
EXTRA PART : DAN & DUCHESS
“Tadi itu apa, mas?”
“Apa?”
Alih-alih menjawab, pria rupawan bermarga Xander itu malah balik bertanya.
“Kamu kok bicara gitu sama El dan istrinya?”
Pria rupawan itu mengedipkan bahunya acuh seraya mendudukkan dirinya di samping sang istri yang hendak menyusui putra mereka. Helaan napas berat kemudian terdengar dari arahnya. Sekarang mereka sudah berada di kamar, seharusnya topik pembicaraan soal pasangan berinisial ‘E’ itu tidak lagi dibicarakan.
“Aku merasa ada something yang mengharuskan aku berkata demikian.”
Wanita cantik yang tengah memangku putra sematawayangnya itu tampak menautkan kening. “Kamu aneh deh. Aku jadi curiga.”
“Curiga kenapa?” pria rupawan itu langsung menoleh ke arah sang istri.
“Sikap kamu tadi itu keterlaluan loh, mas.”
“Keterlaluan gimana sih, yang?” putra Xander itu menipiskan bibir, sebal karena tak kunjung dapat meyakinkan sang istri. “Kamu gak lihat gimana sikap istri Elgara? Aku rasa gadis desa itu tidak cocok untuk Elgara. Dia juga gak sopan, curi-curi pandang terus ke arah aku yang notabene suami orang. ”
“Terus? Cocoknya sama kamu?”
“What? No!” Darren menjawab dengan cepat seraya menatap sang istri tajam. “Kamu ada-ada saja, deh. Aku cuma merasakan energi negatif dari istri Elgara.”
“Memangnya dia hantu?”
Darren menghela napas berat seraya menatap sang istri lekat. “Sayang, dengar. Aku bisa melihat jika gadis desa itu memiliki something yang dapat merugikan Elgara di kemudian hari. Dari jenis tatapannya saja, aku bisa melihat sesuatu yang tidak beres.”
“Tumben kamu kayak gini mas,” ujar Ev seraya membuka satu per satu kancing bajunya. Si kecil Dan tampak sudah tidak sabar untuk diberi ASI. “Biasanya kamu cuek dan tidak pernah dengan urusan orang lain.”
‘Kamu gak tahu aja kalau gadis desa itu rubah berekor Sembilan, sayang!’ batin Darren di dalam hati. Dia berupaya keras membangun benteng yang tinggi semenjak munculnya wanita itu.
Awalnya Darren tidak berniat berkata demikian. Semua itu spontan. Terjadi begitu saja. Katakanlah itu adalah bentuk perlindungan yang Darren upayakan untuk keluarga kecilnya. Darren sempat berpikir Estrella yang ada di dalam mimpi dan di dunia nyata akan berbeda. Namun, siapa sangka jika mereka tetap memiliki karakteristik yang sama. Dari tatapannya saja, Darren sudah bisa melihat sisi negatif dari wanita desa itu.
Mungkin jika di dalam mimpi, Darren bisa jatuh dalam pelukannya karena memang kurang belaian kasih sayang dari wanita yang dia cinta—Evelyn. Namun, di dunia saat ini, Darren tidak kekurangan kasih, sayang, ataupun cinta. Dia memiliki istri cantik yang sangat sempurna di matanya, putra yang tampan, dan posisi yang nyaman di perusahaan. Fabi-ayyi aalaa-i rabbikumaa tukadz-dzibaan. Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?
“Intinya aku gak suka sama istri Elgara.”
Darren kembali buka suara, menegaskan. Dia hanya tidak suka. Tidak suka wanita desa yang ‘sok’ polos dan lugu itu, padahal hatinya busuk. Mungkin Evelyn yang baik hati belum bisa melihat kepribadian lain dari wanita bernama Estrella tersebut. Oleh karena itu Darren sejak awal mewanti-wanti. Dia tidak mau jika kelak putra sematawayangnya terlibat toxic relationship dengan gadis seperti Estrella.
“Sayang.”
“Hm?”
“Gimana kalau kita pindah rumah?”
“Eh, maksudnya?” bingung Ev. Wanita cantik itu baru saja selesai menyusui si kecil. Sekarang bayi tampan itu sudah kembali terlelap dalam buaian mimpi.
“Kita pindah ke Paris atau Switzerland, gimana?”
