
M49 🥀 : PALACIDIO DANIEL ADHITAMA X
SALKEN DULU SAMA ANAK SULTAN KESAYANGAN Mère 😘
🥀🥀
Ev tersentak dalam tidur panjangnya. Wanita cantik itu terlonjak kaget dan refleks membuka mata. Nafasnya berderu, memburu. Jantungnya bekerja dua kali lipat lebih cepat. Mimpi. Semua itu karena mimpi buruk di masa lalu yang begitu membekas dalam ingatan. Ingin Ev melupakan, bahkan menghapus ingatan itu. Namun, apalah daya, karena mimpi itu telah membuahkan hasil bernama Palacidio Daniel Adhitama X. Mahluk mungil dengan rupa rupawan yang Tuhan kirimkan untuk menjadi pelipur lara.
Evelyn Angelista yang orang kenal mungkin adalah super model, aktris, beauty influencer, fashion influencer, dan business woman. Istri dari seorang pengusaha barang impor-ekspor, mulai dari furniture, fashion, food, yang wajahnya sering wara-wiri di majalah televisi hingga FORBES. Namun, halayak umum tidak tahu jika selama ini banyak luka yang tersimpan dalam sisi tergelap yang Ev miliki.
Dalam kegelapan itu, Tuhan mengirimkan penerang. Walaupun datangnya tak pernah Ev duga, kira, ataupun harapkan sebelumnya. Kendati demikian, Ev sangat bahagia kala Tuhan memilih rahim Ev untuk dianugerahi mahluk mungil tersebut. Palacidio Daniel Adhitama X namanya. Nama Palacidio Daniel Adhitama X sendiri memiliki arti anak yang cinta damai, percaya pada keadilan Tuhan, dan memiliki wajah yang tampan.
Daniel sendiri merupakan nama sapaan yang berasal dari bahasa Ibrani. Sapaan ini tersusun dari dua kata, yaitu din (דִּין) yang berarti ‘untuk menghakimi’ dan el (אֵל) yang bermakna ‘Tuhan’. Dua kata tersebut bila disatukan menjadi daniyyel (דָּנִיֵּאל) yang artinya ‘Tuhan adalah hakimku’. Sedangkan dalam bahasa Inggris, Daniel berarti Tuhan maha adil. Dalam bahasa Jerman, berati Tuhan sebagai penilainya. Dalam bahasa Perancis, berarti Tuhan adalah hakim. Dalam bahasa Indonesia sendiri, nama Daniel berarti jalan penghidupan yang tentram, merdeka, bahagia dan sempurna.
Terlepas dari arti nama yang ada, nama Daniel merupakan pemberian seorang bapak baik hati yang sempat menolong Ev saat mengalami kontraksi hebat. Ev terpaksa harus melahirkan pada usia kehamilan yang baru menginjak minggu ke-28. Hal ini terjadi karena terjadi kontraksi teratur yang menghasilkan pembukaan s*rviks setelah 20 minggu kehamilan dan sebelum 37 minggu kehamilan. Artinya, posisi janin dalam kandungan sudah harus keluar dari rahim karena beberapa faktor. Si kecil Dan terlahir prematur golongan very paterm atau bayi yang lahir di usia kehamilan 28 - 37 minggu.
Malaikat kecil yang menguasai bahasa Inggris, Jerman dan Perancis itu tak pernah dunia ketahui kelahirannya. Hanya ada segelintir orang yang mengetahui. Semua itu Ev ambil dengan berbagai pertimbangan. Pertama, kehadirannya juga memang karena kesalahan. Ayahnya saja bahkan tak mengetahui jika ada darah dagingnya yang tumbuh dan berkembang di luar sana. Sekali pun jika pria itu tahu, Ev tak dapat menjamin jika malaikat kecilnya dapat lahir ke dunia dengan selamat.
Kedua, Ev sadar status pernikahannya tidaklah memiliki pondasi yang kuat. Melainkan hanya berpatok pada sebuah perjanjian. Cepat atau lambat, mereka pasti akan segera mengakhiri perjanjian tersebut. Ketiga, Ev ingin menjaga malaikat kecilnya. Semakin sedikit yang mengetahui keberadaanya, semakin kecil kemungkinan resiko si kecil tersakiti. Karena jika halayak umum tahu ada penerus Xander dari hasil pernikahan Ev dan Darren, maka mereka pasti akan berlomba-lomba menyingkirkannya.
