menyadari kecantikanku malam ini, maka kamu terlambat.”
Setelah berkata demikian, Ev tak memberikan Darren waktu untuk membalas. Dia kemudian menarik diri, kemudian membuat gerakan mengakhiri dansa tersebut. Tepuk tangan yang meriah kemudian terdengar menggema, mengisi seluruh ruangan. Setelah acara berdansa, berlanjut pada acara potong kue. Kemudian tukar hadiah beserta tukar ucapan.
Ev mendapatkan satu buah gedung di pusat kota Singapura, satu villa di pulau Lombok, satu pulau pribadi, satu set perhiasan dan kapal pesiar mewah. Plus dengan dua bait kalimat manis dari pria yang terkenal dingin, datar dan irit bicara seperti Darren Aryasatya Xander.
“Terima kasih telah bertahan selama ini bersamaku. Aku harap kita tetap bisa bersamamu hingga maut memisahkan.”
Setelah menyelesaikan gilirannya dengan kecupan hangat di kening sang istri, giliran Ev yang memberikan hadiah. Ev kemudian memanggil seorang maid yang datang membawa sebuah map berwarna coklat.
Sebelah alis Darren tampak bertaut kala menerima map tersebut. “Apa ini, Ev?”
“Hadiah dariku untuk hari jadi kita yang kelima,” ujar Ev dengan senyuman di akhir kalimat. “Bukalah,” lanjutnya.
Darren mengangguk tipis, kemudian membuka map tersebut. Menarik sebuah kertas yang ada di dalamnya dengan perasaan penasaran. Begitu pula dengan para penonton yang penasaran dengan hadiah yang Ev berikan.
“Aku tidak bisa memberikan hadiah yang memiliki nominal, karena aku tahu kamu sudah memiliki semua itu. Aku juga tidak bisa memberikan apa yang kamu mau. Hanya ini yang bisa aku berikan,” ujar Ev.
Darren tak menggubris. Dia penasaran, apa yang sebenarnya istrinya itu berikan. Kala kertas putih itu tertarik secara utuh, sebuah judul yang ditulis dengan huruf kapital berhasil Darren baca dengan cepat. Menelisik ke bagian bawah, sudah ada paraf sang istri terbubuh di sana. Kontan, Darren merobek kertas tersebut. Hal itu tentu menarik perhatian dan keterkejutan para tamu undangan.
“Apa-apaan ini, Ev?” geram Darren lirih.
“Hadiah untuk kamu, my husband,” jawab Ev seraya tersenyum lebar.
“Mom, dad, papa, mama, opa, dan seluruh tamu undangan. Cuma ini yang Ev miliki untuk Darren. Tolong, hargai hadiah yang telah Ev persiapkan matang-matang untuk suami Ev,” ujar Ev, seraya mengalihkan tatapan sepenuhnya ke arah para hadirin. Sekalipun Darren mencoba menghentikan ucapan Ev.
“Hentikan, Ev. Apapun yang akan kamu lakukan, tolong hentikan. Atau kamu akan….”
“Atau apa, Darren?” Ev berbalik, menatap Darren. Dia berbicara dengan suara kecil, agar orang lain tak mendengar. “Apapun yang aku lakukan malam ini, semua atas dasar ulahmu sendiri.”
Setelah berkata demikian, Ev memberikan interupsi pada seorang operator yang sudah dia tunjuk. Lampu tiba-tiba padam, hanya satu titik cahaya tampak. Itupun berasal dari resolusi proyektor yang tengah memutar sebuah video. Di mana dalam video berdurasi singkat itu, ada Darren Aryasatya Xander sebagai tokoh utama. Tidak sampai sepuluh menit, video berganti menjadi slide-slide foto yang menampilkan sepasang insan dalam berbagai kesempatan. Mulai dari foto berpelukan, bercanda, hingga berbagi cumbuan.
