
EXTRA PART : 40 DAYS BABY DAN
🥵🥵
Wanita cantik yang tadinya tengah sibuk memulas make up tipis di wajahnya itu tampak terkejut untuk saat sepasang lengan tiba-tiba melingkar di pinggangnya.
“Mas, baby Dan mana?” tanyanya kemudian saat merasakan sepasang lengan itu kian erat memeluknya.
“Aku titipkan. Baby Dan jadi rebutan grandma, oma, kakek buyut sama onty-onty nya di bawah.”
“Tapi baby Dan enggak nangis, ‘kan?”
“Enggak dong. Dia, kan, gak cengeng.”
“Wajar kalau baby Dan masih suka menangis, mas. Tapi kamu enggak sembarangan kasih baby Dan, kan?”
Pria rupawan yang menggunakan kemeja berwarna putih dengan corak berwarna biru muda itu mengangguk. Seragam dengan sang istri yang menggunakan dress selutut berwarna putih dengan motif senada berwarna biru muda.
Hari ini kediaman pasangan suami-istri Xander itu mengadakan 40 days baby Dan. Awalnya beberapa anggota keluarga mengusulkan agar mereka mengadakan 1st month untuk baby Dan, alih-alih tasyakuran 40 hari. Namun, ide itu ditolak pasangan Xander tersebut karena mereka sudah janji akan mempublikasi wajah putra pertama mereka setelah berusia 40 hari. Selama kurun waktu tersebut, baby Dan juga belum boleh dibawa kemana-mana.
Dalam syariat Islam memang tidak ada larangan mengenai bayi yang belum berusia 40 hari tidak boleh dibawa kemana-mana. Yang ada hanyalah larangan untuk membiarkan anak-anak keluar rumah saat waktu magrib dan isya, sebagaimana tertuang dalam sebuah hadist riwayat Bukhari yang berbunyi. “Jika malam telah tiba, maka jagalah anak-anak kecil kalian (jangan keluar rumah) karena syaitan bertebaran pada waktu tersebut. Sedangkan, jika telah berlalu beberapa waktu malam (isya) maka biarkanlah anak kalian.”
Dari segi kesehatan sendiri, menurut ustadz Rikza yang berprofesi sebagai dosen di Universitas Muhammadiyah Jakarta, mengatakan bahwa sebaiknya orang tua memang tidak membawa keluar anak-anak atau bayi mereka—terlebih sebelum 40 hari. Ungkapan ini lebih cenderung pada faktor masalah kesehatan yang bisa saja menyerang si kecil.
“Baby Dan masih lemah dan sangat mudah terpapar oleh berbagai virus, wabah penyakit, debu, bakteri dan sebagainya. Makanya, mas jangan sembarangan kasih baby Dan cuma karena baby Dan enggak nangis pas digendong sama mereka. Di bawah ada Dini, ‘kan? Dia yang lebih dapat dipercaya buat menjaga baby Dan.”
“Maaf, sayang. Lagian tadi mereka rebutan baby Dan karena gemas.”
Darren Aryasatya Xander yang notabene ingin segera kabur dari hiruk-pikuk di lantai dasar—memang memberikan sang putra begitu saja pada kakek dan neneknya yang selalu rebutan si kecil. Padahal baby Dan juga sudah punya suster pribadi, yaitu Dini—maid yang dulunya diberikan kepercayaan untuk mengurus Emilio.
Ev bukan melarang putra sematawayangnya di sentuh. Namun, dari edukasi yang dia dapatkan sebagai seorang ibu atau orang tua yang baru dikarunia buah hati, Ev hanya ingin memberikan proteksi agar sang putra selalu terlindungi. Dan yang masih bayi memang masih mudah terpapar berbagai virus, kuman, atau bakteri yang tidak sengaja dibawa oleh orang luar. Jika Darren pulang dari kantor saja, pria itu diwajibkan bersih-bersih terlebih dahulu sebelum menjumpai sang putra. Itu dilakukan sebagai bentuk proteksi atau pertahanan sejak dini.
