
🥀 LAST PART 🥀
M82 : INI BUKAN MIMPI!!
Manusia adalah mahluk Tuhan yang tidak pernah luput dari lupa dan dosa. Selama masih bernapas, manusia juga tidak lepas dari ujian. Pada dasarnya Tuhan tidak menguji manusia di luar batas kemampuannya, sebagaimana tertuang dalam surat Al-Baqarah ayat 286. Setiap ujian yang diberikan merupakan tahapan dalam kehidupan untuk membuat seorang hamba menjadi lebih bersyukur, dan meningkatkan ketakwaan pada Allah SWT.
Tidak sedikit manusia yang akhirnya sibuk berkeluh-kesah, marah-marah, hingga menyerah ketika menghadapi sebuah ujian. Padahal, cara menghadapi sebuah ujian sendiri sudah begitu jelas, yaitu dengan cara lebih mendekatkan diri pada Tuhan. Mengingat Tuhan, berdzikir, dan menghadapinya dengan ridho karena percaya jika semua ujian yang datang dari Tuhan pasti memiliki hikmah di baliknya.
Ujian yang Tuhan berikan juga bisa berbentuk apa saja, mulai dari musibah, penyakit, perselisihan, hingga godaan lewat sesuatu yang disukai. Tuhan tidak selamanya memberi manusia ujian tanpa tedeng aling-aling. Terkadang Tuhan juga memberikan pertanda saat hendak memberikan sebuah ujian atau musibah.
Ujian yang diberikan pada Darren dan Ev lewat pernikahan mereka juga pada dasarnya sudah memili pertanda sejak awal. Pertama, karena mereka menikah didasari perjanjian hitam di atas putih dengan tujuan mendapatkan benefit bagi satu sama lain. Kedua, terjadi miss komunikasi karena kurang kuatnya pondasi komunikasi di antara mereka. Yang terjadi selanjutnya adalah ketakutan yang belum tentu terjadi, ego yang terlalu tinggi, hingga tebaran kebohongan di sana-sini. Namun, jika saja dari awal mereka saling terbuka dan membangun pondasi pernikahan dengan baik, maka tidak akan terjadi bencana pada bahtera rumah tangga mereka.
Pernikahan bukanlah permainan. Pernikahan adalah sesuatu yang sakral dan krusial. Alangkah lebih baik sebelum melangsungkan sebuah pernikahan, dipikirkan dulu secara matang-matang. Ada banyak hal pula yang harus di bicarakan antara calon suami dan istri. Pre-marriage talks istilahnya. Pre-marriage talks itu tak melulu membahas soal konsep pernikahan, dekorasi, gedung pernikahan impian, MUA, resepsi dan sebagainya. Banyak hal yang dapat menjadi pembahasan saat melakukan pre-marriage talks, misalnya membicarakan soal prinsip hidup, visi, misi, impian, soal anak, money talks, tentang perceraian, dan masalah hubungan se—ksual. Hal itu jika merujuk pada buku Life As Divorce karya Virly K.A.
Jika saja diberi satu kali kesempatan lagi, apakah Darren akan melakukan sesuatu untuk merubah nasib pernikahannya dengan Ev? Jawabannya tentu saja YA. Darren akan memperbaiki pondasi pernikahan mereka dari awal, karena kesalahan itu memang terletak pada dirinya sejak awal.
“Darren.”
“….”
“Darren.”
Si pemilik nama itu tampak menautkan kening sehingga tercipta kernyitan di sana. Saat ini di sekelilingnya terasa begitu gelap. Hampa. Juga sepi. Namun, suara familiar yang terdengar dua kali memanggilnya itu memberikan secercah harapan Menggeser rasa hampa juga sepi yang melingkupi.
“Darren, bangun.”
Mendengar suara familiar itu lagi, dia mencoba melakukan interupsi tersebut. Perlahan-lahan dia mencoba membuka kedua kelopak matanya, berharap kegelapan ini akan segera sirna.
“Darren?”
Suara itu kembali terdengar bersama dengan banjiran cahaya yang menyilaukan, memasuki indra penglihatan.
“Kamu sudah bangun?”
“….”
