
EXTRA PART 🌼 : HAPPY B-DAY DARREN
“Sayang!”
Pria rupawan yang tengah bertelanjang dada itu muncul di area dapur dengan napas berderu cepat. Wanita cantik yang tengah memindahkan roti gula—roti tawar yang disemir margarine, ditaburi gula pasir, kemudian dibakar—yang baru matang dari atas pan tampak menatap pria itu dengan kening bertaut.
“Kamu kenapa?”
Alih-alih menjawab, pria yang sepertinya baru bangun tidur itu malah langsung memeluk sang istri erat. Seolah-olah takut kehilangan istrinya.
“Kamu kenapa sih?” ulang sang istri kebingungan.
“Aku kira kamu pergi lagi,” jawabnya seraya melonggarkan pelukan.
Rahang Ev hampir jatuh mendengar ucapan sang suami. Padahal beberapa hari kebelakang mereka LDR-an Jakarta-Kuala Lumpur. Namun, suaminya tidak seperti ini. Lalu kenapa sekarang suaminya ini terlihat sangat ketakutan?
“Kamu mimpi buruk, ya?”
Dengan raut polos pria rupawan itu mengangguk.
Ev kontan tertawa kecil melihatnya. “Itu teguran karena habis salat subuh kamu tidur lagi, bukannya ngaji seperti biasa.”
“Mana ada penjelasan seperti itu,” bantah sang suami. “Lagipula kenapa kamu tinggalin aku? Aku udah bilang, kan, jangan tinggalin aku pas kita tidur bersama. Aku gak suka.”
Ev mengurai tawa seraya mengelus pipi sang suami. “Aku harus menyiapkan sarapan buat kamu. Kamu harus berangkat kerja. Pagi ini ada meeting di Pluit, ‘kan?”
“Hm. Tapi, seharusnya kamu tidak perlu membuat sarapan. Aku tahu kamu capek. Kamu kemarin baru pulang dari KL, terus semalam kita juga—“
“Please, jangan bawa-bawa urusan ranjang ke meja makan,” potong Ev sebal.
“Kenapa? Bukannya kita juga pernah making love di meja mak—“
“Darren!” potong Ev jengkel. Dicubitnya pinggang liat sang suami, sampai-sampai membuat pria itu mengaduh. Ev lantas menolehkan kepala ke kanan dan kiri, mewanti-wanti jika ada maid yang berkeliaran di sekitar dapur. Mau ditaruh di mana muka Ev jika ada yang mendengar masalah ranjangnya dengan sang suami. Itu, kan, masuk ke dalam ranah privasi. Sedangkan Ev termasuk orang yang sangat menjaga privasinya dengan baik.
“Sakit, Ev.”
“Rasakan,” ketus Ev seraya menjauh dari sang suami.
Wanita cantik yang tampil sangat fresh dengan rambut pendek sebahu itu kembali berkutat dengan sarapan yang dia buat untuk sang suami. Darren pun membiarkan sang istri melanjutkan tugasnya. Dia kemudian menarik satu kursi untuk diduduki. Sembari duduk dengan melipat kedua tangan di dada, pria rupawan itu menikmati pemandangan yang sudah dua tahun ini mengisi pagi-pagi di setiap harinya.
Menonton sang istri tercinta yang tengah sibuk menyiapkan sarapan adalah salah satu kegiatan yang Darren sukai. Jika beruntung, dia akan mendapatkan ciuman manis dari sang istri, atau bahkan morning s--ex jika sang istri mau diajak khilaf yang nikmat di pagi hari. Kecuali beberapa hari yang lalu, karena Ev harus pergi ke Kuala Lumpur untuk urusan pekerjaan. Alhasil Darren jadi suami yang galaunya minta ampun. Damian saja sampai geleng-geleng kepala melihat kegalauan sang atasan hanya karena ditinggal beberapa hari. Jadi saat Ev kembali, maklum jika Darren terus menempeli sang istri. Sudah seakut itu memang level bucin seorang Darren Aryasatya Xander.
Jika di dalam mimpi panjang yang dia sambangi, dia lah yang lebih banyak meninggalkan Ev untuk perjalan bisnis atau urusan bisnis lainnya. Sekarang, kondisi di dunia nyata malah terbalik, Ev yang lebih sering meninggalkan Darren karena masalah pekerjaan.
“Kamu tidak sarapan?”
Ev menggeleng sebagai jawaban. “Aku pagi ini cuma mau makan susu almond aja. Nanti agak siangan aku mau bikin bala-bala sama sambal goang kencur.”