“Kok tiba-tiba ngajakin pindah sih, mas?”
‘Soalnya rubah ekor Sembilan itu sudah tahu rumah kita. Takutnya dia nekad. Kita kan gak tahu senekad apa dia, sayang,’ jawab Darren, namun di dalam hati.
“Mas? Kok malah diam?”
“Kamu sedang membangun dan mengembangkan sekolah fashion kamu di Paris? Memangnya kamu enggak mau berkontribusi secara langsung?”
Ev tampak berpikir untuk sejenak. Dia memang memiliki sekolah fashion di Paris, Perancis. Sekolah itu adalah cita-cita Ev. Sebuah bentuk dedikasi Ev terhadap dunia fashion yang sangat dia cintai. Sekolah fashion itu Ev dirikan dengan keringatnya sendiri. Anak-anak dari berbagai kalangan, suku, hingga ras, diperbolehkan mengenyam pendidikan di sekolah Ev yang tidak memungut biaya sepeserpun. Ev bahkan berencana mendirikan sekolah fashion khusus untuk para penyandang disabilitas.
Perkataan Darren memang ada benarnya, kontribusi Ev dibutuhkan di sana. Namun, untuk pindah tempat tinggal bukanlah keputusan yang bisa diambil dengan mudah. Butuh banyak pertimbangan. Lagipula pekerjaan Ev juga sebagian besar ada di Negara ini.
“Kalau kita pindah, gimana sama kerjaan kita di sini, mas? Kamu kalau bicara jangan asal deh. Masih banyak hal yang perlu kita pertimbangkan.”
__ADS_1
“Iya. Aku cuma kasih sarah, sayang. Lagipula semua balik lagi sama kamu. Aku mah, ngikut aja. Yang penting kamu sama baby Dan happy.”
Darren tersenyum lebar seraya memeluk pinggang sang istri. Wanita cantik itu baru saja memindahkan baby Dan ke box bayi. Mungkin karena belum terbiasa dengan keramaian, baby Dan akan kesulitan jika hendak tidur. Beberapa kali bayi tampan itu juga merengek karena terus-menerus jadi pusat perhatian. Padahal hari ini adalah milik baby Dan seorang.
“Mas.”
“Hm?”
“Soal perkataan kamu tadi, itu cuma asal bicara atau serius?” Ev bertanya seraya menyentuh punggung tangan yang melingkari pinggangnya dengan lembut.
“Serius,” jawab Darren dengan dagu bertopang pada bahu sang istri. “Jika Damian, atau Dewangga punya seorang putri, bisalah perjodohan dibicarakan sejak dini.”
“Kamu mau menjodohkan Dan?”
Darren mengangguk sebagai jawaban. “Sebagai orang tua, aku cuma ingin yang terbaik untuk putraku. Oleh karena itu, aku ingin menyiapkan masa depan untuk Dan sejak dini.”
“Tapi Dan punya hak untuk memilih pasangannya, mas.”
“Iya, aku tahu itu. Namun, aku juga yakin jika Dan suatu saat nanti akan mengerti jika orang tuanya sudah memilihkan yang terbaik untuk masa depannya.”
Ev tersenyum tipis. Dia tahu niat baik sang suami dibalik sikap otoriter nya. Darren hanya ingin yang terbaik untuk buah hati mereka. Ev tahu hal itu. Hanya saja, Ev juga ingin memberi putranya kebebasan dalam memilih. Sebagai seorang ibu, Ev tidak mau hak-hak sang putra diambil begitu saja. Namun, sebagai seorang istri, Ev juga meyakini bahwa sang suami hanya ingin memberikan yang terbaik untuk menjamin masa depan putra mereka.
“Mas.”
“Iya, sayang?”
“Aku memperbolehkan Dan dijodohkan dengan pasangan yang kamu pilihkan. Namun, jika suatu saat nanti Dan menolak dengan mengatasnamakan hak yang dia miliki, tolong jangan egois. Biarkan Dan memilih pasangan yang dia kehendaki untuk dinikahi.”