Kenapa? Karena keturunan yang lahir dari pernikahan Ev dan Darren sudah dipastikan akan menjadi pewaris kekayaan dari keluarga Xander maupun Atmarendra. Ketika baru lahir saja, sudah dipastikan jika saham sebesar 45% akan jatuh kepada cucu pertama keluarga Xander dari pernikahan Ev dan Darren. Saham sebesar itu, bahkan dapat menggeser posisi kepemilikan saham terbesar yang saat ini dipegang oleh Darren Aryasatya Xander—ayahnya.
“Ev, why?”
Mendengar ada suara lain yang menyusup ke indra pendengaran, wanita cantik itu kontan menoleh. Dia yang masih belum sepenuhnya mendapatkan kesadaran, baru sadar jika dari tadi ada seseorang di sampingnya. Tapi, sejak kapan dia itu ada di sana?
“Kamu berkeringat banyak. Ada apa? apa kamu mimpi buruk?” pertanyaan dan usapan sebuah telapak tangan besar dan hangat itu mampir saat Ev masih mencoba mengingat-ingat kembali kejadian yang terjadi sebelum dia terbaring di atas ranjang dengan pemandangan keremangan ruangan.
“Apa kamu tertular demam karena aku?”
“Demam?” ulang Ev seraya melirik lawan bicaranya.
Pria yang memiliki potongan rambut undercut rapih itu tampak menautkan alis tebalnya. Sebuah plester demam instant tampak menghiasi keningnya yang sebagian tertutup helaian anak rambut yang menjuntai kemana-mana.
“Kamu berkeringat dingin. Apa kamu juga demam?” pertanyaan itu kembali muncul.
Ev kontan menggeleng. Sekarang dia ingat semuanya. Darren memang terserang demam kala datang ke apartemen Ev. Awalnya Ev juga tidak sadar. Namun, saat mereka berpelukan, Ev dapat merasakan suhu badan yang tidak normal. Kondisi keturunan Xander itu kian buruk menjelang malam. Jadi, mau tidak mau Ev membiarkannya menginap. Toh, di lantai dasar gedung apartemennya juga masih banyak awak media. Dengan bantuan Dini, Ev merawat Darren dengan tangannya sendiri.
Awalnya Ev menyuruh Darren pulang dan memanggil dokter keluarga Xander saja. Namun, pria itu menolak. Dia beralasan enggan pulang dan enggan menemui dokter. Dia hanya ingin menginap di apartemen Ev semalam saja, kemudian akan lekas pergi. Ev menyanggupi. Dengan catatan Darren mau tidur di sofa. Tidak mungkin Ev membiarkan pria itu tidur seranjang bersamanya. Mereka, kan, sedang dalam proses perceraian. Akan tetapi, sekarang kenapa begini?
Perasaan Darren tidur di sofa yang ada di ruang tengah. Tapi, sekarang kenapa pria itu ada di sisinya. Duduk di atas kursi, dekat dengan ranjang yang Ev tempati.
“Aku terbangun karena haus. Saat melewati ruangan ini, aku mendengar suara rintihan. Aku pikir kamu kenapa-kenapa. Jadi aku masuk untuk mengecek keadaan,” tutur pria bermarga Xander tersebut, seolah-olah paham isi kepala Ev. “Aku takut kamu mengalami sleepwalking dan terluka karena tidak sengaja menabrak sesuatu.”
Haruskan Ev merasa speechless di saat seperti ini? bagaimana tidak speechless jika seorang Darren Aryasatya Xander yang terlihat dingin, datar dan kaku seperti kulkas dua pintu kini tampak seperti seorang anak kecil yang takut mainan kesayangannya terluka. Pria itu tampak tidak berdaya tanpa image yang selama ini kental terpancar di raut wajahnya. Dia malam ini tampak seperti lelaki biasa yang memperlihatkan rasa khawatir pada pasangannya.
“Aku tidak apa-apa, Darren. Kamu bisa kembali ke ruang tengah sekarang.”
“Kamu yakin?” pria berinisial DAX itu tampak tidak mau pergi.
Ev mengangguk ragu. “Ya.”
“Apa tidak boleh aku di sini dan menjaga kamu, Ev?”
“Apa? tidak!” jawab Ev cepat. Ev yang baru saja mendapatkan mimpi buruk tentang kejadian di masa lalu, ingin segera menelpon seseorang di belahan dunia lain untuk menenangkan hati juga pikiran. Bagaimana bisa Darren tetap ada di sana, jika Ev ingin menelpon putranya.