“Bala-bala?” bingung Darren. Dia baru mendengar nama makanan tersebut.
“Bakwan. Bala-bala itu bahasa sundanya bakwan,” ujar Ev menjelaskan. “Aku lagi pengen makan bala-bala. Udah lama gak makan bala-bala buatan bi Surti. Dimakan sama sambal goang kencur enak banget pasti.”
Darren menatap sang istri lekat. Dari tatapannya, pria itu seolah-olah tengah mempertanyakan keinginan sang istri. Jarang sekali loh Ev mau makan makanan yang berminyak seperti gorengan, mengingat pekerjaannya sebagai seorang model.
“Nanti siang aku juga mau bikin nasi liwet sama bi Surti dan maid yang lain. Kamu pulang buat makan siang, kan?”
Darren mengangguk seraya mengunyah roti gula buatan sang istri. Aneh. Ada yang aneh dengan keinginan sang istri hari ini.
“Aku juga mau masak teri medan, pindang ikan kembung, ikan asin peda, tahu-tempe goreng, pencok kacang panjang, urap, sambal bawang cumi, sama sambal terasi dadakan.”
Darren kembali mengangguk sebagai jawaban. Kedengarannya aktivitas sang istri hari ini sangat menyenangkan. Tercetus ide untuk mengambil cuti di kepala Darren agar dapat menemani sang istri, namun ide itu bukan ide yang bagus karena hari ini banyak agenda meeting penting.
“Kamu kenapa sih asem banget mukanya?”
“Males berangkat kerja.”
“Eh?” Ev yang baru saja menyimpan alat makan bekas sang suami di wastafel langsung menatap suaminya horor. “Kenapa? Bukannya hari ini kamu ada agenda meeting?”
“Mau nemenin kamu di rumah.”
“Aku bukan anak kecil sampai-sampai harus kamu temenin. Lagian di rumah juga ada bodyguard, pak Satpam, bi Surti, sama maid. Aku enggak sendirian. ”
“Tapi aku mau nemenin kamu karena aku mau, Ev,” balas Darren tak mau kalah. “Aku masih kangen sama kamu.”
Lagi-lagi Ev dibuat speechless oleh ucapan sang suami. Kangen katanya? Lupa jika semenjak tiba di rumah ini Ev selalu dimonopoli oleh pria itu? bahkan Ev tidak diizinkan melihat anak kesayangannya—Emilio—barang sejenak saja karena Darren menempel terus. Ev yang sebenarnya sangat capek sepulang dari KL harus mengeluarkan kesabaran extra menghadapi sang suami yang manjanya minta ampun.
“Semalam, kan, udah kangen-kangenan nya. Sekarang kamu harus kerja. Aku nanti juga mau kerja,” bujuk Ev. “Ingat, kamu ini seorang pemimpin yang menjadi panutan bagi ribuan karyawan yang bergantung sama kamu.”
Pria berinisial DAX itu mendengus pelan seraya bersidakep dada. “Ok. Aku berangkat kerja, tapi harus isi baterai dulu,” katanya kemudian seraya mengerlingkan mata.
Ev menatap sang suami dengan was-was. Jemari lentiknya yang bebas langsung mengambil sodet kayu sebagai senjata. “Gak ada ya, isi-isi baterai. Aku capek.” Ev berujar dengan penuh penekanan. Suaminya itu memang pervert atau gimana, sih?
__ADS_1
“Kalau gitu morning kiss—“
“Gak ada!” ketus Ev seraya menyimpan sodet kayu di tangannya dengan kesal, kemudian melenggang pergi meninggalkan sang suami.
🌼🌼
“Kenapa kalian?”
Darren yang baru saja memasuki ruangannya langsung mengernyit saat melihat dua manusia yang tampak muram. Padahal Darren baru saja melewati paginya dengan buruk karena sang istri berujung marah, ditambah lagi client yang dia temui di Pluit agak rese dan banyak maunya. Alhasil meeting berjalan dengan cukup lama karena banyak perdebatan alot yang menyertai.
“Pusing gara-gara perhiasan terbaru sould out, gue terancam diputusin,” cerita salah satu di antara mereka.
“Pacarnya minta dibelikan perhiasan keluaran terbaru dari brand Cartier. Dia udah nunggu open order nya dari kemarin, tapi gagal pesan karena sould out dalam waktu singkat.”
“Kita mau ngerayain Monthversary, cewek gue minta itu sebagai hadiah. Katanya perhiasan itu lagi booming banget di kalangan temen-temen arisannya karena global brand ambassador nya aktris populer gitu,” tambah pria yang raut wajahnya dua kali lipat lebih muram dari Damian yang baru saja buka suara.