“Kamu bisa mendengar suaraku?”
“….”
Ya, Darren mendengar suara itu. Siluet pemilik suara familiar itu juga perlahan-lahan mulai terlihat. Indra penglihatannya masih mencoba beradaptasi dengan cahaya di sekelilingnya. Cukup lama dia menyesuaikan penglihatan agar dapat melihat sekelilingnya dengan jelas.
“Ini di mana?” lirihnya dengan suara serak yang menimbulkan rasa tak nyaman di tenggorokan. Dia sadar bukan langit-langit rungan rawat inap nya yang dia lihat pertama kali.
“Kamu kenapa tidur di sini? Bukannya tadi mau ke luar untuk mencari udara segar?”
Perlahan Darren memfokuskan penglihatan pada satu titik. Lebih tepatnya pada siluet seorang wanita cantik yang tengah berdiri seraya melipat tangan di depan dada. Tubuh proporsionalnya terbungkus oleh evening dress sederhana.
Darren mengerjapkan matanya beberapa kali. Mencoba mewaraskan diri. “Ev,” panggilnya.
“Ya?” jawab lawan bicaranya.
“Kamu ….sedang apa di sini?” lirih Darren bingung. Menarik kernyitan di kening lawan bicaranya.
“Kamu lupa kita sedang apa di tempat ini??”
“Apa? Memangnya kita di mana?” bingung Darren seraya berusaha beranjak dengan cepat. Kemudian dia melarikan pandangan ke seluruh penjuru ruangan. Hal pertama yang dia tangkap adalah sebuah ruangan dengan nuansa tropis dengan sentuhan biophilic—penggabungan unsur alam ke dalam lingkungan rumah—yang menimbulkan kesan homey tropis. Ada jendela besar juga yang terbuka lebar, menyajikan pemandangan indah dari hamparan bintang-bintang.
“Ini ….di mana?”
“Maldives.”
“Maldives?” Darren melotot mendengarnya. “Bukannya aku ada di Singapura untuk menjalani pengobatan? Dan kamu bukannya sedang melangsungkan pernikahan dengan Dean?” tanyanya retoris.
Wanita cantik yang malam ini tampak mencempol rambut panjangnya itu terlihat semakin menautkan kening—kebingungan. “Kamu bicara apa sih Darren?”
“Aku tidak mengerti, Ev. Barusan aku kehilangan kesadaran karena diserang rasa sakit yang menjadi-jadi di area tulang belakang akibat kecelakaan. Aku bahkan—“
“Kecelakaan? Siapa yang mengalami kecelakaan?”
“Aku, Ev!” jawab Dean seraya beranjak dari tempatnya merebahkan diri. “Aku bahkan divonis lumpuh—“ suara pria itu terpotong seketika saat menyadari posisinya saat ini. Dia berdiri dengan dua kaki. Ya, berdiri tanpa kesulitan juga kesakitan.
“Bagaimana bisa kakiku sembuh secara mendadak?” bingung Darren. Digerakkan kedua kakinya dengan asal. “Padahal aku ingat betul divonis mengalami kelumpuhan karena kecelakaan.”
“Darren, kamu kenapa sih?” wanita cantik itu berjalan mendekat. Menyentuh lengan Darren yang masih tampak linglung. “Kamu lupa kalau kita sedang honeymoon di Maldives? Kita baru dua minggu di sini.”
“Honeymoon di Maldives? Tapi, bagaimana bisa?”
“Tentu saja bisa, karena kita baru saja melangsungkan pernikahan.”
“Baru melangsungkan pernikahan? Bukannya kita sudah menikah 5 tahun lamanya? Bahkan sudah memiliki seorang putra berusia 5 tahun?”
__ADS_1
“Fffttt. Kamu bercanda? Kamu lupa perjanjian kita?”
“Perjanjian apa?”
“Perjanjian pernikahan. Kita menikah karena benefit yang akan kita dapatkan. Soal hubungan se—ksual dan anak ….itu masuk ke dalam points yang bisa diperbincangkan sesuai kesepakatan bersama.”
