Berbagi Cinta: Mistress (Wanita Simpanan)

Berbagi Cinta: Mistress (Wanita Simpanan)
M11 : PERHATIAN DARREN


__ADS_3

M11 🥀 : PERHATIAN DARREN


“Lutut nyonya Xander hanya memar, saya sudah resepkan salep untuk memarnya. Anda bisa membelinya di apotik terdekat,” ujar dokter yang sudah berusia setengah abad tersebut, ramah.


“Jika demamnya tidak turun sampai matahari terbit, sebaiknya nyonya Xander dibawa ke rumah sakit.”


Pria yang mengenakan piama motif salur berwarna dark blue itu mengangguk. Setelah berkata demikian, dokter yang sudah menjadi langganan keluarga Xander itu pamit undur diri. Setelah ditemukan tidur sambil berjalan di dapur, Ev jatuh tak sadarkan diri. Wanita cantik itu juga tiba-tiba terserang demam. Suhu tubuhnya melonjak pesat. Oleh karena itu Darren langsung menghubungi dokter guna memeriksa Ev.


Sekarang wanita cantik itu masih terbaring tak sadarkan diri di atas ranjang. Raut wajah cantiknya tampak pucat pasi. Sebuah plester demam instans juga menghiasi keningnya. Untuk sesaat, Darren mengamati wajah yang terlelap dengan damai tersebut seraya bersidakep dada. Seperkian detik berikutnya, pria rupawan itu berlalu meninggalkan kamar sang istri.


Ada banyak pertanyaan yang muncul di benak Darren, terutama tentang kondisi Ev. Wanita itu tidak baik-baik saja, terbukti dengan kembalinya Ev mengalami sleepwalking. Darren akui jika Ev memang sosok yang penuh teka-teki dan misteri. Wanita itu mampu menyembunyikan banyak hal tanpa terendus oleh siapapun.


🥀🥀


Lamat-lamat, kelopak mata yang ditumbuhi bulu mata lentik itu terbuka. Meloloskan sepasang netra yang mencoba menyesuaikan cahaya yang masuk ke retina. Hal pertama yang ia lihat adalah seorang maid yang tengah membenahi selimut dan bantal yang berceceran di sofa panjang berwarna putih, di dekat transparent glass.


“Dini.”


“Nyonya sudah bangun?” maid muda yang tadi fokus membenahi selimut itu buru-buru beranjak, mendekat ke arah ranjang.


“Minum, Din. Tolong,” pintanya dengan suara serak.


Maid muda itu mengangguk seraya mengambil air putih yang tersedia di meja dekat ranjang. Kemudian ia membantu sang nyonya minum. “Ada lagi yang nyonya butuh, ‘kan?”


Ev menggeleng lemah. Seluruh tubuhnya terasa lemas, juga panas. Ev tidak tahu kenapa tubuhnya kembali tidak fit, padahal kemarin ia baik-baik saja. Pandangannya kembali tertuju pada selimut dan bantal yang ada di atas sofa. Kenapa benda-benda tersebut ada di sana? Pikir Ev. Memang semalam ada yang tidur di sana? Tapi, siapa?


“Kenapa ada selimut dan bantal di sofa, Din?”


“Semalam nyonya demam. Sepertinya, semalam tuan memilih tidur di sofa saat menjaga nyonya.”


“Saya demam?” ulang Ev, seraya menyentuh keningnya sendiri.


Dini mengangguk sopan. “Semalam dokter Dermawan juga datang untuk memeriksa nona. Pagi tadi sebelum berangkat kerja, tuan meminta saya untuk membersihkan kamar nyonya.”


Ev mengangguk paham. Wanita cantik yang tampak pucat pasi itu tampak menerawang jauh, seraya menyenderkan tubuhnya di headboard. Darren mau repot-repot menunggu dirinya yang demam semalan, Ev masih tidak menyangka rasanya. Apalagi saat mendengar kelanjutan cerita Dini, Ev semakin dibuat tidak percaya.


Wanita cantik itu merasa ada yang aneh dengan sikap Darren. Mengingat selama 5 tahun hidup bersama, dapat dihitung dengan jari berapa kali Darren memperlihatkan jika ia memiliki rasa peduli. Saking dinginnya pria tersebut. Kendati demikian, Ev malah dibuat bingung saat sang suami memperlihatkan rasa peduli. Seperti saat ini, pria rupawan itu tampak berjalan ke arahnya dengan kedua tangan membawa nampan. Masih dengan setelan jas rapi, menadakan jika pria itu baru saja pulang dari kantor.


“Kenapa kamu belum makan dan minum obat?”


Ditanya seperti itu mengunakan nada datar khas Darren, Ev tak langsung menjawab.

__ADS_1


“Makan, habiskan, kemudian minum obat.”


“Pahit,” respon Ev.


“Aku akan menyuruh maid untuk membuat sesuatu yang manis setelah kamu minum obat.”


Ev menautkan kening mendengar jawaban Darren. Tidak menyangka jika pria itu akan dengan cepat merespon. “Tidak perlu.”


Ev kemudian mengambil alih nampan yang sudah Darren simpan di atas meja. Di atas benda tersebut ada semangkuk sup ayam dengan jamur, nasi putih hangat, segelas air putih, potongan buah segar, dan beberapa butir obat. Ev kemudian mulai menikmati makanannya tanpa suara. Sedangkan Darren memilih menunggu Ev menghabiskan makanan dan obatnya dari sofa yang semalam ia tiduri. Netranya menatap Ev lekat, seolah-olah wanita cantik yang tampak pucat pasi itu adalah objek pengamatan.