Lebih baik mencegah daripada mengobati, bukan? Jadi, Ev selalu berusaha protektif dalam menjaga si kecil agar si kecil selalu terlindungi.
“Kamu tahu sendirilah, baby Dan itu copy paste dari ayahnya. Jadi jangan heran kalau baby Dan sangat tampan dan menggemakan,” kata putra Xander itu percaya diri sekali.
Sang istri lantas menanggapi sang suami dengan tawa kecil yang lolos begitu saja. “Percaya diri sekali Perè satu ini.”
“Of course. Lagipula aku berbicara soal fakta yang nyata.” Pria rupawan itu lantas membawa wajah cantik sang istri agar bisa dia tatap sepenuhnya. “Mère-nya Dan juga cantik sekali. Wajahnya menyejukkan hati, makanya Dan sangat disukai oleh banyak orang. Dia memang mewarisi sebagian keindahan dari wajah Mère-nya.”
“Masa sih?”
“Aku bicara jujur,” balas Darren seraya tersenyum lebar. “Kalau matematika bertahun-tahun bisa bikin aku pusing, ngelihat senyum kamu yang sebentar aja sudah bikin aku salting.”
Ev tak kuasa tersenyum semakin lebar saat pria yang berprofesi sebagai CEO itu tiba-tiba berubah jadi perayu ulung. Darren juga jadi pandai berkata-kata dan pandai mengeluarkan selentingan gaul ala kids zaman now. Oleh karena itu, sang istri kerap kali terhibur dengan kalimat-kalimat atau selentingan yang sering dilontarkan oleh pria rupawan tersebut.
“Kan, senyum kamu manis. Jadi pengen makan,” katanya seraya mengalihkan pandangan pada bibir ranum sang istri. “May I kiss you, Mère-nya Dan?”
Ev tersenyum seraya menatap sang suami lekat. Tanpa suara, wanita cantik itu memberikan persetujuan lewat anggukan kepala. Mendapat lampu hijau dari sang istri, Darren tentu tidak menyia-nyiakan kesempatan tersebut. Dengan segera dia menyambar bibir ranum sang istri yang sudah menjadi candu sejak lama. Hanya dengan begini saja, euphoria di dalam dada sudah begitu luar biasa.
Ini baru ciuman di bibir, belum di tempat-tempat lain yang tidak dapat terjangkau oleh mata. Ah, membayangkannya saja sudah membuat keturunan Xander itu beling—satan tak karuan.
“Sudah dulu,” ujar sang istri saat pangutan di antara mereka terlepas setelah beberapa saat kemudian.
“Kurang,” rajuk pria yang terkenal datar dan dingin tersebut. Lain cerita jika tengah bersama sang istri. Darren Aryasatya Xander yang dingin, datar dan irit bicara itu akan langsung berubah jadi posesif, cerewet, dan pervert alias mesum.
“Udah dulu. Nanti kalau kita kelamaan di atas, baby Dan kasihan.”
Darren menipiskan bibir seraya mencuri satu kecupan lagi secara kilat. Sang istri tentu terkejut karena ulahnya.
“Mas!”
“Apa sayang?” sahut Darren tanpa dosa.
Ev menghela napas kecil seraya menggeleng-gelengkan kepala. Tingkah papa muda ini kalau sedang ada maunya memang ada-ada saja.
Setelah perdebatan kecil tersebut, tuan rumah di mana acara tasyakuran 40 hari itu akhirnya turun ke lantai bawah. Di sana sanak saudara, keluarga, sahabat, dan para tamu undangan mulai memenuhi ruangan. Mereka disambut dengan ramah, kemudian dijamu oleh beraneka ragam makanan manis dan asin dari dalam hingga luar negeri. Makanan yang menjadi favorit sendiri masih makanan khas dari dalam negeri, yaitu kue basah yang biasa dijajahkan di pasar-pasar tradisional.