Darren kontan terdiam mendengarnya. ‘Apa maksudnya ini? Aku kembali ke masa lalu? Atau sedang bermimpi karena tidak dapat menerima kenyataan yang ada?’ gumam Darren.
“Darren, aku tahu kamu sedang banyak pikiran soal pekerjaan. Mungkin kamu terlalu kepikiran, sampai-sampai terbawa ke dalam mimpi.”
Darren menoleh, menatap lawan bicaranya lekat. Wanita cantik yang tengah menyentuh lengannya itu tampak nyata berada di depan mata. Ini mimpi atau bukan?
“Darren, kamu sakit ya?” kini tangan yang tadi menyentuh lengannya itu berpindah pada kening. Menempel di sana, memastikan suhu tubuh Darren.
“Tidak panas,” kata wanita cantik itu. dia semakin dibuat kebingungan.
Begitu pula dengan Darren yang masih tampak linglung.
“Ev.”
“Ya?”
“Ini mimpi?”
“Kamu kan baru bangun tidur Darren. Mimpi dari mananya?” wanita cantik itu tampak tersenyum kecil di akhir kalimatnya.
“Aku butuh diyakinkan, Ev.”
“Maksudnya?”
“Can I kiss you?”
“Heh?” wanita cantik itu memicingkan mata seketika.
“Atau kamu tampar aku?”
“….”
“Ev, pilih salah satu dari—“
PLAK!
Kalimat pria itu tidak sampai rampung diucapkan, karena sudah terlebih dulu terpotong oleh suara tamparan yang bersarang di rahangnya. Disusul oleh suara ringisan.
Darren masih terpaku di tempatnya bukan karena marah. Dia justru tengah meresapi rasa sakit yang tengah menjalar di rahangnya. Rasa itu nyata dan benar adanya. Jadi, Darren bisa menyimpulkan jika ini bukan mimpi?
“Ini bukan mimpi.” Pria rupawan itu kini tersenyum lebar seraya menatap lawan bicaranya yang tampak kebingungan.
“Iya, ini bukan mimpi. Barusan kamu baru bangun tidur. Kamu pasti mimpi panjang tadi.”
“Jadi tadi itu mimpi?” monolog Darren.
Dijawab anggukan kepala oleh Ev. “Kamu sejak pagi jadi lebih pendiam karena masalah di perusahaan, kan? Mungkin efek terlalu banyak pikiran, kamu jadi mengalami mimpi buruk.”
Darren kembali terdiam mendengarnya. Mimpi buruk karena banyak pikiran? Masalah di perusahaan? Dia mencoba merangkai maksud dari ucapan lawan bicaranya.
Jadi, dapat disimpulkan bahwa sekarang dia terbangun pada hari itu. Ya, hari di mana dia frustasi berat—karena tidak dapat turun tangan menangani masalah di perusahaan—dan memilih melampiaskan rasa kesalnya di mini bar sampai kehilangan kesadaran. Dari sana lah awal mulanya hubungan mereka menjadi toxic. Karena kehilangan kesadaran, Darren meniduri sang istri tanpa sadar, dan terbangun di pagi hari dengan ingatan telah meniduri seorang gadis dari bar.
Ev yang tahu betul tabiat Darren telah melakukan sebuah tindakan pencegahan yang apik dan cerdas. Ev memanipulasi kejadian tersebut karena tahu ego Darren akan mempersulit tujuan utama mereka. Semenjak itu, hubungan Ev dan Darren jadi merenggang. Mereka hidup bersama sebagai pasangan suami-istri, namun kian asing satu sama lain. Ego kian memperkeruh hubungan mereka hingga menjadi kian toxic. Hingga membawa satu per satu petaka yang masih Darren ingat betul dalam ingatannya.
“Jadi itu hanya mimpi? Tapi, kenapa terasa nyata sekali?” tanyanya sekali lagi, masih tidak percaya.
“Mimpi terkadang mengingatkan kita terhadap sesuatu yang akan terjadi, sesuatu yang telah terlupakan atau terlewatkan. Mimpi juga terkadang diibaratkan sebagai pesan yang ingin disampaikan. Mimpi juga dapat dipengaruhi oleh kondisi tubuh dan pikiran,” tutur lawan bicaranya. “Kamu tidur dengan kondisi banyak pikiran. Mungkin efeknya kamu mengalami mimpi buruk.”