“Lebih baik kamu pulang jika kondisi kamu sudah lebih baik. Para awak media juga pasti sudah tidak ada di lobby. Kamu punya istri yang tengah hamil, dia pasti menunggu.”
Perkataan Ev yang dapat Darren artikan sebagai ‘pengusiran’ dan ‘sindiran’ secara tidak langsung itu berhasil membuat hatinya sesak. Jadi begini rasanya tidak diinginkan? Seumur-umur, baru kali ini Darren merasakan yang namanya tidak diinginkan. Apa ini juga yang dulu Ev rasakan, saat dia lebih mementingkan pekerjaan?
“Maaf, Ev.”
__ADS_1
“Kenapa kamu tiba-tiba minta maaf?” bingung Ev seraya membenarkan posisi, menjadi duduk menyender ke headboard.
“Hanya ingin,” jawab Darren ambigu.
Ev menanggapi itu dengan kening yang bertaut. Tanpa sadar, ekspresi itu malah membuat tangan Darren gatal.
“Jangan memperlihatkan ekspresi seperti itu. Tidak cocok untuk kamu,” ujarnya seraya menyentuh tautan di kening wanita cantik tersebut. “Aku akan pergi sekarang, sesuai permintaan kamu,” tambahnya.
“Kamu harus kembali tidur. Malam masih panjang. Aku tahu kamu sangat letih. Dan aku malah menambah pekerjaan kamu karena harus merawatku.”
Ev masih memilih bungkam. Dia takut, bingung, juga ….tak menyangka, mungkin. Pasalnya, Darren yang duduk di hadapannya ini tampak seperti orang lain.
“Maaf karena telah membuat kamu banyak menderita selama ini. Dan terima kasih karena kamu masih mau peduli kepadaku. Aku akan pergi.” Di akhir kalimat yang diselipi rasa sedih itu, seberkas senyum yang tampak tulus tersungging di ujung-ujung labium.
“Jangan lupa jaga kesehatan, Ev. Kita masih harus berjumpa di pengadilan,” tambahnya sebelum benar-benar beranjak.
Pergi tanpa berbalik. Meninggalkan Ev yang masih terpekur di tempatnya duduk. Hingga pria itu menghilang di balik pintu, Ev tak sedetikpun memutuskan kontak pada punggung kokoh yang telah menghilang itu.
“Pergilah, Darren. Jangan pernah kembali dan membuat hatiku hancur lagi. Biarkan aku bahagia bersama Dan. Maaf, aku belum bisa mempertemukan kamu dengan putra yang sangat kamu dambakan. Maaf, karena aku egois. Kamu ….yang membuat aku mengambil keputusan seperti ini.”
🥀🥀
BUGH!
BUGH!
BUGH!
Tiga pukulan telak dari kepalan tangan seorang Xander di dinding beton itu, tampak mengerikan. Kendati menimbulkan rasa sakit yang sepadan, pria itu tidak peduli. Sekali pun buku-buku jemarinya nanti akan terluka parah. Saat ini dia hanya ingin melampiaskan rasa kesal, marah juga sedih.
Sepeninggalan dari unit apartemen sang istri, dia sudah tidak lagi dapat membendung semua perasaan itu. Sembari menyetir kendaraan mewahnya dengan kesetanan, pria rupawan itu memilih kembali ke kediamannya. Bagaimana pun juga, tempat itu adalah rumahnya. Selama lima tahun, dia dan sang istri tinggal bersama di sana. Menghabiskan banyak waktu di sana, pun mengukir beberapa kenangan yang tak seberapa.
Sekarang Darren tahu kenapa Ev sangat ingin bercerai dengannya.
Ev sangat kesakitan.
Ketakutan.
Butuh pertolongan.
Dalam kekalutan, Darren mencoba membangunkan Ev. Tidur itu menyiksa wanitanya. Darren tak sanggup melihat Ev tersiksa karena mimpi buruk itu. Namun, gerakan Darren tertahan kala satu kalimat lolos dari bibir wanitanya.
“Aahhh ….Darren, berhenti. Berhenti ….kumohon.”
Satu kalimat yang membuat Darren tahu jika mimpi buruk itu tak lain dan tidak bukan disebabkan oleh dirinya. Mimpi buruk Ev adalah Darren. Darren tahu itu. Dia telah menyakiti Ev hingga bagian yang paling dalam. Meninggalkan luka juga trauma pada mahluk ciptaan Tuhan berwajah cantik jelita tersebut.