Ev memang sengaja meminta kepala pelayan—bi Surti—untuk menyediakan berbagai kudapan manis yang bias dijajahkan di pasar tradisional. Mulai dari bolu kukus, kue apem, bika ambon, kue cucur, kue carabikang, kue pukis, dadar gulung, klappertart, lapis legit, kue lumpur, nagasari, onde-onde, putu ayu, klepon, cente manis, selendang mayang, dan kawan-kawannya. Ada juga kue srikaya khas Palembang dan kue timpan khas Aceh yang ikut menjadi santapan para tamu undangan yang hadir.
“Baby Dan tidak menangis, ‘kan?”
__ADS_1
“Enggak, kok. Dia anteng sama kita,” jawab pasangan yang bulan depan akan segera melangsungkan pernikahan tersebut. “Lagian baby Dan memang anaknya baik terus ngegemesin banget. Nanti kalau aku punya baby girls, kita jodohin sama baby Dan boleh enggak?”
“Uhuk, uhuk.”
“Lah, kok malah batuk sih? Kamu keselek selendang mayang?”
Pria rupawan yang memang sedang menikmati es selendang mayang itu mengangguk tanpa kata. Padahal dia tersedak karena ucapan sang tunangan yang tiba-tiba main bahas soal anak. Padahal mereka menikah saja belum.
“Damian salting tuh,” bisik Darren pada telinga sang istri.
“Jangan gitu, mas. Kasihan Damian, mukanya udah merah.”
Darren sebisa mungkin menahan tawa yang hendak keluar. Siapa sangka si pendiam seperti Damian akan segera menikah dengan si cerewet macam Dewita. Teman satu circle dengan sang istri itu sangat suka sekali bicara banyak hal dalam satu kesempatan. Berbanding terbalik dengan calon suaminya yang sangat pendiam dan cenderung cuek bebek.
“Schatz (sayang), sini sama Mère.”
Seolah-olah mengenali suara ibunya, bayi laki-laki yang memiliki rupa rupawan itu tampak menggerakkan tangannya dengan gerakan kecil. Suara kecilnya juga mulai terdengar—mengeluarkan rengekan seolah-olah meminta sang ibu untuk segera memeluknya.
“Aduh, dengar suara mommy langsung bereaksi,” komentar Dewita seraya tersenyum, gemas melihat baby Dan. Dengan segera dia menyerahkan bayi itu pada ibunya.
Bayi berumur satu bulan memang masih kurang menyikapi lingkungan sekitar yang tidak senyaman saat berada dalam rahim ibu. Bayi akan sulit tidur saat berusia 40 hari, itu sangat wajar karena pola adaptasi bayi masih kurang baik.
Bayi berusia satu bulan juga sudah mulai memiliki kemampuan komunikasi, contohnya mulai mengenali adanya suara. Hal itu merupakan salah satu bukti dari pendengaran yang sudah mulai matang pada bayi berusia satu bulan. Mata bayi juga belum dapat fokus secara sempurna, namun dapat melakukan kontak mata dan mengikuti gerak benda. Bayi juga kerap kali menangis karena menginginkan sesuatu. Semua itu merupakan kemampuan komunikasi dan bahasa bayi umur satu bulan.
“Gemasnya putra Mère,” kata Ev seraya menjatuhkan dua kecupan di pipi gembul sang putra. Hal itu kontan membuat si kecil merespon dengan gerakan yang menggemaskan di mata orang tuanya.
Hari ini Dan adalah bintang dalam acara tersebut. Palacidio Daniel Adhitama Xander laksana Orion—rasi bintang paling terang di langit. Semua perhatian selalu berpusat pada bayi laki-laki yang resmi diperkenalkan pada dunia tersebut. Ev dan Darren resmi mengunggah foto perdana putra mereka pada akun official media sosial mereka masing-masing sebanyak dua foto. Tagar #babydan juga langsung menjadi fyi di beberapa jejaring media sosial. Nama Palacidio Daniel Adhitama Xander juga jadi nama bayi paling banyak dicari semenjak kelahirannya. Maka tak ayal jika masyarakat luas berbondong-bondong menyerbu akun official media sosial Ev dan Darren guna mencari tahu rupa rupawan baby sultan tersebut.