Pria itu mengangguk mantap. “Mimpiku sangat buruk. Aku melakukan kesalahan sangat fatal dalam mimpi itu. Parahnya lagi bukan cuma satu kali, melainkan berkali-kali.”
“Seburuk itu?”
Pria itu kembali mengangguk. Dia ngeri sendiri mengingatnya.
“Mungkin kamu mengalami lucid dream.”
“Lucid dream?” bingung Darren.
“Lucid dream atau mimpi sadar adalah sebuah mimpi ketika seseorang sadar bahwa dia sedang bermimpi. Si pemimpi bahkan mampu berpartisipasi secara aktif dan dapat mengubah pengalaman imajinasi dalam dunia mimpinya. Si juga dapat merasakan emosi ketika bermimpi, misalnya merasa takut.”
Darren tahu wanita yang menjadi istrinya ini cerdas. Penjabaran barusan begitu meyakinkan dan masuk akal. Namun, Darren tidak sadar jika apa yang dia alami adalah mimpi. Berarti dia tidak mengalami lucid dream? Apa yang dia alami murni mimpi yang mengandung sebuah arti.
Mimpi itu ibaratkan pesan. Ibarat pemberitahuan bahwa dia telah memiliki kesempatan agar tidak sampai melakukan kesalahan yang sama seperti yang tercermin di dalam mimpi. Kuncinya adalah kesampingkan ego, perbaiki pondasi pernikahan, dan hilangkan perjanjian yang sempat mengikat mereka.
“Ev.”
“Hm?”
__ADS_1
“Di mana kamu menyimpan salinan perjanjian pernikahan kita?”
Ev tampak bingung mendapati pertanyaan itu. “Di berangkas. Di dalam walk in closet.”
Darren mengangguk mendengarnya. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, pria itu langsung bergerak mencari sesuatu. Ev tentu dibuat kebingungan melihat tingkah sang suami.
“Kamu sedang mencari apa Darren?”
“Handphone.”
“Handphone? Kita tidak dapat menghubungi siapa pun, kamu lupa?”
Darren baru berhenti mencari setelah mendengar informasi tersebut. “Kalau begitu biar Damian yang memusnahkan surat itu jika aku sudah dapat menghubunginya nanti.”
“Maksud kamu apa?”
Darren berbalik, menatap Ev lekat-lekat. “Aku tidak mau meneruskan hubungan ini lagi Ev.”
“Maksudnya kamu mau mengakhiri pernikahan kita yang baru seumur jagung? Bukannya perjanjian kita—“
“Aku ingin mengakhiri perjanjian kita agar kita bisa membina rumah tangga seperti pasangan pada umumnya.”
“….”
“Ayo kita mulai merencanakan pernikahan ini dengan baik untuk kedepannya, Ev. Aku tidak mau lagi ada kepura-puraan.”
Ev masih terdiam di tempat. Bibirnya tak mampu mengucapkan sepatah kata pun. Semua yang dilontarkan Darren terlalu mengejutkan baginya. Ditambah lagi dengan pernyataan pria itu berikutnya.
“Aku sayang kamu, Ev.”
“A—pa??”
“Semenjak kita dijodohkan, banyak hal yang sudah terjadi. Banyak juga yang telah berubah, termasuk perasaanku. I falling in love with you.”
“Kamu ini kenapa Darren? Kenapa tiba-tiba bicara melantur?”
Darren tersenyum lebar melihat raut wajah kebingungan milik Ev. Dengan segera pria itu meraup jarak di antara mereka. Membawa tubuh Ev ke dalam rengkuhan. Membuat indra penciumannya dapat menghirup aroma harum yang berkesan manis dan feminim dari campuran bunga-bungaan, serta aroma fresh dari campuran citrus.
Ev yang mendapatkan pelukan tiba-tiba tentu semakin terkejut sampai tidak dapat berkata-kata. Darren yang terkesan dingin, datar dan flat kini berbeda. Apalagi seharian ini pria itu lebih pendiam dan murung karena memikirkan masalah pekerjaan. Namun, kini lihatlah Darren yang sekarang tengah memeluknya dengan erat. Sungguh berbeda sekali dengan tabiat Darren Aryasatya Xander pada umumnya.