“Uhuhk…. Uhuk…”


“Ev!”


Ev tak mengubris ucpana Darren yang naik satu oktaf kala ia tersedak soup yang ia nikmati. Pria itu dengan sigap langsung beranjak, kemudian menyodorkan air putih untuk melegakan tenggorokan Ev.


“Kau ini sedang berencana untuk bunuh diri di hadapanku atau bagaimana?”


“Aku—“


“Seharusnya kau lebih berhati-hati, Ev. Kau ini ceroboh sekali.”


Ev mengerjabkan matanya beberapa kali, mendapati kalimat Darren yang sarat akan kekhawatiran. Walaupun terkesan keras. Ada apa dengan pria itu?


“Eh?” Ev menatap lawan bicaranya kaget. Namun, seperkian detik berikutnya ia mengambil alih sedok di tangan Darren. “Aku masih bisa makan sendiri.”


Darren menatap sang istri dengan tajam. Wanita itu baru saja menolak kemurahan hatinya, seriously? Tidak tahukan ia jika Darren jarang bermurah hati. Sekalinya bermurah hati, Ev malah menolaknya mentah-mentah.


“Ya ampun, Ev!”


Ev dan Darren sontak menolah secara bersamaan saat mendengar suara familiar yang berasal dari pintu yang baru saja terbuka dari luar.


“Mama?” ujar Ev dan Darren bersamaan, saat mendapati Diana Xander datang dengan raut wajah dipenuhi kecemasan.


“Mama dengar kamu sakit lagi, Ev. Sekarang apa yang terasa sakit? Apa kaki kamu masih terasa sakit?” tanya Diana retoris.


“Ev tidak apa-apa, Ma. Cuma demam,” ujar Ev seraya mengulas senyum.


“Tidak apa-apa bagaimana, Ev? Lihat, kamu pucat sekali.”


Ev tersenyum tipis saat Diana menyentuh keningnya, memastikan suhu tubuh Ev. Wanita paruh baya yang masih terlihat cantik itu tampak risau. Diana bahkan tidak menyadari keberadaan sang putra yang duduk di samping Ev. Darren yang tampak tak terlihat, hanya menatap interaksi kedua wanita tersebut datar.

__ADS_1


“Baru saja kamu pulang ke rumah ini, kenapa kamu langsung jatuh sakit? Apa Darren tidak merawatmu dengan baik?”


Mendengar namanya dibawa-bawa, Darren berdeham. Mecoba mengalihkan perhatian kedua wanita tersebut.


“Oh, kamu ada di sini, Darren?”


“Hm,” respon Darren singkat.


“Dasar anak nakal, kenapa kamu tidak becus sekali mengurus menantu kesayangan Mama!”


Darren mengernyitkan kening seraya bersidakep dada. “Bukan salah Darren jika Ev terserang demam.”


“Tentu salahmu, karena Ev adalah tanggung jawab kamu, Darren Aryasatya Xander.”


“Ma, Darren tidak ada sangkut pautnya dengan kondisi kesehatan Ev,” ujar Ev menengahi.


Diana menatap sang menantu dengan raut wajah masam. Jika ia menyalahkan Darren, Ev pasti selalu siap menjadi tameng. “Ibumu juga sedang dalam perjalanan kemari, Ev.”


“Mommy?”


Diana mengangguk. “Apa jadinya jika ia tahu putrinya yang baru pulang berobat di luar negeri, kembali jatuh sakit.”


Ev sontak terdiam. Begitu pula dengan Darren yang sedari tadi menyimak pembicaraan mereka.


“Kenapa tiba-tiba Mommy datang ke sini? Padahal Ev sudah janji akan menemui Mommy ke Bandung.”


“Itu karena desakan keluarga besar kamu, Ev.”


“Maksud Mama?” bingung Ev.


“Kakek kamu berencana memberikan hampir setengah dari saham yang dimilikinya untuk kamu, jika kamu berhasil memberinya seorang cucu.” Setelah berkata demikian, Diana menatap putra dan menantunya bersamaan. Pasangan suami-istri itu tampak mematung di tempat.


“Ev, jangan memikirkan hal itu untuk saat ini. Kesehatan kamu lebih penting,” ucap Diana menenangkan. “Dan kamu, Darren. Jangan meninggalkan Ev hanya karena pekerjaan. Kamu Mama larang kerja lembur, pulang larut malam, apalagi sampai tidak pulang.”


“Ma, tidak bisa seperti itu.” Darren menjawab, mencoba membuat ibunya mengerti.


“Pokoknya, sebelum Ev sembuh kamu dilarang pulang larut, apalagi pergi ke luar kota. Bisa-bisa kamu dikecam mertuamu karena lalai menjaga Ev!”


Darren bungkam, tidak lagi mendebat sang ibu. Toh, percuma saja jika ia melawan, hasilnya akan sama saja. Sedangkan Ev, masih mematung di tempat. Ia tidak menyangka jika selama ia pergi ke luar negeri, perdebatan di antara keluarga besarnya kian memanas. Tidak lama kemudian, datang Elina—ibu Ev—bersama suaminya. Di dalam hati Ev berdo’a agar kondisinya yang tengah sakit mengurungkan niat kedua orang tuanya untuk bercerita soal perdebatan keluarga yang meributkan keturunan Ev.


...🥀🥀...

__ADS_1


...TBC...


...Jangan lupa like 👍 vote 💯 komentarrrr yang banyak 💌 share 📲 dan follow Author ❤️...


__ADS_2