Hanya dua foto baby Dan yang Ev maupun Darren posting. Foto pertama diambil saat baby Dan baru lahir, sedangkan foto ke dua diambil saat baby Dan mengadakan aqiqah. Foto-foto tersebut langsung dibanjiri like dan komentar, sampai tembus satu juta like pada beberapa jam setelah diposting. Tak mau ketinggalan, para orang tua—orang tua Ev dan Darren—juga ikut mengunggah foto cucu pertama mereka. Mereka juga tidak banyak mengunggah foto, hanya beberapa biji. Namun, foto-foto itu langsung dibanjiri like dan komentar positif bagi baby Dan.
“Sekarang baby Dan sudah diketahui keberadaanya oleh seluruh dunia. Aku jadi khawatir, mas.”
“Khawatir kenapa lagi, sayang?”
“Aku khawatir baby Dan tidak bisa menikmati masa-masa pertumbuhannya dengan nyaman dan aman.”
Ev berkata demikian seraya menatap si kecil yang tampak asik mengenggam jari telunjuk ibunya. Damian dan Dewita baru saja pamit ke ruang tamu, hendak menyapa orang tua Ev dan Darren.
“Ada aku, Perè-nya. Aku akan melakukan yang terbaik agar kelak baby Dan bisa merasakan kehidupan yang semestinya. Dia akan menikmati masa-masa pertumbuhan dengan semestinya tanpa harus merasa takut. Apa gunanya aku ada di sini jika putra kita tidak bisa hidup dengan tenang kelak?”
“It’s okay. Aku paham perasaan kamu sebagai seorang ibu. Jika kamu mau, kita bisa membesarkan baby Dan di suatu tempat yang tenang dan jauh dari hiruk-pikuk dunia. Di sana kita akan menetap sampai baby Dan cukup besar dan cukup kuat untuk menghadapi kerasnya dunia yang ditinggali oleh orang tuanya.”
“Tidak perlu,” jawab Ev seraya menggelengkan kepala. “Aku yakin jika Dan akan baik-baik saja selama berada dalam jangkauan kita.”
“Tentu saja. Karena kita orang tuanya. Orang tua akan selalu mengutamakan kebahagian buah hatinya,” balas Darren seraya menjatuhkan satu kecupan di kening sang istri.
Deeptalk singkat pasangan suami-istri itu harus berakhir dengan cepat karena mereka kedatangan tamu dari luar kota yang tiba-tiba datang menyapa. Tamu yang tidak pernah Darren bayangkan akan datang dan menyapa di dunia ini dengan santainya.
“Selamat atas kelahiran putra pertama tuan dan nyonya. Kami turut senang mendengarnya.”
Pria berkulit kecoklatan yang semakin terlihat gelap karena sengatan matahari itu tampak tersenyum ramah. Di sampingnya berdiri seorang perempuan muda yang menggunakan terusan berwarna biru langit. Mereka memang datang dengan pakaian yang memiliki warna senada. Perempuan muda itu juga ikut mengucapkan selamat dengan suara kecil dan lembutnya. Suara yang mampu membuat seorang Darren Aryasatya Xander mengingat bagian-bagian krusial dalam mimpi panjang yang pernah dia alami saat honeymoon di Maldives.
“Ini Estrella. Atau biasa dipanggil Ella, istri saya.”
Elgara—mantan bodyguard di kediaman Darren dan Ev—memperkenalkan pasangannya. “Kami tidak bisa berkunjung untuk menjenguk nyonya Ev saat melahirkan, karena sibuk mengurus pernikahan.”
“Jadi kalian baru menikah?” tanya Ev penasaran. “Kenapa kamu tidak bilang lebih awal? Kalau saya tahu lebih awal, saya mungkin akan mengirim kado pernikahan lewat Dini.”
Elgara tampak tersenyum canggung. “Tidak perlu repot-repot, nyonya. Lagipula pernikahan kami juga dilakukan mendadak dan diselenggarakan secara sederhana di kampung.”
“Walaupun sederhana, setidaknya saya akan mengirim beberapa potong baju, perhiasan dan kebutuhan untuk kalian. Iya, kan, mas?”