Tanpa pria rupawan yang tengah menempelkan keningnya pada dinding itu sadari, seorang wanita bertubuh mungil yang tubuhnya terbalut dress rumahan khusus ibu hamil datang mendekat. Dia tampak cemas melihat kondisi suaminya.
“Mas Darren.”
“Jangan mendekat, Ella.” Si empunya nama bersuara. Memperingati wanita muda yang tengah berbadan dua tersebut.
“Mas Darren gak papa?”
“AKU BILANG JANGAN MENDEKAT!” suara baritone itu menggelegar, menyusup ke setiap penjuru ruangan. Membuat siapa pun pasti takut mendengarnya. Apalagi saat ini masih tengah malam. Waktu di mana semua insan terlelap di pembaringan.
“Ella cuma mau tahu kondisi mas Darren. Ella khawatir,” cicit ibu muda tersebut. Tidak berselang lama, suara isakan terdengar samar.
“Jangan menangis, Ella.” Darren kembali bersuara seraya menghadap pemilik nama tersebut. “Aku tidak apa-apa. Sebaiknya kamu kembali ke atas, lalu istirahat. Kalian butuh istirahat yang banyak.”
“Tangan mas terluka,” lirih Ella. “Biarin Ella obati dulu.”
“Tidak perlu. Aku bisa mengobatinya sendiri. Kamu lebih baik istirahat.”
__ADS_1
“Ella obati luka mas dulu, baru istirahat.”
Darren menghela nafas kasar, lantas mengangguk tanpa minat. Respon itu tentu membuat istri keduanya berhenti menangis. Memilih untuk meredakan emosinya, Darren mengalah. Membiarkan wanita yang tengah mengandung benihnya itu melakukan apa yang dia inginkan. Dia dengan telaten mengobati buku-buku jari Darren yang lecet, memar, hingga mengeluarkan darah segar.
“Kenapa mas Darren menyakiti diri sendiri?” tanya sang istri, tampak sedih.
“Karena aku memang pantas mendapatkannya.”
“Mas Darren gak boleh gitu. Ella sama bayi kita sedih lihatnya.”
Darren terdiam mendengarnya. Bayi kita? Kenapa rasanya aneh mendengar kata-kata tersebut.
“Mas Darren jangan gitu lagi, bisa? Belakangan ini mas Darren sering lepas kendali. Kenapa? Apa semua itu karena perceraian mas dan mbak Ev?”
“Tahu apa kamu soal aku dan Ev?”
“Mas, Ella cuma….”
“Sudah aku katakan, jangan ikut campur,” ujar Darren penuh penekanan. “Masalah hubunganku dengan Ev, tidak ada hubungannya dengan kamu.”
“Iya, mas.” Ella menunduk takut. Dia salah lagi. Seharian ini, apa yang dia lakukan memang terus salah di mata suaminya sendiri.
“Besok kemasi barang-barang kamu.”
“Memangnya kita mau kemana, mas?” tanya Ella bingung.
“Bukan kita, tapi kamu.”
Ella terpaku mendengarnya. “Maksud mas Darren apa?”
“Pulanglah ke desa. Kamu lebih baik di sana. Situasi di sini tidak baik bagi bayi dalam kandunganmu.”
“Tapi, mas. Ella….”
“Menolak?” Darren menatap lawan bicaranya lekat. “Kemana perginya Ella yang penurut?”
“Bukan begitu, mas. Ella ingin di sini, karena ingin dekat sama mas Darren.”
“Aku akan mengunjungi kamu setiap akhir pekan di minggu kedua.”
“Ella gak mau!” tolak wanita itu seraya beranjak dari posisinya. “Ella gak mau pergi kalau bukan sama mas Darren.”
Setelah berkata demikian, wanita itu beranjak pergi meninggalkan sang suami. Membuat pria itu memijit pelipis setelahnya.
“Rubah kecil itu mulai berulah,” gumamnya lirih. Meresapi rasa pening yang kembali menghinggapi.
🥀🥀
TBC
Nano-nano gak sih baca part ini?
Jadi, kalian sekarang tim mana?
Kapal Darren-Ev
Kapal Darren-Ella
Kapal Dean-Ev
Kapal El-Ev
Jangan lupa like, vote, komentar, follow Author & share ❤️
__ADS_1
Sukabumi 22/03/22