“Memangnya gak bisa diganti sama yang lain?”
“Enggak bisa! Kalau bisa gue udah beli dari tadi,” jawab pria bernama Dewangga tersebut.
Darren mengedipkan bahunya acuh seraya menghempaskan dirinya ke sofa. “Gak usah galau di sini, bikin sumpek.”
“Gue lagi kesel, jangan buat gue tambah sebel.”
“This is my room,” koreksi Darren. “Lagian aku lagi gak mood menghadapi orang galau. Aku juga lagi pusing.”
“Kenapa emang? Gak dapet jatah lo?” cibir Dewangga jenaka. “Bulol sih. Bucin tolol. Segitunya ditinggal istri, sampai jadi tolol.”
Darren melotot tajam mendengarnya. “Heh, jaga mulut.”
“Terus? Kalau bukan masalah Ev, apa lagi yang bisa buat lo gak mood?”
Darren tampak berpikir untuk sejenak. Perkataan Dewangga ada benarnya juga. Selama ini hanya Ev yang mampu membuat Darren uring-uringan macam anak baru baliq yang mengenal cinta.
“Benerkan omongan gue? Bulol itu predikat kehormatan buat lo. Bukan bucin lagi, gak zaman.”
“Gitu ya?”
Dewangga menganga mendapati respon Darren. Sedangkan Damian hanya bisa tepuk jidat karena menyaksikan obrolan absurd keduanya. Dua pria dewasa, tapi seolah-olah baru mengenal cinta, bahkan cinta mereka sudah memasuki tahap akut dalam waktu singkat.
“Udahlah, gue balik dulu. Mau nelepon ayang,” pamit Dewangga pada akhirnya. “Kali aja dia masih bisa disogok sama perhiasan dari brand lain.”
Pria putus asa itu memilih pergi karena di sana dia juga tidak menemukan solusi. Ditambah lagi si empunya ruangan juga sedang bad mood. Sekarang hanya ada Darren dan sang sekretaris.
Darren menerima laporan tersebut tanpa suara. Dengan teliti dia membaca judul laporan tersebut, kemudian beralih pada bagian isi.
“Ada sedikit masalah dalam pengembangan proyek tersebut, tuan. Kepala desa di sana juga masih belum bisa diyakinkan sepenuhnya.”
Darren manggut-manggut mendengarnya. Selain laporan tersebut, Damian juga memberikan sebuah video di mana orang suruhannya tengah berbicara dengan pria tua yang Darren yakini sebagai kepala desa yang dimaksud Damian. Ada pula beberapa orang lain yang ada di sana, kemungkinan warga desa. Pembicaraan mereka agak alot, karena pihak desa yang masih kolot dan primitif masih belum bisa diyakinkan. Tidak lama, seorang gadis muda ikut muncul di video tersebut. Dia tampak membawa sebuah nampan berisi beberapa gelas air. Darren kontan menoleh pada Damian.
“Mungkin mereka akan setuju jika tuan yang datang dan meyakinkan mereka. Apalagi—“
“Siapa gadis ini?” tanya Darren, memotong kalimat Damian. Jari telunjuknya menunjuk ke arah layar ipad.
Damian tampak memicingkan mata, mencoba memusatkan pandangan. “Itu ….kalau tidak salah putri kepala desa.”
‘Ella,’ gumam Darren tanpa sengaja. Ingatan pria rupawan itu langsung dilempar pada mimpi panjang yang dia alami.
Ya, gadis yang menjadi mistress nya dalam mimpi adalah putri kepala desa tempatnya mengembangkan proyek. Mereka bertemu saat Darren berkunjung untuk menyelesaikan masalah yang ada. Jika tidak salah, pertemuan pertama mereka memang pada tahun kedua pernikahan Darren dan Ev. Setelah itu Darren dan Ella melakukan pendekatan secara alami—sesuai rencana Darren—hingga usia pernikahan Darren dan Ev menginjak angka ke-5, barulah Darren menikahi gadis tersebut.
“Tuan?” panggil Damian karena Darren terlihat melamun.
“Tuan?”
“Hm?” Darren yang baru kembali mendapatkan kesadarannya langsung meletakkan ipad di tangannya. Dia kemudian tampak berpikir untuk sejenak.
Waktunya tepat sekali. Sekarang yang Darren harus pikirkan adalah cara untuk mengatasi masalah di proyek tersebut, tanpa membuat apa yang terjadi di dalam mimpi terulang lagi.
“Damian, apa kamu bisa pergi ke sana untuk meyakinkan mereka?”