“Ev.”
“Ya?” jawab si pemilik nama ragu-ragu. Rengkuhan pria itu kini telah mengendur, menciptakan jarak beberapa senti. Digantikan oleh kontak mata yang masih terjalin.
“Mulai detik ini dan kedepannya kita akan menjalani pernikahan seperti pasangan pada umumnya. Tidak ada lagi surat perjanjian pernikahan yang membatasi kita untuk berhubungan selayaknya pasangan suami-istri. Kamu milikku. Begitu pun juga aku, milik kamu. Tidak boleh ada kebohongan di antara kita. Jika ada yang ingin kamu bahas, let’s talk. We can do deep talk or pillow talk.” Darren lagi-lagi menyunggingkan senyum. Tak jemu-jemu dia memandangi wajah cantik lawan bicaranya.
“Aku tidak mau menikah untuk berpisah dengan kamu. Aku mau menikah untuk berbagi kehidupan dan melangsungkan keturunan bersama kamu. Aku berjanji akan menjadikan kamu satu-satunya. Janji itu bukan sekedar janji, aku akan membuktikannya. Cukup kebodohan ku di dalam mimpi sial*n itu, tidak akan lagi terulang di dunia nyata.”
Setelah berkata panjang kali lebar, respon Ev begitu Darren tunggu-tunggu dengan perasaan tak menentu. Dia takut Ev tidak mau menerima semua pernyataan yang dia ucapkan barusan, karena ekspresi wanita cantik itu B saja. Alias biasa saja. Darren jadi was-was. Mungkin dia terkesan terburu-buru dan modal nekad sehingga membuat Ev kaget bukan kepalang, tapi Darren tidak mau membuat kesalahan yang sama seperti di dalam mimpi. Jadi, dia akan mulai membenarkan alur pernikahan mereka dari detik ini.
“Ev?” panggilnya hati-hati. “Kamu tidak keberatan, kan? Atau jangan-jangan….”
Tiba-tiba saja satu nama terlintas di kepala Darren. Dean Wijaya. Apa Ev tidak mau menjalani pernikahan sungguhan dengannya karena pemilik nama itu?
“Yes, I do.”
“Hm?” Kaget Darren. “Kamu barusan bilang apa, Ev?”
Wanita cantik itu tersenyum lebar seraya menatap lawan bicaranya. “I do. Let’s get marriage for real and have lots of adorable kids. (aku bersedia. Ayo kita menikah sungguhan dan memiliki banyak anak yang menggemaskan).”
“Of course, Mère,” jawab Darren enteng seraya melabuhkan satu perlakuan manis di pucuk kepala Ev. “Kali ini aku tidak akan menyia-nyiakan kesempatan untuk membuat kamu bahagia.”
🥀🥀
THE ENDING VERSI KEDUA 🥳🥳
Alhamdulillah, ending juga. Jadi gimana setelah membaca part ini? kesel? sedih? masih kurang? kaget? or etc?
Cus, komentar 👇
For information, Mistress ini cerita yang aku buat tanpa rencana matang. Tapi, dalam perjalanannya butuh banyak perjuangan, sehingga jadi ceritanya paling matang yang sudah aku tulis. Ceritanya ini juga ditulis di 2 kota (Sukabumi & Tanggerang) sama seperti BSK (Sukabumi & Bandung).
Aku juga mau berterima kasih buat Readers setia kapal Ev-Dean & Ev-Darren. Terima kasih sudah mengawal anak-anak neng sampai titik ini.
Semoga suka sama ceritanya. Ambil hikmahnya, jadikan pelajaran jika ada yang dapat dijadikan pelajaran. Tapi, jangan PLAGIAT 🤬
Ok, segini dulu dari neng. Sampai jumpa lagi di BCT & BDJ.
Coming soon berbau Abdi Negara seperti bocoran di IG 😘
Jangan lupa like, vote, komentar, follow Author & share ❤️
Sukabumi 16/05/22
__ADS_1