Darren yang tadinya sempat melamun tampak tersentak mendengar ucapan sang istri. “Ah, iya sayang.”
“Kamu melamun? Pasti mikirin pekerjaan? Iya, kan?” tebak sang istri.
“Bukan.”
“Bohong. Pasti iya, kan?”
Gelengan kepala Darren berikan sebagai jawaban. Pria rupawan itu kemudian membisikkan sesuatu di telinga sang istri, sampai-sampai membuat wajah istrinya merah padam.
“Apaan sih!” ketus Ev seraya menatap sang suami dengan tajam.
__ADS_1
Darren hanya tersenyum lebar seraya menyentuh pucuk kepala sang istri. Dia kemudian mengalihkan tangannya ke pinggang sang istri. Direngkuhnya pinggang sang istri agar jarak di antara mereka tak lagi bersisa. Dengan tatapan tajam dan raut wajah datar, Darren balik menatap perempuan di samping Elgara yang sejak tadi curi-curi pandang ke arahnya. Perempuan dengan wajah yang menurutnya berlagak ‘sok’ lugu dan polos itu harus diberi sambutan atas kehadirannya di dunia nyata.
Darren sudah menunggu hari ini. Sekalipun dia sebenarnya tidak mau bertemu dengan mantan mistress nya di dunia mimpi itu. Namun, takdir Tuhan siapa yang tahu? Jadi yang bisa Darren lakukan sejak awal adalah mempersiapkan dengan baik, agar mampu memberikan sambutan yang layak atas kemunculan mantan mistress nya.
“Selamat atas pernikahan kalian, dan terima kasih sudah menyempatkan waktu untuk datang ke acara tasyakuran 40 hari putra tercinta kami, Palacidio Daniel Adhitama Xander. Dia adalah simbol dari kebesaran cinta yang tumbuh di antara saya dan istri saya, Evelyn Xander. Wanita yang sangat saya cintai setengah mati. Wanita yang telah berhasil menguasai seluruh ruang di dalam hati saya, sampai-sampai tidak ada lagi celah untuk memasuki tempat tersebut. Hati saya sudah dikuasai sepenuhnya oleh dia.”
Dengan senyum tipis yang terpatri di bibir, Darren menatap sang putra dengan tatapan hangat. Kemudian beralih menatap sang istri dengan tatapan penuh cinta. Darren bisa menemukan keterkejutan di wajah sang istri karena dia tiba-tiba berbicara panjang kali lebar.
“Memiliki istri yang cantik dan baik hati, serta putra yang tampan nan rupawan. Nikmat Tuhan mana lagi yang saya dustakan? Benar begitu bukan, Elgara?”
Si pemilik nama yang tiba-tiba mendapatkan pertanyaan demikian langsung mengangguk ragu.
“Saya sudah punya seorang istri dan seorang putra. Kamu juga sekarang memiliki seorang istri. Tinggal memiliki seorang ….anak.”
“I-ya, tuan.”
“Jika kalian nanti dikaruniai seorang putra, maukah kamu memberikannya keyakinan untuk mengabdi pada putraku?”
“T—entu saja, tuan,” jawab Elgara, terdengar agak ragu. Tahu-tahu Darren melontarkan perkataan yang cukup sulit untuk dijawab.
“L—alu bagaimana jika kami dikarunia seorang putri?” cicit suara perempuan muda yang kini menatap Darren dengan seksama.
“Jika kalian dikarunia seorang putri, maka….” Darren melirik si kecil Dan yang raut wajahnya mulai tidak bersahabat. Mungkin jika sudah bisa berbicara, Dan akan melayangkan protes pada sang ayah.
Ev juga hendak melayangkan protes karena tiba-tiba Darren berkata demikian. Namun, dibungkam oleh tatapan sang suami yang seolah-olah menyiratkan kalimat ‘jangan ikut campur, sayang.’ Oleh karena itu, Ev memilih untuk bungkam.