“Itu, saya sebenarnya tidak bisa pergi karena ada urusan yang harus saya selesaikan. Saya juga berencana untuk mengajukan cuti dalam waktu dekat,” kata Damian dengan suara ragu.
“Begitu, ya?”
Damian mengangguk dengan rasa tak nyaman bercengkol di hati.
“Kalau begitu kirim asisten mu dan ….” Darren tiba-tiba teringat seseorang yang ikut muncul dalam mimpinya. Seseorang yang bisa memberikan perhatian lebih pada mistress nya di dalam mimpi. “….suruh bodyguard bernama Elgara untuk ikut. Katakan saja jika aku menjadikan dia kepala pengawas untuk proyek di sana.”
“Apa tuan yakin?”
“Hm. Aku sangat yakin,” jawab Darren seraya tersenyum tipis.
🌼🌼
__ADS_1
“Ev?” panggil Darren lirih saat memasuki rumah.
Dia pulang terlambat dan melewatkan dinner rutin bersama sang istri karena harus menyelesaikan banyak pekerjaan. Siang tadi dia juga tidak sempat pulang untuk menikmati nasi liwet yang dibuat sang istri, karena client yang meeting bersamanya mengajak makan siang bersama. Darren sudah was-was, pasti sang istri tambah marah karena dia ingkar janji.
Lihat sekarang, saat dia memasuki area ruang tamu saja, seisi ruangan tersebut sudah gelap. Darren kontan menelan saliva nya dengan susah payah. Langkah kakinya yang ragu-ragu juga kian berat untuk melangkah. Namun, baru saja tiba di tengah-tengah ruang tamu, banjiran cahaya tiba-tiba menyilaukan mata.
Ruangan yang tadinya diselimuti kegelapan, langsung terang benderang. Membuat Darren bisa melihat keajaiban apa yang telah terjadi pada ruangan tersebut.
“Surprise!” seru sang istri yang tampak cantik menggunakan backless dress tanpa lengan berwarna putih tulang yang memperlihatkan bagian leher, bahu, tulang selangka, hingga punggung mulusnya. Wanita cantik itu juga membawa sebuah cake berukuran kecil dengan lilin yang menyala.
“Happy B-day, suamiku. Ayo, tiup lilinnya.”
Darren yang masih terkejut tampak hanya berdiri mematung saat sang istri sudah berdiri dengan begitu cantik di depan matanya.
“Darren, ayo tiup lilinnya,” titah Ev lagi.
Darren mengangguk tanpa suara. Dia bahkan lupa jika hari ini ulang tahun. Sungguh, yang Darren ingat hanya lah masalah dia ingkar janji pada sang istri. Tidak mau membuat sang istri merasa sedih karena sudah menyiapkan kejutan, Darren kemudian meniup lilin di atas cake yang dia yakini buatan tangan sang istri.
“Terima kasih banyak sayang,” ucapnya kemudian seraya tersenyum lebar. Tidak lupa dia menjatuhkan satu kecupan di kening Ev.
“Sekarang kita ke meja makan. Kamu belum makan malam, ‘kan?”
Darren menggeleng. Kampret memang sang sekretaris karena membuatnya kerja rodi seharian, sampai-sampai lupa mengisi perut saat jam makan malam. Maka saat Ev mengandeng Darren ke meja makan yang sudah disulap dengan nuansa romantic dinner, Darren lagi-lagi hanya bisa berdecak kagum. Ternyata Ev telah mempersiapkan semuanya dengan matang.
Di atas meja juga sudah tersaji beef wagyu steak yang disajikan dengan mashed potato, sayuran seperti brokoli, tomat ceri dan asparagus, tidak lupa diguyur saus barbeque yang lezat. Untuk beef wagyu steak punya Darren, Ev memasaknya hingga tingkat kematangan medium well atau agak matang, sedangkan untuk dirinya sendiri tingkat kematangannya well done atau matang sempurna.
Mereka berdua pun menikmati dinner tersebut tanpa suara, namun dengan pancaran rona bahagia di masing-masing wajah.
“Ev, maaf,” kata Darren kemudian. Mereka telah menyelesaikan acara dinner dan potong B-day cake. Sekarang mereka sudah ada di dalam kamar, Darren juga sudah membersihkan diri.
“Aku buat kamu marah dan mengingkari janji hari ini,”
Ada rasa sesal yang masih tertinggal, karena perbuatannya hari ini. darren membuat sang istri sebal, dan mengingkari janji, padahal Ev sudah berusaha sejauh ini.