Reaksi para tamu undangan? Tentu terkejut bukan main. Bisik-bisik mulai terdengar, sekalipun mereka masih berada di ruangan yang sama dengan objek pembicaraan. Mungkin sekarang mereka juga sadar, mengapa semua alat komunikasi disita saat mereka memasuki kediaman ini. Ya, semua itu dilakukan agar apa yang mereka lihat juga dengar, hanya tampak oleh mata, kemudian disimpan dalam memori. Tapi, tak ada bukti otentik yang dapat mereka gunakan untuk menyebarkan apa yang mereka lihat juga dengar.
__ADS_1
“Darren, apa-apaan ini?!”
Dazen Xander adalah orang pertama yang buka suara, dua sekon pasca tayangan lewat media proyektor usai.
“Jelaskan apa yang sebenarnya tengah terjadi di sini, Darren. Siapa wanita itu? Kenapa kau bisa dekat dengan wanita lain, sedangkan kau masih berstatus suami cucuku?!”
William Atmarendra tak ketinggalan. Pria paruh baya itu ikut angkat suara, pasca menyaksikan kebusukan pria yang dia percaya untuk menjaga cucu kesayangannya.
“Ev, anakku, jelaskan apa yang sebenarnya sedang terjadi?” William Atmarendra bergerak, mengarahkan kursi rodanya ke arah sang cucu. Saking sayangnya terhadap Ev, William bahkan terbiasa memanggil Ev dengan sebutan ‘anakku’.
“Apalagi yang harus Ev jelaskan, Opa? Semuanya sudah terlampau jelas.”
“Apa maksud dari semua ini, Ev? bilang sama mama, itu cuma lelucon bukan?” Diana Xander menyeruak, mendekati Ev. menggapai punggung tangan kanan sang menantu. “Tidak mungkin Darren berbuat seperti itu, Ev. Darren—“
“Maafkan Ev, ma. Tapi, ini memang faktanya. Bukan Ev yang Darren cintai. Darren mencintai wanita lain. Mereka bahkan menikah tanpa sepengetahuan Ev.”
Diana Xander membekap mulutnya, sembari menahan tangis yang tidak dapat lagi dibendung. Wanita itu tak menyangka jika sang putra akan berbuat sejauh ini. Keadaan yang sama juga dialami oleh orang tua Ev. Elina Atmarendra tampak menangis di pelukan sang suami. Wanita itu amat kecewa atas perbuatan sang menantu. Aston Wiliam Atmarendra sudah tak tahan lagi menahan amarah. Jika saja tidak melihat situasi, dia sudah membuat putra dari keluarga Xander itu babak-belur. Namun, pria itu mengurungkan niatnya kala melihat Dazen Xander sendiri tengah menghajar anaknya habis-habisan. Mantan petinju dunia itu tampak tak segan membuat anaknya bercucuran darah segar.
Diana yang melihat putranya dihajar habis-habisan, tentu tak tega. Bagaimanapun juga Darren adalah buah hatinya. “Pah, sudah. Sudah, Darren bisa—“
“Anak bajing*n ini perlu diberi pelajaran, Ma. Dasar anak tidak tahu diuntung. Ditaruh di mana otak brilian mu itu, Darren Aryasatya Xander?!” bentak Dazen murka. Dia tak sangka jika putranya begitu baging*n, bahkan berani mempermainkan sebuah ikatan suci seperti pernikahan.
“Pa… uhuk ….uhuk ….Darren…”
“Masih berani bicara, kamu—“
“Stop, pa!”
Ayunan tangan Dazen berhenti di udara. Diana yang tadi tak dapat melerainya, kini posisinya digantikan oleh sang menantu.
“Minggir, Ev. Biar papa menghajar anak kurang ajar itu.”
“Berhenti, pa. Ini bukan papa yang Ev kenal.”
Dazen melunak. Diana yang masih menangis, segera mendekati sang suami. Mencoba menenangkan suaminya tersebut. Ev yang berhasil menyelamatkan Darren dari serangan brutal sang ayah, kemudian berbalik. Menatap sang suami yang baru saja berdiri dengan susah payah. Ev akui jika reaksi yang terjadi diluar dari perkiraannya. Ev juga sudah mengintruksikan Dimi untuk membubarkan tamu undangan yang tidak sampai menyentuh angka 50 orang. Dimi juga sudah diwanti-wanti, agar tak ada satu orang pun dari mereka yang berani buka suara.