Darren mengangguk seraya mengangkat wajahnya dari bahu sang istri. “Ok. Kamu bisa pegang ucapanku, sayang. Karena pada dasarnya aku hanya ingin yang terbaik untuk putra kita. Bukan berarti aku harus egois jika Dan memang ingin memilih pasangan yang dia kehendaki.” Satu kecupan Darren berikan di pipi kanan sang istri. Kemudian ia kembali berkata, “asalkan pilihan Dan benar, maka aku akan menyetujuinya. Jika Dan salah memilih pasangan hanya atas nama cinta yang membutakan mata dan hati, aku tidak akan memberikan restu.”
Ev menoleh seraya tersenyum lebar. “Kita percayakan saja sama Dan. Yang terpenting sebagai orang tua, kita sudah memberikan fasilitas yang memadai untuk masa depan Dan.”
“Tentu saja,” jawab Darren seraya mengikis jarak di antara mereka. “Tapi jika dipikir-pikir, ide perjodohan juga tidak terlalu buruk—walaupun itu adalah ide kolot. Benar bukan, sayang?”
“Hm?”
🌼🌼
“Kita mau bertemu dengan siapa, Mère?”
Anak laki-laki yang berusia tiga tahun itu berkata seraya melirik sang ibu yang tengah sibuk mengeluarkan beberapa barang dan parsel dari dalam kursi penumpang.
“Kita mau bertemu princess-nya Dan.”
“Princess? Jadi baby di perut Onty Dew sudah keluar?”
“Of course. Baby di perut onty sekarang sudah lahir ke dunia. Dan sudah tidak sabar ingin menjenguk princess-nya om dan onty, ‘kan?”
Anak laki-laki itu mengangguk dengan antusias. Setelah berhari-hari dia menunggu, akhirnya sesuatu yang selalu menendang dengan heboh di dalam perut onty-nya saat disentuh, lahir juga ke dunia.
“Nanti princess-nya Dan boleh dibawa pulang?”
Wanita cantik yang menggunakan sleeveless A-line mini dress yang dibuat dari bahan wol dan sutra dari Louise Vuitton tersenyum lebar mendengar ucapan putra semawayangnya.
“Dan, dengarkan Mère, untuk saat ini princess belum boleh dibawa pulang sama Dan karena masih sangat kecil. Princess masih membutuhkan onty Dew dan om Dam. Jadi, Dan hanya boleh menjenguk princess untuk saat ini. You understand, Schatz (sayang)?”
“Ja, Mère.”
Setelah memberikan pengertian pada sang putra, Ev kemudian menggandeng si kecil untuk memasuki lobby rumah sakit. Mereka sempat berhenti sejenak karena ada beberapa orang yang meminta izin untuk foto bersama.
“Sayang!”
Saat tiba di lobby, ternyata ada yang sudah menunggu mereka. Lihatlah, Perè satu anak yang kini sedang menerbitkan senyum lebar, menyambut kedatangan istri dan putra tercintanya.
“I miss you bad,” ungkapnya saat sang istri sudah berada dalam jangkauan. Tanpa segan pria rupawan itu memeluk istrinya dengan mesra.
“Terakhir kita berjumpa empat jam yang lalu loh, mas?”
__ADS_1
“Iya. Tapi, empat jam itu bukanlah waktu yang sebentar sayang,” balas sang suami saat pelukan mereka terlepas. “Perè juga rindu berat sama Dan!” serunya seraya menyamakan tinggi badannya dengan si kecil.
“Perè miss Dan?”
“Of course.” Darren Aryasatya Xander berkata seraya menyentuh pucuk kepala sang putra. “My prince tampan sekali hari ini.”
“Hari ini Dan mau bertemu princess.”
Dengan cukup fasih, putra sematawayangnya itu menjawab. Membuat Darren tertawa sendiri karena terhibur. Putra mereka memang sangat pintar. Di usia yang baru genap 3 tahun, Dan sudah mampu berkomunikasi dengan menggunakan 2 hingga 3 kalimat dengan jelas. Pada usia tiga tahun, anak-anak memang sudah mampu berkomunikasi menggunakan kata ganti, seperti aku, kamu, dia, dan sebagainya. Pada usia ini, perkembangan fisik, motorik, sosial, dan emosional anak juga semakin berkembang dengan baik.