“….jauhkan dari putraku. Dia sudah memiliki calon pendamping sejak kecil. Saya tidak mau posisi pendamping putra saya terancam oleh kehadiran gadis lain. Termasuk putri kalian,” lanjut Darren seraya tersenyum culas.
“Apa kalian bisa menjamin untuk itu?” tanya Darren kemudian.
“Itu….” Elgara tampak meragu. “Kami ….akan mengupayakannya, tuan.” Elgara kemudian menambahi. Jawaban itu sepertinya tidak sepemikiran dengan sang istri. Karena istrinya tampak tidak setuju dengan jawaban tersebut.
“Bagus.” Darren tersenyum misterius. “Jika kalian memiliki seorang putri, didiklah dengan baik. Kalian juga harus belajar parenting sejak awal karena itu penting. Kualitas seorang anak dihasilkan dari pola asuh orang tua sebagai dasar dari pembentuk karakter. Kelak, jika putri kalian diberkahi kecerdasan lebih, dia tidak perlu meninggalkan desa untuk mencari pekerjaan. Dia cukup tinggal di rumah dan melanjutkan pekerjaan yang sudah ayahnya lakukan di sana.”
Sadar akan pembicaraannya yang sudah di luar konteks, Darren lantas mengalihkan pembicaraan. “Maaf, Perè bicaranya terlalu panjang, ya?” dengan hati-hati, dia kemudian mengambil alih sang putra untuk digendong.
“Dan kayaknya mau tidur, sayang. Kita bawa ke atas, ya?”
Ev hanya mengangguk sebagai jawaban. “Kami harus pergi sekarang. Sekali lagi terima kasih atas kehadirannya,” ucap Ev kemudian.
“Ah, iya. Untuk hadiah pernikahan dari kami akan segera menyusul,” tambah Darren. “Semoga pernikahan kalian sakinah mawadah warahmah sampai ajal menjemput. Saya kenal Elgara cukup baik. Dia pria yang baik. Jadi, kamu harus bersyukur karena telah menjadi istrinya.” Darren berkata demikian dengan penuh penekanan di akhir kalimatnya.
“S—ama seperti mbak Ev, ya?”
Pasangan yang baru saja berbalik badan, hendak meninggalkan tempat tersebut kontan menoleh.
“Maksud kamu?” Ev kemudian bertanya, mewakili rasa penasaran mereka bersama.
“Tuan Darren adalah pria yang baik. Mas El sendiri sering bercerita tentang betapa baiknya tuan Darren.” Perempuan muda itu tampak bicara dengan wajah polosnya. Padahal di sampingnya sang suami memberikan interupsi untuk berhenti.
“Apa mbak Ev bersyukur mendapatkan suami sepertu tuan Darren?”
Ev tampak menanggapi pertanyaan tersebut dengan tenang. “Tentu saja. Saya bersyukur memiliki suami seperti dia. Saya juga menerima kekurangan dan kelebihan yang dia miliki, karena saya mencintai dia apa adanya.”
Ev tersenyum lebar mendengar jawaban sang istri. See, di mimpi maupun dunia nyata, Evelyn Xander memang seorang pemberani. Darren sungguh bersyukur memilikinya.
“Aku yang lebih bersyukur telah memiliki kamu, sayang,” balas Darren seraya tersenyum lebar. “Semenjak aku tahu kamu yang hatiku inginkan, kamu adalah segalanya untukku. I just can’t stop thinking about you. My lovely wife.”
🌼🌼
Finally, beres juga gaes 👋
Terima kasih sudah menemani Mistress sejauh ini. Untuk kalian readers Mistress yang ngikutin dari awal ada yang mau disampaikan?
Sok, drop di sini 🙌
Buat yang nanya soal sequel (cerita baby Dan) masih PR buat aku. Soalnya aku mau kejar target BDJ & BCT. Habis itu TRSC. Jadi aku usahakan selesaikan satu per satu.
Soon, cerita yang akan hadir antara Kacang ijo atau tema poligami. Kalian mau yang mana? atau ada masukan?
Jawab, ya!
Sukabumi 17/06/22
__ADS_1
23.43 WIB