“Kamu sengaja melakukan semua ini, Ev?” tanya Darren dengan suara parau. Tatapan pria itu tampak sendu. Tapi, kenapa?
“Ini satu-satunya cara agar kamu mau melepaskan aku Darren.”
“Tsk. Bermimpi lah, Ev. Sampai kapan pun aku tidak akan melepaskan mu,” balas Darren lantang.
“Kamu pikir saya akan membiarkan itu terjadi?” Aston beringsek maju, berdiri di depan sang putri.
“Dad,” lirih, Ev. Terharu akan aksi heroik sang ayah.
“Ternyata selama ini saya salah telah mempercayakan putri kesayangan saya.”
Darren menggelengkan kepala tegas. “Dad, ini tidak seperti—“
“Tidak seperti apa? saya sudah melihat semuanya dengan mata kepala saya sendiri!” sela Aston. “Oleh karena itu, Darren, saya akan membawa Ev kembali. Saya tidak sudi putri saya hidup bersama pria bajing*n sepertimu.”
“Tapi, dad. Ev masih istri saya. Dia—“
“Mas Darren!”
Kalimat Darren barusan tak berhasil rampung, karena sudah terlebih dahulu disela oleh sebuah suara. Seluruh atensi di ruangan tersebut kemudian beralih ke arah sumber suara tersebut. Suara itu ternyata berasal dari arah pintu utama, di mana seorang wanita muda tengah berupaya menerobos masuk. Padahal ada dua penjaga yang menghalau jalannya.
“Ella,” lirih Darren. Lidahnya terasa kelu kala menyadari siapa yang baru saja memanggil namanya dengan lantang.
“Siapa itu Darren?” tanya Diana, cepat. “Apa dia wanita yang telah membuat kamu berpaling? Apa dia wanita simpanan kamu? Jawab mama, Darren Aryasatya Xander!” lanjut Diana, memberondong sang putra dengan berbagai pertanyaan.
“Dia….”
“Jawab pertanyaan mama, Darren? Apa dia orangnya? Dia wanita itu bukan?”
Darren menghembuskan nafas kasar. Pandangannya masih tertuju pada wanita muda yang dihalau dua penjaga itu. Berbagai pertanyaan muncul di kepalanya. Mulai dari bagaimana bisa dia sampai di sini? Dengan siapa dia ke sini? Bagaimana kondisinya? Dan, ya, bagaimana kondisi kandungnya?
Namun, tak dapat berbuat apa-apa. Sekarang Darren Aryasatya Xander merasa telah terpojok. Semua bukti mengarah kepadanya.
“Iya, ma. Dia wanita itu. Wanita simpanan Darren,” jawab Darren seraya memejamkan mata. Untuk saat ini, Darren tidak mau melihat mata wanita muda itu. Dia terlalu takut, takut melihat mata yang selalu memancarkan tatapan ceria nan polos itu menyiratkan luka yang mendalam.
🥀🥀
BTC
HAHAHA..... BALAS DENDAM YANG DITUNGGU-TUNGGU. TAPI, BELUM SELESAI DONG. MASIH ADA KELANJUTANNYA.
3000 KATA LOH PART INI. KALIAN BACANYA BERAPA MENIT?
AKU UPDATE NYA AJA BUTUH PERJUANGAN KARENA JARINGAN JELEK. MANA MATI LISTRIK TEROS. TAPI FINALLY, BISA UPDATE JUGA.
YOK, JANGAN LUPA KOMENTAR YANG PANJANG BIAR SETIMPAL. HUJAT DARREN! HUJAT!
JANGAN LUPA FOLLOW AUTHOR, VOTE, LIKE, KOMENTAR & SHARE ⚠️
Sukabumi 26/02/22
22.22 WIB
__ADS_1