Sebagai orang tua, Ev dan Darren harus selalu jeli dalam mengawasi tumbuh kembang si kecil. Bisa dikatakan bahwa usia 1 sampai 4 tahun adalah periode emas karena pada rentang usia tersebut, tumbuh kembang anak akan menjadi sangat pesat. Contoh saja perkembangan atau kemampuan berbicara yang selaras dengan perkembangan biologisnya. Orang tua juga harus selalu waspada terhadap perkembangan anak. Jika anak memasuki usia 3 tahun ke atas masih kesulitan bicara dengan jelas, kondisi ini bisa mengindikasi bahwa anak mengalami speech delay atau keterlambatan bicara.
“Iya. Ayo, Perè gendong. Kita bertemu princess-nya Dan sama-sama.” Darren bergerak, membawa sang buah hati ke dalam gendongannya. Tindakan itu sempat dilerai sang istri, karena takut si kecil membuat pakaian ayahnya kusut.
“No problem, sayang. Baju yang aku gunakan tidak sebanding dengan putraku.” Kalimat itulah yang Darren berikan saat sang istri melerai.
Pasca perdebatan kecil itu, keluarga cemara tersebut langsung naik ke lantai 4 untuk menjenguk kerabat mereka. Si ibu dan bayinya di rawat di ruangan VVIP yang ada di lantai 4.
“Bagaimana Dan?” tanya sang Ev saat berhasil mempertemukan Dan dengan calon pasangannya kelak.
“Sehr klein und niedlich.”
“Apa katanya, Ev?”
Wanita di atas bed rumah sakit itu bertanya karena tidak tahu arti dari perkataan si kecil Dan. Anak laki-laki itu berbicara menggunakan bahasa Jerman yang tidak dimengerti.
“Kata Dan baby kalian sangat kecil dan menggemaskan.” Ev tersenyum tipis seraya menyentuh pucuk kepala putranya. Putranya itu terlihat sangat antusias menatap mahluk mungil dengan kulit yang kemerahan terlelap di dalam box bayi yang transparan.
“Dan suka sama princess-nya om?”
“Suka!” jawab Dan cepat. “But, she is mine, uncle,” koreksi si kecil Dan.
“Eh?” ayah dari bayi perempuan itu tertegun mendengar kalimat dari anak laki-laki berusia 3 tahun tersebut.
“Perè bilang princess akan menjadi milik Dan. Jika Dan sudah lebih tinggi dari Perè.”
Kontan para orang dewasa di sana tersenyum juga tertawa kecil mendengarnya. Ucapan polos ahli waris keturunan Xander itu benar-benar membuat perut mereka tergelitik.
“Posesif sejak dini rupanya,” goda Darren seraya menyentuh pucuk kepala Dan. “Dan boleh memiliki princess jika sudah besar nanti. Itupun jika Dan bisa menjaga princess dengan baik.”
“Dan akan menjaga princess dengan baik,” jawab si kecil Dan tanpa ragu.
Darren menatap sang istri untuk sejenak. Wanita cantik itu tampak tersenyum manis. Dia kemudian beralih pada pasangan suami-istri pemilik bayi perempuan—Damian dan Dewita—yang telah mereka tunggu dua tahun lamanya. Satu tahun yang lalu, Dewangga juga telah memiliki buah cinta pertama yang berjenis kelamin laki-laki. Padahal saat melakukan pemeriksaan ultrasonografi atau USG, calon buah cinta pria yang berprofesi sebagai COO dengan pasangannya itu adalah perempuan.
“Dan bisa panggil dia Duchess,” kata Damian memberitahu. “Om harap Dan bisa berteman baik dengan Duchess.”
Si kecil Dan mengangguk seraya tersenyum lebar. “Dan akan menjaga Duchess.”
🌼🌼
Finally, ini extra part terakhir ya ☺️
Buat yang minta sequel, akan aku siapkan 🥳
Panel terakhir juga sudah aku kasih bocoran soal sequel cerita ini. Jadi, readers bisa nebak-nebak dong cerita siapa dan alurnya bakal gimana?
Untuk saat ini aku bakal stay di BDJ dan BCT dulu, ya 🙌
Jangan lupa mampir. Terima kasih sudah menemani perjalanan Mistress sampai sejauh ini 🤩😍
Dapat salam dari baby Dan, katanya sampai jumpa di lapak berikutnya 👇
Jang lupa like, vote, komentar, follow Author & share ❤️
Sumber : Halodoc
__ADS_1
Sukabumi 21/06/22