“Maaf karena aku belum bisa membuat kamu jadi perioritas seutuhnya,” lanjut Darren seraya memeluk pinggang sang istri posesif. “Damian kasih aku banyak kerjaan hari ini,” adunya. Mengkambing hitamkan sang sekretaris.
Ev diam-diam menyunggingkan senyum mendengar pengakuan sang suami.
“Lain kali akau tidak akan mengulanginya lagi. Janji!” ucap Darren bersungguh-sungguh seraya mencuri satu kecupan di bibir sang istri.
Padahal tanpa sepengetahuan Darren, kesibukannya hari ini adalah konspirasi. Konspirasi tersebut digagas oleh Ev karena ingin membuat kejutan untuk sang suami di hari lahirnya. Jadilah Ev bekerjasama dengan Damian untuk membuat Darren sibuk.
“Kamu gak salah kok,” Ev berkata seraya mencuri satu kecupan. “Ah, iya. Aku juga punya hadiah buat kamu.”
“Hadiah?” bola mata jelaga milik Darren tampak berbinar mendengarnya.
“Ini, buka sendiri.” Ev menyodorkan sebuah kotak berwarna biru beludru dengan pita berwarna biru pula.
Darren dengan semangat 45 menerima kadonya. Dia kemudian membuka kotak berwarna biru beludru tersebut, lalu sebelah alisnya terangkat. “Apa ini Ev?”
“Menurut kamu?”
Darren mengambil sebuah kertas berukuran kecil tersebut. “Ini hasil USG punya siapa?”
Ev tersenyum kecil melihat ekspresi sang suami. “Coba buka lagi.”
Darren menuruti interupsi sang istri. Dia kemudian membuka kotak lain yang terdapat di dalam kotak tadi. Saat kotak itu dibuka, bola mata Darren kontan membesar. “Ev?” dia menatap sang istri tak percaya.
Ev mengangguk sebagai jawaban.
“Kamu….”
Ev tersenyum lebar seraya kembali mengangguk. “I’am pregnant your baby.”
Senyum merekah tak lagi terbendung di bibir pria keturunan Xander tersebut. Kotak yang terakhir dia buka memang berisi tiga alat tes kehamilan berbeda yang sama-sama menunjukkan garis dua dan kata positif. Kebahagian yang saat ini melingkupi relung hati Darren benar-benar tidak dapat digambarkan dengan kata-kata. Darren bahagia sekali karena pada akhirnya Palacidio Daniel Adhitama Xander yang dia tunggu-tunggu hadir juga di rahim sang istri.
“Terima kasih banyak sayang,” ujar Darren berulang kali seraya menghujani wajah cantik istrinya dengan ciuman. “Terima kasih karena telah memberikan kado terindah untukku.”
“Kembali kasih, suamiku,” jawab Ev seraya melingkarkan tangannya di leher sang suami. “Karena kamu aku jadi bisa merasakan anugrah terbaik sebagai seorang wanita.”
Darren mengangguk dengan mata berbinar-binar. Membuat Ev jadi gemas sendiri melihat tingkah manis sang suami. Setelah setuju untuk tidak menggunakan pengaman atau mengonsumsi after morning pil setelah berhubungan badan, siapa sangka Tuhan begitu berbaik hati memberikan mereka keturunan dengan cepat. Ev juga baru tahu dia hamil saat berada di KL. Ev sempat jatuh pingsan, dan dibawa ke rumah sakit oleh sang manager. Alih-alih mendapat kabar buruk soal masalah kesehatan, Ev malah mendapat kabar baik jika dia tengah berbadan dua. Ev kemudian meminta Dimi untuk merahasiakan kabar tersebut agar menjadi surprise untuk sang suami yang hendak berulang tahun.
“Kamu bahagia mau menjadi seorang ayah?”
“Pertanyaan macam apa itu?” Darren menatap sang istri lekat. Kedua tangannya bertengger manis di pinggang rampingnya. “Aku tentu saja sangat bahagia, Ev. Aku bahkan merasa jika aku adalah orang paling bahagia di dunia ini karena akan menjadi seorang ayah. Demi Tuhan, having you is the greatest happiness for me. Now my happiness is complete because of the presence of our baby.”
🌼🌼
CONGRATS SUAMIKU 😘😘
TERKABUL JUGA PUNYA DAN SESUAI KEINGINAN 🥰🥰
GIMANA? SUKA SAMA PART INI? KALAU SUKA, JANGAN LUPA LIKE, VOTE, KOMENTAR, FOLLOW AUTHOR & SHARE ❤️
__ADS_1
Sukabumi 04/06/22